Regret [Chapter 13A]

regret

Title : Regret | Please Don’t

Author : Sehun’Bee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun || Khaza Hanna || Xi Luhan || Byun Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [8693 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit >> PosterBySifixo@PosterChanel and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

Ya. Dalam kehidupan kesedihan dan kebahagiaan adalah hal yang sering terjadi, bahkan selalu terjadi. Dua rasa itu selalu berputar – putar bak sebuah roda, dan rasa itu ada karena cinta.

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7 ¤ Chapter 7 ¤  Chapter 8 ¤ Chapter 9A  ¤ Chapter 9B ¤ Chapter 10 ¤ Chapter 11 ¤ Chapter 12

regret

Previous Chapter

Daehyun.

Tidak salah lagi, pria itu pasti Daehyun. Terlihat dari postur tinggi tegapnya juga wajahnya yang memang tak asing dilihat, meski Sehun hanya melihatnya sekilas.

‘Shit,’ Sehun mengumpat kesal dalam hati. Tak lama lagi, pemimpin Black ID akan mengetahui ia tertangkap. Itu berarti, Hanna dalam bahaya besar. Terlebih sampai saat ini, Baekhyun belum juga membawa Hanna pergi dari rumahnya.

“Kau cepat hubungi Baekhyun, perintahkan dia untuk segera pergi membawa Hanna dari rumahku!” Titah Sehun tegas penuh penekanan pada opsir yang duduk di depannya.

“Ada masalah apa, Tuan?”

“Cepat lakukan sebelum mereka terbunuh!”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Regret Chapter 13

Sehun nampak gelisah, perasaannya berkecamuk, firasat buruk pun mendominasi. Ia seorang anggota Black ID, dan ia tahu betul bagaimana cara bermain organisasi keparat itu. Hingga ia tak cukup tenang, meski seorang opsir telah melakukan perintahnya untuk menghubungi Baekhyun.

“Tidak bisakah kita putar balik? Aku ingin memastikan keadaan mereka!”

“Tenanglah Tuan! Jaksa Byun pasti sudah meminta pasukan Tuan Lee untuk bergerak. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kami di sini juga bertanggung jawab untuk melindungi keselamatan nyawa Anda…”

Sehun mengerutkan dahinya, mendengar penuturan opsir yang duduk di depannya. Sementara dua orang opsir yang duduk menghimpitnya, menganggukkan kepala tegas.

“Kami tidak ingin Anda bernasib sama dengan anggota Black ID yang lain, Tuan. Dimana mereka tewas sebelum sempat diciduk polisi,” sambung seorang opsir yang duduk di sampingnya. Membuat Sehun memejamkan mata seketika.

Dulu, kesalahannya masih bisa diampuni saat sidik jarinya di temukan di sebuah senapan. Namun kini, kasusnya berbeda, meski tetap didasari oleh insiden penembakan Tuan Khaza dan para bawahannya. Sehun pun membenarkan, jika ia tidak segera diamankan oleh anggota kepolisian, mungkin saja ia akan tewas di tangan Kevin—seorang yang selalu ditugaskan untuk mengeksekusi anggota Black ID yang bermasalah— atau yang lebih buruknya lagi, Osamu sendiri yang akan melenyapkan nyawanya.

Kini, Sehun mencoba untuk kembali bersikap tenang. Mengikuti arus yang tercipta, dan membiarkan dirinya ikut hanyut dalam alirannya. Pelan – pelan matanya tertutup, mencoba untuk menetralisir kegundahan di hati.

Mobil yang membawanya pun mulai melintas di atas Jembatan Banpo, yang menghubungkan Distrik Seocho dan Yongsan di Seoul. Jembatan yang terdapat air mancur pelangi itu terlihat lebih lenggang dari biasanya, mungkin karena waktu sudah kembali memasuki jam kerja. Aliran Sungai Han di bawahnya pun terlihat begitu tenang sekaligus damai untuk dilihat.

Lamat – lamat, Sehun mendengar raungan mesin beberapa mobil sport di belakangnya. Matanya pun kembali terbuka, lantas tertuju pada kaca spion di depannya.

Benar saja.

Tak hanya ada satu atau dua mobil sport yang ia lihat. Namun tak tanggung-tanggung, ada lima mobil sport keluaran Italia yang mengekornya.

Sial.

Mata Sehun memincing tajam, memperhatikan gerakan dari lima mobil itu. Satu mobil mulai berjalan di samping mobilnya, sementara sudah ada dua mobil lain yang menghimpit mobil polisi yang ada di belakangnya. Seolah mencoba untuk menghalangi dan mengacaukan konsentrasi pengemudi mobil yang mengawalnya tersebut.

“Kalian ingin melindungiku, ‘kan?” tanya Sehun dengan nada tenangnya.

“Ya. Ada apa, Tuan?” tanya balik seorang opsir di depannya.

“Kalau begitu, jangan mengemudi di bawah kecepatan 100 Km per Jam. . .” ujar Sehun, sembari memberi isyarat pada para opsir untuk memperhatikan keadaan sekitar.

Sang opsir yang mengemudi pun mengerti, ia lantas menambah kecepatan mobilnya, bahkan jauh di atas kilometer yang Sehun sarankan. Ia sadar, akan adanya mobil-mobil mencurigakan yang tengah mencoba untuk mendekati dan menghalangi jalan mereka. Sungguh menjengkelkan.

“Black ID benar-benar cepat! Bahkan ini belum sampai 20 menit kita meninggalkan kediaman Anda, tapi mereka sudah tahu Anda tertangkap.” Opsir yang duduk di sebelah kanan Sehun, terlihat gelisah. Sementara, seorang yang duduk di samping pengemudi tengah menghubungi kantor pusat—mencoba untuk meminta bantuan secepat mungkin. Karena biar bagaimanapun, hanya ada satu mobil yang mengawal mobil yang membawa Sehun. Dan itu berarti, mereka kalah jumlah.

“Itu sebabnya, menjerat seorang anggota Black ID ke dalam hukum itu sulit.” Sehun berujar santai. Matanya pun kembali tertutup, mencoba untuk menikmati kecepatan laju mobilnya sembari menerka, apa yang kiranya akan terjadi jika mereka kalah cepat? Ya. Hanya itu yang bisa Sehun perkirakan, karena ia tahu, sedan bukanlah tandingan mobil sport keluaran Italia sekelas Ferrari.

Dan benar saja.

Satu mobil lawan berkecepatan penuh, telah berhasil mengambil alih jalanan di depannya. Membuat sang opsir kesulitan untuk mengelak. Terlebih, sudah ada dua mobil yang menghimpitnya.

Mereka kalah cepat.

“Brengsek,”

“Apa yang harus kita lakukan? Sementara, bantuan tidak akan bisa datang dalam waktu cepat…” Panik, itulah yang mereka rasakan. Terlebih, situasi yang mereka hadapi saat ini cukup rumit. Sementara, mereka tahu betul apa yang orang-orang itu inginkan.

Sehun.

Ya. Mereka ingin mengambil pria itu. Dan entah apa yang akan mereka lakukan setelahnya. Membunuhnya lalu menghilang tanpa jejak, atau hanya menyembunyikannya agar tak masuk penjara. Ya, hanya ada dua kemungkinan itu. Dan bukankah Black ID memang selalu seperti itu?

Licik.

Sementara Sehun, hanya diam membisu. Ia tahu nyawanya sedang dipertaruhkan saat ini, namun keselamatan nyawa Hanna jauh lebih ia khawatirkan. Saat ini saja, mereka sudah terkejar. Apalagi Hanna dan Baekhyun yang bergerak jauh lebih lamban dari mereka. Dan yang lebih buruknya lagi, Black ID tidak pernah memandang seberapa besar jumlah anggota kepolisian yang mereka hadapi. Terbukti dari insiden yang terjadi saat penyergapan itu, dan apa yang terjadi saat ini. Karena memang mereka tak pernah takut terhadap apa pun. Hukum dunia pun mereka langgar dan larangan Tuhan mereka jalani. Sungguh gila.

“Kalian punya anak dan istri?” pertanyaan konyol Sehun lontarkan, “Jika iya, maka cukup turunkan aku sekarang. Karena kalian mempunyai tanggung jawab besar untuk menghidupi anak dan istri kalian,” sambung Sehun tak jelas. Namun, maksud dari ucapannya itu dapat ditangkap dengan baik oleh mereka.

“Kami adalah aparatur hukum. Dan kami adalah penegak kebenaran yang siap mati, demi melindungi dan menjunjung tinggi kebenaran itu sendiri,” timpal seorang opsir, membuat Sehun tersenyum kecil mendengarnya.

“Aku tidak sedang bercanda, karena aku yakin kalian pasti akan mati jika terus-terusan melindungiku. Pikirkan juga keluarga kalian di rumah,” ujar Sehun. Ia hanya tak ingin ada yang terluka nantinya. Dan ia ingin memastikan, bahwa Hanna baik-baik saja dengan bertanya langsung pada anggota Black ID. Ia pun berharap, bahwa hanya ia yang diincar.

“Putus asa tak pernah diajarkan dalam pendidikan kami. Anda pun memiliki seorang istri yang begitu mencintai Anda dan tak mau kehilangan Anda. Pikirkan juga bagaimana perasaannya, jika ia tahu Anda terluka. Oleh sebab itu, kita harus yakin bahwa kita bisa lepas dari mereka. Karena mereka bukanlah Tuhan, yang memegang kendali atas semua jalan kehidupan.”

Sehun terdiam, tubuhnya kaku nyaris membatu. Opsir itu benar, jika ia menyerah, maka ia tak akan bisa melihat Hanna lagi. Dan yang lebih buruknya lagi, ia tak akan bisa menemani Hanna untuk merawat anak mereka nanti. Ah, Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

Mata Sehun seketika bergerak lincah memperhatikan pergerakan dua mobil di sampingnya, dan satu mobil di depannya. Mencoba untuk mencari celah untuk lepas dari kekangan mereka, tanpa harus berakhir dengan celaka.

Sementara, kecepatan mobil mereka seolah sudah di kendalikan oleh tiga mobil sport berwarna hitam itu. Bahkan kini, mobil yang ditumpangi mereka hanya melaju dikilometer 80— Ya Tuhan.

Tak hanya kecepatan, arah mobil mereka pun dikendalikan dengan lihat oleh lawan. Mobil di depannya seolah menjadi penunjuk jalan bagi mereka. Sementara, mobil di samping kanan dan kiri tubuh mereka terus menuntun pengemudi untuk mengikuti mobil di depannya, dengan terus menghimpitnya.

“Banting setir ke kanan, tubruk mobil yang di samping!” Titah Sehun tegas.

“Jalanan mulai ramai Tuan, jika kita menubruk mobil lawan yang berada di samping, kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan untuk pengendara mobil lain.”

“Kalau begitu, perhatikan spion dengan teliti, jika ada kesempatan langsung lakukan!” Sehun masih tetap pada pendiriannya. Meski berisiko, namun jika tidak dilakukan, mungkin saja mobil mereka akan digiring ke markas besar Black ID. Bukankah itu konyol? Sama saja mereka menyerahkan diri dan kemudian mati.

“Aku mengerti. . .”

Tak hanya sang pengemudi, tapi semua opsir termasuk Sehun juga ikut memperhatikan jalanan sekitar. Mencoba untuk mencari celah, demi bisa bebas dari kekangan mereka. Namun sayangnya, jalanan benar – benar padat akan kendaraan. Laju mobil mereka bahkan semakin pelan, seolah mengikuti arus padat lalu lintas saat itu. Dan itu terjadi karena Black ID tak mau melepas mobil mereka untuk bisa bergerak bebas.

Sial.

Entah untuk yang keberapa kalinya, Sehun mengumpat kata yang sama. Memang sangat tidak mungkin untuk mereka brutal di jalanan, karena apa yang tengah mereka alami saat ini bukanlah bagian dari scene Fast and Furious. Dan mereka tidak bisa bergerak sesuka hati seperti di dalam film tersebut, lantas mengabaikan keselamatan pengemudi lain.

“Terus informasikan lokasi kita pada para opsir yang sedang dalam perjalanan. Karena untuk saat ini, kita hanya bisa mengikuti arus permainan yang mereka ciptakan. Siapa tahu, mereka membawa kita ke markas besar Black ID, dan opsir lain bisa melakukan penyergapan.”

“Mereka tidak bodoh. Mereka memang tak bisa mendengarkan percakapan kita, tapi mereka pasti sudah memperhitungkan bahwa kita akan meminta bantuan pada kantor pusat. Jadi sangat tidak mungkin mereka akan membawa kita ke markasnya. Itu sebabnya, melepaskan diri dari mereka adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan.” Sehun berucap santai. Biar bagaimanapun, ia tetap bagian dari Black ID yang dididik untuk menjadi seekor predator licik.

Semua opsir pun membenarkan. Sangat tidak mungkin lawan akan membawa mereka ke markas. Adapun kemungkinan terbesar yang akan terjadi adalah — mereka akan dibawa dan dieksekusi di tempat yang jauh dari keramaian. Uh, mengerikan.

Terlebih, Black ID adalah pembunuh yang handal dan hal itu memang bisa saja terjadi. Sehun bahkan berpikir, tubuhnya akan dicincang setelah ini. Atau yang lebih ringannya lagi, mati dengan hanya kehilangan dua buah bola mata dan lidahnya. Namun, setiap kali mengingat Hanna, ia tak ingin itu terjadi padanya. Ia harus tetap hidup untuk gadis itu dan buah cintanya.

Sehun kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Benar saja, Black ID menggiring mobil mereka untuk mengikuti arah yang berlawanan dengan Kantor Pusat Kepolisian Distrik Seoul. Namun, sang opsir yang mengemudi menjadikan itu sebagai kesempatan. Di saat mobil lawan berbelok demi menggiring mobil mereka, sang opsir dengan gas yang diinjak penuh menerobos celah yang tercipat, hingga mobil mereka bertubrukan dengan ekor mobil di depannya dan hidung mobil di sampingnya. Guncangan hebat pun terjadi, jantung mereka bahkan berpacu lebih cepat dari sebelumnya.

Sang opsir terlihat tak lagi memikirkan keselamatan orang lain, ia nekad mengacaukan arus lalu lintas dengan memutar arah di jalan yang berlawanan. Tak lupa sirine ia hidupkan, berharap pengemudi lain mengerti akan kondisi darurat mereka.

Tak tinggal diam. Lima mobil sport hitam itu pun ikut melakukan hal yang sama. Arus lalu lintas pun seketika kacau dibuatnya. Bahkan ada beberapa mobil yang refleks menginjak rem, demi menghindari terjadinya tabrakan. Ada pula yang membanting setir demi menghindari mobil-mobil gila itu. Sementara, mereka dengan santainya menambah laju kecepatan di jalan yang belawanan arah tersebut.

“Berputar!” Sehun berucap tegas di sela-sela napasnya yang memburu dan jantungnya yang bergerilya hebat.

Sang opsir pun menurut begitu saja, ia membanting kemudinya melewati pembatas jalan. Beruntungnya, pembatas jalan itu tak terlalu tinggi dan lebih seperti trotoar, hingga mereka bisa melewatinya dengan mudah. Sehun sendiri, hanya tak ingin mereka terus-terusan melawan arus lalu lintas dan berakhir dengan menabrak truk besar. Namun sialnya, Black ID kembali mengikuti apa yang mereka lakukan, hingga aksi saling mengejar itu terus terjadi.

“Ini konyol. Kita polisi tapi kita yang diburu penjahat…!!!” Opsir yang duduk di samping Sehun terlihat frustasi.

“Dan apa yang kita lakukan bahkan lebih lucu dari Running Man,” timpal opsir lain.

Sehun yang mendengarnya, hanya bisa memutar bola matanya malas. Sebelum akhirnya kembali memperhatikan jalanan di sekitar.

“Mereka semakin dekat. Cepatlah!”

“Aku sedang berusaha, Tuan.”

 

regret

Incheon Brigde

22094.25225341.ji2

Mobil yang dikemudikan Baekhyun bersama Luhan di sampingnya dan Hanna di kursi penumpang, mulai melintas di atas Jembatan Incheon. Jembatan itu merupakan alternatif jalan yang akan menghubungkan mereka langsung ke Bandara International Incheon.

Tak tanggung-tanggung, tujuh mobil kepolisian pun ikut menggiring keberangkatan mereka sembari memastikan saksi selamat sampai negara tujuan. Tiga mobil yang berisi para pengawal pribadi Hanna pun menyertai. Tak lupa, ke-4 hewan peliharaan Hanna juga ikut bersama mereka.

Menyembunyikan Hanna untuk sementara waktu adalah perintah yang turun langsung dari Tuan Lee. Sampai semuanya aman terkendali, barulah Hanna dipanggil kembali untuk menjadi saksi. Sementara Luhan, hanya akan mengantar kepergian Hanna dan Baekhyun yang amat mendadak itu. Setelahnya, ia akan digiring untuk ikut bersama anggota kepolisian dengan tujuan yang jauh lebih baik daripada markas besar Black ID. Penjara. Ya, Luhan akan ke sana, demi memenuhi panggilan hukum.

Hanna sendiri tak kunjung bisa menyembunyikan raut kesedihannya. Setelah ditinggal Sehun, kini ia pun harus rela di tinggal Oppa-nya dan pergi meninggalkan Seoul untuk sementara waktu. Bahkan ia tak diberi kesempatan barang sejenak untuk melihat Ayahnya. Sesekali air mata bahkan selalu sukses menuruni lekuk pipinya—sekuat apa pun ia berusaha untuk menahannya. Karena jujur saja, apa yang ia alami hari ini begitu menyakitkan. Namun, ia tak ingin terlihat lemah dan membuat khawatir orang-orang di sekitarnya. Hingga ia selalu menghapus air mata itu dengan cepat menggunakan punggung tangannya.

Sementara, fokusnya terus tertuju pada lautan biru yang bersinar di sampingnya. Mencoba untuk menikmati keindahan alam yang telah Tuhan ciptakan itu. Meski sesungguhnya, hatinya tengah memberontak—tak ingin pergi dan jauh dari orang – orang yang dicintai. Namun apa daya? Ini semua untuk kebaikan bersama, demi kebebasan Ayahnya, Kakaknya, dan Suaminya. Dan jika ia tetap menetap, maka nyawanya yang akan menjadi taruhan dan mereka bertiga akan tetap mendekam di penjara. Terlebih, ada dua nyawa dalam tubuhnya kini, hingga ia tak bisa mempertahankan egonya untuk tetap berada di Seoul.

“Gwaenchana, Chagi. . . Semuanya akan baik-baik saja!” Sedari tadi Luhan terus memperhatikan adik kecilnya itu. Hingga ia merasa semakin sakit setiap kali melihat air mata yang jatuh dari mata indahnya. Ia dorong tubuhnya demi menggapai Hanna yang duduk di belakang Baekhyun, kemudian membantu gadis itu untuk menghilangkan jejak-jejak kesedihan di pipinya.

“Oppa menyayangimu. Jangan menangis! Itu melukaiku. . .” Luhan meraih tubuh Hanna. Memeluknya dengan begitu erat—tak peduli dengan posisinya yang tak nyaman, asal bisa menenangkannya, Luhan tak masalah.

“Oppa. . .” Pecah, tangis Hanna pecah di dalam dekapan pria itu. Luhan bahkan goyah, dan berakhir dengan ikut menangis di bahu mungil adiknya.

Baekhyun yang mendengar isakan dari keduanya, mencoba untuk tetap fokus pada jalanan di depannya. Ia tak menyangka, takdir begitu kejam mempermainkan mereka. Dimana persahabatan, cinta dan keluarga menjadi hal yang mereka pertaruhkan, dan sulit untuk mereka rasakan. Padahal semuanya dekat dan saling terikat.

Perlahan, setetes cairan bening ikut turun, menuruni lekuk pipi Baekhyun. Ia mengerti – sangat mengerti akan posisi masing – masing dari mereka berempat. Dan perpisahan adalah sesuatu yang sulit untuk diterima meski itu hanya untuk sesaat dan dengan tujuan baik. Karena perpisahan membuat seseorang harus rela belajar untuk terbiasa hidup tanpa kehadiran seseorang yang berarti dalam hidupnya.

Meski mereka akan berpisah dalam arti yang tidak sebenarnya, tapi tetap saja kesedihan itu ada. Karena dasar atas semua yang terjadi saat ini, merupakan sesuatu yang amat sulit untuk dijalani.

Isakan Hanna pun semakin pilu terdengar. Ia sudah tak kuasa menahan lagi semua penderitaan itu. Belum lama, ia merasakan kasih sayang seorang Oh Sehun yang amat ia rindukan, namun kini takdir kembali memisahkan mereka. Dan sekarang, ia harus rela melihat Oppa-nya ikut menyusul Sehun. Padahal, penderitaan karena kehilangan mereka di masa lalu pun masih ia rasa, dimana Sehun berubah dan Luhan dilarang bertemu dengannya, Ayahnya koma dan hampir dua tahun ia tak melihat wajahnya, bahkan sudah berbulan-bulan ia tak mengunjungi makam Ibunya. Setelah ini apalagi? Hanna tak sanggup, jika harus terus-terusan hidup seperti ini. Ia tak sanggup jika harus hidup jauh dari keluarganya. Itu tak mudah. Dan ia sudah cukup sakit selama ini.

Aku mohon Tuhan, jangan lagi. Biarkan kami bahagia. . .

Hanna mempererat pelukannya pada punggung lebar Oppanya. Mencurahkan rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Ia hanya lelah jika harus berpura-pura untuk tetap kuat. Sementara hatinya sudah remuk tak tersisa.

“Ini ujian, Chagi. . . Gwaenchana, kita pasti bisa melewatinya karena Tuhan tak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.” Luhan sedikit tersenggal mengucapkan kalimatnya. Tangannya terus bergerak mengelus punggung Hanna, mencoba untuk menyalurkan sedikit kekuatan yang ia miliki.

Luhan tahu ini tidak mudah tapi juga tidak berat, karena ada Tuhan yang menyertai setiap perjalanan mereka. Luhan yakin itu. Meski hatinya amat teriris mendengar isakan pilu Hanna juga kenyataan akan kembali berpisah dengannya. Padahal belum lama, ia kembali bisa bercanda dan bermain bersama dengan gadis itu di taman. Padahal belum lama, ia melihat senyum ceria itu ada di wajah cantiknya juga kemarahannya yang tanpa sebab. Namun kini, ia harus rela kembali berpisah dengannya. Sungguh menyakitkan.

“Bisakah kalian berhenti menangis? Itu sangat menyakitiku, sungguh!” Baekhyun berusaha fokus di sela – sela air matanya yang terus jatuh. Pandangannya bahkan terlihat kabur karena air mata yang berkumpul di pelupuknya.

“Mianhae Baekhyun-ah, kami tidak bermaksud menyakitimu…” Luhan tersenyum, setelah merenggangkan pelukannya. Ia lantas menatap Hanna dengan sorot lembutnya. Jemari mungilnya pun menari pelan di pipi mulus Hanna.

“Gomawo, Oppa…” Hanna ikut melakukan hal yang sama. Ia mencoba untuk menghilangkan sisa-sisa air mata yang jatuh dari manik rusa itu. Kemudian menangkup pipi tirusnya, sebelum akhirnya mendaratkan kecupan ringan di dahinya.

“Aku menyayangimu, Oppa. . . Jangan menangis lagi, ne?!” Hanna berucap, setelah melepaskan tautannya.

“Kau juga. Jangan menangis lagi, ne! Nanti Eomma sedih. . .” Luhan berucap nanar. Membuat senyum lembut tercipta di wajah Hanna. Air mata bahkan kembali terjatuh dari salah satu mata indahnya.

“Hm… Eomma pasti sedih melihat aku menangis,” Pecah, tangis Hanna kembali pecah. Kali ini, ia menundukkan kepalanya dengan bahu yang bergetar hebat. Kenyataan bahwa mereka telah kehilangan seorang Ibu bukanlah hal yang mudah untuk mereka terima. Namun apa daya, Ibu adalah malaikat tanpa sayap yang bisa Tuhan ambil kapan pun untuk kembali ke surga. Dan mau tidak mau, mereka harus menerima itu. Setidaknya mereka tahu, kasih sayang Ibu itu tidak akan pernah hilang sepanjang masa dan akan terus terpatri dalam hati. Dan Tuhan akan tetap menemani mereka sampai saat untuk kembali itu tiba.

“Chagi, gwaenchana… Eomma bahagia di atas sana,” Luhan mengelus surai Hanna lembut.

“Dan suatu saat nanti kita akan bahagia. Aku yakin itu. . .” timpal Baekhyun dengan senyum yang memaksa.

“Ya. Dalam kehidupan kesedihan dan kebahagiaan adalah hal yang sering terjadi, bahkan selalu terjadi. Dua rasa itu selalu berputar – putar bak sebuah roda, dan rasa itu ada karena cinta. . .” ujar Hanna sedikit tersenggal. Kepalanya kembali mendongak demi memberikan senyum terbaiknya pada Oppa-nya. Meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja.

Brum! Brum!

Tak lama, pendengaran mereka menangkap raungan mesin dari arah belakang mobil mereka. Luhan dan Hanna bahkan refleks menoleh ke arah belakang, sementara Baekhyun melirik spion di samping mobilnya.

“Banyak sekali. Bukankah itu mobil-mobil keluaran Italia?” tanya Hanna polos, saat melihat beberapa mobil yang begitu pintar melewati mobil-mobil polisi yang ada.

“Mereka Black ID…” ujar Luhan tak percaya. Ia pernah melihat mobil-mobil yang sama di markas besar Black ID. Matanya pun bergerak lincah, mencoba untuk menghitung jumlah mereka.

“Apa? Bagaimana bisa?” Baekhyun menggeram–penuh amarah.

“Aku tidak yakin, tapi jumlah mereka ada sembilan…” Luhan masih fokus pada mobil-mobil yang tengah berusaha melewati mobil-mobil polisi itu. Sepertinya para opsir menyadari bahwa mereka Black ID, hingga aksi saling menghalangi dan melewati itu terjadi.

Hanna sendiri sudah tegang dibuatnya. Tiga Mobil Mercedes Benz yang di tumpangi oleh para pengawal pribadinya pun mulai memblocking jalan. Mereka berusaha untuk melindungi mobil yang ditumpangi oleh Hanna dengan mengelilingi segala sisi dari bagian mobil itu.

Taejun terlihat membuka kaca jendela mobilnya, mencoba untuk memberi isyarat pada Baekhyun yang mengemudi di sampingnya untuk menambah kecepatan. Baekhyun yang mengerti pun semakin menginjak pedal gasnya, demi menambah kecepatan semampu yang ia bisa.

“Mereka benar-benar gila. Mereka bahkan tak takut meski kita sudah berada dalam perlindungan polisi.” Baekhyun terlihat emosi.

“Yang terpenting bagi Black ID adalah nama baik pemimpin mereka. Selagi pemimpin mereka tak tertangkap, maka mereka tak akan kehilangan uang demi menunjang semua aksi kejahatan mereka. Dan Hanna tahu, siapa pemimpinnya itu. Oleh sebab itu, sekalipun kita dalam perlindungan tembok besi, mereka akan tetap menjebolnya dengan cara apa pun,” ujar Luhan. Ia pernah mendapatkan pendidikan dalam oraganisasi itu, hingga membuatnya mengerti akan cara bermain Black ID.

Dan pada akhirnya, mereka harus rela bermain kejar-kejaran di atas Jembatan Incheon yang memiliki panjang 800 meter itu. Tak kehabisan akal, seorang pengemudi mobil sport mengeluarkan tangannya dari samping jendela dengan sebuah pistol di gengaman. Seolah jengah pada mobil polisi yang terus menghalangi jalannya.

Mobil yang diincar pun menyadari bahaya itu, hingga mereka melakukan hal yang sama dengan mengarahkan senjata ke belakang. Namun sayangnya, sebelum sempat mereka menembak, mobil mereka sudah oleng akibat peluru yang di tembakan oleh lawan.

“Sial. Mereka menembak ban belakang mobil kita…” Pengemudi kehilangan kontrol. Mobil mereka melaju tak tentu arah, menimbulkan bunyi gesek yang begitu memekakan telinga. Jika di dalam film musuh akan menembak lawan yang berada di dalam mobil, namun Black ID memiliki cara licik lain untuk menghabisi musuhnya. Mobil yang ditumpangi dua orang opsir itu pun berakhir dengan menabrak pembatas jalan, demi menghentikan laju mobilnya yang tak terkontrol. Beruntung mereka memakai sabuk pengaman, hingga hanya luka di kepala yang mereka dapat.

Kemacetan pun tercipta seketika. Banyak mobil yang berhenti akibat kecelakaan yang dialami dua opsir itu. Sementara, aksi saling mengejar masih terus terjadi. Kini, hanya tersisa enam mobil kepolisian dan tiga mobil pengawal Hanna.

Sementara, para opsir yang masih mencoba untuk menghalangi jalan mereka pun merasa was-was. Takut, jika anggota Black ID yang lain kembali melakukan hal yang sama, dan membuat mobil mereka ikut berakhir mengenaskan. Karena biar bagaimanapun, ketika ban bocor saat mobil melaju dalam kecepatan penuh, kecelakaan besar bisa saja terjadi. Dan yang lebih buruknya lagi, mereka bisa saja berakhir dengan mobil yang terbakar hebat.

Benar saja. Seorang anggota Black ID kembali melakukan hal yang sama dengan gerakan yang begitu cepat, hingga tak terhitungkan oleh mobil di depannya untuk mengelak. Suara decitan luar biasa bising pun terdengar. Sang opsir kesulitan untuk mengendalikan mobilnya yang oleng ke sana – kemari, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk membanting setir. Namun sayangnya, kecepatan mobil mereka terlalu tinggi hingga mereka harus berakhir dengan mobil yang berguling – guling. Tak cukup sampai di situ, satu mobil kepolisian yang kesulitan membaca arah pun berakhir dengan menabrak mobil rekannya yang sudah terbalik. Hingga kecelakaan beruntun untuk mobil-mobil di belakangnya terjadi. Sementara sang pelaku, mampu menghindar begitu saja dengan lihainya.

Arus lalu lintas pun dibuat kacau seketika. Suara klakson mobil bahkan terdengar di mana – mana.

“Kau bisa menghitung berapa jumlah mereka?” tanya seorang opsir pada rekannya, dengan fokus yang terus tertuju pada jalanan di depannya.

“Ada 10, dan kita kalah jumlah…”

Raungan mesin mobil-mobil Italia itu pun semakin menggila. Membuat jantung semakin berdebar hebat karena kesulitan untuk mengendalikan diri dari rasa panik. Ya, panik. Siapa pun yang berada pada posisi mereka pasti akan merasa panik. Namun, mereka mencoba untuk tetap tenang dengan tidak putus asa dan terus melaju pada tujuan mereka—melindungi saksi.

Sementara Hanna sudah pucat pasi. Kedua tangannya pun sudah memeluk erat perutnya. Keringat bahkan tak henti-hentinya keluar dari pelipisnya, membuat poninya sedikit basah akibat cairan asin itu. Luhan yang mengerti akan ketakutan Hanna segera berpindah ke kursi belakang, demi memberikan gadis itu pelukan penuh ketenangan. Sementara fokusnya tertuju ke belakang.

Baekhyun sendiri mencoba untuk tetap fokus. Ujung Jembatan Incheon pun sudah terlihat, membuatnya bisa bernapas barang sejenak. Sesekali matanya melirik spion di samping mobilnya, mencoba untuk memastikan keadaan di belakang sana.

Aman.

Tak ada tanda-tanda Black ID. Namun, itu belum cukup untuk membuatnya merasa tenang. Mereka harus lebih waspada, dengan tetap mempertahankan kecepatan.

“Markas Besar Black ID ada di Incheon. Aku khawatir sudah ada yang menunggu kita di ujung jembatan. . .” Luhan berucap gelisah. Membuat Baekhyun membelalak seketika.

“Apa?”

Tak lama terdengar sirine polisi. Dua mobil kepolisian pun terlihat melewati mobil mereka dengan kecepatan penuh, dan kemudian bertahan dengan kecepatan tetap di depan mereka. Seolah mencoba untuk melindungi mereka dari depan. Sementara dua mobil polisi lain yang tersisa berada pada jajaran yang sama dengan satu mobil pengawal pribadi Hanna.

“Kemana sisanya?” tanya Luhan bingung. Karena tak menemukan tiga mobil kepolisian lain, “Bukankah seharusnya mereka ada tujuh?”

“Entahlah, mungkin mereka gugur. . .” jawab Baekhyun asal, tanpa tahu jawabannya itu membuat Hanna semakin ketakutan. Firasat buruk pun menghampiri, dimana jantungnya terus berdebar hebat mengingat sosok yang belum lama meninggalkannya.

“Sehun, apa dia baik-baik saja, Oppa?” tanya Hanna. Suaranya bergetar, raut wajahnya gelisah.

 

regret

Sebuah tembakan kembali terdengar untuk yang ketiga kalinya. Namun, mobil kepolisian itu mampu menghindar dengan baik. Sehun yang berada di dalamnya pun bertukar posisi dengan seorang opsir yang duduk di samping jendela. Tangannya keluar, sementara fokusnya tertuju pada spion di depannya, sebelum akhirnya menarik pelatuk pistol di tangannya.

Dor!

CKIIITTT

“Sialan kau Oh Sehun. . .”

Sehun berhasil menembak ban depan salah satu mobil yang mengejarnya. Membuat mobil itu berputar – putar tak terkendali, karena arah kemudi yang tak bisa lagi dikontrol. Dua mobil sport di belakangnya pun tak kuasa menghindar, hingga berakhir dengan menabrak mobil rekannya. Dan pada akhirnya, mobil itu harus rela berakhir dengan berguling – guling di aspal.

“Wow. . . Anda hebat, Tuan! Hanya dalam satu kali tembakan, namun langsung tepat pada sasaran yang bergerak. Bahkan Anda hanya melihat target dari kaca spion,” kagum seorang opsir. Kedepannya ia akan menjadikan ini sebagai pelajaran, untuk tidak menembak dengan mengeluarkan kepala dari dalam mobil demi melihat lawan, karena itu akan sangat berisiko, dimana kepala bisa saja tertembak oleh musuh. Ia pun tak menyangka, ternyata seorang Oh Sehun mempunyai kemampuan menembak yang luar biasa. Padahal setahunya, Sehun adalah seorang pebisnis.

“Tersisa dua mobil lagi, kau incar yang satunya!” Titah Sehun, tanpa menghilangkan fokus dari spion di depannya. Mencoba untuk mencari celah dari dua mobil yang terus bergerak lihai di belakang mereka.

Mereka tak lagi memedulikan pengemudi lain yang tak tahu apa-apa. Karena yang terpenting adalah keselamatan nyawa mereka. Persetan dengan semua yang ada. Sehun sendiri hanya mementingkan keselamatan mereka semua saat ini, demi Hanna dan bayinya. Ia hanya tak ingin mati konyol di tangan orang-orang gila itu, dan kemudian kehilangan kesempatan untuk kembali memeluk keluarganya. Tidak. Sehun tidak ingin itu terjadi.

“Sedari tadi kita hanya melaju tanpa tujuan, demi menghindari mereka. Sementara, kantor kepolisian berada sangat jauh dari sini. Bagaimana jika bahan bakar kita habis?” keluh seorang opsir yang duduk di samping pengemudi. Matanya memandang gelisah jarum yang sudah menunjukkan garis merah pada dashboard mobilnya itu.

“Maka kita akan tamat. Dan permainan dimenangkan oleh mereka…” sang pengemudi menjawab apa adanya, setelah ikut melirik jumlah bahan bakar di mobilnya.

“Apa? Bensinnya mau habis?” seorang opsir yang duduk di samping Sehun mengerti akan kegelisahan dua rekannya.

“Kalian bodoh atau apa? Bagaimana bisa kalian tidak mengisi bahan bakar sebelum datang ke rumahku…!!!” Sehun mengumpat kesal. Ia merasa apa yang mereka lakukan saat ini akan berakhir sia-sia. Dimana mobil mereka akan berhenti dengan sendirinya setelah berlari dan menghindar mati – matian. Itu sama saja menyerahkan diri. Oh Shit.

“Maafkan aku, Tuan. Kantor kepolisian dengan kawasan rumah Anda tidak terlalu jauh, dan apa yang terjadi saat ini benar-benar di luar perkiraan.”

Sehun memutar bola matanya malas, “Kalau begitu, cari tempat ramai, agar kita bisa berlari setelah turun dari dalam mobil. Dan kemudian mengelabui lawan dengan bersembunyi di tempat umum.”

“Ne…”

 

regret

Sebuah mobil kembali terguling dengan kecepatan yang tak terkendali, hingga menimpa sebuah mobil yang melaju di depannya. Tabrakan beruntun pun kembali terjadi, sebelum akhirnya sebuah ledakan terdengar. Api bahkan dengan cepat merambat, melalap habis Mercedes Benz hitam itu.

“ANIIAAA. . .”

Hanna berteriak histeris melihat salah satu mobil pengawal pribadinya terbakar di tengah jalan. Sementara, satu mobil polisi terlihat hancur tak berbentuk setelah ditimpa mobil itu. Luhan yang juga melihat kejadian itu pun membelalak tak percaya.

Tak cukup sampai di situ, tiga mobil sport yang mengejar mereka sedari tadi terlihat keluar dari kepulan asap. Dengan kecepatan penuh, mereka kembali mengejar rombongan Hanna. Membuat semua orang yang ada di sana semakin gelisah sekaligus panik.

Taejun yang menyadari kekosongan terjadi di belakang mobil Hanna pun mengatur kecepatannya untuk menempatkan posisi di belakang mobil yang membawa Hanna. Sementara Hanna yang menyadari itu segera membuka jendela kaca mobilnya, demi menghentikan aksi Taejun.

“Tetap di situ Taejun-ah…!!! Aku tidak ingin kalian terluka…” Hanna berteriak. Beruntung teriakannya dapat didengar dengan baik oleh Taejun yang mengemudi di sampingnya. Gongongan anjing pun Hanna dengar sebagai jawaban. Tiga orang pengawal pribadinya ada di mobil yang sama dengan Taejun beserta semua hewan peliharaannya. Dan Hanna tidak ingin mereka bernasib sama dengan rekan-rekannya. Karena sudah cukup bagi Hanna kehilangan orang-orang yang ia sayangi, dan ia tak ingin itu kembali terjadi.

“Turuti majikanmu, Taejun-ssi…” Baekhyun ikut berteriak. Ia mengerti betul akan kegelisahan Hanna saat ini. Dan ia tak ingin melihat gadis itu semakin tersiksa. Dan pada akhirnya, Taejun menurut. Ia memang tak pernah bisa menolak permintaan Hanna, meski rasa khawatir menyelimuti hatinya. Tapi setidaknya, masih ada satu mobil polisi yang bertahan di belakang mobil Hanna.

Kini, mereka tak lagi berada di atas Jembatan Incheon. Namun, arah tujuan mobil mereka tak berubah—tetap ke arah Bandara International Incheon. Meski itu berisiko, karena sama saja mereka memberitahu tujuan mereka untuk menyembunyikan Hanna di luar negeri, tapi setidaknya, di bandara terdapat banyak penjaga keamanan. Dimana ada beberapa polisi yang juga disebar di sana, hingga mereka bisa meminta bantuan pada mereka yang ada di sana.

Sementara, bantuan untuk mereka akan segera dikirim dari kantor pusat dan siap melesat saat ini juga. Sedangkan, bantuan untuk mobil yang membawa Sehun sudah berada dalam perjalanan. Karena lokasi mereka yang terus berpindah-pindah, para opsir sedikit kesulitan untuk segera menggapai dan memberikan bantuan pada Sehun dengan segera. Itu semua karena aksi melawan arah yang sempat mereka lakukan di Jalan Tol, hingga kini, mereka tak memiliki arah tujuan untuk lari.

“Berapa jauh lagi?” Hanna seperti orang yang buta arah. Ia merasa Bandara International Incheon sangat jauh, hingga mereka tak kunjung sampai. Padahal, ini bukan kali pertamanya ia ke bandara itu.

“Sedikit lagi, Chagi… Tenanglah!” Luhan kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Mencoba untuk menenangkannya, meski ia sendiri merasa gelisah.

Sementara Baekhyun, mencoba untuk tetap fokus pada jalanan di depannya. Dengan lihai, ia melewati mobil-mobil di depannya—mengikuti apa yang dilakukan kedua mobil polisi yang ada di depannya. Beruntung, mereka tak terjebak lampu merah saat melewati perempatan jalan, hingga mereka tak perlu khawatir Black ID bisa menggapai mereka dengan segera.

Namun, tanpa diduga oleh mereka, ada lima mobil yang dengan nekadnya menerobos lampu merah dari arah persimpangan sebelah kiri jalan. Membuat arus lalu lintas kembali kacau, suara klakson mobil bahkan terdengar di mana-mana. Baekhyun yang mendengar kembali terjadi keributan pun menggeram.

Dan yang lebih gilanya lagi, mereka melihat rombongan mobil sport melaju di depan mereka. Itu berarti, Black ID sudah menunggu mereka di jalan ini. Lima mobil yang tadi menerobos jalan pun sudah mengekor di belakang mereka bersamaan dengan mobil-mobil yang mengejar mereka sebelumnya.

“Kita terjebak dan kita kalah jumlah,” ujar Baekhyun tak percaya.

 

regret

“Sekarang!”

Bruk.

Debuman pintu mobil terdengar cukup keras. Mereka yang baru saja keluar dari dalamnya segera berlari, mencari tempat bersembunyi. Black ID yang menyadari targetnya berhenti dan keluar dari dalam mobil pun ikut melakukan hal yang sama. Mereka ikut keluar, dan kemudian berlari mengejar mangsanya.

Salah satu dari opsir sempat melirik ke belakang, dan saat itu juga ia sadar, “Mereka memakai topeng…”

“Tentu saja. Mereka tak ingin wajah mereka terlihat,” timpal Sehun. Kaki panjangnya terus berlari cepat. Persetan dengan bensin yang habis, mengumpat pun percuma. Ingin sekali ia berbalik dan kemudian menembak mereka satu per satu, namun sayangnya, ia tak bisa melakukan itu. Karena saat ini, mereka berada di daerah pertokoan, dimana banyak orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Namun bukan, bukan berarti Sehun takut akan salah sasaran, ia hanya takut Black ID menggila dengan menembaki warga yang ada di sana. Ia sendiri cukup pandai untuk membidik lawan dari celah tersempit sekalipun, namun jika Black ID ikut menembak, maka ceritanya akan lain. Bukan ia yang akan menjadi korban, tapi penduduk yang akan bernasib naas.

Sepertinya Sehun benar-benar telah kembali, ia tak lagi egois dengan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia tak ingin ada orang lain yang terluka lagi karena dirinya. Sudah cukup ia memperlakukan Hanna dengan buruk—dengan hanya mementingkan egonya, demi harta juga dendam. Dan ia tak ingin itu terjadi lagi pada orang-orang yang bahkan tak dikenalnya, hanya karena ingin tetap hidup. Tidak. Sehun tidak mau.

Sementara, seorang anggota Black ID mulai merasa jengah akan aksi saling mengejar yang tengah mereka lakukan. Sebuah pistol berwarna hitam metallic pun ia arahkan pada Sehun. Beruntung, Sehun sempat melirik ke belakang hingga ia sadar akan bahaya yang mengincarnya. Dan pada akhirnya, ia mengeluarkan tembakan peringatan dengan menembak ke atas. Membuat semua orang yang mendengar suara tembakan itu refleks menunduk.

Dor!

Satu suara tembakan lagi terdengar. Dimana arah tembakan itu diperuntukan untuknya. Beruntung Sehun berhasil menghindar dengan cepat, tanpa takut peluru itu akan mengenai penduduk yang ada di sana. Karena semua orang telah dibuat menunduk olehnya, hingga pada akhirnya peluru itu hanya bersarang di tembok.

Semua opsir pun kembali dibuat kagum olehnya. Mereka tak menyangka Sehun tetap mementingkan keselamatan orang lain di saat genting seperti ini. Membuat mereka tak yakin, Sehun benar-benar seorang penjahat. Karena jika mereka yang diincar dan tahu akan diincar mungkin mereka akan langsung menembak balik sebelum tertembak. Hingga melupakan risiko yang ada, jika mereka menghindar maka peluru akan terus melaju dan kemudian bersarang di tubuh penduduk yang tak berdosa.

Kini, mereka tak bisa lari lagi. Karena jika mereka kembali berlari, maka Black ID akan kembali menembak. Sementara jalanan di depan mereka kini lurus tak ada belokan. Hingga kemungkinan tertembak jauh lebih dominan daripada selamat dari kejaran. Semua orang yang ada di sana pun menyadari akan adanya bahaya, hingga mereka hanya bisa menunduk tanpa berani berpindah tempat.

Sementara, masing-masing dari mereka sudah siap dengan senjata di tangan, dengan arah peluru yang menuju tepat ke lawan. Hingga ketegangan tercipta di antara kedua kubu.

“Menyerahlah Oh Sehun, kami tidak akan membunuhmu jika kau tidak melawan!” Salah seorang dari empat pria bertopeng berucap memperingatkan.

“Sebenarnya siapa kita, siapa mereka sih? Bukankah seharusnya kita yang berkata seperti itu?” Protes seorang opsir. Ia merasa ada yang salah di sini.

“Kita polisi, mereka penjahat. Tapi kita yang dikejar penjahat, bukan kita yang mengejar!”

Untuk yang kesekian kalinya, Sehun memutar bola matanya malas. Ia tak menyangka, di saat seperti ini, orang-orang bodoh itu masih saja sempat memperdebatkan sesuatu yang tak penting.

“Aku bahkan tidak mengerti mengapa kita terus berlari?”

“Itu karena tadi kita kalah jumlah…”

“Bisakah kalian fokus?” Sehun jengah. Kupingnya panas. Sementara pikirnya kalut, memikirkan jalan keluar terbaik agar tak ada yang terluka.

” . . . ” Beruntung mereka langsung menurut, dengan pistol yang masih mengarah ke depan, mencoba untuk lebih fokus dari sebelumnya. Dan tanpa disadari mereka, sedari tadi Sehun lebih terlihat seperti seorang pemimpin ketimbang penjahat yang harus dilindungi.

Kini, manik Sehun bergerak lincah—mengamati keadaan sekitar, mencoba untuk membaca dan memahami situasi. Sebelum akhirnya, kembali menatap tajam musuhnya.

“Kalian ingin membunuhku?” tanya Sehun menyelidik sekaligus menantang.

“Sebenarnya tidak. Tapi jika kau terus melawan, maka kami akan melakukannya,” seorang anggota Black ID menjawab, sembari menggendikkan bahunya tak acuh. Membuat Sehun tersenyum kecil mendengarnya.

“Kalian tidak berubah,” ujar Sehun.

“Kau mengenal kami, Oh Sehun. Dan kau tahu kami tidak akan bisa melakukannya, karena kita tumbuh dan belajar bersama di tempat yang sama,” ujar orang yang berbeda. Namun, topeng mereka sama, dimana mereka hanya menggunakan sebuah topeng berwarna putih dengan bentuk yang menyerupai wajah datar.

Sehun sendiri membenarkan. Salahkan saja Black ID yang mengajarkan mereka akan kesetiaan, hingga mereka (para sniper) memiliki ikatan yang kuat antar satu sama lain. Dan saling menghargai serta membantu antar sesama anggota.

“Lebih baik kau ikut kami, Sehun. Namun, kami tidak bisa memastikan kau tidak akan terluka saat menghadap Pimpinan nanti.” Seorang pria yang berada di barisan paling depan ikut berucap.

“Dan istrimu, kami rasa dia juga sudah bersama anggota lain.” Pria di sampingnya menambahkan.

“Apa? Apa maksudmu?” tanya Sehun, dengan air muka yang sulit diartikan.

“Aku tahu kau tidak bodoh, Ice Prince. . . Jika kau tak ingin dia terluka, maka ikutlah dengan kami.”

Deg.

Tangan Sehun turun perlahan, lalu berhenti tepat di samping tubuhnya. Jantungnya bedebar luar biasa. Firasat buruk yang sedari tadi menyelimuti hatinya pun semakin menjalar. Ia tak menyangka ternyata dugaannya benar, bahwa Hanna dalam bahaya.

“Tidak. Itu tidak mungkin. Nyonya Oh dikawal oleh 14 orang anggota kepolisian dan 10 orang bodyguard.” Tampik seorang opsir. Mencoba menguatkan Sehun yang mulai goyah.

“Kami melepas 20 anggota untuk mengekor mobil yang membawa istrimu. 10 anggota untuk menunggu mobil yang membawa istrimu, dan terakhir 10 anggota untuk menghalangi jalan istrimu.”

Deg.

Semua opsir termasuk Sehun membelalakkan mata tak percaya. Mereka tak menyangka, Black ID benar-benar gila—mereka bahkan berani bermain secara terang-terangan.

“Kami bisa melakukan pembelaan untuk melindungi nyawamu Sehun, tapi tidak dengan istrimu. Karena hanya kau yang bisa menyelamatkan nyawanya.”

Sehun kaku.

“Kami tahu apa masalahmu dan apa yang kau rencanakan selama ini, tapi kami hanya bungkam. Namun kau tahu, dalam sebuah divisi pasti ada mata yang bersembunyi. Dan mata itu sudah terlalu banyak melihat, hingga Pemimpin tahu apa yang sedang terjadi. Koyuki bahkan sudah dirawat di rumah sakit.”

“A-apa?” Sehun tergugu. Tubuhnya lemas seketika.

“Ya Sehun. Lebih baik kau ikut dengan kami—”

“Tidak. Tidak boleh. Tuan Oh tawanan kami,” sela seorang opsir, membuat marah semua anggota Black ID.

Cukup. Mereka sudah cukup lelah bermain kejar-kejaran, padahal mereka hanya ingin bicara baik-baik pada Sehun sebagai rekan sesama sniper. Namun sayangnya, Sehun sempat mengira mereka berasal dari divisi lain yang diperintahkan untuk membunuhnya secara langsung. Salahkan juga Black ID, mengapa mereka membagi organisasi itu ke dalam beberapa divisi dengan pelatihan yang berbeda. Dari mulai kelas psychopath, sniper, hacker, intelijen (mata-mata), dan bisnis. Hingga Sehun mengira, bahwa mereka berasal dari kelas pertama—dimana buronan tingkat S yang berada di dalamnya. Namun, beberapa dari mereka yang berbakat memang mengikuti hampir semua pelatihan. Termasuk Sehun.

“Tutup mulutmu,” desis seorang sniper, “cepatlah Oh Sehun, sudah cukup kita membuang-buang waktu!” Sambungnya—sarat akan perintah.

“Tidak. Tuan Oh tanggung jawab kami. Kami tahu kalian akan membunuhnya!”

Dua orang opsir mengambil tempat di depan Sehun, mencoba untuk tetap melindungi pria itu. Suasana di sana pun terasa semakin tegang, warga yang ada di sana bahkan terlihat semakin ketakutan, namun mereka lebih takut untuk lari dari tempat itu. Karena bisa saja, ketika mereka mencoba untuk lari, para penjahat itu menembak.

“Menyingkirlah, jika kau tidak ingin mati,” ujar pria bertopeng itu lagi.

“Tak apa. Biarkan aku ikut bersama mereka, kalian cukup ikuti aku dari jauh. . .” Sehun berbisik pelan, “Aku akan baik-baik saja, sungguh! Kalian tidak perlu khawatir, karena kalian bisa menangkapku lagi,” sambung Sehun. Membuat para opsir kalut dibuatnya. Namun, apa yang dikatakan Sehun ada benarnya, dimana mereka bisa mengikuti ke mana Black ID membawanya dan kemudian menemukan Markas Besar Black ID yang baru.

“Tidak. Itu berisiko, jika Anda terbunuh maka—”

“Berhenti berdebat!” Seorang sniper benar-benar telah kehilangan kesabarannya, saat mendengar suara opsir yang menolak permintaan Sehun—meski ia tak tahu apa yang dikatakan Sehun pada mereka. Tangannya pun kembali terangkat dengan ujung senapan yang mengarah pada opsir itu.

“Kami tetap tidak akan membiarkan kalian membawa Tuan Oh…!!!” Tantang opsir itu tak gentar, meski pria bertopeng itu siap membunuhnya kapan saja.

“Baiklah, jika itu yang kalian inginkan—” pria bertopeng itu mulai menarik pelatuknya, pun dengan sang opsir.

“Tidak hentikan!”

Dor!

“AAKH. . .”

DEG.

“Bodoh!”

“TUAN…!!!”

“AAAA. . .”

Semua warga yang menyaksikan ikut histeris. Semua opsir bahkan membelalakkan matanya, lantas refleks menyangga tubuh yang mulai limbung itu.

“TUAN..”

“Eukh…” Sehun, hanya meringis—merasakan peluru panas yang menembus bahu sebelah kanannya. Rasa panas yang ditimbulkan pun menjalar sampai ke jantungnya, membuatnya merasakan rasa sakit yang teramat. Sial. Ia tertembak tanpa sempat mengelak, saat menyelamatkan opsir itu. Beruntung, peluru itu hanya mengenai bahu kanannya.

“Jangan menembak lagi, aku mohon! Mereka ketakutan,” ujar Sehun di sela-sela rasa sakitnya yang semakin menjadi. Matanya mengamati wajah orang-orang yang tak berdosa perihal masalah ini. Membuatnya iba akan wajah takut yang dilihatnya itu.

Lagi. Ia ingat akan wajah ketakutan Hanna. Bagaimana jika mereka benar, bahwa Hanna telah ditangkap? Gadis itu pasti akan sangat ketakutan. Dan bagaimana jika PTSD-nya kembali, sementara ia sedang hamil? Itu pasti akan berdampak buruk pada kondisi tubuhnya. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

“Maafkan aku, Tuan—”

“Biarkan aku pergi..!! Istriku dalam bahaya,” sela Sehun cepat. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia mencoba untuk melepaskan diri dari tubuh yang menopangnya. Darah di bahunya bahkan semakin banyak merembes keluar. Namun ia tak peduli, semua pikirannya hanya di penuhi oleh satu nama. Rasa khawatir untuk gadis itu pun jauh lebih dominan dari rasa sakitnya kini.

Pelan – pelan Sehun berjalan ke arah para sniper, tanpa memerdulikan lagi reaksi para opsir. Tubuhnya bahkan tetap tegap saat berjalan ke arah mereka. Seolah dirinya tak sedang terluka. Namun, seorang sniper segera datang menghampiri, lantas meraih tangan kirinya untuk ia kalungkan di leher. Mencoba untuk membantu Sehun berjalan.

Sementara para opsir, hanya diam memperhatikan punggung mereka yang semakin menjauh. Tanpa bisa mencegah, karena mereka mengerti akan perasaan berkecamuk yang Sehun rasakan.

 

regret

 

Baekhyun terpaksa menghentikan laju mobilnya, mengikuti mobil-mobil yang ada di depannya. Mereka terpaksa berhenti, karena jalan mereka kini telah di-blocking oleh mobil-mobil mewah itu. Sementara, mereka juga tak bisa memutar balik arah kemudi, karena di belakang pun sudah ada yang menghalangi.

“Kita berakhir,” ujar Baekhyun pasrah.

“Mereka pintar sekaligus licik.” Luhan menggeram menahan amarah. Pelukannya pun ia eratkan pada tubuh Hanna, agar gadis itu tak semakin ketakutan.

Kini, bisa mereka lihat, orang-orang dari Black ID mulai keluar dari dalam mobilnya dengan pistol di tangan. Mereka bahkan membelalak tak percaya saat menyadari orang-orang itu memakai topeng.

“Benar-benar pintar.” Baekhyun berdecak kagum.

Para opsir pun mulai keluar dari dalam mobil. Semua pengawal Hanna juga ikut melakukan hal yang sama, namun mereka segera mengambil tempat di sekitar mobil majikannya. Seolah tak takut mati, meski tubuh mereka tak terhalang apa pun. Karena Black ID ada di depan dan di belakang bagian tubuh mereka. Mau bersembunyi di mana pun Black ID akan tetap bisa menjangkau mereka. Serba salah.

Tuk! Tuk!

Taejun mengetuk kaca jendela mobil. Baekhyun yang mengerti pun segera membukanya. Namun tanpa diduganya, pria itu justru melempar dua buah pistol ke arahnya.

“Kalian berdua harapan terakhir,” ujar Taejun, lantas mendapat anggukan mengerti oleh Baekhyun dan juga Luhan. Hanna sendiri hanya menatap nanar punggung pengawal setianya itu.

“Aku mohon, jaga diri kalian!” Mohon Hanna dengan air mata yang sudah kembali mengalir di pipinya. Taejun bahkan bisa mendengar dengan baik suara bergetar majikannya itu.

“Serahkan dia, maka kalian akan tetap hidup!” ujar salah satu di antara mereka. Sementara tangannya, memainkan pistol santai.

“Tidak akan!” Seorang opsir menantang berani.

Senyum licik di balik topeng pun tercipta, “Baiklah—”

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan terdengar begitu cepat. Saat itu juga, tiga orang opsir di barisan depan jatuh. Berikutnya suara tembakan lain kembali terdengar, dimana kubu Hanna ikut melepaskan tembakan. Luhan langsung menundukkan kepala Hanna, dengan kedua tangan yang menangkup telinga gadis itu kuat. Ia khawatir trauma Hanna kembali, meski tak bisa dipungkiri, tubuh Hanna memang sudah bergetar hebat.

“Bertahanlah, Hanna,” ujar Luhan khawatir.

Baekhyun sendiri mulai mengeluarkan tangannya dari jendela dengan tubuh yang bersembunyi. Tak lama, ia ikut melepaskan tiga buah peluru asal. Beruntung, salah satu pelurunya berhasil mengenai seorang lawan.

Taejun dan beberapa bawahannya pun kembali ke dalam mobil. Mencoba menembak dari dalam, mengikuti apa yang dilakukan oleh Baekhyun.

Musuh yang memahami taktik mereka pun seketika membombardir jendela kaca mobil mereka. Kaca depan mobil Taejun bahkan sudah pecah akibat tembakan yang dilayangkan padanya. Hal yang sama pun terlihat di kaca depan mobil Baekhyun. Sementara mereka sudah bersembunyi di bawah jok mobil. Mencoba untuk berlindung dari tembakan-tembakan itu.

Baku tembak itu masih terus terjadi. Beberapa orang bahkan sudah tumbang, tak hanya dari kubu Hanna, dari kubu Black ID pun sudah banyak yang tertembak. Namun, kubu Hanna tetap kalah jumlah.

Pelan – pelan, beberapa orang dari kubu lawan mulai bergerak mendekat. Mencoba menggapai mobil yang berisi Hanna di dalamnya. Beberapa pengawal pribadi Hanna yang sebelumnya bertahan di dekat mobil itu pun sudah tergeletak—tak sadarkan diri. Hanya tersisa dua orang pengawal di dalam mobil dan satu orang opsir yang berlindung di samping mobil yang berada paling ujung. Opsir itu mengamati pergerakan mereka dari jauh tanpa melepas tembakan, seolah menunggu saat yang tepat untuk memberitahukan keberadaannya.

Sempat terjadi kesenggangan di antara mereka, dimana suara tembakan tak lagi terdengar. Seorang sniper dari Black ID pun sudah tepat berada di samping pintu mobil penumpang—dimana ada Hanna di dalamnya. Dan saat ia membuka pintu mobil,

Dor!

Saat itu juga suara tembakan kembali terdengar, diikuti dengan jatuhnya sniper tersebut dengan luka tembak yang menembus leher. Luhan yang melepaskan tembakan itu pun segera merengkuh kembali tubuh Hanna.

Black ID yang sempat mengira orang-orang yang berada di dalam mobil itu sudah tewas pun kembali melepaskan tembakannya. Dengan kembali membombardir mobil itu tanpa ampun. Dan saat itulah, seorang opsir melepaskan tembakannya dengan cepat, hingga menjatuhkan tiga orang lawan sekaligus. Namun naas, nasibnya berakhir sama dengan rekannya, dimana ia tak sempat menghindar saat sebuah peluru berhasil menggapainya.

Kini, jumlah mereka kalah jauh, dimana anggota Black ID masih banyak yang tersisa, sementara dari kubu Hanna hanya tersisa lima orang termasuk Hanna sendiri di dalamnya. Taejun sendiri masih mencoba untuk mencari celah dari tempatnya bersembunyi. Ia tak bisa gegabah dengan menyerang secara langsung, biar bagaimanapun Hanna adalah prioritasnya dan jika ia mati, maka ia tak bisa lagi melindungi gadis itu.

Sesaat ia melirik kedua anjing kecil Hanna yang terlihat ketakutan. Beruntung mereka tak menggong-gong, sementara sugar glider-nya sudah bersembunyi dalam pelukan anjing-anjing itu.

Merasa kondisi kembali lenggang. Black ID kembali melangkah mendekat, tanpa tahu seorang pengawal Hanna tengah berbaring (pura-pura mati) di dekat mobil majikannya. Hingga pada saat yang tepat, ia melepaskan tiga buah tembakan ke arah tiga orang yang berbeda. Namun sayangnya, seorang Black ID yang menyadari keberadaannya segera melakukan hal yang sama dengannya. Hingga pria itu bernasib sama dengan orang-orang yang ditembaknya.

Lenggang, namun tegang. Semua yang tersisa merasakan hal yang sama, tak hanya dari kubu Hanna, Black ID pun merasakan demikian. Taejun sendiri hanya bisa menatap nanar tubuh salah satu bawahannya yang tak lagi bernyawa itu. Kejam.

“Taejun?” pria di samping Taejun berbisik, “Kita tak akan menang melawan mereka. Lebih baik kita menyerah, setelah itu kita bisa membuntuti mobil mereka dengan meminta bantuan pada SWAT. Lagi pula aku yakin, mereka tidak akan membunuh Nyonya Oh, karena Tuan Khaza ayahnya masih hidup.”

“Aku juga berpikir ke arah sana. Jika kita terus melawan, maka kemungkinan Nyonya akan terluka itu jauh lebih besar. Terlebih, Nyonya sangat takut pada suara tembakan. Dan aku tak tega jika harus membiarkannya terus-terusan ketakutan.” Jawab Taejun terlihat menimang. Jika ia membiarkan Hanna dibawa, maka Sehun akan sangat marah padanya. Namun jika ia terus melawan, maka Hanna akan terluka, dan Sehun akan jauh lebih marah lagi.

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?”

“Berpura-pura mati,” ujar Taejun, seketika langsung menutup matanya dengan kepala yang bersandar pada jok mobil, dengan posisi yang masih sama seperti sebelumnya (duduk di bawah). Sementara rekannya, langsung mengikuti hal yang sama seperti apa yang ia lakukan.

“Menyerahlah! Hanya tinggal kalian yang tersisa,” titah seorang anggota Black ID, dengan fokus yang mengamati keadaan sekitar. Takut, jika masih ada anggota yang tersisa dan berpura-pura mati seperti tadi.

Baekhyun yang mendengarnya pun terpaksa keluar dengan kedua tangan yang terangkat ke atas. Terkutuklah bantuan yang datang, karena mereka tak kunjung tiba. Baekhyun begitu kesal akan pergerakan anggota kepolisian yang menurutnya lamban.

Sementara Luhan, ikut melakukan hal yang sama dengannya, sambil membantu Hanna untuk keluar dari dalam mobilnya. Sebelum akhirnya, kembali membawa gadis itu ke dalam dekapannya.

“Apa kau yang bernama Byun Baekhyun?” tanya seorang sniper, sembari memperhatikan Baekhyun dari atas ke bawah. Karena hanya Baekhyun yang asing baginya.

“Ya.” Jawab Baekhyun singkat.

“Bukankah Pimpinan menyuruh kita untuk membawa pria yang bernama Byun Baekhyun juga?” tanya sniper yang lain pada rekannya.

“Ya. Dan karena dia, Koyuki terluka,” jawab sniper itu sinis.

“Apa maksudmu?” Baekhyun yang mendengarnya seketika bertanya.

“Kau akan tahu nanti. Cepat seret mereka!” ujarnya dilanjut perintah yang langsung dituruti oleh rekan-rekannya.

Sementara Luhan, Baekhyun dan Hanna hanya bisa menurut. Hanna bahkan sama sekali tak membuka matanya dengan bibir yang terus terkatup rapat. Ia hanya takut melihat keadaan sekitar, dimana banyak tubuh yang tergelak dengan darah yang mengalir ke mana-mana. Luhan sendiri hanya bisa menatap nanar tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan itu. Dan saat matanya menangkap wajah Taejun, saat itu juga hatinya teriris. Ia tahu, adik kecilnya begitu menyayangi semua pengawal pribadinya, namun kini, mereka semua telah tiada.

“Gwaenchana, Chagi. . . Semuanya akan baik-baik saja!” Ujar Luhan. Mencoba untuk menenangkan Hanna yang semakin ketakutan, dengan semakin mempererat rangkulannya pada tubuh mungil gadis itu. Namun sayangnya, Hanna tak mampu bertahan dari bayang-bayang yang terus menerobos masuk ingatannya. Hingga pada akhirnya, ia jatuh pingsan.

regret

Semuanya terlihat gelap, sama seperti pada saat ia menutup mata. Hawa dingin pun seketika menjalar, menyentuh kulit tubuhnya. Rasa sakit juga perih kembali ia rasa di bahu sebelah kanannya. Dan saat ia hendak menyentuh luka itu, saat itu juga ia sadar,

tangannya dirantai.

Damn it. Sehun mengumpat, namun tak membuahkan hasil apa pun. Tubuh polosnya kembali bersandar pada tembok besi di belakangnya, hingga membuat hawa dingin semakin menjalar ke sekujur tubuhnya. Beruntung, lukanya sudah diperban dan mungkin itu juga alasan mengapa ia tak lagi memakai baju.

Sehun sendiri tak ingat apa pun mengapa ia bisa sampai ke tempat ini. Ia hanya ingat, bahwa ia jatuh pingsan saat masuk ke dalam mobil. Setelahnya, ia tak tahu lagi apa yang terjadi. Dan ketika bangun, ia sudah duduk dengan kedua pergelangan tangan yang dirantai.

Kreek.

Perlahan fokusnya teralihkan, saat pintu besi di depannya terbuka, lalu memperlihatkan seseorang yang amat dikenalnya. Jantungnya bahkan refleks berdebar begitu saja. Tubuhnya bahkan nyaris membeku melihatnya.

“Oh Tidak—”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

¤ To Be Countinued ¤

.
.
.
Author’s Note

Hei…???

Lagi-lagi aku membagi chapter ini ke dalam dua part^^


Dan maaf untuk segala kekurangannya ya. R13A dan A2 itu udah selesai sejak 3 hari yang lalu, tapi karena aku sempet galau mikirin kalian jadi baru sempet dipost sekarang…hehe *maafkan

Aku orangnya emang gitu, kebanyakan mikir, baperan juga-,- dan pada akhirnya, aku terbuka sama kalian tentang ketakutanku itu. Dan makasih untuk responnya ya, aku jadi yakin buat terus lanjut, karena emang ini style-ku dalam menulis. Dan buat kalian yang masih di bawah 17, aku harap kalian bisa membedakan mana yang baik dan buruk dari FF aku. Jadi, jangan sampai terjerumus gara-gara FF ya, cukup ambil yang baiknya dan buang yang buruknya. Anggap yang buruk itu sebagai hiburan jangan tuntunan.

Aku juga punya prinsip buat bikin FF yang ada pesan moralnya dan mengandung makna. Untuk FF pertama aku sendiri gak banyak yang bisa aku sampaikan dalam segi amanat, karena aku bener-bener dalam tahap belajar (sekarang pun masih sama). Tapi untuk Regret dan FF-FF aku kedepannya, akan aku usahakan untuk lebih menekankan amanat dalam cerita itu sendiri.

|| Sekedar Kilasan untuk FF aku ke depannya ||

Ambition, menceritakan tentang gemerlapnya dunia dengan segala kesempurnaannya. Dimana ada seorang gadis yang begitu berambisi untuk menggapai mimpinya dan menjunjung tinggi kehormatannya sebagai perempuan di tengah-tengah gaya hidup yang menggoda. [FF ini ada karena aku miris melihat remaja zaman sekarang, dimana banyak di antara mereka yang sudah kehilangan kehormatannya sebagai perempuan, padahal kita hidup di negara berkembang dan mayoritas penduduk agamis. Konfliknya sendiri diangkat dari sebuah artikel dan akan ada pesan-pesan tersendiri untuk FF Ambition ini, selain pengetahuan umum yang disajikan di dalamnya.]

The Violinist, dimana menceritakan kisah tentang seorang gadis yang hanya bisa melihat gelapnya dunia, namun menangis, saat mendengar suara orkestra—karena mimpinya untuk ikut di dalamnya. [Ini FF yang akan aku tulis setelah Ambition. Jika Ambition menceritakan kesempurnaan, maka The Violinist ini sebaliknya. Dan The Violinist ini akan aku tekankan pada amanat untuk lebih menghargai hidup. Aku sempat berpikir untuk menjadikan The Violinist ini buku, tapi aku sadar sama kemampuan menulis aku yang masih di bawah kata bagus.]

Pemainnya sendiri gak akan berubah, tetep Sehun-Hanna. Nama Khaza Hanna sendiri di ambil dari salah satu tokoh animasi Naruto The Movie, Koyuki Kazehana. Jadi, Hanna itu bukan nama korea aku, itu cuma nama yang aku suka. Aku sendiri gak pernah ngerasa aku itu Hanna, karena kalau jadi author itu harus bisa jadi semua cast biar karakternya dapet. Cukup kalian aja yang jadi Hanna dan aku yang ngarahin peran…haha Dan aku lebih menekankan peran karakter cast yeoja karena kalian semua yeoja. Niatnya biar yang baca lebih masuk ke dalam cerita, tapi seperti yang kalian tau, aku cuma author yang tidak terlalu pintar dalam dunia tulis menulis. Jadi seperti inilah adanya^^

Terakhir, Terima kasih untuk kehadiran kalian selama ini….!!!

Saranghae ❤ Yeorobun

Regards,

Sehun’Bee

PS : Don’t Be Silent Readers and Plagiator, Okay^^

Advertisements

578 comments

  1. Kyaaa berdebaran jantung ini pas baca…
    Huh kalo ini film pasti seru banget…
    Sehun-Hanna fightingㅠㅠㅠㅠㅜ.ㅜ

    Like

  2. tetep menurut aku disini yg plg berperan memulai perang ya ayahnya sehun, egois sekali, bener² monster dan yg bikin tambah greget knpa polisinya pd lamban knpa nggk ada guardian udara i mean kyk pswat militer gitu hahaha

    Like

  3. Huh.. bangun tidur langsung ingat cerita ini dan langsung baca. Tapii ceritanya kok sedih banget. Apalagi lihat sehun dan hanna sepertinya tersiksa banget.. nyesek bacanya. Tapii juga keren. Apalagi lihat balack id yang pintar juga licik serta selalu bertindak lebih cepat… duh kok ya keren black id ituu…

    Like

  4. iihhhh sebel sama opsit yg bawa sehun, mereka ceroboh banget, bensin ja ga siap sedia dan karena mereka pula sehun jadi tertembak, gimana dengan nasib sehun dan hanna, kasian mereka. baru saja balikan eeeehhh, harus berpisah lagi,,
    yg kuat yah, semoga kalian dipertemukan kembali

    Like

  5. “Sebenarnya siapa kita, siapa mereka sih? Bukankah seharusnya kita yang berkata seperti itu?” Ini perkataan terkonyol di tengah2 ketegangan xD
    Serasa nonton film action xD
    Sehun akhirnya tertangkap?! Baekhyun, Hanna sama Luhan juga tertangkap?!
    Cuma bisa menganga sama kegesitan Black ID. Sehun!!! Cepat bangkit dan selamatkan hanna!!
    Oh, ya. Boleh q ngasih komentar buat penulisannya gak? (Udah bagus, apanya yang mesti di komen?). Seingat aku, kata penghubung seperti ‘dan’ itu nggak boleh di letakkan di awal kalimat. Trus di ff ini ada beberapa ‘dan’ yang ada di awal kalimat, tapi gak tau ding klo buat cerita itu berlaku atau nggak 🙂 cuma berpendapat ._.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s