Regret [Chapter 14 + RULES]

regret2

Title : Regret | Cold Rain

Author : Sehun’Bee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun || Khaza Hanna || Xi Luhan || Byun Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [ 7085 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit >> PosterBySifixo@PosterChanel and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

Siklus kehidupan itu akan terus berjalan selagi Bumi ini terus berputar. Dan takdir akan terus berjalan, selagi kesempatan hidup masih ada.

¤ ¤ ¤

Tak ada yang berakhir baik saat amarah memegang kendali. Tak ada yang berakhir dengan baik saat masalah diselesaikan dengan emosi.

¤ ¤ ¤

Satu kebahagian kau dapat, namun kebahagian lain siap pergi meninggalkanmu.

Note :

Baca Rules di bagian bawah FF ya…!!!!

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7 ¤ Chapter 7 ¤  Chapter 8 ¤ Chapter 9A  ¤ Chapter 9B ¤ Chapter 10 ¤ Chapter 11 ¤ Chapter 12 ¤ Chapter 13A ¤ Chapter 13B

regret

Setangkai daun tak mampu bertahan dari rantingnya. Daun itu terlihat terbang bersama angin musim panas yang gersang, terhempas ke sana – kemari, berguling-guling hingga kotor, dan pada akhirnya hancur karena kering. Angin terlihat berlaku kejam padanya, namun, daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Ia tahu itu memang takdirnya. Siklus kehidupan.

Ungkapan itu sungguh tepat baginya, gadis itu. Gadis yang kini tengah tertidur damai dalam mimpinya. Mimpi yang indah. Tak ada hal yang menyeramkan di sana. Sungguh hanya ada mimpi yang indah. Dimana dirinya tengah meringkuk dalam sebuah dekapan hangat penuh cinta.

Ia bahkan terlihat tak peduli akan perlakuan buruknya di masa lalu. Seolah lupa bahwa ia pernah jatuh terpuruk ke dalam lubang hitam yang dalam karenanya. Saat ini, terlalu menyenangkan ketimbang mengenang kejadian buruk itu. Karena memang ia hanya setangkai daun yang jatuh karena angin. Tak lebih.

Hanna ingat, saat ia hanya setangkai daun kecil, angin itu terus datang mempermainkan ekornya, mengajaknya bermain hingga tubuhnya bergoyang. Angin bahkan tak peduli, meski ia sudah bersama batang pohon. Ia terus datang menghampirinya dan mengajaknya bermain. Namun, seiring waktu yang terus berjalan, Hanna tak mampu lagi bertahan saat angin terus datang mempermainkannya. Hingga pada akhirnya, ia jatuh dengan angin yang membawanya, sampai jauh dari pohon tempatnya berasal. Namun, angin terus menemaninya bahkan sampai ia hancur dan kembali menjadi tanah.

Seperti Sehun, pria itu selalu menemaninya meski pernah menyakitinya. Benar-benar Seperti angin terhadap daun.

 

“Hanna. Aku mencintaimu. Sangat – sangat mencintaimu…”

 

Deg.

 

Kata cinta mengalun indah, penuh akan makna. Kata cinta yang selama ini sangat ingin Hanna dengar, kini telah terucap dari bibir pria itu. Dieratkannya pelukan pada tubuh kekar itu, sebagai jawaban bahwa ia pun mencintainya. Senyum bahagia bahkan tercetak di wajahnya yang bersembunyi malu – malu.

Ia amat senang mendengarnya, seperti berada di bawah pohon sakura yang berguguran. Hatinya berbunga-bunga, seperti indahnya kelopak bunga berwarna merah muda yang jatuh itu. Indah sekali rasa itu.

“Sehun?” bibir mungil itu akhirnya bergerak, ” –Bisakah kau mengulanginya?” pintanya kemudian, sedikit malu.

 

” ….. ”

 

Namun, hening. Sehun tak melakukannya. Lama Hanna menunggu hingga jengah.

“Tell me once again! Tell me that you love me, Sehun-ah.” Hanna merajuk, manja. Dieratkannya pelukan, agar Sehun mengerti bahwa ia sungguh – sungguh ingin mendengarnya sekali lagi.

Namun, Sehun masih bungkam. Napasnya terasa begitu halus berhembus.

“Sehun-ah?” panggil Hanna sekali lagi. Wajahnya lantas mendongak. Alisnya pun bertaut.

“Sehun?” panggilnya sekali lagi. Tangannya menyentuh rahang tegas itu lembut. Namun, pria itu hanya bergeming. Tak bergerak sedikit pun. Terlihat begitu damai dalam tidurnya.

“Sehun? Kenapa tidur? Temani aku. Jangan tidur!” Hanna kembali merajuk. Sehun masih diam. Tak mendengar. Hati kecil itu mulai tak tenang. Sehun begitu sensitif, pria itu mudah dibangunkan dan bangun dari tidurnya. Bahkan jika Hanna bangun terlebih dahulu -lalu tidak hati – hati saat turun- ia tahu.

“Sehun?” panggilnya lagi mulai cemas.

 

Sementara di luar sana, keributan terjadi. Orang-orang berseragam putih terlihat berjalan dengan langkah panjang, menuju sumber rintihan itu.

Wajah itu tak lagi terlihat damai.

 

“Sehun bangun! ” Tangan halus itu mulai menepuk lebih keras wajahnya, “Jangan bercanda. Ayo bangun!” ulangnya memohon.

Namun, pria itu masih betah dalam tidurnya—tak kunjung bangun. Hanna mulai bangkit dari tidurnya, tubuh yang memeluknya lantas terkulai begitu saja.

Deg.

“Sehun?” panggilnya lagi mulai takut. “Bangunlah! Jangan bercanda. Aku hanya ingin mendengarnya, sekali lagii…” Hanna kembali memohon, kali ini terdengar sedikit manja. Mencoba untuk menepis perasaan mengganggu itu.

Namun, Sehun masih diam. Seolah tuli juga tak peduli, membuat Hanna semakin takut. Diguncangnya tubuh itu, gemas. Dipanggilnya nama itu, cemas. Kemudian ditangkupnya rahang tegas itu, sayang. Namun tak lama, wajah itu luruh—berubah menjadi abu. Hazel itu membulat, terkejut.

“Sehun?” suara itu berubah menjadi panik. Tubuhnya diseret mundur, takut.

“Sehun? Sehun eodiga?” racaunya semakin panik. Lapisan kaca bahkan sudah menghiasi hazel murni itu, hingga pecah menjadi tangis.

“Se-hun, hiks …,” isakan menyesakkan mulai terdengar.

 

Mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk.

Orang-orang berseragam putih itu ikut panik. Tekanan darah yang ditampilkan monitor EKG itu terlihat naik – turun drastis. Napasnya memburu tidak normal, terlihat seperti orang yang kejang layaknya overdosis.

 

“Ania, Sehun. Kau di mana? Jangan tinggalkan aku … Aku takut, hiks…”

 

Operasi sudah dijalankan, donor sudah diberikan. Akan tetapi, prediksi Dokter salah. Tubuh itu penuh peluh, napasnya memburu tak normal. Obat penenang pun diberikan. Hingga tubuh itu berangsur membaik.

“Anda bilang Nyonya akan sadar dua atau tiga hari setelah melewati masa kritis. Tetapi ini sudah empat hari, Dokter!” Seorang pria yang menyaksikan itu bertanya, tak puas.

“Maafkan kami. Kemungkinan besar Nyonya muda kehilangan bayinya karena tertekan, kemudian melihat dengan mata kepalanya sendiri saat tubuhnya mengalami pendarahan hebat, sehingga traumanya semakin menjadi.”

Taejun menundukkan kepalanya, tak kuasa.

 

“Hanna?”

Yang dipanggil segera bergerak gelisah, mencari darimana sumber suara itu berasal.

“Sehun?” panggilnya, lalu beringsut meraih tubuh di belakangnya itu. Memeluknya dengan begitu erat.

“Kenapa menangis, hm?” suaranya terdengar lembut. Menenangkan Hanna dalam pelukan.

“Jangan tinggalkan aku,” mohon Hanna, takut. Kekehan lembut pun ia dengar.

“Mana bisa aku meninggalkanmu, Hanna,” katanya sambil menarik tubuh Hanna untuk tertidur. Dihapusnya jejak bulir kesedihan itu. Didekatkannya wajah ketakutan itu, lantas dikaitkannya bibir mungil itu. Hingga bertaut lembut—sampai Hanna tenang dibuatnya.

Selanjutnya, dipeluknya tubuh itu erat. Dihirup surai itu dalam. Sampai Hanna melupakan segalanya. Sampai Hanna larut dalam kenyamanan yang diberikannya. Sampai pada akhirnya, Hanna mengulang mimpi yang sama.

“Hanna. Aku mencintaimu. Sangat – sangat mencintaimu… ”

Terus seperti itu. Seperti siklus kehidupan. Seperti angin dan daun. Dan saat Hanna bangun, maka kenyataan pahit telah menantinya. Menunggunya di barisan paling depan, siap menyambutnya dalam antrian penderitaan baru.

Siklus kehidupan itu akan terus berjalan selagi Bumi ini terus berputar. Dan takdir akan terus berjalan, selagi kesempatan hidup masih ada.

 

regret

Termenung adalah kegiatan baru baginya. Tak jarang mata cokelat itu meneteskan air mata, tak peduli meski ia pria. Luka memar di wajah dan beberapa bagian tubuh pun dihiraukan. Karena kenangan pahit jauh lebih membekas di hati daripada luka di tubuh.

Seorang pria yang duduk di sampingnya hanya bisa menepuk pelan bahu mungil itu, seolah dapat membaca apa yang dipikirkannya. Karena memang setiap hari pria itu hanya memikirkan hal yang sama.

“Lu,” suara itu sedikit bergetar. Tak mampu lagi menahan air bah yang ditahannya selama empat hari.

“Bagaimana jika adikku bangun, Myung?” Luhan kembali menangis setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Jangan katakan apa pun padanya soal Sehun—”

“Tapi cepat atau lambat ia akan mengetahuinya. Cepat atau lambat ia akan menanyakannya,” sela Luhan cepat. Kepalanya menunduk dalam. Bahu itu kembali bergetar.

Myungsoo bungkam. Diam dalam tangis.

Ingatan akan kejadian menyayat hati pun kembali mengusiknya. Dimana dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat teman sekaligus sahabatnya tergeletak dengan Hanna dalam pelukan. Ia ingat, bagaimana panik dan takutnya ia saat itu. Melebihi rasa takut saat melihat korban perang dengan tubuh terpisah-pisah. Terlebih, Myungsoo juga melihat rekan-rekan sniper-nya sudah tak berdaya di lorong bawah tanah. Tanpa ada pelaku yang tersisa.

Ya. Semuanya sudah kosong saat mereka menggeledah. Sehun dan Hanna pun sudah ditemukan dalam kondisi diambang batas. Kritis. Keduanya hampir kehilangan nyawa. Puji Tuhan saat nyawa keduanya masih bisa diselamatkan. Namun, Hanna harus kehilangan bayinya dan Sehun—belum mampu melewati masa kritisnya. Sampai saat ini.

Sementara Baekhyun, masih harus dirawat intensif karena pukulan benda tumpul yang hampir meretakkan tulang bagian belakang lehernya.

Hhh

Luhan menghembuskan napas sesak. Masih dengan tangisnya. Menyadarkan Myungsoo dari lamunan singkat yang menyayat hati.

“Aku tidak tahu Hanna sedang hamil. Aku tidak tahu adikku akan memberikanku seorang keponakan. Dan ketika aku tahu, keponakanku sudah tiada.” Tangis itu semakin menjadi. Membuat isakan mengiris hati itu mengambang di udara. Koridor rumah sakit yang tadinya sepi pun kini diisi oleh kepiluan hatinya.

Lagi – lagi, Luhan merasa gagal dalam menjalankan amanat dari Ibunya. Lihatlah, si bungsu kesayangan bahkan tengah berbaring tak berdaya. Ia tak becus menjaganya, sampai-sampai harta berharga titipan kedua orangtua itu terluka. Luhan merasa tak berguna. Ia gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk Hanna. Ia gagal. Luhan gagal. Luhan terpuruk, semakin terpuruk. Larut dalam penyesalan yang tak berarti. Ia merutuki dirinya mengapa tak bisa melakukan apa pun untuk melindungi Hanna.

Tangis itu semakin pecah.

Mengiris hati Myungsoo yang duduk di sampingnya. Pria itu ingat, Hanna ingin memalsukan kematian Ayahnya karena ingin melindungi bayi dalam kandungannya dari Sehun. Namun kini, apa yang ingin dilindunginya itu lenyap karena traumanya sendiri. Sungguh kejam. Bagaimana jika Hanna bangun lantas menanyakannya? Apa yang harus mereka katakan? Tidak tahu. Karena jawaban apa pun akan membuat Hanna semakin terpuruk, bahkan mungkin akan semakin mengguncang jiwanya.

Lalu, bagaimana jika Hanna menanyakan Sehun? Itu akan jauh lebih buruk lagi. Karena Sehun masih berada di antara hidup dan matinya. Entah kapan akan membaik, karena pria itu hanya menunjukan kemunduran. Dokter bahkan hanya mengatakan,

“Kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, satu hari, satu jam, satu menit atau bahkan satu detik berikutnya. Kita hanya bisa pasrah pada kuasa-Nya…”

Dan itu sangat buruk, jika Hanna sampai mengetahuinya. Sangat – sangat buruk.

Mereka bahkan tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Semua jawaban akan tetap mengguncang jiwa Hanna.

Ya Tuhan, mengapa takdir-Mu begitu kejam mempermainkan kesabaran mereka?! Jangan salahkan jika benih – benih dendam tumbuh di hati murni itu. Jangan salahkan jika hati itu kini kelam dengan warna hitam yang mendominasi. Sang pemilik bahkan sudah mengepalkan tangannya. Wajah brengsek, bajingan, tamak milik Osamu pun berputar dalam ingatan. Membuat warna hati itu semakin gelap tercipta.

“Aku akan membunuhnya. Pria itu sudah merampas kebahagiaan kami. Mengambil Ibuku. Melukai Ayah dan adikku. Merubah Sehun. Dan merenggut keponakanku. Aku bersumpah akan membunuhnya! Tak peduli apa pun resikonya!”

Ucapan sarat akan emosi itu menggetarkan hati Myungsoo. Wajah manis itu membuatnya takut. Namun, kepalanya mengangguk tegas.

“Aku akan berada di sampingmu. Kita lakukan bersama!”

Kini, dendam telah membutakan mata hati. Terlalu banyak luka yang membekas, tak kering, bernanah, selalu sakit juga perih. Layaknya tubuh tanpa kulit, luka itu membuat sang pemilik lebih sensitif hingga tak mampu mengendalikan emosi. Wajah malaikat Luhan yang selalu terlihat damai pun kini terlihat begitu garang. Kemarahannya yang sudah sampai di titik batas berhasil memegang kendali.

Itu buruk.

Tak ada yang berakhir baik saat amarah memegang kendali. Tak ada yang berakhir dengan baik saat masalah diselesaikan dengan emosi.

 

regret

Bumi terus berputar pada porosnya. Jam terus berganti, detik terus berputar. Waktu perlahan berlalu. Gadis itu pun telah bangun dari tidurnya. Menatap kosong kesekeliling tempat yang selama lima hari ditempati.

Semuanya terlihat cerah, tidak gelap, bahkan sangat silau. Namun, rasa takut itu masih ada. Pelan – pelan tubuhnya bergerak, beringsut bangun. Rasa sakit bak tidur di lantai marmer selama berhari – hari pun dirasa. Sakit sekali.

Hanna mengurungkan niatnya untuk bangun. Ditatapnya kembali setiap sudut ruangan bercat putih itu. Hanya ada sofa panjang dan televisi di depan ranjangnya. Nakas di samping kepala. Jendela besar di sisi kanan tubuhnya. Pintu toilet di sisi kiri tubuhnya dan pintu masuk di depannya. Ruangan itu terlihat sangat luas, namun, Hanna hanya ditemani oleh benda – benda mati tersebut.

Rasa takut itu pun semakin menjadi. Ia ingat, Sehun membangunkannya setelah mengecup bibirnya lembut. Namun kini, tak ada siapa pun di ruangan itu. Napasnya seketika memburu, jantungnya berdegup tak normal. Hanna baru sadar, ada selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Itu sangat membantu. Karena kini, ia merasa begitu sesak seolah tak ada oksigen di ruangan itu. Padahal, paru – parunya terus bekerja kembang – kempis dengan tempo cepat, seolah habis berlari marathon ribuan meter.

Bayang – bayang mengerikan itu kembali masuk. Kemudian ditarik paksa ke permukaan, menampilkan deretan film menyeramkan yang pernah Hanna lalui.

Tidak. Hentikan!

Batinnya mulai meracau. Tubuhnya mengelak, namun, sakit di sekujur tubuh membuatnya sulit bergerak. Hanna hanya mampu menutup wajahnya dengan kedua tangan, berharap kejadian itu tak terlihat oleh panca indera. Namun sayangnya, semakin ia mengelak, semakin jelas pula bayang – bayang itu. Sampai pada titik terakhir, Hanna melihat seorang pria yang begitu menyeramkan bersimpuh di depannya.

“Kau adalah sumber kehancuranku. Dan aku senang melihat ketakutanmu.”

“O-Os-samu. . .”

“Ya, Nak. Teruslah seperti itu. Aku senang melihatnya…”

“T-tidak … Menjauh dariku!” Hanna menepis tangan itu. Tubuhnya semakin rapat dengan dinding.

“Kau cantik. Pantas Sehun tergila – gila padamu …,”

Pria itu tak peduli. Tangannya kembali menggapai Hanna. Kali ini, wajah ketakutannya yang disentuh.

“Jangan sentuh aku!” Hanna mencoba menjauhkan tangan dingin itu, namun, cengkraman di rahang justru didapatnya.

“Andai Ayahmu tidak mencari masalah denganku -mungkin- nasibmu tidak akan seburuk ini,” katanya, membuat Hanna semakin tertekan. Bibir mungilnya pun mengantup rapat dengan hazel yang menatap takut ke arahnya.

Lidahnya kembali kelu.

Tangis pun mengiringi. Begitu menggambarkan ketakutannya saat itu.

“Dan aku menyesal tidak membunuhmu saat itu. Aku juga menyesal sudah mengikuti permainan Jaesuk untuk menyelamatkan anaknya yang berkhianat.” Setiap kemarahan terungkap jelas pada setiap kata sarat akan emosi itu. Kobaran amarah bahkan tergambar sempurna pada kilatan mata sipitnya. Tubuh Hanna bahkan semakin bergetar melihatnya.

Hanna tahu apa yang dimaksud Osamu adalah Sehun.

“Aku sangat membenci pengkhianat. Aku tak pernah memberi ampun pada pengkhianat karena pengkhianat akan terus berkhianat. Tetapi Sehun … Aku mengampuninya. Dan kini, aku menyesal sudah melakukannya—” Osamu menjeda. Terdiam dengan emosi yang memuncak.

” …Karena dia sudah kembali mengkhianatiku—” Osamu kembali menjeda. Hanna semakin tertekan juga takut. Sekujur tubuhnya bahkan terasa semakin sakit.

“Kau tahu apa yang akan aku lakukan padanya?” sambungnya bertanya disertai tawa menyeramkan. Dan Hanna tahu jawabannya.

“Membunuhnya.”

Deg.

Bak digunjang roller coaster, tubuh Hanna semakin menggigil—Bergetar begitu hebat. Kata membunuh itu terdengar jauh lebih menyeramkan daripada bayang – bayang kelam yang mengusiknya selama ini. Terlebih, kata itu diperuntukkan untuk seseorang yang selama ini menemani harinya.

“Tidak.” elak Hanna tiba – tiba. Bibirnya ikut bergetar hebat.

“Kenapa tidak, hm? ” tanyanya, mempermainkan, “Dia dalam perjalan menuju kemari, bersama para pengkhianat lain.” sambungnya.

Hanna hanya menggeleng sebagai jawaban. Tak mampu lagi berucap. Tekanan itu semakin hebat. Rasa sakit itu semakin menjadi, seolah mengaduk tubuhnya. Tanganya bahkan refleks memegang perut, mencoba menenangkan kontraksi yang jauh lebih hebat dari biasanya itu.

“Dan membawamu kemari membuatku lebih mudah mengetahui jumlah para pengkhianat itu. Bahkan adikku sendiri berada di dalamnya. Mengontrol semua jalannya permainan dan mengerahkan sedikit pasukannya untuk menolong suamimu itu.” Osamu memasang wajah prihatin.

“Aku tidak tahu apa yang dipikirkan adikku sehingga begitu berani padaku. Dan mungkin setelah membunuh suamimu, aku akan menghabisinya juga.” Lanjutnya, terdengar sendu. Namun setelah itu, tawa menyeramkan kembali terlepas.

Kontraksi itu semakin hebat.

Rintihan kecil mulai telepas dari bibir mungil Hanna. Membuat Osamu bingung sekaligus senang melihatnya. Wajah kesakitan Hanna bahkan semakin ketara.

” Hentikan. Jangan lakukan itu!” mohon Hanna di sela-sela rasa sakitnya. Bayang – bayang mengerikan pun kembali. Membuat Hanna semakin takut kejadian yang sama akan kembali terulang pada pria yang amat dicintainya.

“Aku akan melakukannya. Sudah kubilang, aku benci pengkhianat—”

“Akh. . .”

Osamu membelalak, terkejut. Cengkraman dirahang Hanna pun terlepas. Gadis itu terlihat begitu kesakitan. Memegangi perutnya yang terasa begitu melilit. Rintihan kesakitan pun semakin menjadi. Tak hanya rintihan, Hanna bahkan berteriak histeris. Membuat orang-orang yang berada di luar mendengarnya. Sakit itu terlalu menyiksa. Peluh pun kembali menghiasi wajahnya yang sudah pucat pasi.

Osamu semakin bingung. Jika traumanya kembali, tidak seharusnya gadis itu memegangi perut dan merintih sakit. Namun, kebingungannya segera terjawab saat melihat darah yang merembes mengotori dress selutut gadis itu.

“Kau sedang hamil?” Osamu bertanya tak percaya. Ia tak tahu Hanna sedang berbadan dua, dan ia sama sekali tak tahu, tekanan yang diberikan olehnya itu berakibat fatal untuk ketahanan janin dalam perut Hanna. Padahal, niat awalnya hanya ingin membuat PTSD Hanna kembali hingga gadis itu kehilangan kewarasannya. Namun, apa yang dilakukannya itu ternyata begitu kejam, sampai-sampai anak yang belum lahir pun terbunuh karenanya.

Hanna terus merintih—tak dapat memberikan jawaban apa pun. Bahkan kini, ia sudah jatuh tertidur dengan posisi meringkuk memegangi perut. Dilihatnya darah yang dirasa keluar dari selangkangan. Membuatnya semakin tak karuan sekaligus takut. Jeritan pengelakan pun terus keluar dari bibirnya.

Osamu yang menyaksikan itu hanya mampu berdiri dengan keraguan penuh. Pelan – pelan kakinya mundur, lantas berbalik. Mencoba menghiraukan rintihan dari penderitaan gadis itu.

“ANIA … Sakitt, akh …!!”

Seolah nyata, seolah bukan ilusi. Hanna merasa mengalami kejadian yang sama kala itu. Bibir mungilnya terus merintih, melontarkan kata demi kata yang begitu menyiratkan kesakitannya.

Seorang pengawal pribadinya yang berjaga di luar, Taejun, segera masuk ke dalam saat mendengar suara kesakitan itu. Ditekannya tombol di samping tempat tidur, lantas meraih tangan Hanna yang terus menekan luka di perutnya.

“Bayiku … Tidak … Bayiku …,”

Taejun terpaku. Hatinya teriris mendengar rentetan kalimat pengelakan itu. Ia tak menyangka, Hanna langsung teringat akan kehamilannya. Ia bahkan tak bisa membayangkan seberapa besar tekanan batin yang dialami oleh gadis itu. Sementara ia tahu, luka karena kehilangan itu sangat sakit. Ia pun merasakannya, karena dari awal ia tahu Hanna sedang hamil. Bahkan ia yang memberikan perhatian lebih padanya dan memenuhi segala kebutuhannya, menggantikan peran Sehun kala itu.

Bahkan Taejun tahu, betapa bodohnya Hanna saat gadis itu tak tahu bahwa ia sedang hamil. Dan Taejun tahu, betapa bahagianya Hanna saat menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya. Ia juga tahu, betapa sedihnya Hanna saat menghadapi perlakuan Sehun terhadapnya. Ia tahu semua hal tentang gadis itu, bahkan mungkin melebihi suami dan kakak kandungnya sendiri.

Taejun juga tahu, gadis itu berusaha menjaganya dengan baik. Mengikuti sarannya untuk makan makanan bergizi, meski harus melewati pertengkaran terlebih dahulu, karena sifatnya yang begitu pembangkang. Bahkan mungkin, gadis itu tidak tahu apa yang dimakannya karena Taejun sudah mengatur semuanya.

Kini, majikannya yang pembangkang itu sudah kehilangan harapannya. Harapan kecilnya untuk membangun dan memulai hidup baru. Bahkan kesedihan itu ikut dirasanya, karena ikut merawat dan memberikan perhatian pada si mungil yang sedang tumbuh itu.

“Gwaenchana, Nyonya … tenanglah …!!!”

“Bayiku … Bayiku ….”

Seolah ditampar sebilah pedang tepat pada ulu hati. Taejun hanya bisa menahan pergerakan Hanna tanpa bisa berucap lagi. Terlalu memilukan. Terlalu menyakitkan. Terlalu kejam perjalan hidup gadis itu. Taejun bahkan hanya bisa mengasihinya, tanpa bisa menggantikan posisinya. Meski ia ingin dan rela jika penderitaan itu berpindah padanya.

Di luar, tim medis yang menangani Hanna segera memasuki ruangan. Mengambil alih segala urusan dan lagi, memberikan Hanna suntikan penenang. Hingga tubuh itu kembali melemas, menyisakan napas yang terdengar satu – satu. Begitu lemah.

Namun, hazel itu masih terbuka. Menatap kosong langit – langit kamar, dengan sisa – sisa air asin di sudut mata. Air kepedihan itu terlihat terus mengalir meski pelan. Sampai sang empunya, kembali tertidur dengan mimpi yang sama.

“Syukurlah, Nyonya Oh sudah siuman,” ujar salah seorang Dokter, setelah mengecek kondisi gadis yang terlihat menyedihkan itu.

“Bagaimana kondisinya?” Taejun bertanya sendu.

“Lebih baik dari sebelumnya. Kami terpaksa memberikannya obat penenang. Jika tidak, trauma yang dialaminya akan memperburuk kondisi tubuhnya. Ahli psikologi yang disewa Tuan Lee akan tiba siang ini. Setelah itu, kami akan langsung melakukan psikoterapi – hipnoterapi pada Nyonya Oh.” Jelas sang dokter, meski ia tahu, Taejun hanya seorang pengawal. Namun, pria itu dipercaya untuk menjaga Hanna. Bersama beberapa orang opsir di luar.

Opsir? Ya. Penjagaan terhadap Hanna, Sehun dan Baekhyun memang diperketat. Kepolisian menugaskan beberapa opsirnya untuk berjaga di setiap kamar, guna meminimalisir kejahatan yang mungkin masih mengincar nyawa mereka. Sementara, Luhan dan Myungsoo berstatus sebagai tahanan luar. Keduanya mendapat izin untuk bergerak mengumpulkan barang bukti lain guna mengubah posisi mereka menjadi saksi bukan tersangka. Sekaligus membantu Sehun untuk kembali lepas dari jerat hukum.

Tuan Lee sendiri yang memberikan mereka izin untuk itu, karena rasa sayangnya pada putra dan putri Jo Khaza tersebut. Hati Beliau bahkan bergetar hebat saat mendengar Jo Khaza menyebut nama Hanna dan Luhan beberapa kali. Hingga keinginan untuk melindungi keduanya semakin kuat, bahkan aturan hukum pun sedikit dilanggarnya demi kebahagian anak – anak sahabatnya. Namun sayangnya, hanya itu kemajuan yang Jo Khaza tunjukan. Sampai saat ini, Beliau masih nyenyak dalam mimpinya. Entah, mimpi yang seperti apa.

Pelan – pelan Taejun mengambil tempat di samping tubuh Hanna saat orang-orang berbaju putih itu keluar. Diusapnya kening penuh peluh itu dengan lembut.

“Sungguh malang nasibmu, Hanna …,” ujarnya kemudian. Air mata yang sedari tadi ditahannya pun jatuh, menetes. Apa yang dilakukannya terlihat lancang, namun, pria itu sudah menganggap gadis kecil pembangkang itu adik.

“Kau harus bertahan. Sekeras apa pun hidup yang menggeras tubuhmu. Mencabik hatimu. Menggoyahkan pertahananmu. Dan merampas yang kau miliki. Karena itu memang takdirmu. Takdir untuk menjadi seorang wanita kuat seperti halnya yang kau banggakan selama ini. Aku akan menemanimu …,” Taejun terisak pilu.

Terdiam beberapa saat dengan hanya suara isakan yang mendominasi.

“Aku akan menemanimu. Aku akan menemanimu sampai akhir hidupku. Sampai saat untukku meninggalkanmu tiba. Itu janjiku … adik kecilku … kau harus bertahan, kau kuat ….” sumpah setia itu terlontar begitu saja. Terlalu banyak kenangan manis bersama Hanna membuat perasaan itu tumbuh. Perasaan ingin melindungi layaknya keluarga. Bukan bawahan terhadap majikan.

 

regret

Ruangan khusus itu tak lagi diisi oleh isak tangis. Wanita berusia awal 40 tahunan itu terlihat termenung dalam diam. Menatap penuh sayang pada tubuh anak semata wayang. Wajah lelah bahkan terlihat begitu ketara digurat halus itu.

Sejak 3 hari yang lalu, Beliau terus berpindah-pindah dari kamar satu ke kamar satunya lagi. Jika siang, menemani putranya, maka jika malam menemani menantunya. Terus seperti itu, semenjak keduanya dipindahkan ke kamar inap dengan peralatan super lengkap di dalamnya. Tak peduli dengan penyakit asmanya yang seringkali kambuh karena dinginnya AC. Beliau hanya ingin menemani keduanya sampai harapan itu terwujud. Harapan untuk melihat keduanya sembuh.

Tuan Oh sendiri selalu menemaninya. Beliau bahkan lepas tangan pada perusahaannya dan meminta orang kepercayaannya untuk mengelola selama anaknya belum sembuh. Beliau hanya tidak bisa bekerja, di saat anak kesayangannya di antara hidup dan mati. Namun hari ini, Beliau akan memenuhi panggilan polisi atas keterlibatannya mengenai kasus yang menjerat mantan Direktur NIS, 19 bulan silam.

“Maafkan aku …,” kata maaf itu mengambang di udara. Nyonya Oh hanya diam membisu.

Keheningan pun kembali tercipta di antara keduanya. Nyonya Oh yang sudah mengetahui semuanya hanya bisa diam menyembunyikan kekecewaannya. Fokusnya masih tertuju pada wajah damai putranya. Menerka – nerka, apa yang kiranya sedang dimimpikan olehnya sampai betah dalam tidur.

“A-aku …,”

“Satu kesalahan, satu penyesalan. Tak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Fokus saja pada apa yang akan kau hadapi nanti, agar tak menimbulkan penyesalan baru ….” Nyonya Oh menyela, seolah tahu apa yang akan diutarakan oleh suaminya itu.

“Aku mengerti.” Tuan Oh menundukkan kepalanya dalam. Ia tahu apa yang dimaksud istrinya itu adalah pertanggung jawaban.

Ya. Pertanggung jawaban. Nyonya Oh ingin suaminya itu mampu mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Ia hanya ingin suaminya jujur untuk kedepannya, baik itu pada dirinya sendiri ataupun di depan hakim nanti. Karena kebohongan hanya akan menambah masalah dan penyesalan baru.

Tuan Oh sendiri tidak keberatan. Pergerakan Black ID saat ini dibatasi oleh Osamu sendiri, jadi kemungkinan untuk Osamu melukai keluarganya, kecil. Bahkan kini, keluarganya berada dalam pengawasan dan perlindungan penuh Kepolisian Seoul. Beberapa Agen Intel pun disebar guna mengawasi pergerakan mereka. Untuk saat ini, tak ada yang perlu Tuan Oh khawatirkan mengenai keselamatan keluarganya jika ia ikut berkhianat. Kemungkinan terburuk hanya kehilangan nyawanya sendiri dan penurunan harga saham perusahaannya. Karena ia yakin, Osamu akan menarik semua sahamnya dan memengaruhi perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama pada perusahaannya.

Dan yang jadi masalahnya adalah biaya pengobatan Sehun dan Hanna jika itu sampai terjadi. Lee Junho tidak mungkin membantu keuangan mereka sampai keduanya benar-benar sembuh. Pria itu hanya Komisaris Jenderal Polisi yang berwatak jujur. Penghasilannya tidak seberapa untuk menanggung semua biaya pengobatan Hanna dan Sehun. Meskipun pria itu bilang akan membantu jika Tuan Oh sampai bangkrut.

“Jangan mengkhawatirkan apa yang belum terjadi. Lakukan saja apa yang seharusnya kau lakukan … Niat baik akan berakhir baik,” ujar Nyonya Oh, mengerti akan kegelisahan suaminya. Digenggamnya lembut tangan dingin suaminya dengan senyum kecil nan tulus. Mencoba untuk meyakinkan suaminya itu dengan menepis segala kekecewaannya terhadapnya.

“Terima kasih untuk semua pengertianmu,” Tuan Oh balas tersenyum, kikuk. Ditatapnya wajah istrinya itu, sayu. Sebelum mengecup keningnya pelan, lantas beranjak menuju ranjang putranya.

“Kau jagoan Appa,” ujarnya kemudian. Sebelah tangannya mengusap lembut kening halus Sehun, ” –kami mencintaimu,” sambungnya tulus. Wajahnya mendekat, lantas memberikan kecupan penuh kasih sayang pada putranya tersebut.

Sementara Nyonya Oh hanya bisa diam, menatap haru pemandangan tersebut. Ini untuk kali pertamanya, suaminya itu menunjukan kasih sayangnya kepada putra mereka. Terhitung, semenjak putra mereka itu tumbuh dewasa.

“Kau pasti bisa melewatinya, Nak. Kau harus bertahan! Hanna membutuhkanmu. kami membutuhkanmu…,” ujarnya lagi, disertai isak tangis. Sungguh bodoh dirinya sudah menyia-nyiakan kebahagiaan sejati itu. Lantas menukarnya dengan pundi-pundi uang karena menganggap uang adalah sumber kebahagian keluarga. Padahal, kebahagiaan sejati tidaklah diukur dari banyaknya uang yang dimiliki.

Nyonya Oh melangkah mendekat, menyentuh pundak suaminya yang bergetar, “Gwaenchana, yeobo…,” ujarnya ikut bergetar.

Tuan Oh segera berbalik, menggapai tubuh istrinya lantas menumpahkan semua tangis penyesalan itu. Hingga membuatnya terlihat semakin lemah karena tangis tersebut. Nyonya Oh sendiri hanya bisa mengelus punggungnya, mencoba untuk menyalurkan sedikit kekuatan yang ia miliki. Kali ini, dialah yang harus menjadi yang paling kuat di sini.

Cukup lama mereka mempertahankan posisi itu, sampai Tuan Oh sendiri yang melepasnya. Dengan tatapan yakin serta anggukan kecil, Tuan Oh mulai memperlebar jarak di antara mereka. Membuat Nyonya Oh terpaku di tempatnya, menatap kepergiannya yang semakin menjauh lantas menghilang di balik pintu. Saat itu juga, tubuhnya luruh—jatuh terduduk di lantai. Membiarkan sisi lemahnya mengambil alih semua kendali.

Tangis itu akhirnya pecah.

Menemani suara detak jantung putranya.

 

regret

Sakit itu masih terasa, namun sudah lebih baik. Hari ini pun Baekhyun sudah diizinkan pulang. Ia tak menyangka, pukulan-pukulan musuh membuatnya mengalami luka dalam, sehingga mengharuskannya untuk dirawat intensif. Terutama, luka dibagian belakang lehernya. Beruntung, lehernya itu masih utuh.

Sang Eomma yang menemaninya pun terlihat sibuk berkemas. Wajah bahagia terlihat jelas dari rautnya, membuat Baekhyun lega setelah membuatnya khawatir berhari-hari. Namun, kegiatan mereka terhenti saat pintu masuk ruang rawatnya diketuk, lantas dibuka perlahan.

Krek

Baekhyun membatu, melihat siapa yang datang. Sementara sang Eomma menatap penuh tanya–tak kenal siapa orang itu.

“Yuki?”

“Annyeong haseyo…,” Gadis yang dipanggil Yuki itu membungkukkan tubuhnya sopan.

“Annyeong haseyo…,” Eomma Baekhyun menjawab. Baekhyun belum bersuara lagi, “temanmu, Nak?”

“Nde…,” Baekhyun tersenyum tipis ke arah Eomma-nya. Hingga membuat Beliau mengerti maksud dari senyuman itu. Diliriknya Koyuki yang terlihat kikuk, sebelum akhirnya memberikan senyuman pada gadis itu.

“Siapa namamu?” tanya Eomma Baekhyun, lembut.

“Koyuki … Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Byun,” jawab Koyuki disertai dengan tubuh yang kembali membungkuk sopan.

“Nama yang bagus. Kemarilah, temani Baekhyun!” Pintanya ramah, “Eomma akan menemui Dokter yang menanganimu dulu,” lanjutnya pada Baekhyun.

Tak lama, Nyonya Byun melangkah keluar dengan memberikan elusan lembut pada bahu Koyuki. Membuat gadis itu semakin kikuk karenanya. Setelah pintu utama terdengar ditutup, atmosfer canggung pun semakin menyelimuti kedua insan tersebut.

“Ehem…,” Baekhyun berdehem, mencoba untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba – tiba menyelimuti itu.

“Bagaimana keadaanmu, Baek?” Koyuki bertanya gugup. Mencoba untuk bersikap seperti biasa.

“Lebih baik,” jawab Baekhyun sambil bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Koyuki yang berdiri amat jauh darinya. Membuat debaran jantung gadis itu semakin menggila. “bagaimana denganmu? Aku dengar kau tak masuk kerja karena sakit?” lanjut Baekhyun bertanya.

“A-aku baik-baik saja. Syukur kau juga begitu…” Koyuki sedikit tergugu. Dialihkkannya perhatiannya menuju jendela di samping tubuhnya—tak kuasa menatap Baekhyun yang hanya berjarak 2 meter dari posisinya.

Kini, Baekhyun mengerti mengapa gadis itu sampai terluka karenanya. Dari sikap yang baru ia sadari dari gadis itu, sudah cukup membuktikan analisanya.

“Osamu menghukum Koyuki. Gadis itu terluka karenamu…”

Baekhyun memejamkan matanya saat mengingat kalimat terakhir yang didengarnya dari salah seorang sniper sebelum limbung. Tak lama, matanya kembali terbuka lantas kembali melangkah mendekat.

“Aku ke sini—“

Hening.

Koyuki tak dapat melanjutkan ucapannya. Tubuhnya pun membatu. Jantungnya berdegup semakin kencang. Matanya membelalak terkejut. Saat pria bertubuh mungil itu membawanya ke dalam dekapan.

“Terima kasih. Terima kasih untuk perlindunganmu selama ini. Dan maaf sudah membuatmu terluka…” ujar Baekhyun tiba-tiba, membuat detak jantung Koyuki semakin menjadi, Baekhyun bahkan bisa merasakannya.

“B-Baek—” Koyuki tak mampu menyelesaikan ucapannya.

“Ya. Aku sudah tahu. Aku sudah tahu semuanya!” Baekhyun membenarkan, seolah tahu apa yang akan dikatakan Koyuki.

“B-bagaimana bi-sa?” Koyuki tak percaya. Ia belum siap jika Baekhyun mengetahui rahasia terbesarnya. Bahwa ia, memiliki perasaan berlebih padanya.

“Terlihat dari sikapmu selama ini padaku, Yuki. Dan bodohnya aku baru menyadari semuanya sekarang. Kalau begitu, aku sama saja dengan Hanna,” Baekhyun tersenyum, menyadari sesuatu.

“Sekarang, aku mengerti, menyadari cinta seseorang dari dekat itu ternyata jauh lebih sulit daripada melihat cinta yang jauh,” lanjutnya, membuat lutut Koyuki lemas. Baekhyun menahan tubuhnya erat.

“Kau bahkan rela melukai tubuhmu karena aku—karena ingin melindungiku … Sekarang, apa kau mau meluangkan waktumu untuk membantuku belajar? … Belajar memiliki perasaan yang sama denganmu…” tanya Baekhyun. Direnggangkannya pelukan demi menatap wajah merona Koyuki.

“B-Baek…,”

“Aku tidak lelah mencintai Hanna. Aku hanya tak ingin mengusik cinta antar dirinya dan Sehun dengan belajar mencintai orang yang mencintaiku. Bukan berarti aku menjadikanmu pelarian Yuki, aku yakin kau mengerti maksudku?!”

 

regret

The sin of nicely being in love. Because I didn’t know love, I just believed in people.

I became crazier with those warm lies.

It’s raining just in time, a cold rain is falling.

 

hanna cry

Air mata itu terus turun, melewati lekuk hidung mancungnya. Begitu menggambarkan suasana hatinya saat ini. Kelam mendung seperti hujan yang dingin.

Gadis itu, Hanna, terus menangis meski Luhan terus memeluknya dalam diam. Dalam tangis yang bersembunyi di balik punggung mungil gadis itu. Menangisi nasib adiknya yang begitu pilu, penuh akan penderitaan. Dan lihatlah sekarang, adiknya itu bahkan tak lagi berontak menanyakan ini dan itu. Karena ia mengerti, apa yang sudah tiada tidak seharusnya dipertanyakan kembali—itu hanya akan menambah luka baru. Ya, Hanna sudah tahu, ia tidak akan menjadi seorang Ibu lagi. Ia sudah tahu, anak pertamanya itu telah tiada. Hanna sudah tahu, kesempatan itu telah lenyap.

Kini, Hanna hanya bisa menangisi kepergiannya tanpa menanyakan ‘mengapa?’ karena ia mengerti, itu memang sudah takdirnya. Andai trauma itu tidak bertengger manis dalam ingatan -mungkin sampai saat ini- malaikat kecilnya itu akan baik-baik saja. Ya, mungkin.

“Aku membunuhnya, Oppa…,” Hanna menggigit kuku jemarinya sendiri. Menahan isakannya yang mulai terdengar satu-satu. Mengiris hati Luhan secara perlahan—membuatnya semakin tercabik semakin dalam hingga sakitnya semakin terasa.

Bayang-bayang mengerikan itu memang tak lagi menyapa Hanna, karena ada Luhan yang menemaninya, memeluknya dalam perlindungan dan memberikannya ketenangan. Namun, tekanan batin karena kehilangan itu masih ada. Hanna bahkan terus menyalahkan dirinya sendiri. Hingga titik-titik penyesalan itu tumbuh, menyelimuti hatinya. Membuatnya kelam juga gelap.

“Sehun pasti marah padaku, Oppa … Buktinya, dia tak lagi datang menjengukku,” ujar Hanna lagi. Membuat Luhan nyaris menjerit dalam tangisnya. Sungguh bajingan! Kakak macam apa dia sampai tega membohongi adiknya yang tengah terluka dengan mengatakan Sehun tak bisa keluar dari kantor kepolisian. Luhan tak bisa berhenti merutuki dirinya sendiri. Namun, ini yang terbaik.

“Tidak. Sudah Oppa bilang, Sehun menemanimu selama tiga hari sebelum kembali ke kantor kepolisian…,” Luhan mengulang kebohongan yang sama. Sangat tidak mungkin baginya mengatakan pada Hanna bahwa Sehun terluka parah dan sampai saat ini belum bisa melewati masa kritisnya. Karena gadis itu akan semakin terluka jika sampai mengetahuinya, dan Luhan tidak ingin itu terjadi. Namun, ia akan tetap mengatakan kebenarannya saat kondisi Hanna mulai membaik dan hipnoterapi-nya berhasil. Karena, adiknya itu belum menjalani pengobatan kejiwaan secara penuh. Luhan khawatir kondisi mental Hanna akan semakin buruk jika ia mengetahuinya sekarang.

“Sehun marah, Oppa … Dia marah! Dia selalu seperti itu saat marah padaku, dia akan menghindar dan tak pulang selama berhari-hari…” Hanna semakin terisak, takut jika dugaannya benar. Bukankah Sehun selalu seperti itu?

“Tidak. Sehun sangat menyayangimu. Sangat – sangat menyayangimu…,” Luhan kembali menenangkan.

“Lalu, kenapa dia tidak datang kemari, Oppa? Oppa bilang sudah menghubunginya?” Hanna masih tak puas. Batinnya amat gelisah.

“Kepala kepolisian tidak mengizinkannya, karena sidang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini … Oppa sudah mengatakan itu padamu, Hanna…” Sebisa mungkin, Luhan mengatur nada suaranya agar terdengar senormal mungkin.

“Lalu, mengapa Oppa boleh keluar menemaniku?” Hanna masih bertanya.

Luhan kelu.

“Be-bergilir…,” jawabnya gugup, “Jangan khawatir An, Sehun pasti akan datang menemuimu saat semua urusannya selesai. Kau bedoa saja,” lanjutnya, semakin mempererat pelukan di tubuh Hanna. Tak ingin ketahuan berbohong.

Tears all falling, flowing down my cheeks. I’m shedding tears mixed with rain.

I can’t life without you, no life (alone). Without you, I’m struggling, my Love…

The tactless night sky in raining.
All day, tears are on my face, it’s perfect.

Your hands, that used to caress my arm. Scars that resemble you are engraved on me like a tattoo.

What’s so great about love that it makes me cry? What’s so great about you that you make me struggle and tired?

As much as I miss you, I hate you.

Malam ke-3 setelah Hanna sadar dari tidurnya. Namun, Sehun tak kunjung datang melihatnya. Mereka bilang, Sehun akan datang jika sudah mendapat izin. Mereka bilang, untuk tidak khawatir pada Hanna, karena Sehun baik-baik saja. Dan Hanna percaya itu. Namun, hatinya memberontak. Keras sekali.

Hanna sendiri tidak mengerti. Setitik benci itu tumbuh begitu saja. Sehun tega padanya. Pria itu tega membiarkannya sendirian setelah kehilangan calon anak mereka. Pria itu tak lagi datang untuk memeluknya dan memberikannya ketenangan. Pria itu tega meninggalkannya dengan kabar semu.

Kau jahat.

Hati suci bersih itu mengumpat. Hanna membenci Sehun yang tak kunjung datang menemuinya. Tidak seperti Luhan dan Myungsoo, atau bahkan Taejun yang selalu setia di sampingnya. Pria itu jahat sudah membiarkannya sendirian. Tak tahukah Sehun, Hanna begitu terguncang?! Gadis itu terlihat normal hanya karena ingin terlihat kuat. Hidupnya sudah cukup menderita jika harus diratapi. Melewatinya adalah jalan satu-satunya untuk tidak membagi penderitaan itu pada orang-orang terkasihnya. Hanna terluka begitu dalam, tapi tak ingin membuat orang lain ikut terluka melihatnya. Gadis itu kuat, tapi juga rapuh di dalam. Ditengah-tengah traumanya yang hampir merenggut semua kewarasannya, Hanna ingin mengikuti semua yang dikatakan oleh seorang ahli psikiater yang menanganinya. Agar luka itu mengering dan mengelupas secara perlahan. Meski meninggalkan bekas yang tak akan pernah menghilang sampai akhir hayatnya.

Namun, rasa rindu itu. Rasa rindu itu yang membuat Hanna semakin tersiksa. Hingga tangis itu kembali pecah, isakannya bahkan terdengar begitu pilu. Seperti suara rintik hujan malam itu, begitu berirama namun menyayat. Dinginnya udara malam itu pun begitu menusuk rusuk. Membuat kesedihan itu semakin terlihat menyedihkan, langit bahkan ikut menangis karenanya.

Hujan dingin malam itu pun menemani Hanna menjatuhkan setiap tetes kesedihannya.

“Kau jahat Sehun … Kau jahat…!! Aku membencimu … Aku membencimu … Aku membencimu sebanyak aku merindukanmu…” Hanna meracau pilu. Tangannya meremas sprei putih di kasurnya. Sebelum akhirnya, memeluk lututnya dengan kepala yang tenggelam dalam lipatan tangan. Meredam isak tangis itu, agar tak membangunkan Ibu mertua yang tertidur di sofa.

” —Aku merindukanmu, Sehun. Datanglah! Aku membutuhkanmu…,” mohon Hanna dalam tangisnya yang teredam.

The falling rain is soaked with sadness.

Walling up in my heart, crying outloud.

Harapan itu tak laksana. Pagi menjelang siang, Hanna sudah bersiap meninggalkan bangsal rumah sakit. Dan Sehun sama sekali tak datang menemuinya.

“Sayang,” Nyonya Oh mengelus surai cokelat itu sayang. Senyum pilu pun tercetak di raut lelah itu, saat menyadari mata bulat indah Hanna tertutup oleh kelopak yang bengkak.

“Sehun pasti sangat senang mendengar kau bisa keluar dari rumah sakit hari ini. Dan dia pasti akan merasa sangat tenang karena kau akan tinggal di rumah Komisaris Jenderal Lee Junho—“

“Eomma,” sela Hanna sendu, “aku ingin melihat Sehun di kantor kepolisian…” lanjutnya meminta. Membuat gerakan tangan Nyonya Oh terhenti. Wanita itu gugup seketika, namun otaknya bekerja mencari alasan.

“Hm… Nanti ya, setelah kau benar-benar sehat. Eomma tidak mau dimarahi Sehun jika sampai melihat wajah pucatmu.” Bujuknya lembut juga pilu. Mengingat kenyataan dimana putranya tengah bertarung dengan maut, di antara hidup dan mati.

Raut kecewa pun semakin terlihat di wajah putih bersih itu. Namun Hanna juga tak bisa memaksa, karena memang tubuhnya masih terasa sakit. Dan rasa rindu itu membuat sakitnya semakin dalam.

BRUK!

Nyonya Oh dan Hanna refleks menoleh ke arah sumber suara saat pintu ruang rawatnya dibuka tergesa. Di sana, Tuan Lee terlihat terengah dengan raut yang amat sulit diartikan. Terdapat, kebahagiaan, haru, juga pilu di dalamnya. Entahlah, Hanna dan Nyonya Oh tak mengerti arti dari raut itu, sebelum Tuan Lee sendiri yang mengungkapkan.

“Hanna Ayahmu, Ayahmu … Ayahmu, Nak … Ayahmu sudah sadar. Beliau sudah sadar…!!!”

Pukul 10.25 Hanna mendengar kabar gembira. Salah satu harapannya terwujud. Satu bunga harapan pun mekar, membuat hatinya berbunga seketika. Meluapkan kesedihannya untuk sesaat. Mata pure hazel itu pun membulat tak percaya, penuh haru di dalamnya.

“A-appa…,” Hanna tergugu.

“Iya, Nak…,” Tuan Lee membenarkan dengan suara panik penuh akan kebahagiaan, membuat lapisan kaca di mata jernih Hanna kembali terbentuk. Pelukan hangat pun segera didapatnya dari Nyonya Oh hingga cairan itu pecah, tumpah bersama haru biru.

Kebahagiaan itu ternyata ada, menunggunya dalam putaran waktu.

Wooridul Spine Hospital

wooridul

Hanna bersama Tuan Lee dan Nyonya Oh segera menuju rumah sakit tempat Tuan Khaza dirawat. Meninggalkan Sehun yang masih tertidur di rumah sakit itu untuk sesaat. Beberapa orang dari kepolisian pun dikerahkan guna menghindari kejadian yang sama.

Dengan tertatih, Hanna berjalan dibantu oleh Ibu mertuanya. Mata itu tak lagi mengelurakan air mata, namun tetap terlihat sembab. Sayang sekali, Luhan sudah kembali memenuhi panggilan hukum kemarin. Jika tidak, pria itu pasti tengah menangis haru bersamanya. Atau pria itu sudah tahu? Ah, Hanna tak sempat menerka. Gadis itu terlampau bahagia hingga melupakan segalanya bahkan luka di tubuhnya.

Setelah 19 bulan berpisah, ini kali pertamanya Hanna akan kembali melihat Ayahnya. Gadis itu hanya tahu Ayahnya dirawat tanpa tahu seperti apa perkembangannya, karena keadaannya yang amat sangat tak mendukung kala itu. Hanna bahkan tak ingin mengingatnya lagi. Kejadian kelam itu terlalu menyakitkan untuk dikenang, karena kejadian itulah ayahnya terluka dan trauma itu ada. Hanna ingin melupakannya. Yang terpenting, Ayahnya sudah sadar sekarang. Ayahnya sembuh. Hanna sangat bahagia.

Kebahagiaan itu pun semakin bertambah saat mereka tiba di depan sebuah pintu berwarna putih bersih. Jantung Hanna memompa cepat, membuncah bahagia. Dan saat pintu itu terbuka …

Kaki Hanna lemas, air matanya kembali jatuh. Namun, seorang pria yang duduk bersandar dengan pakaian pasien berwarna biru langit itu tersenyum menyambutnya. Terlihat sehat sekali Beliau. Mungkin karena Beliau sudah terlalu lama tertidur hingga wajahnya terlihat begitu cerah. Ah, tidak, wajah itu terlihat cerah karena melihat kehadiran bungsunya. Bungsunya yang manis, bungsunya yang begitu ia rindukan.

“Hanna…,” suara berat sarat akan kasih sayang itu memanggil. Membuat bunga-bunga yang telah bermekaran itu terbang.

“Ap-pa … Appa … APPA…!!!” Reaksi berbeda justru didapatnya. Bungsunya itu berteriak lalu dengan tertatih melangkah padanya hingga jatuh dalam pelukannya. “Appaaa…” suara haru biru itu kembali memanggil, lebih lembut—teredam tangis.

Tuan Khaza tak kalah bahagia. Ia memeluk bungsunya itu erat sembari mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada surai cokelatnya yang indah. Meluapkan kerinduan dan kebahagian yang sama pada bungsunya itu. Namun, dimana sulungnya? Hati kecil itu bertanya. Akan tetapi, pertanyaan itu diredam, agar tak mengusik kebahagiannya yang satu ini.

“Appa, aku merindukanmu…” akhirnya Hanna bersuara setelah mati-matian meredam isakannya yang terlampau bahagia.

“Appa juga, Nak. Appa juga merindukanmu. Sangat – sangat merindukanmu…” suara yang tak kalah haru itu kembali didengar Hanna.

Mereka semua yang menyaksikan pertemuan mencubit hati antara anak dan ayah itu pun ikut bahagia. Nyonya Oh bahkan ikut menangis melihatnya. Ini terlalu meyakitkan juga menyenangkan untuk dilihat. Nasib gadis itu terlalu diombang-ambing oleh waktu. Kejam juga menyayat.

Satu kebahagian kau dapat, namun kebahagian lain siap pergi meninggalkanmu.

Hanna kau gadis yang kuat. Bertahanlah sampai akhir.

Karena makna hidup dan kehidupan, mati dan kematian akan kau dapat diakhir kisahmu…


¤ To Be Countinued ¤

Translate Cold Rain – 4Minute bisa di lihat di sini…!!

Lirik Cold Rain – 4Minute

 

Author’s Note

Oke, sebelumnya terima kasih buat kalian semua yang udah ngikutin cerita ini sampai sekarang. Terima kasih banyak *bow

Aku gak akan basa – basi, aku mau HIATUS untuk 4-8 Minggu kedepan, karena ada sesuatu yang ingin aku gapai dan aku harus fokus untuk itu. Mohon pengertiannya… *bow

Dan untuk Next chapter itu ENDING dari Regret. Gak rela banget sebenernya, karena Regret ini fanfic favorit aku. Kedengeran konyol emang karena favoritin FF sendiri, tapi kenyataannya gitu. Aku suka banget sama FF ini…hehe

Untuk ENDING chapter-nya sendiri mau aku PROTECT. Kalian bisa menemukan sendiri jawaban dari akhir Regret ini di Chapter 15 nanti, Happy Ending or Sad Ending?

Tapiii, setelah mengikuti RULES ini, TANPA PENGECUALIAN ;

1. Bukan Silent Readers

2. Comment minimal 12 Chapter. Karena jumlah chapter keseluruhan Regret ini ada 17, aku rasa tidak terlalu sulit untuk melengkapinya jika dibandingkan dengan aku yang membuat 17 Chapter berisi cerita ribuan kata. Dan Comment SINGKAT berisi NEXT doank atau SEMACAMNYA, tidak masuk hitungan.

3. Dilarang menyebar luaskan password. Kalau temen kamu minta, suruh usaha, karena aku juga usaha buat nyelesain FF ini sampai berbulan-bulan lamanya. Tolong hargai aku untuk rule yang satu ini, gak usah sok baik dengan menyebar luaskannya.

4. Comment di Chapter ini, karena aku sendiri yang akan menyeleksi ID comment kalian. Tapi jika kalian sering gonta-ganti ID Comment, jangan lupa cantumin ID comment kalian sebelumnya.

5. Aku gak terima COMMENT BORONGAN apa pun alasannya. Karena ini FF Multi Chapter BUKAN Oneshot. Aku juga udah bikin postingan cara meninggalkan comment via wordpress dan aku udah kasih keringan untuk mereka yang gak bisa Comment via wordpress. Jadi gak ada alasan untuk jadi SILENT READERS.

6. Hubungi aku dengan menyertakan ID comment kalian. TAPI JANGAN HUBUNGIN AKU KALAU KALIAN CUMA MAU BILANG MINTA MAAF GAK BISA COMMENT DI CHAPTER-CHAPTER SEBELUMNYA. Dan GAK USAH MOHON-MOHON, karena aku gak kan peduli. Kalian aja gak peduli sama usaha aku, iya kan? Jadi impas.

Bagaimana AKTIF READERS? Apa ini adil untuk kalian? Rules seperti itu tidaklah berguna buat kalian, karena kalian selalu ada buat aku^^

Dan untuk yang lainnya, patuhin rules kalau ingin tahu akhir dari cerita ini^^ dan aku tekankan sekali lagi, gak ada toleransi untuk mereka yang MALAS. Meskipun cerita ini TIDAK SEBAGUS FF lain di luar sana, tapi tetep aja aku ingin mendapat timbal balik dari usahaku ini. Karena Comment membuatku jadi lebih baik, karena Comment aku percaya diri untuk mengembangkan bakat baru ini, karena Comment aku merasa memiliki teman berbagi cerita. Bukan untuk popularitas, aku gak butuh popularitas. Aku hanya butuh teman berbagi, yang gak mau gak papa^^

Password akan dibagikan mulai dari sekarang, jadi ketika chapter Ending di publish, kalian bisa langsung baca. Seperti biasanya. Meskipun aku balesnya lama, kalian gak perlu takut ketinggalan cerita.

Maaf ya kalau aku kata-katanya sedikit kasar. Aku cuma gak mau munafik dengan menjadi orang lain. Satu hal yang perlu kalian pahami, setiap orang itu beda. Jangan samakan aku dengan author baik di luar sana. Aku tipe orang yang akan baik sama orang yang baik, karena aku bukan tipe orang yang mau dimanfaatin sama orang lain. Karena aku gak butuh penghargaan, aku cuma butuh hiburan. Mohon pengertiannya^^

Ya udah itu aja (itu aja udah kepanjangan). Selama beberapa Minggu kedepan, aku bakal rindu banget sama kaliann kayanya…Buruknya, aku harus bisa nahan keinginan menuliss…

Selamat beraktivitas semuanya…!!! FIGHTING….!!!

Saranghae Yeorobun…!!!!

Regards,

Sehun’Bee

Advertisements

699 comments

  1. Aku baru inget klu aku blm komen di chap 14,jd aku ulang baca trus aku komen.Aku gak bisa komen apa2 krn memang aku mengidolakan kk.Tulisan kak bee itu kaya semua hal favorit aku dan selera aku,dan kak bee itu author yg palingggg gak sombong,baik,sopan.Jadi,aku bakal komen disetiap ff,mungkin yg oneshoot ada yg blm dibaca.Pokoknya aku setia sma kak bee dan tulisan kak bee layak diapresiasi.Kenapa gak dibukuin kak? 🙂

    Like

  2. nyesek banget hanna ga tau kalau sehun lagi koma kapan dia bisa bangun terus bisa bahagia sama hanna?
    hannanya tegar banget ya. aku penasaran sama kelanjutannya
    oke next baca ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s