Regret [Chapter 13B]

regret

Title : Regret | Please Don’t

Author : Sehun’Bee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun || Khaza Hanna || Xi Luhan || Byun Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [ 5994 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit >> PosterBySifixo@PosterChanel and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

It’s not even raining but outside the window you grow white and farther apart.

On top of the empty seat you left only your cold scent remains.

I will hold onto the remaining scent. So, come back to your place.

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7 ¤ Chapter 7 ¤  Chapter 8 ¤ Chapter 9A  ¤ Chapter 9B ¤ Chapter 10 ¤ Chapter 11 ¤ Chapter 12 ¤ Chapter 13A

regret

 

Semuanya terlihat gelap, sama seperti pada saat ia menutup mata. Hawa dingin pun seketika menjalar, menyentuh kulit tubuhnya. Rasa sakit juga perih kembali ia rasa di bahu sebelah kanannya. Dan saat ia hendak menyentuh luka itu, saat itu juga ia sadar,

tangannya dirantai.

Damn it. Sehun mengumpat, namun tak membuahkan hasil apa pun. Tubuh polosnya kembali bersandar pada tembok besi di belakangnya, hingga membuat hawa dingin semakin menjalar ke sekujur tubuhnya. Beruntung, lukanya sudah diperban dan mungkin itu juga alasan mengapa ia tak lagi memakai baju.

Sehun sendiri tak ingat apa pun mengapa ia bisa sampai ke tempat ini. Ia hanya ingat, bahwa ia jatuh pingsan saat masuk ke dalam mobil. Setelahnya, ia tak tahu lagi apa yang terjadi. Dan ketika bangun, ia sudah duduk dengan kedua pergelangan tangan yang dirantai.

Kreek.

Perlahan fokusnya teralihkan, saat pintu besi di depannya terbuka, lalu memperlihatkan seseorang yang amat dikenalnya. Jantungnya bahkan refleks berdebar begitu saja. Tubuhnya bahkan nyaris membeku melihatnya.

“Oh Tidak—”

“Hei, Sehun. . .”

“Kevin?” satu nama terlontar dari bibir mungil Sehun. Membuat semua saraf di ototnya semakin tegang terasa. Terlebih, senyum miring di bibir pria itu dilihatnya sebagai jawaban.

Kevin yang menyadari ketakutan Sehun pun semakin senang melihatnya. Ya, tentu, siapa pun yang mengenalnya dan berhadapan dengannya pasti akan bereaksi sama dengan Sehun. Meski tak bisa dipungkiri, ekspresi ketakutan itu terlihat samar di wajah tampannya. Kevin bahkan tak menyangka, di saat seperti ini, Sehun masih mampu menyembunyikan ketakutannya akan dirinya. Sekarang, ia mengerti mengapa Sehun dijuluki Ice Prince di kalangan para sniper.

“Aku senang kau mengenalku, Sehun!” Kevin berucap santai, kemudian melangkah mendekat.

Kali ini, Sehun yang tersenyum miring menanggapi ucapannya. Tentu saja, siapa yang tidak mengenal petugas eksekusi paling handal dari divisi psychopath. Divisi yang dilatih dan bertugas sebagai pembunuh bayaran sekaligus pengeksekusi anggota yang berkhianat. Dan Sehun adalah anggota yang berkhianat.

It’s over.

Sehun memejamkan matanya pelan. Napasnya ia atur senormal mungkin, agar detak jantungnya lebih tenang dari sebelumnya.

 

Hanna, maafkan aku.

 

Sungguh, Sehun tak rela. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan saat ini, malaikat pencabut nyawanya bahkan sudah tiba. Ya, Sehun tahu, Kevin datang untuk memberikannya hukuman sampai mati, seperti halnya anggota Black ID lain yang berkhianat.

Sementara Kevin, sudah duduk bersila di depannya. Memerhatikan luka di bahu Sehun yang terlihat begitu menggiurkan. Ingin sekali rasanya melihat luka itu lebih banyak lagi dengan darah yang mengalir di mana-mana. Namun sayangnya, ia harus menahan kecenderungan psycho itu saat melirik seseorang yang tengah berdiri tegap di bingkai pintu.

Sehun yang baru menyadari masih ada orang lain di antara mereka pun, bingung. Dan ternyata, tak hanya seorang, namun tiga orang sekaligus.

“Kalian–”

“Kau tidak perlu khawatir Sehun … Karena dia tidak akan membunuhmu!” Seseorang di antara mereka berucap, membuat Sehun semakin bingung karenanya.

“Apa maksudmu, Yong Guk?” tanya Sehun pada akhirnya. Ia tak mengerti mengapa tiga teman sejawatnya itu datang kemari dan mengatakan hal demikian. Kevin bahkan terlihat pasrah dengan sebelah tangan yang memangku wajah.

“Osamu-sama memerintahkan Kevin untuk menghabisimu, Luhan dan Baekhyun. Beliau sendiri sudah kembali ke Jepang karena situasi yang mendesak, dimana banyak anggota kepolisian beserta SWAT yang datang menuju kemari.” Yong Guk menjelaskan sambil menurunkan tubuhnya di samping Kevin, “Dan kami, berhasil membuatnya berubah pikiran,” sebelah tangan Yong Guk menepuk bahu Kevin lembut, lantas disambut dengan senyum kecil pria itu.

“Kalian mengancamku,” ujar Kevin setengah bercanda. Ya, awalnya pria itu dipaksa oleh belasan orang sniper sekaligus untuk tidak menuruti perintah Osamu, dengan ancaman akan membunuhnya jika ia tetap melakukannya. Kevin yang terdesak karena hanya seorang diri tentu langsung menyetujuinya, terlebih beberapa orang sniper mengatakan hal – hal yang membuatnya tersentuh.

Tak ada salahnya berbuat baik untuk kali ini. Pikirnya lugu. Namun, seorang psycho tetap psycho.

“Bagaimana dengan Hanna, istriku?” bukannya senang, Sehun justru terlihat panik.

“Itu yang jadi masalahnya. Kami tidak tahu istrimu dibawa ke mana?!” Seorang sniper lain -Kim Nam Joon- berucap. Membuat manik elang Sehun membulat tegang.

“A-apa?”

“Menurut laporan sniper lain, istrimu jatuh pingsan di dalam pelukan Luhan. Setelah itu, mereka dibawa oleh mobil yang berbeda. Luhan dan Baekhyun sendiri dibawa kemari dan ditempatkan di ruang isolasi yang tak jauh dari sini. Sementara istrimu, kami tidak tahu dimana?!” Jelas Yong Guk sembari membuka kunci rantai yang membelenggu tangan Sehun. Mereka terpaksa merantai tangan Sehun, karena Osamu yang memerintahkannya sebelum pergi.

Sehun sendiri, hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk. Lidahnya bahkan kelu untuk sekedar menanggapi.

“Apa mungkin Osamu-sama membawanya ke Jepang, bersamanya?” terka Taehyung.

“Tidak mungkin. Di bandara sudah disebar beberapa orang anggota kepolisian, bahkan pengamanan di Bandara jauh lebih diperketat,” sangkal Yong Guk sambil memerhatikan raut wajah Sehun, “tenang Sehun! Kami akan membantumu untuk mencarinya,” sambungnya.

“Hei, aku rasa, aku tahu di mana istrimu, Sehun-ssi—” Kevin tiba – tiba ambil bagian.

 

regret

 


Hampir semua stasiun TV Korea seperti KBS, SBS, MBC dan deretan stasiun TV lain menayangkan berita yang sama. Dimana telah terjadi kecelakaan beruntun di atas Jembatan Incheon serta baku tembak antara polisi dengan kawanan mafia di Songdo, Incheon (dekat Bandara International Incheon). Tak hanya itu, beberapa stasiun TV pun meliput kawasan pertokoan Muslim di daerah Itaewon, Distrik Yongsan, Seoul, karena sempat terjadi peristiwa penembakan di sana. Pun dengan kawasan jalan di dekat Jembatan Banpo, yang sempat kacau karena ada enam mobil yang melanggar arus lalu lintas.

Empat orang tewas pun ditemukan dalam dua mobil sport yang berbeda. Mereka diduga kawanan mafia yang mengejar mobil polisi yang membawa seorang tahanan, namun mengalami kecelakaan beruntun. Sementara satu mobil lagi ditemukan kosong. Polisi menduga, mereka yang sempat berada di dalamnya telah pergi melarikan diri. Tak hanya itu, enam orang korban tewas dan beberapa orang yang terluka pun ditemukan di atas Jembatan Incheon, akibat kecelakaan beruntun yang terjadi di sana.

Sementara, 23 orang ditemukan tewas akibat baku tembak yang terjadi di daerah Songdo. Diantaranya, 4 orang anggota kepolisian, 4 orang bodyguard, dan 15 orang anggota mafia, hanya ada 2 orang bodyguard yang ditemukan tanpa luka. Dan kini, dua orang yang selamat itu telah bergabung bersama SWAT dan anggota kepolisian. Mereka ikut mengejar mobil-mobil yang sudah menghilang entah kemana itu.

Semua kamera CCTV yang di pasang di pinggir jalan pun dipantau oleh aparat kepolisian serta beberapa anggota NIS. Mereka mencoba untuk mencari lokasi ke mana perginya mobil – mobil tersebut. Apa yang terjadi saat ini pun seketika menjadi Hot News di seluruh dataran Korea, terlebih banyak saksi mata yang menyaksikan aksi gila para mafia kelas atas tersebut.

Myungsoo yang mendengar kabar buruk itu pun memilih ikut pergi bersama rombongan opsir yang kini menuju markas besar Black ID. Beruntung Tuan Lee mengizinkannya bebas untuk sesaat, karena ia memang sudah berada di balik jeruji sebelumnya. Bahkan pria tua itu memintanya untuk kembali menjadi Letnan dan memimpin beberapa orang pasukan, sehingga kini, ia menjadi penunjuk arah sekaligus aparat yang dipercaya.

Myungsoo juga tak menyangka rencana yang telah ia susun bersama Tuan Lee dan Baekhyun hancur begitu saja. Padahal, ia sengaja menarik Sehun terlebih dahulu -untuk bergabung dengannya- karena tahu pria itu sedang diincar oleh Osamu. Ia juga sudah membuat rencana untuk mengubah posisinya, Sehun serta Luhan untuk menjadi saksi bukan tersangka dan berperan seolah mereka juga adalah korban. Namun nyatanya, semua rencananya tidak bisa berjalan dengan mulus, bahkan bisa dibilang, rencananya itu gagal total.

Mobil yang membawanya kini mulai memasuki kawasan pesisir Pantai Eurwangni, sebelah barat daya pulang Yongyudo, Incheon. Siapa pun tak akan menyangka, jika kawasan pesisir pantai indah yang menjadi destinasi wisata itu merupakan kawasan yang dipilih Black ID sebagai rumah. Karena gedung yang menjadi tempat mereka menjalankan aktivitas terlihat seperti kantor biasa yang menghadap ke arah pesisir pantai. Tak heran, jika tak ada orang yang curiga jika gedung itu merupakan pusat dimana perdagangan ilegal dilakukan, karena semuanya terlihat alami. Bahkan aktivitas kantor tersebut luput dari pengawasan NIS.

Black ID sendiri membeli gedung itu bukan tanpa alasan. Bukan hanya karena lokasinya yang dekat dengan Bandara International Incheon, tapi juga karena lokasinya yang bisa dibilang ramai. Dengan dalil, bersembunyi di balik kerumunan lebih aman daripada bersembunyi di balik batu.

Sungguh pintar.

“Anda yakin ini tempatnya, Tuan?” tanya seorang opsir.

“Bukankah ini perusahaan yang bergerak di bidang export – import?”

“Ya.”

 

♣ ♣ ♣

 

Komisaris Jenderal Polisi Lee Junho yang akrab disapa Tuan Lee, terlihat termenung di sebuah sofa panjang berwarna hitam. Ditemani bunyi ‘bip’ yang berirama, Beliau terlihat kosong tak bersuara. Sebuah digital voice recorder pen yang ia letakan di atas ranjang pun menjadi titik fokusnya, seolah benda itu terlihat lebih menarik daripada seorang pria yang juga berada di atasnya.

Masih berputar – putar dengan jelas, ingatan akan percakapan antar dirinya dengan seorang tahanan. Tahanan itu memberikannya sebuah rekaman dalam sebuah pen yang berisi percakapan antar dirinya dengan seorang jaksa. Dan mengatakan bahwa,

“Baekhyun menangis saat memberikan ini padaku dan meminta maaf karena sempat berprasangka buruk padaku. Aku terharu mendengarnya dan kini, aku akan pergi menyusulnnya. Jadi, aku mohon simpan ini Tuan! Semua kebenaran ada di dalamnya dan jika kami tidak kembali, maka gunakan itu untuk mengungkapkan semuanya.”

Ya, Myungsoo memintanya untuk menggunakan itu sebagai saksi, jika tubuhnya tak mampu lagi bersaksi. Setiap kali mengingat itu hatinya terasa sakit juga sesak. Semua hal yang ia lihat dari pengorbanan Myungsoo dan Baekhyun seolah menjadi pukulan tersendiri untuknya. Hubungan pertemanan yang mereka jalin dalam waktu singkat ternyata tidak memengaruhi seberapa besar ikatan di antara keduanya. Karena, perasaan saling memiliki, melindungi serta menyayangi tak butuh waktu lama untuk tumbuh dan mengikat seseorang dalam sebuah hubungan. Karena perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya saat individu sudah saling mengenal satu sama lain.

Sementara dirinya yang merupakan sahabat lama seorang Jo Khaza -pria yang tengah terbaring- tak mampu melakukan sesuatu yang berarti untuknya. Ia bahkan hanya bisa melihat tubuhnya yang tak berdaya, tanpa bisa melakukan hal yang berarti untuk melepas semua alat bantu itu dari tubuhnya. Ya, dia tidak bisa menyembuhkan sahabatnya itu karena memang ia bukan Tuhan. Ia juga tak bisa membebaskannya dari jerat hukum yang mencoreng namanya. Ia lemah, payah, bodoh, tak berguna. Ia merasa begitu tak berarti untuk sahabatnya itu, ia merasa tak pantas menjadi seorang sahabat dari seorang Jo Khaza yang sudah begitu baik padanya.

“Jo maafkan aku. Seharusnya dari awal aku memberontak dan membongkar semua kebenarannya meski nyawaku yang menjadi taruhannya. Bahkan, aku tak bisa melindungi putra dan putrimu dari ikatan yang menjerat kebebasan mereka. Dan kini, aku gagal melindungi kedua anakmu untuk berada dalam perlindunganku. Aku tak berguna Jo, aku terlalu lemah juga bodoh. Maafkan aku….”

Isakan kecil terdengar. Tangan tua yang tak lagi halus itu menggenggam tangan Tuan Jo yang terasa sedikit dingin. Begitu terlihat lemah juga rapuh. Status Komisaris Jenderal Polisi pun seolah hanya menjadi status semata jika orang lain melihat kepedihannya saat ini. Namun, mereka yang melihatnya juga akan mengerti, bahwa ia hanya manusia biasa yang dipercaya oleh Tuhan untuk mengemban tugas sebagai aparatur negara.

“Bangunlah Jo! Sampai kapan kau akan tertidur seperti itu? Kau tahu aku tidak bisa melindungi kedua anakmu. Maka dari itu, bangunlah! Lindungi mereka! Mereka membutuhkanmu!”

Tak ada jawaban apa pun dari orang yang diajaknya bicara itu. Beliau masih memejamkan matanya damai, seolah semua indera perasanya tak lagi berfungsi.

“Hanna dan Luhan sedang menunggumu Jo. Mereka mengharapkan kehadiranmu, mereka mencintaimu, mereka bahkan rela berkorban sampai sejauh ini. Sampai kapan kau akan menyiksa mereka? Jika kau menyayangi mereka, maka bangunlah!”

” . . . ”

Percuma.

Seberapa keras pun suaranya, seberapa sakit pun nadanya, seberapa memohon pun dirinya –Jo Khaza masih nyenyak dalam tidurnya. Sehingga pada akhirnya, sebuah isakanlah yang menjadi suara paling menyakitkan dalam ruangan itu, menemani suara monitor EKG yang berbunyi satu – satu.

Begitu pilu.

Beliau yang hanya seorang sahabat merasakan kepedihan yang luar biasa, lantas bagaimana dengan kedua anaknya? Setiap kali mengingat itu, membuat isakan Tuan Lee semakin dalam. Beliau tak bisa membayangkan kesakitan yang dirasa Luhan dan Hanna di balik ketegaran mereka dalam menjalani aktivitas.

“Setiap orang memiliki batas kesabaran Jo, jangan kecewakan putra dan putrimu!” Mohonnya lagi semakin lirih. Akan tetapi, Jo Khaza masih diam tak bersuara, membuat Tuan Lee menyerah akan usahanya.

Namun, tak berselang berapa lama, sebuah gerakan lembut dirasanya dalam gengaman. Membuat kepalanya yang semula menunduk refleks terangkat demi memastikan.

“Jo, apa kau mendengarku?”

 

regret

Bangun dari mimpi buruk ternyata jauh lebih menyeramkan dari mimpi itu sendiri. Napasnya bahkan terdengar satu – satu, keringat di tubuh pun sudah membasahi dress berwarna peach yang ia kenakan. Dipeluknya lutut yang terasa dingin itu, sementara maniknya berkeliling takut mengamati sekitar.

Gelap.

Semuanya gelap, hanya ada sedikit cahaya dari celah – celah pintu. Membuat hawa dingin semakin terasa menyentuh kulitnya. Namun, seramnya keadaan sekitar tak sebanding dengan bayang – bayang kelam yang terus datang menerobos alam sadarnya. Ingin sekali ia berteriak, namun lidahnya terasa kelu, tak mampu berucap. Sementara batinnya terus meneriakkan beberapa nama yang ia lihat pergi meninggalkannya.

Eomma.

Appa.

Krystal.

Tak hanya itu, bayangan baru pun datang silih berganti. Dimana dengan mata kepalanya sendiri ia melihat mobil pengawal pribadinya terbakar di tengah jalan, juga suara – suara tembakan yang menewaskan semua orang yang melindunginya.

Ania, Taejun.

Hiks.

Hanya sebuah isakan yang terdengar. Kedua tangannya bergerak meremas rambut cokelatnya sendiri, dengan harapan agar bayang – bayang mengerikan itu pergi.

Sehun.

Oppa.

Baekhyun.

Di mana kalian?

Hatinya terus berteriak saat mengingat orang – orang pemilik nama itu. Hanna tak kuasa jika mereka juga ikut pergi meninggalkannya.

 

Ketakutannya pun semakin bertambah.

 

Hanna bahkan melupakan fakta bahwa ia sedang hamil. Ketakutan itu membuatnya lupa akan segalanya. Ia bahkan tak peduli juga tak ingin tahu, di mana ia berada saat ini. Karena ia tahu dan sadar, bahwa ia sendirian di tempat gelap yang menakutkan. Ia hanya berharap Sehun atau siapa pun itu datang padanya dan memberikannya pelukan. Seperti pada saat ia melihat kematian Eiji, Sehun datang menghampirinya membawa makanan untuk sarapan, kemudian memberikannya ciuman meski terkesan memaksa. Akan tetapi, hal itu sukses membuatnya melupakan ingatan buruk itu.

Ya, Hanna butuh Sehun sekarang.

Ia butuh malaikat pelindungnya. Ia butuh Sehun yang selalu melindunginya, namun pria itu sudah pergi meninggalkannya untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Ya, hanya itu yang Hanna ingat. Kini, ia hanya bisa berharap Sehun tahu ia sedang membutuhkannya kemudian pergi mencarinya dan datang untuk memberikannya ketenangan.

“Se-hun,” akhirnya Hanna bisa mendengar suaranya. Butuh perjuangan untuknya melafalkan satu nama itu. Sementara Hanna sendiri tidak mengerti mengapa ia kesulitan untuk berucap.

“Dia akan datang mencarimu dan kemudian mati karenamu,”

Deg.

Mata Hanna berkeliling mendengar suara yang tak lagi asing baginya itu. Namun, retinanya kesulitan menangkap cahaya sehingga ia tak menemukan siapa pun di dalam ruangan itu. Tubuhnya lantas menggigil semakin hebat.

Takut.

Sangat takut, dan

semakin takut.

Ingin sekali Hanna berteriak dengan lantang demi mencari tahu di mana pemilik suara itu. Namun sayanganya, lidahnya kembali kaku. Sehingga pada akhirnya, Hanna hanya bisa bergerak menyeret tubuhnya ke sudut ruangan.

“Post Traumatic Stress Disorder. Jika penderita terus mengalami trauma secara berkelanjutan, maka kejiwaannya akan benar – benar terganggu. Itu berarti, tak akan ada orang yang akan percaya pada kesaksian seorang gadis gila sepertimu,” ujarnya lagi membuat Hanna semakin menggigil. Ia tahu betul siapa pemilik suara tersebut, karena pria itu ada di sampingnya saat ayahnya limbung setelah tertembak. Ya, Tuhan, bayang – bayang mengerikan itu semakin menjadi. Hanna tak kuasa jika harus terus – terusan melihat kejadian dimana orang – orang terbunuh di depan matanya. Padahal, ia sedang membuka mata, namun kejadian – kejadian mengerikan tersebut terus berulang – ulang seperti mimpi buruk.

Tidak. Hentikan aku mohon!

Hanna hanya mampu membatin. Napasnya terasa sesak, otot – otot di tubuhnya pun terasa tegang, bahkan sakit dan lemas ia rasa secara bersamaan di sekujur tubuhnya.

Siapa pun tolong aku!

Lagi – lagi, Hanna tak mampu berucap. Ia benar – benar tak mengerti mengapa ia tak bisa bersuara. Padahal, bibirnya terus bergerak dan dirinya sudah ketakutan setengah mati.

Tap!

Tap!

Tap!

Suara sepatu pantofell yang terdengar satu – satu pun bak suara tembakan yang memekikkan telinga. Begitu mengerikan. Hanna bahkan sudah menutup kedua telinganya dengan tangan. Wajahnya bersembunyi di balik lutut, matanya sendiri terpejam dengan begitu rapat, sementara tangisnya sudah pecah sedari tadi.

Jangan mendekat, aku mohon!

Bagai serangan bertubi – tubi, Hanna tak mampu membedakan mana kenyataan juga ilusi. Semuanya nampak jelas, dari mulai suara langkah kaki itu, suara tembakan, suara ledakan, tangisan, serta wajah – wajah terkasihnya yang terus berkelebatan silih berganti. Membuat sakit semakin terasa di sekujur tubuhnya, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang – orang yang kini telah tiada itu.

“Kau adalah sumber kehancuranku. Dan aku senang melihat ketakutanmu.” Pria itu kembali berucap setelah menempatkan posisi di depan tubuh Hanna. Sebelah tangannya bergerak mengelus lembut rambut cokelatnya.

Bagai anak anjing yang ketakutan melihat monster, dengan takut – takut Hanna membuka matanya demi melihat wajah menyeramkan itu.

Deg.


“O-Os-samu. . .”

 

 

regret

 

 

Bruk.

Bruk.

Bruk.

Entah sudah pintu yang keberapa yang Sehun dobrak, pun dengan kawan – kawannya. Mereka berlari lalu berhenti demi mendobrak pintu – pintu yang ada pada setiap sisi lorong gelap yang mereka lalui. Luhan dan Baekhyun yang ikut serta juga melakukan hal yang sama. Namun nihil. Tak ada orang yang mereka cari dari semua pintu yang telah mereka dobrak paksa.

“Kau yakin mereka membawa Hanna ke sini?” tanya Sehun penuh emosi. Ia terlihat tak sabaran sekaligus takut. Wajah ketakutan Hanna pun terus mengusik konsentrasinya, sehingga keinginan untuk menemukannya dengan segera begitu mendominasi.

“Menurutmu ke mana lagi? Hanya markas lama yang bisa dijadikan tempat persembunyian terakhir, karena polisi tidak akan mencari ke tempat yang sama!” Kevin tak kalah emosi. Ia ikut terbawa arus saat tak kunjung menemukan seorang wanita di setiap pintu yang didobraknya.

“Tenanglah Sehun, kita pasti bisa menemukannya,” Yong Guk menenangkan.

“Aku curiga ini jebakan!” Baekhyun ikut bersuara.

“Kau pikir aku menipu?” elak Kevin, marah.

“Jika bukan apa? Kau berada dipihak Osamu sebelumnya,” tantang Baekhyun tak kalah emosi.

“Tidak Baek, tenanglah!” Luhan mencoba untuk menenangkan.

“Jika aku berniat jahat maka sudah aku bunuh kau sejak awal..!!” sergah Kevin.

“Hah. . .” Baekhyun hanya mendengus, malas menimpali.

“Sudahlah! Aku mengerti jika Anda ragu, Jaksa Byun. Tetapi tetap saja, dia hanya manusia yang juga memiliki hati.” Taehyung menimpali. Membuat Baekhyun termenung sesaat—ingat akan sosok Myungsoo.

Perubahan berawal dari niatan dalam hati. Seorang pembunuh berdarah dingin pun masih memiliki hati dan ketika Tuhan memberikannya kesempatan untuk berubah, maka perubahan pun akan dipilihnya sebagai jalan baru.

Haruskah Baekhyun percaya, seperti ia percaya pada Myungsoo?

Entahlah, Baekhyun merasa harus tetap waspada padanya, karena ia hanya mengenal sosoknya bukan pribadinya. Diliriknya Sehun yang juga tengah menatap Kevin lewat ekor mata, membuat Baekhyun bisa menerka bahwa Sehun pun memikirkan hal yang sama dengannya.

Ya, Sehun tidak bodoh. Dia pintar. Baekhyun yakin, pria itu tahu ada yang tidak beres dengan Kevin. Dan ia rasa, bukan tanpa alasan pria itu setuju untuk datang kemari, jika memang ia tidak yakin Hanna berada di sini.

Lalu, apa yang sedang Sehun rencanakan dengan masuk ke dalam jebakan?

Baekhyun tidak tahu. Pria itu sulit dibaca. Namun saat Sehun menatapnya dengan senyum kecil di bibir, Baekhyun mengerti.

Bayanganmu sendiri akan meninggalkanmu di dalam kegelapan.

Kalimat yang pernah Sehun ucapkan pun terngiang begitu saja. Itu berarti, meninggalkan kegelapan adalah jalan satu – satunya untuk kembali mendapat kepercayaan.

“Kevin?” Sehun bersuara, membuat semua fokus tertuju padanya. Sementara Kevin hanya menoleh sebagai jawaban.

“Terima kasih,” sambung Sehun, membuat alis pria berbaju putih itu terangkat. Detik berikutnya,

Dor!

Suara tembakan terdengar. Tanpa bisa menghindar ataupun menyadari pergerakan lawan, pria itu limbung.

“APA YANG KAU LAKUKAN SEHUN?” tanya Taehyung, marah.

“Seorang psychopath sukar disembuhkan. Mereka adalah pembohong yang ulung, mudah terpancing emosi, agresif, manipulatif, pemberontak, sulit ditebak, dan tak memiliki rasa bersalah. Ya, setidaknya hanya itu ciri – ciri yang muncul selama aku memerhatikannya. Itu berarti, kita semua memang telah dijebak.” Sehun berucap, melihat tubuh yang kejang – kejang akibat tembakan yang menembus jantung tersebut.

Sebelumnya, Sehun hanya memancing Kevin dengan berpura – pura tak yakin padanya, meski tak sepenuhnya berbohong, karena memang ia sangat ingin menemukan Hanna dengan segera.

“Bodoh, jika kalian percaya Kevin berada di pihak kita, hanya karena pria itu terlihat terharu saat mendengar bujukan kalian!” Baekhyun berucap santai. Dari awal ia sudah curiga, bahwa Kevin hanya membohongi mereka. Pun dengan Sehun.

“Bagaimana dengan istrimu?” Yong Guk menghiraukan kata bodoh yang terucap dari mulut Baekhyun dengan bertanya pada Sehun.

“Aku yakin dia ada di sini, tapi entah di mana.” Jawab Sehun sekenanya. Pria itu terlihat berpikir, luka di bahunya pun tak ia hiraukan, bahkan darahnya sudah kembali menembus kemeja putih yang dikenakannya.

“Jangan berpencar. Hanya itu yang bisa kita lakukan!” Nam Joon yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.

“Ya, jika kita berpencar maka sejarah akan kembali terulang. Dimana para opsir yang datang kemari tewas dalam sebuah permainan.” Baekhyun menimpali.

 

regret


Myungsoo menggeram, marah. Tak ada yang ia temukan di sini, di markas baru Black ID. Semua ruangan bahkan setiap sudut gedung sudah mereka geledah, namun hasilnya nihil. Hanya ada beberapa pegawai kantor yang ‘mengaku’ tidak tahu apa – apa. Namun, Myungsoo tidak bodoh untuk melepas mereka begitu saja, ia seret semua orang yang ditemukannya beserta SWAT di dalam gedung itu untuk ditindak lanjuti.

“Aku menerima laporan dari Detective NIS, bahwa ada 3 mobil yang terlihat berpisah dari rombongan saat menuju kemari. Mereka mengetahui itu dari hasil pengamatan rekaman kamera CCTV yang dipasang di bahu jalan,” Kim Seok Jin, salah satu anggota SWAT berucap. Membuat perhatian Myungsoo teralih padanya.

“Kemana arah 3 mobil tersebut?” tanya Myungsoo.

“Tidak terbaca. Mereka mampu mengelabui kamera dengan sangat baik dan kemungkinan mereka berganti mobil di suatu tempat.” Seok Jin menghela napas setelah menyelesaikan ucapannya.

Sementara Myungsoo terlihat berpikir, “Aku rasa … Aku tahu ke mana perginya mobil – mobil itu,” ujarnya kemudian.

 

♣ ♣ ♣

 


Seorang wanita paruh baya terlihat terengah. Nebulizer, -alat bantu pernapasan untuk seorang penderita asma- pun terus digunakannya. Sementara sang suami, hanya bisa membantunya dari luar dengan mengelus punggungnya dan memegangi alat tersebut.

Air mata bahkan sudah keluar dari mata sayunya. Rasa khawatir pun menyelimuti hatinya, dimana dengan mata kepalanya sendiri ia melihat tayangan di televisi mengenai kecelakaan beruntun yang melibatkan anak beserta menantunya. Juga pengumuman mengenai dibuka kembalinya kasus yang menjerat seorang mantan Direktur NIS, Jo Khaza. Tak hanya itu, nama putranya -Oh Sehun- pun keluar sebagai salah satu tersangka.

Sesak.

Beliau sama sekali tidak tahu apa pun mengenai sandiwara yang tengah dimainkan oleh Suami beserta anaknya. Dan ketika mendengar kabar bahwa anaknya kembali ditetapkan sebagai tersangka—hatinya hancur.

Sementara Tuan Oh, hanya diam tak bersuara. Ia tahu, tak akan lama lagi namanya ikut terseret. Itu pun, jika anaknya Sehun berhasil selamat dari tangan kejam Osamu. Mengingat itu, membuat rasa berat hati dirasanya, karena biar bagaimanapun, Oh Sehun adalah putra semata wayangnya. Saat sidik jarinya ditemukan pun, Tuan Oh mati – matian memohon pada Osamu untuk tidak membunuhnya. Sehingga dirinya membuat permainan sedemikian rupa untuk membebaskan putranya tersebut dari jerat hukum juga tangan kejam Osamu.

Ya, seberapa pembangkang pun Sehun terhadapnya, ia tetap tak bisa membiarkan putranya itu terluka. Bahkan, Tuan Oh selalu bersikap keras padanya agar ia tidak terluka, karena Tuan Oh sadar, dari awal keputusannya untuk bergabung dengan Black ID adalah kesalahan besar. Namun, ia melakukan semua itu untuk keluarganya—untuk kebahagiakan anak beserta istrinya. Kini, pikirnya berkecamuk, mencoba untuk mencari jalan keluar terbaik untuk melindungi putranya itu. Sehingga keputusan yang bisa dibilang nekat pun diambilnya.

“Aku akan pergi mencari Sehun…”

 

regret

 

Ruang bawah tanah dengan dinding pelindung dari besi, menjadi tempat terakhir yang mereka datangi. Langkah kaki mereka terdengar satu – satu, terlihat lebih waspada dari sebelumnya. Sehun berjalan di barisan paling depan dengan Luhan yang setia berdiri di sampingnya. Pria itu terlihat lebih tenang dari adik iparnya tersebut, namun siapa yang tahu bahwa pria itu pun tersiksa. Karena yang tengah dicarinya kini adalah adik kecilnya, adik kandungnya, sumber kebahagiaannya yang tersisa. Jujur saja, sedari tadi Luhan takut orang – orang biadab itu sudah melukainya. Namun, ia mencoba untuk tetap terlihat tenang agar Sehun tak semakin khawatir karenanya.

Semakin jauh mereka melangkah, semakin dalam mereka masuk. Saat itu juga, mereka bertemu dengan belasan sniper dan anggota dari divisi lain. Sehun bahkan refleks menghentikan langkah kakinya, pun dengan orang – orang yang mengekornya.

Suasana tegang seketika tercipta. Jika mereka berniat menghalangi jalan tentu mereka harus terlibat perkelahian untuk bisa melewatinya. Dan yang menjadi masalahnya, mereka kalah jumlah. Sementara anggota Black ID yang lain pun terlatih sama halnya seperti mereka, terkecuali Baekhyun. Itu berarti, kemungkinan kalah tanding lebih besar daripada imbang ataupun menang. Shit.

“Jadi mereka pengkhianat?” tanya seorang pria dari kubu lawan. Dengan senyum merendahkan ia tatap satu – satu wajah di depannya itu.

“Hanya mereka? Di mana yang lainnya? Bukankah jumlah mereka lebih dari itu?” seorang wanita berucap. Kebanyakan dari mereka tidak Sehun kenal, hanya anggota sniper yang berada di sana saja yang dikenalnya.

“Di mana adikku?” tanya Luhan lantang. Tak ingin basa – basi.

Sementara Sehun, Baekhyun, Nam Joon, Yong Guk dan Taehyung terlihat memerhatikan gerak – gerik lawan dalam diam. Sampai pada akhirnya, kode nonverbal dari salah seorang sniper mereka dapat. Itu berarti, mereka tidak sendirian.

“Berkhianat maka mati, aku rasa kalian tidak lupa motto itu—”

“Aku hanya menginginkan istriku,” sela Sehun cepat. Kakinya kembali melangkah santai, seolah tak takut pada banyaknya jumlah musuh.

“Istri? Ah, jadi wanita gila yang berada di dalam ruang isolasi itu adalah istrimu?!” ujar salah seorang dari mereka, menantang. Tawa merendahkan pun keluar dari dalam mulutnya.

“Jaga ucapanmu!” Desis Sehun, marah.

“Apa yang salah? Wanita itu memang gila! Ia bahkan terus berteriak tak jelas.” Pancingnya lagi, membuat Sehun semakin geram—tak terima gadisnya dihina.

Taehyung yang menyadari kemarahan Sehun pun segera menyusul langkah kakinya, “Tenanglah….” ujarnya sambil merangkul bahu Sehun dengan mulut yang hampir menempel pada telinga pria itu, lantas membisikan sesuatu yang membuat Sehun tersenyum mendengarnya.

“Jumlah para pengkhianat memang tidak sebanding dengan apa yang kalian lihat. Sebagian dari kami pergi untuk menyelamatkan diri beserta keluarga masing – masing dan sebagian lagi . . . ” Yong Guk menggantung kalimatnya.

“Pergi untuk menuntut balas,” sambung Nam Joon. Tak lama, gerakan mencurigakan terlihat dari seorang sniper dari kubu lawan.

Bugh.

Suara pukulan pun tiba – tiba saja terdengar, diikuti suara benturan.

Bruk.

“Akh…”

“Sekarang!”

Ternyata, seorang sniper dari kubu lawan memulai serangan. Ia menendang perut rekannya sendiri hingga jatuh membentur besi. Aba – aba pun ia berikan pada kubu Sehun untuk ikut menghabisi puluhan orang yang menghalangi jalan mereka. Dan beberapa orang anggota sniper yang berada di pihak mereka pun ikut membantu. Bahkan mereka tak segan memukuli rekan sejawatnya yang masih memihak Osamu.

Beruntung Baekhyun menguasai hapkido dan sedikit taekwondo, sehingga ia bisa ikut memberikan serangan pada mereka yang memang sudah terlatih. Sesekali ia melirik Sehun yang terlihat tidak terlalu banyak bergerak—pria itu terlihat lebih santai dengan hanya mematahkan lengan lawannya. Sementara Luhan terlihat beberapa kali terkena pukulan sebelum akhirnya berhasil menjatuhkan dua orang lawannya. Dan rekan – rekan sniper yang lain terlihat sama saja seperti Sehun. Membuatnya heran, pendidikan bela diri seperti apa yang kiranya sudah diajarkan pada mereka.

Bugh.

“Akh…”

Larut dalam pikiran membuat Baekhyun lengah. Perutnya tertendang, hingga tubuhnya membentur besi. Bisa ia lihat lawannya mengeluarkan belati, dan saat pria itu hendak kembali melakukan serangan. Seseorang tanpa belas kasihan menendang kepalanya hingga darah keluar dari telinganya.

“Aku membencimu, tapi aku tak bisa membiarkanmu mati,” ujarnya membuat Baekhyun bingung, namun ia ingat akan suaranya.

“Ya. Dan karena dia, Koyuki terluka!”

Ah, pria itu. Baekhyun membatin. Ia ingat pria itu merupakan pria bertopeng yang menangkapnya. Tak ingin larut, Baekhyun kembali pada kerumunan untuk kembali ikut menyerang.

Sementara Sehun tak lagi melakukan serangan, ia hanya mengelak, mengelak dan mengelak dengan langkah yang terus maju ke depan. Mengikuti saran Taehyung untuk menyimpan tenaganya dan menyerahkan mereka pada rekan – rekannya. Ketika sudah sedikit jauh dari kerumunan, saat itulah Sehun menghabisi lawannya yang terus mengekor. Ia menahan tangan yang mencoba menyerangnya dengan belati, kemudian dengan gerakan cepat menendang kepalanya hingga membentur lantai. Perlawanan pun kembali ia lakukan pada tiga orang pria yang menjadi lawannya, sebelum akhirnya, Nam Joon datang membantu. Saat itulah, Sehun segera pergi dengan berlari. Mencoba untuk mencari ruang isolasi yang terdapat Hanna di dalamnya.

Rasa gelisah juga takut terpancar jelas dari air mukanya. Sehun tak peduli akan jebakkan lain yang mungkin tengah menunggunya di depan sana, karena yang terpenting baginya, ia bisa memeluk gadis itu dengan segera dan memastikan bahwa dia baik – baik saja.

Sehun terus berlari, bahkan ia melewati beberapa ruang isolasi. Karena perasaannya mengatakan, Hanna berada di depan sana bukan di sana. Terlebih, ia yakin setiap pintu pasti terdapat jebakan di dalamnya. Sehingga keputusan untuk terus berlari meninggalkan pintu – pintu yang mencurigakan pun dipilihnya. Sampai pada akhirnya, langkah kakinya memelan dan kemudian berhenti tepat di depan sebuah pintu besi dengan celah – celah kecil di depannya sebagai jalan masuknya cahaya. Entah mengapa, firasatnya mengatakan Hanna berada di dalam sana dari banyaknya pintu yang ada di lorong tersebut.

Dengan hati – hati, Sehun dorong pintu itu -beruntung- pintunya tak dikunci. Ia lantas bersembunyi di balik dinding, takut jika tiba – tiba ada serangan berupa tembakan dari dalam. Namun ternyata, keadaan terlihat lenggang juga aman. Akan tetapi, Sehun harus tetap waspada.

“Hanna, apa kau ada di dalam?” panggil Sehun pelan, mencoba untuk memastikan.

” . . . ”

Sepi. Tak ada suara. Sehun pun tak lagi bersuara. Diputuskannya untuk masuk ke dalam, mencoba untuk mencari tahu secara langsung. Maniknya lantas berkeliling jeli, mengamati setiap sudut ruangan—sampai pada akhirnya, fokusnya menangkap sebuah tubuh yang tergeletak lemas di atas lantai.

Deg.

Sehun membatu. Tubuhnya lemas. Jantungnya memompa cepat. Namun, napasnya terasa sesak. Bahkan, tubuh kekar itu kini bergetar hebat, melihat darah yang mengalir begitu banyak. Déjavu. Seolah melihat kejadian yang sama seperti pada saat ia menemukan Krystal tewas dulu, Sehun hanya mampu bergeming di tempatnya melihat gadis yang berbeda itu.

Tidak.

“Hanna…” panggilnya lirih. Sehun bahkan tak mampu memekik.

Dengan sekuat tenaga dan semampunya, Sehun angkat kakinya pelan – pelan demi menggapai tubuh yang sudah dilumuri darah itu.

Satu langkah, satu cabikan. Terus seperti itu. Mata elang itu bahkan sudah berair menyaksikan pemandangan menyedihkan yang mengiris hati tersebut. Sehun bahkan bisa merasakan bagaimana sakitnya ribuan jarum ditancapkan tepat pada ulu hatinya. Sakit sekali. Sehun juga bisa merasakan bagaimana sesaknya dihimpit batu hingga remuk. Sakit, pasti sangat sakit.

Sehun terlambat.

Dia gagal.

Hanna terluka—semakin dalam.

Dan kegagalan itu menumbuhkan buah penyesalan baru. Penyesalannya membuat luka baru. Lagi – lagi, Sehun kehilangan kesempatan.

Tidak. Tidak mungkin.

Sehun larut dalam setiap langkah penuh dukanya, membuatnya lengah terhadap keadaan sekitar. Bahkan, saat seorang pria mengarahkan senapan ke arahnya, Sehun tidak tahu. Namun sadar saat sebuah tembakan terdengar dan sebuah peluru berhasil menembus tubuhnya.

 

 

“Game it’s over.”

 

 

Sementara di luar sana, keadaan sudah terbolak – balik dan kini, beberapa orang sudah terlihat terkapar tak berdaya. Termasuk Yong Guk, Luhan, dan Taehyung.

Nam Joon sendiri terlihat tak berkutik dalam kekangan teknik beladiri lawannya. Sementara Baekhyun, baru saja limbung setelah mendapat pukulan telak di bagian belakang lehernya. Dan anggota sniper lain yang tersiksa, sudah dipenuhi luka lebam di mana – mana. Sehingga kemenangan sudah bisa dipastikan jatuh ke kubu lawan.

Namun, di bagian terluar gedung itu, sudah tersebar beberapa orang berpangkat yang siap menerobos masuk ke dalamnya. Strategi pun sudah mereka susun agar kejadian yang sama di gedung yang sama tidak kembali terulang.

“Letnan Kim, izinkan kami masuk untuk ikut menggeledah!” Taejun menghampiri Myungsoo, lantas mendapat anggukan tegas dari pria berseragam itu.

Dengan aba – aba dan strategi, mereka mulai menyusuri gedung tua tersebut. Hari yang mulai gelap pun tak menjadi penghalang untuk mereka terus maju. Jumlah mereka pun lebih banyak dari pasukan yang pernah disebar sebelumnya, seolah belajar dari pengalaman melalui kejadian yang menimpa pasukan Jo Khaza sebelumnya.

 

 

Sehun jatuh berdebam. Bersimpuh tepat 5 langkah dari tubuh gadis yang amat dicintainya itu. Langkah kaki menjauh pun di dengarnya dari arah belakang, menandakan bahwa orang itu yakin dia akan mati setelah ini. Namun, Sehun tak peduli itu. Sehun tak peduli siapa orang itu.

Hanya Hanna fokusnya.

Dengan sisa – sisa tenaganya, Sehun seret tubuhnya yang terasa panas akibat peluru tersebut. Kemudian, diraihnya tubuh Hanna agar hangat dalam pelukan. Dikecupnya lembut puncak kepala gadis itu dengan tangis yang sudah membasahi kelopak mata. Bau amis darah pun tercium menyapa hidungnya, membuat tangis itu semakin pecah sekaligus menyedihkan terdengar. Ya, Sehun tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang terjadi pada gadisnya. Darah yang berasal dari selangkangan gadis itu sudah cukup untuk memperjelas semuanya. Bahwa Sehun sudah kehilangan semuanya—kehilangan kesempatan manis itu.

Kesempatan untuk menjadi seorang ayah sekaligus suami yang baik.

Rasa sakit di tubuhnya pun tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Siapa pun, siapa pun yang berada pada posisinya pasti akan merasakan hal yang sama. Dalam tidur dengan Hanna yang berada dalam dekapan, Sehun berharap ini hanya mimpi. Napasnya bahkan terdengar semakin lemah, karena sakit di perutnya yang semakin menjalar mengambil kesadaran. Namun, ditatapnya wajah Hanna yang terlihat damai, sebelum mata elang itu semakin lelah terbuka. Disentuhnya wajah yang begitu ia kagumi itu, sebelum tangannya tak mampu lagi terangkat. Dihirupnya dalam aroma gadis itu, sebelum dirinya tak mampu lagi bernapas. Dikecupnya lembut bibir mungil itu, untuk yang terakhir. Berharap Hanna akan bangun setelahnya, seperti pada saat ia membangunkan gadis itu di pagi hari, agar beranjak menyiapkan segala keperluannya untuk pergi ke kantor.

“Sayang bangunlah—” ujar Sehun lembut namun lirih. Napasnya semakin tersenggal. Darah dari tubuhnya semakin banyak keluar. Namun, fokusnya tak kunjung lepas dari wajah itu.

“Aku ingin memulai semuanya dari awal, Hanna … Bangunlah…!!” Ditepuknya pelan pipi tirus yang mulai chubby itu. Namun, sang empunya tak kunjung membuka mata. Isakan pun semakin dalam terdengar. Membuat nada – nada lirih penuh akan kesakitan itu mengambang di udara.

Semua ingatan akan sosoknya pun seolah ditarik paksa untuk keluar. Membuat sakit itu semakin menjalar, merambat ke seluruh tubuh. Dari mulai cintanya, perlakuan baik dan buruknya, semua yang telah ia lalui bersamanya berputar dengan jelas dalam ingatan—Mengekangnya hingga sesak, menjeratnya hingga tak mampu berkutik. Luka yang telah ada pun semakin menganga, semakin lebar, semakin dalam terasa. Satu hal yang Sehun sadari belum pernah ia lakukan dari semua memori yang perlahan menghilang itu.

“Hanna. Aku mencintaimu. Sangat – sangat mencintaimu…” Kata cinta penuh makna akhirnya terlontar untuk yang pertama kalinya dari dalam mulut pria itu. Kata cinta yang selama ini tak mampu ia ungkapkan, karena ia pendam. Kata cinta yang sesungguhnya sangat ingin Hanna dengar, namun tak pernah diungkapkannya. Dan saat perasaan cinta itu diungkapkan, Hanna justru tak mampu mendengarnya.

Ya, ungkapan cinta. Sehun tidak pernah mengungkapkan perasaan terdalamnya pada gadis itu. Namun kini, kata cinta itu telah terlontar. Perasaan lega pun dirasa.

Ditariknya kedua sudut bibir, mencoba untuk tersenyum meski pahit. Sebelum akhirnya, mata itu tertutup damai—dalam tidur yang terlihat begitu nyenyak.

 

 

Andai kata cinta itu terungkap lebih awal, mungkin Sehun akan melihat senyum manis Hanna sebagai jawaban.

 

It’s not even raining but outside the window you grow white and farther apart.

On top of the empty seat you left only your cold scent remains.

I will hold onto the remaining scent. So, come back to your place.

Tell me once again! Tell me that you love me, Sehun-ah.

regret2

Please, Don’t leave me – Second Regrets

 

 

¤ To Be Coutinued ¤

 

Translate

Meskipun hujan tidak turun, tetapi di luar jendela kau yang menjauh tampak tertutup kabut.

Di atas tempat yang kau tinggalkan, tersisa keharumanmu yang menyejukan.

Aku akan mendekap keharumanmu yang tersisa. Kumohon kembalilah ke tempatmu.

[Please Don’t – K’Will]

.

.

.

.

.

Author’s Note

Sebelumnya maaf untuk segala kekurangannya. Akhir – akhir ini aku sibuk, kedepan pun demikian, tapi aku bersyukur bisa post Regret dan Ambition secara bersamaa.

Dan terima kasih buat kalian semua yang selalu hadir. Kalian sangat berharga buat aku, terima kasih ^^

Terakhir, tolong jangan comment yang isinya cuma nyuruh aku untuk updet cepet doank ya. Karena aku penulis bukan pelayan warteg. Gak perlu di suruh pun kalau udah selesai aku langsung updet..hehe

/sekilas info/

Lagu Infinite – Back, sesuai dengan scene Sehun nyari Hanna yang aku tulis…hehe /thanks buat Tata (my sister) yang udah recom lagu itu/

Saranghae Yeorobun…!!!

 

Regards,

Sehun’Bee

PS : Don’t be Silent Readers and Plagiator. Belajar menghargai, jika ingin dihargai^^

Advertisements

624 comments

  1. Yah kenapa sih… giliran mereka mau bahagia ada aja halangannya, Sehun gak akan mati kan? Dia gak akan koma kayak ayahnya Hanna juga kan? Yampuuunnnn Hanna juga kenapaaaa semuanya kayak keulang lagi kasian mereka, mudah-mudahan pasukan bawaannya Myungsoo bisa nyelamatin Sehun, Hanna sama pasukannya deh ya. Terus tangkep deh tuh pimpinan Black ID

    Like

  2. Gaaaaaaaah apa yang aku takutin kejadian kan… Hanna keguguran >< sial Osama dia ngapain Hanna sampe begitu? Apa sama kayak dia ngelakuin ke Koyuki, huh? Omg~
    Tapi Bee gak ada yang mati kan disini? Aku mau baca next part tapi ngerinya ada yang mati, dan aku gak rela hwehueee 😭
    Padahal bentar lagi tuh Myungsoo dateng. Ck, ah ngeseliiiiiiun 😣

    Like

  3. Aaaaaahhhhh ka bee 😭😭😭😭😭😭 kenapa mereka tragis banget.. Aku sedih pliiiss.. Aku jadi takut baca chapter berikutnya.. Ga ngebayangin gimana mereka nanti…

    Like

  4. aku kagum banget sama sehun disini ahh sumpah real hero banget dia, dan hanna beruntung banget dicintai sama sehun sebegitu sayangnya, hanna semoga baik baik aja dan semuanya berjalan lancar,bisa ngalahin osamu dan teamnya.. penasaran see u

    Like

  5. Nyesek banget baca part ini apalagi pas bagian tuan Lee ngomong ke tuan Jo dan pas Sehun nemuin Hanna terluka nggak sadarkan diri. Tapi Sehun dan Hanna nggak bakal kenapa- napa yang parah kan?

    Like

  6. maafkan aku sebelumnya,,,,,,, aku baru muncul , karna jujur aku baru menemukan ff ini 3/4 hari yg lalu , aku udah mencoa meninggalkan jejak di chapter satu tapi nihil , gk tau komenku pergi kenama sedangkan aku sendiri gk copy jadi ilang deh,,,, maaf ya,,, aku sebenernya pengen nulis sesuatu di setiap akhir chapter yg aku baca , karna tanganku gk sanggup untuk diam , tapi aku merasa terlambat ,, hingga kuputuskan untuk kmen di chapter ini aja,,,
    di awal chapter satu , aku beneer bener benci sama sehun , saat dengan teganya dia membawa seorang wanita ke dalam rumahnya padahal dia sudah beristri (saat belom tau cerita berikutnya) , aku pikir sehun adalah pria brengsek , dan aku pikir hana wanita bodoh yg hanya bisa menuruti permintaanya begitu saja, tapi aku masih bingung dengan kata “sahabat” saat itu , siapa yg bersahabat?
    tapi ternyata hana tidak bodoh , bahkan dia cukup berani untuk melawan sehun , dan aku sangat suka karak gadis yg tidak hanya menurut pasrah tapi kadang dia punya keyakinan kuat untuk melawan.
    cast berikutnya yg aku temukan adalah luhan , yg ternyata dia adalah kakak dari hana. dan saat itu pula aku mulai bingung kenapa sehun mengatakan “Seperti itukah caramu– menunjukkan rasa hormatmu pada adik iparmu ini, heum?”
    Mnghormati ? , apa maksudnya itu ? pertanyaan besar mengganggu pikiranku , permainan apa ini ? dan pada saat itu pula aku mengira sehun benar benar brengsek , ingin rasaku mulai mencincang pria itu.
    dan berikutnya aku mendapat jawaban mereka hanya ingin melindungi ayah mereka.
    chapter dua , dimana mulai ada flashback disana , membuatku mulai berpikir , gimana awal dari penderitaan hana jika dulu mereka terlalu akrab ?
    otakku memang llemot karna kadang tak bisa langsung membaca dari inti cerita. dari awal flashback aku sudah mengira kalo sehun dan hana saling menyukai , tapi fakta menunjukkan kalo mereka sudah saling mempunyai pacar yg sangat menyayangi mereka.dan aku mulai tersenyum konyol saat melihat persahabatan keduanya. dan tetap berpikir , gimana bisa sehun berubah kalo dulu seperti itu ? YA AMPUN ,, mereka perang antar tetangga dalam diam dalam permainan kejam , mafia dan intel.
    aku pikir awalnya sehun tak terlibat , karna dengan lancarnya dia memberi tau luhan semua yg dia tau (menurut pandanganku).
    dan terlebih lagi saat tau , bahwa sehun bagian dari mafia itu , dan mengambil bagian untuk menghabisi luhan dan hana , tapi pada saat itu juga aku paham sehun melindungi keduanya , karna gk mau mereka berdua mati. dan aku makin yakin sehun menyukai hana. dan di akhir chapter dua . aku suka sama adegannya , aku berharap semua mulai akan berubah kembali , dan pernyataan sehun yg bilang tak berubah membuatku yakin sehun tak akan menghabisi kedua kakak beradik itu.

    Like

  7. aku kirain konfliknya ga akan sebesar ini, ternyata mereka harus menderita lagi 😂
    mereka ga meninggal kan? mau baca chapt selanjutnya jadi deg2an takutnya sad ending ini +.+

    Like

  8. Aaa,,, Hanna Nya keguguran ya? Sehun ga mati kan? Padahal mereka baru mau bahagia… 😦

    Gaia sabar tau ending Nya,, tapi takut sedih >__<

    Like

  9. Aduh jngn pd mti dlu dong,lahiran dlu..abis itu rajut cinta dlu..abis itu bhagia dlu..jngn bkin q nangis dong i love hunhan,i love authornya.TETEP SEMANGAT!

    Like

  10. Huahhhh hanna…knp sama hanna..sehun…
    OmG..tega bgt itu pemimpin black ID…mereka gencar2an bwt ngilangin bukti..sampe segitu y ngejar mrk…

    Like

  11. Nyesek bangetttt ini kakk bacanya..T_T
    Semoga hanna sama sehun baik” sajaa
    Pasti hanna udah keguguran ..
    Udah gx bisa ngomong apa” lagi dahh
    Kakkak nurul emang hebat bikin ff nyaaa 😀
    SEMANGAT KAKAK !!!
    Masih nyesek ajaaaaa nih 😦

    Like

  12. Chapter ini walaupun Sehun udah berjuang mati mati an buat nyelamatin Hanna taoi malah dia nemuin Hanna dengan kondisi keguguran seperti itu gak menutup kemungkinan kalau Hanna kehilangan banyak darah :3 Osamu human mati aja deh
    Bener bener deh -_-
    Aku prihatin buah hati nereka gak bisa diselamatin miris 😢

    Like

  13. Ternyesek lah pokoknya, kalo udah gini jelas gak bakal happy ending T.T gapapa yg penting sehun udh brubah

    Like

  14. Semoga gaterjadi apaapa sma hanna, oh janganjangan hanna nya keguguran yaampun nyesek bgt dichap ini setelah tadi baca chap sebelumnya jg bikin mewek, kasihan jd hanna dn jg sehun, biarkan mereka bahagia..

    Like

  15. Kan benerrr yang aku takutin beneran, hanna kegugurannn, parahhhh!!!!! Baper bangetttt…. Sehun jangan mati kakk, masa main character mati kan galucuu heheee

    Like

  16. Nyesek banget ni cahpter, kasihan hanna sehun baru mau bersama & hidup bahagia ada aja rintangannya. Itu darah apa thor? Hanna ngga keguguran kan? Please jangan thor. Sehun ngga kenapa2 kan?

    Like

  17. Hanna kenapa thor? T.T dia diapain ya ampun pleaseeee mereka berdua jangan death dulu. Baru aja mau bahagia lagi lagi terhalang huhuh
    Jujur makin seru ffnya… xD fighting thor!!

    Like

  18. Sehun kenapa ? Hanna kenapa ? Baru mereka mau bahagia, malah kayak gini, sedih deh bacanya. Gimana nasib baekhyun dkk, kok mereka kalah sih, padahal diawal tadi kan udah menang😔😞😱

    Like

  19. ahhhh gila bener” kejem bgt Black ID.. tragis bgt kisah hanna sama sehun. kenapa disaat orang udah mulai berubah jadi lebih baik ada aja halangannya ada aja rintangan nya.. nyesekk thor pas bagian sehun udah nemuin hanna, kasian hanna keguguran kasian juga sehun nemuin hanna dgn keadaan yg bikin sehun sakit

    Like

  20. hueh kak mewek aku !! bukan karena sehun dan hanna tapi karena Tuan Lee dan Paman Jo bener deh satu satunya harapan tinggal Paman Jo. plis paman Jo sadarlha. fighting kak

    Like

  21. ini singkat tp sukses bikin nyesek abis kaa.. huahhh sehun sama hanna nya gakan matikan?? mereka cuman pingsan ajakan?? hanna keguguran?? andwaeee!!
    rintangan sama cobaan makin menggila tp yakin kebenaran pasti menang kegagalan adalah kemenangan yg tertunda.. semuanya past indah pd waktunya percaya deh.. sehun hanna tetep berjuang. msh ada luhan sama paman jo yg udh sadar dr komanya.. sehun jg msh ada rekan sejawatmu yg rela berkhianat demi teman..
    myungsoo cepet dateng tengkep tuh osamu rese!!
    okee sekian. izin baca next chapnya kaa good luck 😀

    Like

  22. Sehun ngga kenapa2 kan , takut sehun nya bakalan mati atau koma kaya ayahnya hanna , kenapa selalu ad rintangan sih kapan mereka bebas n bahagia T_T

    Like

  23. waah daebak aku selalu dibikin kagum sm hasil karyamu.. sebelumnya ak udh bc ff kamu yg judulnya ambition, gaya bhsa kamu juga, selalu informatif dan nggk ada kesan yg terlalu memaksa alur, mngkin ini udh jd kyk ciri² kryamu dan aku suka banget! genrenya juga feel nya dpt..
    ( ngomong apa’an si barusan ) 😀

    Like

  24. hah, sedih banget saat sehun udah ketemu hanna, hannya keguguran terus dia ikut ketembak. ya ampun penderitaannya bertubi- tubi 😂
    ijin lanjut baca ya makasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s