Regret [Chapter 10]

regret

Title : Regret | All means All

Author : Sehun’Bee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun || Khaza Hanna || Xi Luhan || Byun Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [6742 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

Semua makhluk hidup akan mati Baekhyun, hanya waktunya saja yang tidak kita ketahui. Cukup persiapkan dirimu untuk itu, karena kematian akan menjemputmu kapan saja–entah dengan cara seperti apa.

¤¤¤

Tak perlu minta maaf, itu bukan keinginanmu, Oppa. Setiap orang punya alasan untuk memilih jalan hidupnya… Dan itu adalah pilihanmu, meski aku tak tahu ada alasan apa di balik itu?!

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7 ¤ Chapter 7 ¤  Chapter 8 ¤ Chapter 9A  ¤ Chapter 9B

regret

Luhan menatap lurus ke depan. Fokusnya kosong–jauh menerawang, bibir mungilnya pun terkatup rapat. Gurat lelah dan kesedihan terpancar jelas dari air mukanya. Sementara tubuhnya bersandar lunglai pada tembok di belakangnya. Pikirnya pun melanglang buana, tak tentu apa yang dipikirkan. Hingga membuatnya melamun dan tak sadar telah duduk di sana dalam waktu yang cukup lama.

Denting jam yang menempel di dinding pun seolah tak mampu membawanya kembali ke alam sadarnya. Bahkan, hawa dingin malam yang menembus masuk melalui celah-celah rumahnya–tak mampu membawanya beranjak dan berpindah dari lantai yang sedang ia duduki.

Luhan terlihat seperti seorang yang kehilangan harapan hidup. Rambutnya berantakan seperti tak disisir, kulitnya pun mulai terlihat pucat. Terlalu banyak pikiran dan kurang memperhatikan asupan makanan, membuat kulitnya terlihat buruk seperti itu. Namun, Luhan tak peduli dan siapa pun yang berada di posisinya–pasti akan bersikap tak acuh sepertinya. Dimana seluruh raganya kini hanya digunakan untuk mengabdi pada keselamatan adik kecilnya juga ayah tercintanya.

Setiap saat yang ada di pikirannya hanya, ‘Bagaimana kondisi Appa hari ini? Bagaimana keadaan Hanna saat ini? Apa Sehun menepati janjinya untuk tidak menyakiti Hanna selama aku menuruti perintahnya… Lalu apa lagi yang harus aku lakukan untuk membebaskan keduanya dari penjara penderitaan…’ sebenarnya tak hanya itu, begitu banyak pikiran yang berlalulalang di benaknya. Termasuk, cara untuk melepas rindu pada keduanya.

Ingin sekali ia mengunjungi Appa-nya di rumah sakit, namun itu sama saja menyerahkan nyawa Appa-nya ke tangan Black ID. Hingga ia tak bisa melakukannya, bahkan untuk sekedar melihat wajahnya yang tengah tertidur. Ia pun ingin datang berkunjung menemui Hanna, namun Sehun melarangnya untuk itu–sebelum ia sendiri yang memintanya untuk datang. Dan pada akhirnya, Luhan tak bisa melakukan apa pun untuk bisa bertemu dengan keduanya.

Kini, Luhan mengerti, merindukan anggota keluarga ternyata jauh lebih menyiksa daripada merindukan seorang kekasih.

Kekasih?

Tapi Luhan tak punya kekasih, ia tak tahu bagaimana rasanya merindukan seorang kekasih. Ia tak pernah menaruh perasaan berlebih pada seorang gadis melebihi rasa sayangnya pada adik kecilnya. Bahkan, ia mempunyai pendirian untuk mencari seorang wanita yang bisa mengerti dirinya atas rasa sayangnya pada adik perempuannya itu. Dan Luhan menginginkan seorang wanita yang bisa menjadi sahabat baik untuk adiknya, karena ia tahu–Hanna tak pernah memiliki teman wanita lain selain Krystal. Namun kini, teman wanita satu-satunya itu telah tiada. Padahal, ia juga amat menyukai Krystal sebagai seorang adik, bahkan ia mempunyai panggilan lucu untuk gadis itu, ‘Tal’. Ya, Luhan memanggilnya ‘Tal’ hingga Sehun dan Hanna pun seringa kali ikut memanggilnya ‘Tal’. Beruntung Krystal tak pernah protes saat mendapat panggilan seperti itu.

“Hah~” Luhan menghela napasnya kasar. Matanya kini terpejam sempurna–mencoba untuk menenangkan pikiran. Namun tak berselang berapa lama, handphone-nya berbunyi–menandakan ada pesan masuk di dalamnya.

Tangannya terulur, meraih handphone-nya yang berada di atas nakas. Kemudian membuka kuncinya, lantas membaca isi pesannya.

From : Se Hun

Datang ke rumahku besok!

Luhan kembali menghela napasnya kasar. Membaca isi pesan singkat yang sarat akan perintah itu. Sebelum akhirnya, membalas perintah darinya–dengan persetujuan lewat pesan yang juga tak kalah singkat.

To : Se Hun

Ne.

Tak lama setelah itu, kedua sudut bibir Luhan terangkat, “Hanna, apa besok Oppa bisa bertemu denganmu?” Luhan tersenyum, menyadari kemungkinan kecil itu. Harapan dan do’a pun ia panjatkan kepada-Nya. Agar Tuhan mau berbaik hati padanya dengan mempertemukan dirinya dengan adik kecilnya.

 

regret

Sehun menyandarkan tubuhnya pada sofa yang tengah di dudukinya. Titik fokusnya terkunci pada seorang gadis yang tengah tertidur di lantai–dengan hanya beralaskan karpet permadani. Dua ekor anak anjing pun ikut tertidur di sampingnya.

Anjing?

Ya anjing. Hanna kembali berulah dengan membeli dua ekor anak anjing tanpa sepengetahuan Sehun, saat pria itu tak pulang selama tiga hari beberapa waktu yang lalu. Ia membeli satu ekor anjing jenis Papillon dan satu ekor lagi jenis Pomeranian. Dan dua ekor anjing itu baru saja tiba di rumahnya tadi pagi—Hanna membelinya secara online shop–langsung dari negara asalnya. Papillon, ia pesan dari Prancis dan Pomeranian, ia pesan dari Jerman. Sehun bahkan sempat terkejut karena mendapat paket kiriman anjing dari luar negeri–yang ternyata ditunjukkan untuk istrinya.

“Hah~” Sehun menghela napasnya berat. Tangan kanannya terangkat–memijat pelipisnya pelan. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Hanna menggunakan credit card yang ia berikan untuk membeli hal-hal yang tidak penting. Bahkan Hanna seolah tak takut ia akan marah padanya. Tapi memang nyatanya, ia tak bisa lagi marah padanya. Ia hanya meminta beberapa penjelasan pada Hanna—salah satunya mengenai alasan mengapa ia membeli anjing sampai memesan ke luar negeri, sementara di Korea pun banyak anjing jenis itu yang dijual di pasaran.

“Aku hanya ingin membeli anjing itu langsung dari negara asalnya, Sehun. Sekarang Yui dan Liu sudah sampai di sini, jadi biarkan aku memeliharanya. Aku berjanji akan merawat mereka dengan baik, dan akan aku pastikan–mereka tidak akan mengalami hal yang sama seperti Momo…”

Jawaban Hanna masih terngiang-ngiang di benaknya. Dulu, saat mereka masih duduk di Junior High School, Hanna sempat memelihara seekor kucing yang ia beri nama Momo. Namun, Hanna tak merawatnya dengan baik, hingga kucing itu jatuh sakit dan kemudian mati. Sejak saat itulah, Sehun selalu melarangnya memelihara binatang karena Sehun tahu, Hanna hanya akan menyiksanya. Dan sekarang–tanpa sepengetahuannya, Hanna justru membeli binatang–atas saran Taejun, pengawal pribadinya. Ia juga yang meminjamkan Hanna handphone untuk memilih binatang mana yang ia sukai, agar Hanna tak lagi kesepian di rumah besar ini. Tanpa tahu sejarah bagaimana Hanna memperlakukan binatang.

“Kita lihat, sampai berapa lama anjingmu itu akan bertahan.” Sehun bangkit dari duduknya, beranjak menghampiri Hanna. Lantas mengangkat tubuh Hanna dan kemudian membawanya kembali ke kamar.

Seharian bermain bersama anjing barunya membuat Hanna kelelahan, sehingga tertidur di lantai bersama mereka. Sehun pun tak mengerti mengapa Hanna kembali bertingkah kekanakan seperti ini. Padahal sebelumnya, (di awal pernikahan mereka)–Hanna terlihat begitu dewasa. Terlihat dari bagaimana cara ia menghadapi masalah yang menghantamnya secara bertubi-tubi–juga bagaimana cara ia sembuh dari Post Traumatic Stress Disorder yang ia alami, hingga ia bisa seperti sekarang. Meski gangguan psikis itu belum sembuh sepenuhnya.

Kini, Sehun hanya bisa diam–menatap tubuh yang baru saja ia letakan di atas ranjang itu. Tangannya bergerak perlahan, menaikkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun terhenti, saat titik fokusnya tertuju pada perutnya. Tubuhnya pun membeku sesaat–saat perasaan aneh itu kembali mengganggunya.

“Itu yang membuatmu berubah. Lalu, sampai kapan kau akan membodohiku, Hanna?” Sehun menghela napasnya pelan. Tangannya pun kembali bergerak–menaikkan selimut Hanna–sampai menutupi setengah tubuhnya. Lantas pergi keluar begitu saja–meninggalkan Hanna dalam tidurnya. Demi mencari ketenangan, sebelum ikut mengistirahatkan tubuhnya di samping gadis itu.

 

♣ ♣ ♣

 


Pagi ini. Seperti pagi sebelumnya, Sehun kembali mendapat paket kiriman. Kali ini, dari Jakarta, Indonesia–dan ternyata, paket itu kembali ditunjukkan untuk istrinya. Dan saat dibuka, saat itu juga Sehun langsung menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, dengan sebelah tangan yang kembali memijat pelipisnya.

“Hewan apa lagi ini?” tanya Sehun menginterogasi pada seorang gadis yang tengah duduk di depannya, “Kau jauh-jauh memesan binatang dari Indonesia, dan kau hanya membeli dua ekor tikus? Kenapa tidak sekalian saja kau membeli primata asli Indonesia…”

Hanna yang mendengar kata ‘tikus’ keluar dari mulut Sehun pun mendongak, “Itu Sugar Glaider bukan tikus,” belanya tak terima–mendengar Sehun mengatai binatangnya tikus.

Sehun yang mendengar nama aneh itu pun hanya bisa mengernyitkan alisnya, lantas kembali menatap salah seekor binatang kecil yang mirip tikus itu.

SG

“Itu tupai terbang asli Indonesia, tapi sugar glaider juga bisa di temukan di Australia dan Papua. Aku memesannya dari Indonesia karena lebih dekat dengan Korea,” lanjut Hanna menjelaskan, membuat Sehun mengerti. Memang, jika hanya diperhatikan sekilas–binatang kecil itu mirip tikus. Namun, ekornya lebih panjang dan berbulu lebat.

“Untuk apa kau membelinya?” tanyanya kemudian.

“Tentu saja untuk dipelihara. Lihat saja, ukurannya sangat kecil seperti tikus dan ia bisa masuk ke dalam kantung. Dan aku– bisa membawanya ke mana pun aku pergi…” Jawab Hanna antusias.

“Dan kemudian membunuhnya?” tanya Sehun sarkastik. Membuat Hanna mempoutkan bibirnya seketika.

“Aku bukan anak kecil lagi, Sehun,” gumamnya pelan. Namun, dapat terdengar dengan baik oleh Sehun.

“Terserah, tapi cukup mereka yang kau bawa ke rumahku. Tidak ada yang lain lagi. Aku tidak mau rumahku berubah menjadi kebun binatang dan kemudian berubah menjadi area pemakaman hewan…” Sehun berucap seraya bangkit dari duduknya. Death glare pun ia dapat dari Hanna.

“Aku akan membuktikannya, aku akan merawat mereka dengan baik!” Tegas Hanna. Membuat Sehun tersenyum kecil mendengarnya.

“Terserah apa katamu. Sekarang ambilkan jas dan dasiku! Aku harus segera berangkat…” Hanna menatap penampilan Sehun yang sudah rapi, dengan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana. Namun, jas belum melekat pada tubuhnya--dasi pun belum tersangkut di lehernya. Dan itu semua karena paket kiriman yang tiba terlalu pagi, hingga Sehun meninggalkan kegiatan membenahi dirinya.

Tak lama, Hanna bangkit–menuruti perintah darinya tanpa banyak bertanya mengenai dasi warna apa yang ingin Sehun pakai hari ini. Karena memang ia yang selalu menyiapkannya, meski ia sempat tak melakukannya selama satu Minggu karena acara marahnya pada pria itu.

Tak lama, Hanna kembali dengan dasi dan jas di tangannya. Fokusnya pun tertuju pada Sehun yang tengah menatap horor pada makhluk kecil di depannya. “Kau lapar?” Hanna bertanya dengan senyum kecil di bibirnya. Sementara Sehun, hanya menatap datar ke arahnya.

“Kenapa menatap mereka dengan tatapan seperti itu?” lanjut Hanna, sembari memasangkan dasi di lehernya.

“Kau mengajakku bercanda?” Sehun tersenyum miring–menatap wajah yang jaraknya tidak lebih dari 30 Cm darinya itu.

“Lupakan..” Hanna mempoutkan bibir mungilnya–saat kembali mengingat, Sehun, tak lagi bersahabat dengan guyonan. Setelah selesai memakaikan dasi untuknya, Hanna mengambil jas kerjanya dan kembali membantu pria itu untuk merapikan penampilannya.

Sementara Sehun, hanya diam memperhatikan. Ingatannya pun kembali membawanya pada kejadian kemarin malam, saat Hanna menangis di dalam dekapannya. Ingin sekali ia bertanya-mengenai alasan mengapa Hanna menangis malam itu. Namun, harga dirinya terlalu tinggi untuk sekedar menaruh perhatian berlebih padanya.

Tapi kini, wajah cantik Hanna telah sukses mengambil alih semua perhatiannya. Fokusnya pun larut, memperhatikan wajah cantik itu–dari mulai kulit putih mulusnya, mata bulatnya, hidung mancungnya, dan juga bibir mungilnya.

“Sehun, sepulang kerja bisakah kau mampir ke swalayan untuk membeli apel dan makanan anjing?” Hanna bertanya tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sibuk merapikan kerah kemeja suaminya itu.

” . . . ” Namun, tak ada jawaban dari Sehun. Ia hanya diam—sibuk memperhatikan bibir mungil Hanna yang terus bergerak, saat mengecap beberapa kata. “Sugar glaider suka makanan yang manis, dan aku ingin memberikan mereka apel. Sementara untuk Liu dan Yui, aku tidak tahu makanan apa yang cocok untuk mereka…” Hanna menjauhkan tubuhnya dari Sehun, saat ia sudah selesai dengan pekerjaannya. Namun, Sehun membuatnya kembali dekat dengan menarik cepat pinggang rampingnya.

“Kau bilang akan merawat mereka dengan baik, tapi makanan untuk mereka saja kau tidak tahu?!” Ujar Sehun dengan smirk-nya.

Hanna yang mendapat perlakuan seperti itu pun membeku. Aroma mint napas Sehun bahkan tercium olehnya, hingga membuatnya terbuai beberapasaat. Namun tak lama, mata Hanna mengerjap pelan–saat menyadari posisi wajah mereka yang begitu dekat, bahkan tubuh mereka tak lagi terbatas karena tangan Sehun yang menahan pinggangnya.

‘Astaga, ini terlalu dekat dan ini terlalu pagi untuk menerima shock therapy,’ batin Hanna mulai panik. Bahkan ia tak bisa mencerna apa yang dikatakan Sehun sebelumnya. Ia merasa seperti orang bodoh karena kalut, hanya karena menerima sentuhan kecil Sehun. Padahal sebelumnya, (sebelum ia menyadari perasaannya) ia tak pernah merasa berlebihan seperti ini.

Ya, ini sangat berlebihan.

Hanna mengutuk dirinya sendiri. Ia berharap tak pernah menyadari telah jatuh cinta pada sahabat kecilnya itu. Hingga ia bisa bersikap seperti biasa pada pria itu.

“Kenapa diam saja, heum?” Bibir mungil Sehun semakin terangkat. Kali ini, membentuk sebuah senyuman, “Geurae, aku akan membelikannya. Apa lagi yang kau inginkan?” Sehun mengangguk kecil, sebelah tangannya terangkat–mengangkat dagu Hanna agar menatap ke arahnya.

“H-hanya i-tu…” Hanna tergagap–saat maniknya terkunci pada sorot tajam manik Sehun. Jantungnya bahkan sudah bergerilya sedari tadi, membuatnya ingin segera pergi dan menjauh dari pria itu. Namun, tubuhnya kaku–bahkan saat Sehun semakin mendekat dengan mata yang setengah tertutup dan manik yang tertuju pada bibir mungilnya—ia tak bisa menghindar. Hingga pertemuan lembut antar bibir kembali Hanna rasakan.

Sehun menempelkan bibirnya hati-hati, sebelum akhirnya mulai membuka mulutnya–membuat Hanna bisa merasakan gesekan lembut pada bibirnya, tak hanya itu, tarikan lembut pun Hanna rasakan–saat pria itu mulai menyesap bibir bawah dan atasnya secara bergantian. Bahkan sesekali, ia merasakan sapuan lembab di permukaan bibirnya–saat Sehun menjulurkan lidahnya. Mata Hanna bahkan sudah terpejam sempurna–menikmati setiap gerakan lembut tanpa tuntutan itu. Bahkan tanpa disadarinya, Sehun berhasil menuntunnya untuk membalas setiap perlakuan yang ia berikan.

Dan kini, bisa Sehun rasakan–betapa hati-hatinya gerakan bibir Hanna saat menyesap bibirnya. Gerakan itu terasa begitu lembut, seolah takut melukainya. Ribuan kupu-kupu pun ikut berterbangan di dalam perutnya, membuat dadanya ikut begemuruh hebat di dalam sana. Tangannya bahkan tanpa sadar semakin erat memeluk pinggang Hanna, sementara kedua tangan Hanna sudah bergelayut manja pada lehernya.

Ciuman mereka pun terasa semakin dalam. Sehun bahkan tak mengerti mengapa ia selalu merasa nyaman setiap kali melakukan ‘ini’ dengan Hanna. Namun dulu, ia selalu menampik perasaan itu saat bersama Hanna, mencium bibirnya atau bahkan saat ia menguasi tubuhnya. Ia mengelak semua perasaan menyenangkan itu, karena rasa bencinya yang begitu mendominasi. Dan kini, ia ingin membiarkan perasaan itu menguar tanpa berniat memendamnya lagi. Kepalanya pun terus bergerak ke kanan dan ke kiri, memberikan Hanna akses untuk bernapas–agar ia bisa menikmati sensasi itu lebih lama lagi.

“Gouk.. Gouk.. Gouk…”

Suara anak anjing datang menginterupsi–dan hal itu sukses mengganggu konsentrasi Sehun. Namun, ia masih enggan melepaskan Hanna. Ia kembali meraih bibir Hanna yang sempat terlepas–lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.

Tunggu, anjing? Sejak kapan ada anjing di rumahku?

Sehun kembali melepaskan tautannya tiba-tiba. Mencari darimana sumber suara itu berasal. Dan tak butuh waktu lama untuknya menemukan sang pengganggu. Alisnya pun bertaut, melihat seekor anjing kecil jenis Pomeranian asal Jerman di rumahnya.

liu

“Liu…” Hanna melepaskan pelukan Sehun. Lantas menghampiri seekor anjing kecil yang begitu mirip dengan boneka mainan itu. Dan saat itu juga Sehun ingat, itu peliharaan baru Hanna. Astaga, bagaimana bisa ia melupakannya? Sementara, pembahasan tentang makanan anjinglah yang membuatnya mencium bibir Hanna.

Oh Sehun, otakmu bermasalah.

Sehun mengutuk dirinya sendiri, sembari memijat pelipisnya.

“Aku berangkat…” Pamit Sehun pada akhirnya. Tak ingin berlama-lama dengan kebodohannya. Sementara Hanna, hanya diam sembari memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh. Sampai pada akhirnya, Hanna menghempaskan tubuhnya ke sofa saat tubuh Sehun tak lagi terlihat.

“Ya Tuhan…” Hanna memegang dada kirinya yang terus memberontak–berisik. Napasnya ia hembuskan berkali-kali mencoba untuk menetralisir detak jantungnya itu. Beruntung Liu datang, hingga Hanna punya alasan untuk berhenti dan menjauh darinya. Jika tidak, Hanna yakin, Sehun akan menggodanya habis-habisan lewat smirk iblisnya karena rona merah di pipinya.

 

regret

Sesekali Myungsoo melirik seseorang yang duduk di sampingnya. Namun, yang ia dapat adalah hal yang sama–keterdiamannya. Membuatnya bosan karena didiamkan, namun juga tegang, karena kini–ia akan bertemu dengan seorang Komisaris Jenderal Kepolisian Seoul. Ia benar-benar tak menyangka, menuruti permintaan Hanna ternyata jauh lebih merepotkan dari yang ia pikir dan perkirakan. Karena mereka harus mengurus perizinan terlebih dahulu dari Komisaris Jenderal Polisi langsung untuk melancarkan aksi mereka–memalsukan kematian Jo Khaza.

“Perkiraanmu, apa yang akan Black ID lakukan jika mereka mengetahui kita telah menipu mereka?” Baekhyun membuka suara dari keterdiamannya. Ia lelah mengira-ngira sendiri mengenai apa yang kiranya akan terjadi jika mereka gagal.

“Kita akan mati, itu sudah sangat jelas. Kenapa kau bertanya lagi?” Myungsoo menjawab enteng, seolah itu bukan perkara yang besar.

“Kau tidak takut mati?” Baekhyun bertanya dengan senyum kecilnya.

“Semua makhluk hidup akan mati Baekhyun, hanya waktunya saja yang tidak kita ketahui. Cukup persiapkan dirimu untuk itu, karena kematian akan menjemputmu kapan saja–entah dengan cara seperti apa…” Myungsoo menggendikkan bahunya tak acuh.

“Kau lebih banyak berbuat dosa daripada kebaikkan Myung, kau tidak takut masuk neraka? Maksudku, jika kau mati sekarang, hanya sedikit kebaikkan yang kau lakukan…” Berbelit. Baekhyun kesulitan untuk menyampaikan apa yang ia maksud. Beruntung Myungsoo mengerti.

“Setidaknya aku akan mati disaat aku melakukan hal yang benar. Tuhan memberikanku kesempatan untuk berubah, jadi aku akan memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, meski aku akan berakhir menyedihkan. Ya, aku rasa mati dengan cara seperti ini lebih baik daripada terus-terusan hidup di jalan yang salah…” Myungsoo terkekeh. Kalimat terakhir adalah kalimat yang pernah Hanna ucapkan padanya, dan kalimat itu sukses membekas di hatinya. Hingga ia yakin akan jalan yang dipilihnya, meski hatinya sedikit tercubit setiap kali mengingat ‘Jika mati, aku akan meninggalkan orang-orang yang aku sayangi’.

Sementara Baekhyun tersenyum–setelah mendengar jawaban Myungsoo. Kini, ia yakin pria itu tidak akan mengkhianati kepercayaan mereka.

“Maaf membuat kalian menunggu,” ujar seseorang. Membuat Myungsoo dan Baekhyun refleks berdiri, lantas membungkukkan tubuh mereka sopan.

“Silahkan duduk kembali,” pintanya tak kalah sopan. Baekhyun dan Myungsoo pun menurut. Dan tak lama, Baekhyun langsung mengatakan maksud dan tujuan mereka datang menemui Tuan Lee, Komisaris Jenderal Polisi.

Tuan Lee yang mendengar penuturan Baekhyun pun mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti. Namun, ia terlihat menimang untuk menyetujui atau tidak rencana keduanya.

“Ini sangat mengejutkan. Aku tidak menyangka kedatangan kalian kemari untuk meminta izinku perihal ini. Apa kalian yakin, Black ID akan tenang dan berhenti mengancam keselamatan keluarga yang tersisa, jika Tuan Khaza dikabarkan telah meninggal?! —Karena upaya hukum berupa peninjauan kembali akan tetap bisa diajukan oleh keluarga terdekat, sekalipun Tuan Khaza dikabarkan telah meninggal. Dan aku tidak yakin, Black ID akan berhenti sampai di situ. Mereka akan tetap merasa terancam oleh kehadiran anggota keluarga yang tersisa ataupun pada mereka yang mengetahui perihal ini. Dan mereka akan berhenti, hanya jika ‘semua barang bukti’ yang mengancam itu lenyap,” ujar Tuan Lee memaparkan pendapatnya.

Sementara, Baekhyun dan Myungsoo tercekat mendengarnya. Itu benar, mereka tak berpikir sampai ke sana.—Sekalipun Tuan Khaza dikabarkan telah meninggal, mereka (Black ID) tidak akan tenang sebelum semua orang yang mengetahui keberadaan mereka ikut mati. Intinya, jika Hanna dan Luhan masih hidup, mereka tidak akan berhenti untuk melenyapkan semua barang bukti yang ada. Dan itu berarti, Hanna dan Luhan dibiarkan tetap hidup, hanya untuk diperalat agar Tuan Khaza tutup mulut jika sadar kelak. Namun, jika Tuan Khaza mati, maka Hanna dan Luhan pun akan menyusul.

“Ini di luar perkiraan kami. Kami tidak pernah berpikir sampai ke sana. Kami tidak pernah berpikir bahwa tujuan Black ID ingin melenyapkan semua barang bukti yang ada —berarti menghabisi seluruh anggota keluarga yang tersisa. Kami hanya berpikir, barang bukti yang tersisa itu Tuan Khaza.” Baekhyun merasa seperti orang bodoh karena tak bisa membaca arus permainan Black ID sejak awal. Sementara Myungsoo, tak kalah shock dibuatnya. Ia anggota Black ID, namun ia tak bisa membaca arus permainan yang diciptakan oleh pemimpinnya.

“Itu benar. Melenyapkan semua barang bukti, berarti ‘semuanya’–termasuk kedua orang anaknya yang tersisa. Dan Jo Khaza adalah sahabatku. Aku tahu siapa yang salah dan benar perihal masalah ini. Namun, bukti-bukti mengenai keterlibatannya dengan Black ID begitu nyata, hingga aku tak bisa melakukan apa pun untuk membatu membebaskannya, selain memohon pada Presiden untuk memberikannya perlindungan selama ia koma.” Wajah Tuan Lee terlihat sendu. “Aku bahkan tak bisa menyelamatkan putrinya dari pernikahan yang menjeratnya.”

Baekhyun dan Myungsoo merasa buntu. Tubuh mereka lemas, setelah menyadari itu. Dan cepat atau lambat, Luhan dan Hanna akan bernasib sama dengan ayahnya jika mereka tetap melancarkan aksi mereka.

“Putri Jo Khaza sempat mengalami stress pasca trauma, hingga ia tak bisa menceritakan apa pun yang dilihatnya setelah ia dibebaskan dari aksi penculikan. Selama dua bulan ia mengalami ketakutan yang luar biasa, namun terus berangsur membaik. Dan saat ia membaik dan bisa dipintai keterangan mengenai apa yang di lihatnya,—saat itu juga sahabat Jo Khaza mengambilnya sebagai menantu. Dengan dalil, memberikan gadis itu perlindungan karena tak lagi memiliki seorang Ibu–sementara Ayahnya dinyatakan koma.” Tuan Lee memberi jeda sejenak–terlihat berpikir. “Namun sebelum itu, keterlibatan suami Hanna sempat mencuat. Sebelum akhirnya, bukti-bukti mengenai penggelapan dana dari pemerintah untuk NIS yang dilakukan oleh Jo Khaza ikut mencuat ke permukaan, hingga membuatnya dinyatakan bersalah. Dan aksi penyergapan team khusus yang dipimpinnya, hanya dianggap sebagai pencitraan belaka—karena keterlibatannya dengan Black ID saat itu. Hanya itu yang kutahu, bagaimana denganmu? Apa yang kau dapat selama ini Baekhyun?” lanjutnya, memaparkan apa yang ia ketahui selama ini. Membuat Baekhyun dan Myungsoo mengerjap tak percaya.

“Sebagai seorang Komisaris Jenderal sekaligus sahabat dari seorang mantan Direktur NIS, aku tidak mungkin diam saja saat melihat ketidakadilan terjadi di depan mataku. Namun, jika aku gegabah dengan menentang bukti-bukti yang ada secara langsung, maka akan bisa dipastikan–aku akan mati sebelum berhasil menegakkan kebenaran. Itu sebabnya, aku terlihat diam selama ini.” Tuan Lee kembali berucap, saat melihat ekspresi bodoh dari kedua pria di hadapannya.

“Aku juga sempat mencari tahu mengenai identitas Oh Jaesuk, aku menyelidikinya sejak lama. Namun, aku tak menemukan bukti mengenai keterlibatannya. Membuatku yakin bahwa ia memang berniat baik pada putri sahabatku. Meski hatiku sedikit ragu pada putranya, karena sidik jari yang ditemukan pada senjata laras panjang yang ditemukan di tempat kejadian–sama persis dengan sidik jari yang ia miliki. Dan peluru yang membunuh semua opsir di luar gedung, sangat cocok dengan peluru yang tersisa di dalam senapan laras panjang itu.” lanjut Tuan Lee. Membuat Myungsoo menelan ludahnya perlahan.

“Tidak. Tidak hanya Sehun, tapi juga ayahnya. Mereka berdua memang terlibat,” Baekhyun kembali membuka suara. Membuat Tuan Lee dan Myungsoo melebarkan mata tak percaya. “senapan itu memang milik Oh Sehun. Dan saat ia dicurigai, saat itu juga kasus korupsi yang melibatkan Tuan Khaza ikut mencuat. Namun tak lama, Sehun menikah dengan Hanna—dan secara tidak langsung, itu memberikannya pencitraan terhadap publik, bahwa tak mungkin orang sepertinya terlibat. Terlebih Oh Jaesuk, ayahnya— membantu melunasi hutang-hutang Tuan Khaza pada negara atas korupsi yang ia lakukan. Karena rumah dan segala aset yang dimiliki Tuan Khaza tak cukup untuk menutupi semua kerugian negara atas korupsi yang ia lakukan itu.” Jelas Baekhyun. Membuat Tuan Lee shock.

“Ini gila, permainan mereka benar-benar apik,” ujar Tuan Lee marah. Sementara Myungsoo, sudah menutup matanya sedari tadi–menenangkan pikiran.

“Sekarang aku mengerti mengapa Hanna tak bisa memberikan kesaksian untuk meringankan hukum yang menjerat ayahnya.” ujar Tuan Lee lagi, sembari memijat pelipisnya.

“Dan Hanna adalah orang yang meminta kami untuk melakukan ini. Tanpa tahu, nyawanya akan terancam jika rencana ini berhasil dilakukan.” Myungsoo akhirnya buka suara. Membuat Tuan Lee lagi-lagi membelalakkan matanya.

“Tidak. Jangan lakukan! Hanna harus tetap hidup, ia adalah kunci dari semua barang bukti yang tersimpan. Terlebih, ia berada di bawah kendali mereka. Jika Tuan Khaza dikabarkan meninggal, maka saat itu juga ia akan meregang nyawanya. Aku tidak setuju dan aku tidak mengizinkannya.” Tuan Lee menentang habis-habisan. Namun, Myungsoo dan Baekhyun dapat mengerti itu dengan baik. Karena mereka pun tak ingin Luhan dan Hanna pergi dari kehidupan mereka untuk selamanya.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Jika kami tidak melakukannya, maka Black ID tidak akan berhenti mengincar nyawa keluarga Khaza. Dan jika kami tetap melakukannya lalu gagal, maka nyawa kami yang akan menjadi taruhannya. Sementara jika kami berhasil melakukannya, maka nyawa Luhan dan Hanna yang akan melayang.” Baekhyun terlihat frustasi.

“Kita buntu….” Tuan Lee menambahkan.

“Tidak. Tidak secepat itu. Hanna menaruh harapan besar untuk ini, dan aku tidak ingin mengecewakannya.” Myungsoo menggelengkan kepalanya. Fokusnya pun serius menatap kedua lawan bicaranya, yang tengah menatapnya penuh tanya. Hatinya tercubit, sedikit ragu mengatakan rencananya. Namun, ia sudah memantapkan pilihan hidupnya.

‘Maafkan aku, Suzy….”

 

regret

 

Suara gongongan anjing kecil terdengar begitu memekakkan telinga. Namun, orang-orang yang bermain bersamanya justru tertawa mendengarnya.

“Nyonya ambil ini dan lemparkan, maka Yui dan Liu akan mengejarnya…” Taejun memberikan sepotong ranting pada Hanna. Dan dengan lugunya, Hanna menuruti apa yang dikatakannya.

Kini, Hanna tengah bermain bersama kedua anjingnya di taman. Ditemani para pengawal pribadinya yang juga ikut bermain bersama mereka. Sementara Zoe dan Zoya diam di dalam kandang, karena kedua hewan mungil yang disebut sugar glider itu butuh beradaptasi—sebelum bisa diajak bermain.

Sebelumnya, Taejun sempat protes pada Hanna–karena Hanna menamai hewan-hewan peliharaannya dengan nama yang menurutnya aneh. Namun, bukan Hanna namanya jika ia mendengarkan protes Taejun. Ia tetap pada pendiriannya dengan tetap memberikan nama-nama itu pada hewan peliharaannya. Bahkan dulu, ia pernah menamai kucing peliharaannya Momo hanya karena melihat animasi, Avatar: The Legend of Aang. Dimana Aang menamai monyet terbang miliknya Momo. Sebenarnya bukan monyet terbang, hanya saja, Hanna tidak tahu apa nama hewan peliharaan Aang itu. Jadi ia menyebutnya monyet terbang. Tak peduli dengan Sehun yang terus-terusan mengatainya bodoh, karena tak memperhatikan jalan ceritanya dengan baik saat itu–sampai-sampai ia tidak tahu nama hewan peliharaan Aang. Bahkan ia mengira Ava, (peliharaan Aang yang lain) seekor mammoth, sementara di dalam cerita sudah dijelaskan bahwa Ava itu adalah seekor bison. Membuat Sehun benar-benar lelah saat itu, saat ia harus menjelaskan semua isi cerita animasi itu secara berulang-ulang pada Hanna.

Sekarang, Hanna terlihat gelisah. Beberapa kali ia meremas ujung dress yang ia kenakan. Hanya karena ingin ikut berlari-lari bersama anjingnya, sementara ia ingat–ia tengah hamil.

Jangan Hanna, jangan! Pikirkan bayimu, jangan hanya kesenanganmu..!!! Hanna tak henti-hentinya memperingatkan dirinya untuk tidak berlari saat ini juga. Namun, Yui dan Liu begitu menggoda keteguhan batinnya. Karena tingkah mereka yang terlihat begitu lucu juga menggemaskan, terlebih, mereka memang masih kanak-kanak.

“Aa… kyeopta,” Hanna menggigit jari telunjuknya sendiri, saat melihat Yui yang tengah berlari-lari memutari sebuah pot bunga. Dan tanpa disadarinya, kakinya mulai melangkah menghampiri.

“Hanna….”

“Gouk… Gouk… Goukk….”

Langkah Hanna terhenti–mendengar namanya dipanggil. Namun, fokusnya mengikuti Liu yang tiba-tiba berlari melewatinya. Dan saat itu juga–ia berbalik, mencari tahu apa yang berada di belakang tubuhnya, hingga Liu begitu antusias menghampirinya.

“Aku memanggil adikku, mengapa seekor anak anjing yang datang menghampiri?!” Pria itu terkekeh, sembari mengangkat Liu yang terus menggonggong minta digendong.

“Oppa…” ujar Hanna tak percaya–saat melihat seorang pria dengan setelan polo T-shirt berwarna hitam–tengah berdiri tidak jauh darinya. Tubuhnya pun refleks berlari ke arah orang itu. Ia bahkan melupakan kondisi tubuhnya yang tengah berbadan dua.

Bruk.

“Oppa…” ujarnya lagi, setelah menubruk orang yang dipanggilnya Oppa itu. Beruntung Liu segera diturunkannya sebelum tubuh Hanna sempat menghimpitnya. “Bogoshipo…” lanjutnya, pelukannya pun terasa semakin erat di leher pria itu.

Sementara Luhan, hanya bisa tersenyum sembari membalas pelukannya, “Nado bogoshipo,” sebelum akhirnya membalas ucapan Hanna. “Apa kabarmu, Chagi?” lanjutnya–bertanya.

“Aku baik, Oppa… Bagaimana denganmu? Kenapa baru datang mengunjungiku? Aku sangat merindukanmu, aku juga sangat mengkhawatirkan keadaanmu, tapi Oppa tak pernah menghubungiku! Aku ingin datang mengunjungimu tapi Oppa tahu sendiri, aku tidak boleh keluar!” Jawabnya–menuntut. Membuat Luhan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh adik kecilnya itu.

“Mianhae… Oppa sibuk,” hanya itu yang bisa Luhan katakan, “sepertinya Sehun menepati janjinya pada Oppa, tubuhmu bertambah gemuk sekarang. Sehun pasti memperlakukanmu dengan baik selama ini,” Luhan terkekeh setelah melanjutkan kata-katanya. Begitu bahagianya ia, saat mendapati adik yang ia tinggalkan hidup dengan baik. Bahkan Hanna terlihat begitu sehat juga ceria.

“Janji apa, Oppa?” Hanna merenggangkan pelukannya, lantas menatap Luhan dengan alis bertaut.

“Janji antar pria,” Luhan mencubit hidung Hanna gemas, sebelum akhirnya kembali membawa tubuh Hanna ke dalam pelukannya. Membuat Hanna mempoutkan bibirnya, kesal. Namun,

“Bertambah gemuk? Memangnya aku terlihat gemuk ya, Oppa?” Hanna sadar akan pernyataan Luhan yang lain.

“Ne. Lihatlah, pipimu semakin bulat, dan badanmu semakin nyaman untuk dipeluk,” tawa Luhan lepas, Hanna pun tak segan memukul punggunya gemas. Tak peduli dengan Luhan yang mengaduh kesakitan. Sementara batinya mulai kalut, memikirkan kondisi tubuhnya yang semakin berubah. Bahkan Luhan menyadari perubahannya itu dalam waktu singkat.

“Oppa, kau sudah bertemu Baekhyun?” Hanna bertanya hati-hati. Perlahan, ia lepas rengkuhannya pada tubuh yang sangat ia rindukan itu.

“Belum, wae?” Luhan menatap wajah tanpa ekspresi Hanna.

“Ani, hanya ingin bertanya…” Hanna tersenyum menunjukkan gigi geliginya. Sebelum menarik pria itu untuk mengikutinya–duduk di bawah pohon rindang. Ia tak sanggup jika harus menjelaskan apa yang ia inginkan pada Oppa-nya, perihal memalsukan kematian Ayah mereka dan ‘alasan’ mengapa ia ingin melakukan itu. Hingga pada akhirnya, Hanna memilih untuk tutup mulut–dan membiarkan Baekhyun yang menjelaskannya nanti.

“Oppa perkenalkan, mereka anjing baruku, namanya Yui dan Liu…” Hanna mengangkat seekor anjing jenis Papillon (Yui) ke pangkuannya. Sementara, Pomeranian-nya sudah menjilat wajah Luhan tanpa ampun. Sepertinya anjing itu sangat menyukai Luhan sejak pandangan pertama.

“Liu itu anjing jantan dan Yui betina, tapi sepertinya Liu mengira kau seorang wanita, Oppa…” Hanna terkekeh, melihat anjing kecil berkepala besar yang begitu agresif pada Luhan itu.

“Sehun tidak marah kau memelihara anak anjing? Bukankah dulu, dia yang sangat menentangmu untuk kembali memelihara binatang setelah insiden matinya Momo?!” Luhan bertanya, tangannya sibuk mengelus bulu halus Liu.

“Ani, aku membelinya tanpa sepengetahuan Sehun dan saat mereka tiba di rumah, Sehun hanya menginterogasiku habis-habisan. Karena aku tak meminta izin darinya terlebih dahulu, dan mengapa aku membeli anjing sepasang dengan jenis yang berbeda…” Hanna berucap tak acuh, seolah itu bukan masalah. Sementara Luhan, sudah tertawa ringan mendengarnya.

“Biar Oppa tebak, Sehun pasti mengataimu bodoh?! Karena membeli anjing sepasang tapi berbeda jenis…” Luhan menangkap senyum bodoh Hanna sebagai jawabannya, setelah ia bertanya seperti itu. Dan secara tidak langsung–Hanna membenarkannya. Tawa Luhan pun meledak seketika. Oh ayolah, ternyata Hanna dan Sehun tak sepenuhnya berubah. Menyadari itu, membuat Luhan benar-benar tak habis pikir pada dua orang yang sempat berstatus sebagai sahabat itu.

“Kau memang bodoh, An. Seharusnya, jika kau ingn membeli anjing sepasang jangan berbeda jenis. Mereka tidak akan bisa kawin, dan jika mereka sampai kawin–keturunan mereka akan sangat aneh.”

Hanna mendelik tajam ke arah Oppa-nya. Kata-kata yang dilontarkannya itu begitu mirip dengan apa yang Sehun ucapkan kemarin. Membuat Hanna kesal sekaligus benci pada kedua orang yang memiliki wajah hampir serupa itu.

“Shut up your mouth, Oppa! I hate you!” Hanna melempar dedaunan yang berserakan ke wajah Oppa-nya tanpa ampun. Ia kesal–sangat kesal, seharusnya Luhan tak memancing emosi Ibu hamil–karena mereka begitu sensitif.

“Yak! Waeyo? Oppa benar, ‘kan?” Luhan hanya menghindari serangan Hanna, tanpa beniat membalasnya. Sementara wajah gelinya terlihat begitu mendominasi–membuat Hanna semakin kesal dibuatnya.

“Aku membencimu! Rasakan ini…!!!” Kemarahan Hanna membabi buta. Membuat Luhan semakin geli dibuatnya.

Ya Tuhan, mereka berdua terlihat begitu manis. Mereka berdua terus bercanda seolah tanpa beban. Luhan yang tak henti-hentinya menggoda Hanna, dan Hanna yang begitu sensitif sampai marah hanya karena masalah sepele. Luhan begitu merindukan saat-saat seperti ini, saat dimana ia bisa bercanda dan tertawa lepas bersama adiknya. Meski kini, tak ada Ayah dan Ibu mereka yang menyaksikan dan ikut tertawa bersama mereka. Hanya tinggal mereka berdua–yang harus siap menghadapi kerasnya hidup di masa yang akan datang. Dengan berjuta harapan, bahwa Ayah mereka akan kembali bangun dan menuntun mereka agar tak salah mengambil jalan dalam menjalani kehidupan.

Kini, Luhan telah berhasil menenangkan jiwa bison dalam diri Hanna. Hingga gadis itu tak lagi beringas dengan melempar segala dedaunan yang berserakan di tanah kepadanya.

“Kau cantik, pintar, baik, dan kuat. Kau adalah adik Oppa yang paling sempurna…” Luhan menepuk-nepuk bahu Hanna pelan. Sementara Hanna, menyandarkan kepalanya pada bahu mungil Oppa-nya itu. “Sudah ya, jangan marah lagi… Oppa ‘kan hanya bercanda, mengapa kau sampai semarah itu?!” Luhan sama sekali tidak tahu, Hanna marah karena ia mengucapkan kalimat yang sama persis dengan yang Sehun ucapkan. Dan yang ia tahu hanyalah, Hanna marah tanpa sebab.

Sebenarnya, Hanna hanya ingin melampiaskan kemarahannya. Ia sangat ingin marah pada Sehun, saat pria itu mengatainya bodoh. Namun, ia tak berani–hingga ia hanya bisa diam mendengarkan ocehannya. Dan kini, Oppa-nya ikut mengatai bodoh dengan kalimat yang sama persis, hingga ia mengeluarkan semua kekesalannya pada Oppa-nya itu. Poor Luhan.

“Sehun biasa pulang jam berapa?” Luhan mengalihkan pembicaraan saat adiknya tak kunjung buka suara.

“Tak tentu, kadang jam 6 sore ia sudah sampai ke rumah, kadang jam 8 malam, kadang juga jam 10 malam,” jawab Hanna apa adanya, “Oppa datang kemari untuk bertemu dengannya?” tanya Hanna, dengan kepala yang mendongak–menatap Oppa-nya.

“Heum, Sehun menyuruh Oppa untuk datang kemari, tanpa memberi tahu jam berapa Oppa harus datang…” Luhan menekan kepala Hanna, agar kembali bersandar di bahunya.

“Sehun merekrutmu untuk menjadi bagian dari Black ID, ‘kan?” Nada suara Hanna berubah–sarat akan ketidakikhlasan.

” . . . ” Luhan terdiam. Ia hanya membenarkan ucapan Hanna lewat keterdiamannya.

“Saat Oppa datang berkunjung pagi-pagi buta dengan baju yang penuh dengan bercak darah, saat itu juga aku menyimpulkan bahwa Oppa telah menjadi bagian dari mereka…” ujar Hanna lirih, membuat Luhan tercabik.

“Mianhae…” Hanya itu yang bisa Luhan ucapkan.

“Tak perlu minta maaf, itu bukan keinginanmu, Oppa. Setiap orang punya alasan untuk memilih jalan hidupnya… Dan itu adalah pilihanmu, meski aku tak tahu ada alasan apa di balik itu?!” Tangan Hanna bergerak perlahan. Mengelus bulu halus kedua anak anjing yang berada di pangkuannya.

“Sehun mengatakan, akan melindungimu dari Black ID jika Appa berhasil ditemukan. Ia juga berjanji tidak akan menyakitimu, jika Oppa mau menuruti semua perintahnya untuk bergabung bersama Black ID…” Luhan putuskan untuk mengatakan alasan–mengapa ia begitu tunduk pada Sehun selama ini.

“Melindungiku dari Black ID jika Appa berhasil ditemukan, maksudmu apa, Oppa?” Hanna tak mengerti. Ia menatap lurus manik coklat Oppa-nya.

“Black ID ingin melenyapkan semua barang bukti yang tersisa, Hanna. Tidak hanya Appa, tapi juga kau dan Oppa. Dan kita dibiarkan hidup sampai saat ini hanya untuk diperalat… Tidakkah kau mengerti dengan maksud dari kata ‘semua’?”

Hanna membelalakkan matanya. Dan saat itu juga, Luhan kembali membawanya ke dalam dekapannya. “Hanya ini yang bisa Oppa lakukan untuk menjagamu dan Appa… Maafkan Oppa, –Oppa berjanji akan segera mengakhiri semua penderitaan ini…”

Tubuh Hanna bergetar, jantungnya kembali memompa cepat di dalam sana. Tangannya pun bergerak perlahan–mengelus perutnya lembut, ‘eottokhae?’ Hanna terlihat kalut, benar-benar kalut. Perutnya akan semakin besar seiring dengan waktu yang terus berjalan. Sementara, Oppa-nya mengatakan hal yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Lalu, bagaimana dengan Sehun jika ia mengetahui kondisinya saat ini?! Bagaimana dengan nasib bayinya nanti? Hanna ingin melindunginya, ia ingin bayinya tetap hidup sebelum kematian datang menjemputnya.

“Tenanglah Hanna, semuanya akan indah pada waktunya. Jangan takut!” Luhan menyadari ketakutan Hanna, meski ia tak tahu alasan sebenarnya.

“Pengkhotbah 3 ayat 11,” ujar Hanna pelan.

“Ne?” Luhan tak mengerti.

“Semua akan indah pada waktunya, itu kutipan ayat dari Alkitab–Pengkhotbah 3 ayat 11. —Kata-kata itu sangat menghibur untuk orang-orang yang belum mendapatkan apa yang mereka harapkan seperti kita. Hingga kita ingat bahwa ada Tuhan yang sudah mengatur segala sesuatunya.” Hanna menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Oppa-nya. Luhan yang mendengar kata-kata itu pun tersenyum.

“Iya, kita tidak sendiri –ada Tuhan yang sudah mengatur segala sesuatunya. Dan Oppa yakin, Tuhan telah mempersiapkan takdir yang jauh lebih baik lagi–setelah semua cobaan ini berakhir. Kita hanya perlu bersabar, jangan putus asa, dan tetap berusaha dengan diiringi do’a…”

 

regret

 

Sehun menatap hampa tumpukan berkas yang harus ia baca dan tanda tangani. Sementara, pikirnya menerawang jauh–tak fokus. Lamat – lamat pikirnya itu kembali mengingat ciuman manisnya bersama Hanna tadi pagi, juga setiap ciuman yang pernah ia lakukan bersama gadis itu. Dan kini, semuanya berputar begitu jelas bagai roll film di dalam benaknya. Dimana ada pertengkaran, tangis-kesedihan, tawa-menyenangkan, dan manis-pahitnya kebersamaan di antara dirinya dan Hanna di dalam ingatannya itu. Dan hal itu sukses mengacaukan sistem kerja tubuhnya. Jantungnya pun terus memompa cepat sedari tadi, namun Sehun begitu menikmati debaran itu.

Matanya pun mulai tertutup perlahan–menyelami debaran menyenangkan di dalam rongga dadanya. Namun tak lama, matanya kembali terbuka saat,

Drrt! Drrt! Drrtt!

Sebuah getaran datang mengganggu Sehun. Bayang-bayang Hanna pun mengabur begitu saja, membuatnya berdercak malas, sembari meraih ponsel-nya yang berada di atas meja. Kemudian membuka kuncinya, demi melihat siapa yang sudah lancang mengganggunya itu.

Park Tae Jun

Sehun mengernyitkan alisnya membaca nama yang tertera di sana. Tak biasanya Taejun mengirim pesan, –pengawal pribadi istrinya itu biasa meneleponnya jika Hanna berulah. Sekarang, kekonyolan apa lagi yang Hanna perbuat? Tak ingin ambil pusing, Sehun lantas membaca isi pesan yang sampai ke dalam ponsel-nya itu.

From : Park Tae Jun

Sehun, ini aku.
Luhan Oppa sudah tiba di rumah. Pulang kerja nanti jangan lupa belikan aku apel dan makanan untuk Yui dan Liu. Aku juga ingin Croissant yang kau belikan tempo hari.

Hanna^^

Tanpa sadar, kedua sudut bibir Sehun terangkat–membentuk sebuah senyuman yang berbeda dari biasanya. Berulang ia baca pesan singkat itu, namun, hanya efek yang sama yang ia dapat—menyenangkan. Sehun tak pernah merasa seperti ini sebelumnya, ia tak pernah merasa senang hanya karena mendapat sebuah pesan singkat.

“Kau begitu naif, Hanna… Kau ingin menyembunyikannya dariku, namun kau tak bisa menahan keinginanmu untuk tidak meminta sesuatu dariku–sebagai suamimu…”

Sehun kembali menutup matanya, dengan senyum yang masih betengker manis di wajahnya. Ia kembali larut dalam euphoria-nya, dan mengacuhkan semua pekerjaannya yang masih menumpuk. Namun tak berapa lama, ia kembali membuka matanya, saat mendengar suara pintu ruang kerjanya yang dibuka.

“Tuan, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda…” Hyomin, sekertaris Sehun–masuk tanpa permisi, lantas mengatakan maksud dan tujuannya datang menemui Tuan-nya itu.

Sehun yang mendapati kelancangan sekertarisnya itu pun hanya memberikan tatapan bertanya ‘Siapa?’

Namun, pertanyaannya itu segera terjawab seiring dengan masuknya seorang pria bertubuh tinggi tegap ke dalam ruang kerjanya. Tanpa persetujuan darinya.

Sehun yang melihat siapa yang datang pun refleks berdiri, lantas membungkukkan tubuhnya sopan.

“Ryuu-san,” ujar Sehun

“Ogenki desu ka, Sehun (Apa kabar, Sehun)?” Pria yang di panggil Ryuu itu mengambil tempat duduk di sofa panjang yang berada di ruangan Sehun, tanpa menunggu sang pemilik mempersilahkannya.

Sementara Sehun, hanya datang menghampirinya tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Pikirnya berkecamuk, menduga-duga apa yang diinginkan adik dari pemimpinnya itu–hingga membawanya datang kemari.

“Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbasa-basi… Kedatanganku kemari untuk mengajakmu bergabung,” ujarnya to the point, saat Sehun sudah mengambil tempat duduk di depannya.

“Aku tahu kau ingin keluar, kau bekerja keras untuk itu. Kau mengumpulkan uang untuk mengembalikan modal yang diberikan Black ID pada perusahaanmu, dan kau merekrut seorang detektif untuk mengawasi pergerakan Black ID selama kau sibuk mengumpulkan uang,” Ryuu menatap Sehun tepat pada maniknya. Sementara Sehun hanya diam tanpa ekspresi, ia sama sekali tidak terkejut–orang di depannya itu sudah mengetahui keinginannya.

“Dan kau sedang menyelidiki kasus kematian yang menimpa kekasihmu,” tambahnya. Membuat Sehun melebarkan matanya samar, namun cukup terlihat olehnya–hingga pria itu tersenyum penuh kemenangan.

Jantung Sehun terus berdesir tak karuan–rasa sakit kehilangan Krystal kembali ia rasakan. Wajah Hanna pun kembali menghampiri benaknya–hingga rasa sakit itu bertambah berkali-kali lipat. Baru beberapa saat ia begitu bahagia mengingat kebersamaannya dengan Hanna, namun saat ia kembali mengingat bahwa ia merupakan alasan kematian Krystal–hatinya kembali sakit.

 

“Bantu aku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, maka aku akan memberikan kebebasan seperti yang kau inginkan. Termasuk, apa yang terjadi pada kekasihmu saat itu…” Ryuu masih setiap mengamati ekspresi wajah Sehun.

“Aku menemukannya tewas kehabisan darah di dalam bathtub, dengan arteri radialis yang terpotong di pergelangan tangan… Aku sempat mengiranya tewas karena bunuh diri setelah bertemu dengan istriku, polisi yang menangani kasusnya pun demikian. Namun, belakangan ini baru kuketahui, ia tewas bukan karena bunuh diri, tapi dibunuh—” Sehun menundukkan kepalanya dengan mata yang tertutup rapat,

“Sekarang, katakan padaku! Siapa yang sudah membunuhnya dan ada motif apa di balik itu?!”

.

.

.

.

.

~To Be Countinued

.

 

Glosarium

Arteri Karotis : Urat nadi yang terdapat di leher (Chap 9B)

Arteri Radialis : Urat nadi yang terdapat di pergelangan tangan.

Entah di chapter berapa, tapi ada beberapa orang yang nanya ini.

¤ Thor, bukannya ga boleh ngelakuin hubungan suami-istri pas lagi hamil?

Maaf ya baru bisa jawab sekarang. Kemaren-kemaren mau bikin glosarium males…hehe Dan anggap aja kita sedang belajar biologi, karena aku akan menjelaskan ini dengan bahasa yang sedikit frontal. Ga usah malu bacanya, karena ini ilmu yang aku dapet dari sekolah.

Jadi, setiap orang itu berbeda, semua orang itu ga mungkin sama, termasuk seseorang yang dalam masa kehamilan. Ada yang kandungannya lemah ada juga yang biasa aja. Nah, untuk yang lemah (dalam beberapa kasus memiliki riwayat penyakit tertentu atau pernah mengalami keguguran) itu emang ga boleh. Untuk yang baby-nya kembar juga ga boleh.

Dan untuk yang kandungannya biasa aja, (si Ibu ga pernah ngalamin penyakit yang aneh-aneh sebelumnya). Hubungan seks saat hamil itu ga akan jadi masalah, tapi untuk di trimester pertama. Sperma tidak boleh di keluarkan di dalam, karena cairan itu mengandung prostaglandin, yaitu zat yang dapat memicu kontraksi dini pada Ibu hamil dan biasanya menyebabkan keguguran. Tapi cuma sampe trimester kedua, dan di trimester terakhir biasanya dianjurkan untuk mempermudah jalan bayi. Dan Hanna termasuk yang biasa aja…

(sumber terpercaya : guru biologi, hehe)

 

Author’s Note

Sebelumnya maaf ya, untuk segala kekurangannya. Dan terima kasih untuk kalian semua yang masih mau baca dan comment. Terima kasih untuk kehadirannya selama ini…^^

Kalian tau? Aku merasa amat bodoh karena mengartikan kata ini :

Acuh : tak peduli

Bergeming : bergerak

lamat-lamat : pelan-pelan

padahal arti sebenarnya,

Acuh : peduli

bergeming : diam/tak bergerak

lamat-lamat : samar-samar

Aku ngartiin gitu karena sering baca FF yang arahnya ke sana, sementara arti sebenarnya begitu. Dan di chapter-chapter sebelumnya FF aku, aku juga salah ngartiin>,< hihi

Maafkan atas kedodolanku selama ini ya, aku janji kedepannya akan belajar lebih giat lagi masalah tata bahasa…

Tapi adakah dari kalian yang sama bedonnya kaya aku? /ga ada, elu doank/ #banting #diri

ya sudah… Aku langsung cus aja, sekali lagi maaf ya atas segala keoon-an aku selama ini…

Terima kasih^^

Love you ❤

Say hello to Yui and Liu

Yui and Liu

 

Regards,

Sehun’Bee

PS : Don’t be Silent Readers and Plagiator, Okay^^

Advertisements

597 comments

  1. nyawa lg nyawa lg, emg harus ya semuanya dibayar pake nyawa? . sehun udah tau hanna hamil?? sehun peka juga sama hal kek gini :v . krystal meninggal gara” dibunuh siapa??

    Like

  2. ugh pliss masalah kematian krystal cepet diungkaplha kasian hanna disalah salahin terus sama si sehun huhu. fighting kak

    Like

  3. Setelah chap sebelumnya ngeri + nyesek abis.. di chap ini manis + menyenangkan deh.. sehun mulai luluh ga.. ya meskipun ga sepenuhnya seperti dulu tp seenganya agak baikan deh tingkahnya.. mulai tumbuh lg ya bang perasaannya. Udh biarin berkembang lgian hanna jg sama cintanya.. jd sehun udh tau kehamilan hanna?? Cuman dia pura2 oon aja di depan hanna kenapa?? Ga tega ya bunuh bayinyaa hahaha.. udh tobat aja jd sosok suami sesungguhnya..
    Benerankan krystal di bunuh. Sehun tau tp kenapa tetep benci hanna coba?? Dan benerkan sehun lg kerja banting tulang buat keluar dr black id?? terus punya rencana khusus masukin luhan ke black id. wuahhh di doakan lancar bang haha.. 😄
    Ya ampun hanna apa dia mau buka kebun binatang pake import segala emang naif hanna ini. kocak asli tingkah hanna di chap ini beda bgt sama di awal2 yg serius + dingin abis..
    Terus itu baek sama myung ga jd lanjut rencananya?? Apa ada rencana baru sampe myung minta maaf ke suzy gitu??
    Ahhhh ini makin seru aslinyaa.. makin greget.. oke langsung ke next chap ajaa..
    Semangat terus good luck kaa 😀

    Like

  4. Sehun mulai bersikap baik sama hanna , suka dengan moment di chap ini , semoga terbongkar siapa yg ngebunuh krystal kasian hanna disalahin mulu

    Like

  5. Hanna konyol banget ><, masa beli anjing aja harus langsung dari negara asalnya. Padahal di korea banyak yang jual :v . myungsoo mau ngakuin semua kejahatannya sm identitasnya??? Kok sampe minta maaf ke suzy? Oh sehun, apakah dirimu akan menyesal setelah ryuu mengungkapkan kebenaran tentang krystal???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s