Regret [Chapter 11]

regret

Title : Regret | Painkiller

Author : Sehun’Bee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun || Khaza Hanna || Xi Luhan || Byun Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [6336 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

 Buka hati, mata dan telingamu untuk mencarinya. Karena apa yang kau lihat, hanya akan terlihat seperti apa yang kau lihat, jika kau tak ingin mencari tahu mengapa semua itu bisa terlihat. Apa yang kau dengar, hanya akan seperti apa yang kau dengar, jika kau tidak mencari tahu ada apa di balik ucapan itu. Karena kenyataan tidak akan pernah kau ketahui, jika kau menutup hatimu

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7 ¤ Chapter 7 ¤  Chapter 8 ¤ Chapter 9A  ¤ Chapter 9B ¤ Chapter 10

 regret

Seorang gadis terduduk lemas di atas sofa. Memar hampir memenuhi seluruh wajahnya. Air mata bahkan tak kunjung berhenti mengaliri pipi putihnya. Tubuhnya pun masih bergetar hebat, sementara kepalanya tertunduk dalam.

Takut.

Amat takut. Ia tak berani mengangkat wajahnya demi menatap seorang pria bertubuh tinggi besar di depannya itu. Tubuhnya bahkan sudah terasa amat remuk setelah mendapat peringatan sekaligus hukuman darinya. Tak hanya itu, ruang gelap dengan dinding besi yang menjadi tempatnya terpenjara saat ini pun ikut ambil andil atas rasa takutnya kini. Seolah tak ada celah untuknya melarikan diri atau bahkan bersembunyi. Namun, bukan mati yang ia takutkan, melainkan keselamatan orang yang ingin ia lindungi yang ia khawatirkan. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu, setelah kegagalannya menyembunyikan semua aktivitas yang selama ini ‘Ia’ lakukan.

“Aku memberimu kesempatan, Koyuki..!!”

Pria itu menatap tajam gadis yang terduduk dengan tubuh bergetar di hadapannya. Tangannya mengepal kuat, bekas darah bahkan hampir memenuhi punggung tangannya.

“Jika kau ikut berkhianat seperti teman-temanmu, maka aku tidak akan segan menghabisi pria itu di depan matamu!” Senyum miring terbentuk di wajah arogan-nya.

“O-Osamu-sama,” panggil Koyuki tersenggal, “Jangan sakiti me-reka, a-ku a-uhuk…” darah menyembur dari dalam mulutnya. Tenggorokannya terasa tercekat–sesak. Perutnya amat sakit setelah ditendang dan dipukul habis-habisan. Namun, “Aku akan membawa mereka kembali, jangan sakiti Myungsoo dan Sehun. Aku berjanji akan membawa mereka kembali… Aku mohon berikan aku kesempatan untuk itu! Dan aku mohon, jangan sakiti Baekhyun!” Ia tetap memohon dengan napas yang hampir habis.

“Sekalipun mereka berdua adalah anak emas-ku. aku akan tetap menghabisi mereka, jika mereka tetap memilih untuk mengkhianatiku.” Tegasnya dengan tatapan tajam yang terus menghujami tubuh tak berdaya Koyuki.

“Kesalahanmu yang menyembunyikan semua aktivitas targetmu masih bisa aku maafkan. Tapi, jika kau mengikuti jejak Sehun dan Myungsoo, maka akan aku pastikan kalian bertiga akan meregang nyawa di tanganku!” Lanjutnya mengancam. Membuat tubuh Koyuki semakin bergetar ketakutan. Ia sudah mendapatkan hukumannya karena menyembunyikan semua yang ia lihat selama ini. Ia tahu Baekhyun menyelidiki mereka sejak lama, namun ia hanya diam dan memberikan laporan palsu pada pemimpinnya itu. Dan sayangnya, kebohongannya itu terbongkar, hingga membuatnya harus rela berakhir dengan luka yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya. Tak hanya itu, aktivitas Myungsoo dan Sehun pun sudah ia ketahui. Membuat Koyuki buntu, hingga mengiyakan permintaan pemimpinnya untuk membawa Sehun dan Myungsoo kembali menjadi pilihan terbaiknya. Setidaknya, ia memiliki kesempatan untuk melindungi dua kawan sejawatnya. Hingga mereka tak akan berakhir sama seperti halnya dirinya atau bahkan lebih buruknya lagi–mati di tangan pemimpin mereka.

Bruk.

Suara pintu berbentur dengan kusen. Menandakan bahwa pria yang tadi berdiri di hadapannya itu telah pergi–meninggalkannya sendiri dengan kondisi tubuh yang hampir mati.

Perlahan, Koyuki menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa panjang yang di dudukinya. Ia berbaring di sana dengan air matanya yang tak kunjung berhenti. Kondisinya benar-benar terlihat menyedihkan, kaus putihnya bahkan sudah penuh dengan bekas darah. Sementara kaki jenjangnya yang hanya tertutupi hot pants terlihat memar di beberapa titik.

Bruk.

“Yuki?”

Seorang datang dengan wajah paniknya. Ia lantas menghampiri Koyuki dan kemudian bersimpuh di depannya.

“Yong Guk,” Koyuki tak bisa menyembunyikan kesedihannya, saat mendapati temannya itu. Tangisnya bahkan semakin tumpah saat tubuh kekar pria itu membawanya ke dalam pelukannya.

“Koyuki,” seseorang kembali bergabung. Ia terlihat terengah, seperti sehabis berlari maraton.

“Lu,” Koyuki masih terisak, saat mendapati pria yang tengah berdiri di ambang pintu itu.

“Kajja, kita harus mengobati lukanya,” ujarnya sembari melangkah menghampiri.

“Gwaenchana Lu, pergilah! Temui Sehun dan Myungsoo, katakan semuanya pada mereka, sebelum sesuatu yang buruk terjadi,” ujarnya tulus. Sebelum akhirnya, tubuhnya melemas–hingga ia kehilangan kesadarannya.

 


regret

 

Sehun’s POV

Aku menatap tajam seorang gadis yang tengah menatap datar ke arahku. Wajahnya tanpa ekspresi–seperti biasa. Ia benar-benar telah berubah setelah mengetahui siapa aku. Tak ada lagi nada manjanya saat ia bicara padaku, dan tak ada lagi nada memohonnya saat ia menginginkan sesuatu dariku—Semuanya telah berubah, karena aku berubah.

“Aku ingin bertemu Krystal, izinkan aku untuk pergi menemuinya,” ujarnya–datar.

“Untuk apa?” tanyaku menyelidik.

“Minta maaf,” jawabnya singkat. Membuatku menuntup mata sesaat.

“Tidak perlu,”

“Aku harus melakukannya, aku tidak ingin ia membenciku, biarkan aku pergi…!!”

Mataku menatap lurus ke arahnya. Kesalahpahaman memang sudah terjadi di antara kami bertiga, aku, Krystal dan Hanna. Terhitung semenjak pernikahanku dengan Hanna.

Dan Krystal, dia sama sekali tidak tahu masalah yang melatar belakangi pernikahan kami. Aku hanya mengatakan bahwa ini amanat dari kedua orangtua kami. Dan aku berjanji padanya akan mengakhiri ini dengan segera, kemudian melanjutkan hidupku bersamanya. Krystal pun mengerti, hingga kami tetap berhubungan sampai saat ini. Namun, tidak untuk Hanna–Krystal membencinya, meski mereka berteman amat baik sebelumnya. Dan itu semua karena cemburu yang telah menguasai hatinya, hingga benci itu tumbuh untuk Hanna.

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Sesuatu yang hanya akan dimengerti oleh wanita,” jawabnya, membuatku bertanya. Tak lama, kuhembuskan napasku kasar.

“Tidak lebih dari 3 jam, pergilah!” Aku menyetujui permintaannya, entah mengapa. Ah tidak, aku memang tak pernah bisa menolak semua keinginanya. Meski perasaan itu telah berubah.

Kini, aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu ruang kerjaku. Kututup mataku perlahan saat dirinya tak lagi ada di hadapanku.

Panasnya terik matahari pada siang itu pun seolah mampu menembus ruang kerjaku yang hanya bersuhu 16 derajat Celcius. Tubuhku terasa amat panas–begitu bergejolak. Jantungku pun terus bergemuruh hebat di dalam sana. Terasa sakit – amat sakit, dan aku tak tahu mengapa.

♣ ♣ ♣

 

Aku berjalan ringan di sebuah lorong apartemen. Beberapa pintu berjejer rapi di sisi kanan dan kiri tubuhku. Kakiku terus melangkah menggapai salah satu pintu yang ada di sana. Kemudian memasukan kode kuncinya yang sudah aku hafal dengan baik, lantas masuk ke dalamnya tanpa ada rasa ragu sedikitpun.

“Krys, kau di mana?” suaraku menggema, saat tak mendapati Krystal di depan televisi—tidak seperti biasanya. Kebiasaanku setiap pulang kerja mengunjunginya, membuatku hafal pada semua kebiasaannya di sore hari. Dan sekarang adalah jamnya menonton drama, namun sosoknya tak ada.

Kini, kulangkahkan kakiku untuk memasuki kamarnya. Namun nihil, tak ada sosoknya di sana. Lantas, kubawa tubuhku untuk menguping ke dalam kamar mandinya yang masih tertutup rapat. Siapa tahu, ia sedang mandi.

Namun hampa, tak ada suara yang aku dengar dari dalam sana. Hingga aku berinisiatif untuk membuka pintu yang tak terkunci itu.

Deg.

Aku melihat ke arah sepatuku. Ada aliran darah segar yang mengalir hingga ke dekat pintu masuk. Manikku lantas bergerak lincah, mencari darimana asal aliran darah itu. Dan saat itu juga, tubuhku menegang–tak bisa bergerak.

“Krys?” gumamku kaku. Melihat tubuh pucat pasi yang tengah terbaring lunglai di dalam bathtub, dengan sebelah tangan yang menjuntai keluar.

“KRYSTAL,” teriakku panik, setelah sadar atas apa yang aku lihat. Kakiku pun bergerak cepat menggapai tubuhnya. Bisa kulihat pergelangan tangannya yang hampir putus juga darah yang masih keluar dari dalamnya. Sementara, sebelah tangannya yang lain berada di atas perut dengan sebuah pisau dapur di genggamannya.

“Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini?” tanyaku panik. Kulepas dasiku demi menghentikan aliran darahnya, namun saat kucek arteri karotis-nya—aku tak lagi menemukan denyut di sana.

“Tidak, ini tidak mungkin…” Kepalaku menggeleng kuat.

Author’ POV

“KRYSTAL…”

Sehun terbangun dari tidurnya dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya. Peluh sebesar biji jagung pun tak henti-hentinya keluar dari pelipisnya. Tubuhnya bergetar hebat–begitu panik. Namun saat ia sadari, itu hanya mimpi. Mimpi yang begitu nyata, dimana kilasan masa lalunya yang menjadi mimpinya. Mimpi yang begitu menyeramkan sekaligus menyakitkan, karena berisi kejadian kelam yang pernah ia alami–saat mendapati wanita yang dicintainya tiada dan membawa buah cintanya pergi.

“Shit,” Sehun mengumpat kesal–begitu marah. Matanya terpejam, mencoba untuk menetralisir detak jantungnya yang berdebar begitu hebat. Namun tangannya terkepal begitu erat–meremas selimut tebalnya. Mengingat semua yang diceritakan Ryuu, membuatnya merasa menjadi orang yang begitu bodoh, karena terperangkap dengan fakta palsu yang ia lihat saat itu. Hingga benci tumbuh untuk orang yang sama sekali tidak bersalah atas apa yang telah terjadi saat itu.

Awalnya, ia tak yakin dengan hasil penyelidikan yang telah ia lakukan belum lama ini, hingga setitik benci masih tersimpan erat di dalam hatinya. Namun kini, ia yakin, bahwa apa yang ia ketahui di balik itu adalah benar adanya.

“Brengsek,” Sehun kembali mengumpat. Giginya bergertak keras, alisnya bertaut–penuh emosi. Perlahan, ia buka mata elang-nya, lantas melirik ke arah samping tempat tidurnya.

Kosong.

Tak ada lagi seorang gadis yang tertidur di atasnya. Tak lama, maniknya menangkap jam yang berdiri di atas nakas.

“Sudah pagi,” gumamnya pelan, saat melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 7 tepat. Ia hembuskan napasnya sesaat, sebelum akhirnya beranjak–menuju kamar mandi.

Sehun berhenti tepat di bawah shower. Ia lepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya, lantas melemparnya asal ke dalam keranjang pakaian kotor. Sebelum akhirnya, menyalakan shower yang berada di atasnya. Membiarkan air membasahi kepalanya, hingga tubuhnya sedikit menegang–saat merasakan dinginnya air yang menembus pori kulitnya. Sebelah tangannya bertumpu pada granit yang melapisi dinding kamar mandinya. Sementara matanya tertutup sempurna, seolah membiarkan aliran air itu membawa seluruh beban di pundaknya.

Cukup lama Sehun berada di dalam kamar mandi. Bahkan ia tak peduli dengan kulit putih susunya yang berubah menjadi pucat pasi. Ia hanya butuh relaksasi, setelah mendengar dan mengetahui kenyataan yang ada. Batinnya pun terguncang, hingga ketika ia tiba di rumah, ia tak berani menatap wajah Hanna. Ia hanya memberikan apa yang gadis itu inginkan darinya, kemudian berlalu dengan Luhan yang mengekornya. Namun, ketika malam tiba dan rasa kantuk datang menyerangnya, jiwanya tetap membawa raganya untuk tidur di samping gadis itu. Tak peduli dengan seberapa keras pikirnya menolak, namun hatinya tetap bersikeras untuk tidur di sampingnya.

Kini, Sehun tengah mengeringkan tubuhnya, pikirnya masih mengambang. Bahkan ia tak sadar, saat ia menyemprotkan Perfume Notorious milik Hanna ke tubuh atletisnya. Sementara, wangi semerbak parfum mewah keluaran Ralph Lauren itu langsung menguar dari dalam tubuhnya. Begitu menyenangkan juga menggoda, tak heran parfum itu hanya bisa didapat di London, Inggris. Namun sayangnya, wangi feminim itu tak mampu membawanya kembali–Sehun masih larut dalam pikirnya.

Kaus hitam tipis dan celana jeans berwarna senada pun ia pilih untuk dipakainya. Ia sama sekali tak berniat untuk pergi ke kantor hari ini. Pikirnya tengah kacau, terlebih ada hal yang ingin ia lakukan di rumah.

Bicara pada Hanna.

Ya. Sehun ingin mengetahui semuanya. Selama ini, ia tak pernah mau mendengarkan penjelasan dari gadis itu. Ia terus menyalahkan Hanna atas apa yang telah terjadi pada Krystal. Ia terus berasumsi bahwa Krystal bunuh diri karena mendapat tekanan dari Hanna, setelah mereka bertemu dan bicara bersama. Terlebih, bicara Hanna yang tak jelas setiap kali mencoba menceritakan itu. Hingga membuatnya berpikir bahwa Hanna tengah mencoba untuk membohonginya. Tanpa tahu, Hanna tengah meredam semua rasa takutnya karena traumanya yang kembali—setelah kembali kehilangan orang yang disayanginya dengan cara tragis.

Sebenarnya, Sehun sendiri tahu itu. Ia mengetahui ketakutan Hanna. Namun, ia menampiknya karena rasa bencinya saat itu. Dan kini, ia ingin kembali mendengarkan semuanya dari gadis itu. Meski ia tahu, hal itu akan kembali mengguncang jiwanya.

“Hah…” Sehun menghembuskan napasnya berat, sebelum membuka handle pintu kamarnya. Ia bawa tubuhnya turun–menuruni setiap anak tangga. Matanya pun berkeliling mencari sosok Hanna. Namun nihil, tak ada sosoknya di ruang tengah. Langkah kakinya tak berhenti sampai di situ, ia terus bergerak–mencoba untuk mencarinya di tempat lain. Namun terhenti, saat mendengar suara gongongan anjing kecil yang berlari ke arahnya.

“Gouk… Gouk…”

“Dimana majikanmu?” Sehun bertanya seperti orang bodoh. Tubuhnya pun turun menggendong anjing kecil itu, “Yui?” Sehun membaca gandulan kalung yang melingkar sempurna di leher anjingnya. Senyum tipis pun tercetak di wajah tampannya. Ia tak pernah tahu nama kedua anjing Hanna, yang ia tahu hanya jenisnya yang berbeda.

Dan tanpa diduganya, Yui justru kembali melompat saat Sehun menyebut namanya. Lalu mengisyaratkannya untuk mengikutinya. Sehun yang mengerti pun lantas mengikutinya, hingga anjing kecil itu menuntunnya ke taman.

Kini, bisa ia lihat, Hanna yang tengah merangkak sembari menyibak semak-semak. Wajah panik terlihat jelas dari air mukanya, membuat Sehun mengerutkan alis bingung. Namun, pemandangan serupa dilihatnya dari para pengawal pribadi Hanna. Bahkan ada yang sampai memanjat pohon.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” gumam Sehun penuh tanya. Sementara, fokusnya kini menangkap seekor anjing yang berbeda. Sehun tak tahu nama anjing itu, namun yang pasti, anjing itu terlihat tengah mencari sesuatu. Hidungnya mengendus-ngendus tak tentu, tapi hanya berputar-putar di tempat itu saja. Membuat Sehun tanpa sadar terkekeh geli melihatnya.

“Ah… Taejun,” panggil Sehun saat pria yang dipanggil Taejun itu lewat tidak jauh darinya.

“Tuan?” Taejun membungkuk sopan. Ia sama sekali tidak tahu Sehun sudah berdiri di sana sedari tadi.

“Apa yang sedang kalian cari?” tanya Sehun, mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya.

“Kami sedang mencari Sugar Glider milik Nyonya, Tuan. Mereka menghilang saat Nyonya hendak memberi mereka makan,” jawab Taejun.

“Bagaimana bisa?” Sehun menaikkan sebelah alisnya, sementara pikirnya bertanya, ‘kecerobohan apa lagi yang kau lakukan, Hanna?’

“Nyonya bilang, ia lupa menutup pintu kandangnya kembali saat ia menyiapkan apel untuk mereka,” jelas Taejun. Membuat Sehun menarik napasnya berat.

“Ya sudah, kalian pulanglah! Hari ini aku tidak pergi ke kantor,” titahnya kemudian.

“Tapi, Tuan—” Taejun bungkam saat mendapat tatapan tajam Sehun. Ia lantas membungkukkan tubuhnya sopan, sebelum akhirnya memanggil seluruh bawahannya.

“Kalian mau ke mana?” Hanna bertanya, saat melihat orang-orang yang tengah membantunya mencari tiba-tiba saja beralih–menghentikan aktivitas.

“Maaf Nyonya, saat ini Tuan ada di rumah. Jadi, kami tidak ada kewajiban menjaga Anda,” Hanna terlihat kecewa mendengar jawaban dari salah satu pengawalnya, “tapi, bagaimana dengan Zoe dan Zoya? Mereka belum ditemukan!”

“Maaf Nyonya,” Taejun terlihat menyesal mendapati kekecewaan di wajah Hanna.

“Jika kalian pergi, siapa yang akan membantuku untuk mencari mereka? Aku tak mungkin mencarinya sendirian,” terdengar nada memohon dari untaian kata yang Hanna ucapkan.

“Kita bisa melanjutkannya lagi besok, Nyonya!”

“Tapi—”

“Hanna…” Suara dingin nan tegas memanggil. Membuat Hanna refleks menoleh ke arah sumber suara. Dan saat itu juga, ia mendapati Sehun yang tengah berdiri tidak jauh darinya, dengan hanya mengenakan kaus tipis yang membentuk tubuh sempurnanya.

“Kau tidak pergi kerja hari ini?” tanya Hanna spontan, saat mendapati penampilan casual Sehun.

“Kalian boleh pergi sekarang,” ujar Sehun tanpa menjawab pertanyaan Hanna. Karena ia tahu, Hanna sudah mendapatkan jawabannya.

“Kenapa? Biarkan mereka tetap di sini,” tanya Hanna tak suka.

“Mereka butuh libur,” jawab Sehun logis.

Tak ingin mendengar majikan mereka berdebat. Membuat sepuluh orang pria bertubuh kekar itu memutuskan untuk segera undur diri–pergi dari tempat itu secepatnya. Meski sesungguhnya, mereka masih ingin bermain bersama majikan perempuan mereka.

Sementara Hanna, hanya bisa menganga saat melihat orang-orang yang tadi menemaninya, kini berlalu satu per satu melewati tubuhnya.

“Kenapa tiba-tiba sekali? Kenapa tidak bilang dulu padaku? Kenapa kau begitu menyebalkan!” Protes Hanna. Maniknya menatap tajam wajah datar Sehun. Sementara wajahnya sudah merah padam, menahan emosi juga tangis karena kehilangan kesempatan untuk menemukan kembali hewan peliharaannya.

“Masuk!” Titah Sehun, seolah tak peduli dengan Hanna yang sudah dibuat kesal olehnya.

Sementara Hanna, hanya bisa mengepalkan jemarinya kuat–ia sadar tak bisa melawan perintah pria itu. Tumitnya pun ia hentakkan sembari melangkah menuruti perintahnya. Tatapan sinis pun ia berikan padanya, “Kau jahat,” ujarnya saat berpapasan dengan tubuh pria itu.

Sehun hanya diam saat Hanna melewati tubuhnya. Namun ia segera berbalik, lantas mengejar langkah Hanna yang belum jauh darinya. Kemudian meraih tangannya lalu menariknya cepat, hingga tubuh Hanna membentur tubuhnya.

Sehun marah!

Batin Hanna panik. Sementara tangannya bergerak, mencoba untuk merenggangkan jarak yang tercipta di antara tubuh mereka. Namun, Sehun justru melingkarkan tangannya pada punggungnya. Membuat tubuhnya terkunci dalam dekapan hangat pria itu.

“Ya. Aku memang menyebalkan, bahkan sangat jahat. Dan kau berhak membenciku sesukamu, Hanna. Namun—” Sehun tak sanggup melanjutkan ucapannya. Tenggorakannya tercekat karena sesak di dadanya. Ia merasa tak pantas untuk mendapatkan ‘maaf’ dari Hanna atas semua yang sudah ia lakukan selama ini. Hingga pada akhirnya, Sehun hanya diam dengan tangan yang semakin erat mengunci tubuh Hanna. Bahkan kini, ia bisa merasakan perut Hanna yang sedikit buncit.

Sementara Hanna, hanya terdiam–menunggu. Ia tak mengerti dengan apa yang Sehun lakukan saat ini. Ia mengira Sehun akan marah besar padanya, karena sudah mengatainya ‘jahat’. Bahkan semalam–sepulang kerja, Sehun begitu dingin terhadapnya. Dan kini, pria itu justru memberikannya kehangatan. Tak hanya itu, aroma khas pria itu sekaligus parfum yang digunakannya pun bercampur menerobos indera penciumannya, membuatnya merasa nyaman juga tenang. Namun kali ini, Hanna tak berani membalas pelukannya.

“Sehun, kau baik-baik saja?” pertanyaan bodoh Hanna lontarkan, hanya karena merasa ada yang tidak beres dengan Sehun.

“Buruk. Aku merasa amat buruk,” jawab Sehun parau.

“Kau sakit?” tanya Hanna menyelidik, tubuhnya sedikit merenggang mencoba untuk menatap wajah Sehun. Namun, pria itu tak mengizinkannya. Ia justru semakin mempererat pelukannya.

 

“Ne, aku sakit,” Sehun menghirup dalam aroma Musk dari tubuh Hanna. Aroma yang begitu menyenangkan juga menggoda. Aroma yang begitu ia sukai dari gadis itu, setelah aroma feromon-nya yang begitu memabukkan.
.
“Kalau begitu kau harus pergi ke dokter, Sehun…”
.
“Tidak perlu,”
.
Karena hatiku yang sakit bukan ragaku, dan itu karena aku telah menyakitimu, Hanna.
.
.
Sementara Hanna, kembali mencoba untuk melepaskan diri dari Sehun. Dan kali ini–ia berhasil. Maniknya lantas mengunci wajah Sehun–menatapnya begitu dalam. “Memangnya kau sakit apa?”
.
.
“Kenapa kau begitu peduli?” tanya Sehun dengan manik yang ikut terkunci pada hazel gadis itu.
.
.
“Memangnya tidak boleh?” Hanna balik bertanya karena ia tak tahu jawaban dari pertanyaan Sehun. Lebih tepatnya, ia tak tahu harus menjawab apa.
.
.
“Tidak. Tentu saja boleh, kau istriku!” Sehun tersenyum kecil mendapati semburat merah di wajah Hanna. Meski sesungguhnya, ia sangat ingin bertanya.’Bukankah aku selalu menyakitimu? Kenapa kau bersikap baik padaku?’ namun, ia urungkan niatnya–karena Sehun tahu, Hanna tidak akan tahu jawabannya. Dan pada akhirnya hanya akan membuatnya menunggu. Tak apa jika jawabannya jelas, jika tidak? Justru akan membuatnya semakin penasaran. Jadi, lebih baik mengalihkan pembicaraan daripada menunggu Hanna berpikir. Sehun memang bukan mind reader, namun ia sudah amat mengenal Hanna. Hingga ia sudah amat hafal dengan cara berpikir gadis itu.
.
Sehun juga tahu, dirinya dan Hanna merupakan dua sisi yang amat berbeda. Dimana dirinya merupakan pribadi yang pintar mengendalikan emosi, namun selalu menyimpan dendam juga benci. Sementara Hanna adalah pribadi yang mudah terpancing, namun juga mudah reda bahkan mudah melupakan. Hingga ia tak pernah menyimpan benci nan berlebih pada orang yang sudah berbuat jahat padanya. Namun, selalu ingat akan kebaikkan orang lain terhadapnya. Benar-benar childish.
.
.
“Aku hanya ingin di rumah hari ini, karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Sebelah tangan Sehun menyentuh pipi Hanna. Ia mengelusnya lembut dengan menggunakan Ibu jarinya.
.
Sementara Hanna, masih kaku di tempatnya. Ia kembali terbuai akan perlakuan manis Sehun. Fokusnya pun terkunci dalam tatapan lekat pria itu.
.
“K-kita bisa bicara setelah kau pulang kerja, Sehun. Kenapa harus membolos?” tanyanya setelah sadar. Sementara Sehun, hanya tersenyum dibuatnya.
.
“S-Sehun?” panggil Hanna kikuk–saat tak kunjung mendapat jawaban.

.

“Memangnya tidak boleh?” goda Sehun. Kini, senyum jail tercetak jelas di wajah tampannya, membuat muka bebek terbentuk di wajah Hanna.

“Aku rasa kau baik-baik saja. Aku mau kembali ke kamar, sarapanmu ada di meja makan!” Ujar Hanna sedikit kesal. Ia lupa, tadi ia sedang marah pada pria itu. Dan kini, ia kembali mengingatnya hingga hormon progesteron kembali menguasai dirinya. Tangannya mendorong tubuh Sehun begitu saja, lantas berbalik tanpa memperdulikan lagi Sehun di belakangnya.

“Bukankah ini masih terlalu pagi untuk kembali ke kamar?” Sehun tersenyum kecil, namun menggoda. Kakinya bergerak santai, mengekor tubuh Hanna yang menuju ke arah tangga.

“Jangan mengikutiku!” Ketus Hanna seraya berbalik, membuat Sehun refleks menghentikan langkah kakinya.

“Sensitif sekali, eoh?” ujarnya saat Hanna kembali berbalik–meninggalkannya.

 

♣ ♣ ♣
 
.
Matahari sudah berada di atas kepala, namun Hanna tak lagi kembali ke bawah. Bahkan ia tak tahu, hewan kecilnya yang sempat menghilang–kini telah kembali bersama kedua anjing peliharaannya. Sementara Sehun, hanya diam memperhatikan hewan-hewan itu bermain. Pikirnya kembali mengambang–memikirkan Hanna yang begitu sensitif, sementara ia ingin membicarakan soal Krystal bersamanya. Sehun ragu untuk membicarakan itu. Ia takut kondisi mental Hanna akan mempengaruhi ketahanan janin di dalam perutnya.

Awalnya, Sehun tak mengerti mengapa ia tak bisa ‘melenyapkannya’ seperti yang telah ia rencanakan sebelumnya. Karena setelah ia yakin bahwa Hanna sedang hamil, ia justru membiarkannya. Bahkan, ia hanya diam saja seolah tak tahu apa pun. Dan itu semua terhitung semenjak ia menerima laporan, bahwa ada kejanggalan dalam kasus kematian Krystal. Sejak saat itulah semua pandangannya berubah terhadap Hanna, sikapnya pun berubah, meski masih ada setitik benci yang bertahan. Namun benci itu menghilang sepenuhnya, setelah kedatangan Ryuu ke kantornya. Membuatnya sadar sekaligus–menyesal.

“Sehun…”

Sehun mengerjap saat mendengar namanya dipanggil. Ia lantas menoleh ke samping kanan tubuhnya, dan saat itu juga ia mendapati Hanna yang tengah berdiri kikuk di sampingnya, “Ne?”

Hanna hanya diam sembari memainkan anak rambutnya. Terlihat berpikir. Namun nyatanya, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya hingga datang menemui pria itu, sementara ia ingat—ia sedang marah padanya.

“Tidak jadi,” ujarnya seraya berbalik. Membuat Sehun tanpa sadar menganga dibuatnya. Namun tak lama, ia bangkit–berdiri. Sebelah tangannya menarik tangan Hanna, hingga gadis itu kembali mundur ke belakang dan kemudian berakhir di pelukannya.

“Kenapa? Kau mau apa, heum?” tanyanya seduktif. Membuat jantung Hanna bergemuruh–berisik. Wajahnya pun menunduk, sementara maniknya terfokus pada tangan kekar Sehun yang kini melingkar sempurna di perutnya. Bahu sebelah kanannya pun ketiban massa, saat dagu pria itu bertumpu di atasnya.

“A-ani. Aku lupa, biarkan aku pergi,” Hanna tergagap. Tangannya bergerak sedikit panik mencoba melepas lingkaran tangan Sehun.
.
“Tenanglah Hanna! Aku tidak akan menyakitimu,” ujar Sehun tak suka, saat mendapat penolakan.
.
“Sebenarnya ada apa denganmu?” Hanna sedikit jengah akan perubahan sikap Sehun–emosinya kembali terpancng karenanya. Meski sejujurnya, ia amat menyukai perubahan itu.
.
“Kenapa memangnya?” tanya Sehun tak mengerti.
.
“Kau berubah,” jawab Hanna cepat, “sebenarnya, apa yang membuatmu bersikap baik padaku? Apa ini semua karena Appa? Kau ingin menemukan Appa dengan cara berbaik hati padaku, begitu?” tanya Hanna sarkastik. Hormonnya benar-benar sulit untuk dikendalikan, hingga membuatnya lebih sensitif dari sebelumnya.
.
Sementara Sehun, langsung merenggangkan pelukannya, lantas membalikkan tubuh Hanna cepat, “Kenapa kau berpikir seperti itu? Jika aku berniat melakukan cara munafik seperti itu, maka sudah kulakukan sejak awal pernikahan kita,” tampik Sehun. Maniknya mengunci tajam hazel Hanna. Membuat Hanna merutuki lidahnya yang bergerak sesuka hati—karenanya amarah Sehun terpancing. Lapisan kaca pun mulai terbentuk pada kedua mata indahnya. Membuat Sehun sadar akan kata-katanya yang terdengar begitu tak bersahabat di telinga gadis itu.
.
Sehun pun merutuki dirinya sendiri karena kembali melukai Hanna. Tak hanya itu, Sehun pun begitu merutuki perubahan mood pada seorang Ibu hamil. Karena hal itu benar-benar menyiksanya sebagai seorang lelaki. Dimana posisinya menjadi serba salah setiap kali berhadapan dengan tingkat ke-sensitifannya. Namun tak bisa bisa dipungkiri–Sehun senang saat gadis itu kembali berani meminta sesuatu darinya. Dan ia senang bisa memenuhi semua keinginannya.
.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” Sehun menangkup pipi Hanna sesaat, sebelum akhirnya menuntun gadis itu untuk duduk di sofa. Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan yang akan melahirkan keributan besar di antara mereka.
.
“Aku tahu, ini tidak baik untuk kondisi tubuhmu saat ini. Namun, aku tak ingin membuat masalah ini semakin berlarut-larut,” ujar Sehun setelah mendudukkan tubuhnya di samping Hanna. Sorot tajamnya pun mengunci hazel gadis itu. Sebelum akhirnya turun, menatap haru ke arah perutnya.
.
Sementara Hanna, sudah tegang dibuatnya. Wajahnya bahkan sudah berubah menjadi pucat pasi. Saat menelisik kata juga arah tatapan Sehun yang tertuju ke arah perutnya, “Sehun kau—” Hanna tak dapat melanjutkan ucapannya. Ia panik, saat menyadari—Sehun sudah mengetahuinya.
.
.
Sehun sendiri baru menyadari ucapannya mengarah ke sana, dan secara tidak langsung ia memberitahukan pada Hanna bahwa ia sudah tahu apa yang sedang gadis itu sembunyikan. Namun, Sehun ingin Hanna yang mengatakannya secara langsung hingga, “Aku ingin tahu apa yang terjadi saat itu Hanna?! Antara kau dan Krystal,” ia putuskan untuk segera masuk ke inti permasalahan.
.
Hazel jernih Hanna kembali menatap manik elang di depannya. Ia pikir, Sehun akan membahas kehamilannya. Namun nyatanya, Sehun memintanya untuk menjelaskan perihal lain yang justru lebih ditakutkannya. Ketakutan Hanna pun semakin tersirat dari air mukanya, maniknya bahkan ikut bergetar saat menatap pria di depannya itu.
.
.
“Tenanglah, aku—“
.
.
“Bukan aku. Bukan karenaku Krystal meninggal,” tubuh Hanna bergetar. Ia bahkan refleks mundur perlahan, seolah mencoba untuk menjauh dari Sehun.
.
Sehun yang melihat ketakutan Hanna pun teriris. Hatinya sakit melihat itu. Ia tak menyangka, kematian Krystal dan kebodohannya selama ini begitu mengguncang Hanna. Bahkan dulu, ia tak peduli akan ketakutan Hanna saat ia terus-terusan menuntutnya—meminta penjelasan. Bahkan ia tak peduli dengan air mata kesedihan gadis itu.
.
.
“Bukan aku Sehun. Bukan aku,” ulangnya. Dan saat itu juga Sehun kembali mendekat, kemudian membawa tubuhnya ke dalam dekapannya. Bisa Sehun rasakan tubuh Hanna yang semakin bergetar hebat.

.

“Aku tahu–kau tidak salah, tenanglah! Kali ini aku akan mendengarkanmu … Bicaralah pelan-pelan, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu lagi.” Sehun mencoba untuk menenangkan Hanna, sementara gadis itu sudah menangis di dalam pelukannya.

FlashBack On

Siang itu, Hanna berdiri kaku di depan sebuah pintu berdaun putih. Matanya menatap nanar handle pintu di depannya, sementara tangannya tarik-ulur menggapai tombol. Hanna ragu — amat ragu. Padahal sebelumnya, ia suda tekadkan untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan Krystal, bahkan ia berani menemui Sehun di kantornya demi meminta izinnya. Namun kini, ia justru menarik ulur tangannya–ragu untuk memencet bell.

Ceklek.

Deg.

Kaku. Hanna semakin kaku saat pintu di depannya tiba-tiba saja terbuka. Pun dengan orang yang berada di baliknya. Mereka hanya saling tatap dalam keterkejutan.

“Kau? —mau apa kau ke sini?” tanyanya sinis–tak suka. Membuat nyali Hanna runtuh seketika.

“K-Krys,” Hanna tergagap. Sementara tatapan tajam terus menghujami dirinya, “Kau mau ke mana?” lanjutnya bertanya.

“Bukan urusanmu!” Tegas Krystal. Tubuhnya melewati Hanna begitu saja dengan sekantung sampah di tangannya.

“Krys, ada yang ingin aku bicarakan—”

“Tak ada yang perlu kita bicarakan, semuanya sudah jelas!”

“Krys kau salah paham, aku ha–”

“Lebih baik kau pergi Hanna! Aku tak ingin melihatmu,”

“Krys,”

“Kau jahat Hanna, KAU JAHAT…!!!” Krystal berbalik sembari berteriak pada Hanna yang mengekornya, “karena Ayahmu, Sehun harus menikah denganmu. Dan kau sama sekali tidak menolaknya! Sementara kau tahu, aku dan Sehun menjalin hubungan.”

Hanna menatap nanar wajah Krystal yang dipenuhi emosi, “Tidak Krys, tidak seperti itu. Aku bisa menjelaskannya—”

“Aku tak ingin mendengar penjelasan apa pun darimu! Sekarang pergilah! Aku tak ingin melihatmu lagi.”

“Tapi Krys—”

“Tidak. Aku bilang tidak ya tidak!”

“Krys, dengarkan aku…!!”

“CUKUP. KAU JAHAT HANNA…!!!” Krystal kembali berteriak, sebelum akhirnya berlalu melewati tubuhnya. Meninggalkan sekantung sampah yang tadi di bawahnya, lantas kembali memasuki apartemennya.

Tubuh Hanna bergetar–menahan tangis. Bahkan ia tersentak saat mendengar benturan pintu yang ditutup secara kasar. Namun perlahan, Hanna berbalik–menatap ke arah daun pintu itu. Sebelum akhirnya kembali melangkah–mendekat, dan kemudian berhenti tepat di depannya. Lidahnya pun kelu saat pikirnya terus memerintahkannya untuk memanggil seorang gadis yang berada di dalamnya. Sebisa mungkin ia kendalikan dirinya, agar tak kehilangan kesempatan untuk meluruskan semuanya.

“Krys, aku mohon dengarkan aku!” Hanna kembali bersuara, ia yakin Krystal bisa mendengarnya.

Sementara Krystal, tengah bersandar pada daun pintu dengan air mata yang sudah menuruni lekuk pipinya.

“Kau salah paham Krys, semua yang kau lihat dan dengar tidak seperti apa yang terjadi. Semua itu tidak benar! Aku ataupun Sehun, sama-sama tidak menginginkannya. Dan ini semua bukan karena Ayahku, jangan salahkan Beliau. Ayahku tak salah Krys, aku mohon jangan salah paham,” suara Hanna bergetar hebat. Krystal yakin, gadis itu pun tengah menangis.

“Aku yakin kau mendengar kabar perihal keterlibatan Sehun. Dan pernikahanku dengannya semata-mata hanya untuk melindunginya dari jeratan hukum,” ujar Hanna lagi. Membuat Krystal yang mendengarnya membelalak samar. Ia tahu, mengenai kabar keterlibatan Sehun dengan gengster, namun Sehun menampiknya bahkan pengadilan menyatakan ia tak bersalah.

“Pernikahan kami bukanlah perjodohan yang diinginkan Ayahku seperti yang kau kira selama ini. Beliau tidak salah Krys, bahkan Beliau tengah koma dan tak tahu apa pun perihal ini. Aku hanya—“
.
Ceklek.
.
“Apa yang kau bicarakan Hanna?” tanya Krystal menginterupsi, setelah membuka pintunya. Maniknya menelisik, mencoba untuk mencari kebohongan dari hazel jernih Hanna. Namun nihil, hazel itu terlihat begitu murni juga suci. Membuat Krystal yakin, Hanna tidak sedang membohonginya.
.
“Dengarkan aku, Krys! Aku mohon…” Krystal menarik pergelangan tangan Hanna, membawanya untuk masuk ke dalam.
.
“Melindungi Sehun dari jerat hukum? Apa maksudmu? Sehun mengata–“
.
“Tidak Krys. Jangan hanya mendengarkan sesuatu dari satu arah saja, jika kau ingin tahu di mana letak kebenarannya.” Hanna menginterupsi, “Buka hati, mata dan telingamu untuk mencarinya. Karena apa yang kau lihat, hanya akan terlihat seperti apa yang kau lihat, jika kau tak ingin mencari tahu mengapa semua itu bisa terlihat. Apa yang kau dengar, hanya akan seperti apa yang kau dengar, jika kau tidak mencari tahu ada apa di balik ucapan itu. Karena kenyataan tidak akan pernah kau ketahui, jika kau menutup hatimu,” lanjut Hanna, maniknya menatap lekat Krystal.
.
“Kau menuduh Sehun membohongiku?” tatapan tajam kembali Hanna dapat.
.
“Dia membohongimu karena tak ingin kehilanganmu, Krys.” Hanna membenarkan.
.
“Dan kau memintaku untuk mempercayaimu, begitu?” tanyanya tak suka.
.
“Ya. Aku ingin kau mempercayaiku!” Jawab Hanna yakin. Membuat Krystal terhenyak.
.
“Kalau begitu, katakan apa yang sebenarnya terjadi…”
.
“Pernikahan kami bukanlah sebuah perjodohan, namun sebuah permainan. Dimana ikatan menjadi sebuah alat untuk melindungi Sehun, juga untuk memenjarakanku selama Ayahku koma—“
.
“Apa maksudmu?”
“Krys, Ayahku difitnah. Beliau tidak salah, Beliau hanya ingin melindungi sahabatnya. Namun kini, sahabatnya sendiri yang menjerumuskan Beliau–lalu keluar sebagai pahlawan dengan membayar kerugian negara. Hingga Sehun terbebas dari hukum yang menjeratnya,” jelas Hanna. Matanya masih menatap nanar Krystal, “Mereka anggota Black ID, Krys!”
.
“Tidak. Itu tidak mungkin. Kau pasti bercanda?! Apa buktinya jika mereka bukan orang baik, huh?” elak Krystal cepat.
“Pernikahan kami,” jawab Hanna singkat, “jika bukan karena paksaan kelompoknya, Sehun tidak akan menikah denganku. Dan jika bukan karena Ayahku, aku pun tak akan mau menikah dengan seorang yang aku benci saat ini.”Krystal terdiam. Menelisik semua yang Hanna katakan.

“Aku membencinya, Krys! Dia mengkhianatiku. Dan aku mohon, jangan benci aku karena itu, jangan juga benci Sehun karena itu. Ia hanya mengkhianatiku tapi tidak denganmu, karena ia begitu mencintaimu…”

Krystal melemas, tubuhnya hampir terjatuh jika saja Hanna tidak menahannya dengan memeluknya. Hanna menangis di atas pundak Krystal, membiarkan rasa sakitnya menguar lewat air matanya.

“A-ku telah kehilangan Sehun, sahabatku. Dan aku tak ingin kehilangnmu, Krys. Kau satu-satunya sahabat yang aku miliki saat ini. Aku menyayangimu, jangan benci aku….” Hanna berucap dengan napas tersenggal.

“Hanna mianhae,” Krystal balas memeluk Hanna–begitu erat–seolah takut kehilangan. Ia membiarkan rasa bersalah, rasa sakit, serta bencinya menguar. Lalu membiarkan rindu serta rasa sayangnya mengambil alih. Hingga pelukan itu terasa begitu hangat juga nyaman.

Mereka tengah mencoba untuk mengerti dan belajar untuk saling mengerti melalui dekapan masing-masing. Air mata kesedihan itu pun terasa begitu melegakan hati, saat mata hati itu sendiri terbuka akan kebenaran.

“Sehun, dia begitu mencintaimu. Jangan benci dia apa pun setatusnya, hanya aku yang boleh membencinya.” ujar Hanna lagi. Dan perlahan Krystal merenggangkan pelukannya, menatap hazel Hanna yang begitu teduh.

“Aku mengerti Hanna. Aku tidak akan membencinya, aku akan belajar mengerti dirinya, aku mencintainya, dan cinta tidak pernah memandang siapa orang itu.” Krystal berucap haru, “Maafkan aku, selama ini aku—”

“Tidak. Kau tidak salah apa pun Krys! Kau hanya tidak tahu, itu saja…” Hanna tersenyum setelah menggelengkan kepalanya.

“Gomawo Hanna. Kau memang sahabat yang baik, aku menyayangimu, aku bodoh jika terus-terusan cemburu padamu, sementara aku tahu Sehun kini mencintaiku.” Krystal terkekeh kecil setelah mengatakan itu. Membuat Hanna ikut tersenyum dibuatnya.

End Of FlashBack

“Krystal, dia baik-baik saja. Kami bicara banyak setelah itu, seperti tak pernah terjadi apa pun. Ia bahkan memintaku untuk datang kembali mengunjunginya. Bahkan sebelum berpisah, ia mengecup pipiku. Kami baik-baik saja Sehun! Bukan karenaku Krystal bunuh diri,” tubuh Hanna kembali bergetar hebat, “dan aku mohon, berhentilah membenciku!” Iris madu itu kembali menangis. Membuat hati Sehun semakin tercubit–sakit. Dan saat itu juga, ia kembali membawa Hanna ke dalam dekapannya.

“Saat itu, aku menyuruh Eiji untuk mengawasi istrimu. Dan setelah istrimu pergi dari apartemen kekasihmu, seorang suruhan Osamu datang. Ia menekan bell sesaat dan kemudian kekasihmu keluar, saat itulah ia menerobos masuk. Eiji tak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam, hingga ia mencoba untuk ikut masuk. Dan sayangnya, ia tak menemukan siapa pun di ruang tengah, namun ia bisa mendengar keributan terjadi di dalam kamar…
.
Kamar itu sedikit terbuka, Eiji bisa melihat semuanya dari luar. Ia melihat kekasihmu pingsan karena panik, dan saat itu juga Eiji mendengar suara pembunuh itu, ‘pekerjaanku akan lebih mudah jika begini caranya,’ kemudian ia mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Selanjutnya apa yang terjadi adalah seperti halnya yang kau lihat, kekasihmu mati seolah bunuh diri. Padahal sebenarnya, arteri radialis-nya dipotong saat ia pingsan, hingga ia kehabisan darah.”
.
“Kenapa Osamu-sama ingin membunuhnya?”
.
“Tentu saja untuk membuatmu tetap berpihak padanya. Ia tahu kau pernah mencintai istrimu, dan ia tahu rasa itu akan kembali seiring dengan kebersamaan kalian sebagai suami-istri. Dan kau akan mengkhianati kami jika itu terjadi, kau akan memihak pada mereka dan kemudian membongkar semua rahasia Black ID. Kekasihmu mati setelah istrimu pergi, itu memang sudah direncanakan hingga kau menyalahkan istrimu atas apa yang terjadi.”
.
Perkataan Ryuu kembali terngiang dalam benak Sehun. Hatinya sesak setiap kali mengingat itu. Ia salah — amat salah, ia membenci Hanna atas kesalahan yang tidak ia perbuat.
.
Bodoh. Kau bodoh. Sehun tak henti-hentinya mengumpat. Pelukannya pun semakin erat, seolah menyalurkan rasa bersalah, penyesalan juga kebodohannya selama ini. Hatinya remuk, mendengar isakan Hanna yang semakin pilu. Dan tanpa di sadarinya, air mata kini ikut menerobos manik elang-nya.
.
Sehun menangis dalam diam, tanpa diketahui Hanna yang juga tengah menangis dalam dekapannya. Sudah hampir dua tahun, ia hidup dalam benci yang ia ciptakan sendiri. Ia bahkan melanggar janjinya untuk melindungi Hanna, dan yang lebih buruknya lagi, ia sendiri yang menyakiti gadis itu. Kini, Sehun tak yakin bisa menebus semua kesalahannya selama ini. Kata maaf pun tak pantas untuk ia dapat darinya. Terlalu banyak rasa sakit yang sudah ia berikan pada gadis itu.
.
Katakan saja, Sehun menyesali perbuatannya. Namun, penyesalan tidak akan pernah membawa waktu kembali, hingga ia bisa mengulang semuanya dari awal. Itu tidak akan pernah terjadi. Never ever. Karena pada dasarnya, penyesalan adalah masa dimana kau ingin mengulang kembali waktu, sementara kau tahu itu tidak akan pernah terjadi. Penyesalan adalah rasa dimana kau sadar telah melakukan kesalahan, namun kau tak bisa memperbaikinya. Karena penyesalan adalah rasa sakit sekaligus ketidakpuasan atas apa yang sudah kau lakukan di masa lalu. Penyesalan memang hanya sebuah rasa, namun membuat orang enggan untuk merasakan hal yang sama. Dan Sehun, merutuki perasaan itu.
.
“Aku bodoh Hanna, maafkan aku! Aku mohon maafkan aku, meski aku tahu aku tak pantas mendapat maafmu….”
regret

Baekhyun memerosotkan tubuhnya pada dinding yang berada di belakangnya. Matanya terpejam sempurna, pikirnya pun berkecamuk. Rasa sakit akan kembali kehilangan, kembali ia rasakan. Air mata bahkan sudah menerobos keluar dari matanya yang tertutup rapat.

FlashBack On

“Tidak. Tidak secepat itu. Hanna menaruh harapan besar untuk ini, dan aku tidak ingin mengecewakannya.” Myungsoo menggelengkan kepalanya. Fokusnya pun serius menatap kedua lawan bicaranya, yang tengah menatapnya penuh tanya. Hatinya tercubit, sedikit ragu mengatakan rencananya. Namun, ia sudah memantapkan pilihan hidupnya.

‘Maafkan aku, Suzy….”

“Apa yang kau rencanakan, Myung?” tanya Baekhyun penuh selidik. Sementara Myungsoo, justru menundukkan kepalanya.

“Aku anggota Black ID, Tuan,” ujarnya membuat Baekhyun melebarkan matanya samar.

“Apa yang kau katakan?” tanya Tuan Lee tak mengerti.

“Aku bagian dari Black ID, aku mata-mata Black ID untuk negara. Dan aku ada saat kejadian itu,” ujar Myungsoo. Suaranya bergetar, dadanya bergemuruh.

“Tangkap aku, dan jadikan aku saksi atas kasus yang menimpa Tuan Khaza. Tapi aku mohon, berikan perlindungan penuh terhadap keluargaku juga kekasihku. Aku tak ingin mereka terluka atas keputusanku.” Setetes liquid jatuh dari salah satu matanya. Bukan. Bukan karena ia takut akan berada di balik jeruji besi, ia hanya takut akan kehilangan saat ia melakukan hal yang benar.

“Kesaksianku akan lebih dari cukup untuk membebaskan Tuan Khaza. Tapi ini akan sangat beresiko untukku juga keluargaku, karena nyawa kami yang akan menjadi taruhannya. Maka dari itu, aku mohon lindungi mereka, bila perlu bawa mereka pergi keluar negeri. Aku tak ingin kehilangan mereka saat aku memutuskan untuk mengambil jalan yang benar, aku mohon!” Myungsoo memohon dengan begitu pilu. Ia tahu betul resiko atas apa yang ia lakukan saat ini, namun ia tak ingin terus-terusan hidup di jalan yang salah.
.
.
Sementara Baekhyun sudah membatu di tempatnya, ia memang pernah merekam percakapan antar dirinya dan Myungsoo. Namun, ia sama sekali tak berniat untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Ia melakukan itu hanya untuk berjaga-jaga, jika pria itu beralih mengkhianatinya. Namun kini, pria itu justru menyerahkan dirinya sendiri ke tangan seorang Jenderal Komisaris Polisi langsung.
.
“Kau gila!” Baekhyun menatap tajam Myungsoo.
.
“Sudah kubilang, Tuhan memberikanku kesempatan untuk berubah, maka dari itu, aku ingin memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Dan lihatlah, Tuhan mempertemukanku dengan Tuan Lee—salah seorang yang begitu berperan penting dalam menjaga keamanan negara juga warganya. Hingga aku memiliki seorang yang kuat untuk bisa melindungi orang-orang yang kusayangi disaat aku bersaksi.” Myungsoo balas menatap Baekhyun dengan begitu yakin. Membuat Baekhyun melunak seketika.
.
“Myung–“
.
“Lindungi dirimu, Baek. Lindungi juga Hanna, karena aku akan menyeret beberapa orang untuk menemaniku di dalam penjara…”
.
End of FlashBack
.
Malam ini seperti halnya malam-malam sebelumnya. Baekhyun kembali kehilangan dan kembali menangisinya. Pertama Hanna dan sekarang Myungsoo. Konyol memang, karena ia baru mengenal pria itu belum lama. Namun, ketulusan hatinyalah yang membuat Baekhyun tak tega. Dan kini, Baekhyun tak tahu harus bagaimana untuk menjelaskan semuanya pada keluarga Myungsoo. Karena keputasannya itu akan mengguncang batin keluarganya, terutama Ibunya yang tidak tahu apa pun.
.
Dan Luhan, bagaimana dengan Hanna jika Luhan ikut mendekam di penjara? Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. Dadanya sesak juga sakit, tangisnya pun semakin pecah. Tak tahu harus bagaimana, jika semuanya terjadi..
.
“Kau memberikanku kemudahan untuk menuntaskan kasus ini, tapi mengapa harus dengan cara seperti ini? Ya Tuhan, aku benar-benar tidak mengerti akan permainan takdir yang telah Kau atur untuk kami. Ini terlalu menyakitkan, sementara Kau telah memberikan rasa sakit ini sejak awal. Haruskah kami berakhir dengan menyedihkan juga?!”
.
.
.
.
.
.

First Regret

.

.

.

.

.
~To Be Countinued~

 

Glosarium

Progesteron : Hormon yang di hasilkan Ovarium. Hormon ini meningkat pada masa kehamilan dan pre-menstruasi (PMS) pada wanita. Dan biasanya membuat emosi tak stabil (lebih sensitif).

 


Author’s Note
Sebelumnya maaf, untuk segala kekurangan di chapter ini. Maaf juga untuk keterlambatan post-nya, aku baru sembuh, jadi baru bisa post hari ini. (Biasanya aku post saat comment sudah mencapai target) Dan terima kasih buat kehadiran kalian selama ini^^
Baca juga FF aku, Mother dan I’m Sorry (Sequel’s My Fate)
.
Sekali lagi makasih^^
.
Saranghae Yeorobun ❤
Regards,
.
.
Sehun’Bee
.
.
.
PS : Don’t be Silent Readers and Plagiator, Okay^^

 

Advertisements

585 comments

  1. sehun akhirnya engkau sadar juga !!! huhu myungsoo elu ngapain coba lha masuk masuk kepenjara kasian suzy. fighting kak

    Like

  2. Horaiiii akhirnya oh sehun tobat jg. Nyesel bang, makanya nilai seseorg jgn cuman dr satu sudut pandang aja.. ga selamanya kita lihat/denger bener adanya.. tp syukurlah nyeselnya ga telat2 amat,,seengganya msh bisa nebus kesalahannya sama hanna.. udh sekarang siapin aja rencana mantap buat keluar dr black id + belajar jd calon ayah yg baik hahaha 😄😄
    Sesuai dugaan krystal sama hanna udh baikan trs kematiannya emang udh di rencanain sama black id.. hah syukur deh mulai beres nih satu2 masalah..
    Jd koyuki suka sama baeki?? Dia yg manipulasi laporan ke osama?? Pantes aja baeki ga dicurigai..
    Osama beneran kejam kecewe nyiksanya parah abis,,terus sehun sama myung udh ketauan berkhianat?? tp kenapa msh dibiarin??
    What? Myung apa yg dia katakan?? Gila cari mati ini org. Tp kece asli dia berani ngaku depan jend. Komisaris polisi langsung. Tp kalo sampe di sidang luhan sehun apa ikut kebawa jg? Lah hanna?? Padahal baru aja baikan hubungan mereka huhuhu..😭
    Oke ini makin kece + alur ga ketebak jg kaa.. pokonya suka deh sama ff ini..
    Izin baca next chap.. good luck kaa 😀

    Like

  3. Oh jadi itu yang buat krystal meninggal. Hanna ga ada salah apapun, tapi emang dasar sehun ga mau dengerin penjelasan hanna di 2 tahun lalu. Jadii kasihan hanna yang merasa bersalah karna sehun menuduh dia yang bunuh krystal.
    Hahaha tapi lucu lihat hanna yang baru aja punya peliharaan tapi uda ada yang hilang. Ngakak pas lihat pengawal yang bantui nyari sampai manjat pohon segala.hahahah.

    Like

  4. Sekarang sehun nyeselkan udah benci n nyakitin hanna??? Ternyata dalang dibalik kematian krystal itu osamu-sama. Myungsoo bener2 pahlawan disini 🙂 salut deh.
    “Penyesalan adalah rasa dimana kau sadar telah melakukan kesalahan, namun kau tak bisa memperbaikinya. Karena penyesalan adalah rasa sakit sekaligus ketidakpuasan atas apa yang sudah kau lakukan di masa lalu. Penyesalan memang hanya sebuah rasa, namun membuat orang enggan untuk merasakan hal yang sama.” =» aku suka banget sama kata2 itu. Entah knapa itu nge-jleb banget di hati huhu T_T berikan ending yang baik buat mereka……

    Like

  5. yeay, di chapter ini sehun udah mulai berubah sifat ke hannanya, ga mementingkan egonya lagi.
    oke lanjut baca ya 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s