Regret [Chapter 12]

regret

Title : Regret | Lovesick

Author : Sehun’Bee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun || Khaza Hanna || Xi Luhan || Byun Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [8063 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit >> PosterBySifixo@PosterChanel and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

Seperti yang kau tahu, dalam sebuah hubungan keterbukaan itu penting, karena keterbukaanlah yang akan melahirkan pengertian sekaligus keharmonisan.

¤ ¤ ¤

Jika cinta sudah memegang kendali, apa pun bisa dilakukan. Kita berdua sama-sama pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan cinta. Dan aku tak ingin menjadi pecundang untuk yang kedua kalinya, dengan kembali melepasnya.


Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7 ¤ Chapter 7 ¤  Chapter 8 ¤ Chapter 9A  ¤ Chapter 9B ¤ Chapter 10 ¤ Chapter 11

regret

Paspor dan visa dengan tujuan Bordeaux, Perancis, sudah masuk ke dalam handbag. Gadis yang menjadi pemiliknya masih menangis dengan bahu yang bergetar hebat. Kepalanya tertunduk sempurna, membuat air matanya terjatuh ke lantai kayu yang di pijaknya. Tak lama, sebuah tubuh membawa raganya ke dalam sebuah dekapan, hingga tangisan itu semakin pilu terdengar.

Tak ada percakapan yang terjadi. Keduanya hanya diam dalam tangis. Hanya ada suara isakan yang terdengar. Begitu mendominasi.

Gadis itu melingkarkan tangannya erat pada punggung lebar pria itu. Menghirup dalam aroma tubuh maskulin-nya yang tak akan ia hirup lagi dalam waktu lama. Hal yang sama dilakukan oleh pria itu. Dan sungguh, jika ia bisa dan cukup kuat, ia ingin gadis itu tetap tinggal di sisinya. Namun, Tuhan berkata lain. Tuhan ingin mereka tetap bersama dikemudian hari dengan sebuah perpisahan di hari ini. Sungguh menyakitkan.

“Aku akan menyusulmu, aku berjanji…” Pria itu berkata dengan begitu pilu. Namun ia tahu, ini yang terbaik untuk keduanya. Ia tak ingin gadis itu celaka karenanya.

“Myung—” tubuh gadis itu semakin bergetar. Hanya pria itu yang ia punya dalam hidupnya, setelah ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya akibat kecelakaan pesawat. Namun kini, ia harus rela jauh dari pria itu demi keselamatan nyawanya.

“Ini tidak akan lama Chagi. Setelah aku bebas, aku akan menyusulmu ke Bordeaux. Aku hanya tak ingin kau terluka, jika kau tetap berada di sini. Aku mencintaimu…” Myungsoo mengeratkan pelukannya. Ia tetap pada rencananya untuk mengkhianati Black ID, lalu kembali mengabdi pada negara. Dan mengirim Suzy pergi ke sebuah kota yang disebut sebagai kota anggur Perancis pun menjadi pilihan amannya. Ia akan menyembunyikan Suzy di sebuah perkampungan yang ada di sana, agar tak ada yang bisa melukainya.

“Aku akan menunggumu, Letnan. Pastikan kau baik-baik saja saat menemuiku, dan bawa Hanna bersamamu…” Suzy merenggangkan pelukannya. Kemudian menangkup hangat pipi Myungsoo, lantas menatapnya dengan genangan air mata di matanya.

“Hanna akan menyusulmu dan menemanimu di sana. Karena suaminya dan kakaknya akan menemaniku di penjara.” Myungsoo menenangkan. Detik berikutnya, belahan bibi mereka saling beradu lembut. Saling berbagi kesedihan di saat-saat terakhir mereka bersama. Sekaligus mengungkapkan cinta yang selama ini mereka rasa.

“Hanna sedang hamil. Kau harus cepat, sebelum Sehun menyadarinya dan kemudian membunuh anaknya…” Suzy berucap setelah melepaskan tautannya.

“Aku tahu, tapi aku tidak yakin Sehun akan melakukannya.”

“Ne?”

“Aku mengenalnya dengan baik, Suzy-a. Sehun bahkan tak sanggup membunuh Hanna, apalagi anaknya?!” Myungsoo terkekeh sembari menghapus aliran sungai kecil di pipi Suzy.

“Dia lebih memilih menembak Tuan Khaza daripada Hanna saat insiden itu. Namun, ia menyesali pilihannya karena tak membunuh Hanna saat itu. Karena ia pikir, Krystal mati bunuh diri karena Hanna. Bahkan, ia amat menyesal tidak menembak jantung Tuan Khaza saat itu. Ia justru menembak perutnya, hingga Tuan Khaza hanya jatuh koma. . . Karena ia pikir, jika Tuan Khaza mati, maka ia tidak akan menikah dengan Hanna dan Krystal akan tetap hidup sampai saat ini.”

“Dia bodoh. Itu kesalahannya! Mengapa ia begitu membenci Hanna?!”

“Karena pria bodoh itu begitu mencintainya. Seperti yang kau tahu, kecewa karena cinta itu begitu menyakitkan. Tak heran jika benci itu tumbuh dan menutupi perasaan cinta yang ada. Dan Sehun membiarkan benci itu berlarut-larut hanya karena ingin mengelak dari rasa sakit yang tercipta sebelumnya.” Jelas Myungsoo membuat Suzy mengerjap lucu.

“Sehun hanya mengelak karena tak ingin sakit hati?”

“Ya. Itu kesimpulan yang aku ambil saat terakhir berbicara dengannya di dalam mobil—di parkiran rumah sakit. Awalnya aku begitu kesal akan jawabannya yang mengatakan ‘tak bisa berubah’ namun kini aku sadari, pria itu tengah bertarung dengan batinnya. Ia hanya mengelak karena tak ingin kembali sakit hati, karena ia pikir, Hanna masih mencintai Baekhyun.”

“Astaga… Dia benar-benar bodoh!”

“Ya, bodoh karena cinta. Dan asal kau tahu, pernikahan Hanna dan Sehun akan berakhir dengan kematian Hanna dan Luhan. Itu sudah di rencanakan, jika Tuan Khaza berhasil dilenyapkan. Namun nyatanya, Sehun kembali tak sanggup untuk membunuh Hanna. Ia bahkan lebih memilih untuk keluar dari Black ID demi melindungi keselamatan nyawa Hanna. Dan melindungi Luhan dengan menjadikannya bagian dari Black ID sekaligus mata-mata. Dan itu semua ia lakukan tanpa disadarinya, bahwa cinta untuk kedua bersaudara itu masih tumbuh di hatinya.” Myungsoo menuntun Suzy untuk duduk di atas ranjangnya. Lalu membawa kepala gadis itu bersandar di bahunya.

“Kisah cinta mereka rumit, karena tak ada keterbukaan di antara satu sama lain. Hingga cinta itu tertutupi oleh ego masing-masing.” Myungsoo mengelus sayang surai coklat gadis itu, “Itu sebabnya aku selalu mengatakan padamu, jika ada masalah katakanlah agar tak terjadi kesalahpahaman di antara kita, dan berakhir dengan keributan besar yang memperenggang hubungan. . . Seperti yang kau tahu, dalam sebuah hubungan keterbukaan itu penting, karena keterbukaanlah yang akan melahirkan pengertian sekaligus keharmonisan.”

Suzy mengangguk mengerti, “Terima kasih, karena kau selalu terbuka padaku dan membuatku mengerti. Aku mencintaimu…”

“Aku juga mencintaimu…”

 

regret

 


“Kau sudah menemui mereka?”

“Belum. Maafkan aku…” Luhan melangkah menghampiri dengan sekantung buah di tangan kanannya.

“Aku tahu itu tidak mudah…” Yong Guk menepuk tempat kosong di sampingnya. Mengisyaratkan pada Luhan untuk duduk di sana. Luhan yang saat itu baru tiba pun mengerti. Ia lantas meletakkan kantung plastik berisi buah itu di atas nakas, sebelum akhirnya mendaratkan bokongnya di sofa.

“Bagaimana keadaannya?” titik fokus Luhan terkunci pada seorang gadis yang tengah tertidur lelap di atas ranjang pasien.

“Lebih baik. Dokter bilang, Yuki tidak mengalami luka dalam serius, ia hanya sedikit trauma.” Yong Guk ikut melakukan hal yang sama dengannya—menatap Yuki. Beruntung, ia dan Luhan langsung membawa gadis itu ke rumah sakit, hingga mereka bisa memastikan bahwa tak terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi pada gadis itu.

“Pergerakanku diawasi. Hingga membuatku sulit untuk menemui Sehun ataupun Myungsoo. Terlebih, nomor mereka tidak bisa dihubungi.” Luhan menghela napasnya berat. Penuh beban.

“Yang aku khawatirkan, Osamu berubah pikiran dan memilih untuk menghabisi mereka berdua,” Yong Guk menundukkan kepalanya dalam. Biar bagaimanapun, mereka berempat merupakan teman dekat. Mereka berlatih bersama, menjalankan tugas bersama, saling membantu, dan saling mengikat dalam sebuah hubungan. Dan mereka sama, mereka sama-sama manusia yang memiliki hati yang dirubah menjadi monster tak berhati. Hingga ketika ada salah satu diantara mereka yang terluka, perasaan tak rela pun menguasai. Seperti saat ini, Yong Guk sangat ingin membunuh Osamu karena telah melukai teman sejawatnya. Namun, ia tak memiliki kekuatan untuk itu, terlebih, Sehun dan Myungsoo pun ikut terancam.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Luhan menengadahkan kepalanya ke sandaran sofa—terlihat frustasi.

“Datanglah ke rumah Sehun langsung–”

“Sehun mengancam akan melukai adikku, jika aku datang tanpa perintahnya,” sela Luhan cepat.

“Dia tidak akan melukai adikmu, jika ia tahu alasan kedatanganmu. Lebih baik kau cepat, sebelum semuanya terlambat. Lagi pula, semua kegiatan kalian sudah diketahui—semuanya sudah terlanjur. . . Sekalipun anggota lain tahu kau datang menemui Sehun, itu tidak akan menjadi masalah lagi karena memang semuanya sudah menjadi masalah.”

“Arraseo…”

 


regret


Kantor Kejaksaan Distrik Seoul terlihat sibuk seperti biasanya. Beberapa orang terlihat berlalulalang di koridor, sebagian lagi terlihat sibuk di belakang meja. Ada yang memeriksa berkas, adapula yang sibuk dengan komputer layar datar di depannya. Namun, ada seorang pria yang hanya sibuk dengan dunianya. Tangannya sedari tadi hanya sibuk memainkan bolpen di mejanya, membuat suara ketukan kecil terdengar berirama.

Baekhyun tak fokus. Raut wajahnya gelisah, pikirnya bercabang-cabang tak tentu. Sorot matanya datar–menatap tanpa minat objek di depannya. Rencana yang telah ia susun bersama Myungsoo dan juga Tuan Lee, membuatnya tak fokus seperti sekarang ini. Bahkan ia masuk kerja hanya sebagai bentuk formalitas, karena setelah ini, ia akan menemui atasannya untuk meminta cuti demi menghindari kejaran Black ID. Sungguh memuakkan. Awalnya ia menolak usulan Myungsoo untuk bersembunyi sementara waktu, namun ketika ia ingat bahwa bukan hanya nyawanya yang teracam—anggukan kepala pun ia berikan.

Hanna, karena gadis itu, Baekhyun menyetujui semua rencana Myungsoo. Ia tak mungkin membiarkan gadis itu sendirian sementara Luhan dan Sehun terlibat. Dan Suzy –kekasih Myungsoo– ia yakin gadis itu pasti sudah terbang ke Perancis–menunggu mereka di sana—sampai surat penangkapan untuk Sehun dan Ayahnya turun. Berikutnya, nama-nama lain akan ikut terseret.

Terdengar mudah memang, Tuan Lee bahkan sudah menurunkan pasukannya untuk melindungi para saksi. Namun bagaimana dengan Black ID? Mereka pasti tidak akan tinggal diam saja. Entah apa yang akan mereka lakukan, karena biar bagaimanapun, mereka memiliki jaringan yang luas. Dan Baekhyun yakin, akan tetap ada korban sehebat apa pun pasukan Tuan Lee melindungi para saksi.

“Baekhyun-ah…”

” . . . ”

“Ssstt… Baekhyun-ah?”

” . . . ”

“Astaga Baekhyun…”

Sudah ketiga kalinya, namun yang dipanggil masih larut dalam dunianya. Himchan yang merasa pendengaran Baekhyun sudah bermasalah pun tak segan melempar buku setebal 340 halaman ke bahunya.

Dukh.

“Akh…”

Bruk.

Sukses. Bahkan semua fokus rekan kerjanya kini tertuju padanya juga Baekhyun. Himchan yang menyadari itu pun, hanya bisa tersenyum kikuk menanggapinya. Baekhyun bahkan ikut memberikan death glare andalannya, sembari melempar balik buku yang jatuh ke lantai itu padanya.

“Apa masalahmu?” desis Baekhyun tak suka.

“Kau tuli,” jawabnya tak kalah sinis.

“Mwo?” geram Baekhyun.

“Aku sudah memanggilmu beberapa kali, tapi kau tak kunjung menoleh.” Himchan bersungut-sungut kesal.

“Ckk… Kekanakan,” cibir Baekhyun sembari kembali pada posisinya.

“Hei, aku mau bertanya…” Himchan menginterupsi.

“Apa?” ketus Baekhyun.

“Kau tahu kemana Koyuki? Hari ini dia tidak masuk dan tidak ada kabar apa pun darinya.”

” . . . ”

Baekhyun kembali terdiam. Pikirnya kembali menerawang, saat Myungsoo menyebut beberapa nama yang berada pada jajaran pemerintah, tapi juga berstatus sebagai anggota Black ID.

“Koyuki. Nama itu pasti sudah tak asing lagi di telingamu, benar?”

“Ya. Aku memiliki teman bernama Koyuki…”

“Dan temanmu itu merupakan salah satu dari kami…”

Baekhyun memejamkan matanya. Mencoba untuk menenangkan jantungnya yang tak tenang di dalam sana. Kecewa. Ya, Baekhyun kecewa saat mengetahui teman wanita satu-satunya yang ia miliki di kantor kejaksaan, merupakan bagian dari Black ID. Dan yang lebih buruknya lagi, gadis yang sudah dianggapnya teman dekat itu mengkhianatinya dengan memata-matai semua kegiatannya.

“Sial..” umpatan kecil keluar begitu saja dari dalam mulut Baekhyun. Membuat Himchan mengerjap bingung mendengarnya.

“Baekhyun? Baekhyun-ah?” panggilnya lagi. Namun, yang ia lihat justru kepalan tangan Baekhyun pada bolpen hitam miliknya.

Baekhyun marah.

Glup.

Himchan menelan pahit ludahnya. Sedikit merinding akan reaksi Baekhyun yang menurutnya berlebihan, padahal ia cuma bertanya. Ya, setidaknya itu yang Himchan tahu.

“Mianhae Baekhyun, aku tidak bermaksud—”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu dimana dia, dan aku tidak mau tahu…!!!” Sela Baekhyun cepat.

“Baekhyun? Ada apa denganmu?”

 

regret

Sehun berdiri kaku tak bersuara. Manik elang-nya menatap tanpa minat gedung-gedung pencakar langit di depannya. Angin kencang yang bertiup memberantakkan anak rambutnya pun tak ia hiraukan. Karena hanya tempat ini—gedung kantor miliknya—yang bisa ia datangi sebagai tempat pelarian sesaat.

Pelan-pelan ia tutup matanya. Menenangkan perasaan tak nyaman yang tak kunjung pergi dari hatinya. Namun, saat mata itu tertutup, wajah cantik itu pun muncul. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana air mata itu jatuh dari kedua mata indahnya. Hazel murninya bahkan masih berkaca-kaca saat melihat ke arahnya. Begitu menyakitkan. Tak ada yang lebih menyakitkan selain melihat air mata kesedihan jatuh dari orang yang kau sayangi. Tak ada. Terlebih, jika air mata itu ada karenamu.

Tangan kanan Sehun terangkat, meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Kemarin, bukanlah pertama kalinya ia melihat Hanna menangis dengan tubuh yang bergetar hebat. Namun, kemarin adalah saat dimana untuk yang pertama kalinya, ia ikut menangis karena gadis itu. Lebih tepatnya, menangisi kebodohannya karena telah melukainya.

Setelah itu, ia bahkan tak berani mengucap sepatah kata apa pun lagi, karena Hanna hanya diam membisu. Hingga tak terjadi interaksi apa pun lagi diantara mereka. Setelahnya, rasa bersalah pun semakin dalam menggerogoti hatinya, namun ia memang merasa tak pantas untuk mendapatkan ‘maaf’ dari Hanna. Karena sudah terlalu banyak rasa sakit yang telah ia berikan pada gadis itu, jadi tak masalah jika ia tak mendapat maafnya. Asal ia bisa memperbaiki semuanya dan mengembalikan semua kebahagiaan Hanna yang tersisa (Luhan dan Ayahnya) kepadanya. Itu sudah lebih dari cukup.

Ya, Sehun akan melindungi keduanya untuk ia kembalikan pada Hanna. Apa pun yang terjadi. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan, meski ia tahu, itu tak sebanding dengan semua kebahagiaan Hanna yang telah ia rampas sebelumnya. Dan setelah itu, ia hanya perlu menghilang dari kehidupan Hanna. Karena ia merasa tak pantas untuk tetap bersanding dengan gadis itu, meski cintanya telah kembali.

Perlahan tapi pasti, air mata telah kembali menerobos pertahanan Sehun. Ia merasa menjadi seorang pria yang amat bodoh. Bodoh karena cinta, hingga ia sakit karena cinta.

When you cry, you can close your eyes and clearly see that person.

When you forget and ignore, you’ll remember that person even more.

It was a mistake to love you too much, a mistake to love you too much. Because of you, because of what I love, I suffer from waiting.

So love you more was a mistake, a mistake to desire you so much. [FT Island – Lovesick]

Bahu Sehun bergetar. Ia mencintai Hanna, ia menunggu gadis itu untuk membalas cintanya, hingga ia sakit karenanya. Ia mencoba untuk melupakannya, namun setiap kali menutup mata—wajahnya hadir dalam ingatan. Membuatnya sesak sekaligus sakit karena cintanya.

Ia menghindar, mencoba untuk melupakan gadis itu melalui kesalahan yang tidak gadis itu perbuat. Namun, semakin ia mencoba untuk melupakan, semakin jelas pula ingatan akan dirinya. Hingga rasa sakit itu semakin menjadi. Ia semakin menyalahkan gadis itu atas apa yang ia rasakan, hingga benci tumbuh dalam hatinya. Benci yang tercipta karena egonya yang tak ingin kembali sakit karena cinta. Sungguh munafik.

Deg.

Perlahan, ia rasa ada sesuatu yang bergerak di tubuhnya. Pelan-pelan matanya terbuka, lantas terfokus pada tangan putih ramping yang melingkar di perutnya. Jantungnya pun berdebar. Begitu hebat. Dengan hati-hati ia sentuh tangan itu, sampai pada akhirnya,

“Kenapa kau pergi tanpa pamit padaku?” suara halus menghentikan pergerakannya. Tangannya pun mengambang di udara, sementara debar jantungnya semakin tak karuan di dalam sana.

“Hanna?” panggilnya memastikan, bahwa ia tidak sedang bermimpi. Ia hapus cepat sisa-sisa kesedihan di pipinya, lantas berbalik dengan segera.

Deg.

“Kau belum menjawab petanyaanku?” gadis itu merajuk. Membuat debaran Sehun semakin menggila.

“Apa yang kau lakukan di sini?” pertanyaan tak bersahabat Sehun lontarkan. Raut wajah sedih pun ia dapat dari Hanna, hingga membuatnya sadar dan seketika merutuki lidah pedangnya itu.

Hanna sendiri hanya diam. Hazel-nya menatap dalam ke dalam retina pria itu. Mencari tahu apa yang membuatnya menangis hingga pilu. Pertanyaan Sehun sendiri tak Hanna hiraukan, karena ia sendiri pun tak tahu mengapa ia memutuskan untuk menyusul Sehun ke kantornya. Bahkan ia langsung memeluk pria itu begitu saja saat melihat sosoknya, tanpa memperdulikan Sehun yang tengah menangis. Sementara kemarin, mereka saling membisu. Tak tahu harus bagaimana.

Sehun yang diperhatikan seperti itu pun semakin gugup dibuatnya. Ia merasa seperti mollusca yang tengah diincar oleh seekor predator. Hingga ia merasa begitu lemas juga lemah dibuatnya.

“H-Hanna?” gugup – amat gugup. Terlebih, jarak yang tercipta diantara mereka tak lebih dari satu meter.

“Kau baik-baik saja? Jika tidak, ayo kita pulang..!!” Tangan Hanna bergerak, menyentuh wajah Sehun yang memerah. Mencoba untuk memastikan bahwa pria itu tak sedang demam.

Normal.

Suhu tubuh Sehun normal. Ia tak sakit, lalu mengapa wajahnya merah? Hanna menelisik keadaan Sehun, tanpa tahu pria itu telah dibuat semakin tak karuan olehnya.

Perlahan, Hanna menjauhkan tangannya saat merasa Sehun baik-baik saja. Namun sayangnya, tangannya kembali terulur saat pria itu menariknya dengan sedikit bertenaga, hingga tubuhnya membentur dada bidang nan atletisnya.

“Aku baik-baik saja,” Sehun melingkarkan tangannya pada tubuh mungil nan nyaman itu, “apa yang membuatmu datang kemari, hm? Kau tahu, kau tidak boleh terlalu lelah…” Sehun menghirup dalam aroma feromon gadis itu. Mencoba untuk bersikap seolah tak pernah terjadi sesuatu yang buruk diantara mereka.

“Hanya ingin. Tadi pagi aku tak melihatmu, kau sudah sarapan? Lalu siapa yang memakaikan dasi untukmu?” seolah telah direncanakan, Hanna pun melakukan hal yang sama. Bersikap seolah tak terjadi apa pun diantara mereka, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Karena Hanna tak ingin hubungan mereka semakin renggang, sementara ia tahu Sehun sudah mulai berubah.

“Sudah. Aku memakainya sendiri tadi. Bagaimana denganmu? Kau sarapan dengan baik tadi?” tanya Sehun menyelidik. Ia tahu dari Taejun, Hanna jarang menghabiskan makanannya. Gadis itu lebih sering memakan makanan ringan yang ia inginkan juga buah. Dan itu semua karena hormonya yang belum stabil, hingga membuat Hanna sering kali merasa mual jika memakan makanan berat yang tak ia kehendaki.

“Aku makan dengan baik seperti biasa…” Hanna merenggangkan pelukannya, kepalanya lantas menunduk—melihat simpul dasi Sehun yang tak rapi. Tangannya pun refleks bergerak, membuka simpul itu kemudian kembali mengikatnya dengan simpul yang jauh lebih rapi.

Sehun hanya tersenyum melihat apa yang Hanna lakukan. Sementara kedua tangannya masih bertahan di pinggang ramping gadis itu, “Kau membohongiku?!” ujar Sehun.

“Ne?” Hanna mendongak—terlihat tak mengerti.

“Wajahmu terlihat lesu, matamu sayu. Itu berarti kau tidak makan dengan baik selama ini. Kau hanya makan makanan ringan yang memiliki kandungan gizi rendah.” Tangan Sehun menari lembut, merapikan surai Hanna yang tertiup angin.

Gizi rendah? Hanna terdiam tangannya bahkan refleks mengelus perutnya. Ia lupa akan hal itu, selama ini ia hanya makan makanan yang ia inginkan tanpa memperhatikan kandungan gizinya. Lalu, jika ia terlihat lesu seperti seseorang yang kekurangan gizi, bagaimana dengan bayinya? Apa ia baik-baik saja di dalam sana?

Hanna terlihat kalut memikirkan itu. Rasa khawatir pun menyelimuti hatinya. Ia merasa menjadi calon Ibu yang amat buruk untuk bayinya, ia merasa begitu egois sampai-sampai tak memikirkan hal-hal sekecil itu.

Sehun yang melihat keterdiaman Hanna pun mengerti, “Kenapa?” tanyanya lembut. Sebelah tangannya bergerak—mengangkat wajah Hanna yang menunduk.

“A-aku—” Hanna tergagap. Sebelum akhirnya ia ingat akan sesuatu, “S-Sehun kau tahu?” tanyanya tak jelas.

“Tahu apa, hm?” senyum kecil kembali tercetak di wajah tampannya. Begitu menggoda.

Hanna semakin gugup. Tak sanggup bertanya. Bibirnya bergetar pelan, Sehun yang melihat itu justru tergoda dibuatnya. Pelan-pelan ia kikis jarak diantara mereka. Hingga jarak yang tercipta diantara mereka semakin dekat,

dekat,

dan dekat.

Sampai tak lagi ada jarak yang memisahkan. Sehun menghentikan getaran ketakutan di bibir Hanna, dengan menempelkan bibirnya di belahan bibir gadis itu.

Hanna yang mendapat sentuhan lembut itu pun menegang. Namun perlahan, matanya tertutup rapat. Mencoba untuk menikmati sensasi yang Sehun ciptakan, sekaligus membiarkan angin membawa terbang tubuhnya yang telah hanyut dalam cinta. Begitu indah.

Dengan hati-hati, Sehun membuka mulutnya. Mencoba untuk memperdalam apa yang telah ia mulai. Perlahan, ia menyesap bibir bawah Hanna dengan begitu lembut namun penuh gairah. Kemudian berpindah, ke bagian atasnya dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Sesekali lidahnya bergerak seduktif, menggoda Hanna untuk membalas setiap perlakuannya. Hingga ciuman itu tak lagi menjadi ciuman sepihak. Sehun bahkan membiarkan Hanna menikmati bibir mungilnya, hingga membuat mereka saling melumat satu sama lain.

Keduanya bergerak seirama. Menggerakan kepala mereka berlawanan arah, demi mendapat asupan oksigen. Tangan Sehun bahkan sudah kembali melingkar pada tubuh Hanna. Sementara tangan Hanna sudah menahan tengkuk Sehun, agar ia tak perlu berjinjit untuk mempertahankan ciuman mereka.

Berada di atap gedung dengan ruang terbuka dan angin yang bertiup kencang, mempermudah keduanya untuk mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Hingga ciuman manis itu bisa bertahan lebih lama dari biasanya. Terlebih, hanya ada mereka berdua di sana, hingga tak akan ada pengganggu yang akan mengganggu kegiatan manis itu.

Perlahan, ciuman Sehun turun. Hidung dan bibirnya bergerak aktif menelusuri lekuk leher Hanna, sembari memberikannya kecupan-kecupan ringan yang membuat tubuh gadis itu menegang bak tersengat aliran listrik ribuan Ampere. Beruntung itu tak bertahan lama, karena Sehun kembali menjauhkan kepalanya demi menatap wajah yang telah merona dibuatnya itu.

Hanna balas menatap sorot tajam penuh cinta itu. Mereka saling tatap dalam diam, dengan napas yang masih memburu. Sebelum akhirnya Hanna berjinjit, demi meraih bibir Sehun yang masih basah. Hingga ciuman itu kembali terjadi dengan Hanna yang memulainya.

Sehun yang mendapat perlakuan agresif itu pun langsung menyambutnya dengan senang hati. Bahkan ia tak membiarkan Hanna menguasai jalannya permainan. Hingga Hanna kewalahan dibuatnya dan berakhir dengan melepaskan tautan itu secara sepihak, karena tak kuasa mengimbangi permainan Sehun yang jauh lebih mahir darinya.

Sehun tersenyum penuh kemenangan melihat Hanna yang terengah dibuatnya. Kedua tangannya bergerak, kali ini, menangkup pipi Hanna yang sudah merah seperti tomat. Sebelum akhirnya, mendaratkan kecupan hangat di kening gadis itu. Kecupan berjuta rasa yang ia salurkan langsung padanya.

Cukup lama, Sehun mempertahankan posisinya. Sampai pada akhirnya ia turun, hingga bersimpuh di depan Hanna. Menatap lurus penuh haru ke arah perutnya, sebelum akhirnya kembali mendaratkan kecupan hangatnya di sana.

Deg.

Jantung Hanna berdebar luar biasa di dalam sana. Melihat sekaligus merasakan apa yang Sehun lakukan membuat tubuhnya kembali menegang nyaris kaku. Hazel cantiknya bahkan sudah melebar dengan sempurna. Mulutnya menganga tak percaya, lantas dibungkam cepat menggunakan tangan kanannya. Aliran darahnya berdesir begitu cepat–menghangatkan tubuhnya yang memang sudah panas akibat perlakuan Sehun.

“Maafkan Papa, sayang…” tiga kata terlontar dari dalam mulut Sehun. Namun sukses, membuat Hanna terbang dibuatnya. Matanya kembali berair, terasa perih, namun bukan karena kesedihan. Ia bahkan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sungguh ia tak percaya. Ini seperti mimpi. Ia tak percaya Sehun benar sudah mengetahuinya dan Sehun tak melukainya, seperti yang ia katakan sebelumnya.

“Mama nakal, ne? Mama tak memberikanmu nutrisi yang baik, padahal Papa sudah memberikan credit card padanya. Tapi ini semua salah Papa, karena Papa tak memberikan perhatian lebih pada Mama-mu. Jangan marah, ne..!!” Sehun kembali mendaratkan kecupan hangatnya pada perut Hanna. Tak peduli dengan Hanna yang sudah menangis haru karenanya.

“S-Sehun. . .” Suara Hanna bergetar hebat, hingga membuat Sehun mengalihkan perhatian.

“Ya?” Sehun mendongak dengan senyumnya, sebelum akhirnya berdiri, lantas membawa Hanna kembali ke dalam dekapannya.

“Uljima…” Tangan pria itu bergerak lembut—mengelus punggung Hanna—mencoba untuk menenangkannya dari tangis.

“Sejak kapan kau mengetahuinya?” Hanna bertanya ragu. Ia takut Sehun hanya memancingnya untuk mengatakan perihal kehamilannya.

“Aku tidak bodoh, Hanna. Sejak awal perubahan sikapmu aku sudah curiga. Kau sangat membenciku, sangat-sangat membenciku, tapi ketika ‘ia’ tumbuh, kau kembali bersikap manja padaku. Kau menyusulku ke kantor, kemudian memaksaku untuk pulang. Dan ketika aku mengajakmu makam malam, kau meminta makan di kedai ramen, namun saat aku turuti keinginanmu, kau hanya memakan sedikit ramenmu. Terlebih, kau muntah di depanku setelah kita berciuman. Dan saat di rumah sakit, Dokter Shin hanya menempelkan alat USG-nya tanpa mencari tahu di mana letak janinnya. Hingga membuatku curiga, bahwa kalian telah membuat kesepakatan di belakangku. Setelahnya, kau selalu meminta banyak hal padaku, bahkan kau membeli binatang jauh-jauh dari luar negeri demi mewujudkan keinginanmu itu. Dan kau seperti itu, karena kau sedang hamil…” Jelas Sehun. Ia bosan menunggu Hanna memberitahunya, hingga ia membongkar sendiri apa yang sudah diketahuinya itu.

Hanna yang mendengarnya pun tersenyum. Ia sadar, perubahan yang terjadi padanya di awal-awal kehamilan memang terlihat sangat kontras. Tak heran, jika Sehun bisa mengetahuinya dengan mudah. Dan yang paling menonjol adalah kebenciannya pada pria itu yang menghilang begitu saja, karena anak yang berada di dalam kandungannya.

“Tapi kau bilang akan melenyapkannya?” Hanna teringat akan sesuatu. Tangannya bergerak mendorong tubuh Sehun, demi merenggangkan pelukannya.

“Nyatanya aku tak bisa melakukannya Hanna. Aku bahkan tak bisa menuruti perintah Osamu untuk membunuhmu saat itu. Lalu, bagaimana bisa aku membunuh darah dagingku sendiri?” Sehun menatap hazel Hanna lembut, “Maafkan aku, karena sudah membuatmu takut karena egoku saat itu…” sambungnya penuh penyesalan.

Hanna kembali tersenyum mendengarnya. Senyum yang begitu lembut juga manis. Inikah Sehun-nya? Apa benar dia sudah kembali? Apa benar Sehun yang sekarang merupakan Sehun yang telah lama ia rindukan? Mata Hanna kembali berair menyadari itu. Menyadari bahwa Sehun-nya telah kembali. Sahabat kecilnya telah kembali dengan status yang berbeda.

“Suamiku…” Hanna kembali pada dekapan pria itu. Menghirup dalam aroma tubuhnya yang begitu maskulin, sembari menumpahkan air mata bahagia di atas pundaknya.

“Dia ada memang karena nafsuku, namun akan aku pastikan, dia akan tumbuh karena cintaku…” ujar Sehun yakin. Ia tarik semua ucapannya yang sebelumnya, untuk menghilang dari kehidupan Hanna setelah ia berhasil menyelamatkan nyawa Tuan Khaza dan Luhan. Karena kini ia sadari, ia tak akan bisa hidup tanpa Hanna. Gadis itu adalah raganya, jiwanya, juga napasnya. Hanna adalah segalanya untuknya, dan ia tak akan bisa hidup jauh darinya. Terlebih, ada ‘dia’ yang kini hadir dalam kehidupan mereka. Dan karena dia-lah mereka kembali menjadi satu dengan ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Dan apa pun yang akan terjadi nanti, ia akan melindungi keluarga kecilnya sekuat – semampunya. Sekalipun nyawanya yang akan menjadi taruhan. Bergabung dengan Ryuu pun menjadi pilihannya.

 

regret

 


Luhan termenung di kursi penumpang. Kepalanya bersandar pada jendela kaca di sampingnya–menatap tanpa minat arus lalulintas kota Seoul siang itu. Ia sadar ada seorang anggota FBI dan seorang anggota Black ID yang mengikutinya. Namun, ia tak peduli itu. Semuanya sudah terbongkar dan hanya tinggal menunggu waktu untuk memulainya. Masuk penjara atau mati di tangan Black ID. Ya, hanya dua kemungkinan itu yang akan terjadi, tergantung lebih cepat pergerakan mana, FBI beserta jajarannya atau Black ID beserta antek-anteknya.

 

Subway yang ditumpanginya mulai memasuki kawasan elit Apgujeong. Luhan bersiap turun di pemberhentian subway berikutnya. Setelahnya, ia hanya perlu berjalan kaki untuk memasuki kawasan rumah yang di tempati adiknya.

Sepanjang perjalanan, Luhan masih saja larut dalam dunianya. Namun, kaki panjangnya terus melangkah penuh beban. Ia tahu, Sehun pasti berada di kantornya, namun ia justru memilih mendatangi rumahnya. Dengan harapan bisa kembali melepas rindu dengan adik kecilnya. Terdengar membuang-buang waktu memang, namun ia hanya ingin bertemu dengan adiknya. Ia merasa ini akan menjadi yang terakhir, entah mengapa. Hatinya pun tak tenang memikirkan semua hal yang bisa saja terjadi nanti. Terlalu menakutkan.

Rumah mewah Sehun mulai terlihat, hanya tinggal beberapa meter lagi ia sampai di pintu gerbang. Namun, rumah itu terlihat sedikit ramai. Ada beberapa orang berseragam berdiri di depan pintunya, bersama dengan beberapa orang berjas hitam yang ia tahu pengawal pribadi Hanna.

Tak lama, tiga buah mobil melewati tubuhnya, satu Lamborghini Reventon –yang Luhan tahu milik Sehun– dan sisanya Mercedes Benz. Ketiga mobil itu memasuki kawasan rumah Sehun, setelah melewati gerbang tingginya.

“Sehun, siapa mereka?” Hanna menatap Sehun yang tengah mengemudi di sampingnya. Setelah makan siang bersama, Sehun memutuskan untuk mengantar Hanna pulang. Dan membiarkan dua mobil yang mengantar Hanna ke kantornya mengekor di belakang mereka.

“Polisi,” mata Sehun memincing tajam. Ia parkirkan mobilnya di belakang mobil dinas kepolisian–tepat di depan pintu rumahnya. Matanya beralih menatap Hanna yang terlihat cemas.

“Mereka mau apa?” tanya Hanna mulai takut, pikirnya pun kemana-mana. Sehun yang juga berpikiran sama dengan Hanna hanya bisa diam. Ia kecup pipi Hanna sekilas, sebelum akhirnya turun dari dalam mobilnya.

“Sehun?” panggil Hanna saat melihat kepergiannya. Tak lama, pintu mobil di sampingnya terbuka saat Taejun membukakannya untuknya.

“Nyonya, saya akan mengantar Anda ke kamar,” ujar Taejun mengerti situasi. Terlebih, ia mendapat kode nonverbal dari Sehun untuk membawa Hanna pergi.

“Mereka mau apa, Taejun-ah?” Hanna turun dari dalam mobilnya dibantu Taejun. Pria itu lantas menarik tangan Hanna untuk mengikutinya, tanpa berniat menjawab pertanyaannya.

“Taejun—” Hanna mencoba untuk menolak, namun Taejun terus menariknya.

Sehun sendiri hanya diam menatap Hanna. Bahkan saat manik mereka bertemu pandang, Sehun masih tetap pada posisinya dengan fokus yang terus tertuju pada gadis itu. Hingga Hanna tak lagi terlihat—menghilang di balik pintu, barulah ia fokuskan titik fokusnya ke arah orang-orang berseragam lengkap itu.

“Selamat siang Tuan Oh,” seorang pria bertubuh tinggi tegap mengayunkan tangan kanannya, seolah memberi hormat pada Sehun. Sehun sendiri hanya mengangguk kecil menanggapinya. Tak lama, sebuah mobil kembali terparkir di halaman depan rumahnya. Fokus Sehun pun teralihkan, menatap seseorang yang baru saja tiba itu.

Baekhyun.

Pria itu melangkah santai mendekati Sehun, setelah turun dari dalam mobilnya. Lalu berhenti tidak jauh darinya, dengan posisi yang saling berhadapan. Senyum kecil pun Sehun lihat dari bibir pria itu.

“Sepertinya kau berhasil, Baekhyun?!” Sehun mengerti – sangat mengerti, akan maksud dari kedatangan orang-orang itu ke rumahnya.

“Ya. Kasus Tuan Khaza resmi dibuka kembali dan kau ditetapkan sebagai tersangka atas semua bukti yang ada…” Baekhyun menatap lawan bicaranya dengan sorot yang sulit diartikan. Entahlah, Baekhyun sendiri tak mengerti mengapa ia ragu untuk melakukan ini sekarang. Terlebih, ini sangat mendadak.

Enam orang anggota kepolisian yang ada pun hanya diam. Karena maksud dan tujuan mereka datang kemari telah tersampaikan oleh Baekhyun.

Pelan-pelan, Sehun tutup mata elang-nya, mencoba untuk menetralisir detak jantungnya yang bergemuruh. Tangannya terkepal erat, menyadari semua rencananya yang kacau dan tak bisa terlaksana. Jika sudah seperti ini, pergerakan Black ID akan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Dan itu berarti, ia akan semakin sulit untuk lepas dari kekangan Black ID. Sial. Sehun berpikir keras, ia terdesak.

Rencananya untuk menghancurkan Osamu-sama secara halus bersama kubu pemberontak yang dipimpin Ryuu-san, tak lagi bisa ia lakukan. Dan rencananya untuk keluar dari Black ID setelah itu pun gagal, karena identitas hitamnya benar-benar telah terbongkar. Terakhir, rencananya untuk membebaskan Tuan Khaza melalui bukti-bukti yang disembunyikan olehnya pun tak lagi bisa ia lakukan. Semuanya kacau. Pergerakannya kalah cepat oleh Baekhyun –ah tidak– Black ID merupakan kesatuan yang sulit untuk diuraikan, terkecuali jika ada partikel dari kesatuan itu sendiri yang memilih untuk berpisah dan keluar. Hingga komponen penyangga kesatuan itu tak lagi lengkap dan berakhir dengan cacat. Itu berarti,

Baekhyun tidak sendirian.

Sehun kembali membuka matanya. Menatap Baekhyun dengan senyum kecilnya. Luhan berada di pihaknya saat ini, Luhan mengetahui semua rencananya untuk keluar dari Black ID, Luhan hanya tak tahu bahwa ia berencana untuk membebaskan Tuan Khaza, karena itu merupakan rencana baru yang baru ia susun kemarin. Jadi, tidak mungkin Luhan yang beralih mengkhianatinya, karena sebelumnya ia mengancam akan melenyapkan nyawa Hanna jika Luhan mengkhianati kepercayaannya.

Lalu, siapa (anggota Black ID) yang sudah berani berkhianat itu? Hingga membuat namanya ikut terseret di dalamnya?

“Aku sudah berniat untuk berkhianat, tapi ternyata sudah ada orang yang lebih dulu berkhianat. Jadi, siapa orang itu Baekhyun-ah?” tanya Sehun menyelidik dengan senyum miring di bibirnya. Baekhyun yang mendapat pertanyaan seperti itu pun ikut tersenyum. Ia tak menyangka, pembawaan Sehun benar-benar tenang. Bahkan disaat seperti ini, ia masih mampu berpikir dengan jernih sekaligus telak, hingga menemukan sendiri alasan mengapa ia bisa sampai kembali tertangkap.

“Aku selalu mengagumi kecerdasanmu Sehun. Kau tidak berubah. Kau tetap rival terbaikku…” Baekhyun terkekeh sembari mengingat semua hal yang pernah terjadi diantara mereka. Dulu, ia memang berhasil mendapatkan Hanna karena pergerakannya yang jauh lebih cepat dari Sehun. Namun, Sehun selalu berhasil merebut semua perhatian Hanna darinya, dengan celotehan-celotehannya yang memancing amarah gadis itu. Namun, saat Hanna berstatus sebagai istrinya, Baekhyun berhasil membuat Hanna selalu melihat ke arahnya. Mereka bahkan sering bertemu secara diam-diam di belakang pria itu dan ketika Sehun mengetahui semuanya. Hanna pun di penjara dalam rumah mewahnya dengan menambah jumlah bodyguard untuknya. Hingga mereka tak bisa kembali bertemu.

Dan sejak saat itulah semuanya berubah, karena terakhir kali ia bertemu dengan Hanna, gadis itu mengatakan bahwa ia tengah mengandung anak Sehun. Hanna juga mengatakan, bahwa ia mencintai pria itu. Sungguh menyakitkan. Namun, Hanna juga mengatakan ingin berpisah dari pria itu demi melindungi bayi yang berada di dalam perutnya. Hingga posisi mereka kembali berbalik. Kali ini, Baekhyun yang akan memisahkan Hanna dari Sehun seperti yang Sehun lakukan padanya dulu. Dan ini semua, bukan hanya karena ego dan cinta, tapi juga demi hidup dan kebahagiaan gadis itu.

Sementara Sehun, ikut tersenyum dibuatnya. Baekhyun adalah teman dekatnya, sebelum ia berubah. Meski pria itu telah mengambil Hanna darinya, ia tak pernah menaruh benci padanya, ‘sebelum ia melihat pria itu mencium Hanna tentunya’. Karena ia mulai berubah setelah melihat adegan antar kekasih itu. Hingga membuatnya berakhir dengan melampiaskan semua kekesalannya pada Krystal yang ia anggap Hanna.

“Terima kasih atas pujiannya Tuan Byun. Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku,” kali ini, Sehun terlihat tak sabaran. Sebelah tangannya ia masukan ke dalam kantung celana, mencoba untuk tetap bersikap tenang.

“Kau akan tahu nanti. Karena dia sudah menunggumu di balik jeruji besi,” jawab Baekhyun apa adanya.

Sesungguhnya Baekhyun tak menyangka, Tuan Lee menurunkan surat perintah penangkapan Sehun hari ini. Padahal sebelumnya, mereka sudah berencana akan bergerak setelah keadaan mengenai pergerakan Black ID sudah diketahui. Karena akan sangat berbahaya jika Black ID sudah mengetahui rencana mereka. Namun, Tuan Lee berubah pikiran—ia bilang, lebih cepat bergerak itu lebih baik, karena pergerakan Black ID jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Jika mereka tak segera menangkap Sehun, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah kematian pria itu. Seperti yang terjadi pada anggota Black ID sebelumnya, dimana Park Jung Soo mati saat tindak kejahatannya mulai tercium. Sehingga negara tak lagi memiliki tersangka utama kasus korupsi untuk diselidiki. Dan itu bisa saja terjadi pada Sehun, jika ia tak segera diamankan oleh pihak kepolisian.

“Benarkah? Baiklah kalau begitu,” ujar Sehun santai. Jika sudah seperti ini, mana bisa ia menolaknya. Pasrah dan menyerahkan diri adalah pilihan terbaik. Meski pikirnya kalut saat ini—memikirkan semua rencananya yang telah kacau hanya dalam hitungan detik.

“S-Sehun?”

Deg.

Tubuh Sehun menegang, ia lupa akan sesuatu. Shit.

“Hanna…” gumamnya pelan. Bagaimana dengan Hanna, jika ia pergi? Siapa yang akan melindungi gadis itu, jika ia tak berada di sampingnya? Hanna akan berada dalam bahaya jika ia ditangkap, karena gadis itu merupakan saksi kunci kehancuran Black ID.

“Tuan…” Taejun yang berada di belakang Hanna menggeleng dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia gagal membujuk Hanna untuk menunggu Sehun di kamar, hingga ia dan majikannya itu berakhir dengan mendengarkan semua percakapan yang terjadi diantara Sehun dan Baekhyun.

Bisa Sehun lihat, kini pengawal pribadi istrinya itu melirik Hanna. Seolah mengisyaratkan untuk memikirkannya juga dan tidak ikut bersama mereka. Membuatnya semakin kaku di tempat. Fokusnya pun terkunci pada manik Hanna yang bergetar—hendak menangis. Dan untuk yang kesekian kalinya, hatinya teriris melihat tatapan itu.

Baekhyun sendiri terpaku, saat melihat tatapan tak rela Hanna. Membuatnya bertanya, apa yang kiranya terjadi pada Hanna? Sementara yang ia tahu, Hanna ingin segera berpisah dari pria itu sebelum kandungannya membesar. Ah, Hanna belum tahu rencana untuk memalsukan kematian Tuan Khaza dibatalkan. Ia tak tahu, semua rencana telah dirubah demi melindungi keselamatan nyawanya dan Luhan. Dan ia tak tahu, Baekhyun justru menjalankan rencana awal mereka untuk menjebloskan Sehun ke dalam penjara melalui bukti-bukti yang ada—rencana yang pernah mereka (Luhan, Baekhyun, Hanna) susun bersama, saat mereka masih bisa bertemu kala itu.

“Mianhae Hanna, aku hanya ingin melindungimu dan Luhan Hyung,” ujar Baekhyun mengalihkan perhatian Hanna.

“Tidak Baekhyun-ah, jangan lakukan ini. Sehun tidak bersalah…”

“Anda bisa menjelaskan itu di pengadilan, Nyonya. Karena Anda akan menjadi saksi utama dalam kasus ini,” sela seorang opsir, membuat Hanna menggeleng kuat dan seketika berlari ke arah Sehun. Melewati tiga orang bodyguard-nya juga para opsir yang berdiri tidak jauh dari pintu.

Bruk.

Tubuh Sehun membentur mobil di belakangnya saat Hanna menubruk tubuhnya. Baekhyun yang melihat itu pun terkejut, bahkan Sehun jauh lebih terkejut darinya.

“Tidak Sehun. Kau tidak boleh pergi, jangan tinggalkan aku…” Hanna kembali terisak. Tangan Sehun mengambang di udara–terlihat ragu untuk membalas pelukan Hanna. Namun tak lama, tangan itu bergerak cepat merengkuh tubuh mungil itu. Mendekapnya erat, mencoba untuk menenangkannya lewat sentuhan hangatnya.

“Aku memang anggota Black ID. Dan kalian tahu, orang-orang seperti apa kami. Maka dari itu, aku ingin memastikan—jaminan apa yang bisa kalian berikan untuk keselamatan nyawa istriku?!” Sehun menatap tajam semua lawan bicaranya. Jika ia ragu, maka saat ini juga ia akan membawa Hanna lari bersamanya. Namun, jika ia yakin mereka bisa melindungi Hanna, maka ia akan menyerahkan Hanna pada mereka dan membiarkan dirinya ikut mendekam bersama orang yang menyeret namanya.

“Sehun, apa yang kau bicarakan?!” Hanna mendongakkan kepalanya, demi menatap wajah Sehun.

“Hanna akan ikut bersamaku. Dan kepolisian Seoul sudah mengerahkan pasukannya untuk menjaga dan melindungi nyawanya.” Baekhyun menjawab yakin. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Sehun. Apa pria itu sudah berubah? Segala macam pikiran pun berkecamuk dalam benaknya. Terlebih, melihat Hanna yang terlihat amat tak rela jika Sehun sampai pergi meninggalkannya.

Hanna menatap Baekhyun dan Sehun secara bergantian. Bisa ia lihat, kedua pria itu saling berbicara lewat tatapan mata masing-masing. Hingga membuatnya semakin kalut akan situasi yang terjadi saat ini.

“Itu tidak cukup. Tempat yang aman dengan pengamanan yang ketat saja tidak cukup. Beberapa dari kami merupakan pembunuh yang paling dicari, hampir semua pembunuh merupakan buronan tingkat S. Dan beberapa dari kami berdiri di jajaran pemerintah dan juga kepolisian. Kecacatan dalam melindungi saksi akan mudah diketahui, dan istriku akan tetap berada dalam bahaya.” Sehun menenggelamkan wajah Hanna di dada bidangnya dengan semakin mempererat pelukannya di tubuh gadis itu. Seolah tak rela jika harus melepasnya.

“Kau tidak perlu khawatir. Temanmu sudah mengatakan semuanya, dia juga mengatakan bagaimana cara melindungi saksi dari tangan lincah Black ID. Lagipula, bukankah selama ini kami telah berhasil menyembunyikan Tuan Khaza?!” Baekhyun meyakinkan. Dari apa yang dilihatnya saat ini, sudah menjelaskan semuanya, bahwa Sehun telah kembali. Terlihat dari bagaimana nada khawatir itu keluar dari dalam mulutnya juga bagaimana cara pria itu memeluk Hanna demi menenangkannya. Semuanya sama, seperti pada saat mereka berstatus sebagai sahabat.

Jantung Sehun berdebar hebat, merasakan pelukan Hanna yang semakin kuat, “Sayang, tenanglah…” ujar Sehun lembut. Pikirnya pun membenarkan, jika orang itu menyerahkan diri, maka ia memiliki niatan baik untuk melindungi semua saksi dan menjunjung tinggi kebenaran yang ada. Hingga ia ingat pada satu nama yang memiliki sifat seperti itu, namun takdir mengekangnya untuk menjadi bagian dari Black ID.

Myungsoo.

Benarkah dia? Sehun membatin ragu. Namun disisi lain, ia amat yakin bahwa orang yang tengah menunggunya di balik jeruji besi adalah Myungsoo. Ia pun yakin, pasti ada maksud tertentu mengapa Myungsoo melakukan ini.

“Sayang dengarkan aku—” Hanna menggeleng dalam dekapan Sehun, bahkan sebelum pria itu mengucapkan kalimatnya. Membuat Sehun semakin tak tega meninggalkannya, terlebih ia sedang hamil. Namun, Sehun harus memastikan rencana apa yang tengah disusun oleh Myungsoo di balik aksi penyerahan dirinya.

“Kau ingin bertemu dengan Aboeji, ‘kan? Kau ingin Beliau bebas, benar?” Sehun mencoba untuk membujuk. Pilihan yang sulit memang, namun hanya ini yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Karena melawan pun percuma, itu hanya akan memperberat hukumannya. Apa yang dilakukan Myungsoo benar-benar membuatnya menyerahkan diri secara tidak langsung ke tangan yang berwajib.

Tunggu, menyerahkan diri? Itu berarti Myungsoo benar-benar telah merencanakan sesuatu di balik semua ini. Sehun terus berpikir keras, menerka-nerka sekaligus memahami situasi agar ia tak salah dalam mengambil keputusan.

Sementara Hanna hanya diam, dengan wajah yang masih betah bersembunyi. Sebelah tangan Sehun terangkat, mencoba untuk meraih wajah gadis itu. Hingga hazel mereka kembali bertemu.

“Aku ingin Appa bebas, tapi aku tak ingin kau menggantikan posisinya,” ujar Hanna.

“Kalau begitu, katakan semua hal yang kau lihat saat itu. Kau ingat, saat Osamu memberiku perintah untuk membunuhmu, Aboeji menentangnya dan memintaku untuk membunuhnya sebagai gantinya. Aboeji mengatakan banyak hal padaku hingga aku menyetujuinya keinginannya, terlebih aku memang tak sanggup untuk melukaimu saat itu. Hingga dengan berat hati aku mengarahkan senapanku pada orang yang sudah aku anggap Ayah. Namun, setelah kematian Krystal, aku berubah sepenuhnya, hanya karena rasa sakit yang aku rasakan untuk kedua kalinya. Maafkan aku untuk itu! Aku akan menebus semua kesalahanku Hanna.”

Hanna memejamkan matanya seiring dengan kembali jatuhnya setetes liquid dari hazel indahnya. Tubuhnya bergetar, saat trauma dan rasa takut itu kembali. Ia ingat betul, kejadian itulah yang membuatnya begitu membenci Sehun. Namun, tidak untuk saat ini. Anak di dalam kandungannya telah merubah semua perasaan itu, hingga berganti dengan perasaan yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Perasaan yang selalu mampu menggetarkan hatinya, memompa cepat jantungnya, dan membuat tegang tubuhnya. Perasaan yang begitu hebat sekaligus indah dirasa, dimana orang menyebut perasaan itu sebagai cinta.

“Bagaimana dengan anak kita, Sehun? Kau sudah berjanji akan menemaninya untuk tumbuh…”

Sehun menatap nanar wajah Hanna. Ingin sekali ia menangis, namun ia harus kuat untuk itu. Ia tak mungkin membuat Hanna semakin sedih karena air matanya.

“Dia akan merasakan kehadiranku meski aku tak berada di sampingnya. Karena ikatan batin yang kita miliki jauh lebih kuat dari apa pun di dunia ini, sekalipun jarak memisahkan.”

Sehun meraih tengkuk Hanna. Menempelkan bibirnya pada bibir mungil gadis itu. Memberikannya ciuman perpisahan untuk sesaat, tanpa memperdulikan orang-orang yang berada di sana. Lumatan penuh emosi, Sehun berikan pada setiap inci bibir gadis itu. Membiarkan segala perasaannya tercurahkan lewat ciuman yang penuh kesedihan itu.

Baekhyun sendiri hanya diam menyaksikan, tanpa mengalihkan fokusnya dari kedua insan itu. Rasa sakit memang ia rasakan, karena cinta untuk gadis itu masih ada. Namun, rasa sakit karena akan memisahkan keduanya jauh lebih dominan di hatinya. Baekhyun tak tega. Ia tak tega jika harus melihat wajah sedih Hanna, karena harus berpisah dengan orang yang ia cintai. Ia pernah merasakan perasaan itu, dan sangat sakit ia rasa. Ia tak tega jika harus melihat Hanna merasakan rasa sakit yang sama dengannya. Karena cintanya masihlah amat besar untuk gadis itu, hingga ketika Hanna bersedih, ia akan ikut merasakannya, dan ketika Hanna bahagia, ia pun ikut bahagia dibuatnya.

Sementara jauh dari tempat itu, seorang pria telah membatu di tempatnya. Ia melihat semua yang terjadi di sana, namun tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dan saat melihat adik iparnya mencium mesra adik kandungnya di depan banyak orang, matanya membelalak tak percaya. Hingga beberapa kesimpulan bisa ia ambil, Sehun akan ditangkap dan Hanna tak ingin itu terjadi. Namun, mengapa mereka saling bertautan? Apa mereka saling mencintai?

Tak lama, ia melihat Sehun melepaskan tautannya, lalu merenggangkan pelukannya. Setelah itu, Sehun membawa Hanna untuk menghampiri Baekhyun. Mereka kembali terlibat percakapan, namun Luhan masih tak dapat mendengar apa pun, karena jaraknya yang memang cukup jauh. —Ia berada di luar pagar rumah Sehun, sementara halaman depan rumah itu begitu luas dan orang-orang itu berada tepat di depan rumah.

 

“Hanna sedang hamil. Aku percaya kau bisa menjaganya, dan jika terjadi sesuatu yang buruk padanya, akan aku pastikan nyawamu yang akan menjadi taruhannya…” Sehun melepaskan tautan tangannya dengan Hanna, demi beralih menghampiri Baekhyun, lantas berhenti tepat di depannya dengan jarak yang hampir tak terbatas.

“Aku tidak tahu apa yang tengah kalian rencanakan, tapi aku akan mengikuti cara bermain kalian.” Sehun berucap tepat di samping telinga Baekhyun. Membuat semua orang yang berada di sana bertanya sekaligus penasaran akan apa yang kiranya Sehun katakan. “Itu sebabnya, aku membiarkan Hanna bersamamu untuk saat ini. Tapi, jika permainan ini tidak sesuai dengan apa yang aku kehendaki, maka aku akan pergi dan menghilang dengan membawa Hanna bersamaku…”

“Kau gila, jika kau kembali mempermainkan hukum Oh Sehun!” Dengan gerakan tiba-tiba, Baekhyun melingkarkan tangannya pada punggung lebar Sehun. Membuat Sehun sedikit terkejut karenanya, namun sedetik kemudian, ia tersenyum dan balas memeluk pria bermarga Byun itu.

“Jika cinta sudah memegang kendali, apa pun bisa dilakukan. Kita berdua sama-sama pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan cinta. Dan aku tak ingin menjadi pecundang untuk yang kedua kalinya, dengan kembali melepasnya.” Sehun menepuk bahu Baekhyun pelan.

“Terserah kau saja. Dulu ia hanya berstatus sebagai sahabatmu, tapi kini, ia istrimu. Aku tak akan merebutnya lagi darimu, selagi kau bisa ‘mempertahankannya’.” Baekhyun menekan suku kata terakhir kalimatnya dengan kekehan kecil di bibirnya. Sehun yang mengerti pun tak segan memukul punggung pria itu lebih keras.

“Akh… Brengsek,” umpat Baekhyun seraya melepas pelukannya.

Hanna yang melihat bisik-bisik antar pria itu pun hanya mampu menganga bingung. Terlebih, tadi mereka terlihat seperti musuh abadi, namun kini, mereka terlihat seperti kawan lama yang baru berjumpa setelah sekian lama berpisah.

“Lebih baik kau cepat pergi, agar aku bisa segera berdua dengan Hanna. Dan kau bisa segera tahu, apa yang diinginkan teman sejawatmu itu, hingga kalian bisa menyusun rencana bersama untuk bisa bebas dengan cepat,” ujar Baekhyun asal. Namun, ia memang merasa demikian, karena tak mungkin Myungsoo mau mendekam di penjara lama-lama.

Sementara Sehun, sudah memberikan death glare andalannya, “Aku sudah memperingatkanmu, Jaksa Byun!”

“Hanna sedang mengandung anakmu, Mr. Oh. Mana bisa aku mengambil hatinya kembali, sementara ia sudah terikat olehmu!” Baekhyun memutar bola matanya malas. Sehun pun membenarkan, kini Hanna sudah menjadi miliknya seutuhnya. Tak lama Baekhyun beralih, menghampiri Hanna yang berdiri tidak jauh darinya.

“Kau tahu, sahabat kecilmu itu tidak bodoh. Jadi, jangan khawatir! Ia tidak akan meninggalkanmu lagi…” Baekhyun merangkul Hanna dengan senyum kecilnya. Senyum yang selalu terlihat menyenangkan bagi siapa saja yang melihatnya. Senyum yang mampu membuat siapa saja ikut tersenyum dibuatnya, tak terkecuali Hanna. Gadis itu pun ikut mengangkat kedua sudut bibirnya, saat melihat wajah tenang yang dihiasi senyum itu.

Tak lama, Baekhyun mengangguk pada para opsir yang sedari tadi hanya diam mematung. Memberikan mereka kode nonverbal untuk segera melaksanakan perintah Tuan Lee. Sehun yang menyadari itu, hanya diam sembari memuaskan pengelihatannya akan wajah cantik Hanna.

“Sehun…” Hanna masih terlihat tak rela. Sehun pun melangkah mendekat, dan kemudian menangkup hangat kedua sisi wajahnya.

“Tidak akan lama, aku berjanji. Setelah itu, aku akan kembali untuk merawat anak kita bersama. Jaga dirimu,” Sehun menempelkan bibirnya pada kening Hanna, hingga sebuah suara menginterupsinya.

“Mari Tuan!”

Sehun melepaskan kecupannya dengan tidak rela. Lantas kembali menatap Baekhyun dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh pria. Baekhyun yang melihat itu pun mengangguk tegas. Sampai pada akhirnya, Sehun berbalik lalu melangkah mengikuti arah yang ditunjuk oleh salah seorang opsir yang menuju ke arah sebuah mobil dinas.

“Tuan…” Taejun menginterupsi langkah kakinya. Sehun lantas menatap penuh tanya ke arahnya, namun pria itu hanya diam, hingga membuat Sehun mengerti.

“Aku percaya padamu, Taejun-ah. Tetap awasi istriku seperti biasa, penuhi segala kebutuhannya dan turuti semua keinginannya. Dan juga, bantu dia untuk merawat semua hewan peliharaannya,” ujar Sehun dan langsung mendapat anggukan kepala dari Taejun juga salam hormat seperti biasa.

Tubuh Hanna kembali bergetar melihat punggung Sehun yang semakin menjauh, bahkan pria itu tak lagi menatap ke arahnya, seolah enggan melihat wajah terlukanya. Namun, ia kuatkan dirinya dan yakinkan hatinya, bahwa ini bukanlah sebuah perpisahan, tapi ini adalah awal dimana perjuangan untuk mereka kembali bersama dimulai. Mereka berpisah untuk kembali—dan tak lagi terpisahkan. Hanna yakin itu.

Baekhyun membawa Hanna ke dalam dekapannya, saat mobil yang membawa Sehun mulai melaju. Ia mengerti – amat mengerti, akan apa yang dirasakan oleh gadis itu. Hingga ia tak tega, jika harus melihat Hanna yang terus-terusan menatap Sehun yang hendak pergi.

“Aboeji akan bebas Hanna. Dan Sehun, aku yakin pria itu tidak akan mau berlama-lama mendekam di penjara dan jauh darimu. Kau tidak perlu khawatir! Bukan tanpa alasan Sehun tak menolak dibawa oleh polisi. Ia menurut begitu saja, karena cara berpikirnya yang memang licik…” Baekhyun terkekeh setelah menyelesaikan ucapannya.

“Apa maksudmu, Baek?” Hanna mendongak, menatap bingung ke arah mata sipit Baekhyun.

“Bukankah kau jauh lebih mengenal Sehun daripada aku, hm?” sebelah tangan Baekhyun terangkat, mengelus lembut pipi Hanna.

“Baekhyun – Hanna, apa yang terjadi?” seorang pria datang dengan raut wajah yang sulit diartikan.

“Oppa?”

.

.

.

.

.

.

.

Sementara Sehun, hanya terduduk diam di kursi penumpang. Perasaan tak tenang, karena telah meninggalkan Hanna menyelimuti hatinya. Namun, ia harus memastikan sesuatu. Hingga tak ada pilihan lain, selain mengikuti arus permainan yang diciptakan teman sejawatnya itu. Tak lama, fokusnya menangkap seorang pria yang tengah berdiri tidak jauh dari pagar rumahnya. Matanya pun melebar samar, saat menyadari siapa orang itu. Ia bahkan menoleh ke belakang saat mobil yang membawanya mulai melewati gerbang.

Daehyun.

Tidak salah lagi, pria itu pasti Daehyun. Terlihat dari postur tinggi tegapnya juga wajahnya yang memang tak asing dilihat, meski Sehun hanya melihatnya sekilas.

‘Shit,’ Sehun mengumpat kesal dalam hati. Tak lama lagi, pemimpin Black ID akan mengetahui ia tertangkap. Itu berarti, Hanna dalam bahaya besar. Terlebih sampai saat ini, Baekhyun belum juga membawa Hanna pergi dari rumahnya.

“Kau cepat hubungi Baekhyun, perintahkan dia untuk segera pergi membawa Hanna dari rumahku!” Titah Sehun tegas penuh penekanan pada opsir yang duduk di depannya.

“Ada masalah apa, Tuan?”

“Cepat lakukan sebelum mereka terbunuh!”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

~ To Be Countinued ~

 


.

.

.

.

Manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhan-lah yang menentukan, karena Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya.

Dari mulai rencana Sehun yang ingin keluar dari Black, tapi semuanya gagal dan tak bisa terlaksana seperti yang sudah ia rencanakan. Karena kasus Tuan Khaza yang telah resmi dibuka kembali.

Lalu rencana Luhan, Baekhyun, Hanna yang ingin membebaskan Tuan Khaza, tapi sempat terhenti karena Hanna goyah.

Berikutnya, rencana Hanna yang ingin memalsukan kematian Ayahnya, tapi gagal karena resiko yang amat besar. Hingga pada akhirnya, Myungsoo menyerahkan diri.

Sekarang, rencana Myungsoo di balik aksi penyerahan dirinya, apa akan gagal pula? Lalu, apa nama Jo Khaza akan bersih setelahnya?

.

.

.

Sungguh, cuma nyampeiin makna dari itu aja aku butuh berchapter-chapter buat memperjelasnya…haha Aku bahkan ga yakin kalian pada nyadar akan hal itu…/saking dodolnya aku ini/ hihihi maklum ya 😀 tapi emang semuanya butuh waktu^^

untuk pertanyaan terakhir, kalian bisa menemukan jawabannya di next chapter ya, semoga chapter ini ga mengecewakan. Dan maaf untuk segala kekurangannya^^

Oh ya, Regret ini udah mendekati ending (jangan tanya berapa chapter lagi, karena aku sendiri ga tau)..hee Tapi aku udah mempersiapkan FF baru sebagai penggantinya. Baca juga ya, judulnya “Ambition

Terakhir, Terima kasih untuk kalian semua…!!! Aku seneng kalian masih mau nemenin aku lewat comment-an kalian, sungguh itu berarti banget buat aku… Makasih ya 😀

Saranghae Yeorobun ❤

Regards,

Sehun’Bee

PS : Don’t Be Silent Readers and Plagiator, Okay^^ comment kalian adalah semngat aku..

Advertisements

624 comments

  1. baru aja mereka udah mau bahagia, dengan sehun udah ngungkapin ke hanna kalau dia lagi hamil. tiba” menghilang begitu aja
    so sweet yg sewaktu baca di atas gedung, terharu 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s