Mother

mothers-day

SehunBee‘s Storyline

Mother

Main Cast

|| Oh Sehun and Mother ||

Genre

|| Family and Sadnes ||

Rating

|| General ||

Lenght


|| OneShot (2985 word) ||

Disclaimer : Semua ide cerita murni hasil pemikiran Author

Happy Reading…!!!

Mother

Ibu,
satu kata yang sudah tak asing lagi didengar. Satu kata penuh makna, satu kata penuh cinta, satu kata penuh cerita.

Masih kuingat dengan jelas, semua cerita tentangnya. Semua kasihnya serta cintanya. Pengorbanannya juga bayangnya. Bahkan diusiaku yang bukan kanak – kanak lagi, aku masih belum bisa lepas dari bayangnya. Ia terlalu berperan dalam hidupku, hingga aku merasa hidupku tak akan mampu berjalan tanpanya. Tanpa hadirnya. Ia begitu berarti bagiku, hingga aku merasa hidupku tak akan berarti tanpanya. Tanpa sosoknya. Aku begitu menyayanginya, dan aku tahu ia lebih menyayangiku, hingga bayang-bayang akan kehilangannya menjadi ketakutan terbesarku.

“Hah….” Helaan napasku terdengar begitu mendominasi, seolah menjadi suara satu-satunya di sini, di dalam kamarku. Tapi, memang seperti itulah adanya–dan perlahan, aku bangkit dari tidurku, lantas melirik jam yang berdiri di atas nakas. Sebelum akhirnya, melangkah menuju kamar mandi. Mencoba untuk kembali memulai hari.

~~~

Manik mataku bergerak lincah. Mengamati setiap sudut ruangan yang penuh akan kenangan. Langkah kakiku mulai pelan seiring dengan semakin banyaknya anak tangga yang telah aku turuni. Hatiku terasa tercabik secara perlahan, terlalu sesak untuk dinikmati.

“Sehun, kau sudah bangun?” Suara lembut menyapa indra pendengaranku. Membuatku refleks mengalihkan fokusku,—mencari darimana sumber suara itu berasal. Dan kini, bisa aku lihat, Eomma yang tengah tersenyum di dekat meja makan—lalu mengisyaratkanku, agar aku datang menghampirinya untuk menyantap menu sarapan yang telah Ia buat. Kedua sudut bibirku pun terangkat melihatnya, bahkan kakiku kembali bergerak lincah menuruni setiap anak tangga yang tersisa.

“Eomma masak apa?” tanyaku antusias.

“Nasi goreng kimchi kesukaanmu. Sekarang ayo makan dan habiskan!” Serunya seraya mengelus puncak kepalaku. Selanjutnya, aku melihatnya mendudukkan tubuhnya di depanku—lalu menatapku dengan keteduhan sorot matanya yang menyejukkan, membuatku sadar–lantas kembali ke duniaku.

Namun senyum, masih bertahan di wajahku.

“Gomawo Eomma….”

~~~

Minggu. Selalu menjadi hari yang paling menyenangkan dalam hidupku. Dimana tak ada kegiatan yang mengharuskanku untuk pergi ke sekolah. Dimana tak ada suara Eomma yang menggelegar membangunkanku. Juga tak ada keributan atas kecerobohanku setiap kali lupa mengerjakan tugas, ataupun saat aku kehilangan sesuatu yang harus aku bawa ke sekolah. Namun kini, hari Minggu–menjadi hari yang begitu sepi bagiku, pun hari-hari yang lainnya. Semuanya sama, terasa kosong.

Akhirnya kuputuskan untuk keluar. Mencari udara segar yang menyejukkan.

Perlahan, kubuka pintu utama rumahku dan saat itu juga, puluhan bunga lili langsung menyambut kedatanganku. Begitu indah. —Eomma sendiri yang menanam bibitnya di halaman depan rumah kami, kemudian merawatnya sampai mereka tumbuh seperti sekarang ini. Dan kembali, aku kembali melihat sosoknya yang tengah berdiri seraya menyirami beberapa tanaman. Ia tersenyum begitu cantik, meski usianya tak lagi muda. Ia terlihat begitu senang, melihat bunga yang ia rawat tumbuh dengan baik.

“Eomma,” panggilku lirih.

“Sehun, kau mau membantu Eomma?”

“Bantu apa, Eomma?”

“Tolong sirami bunga lili Eomma. Eomma tidak ingin bunga kesayangan Eomma layu….”

“Ne Eomma,” aku mengambil gembor plastik berwarna biru muda yang biasa Eomma gunakan untuk menyirami tanaman. Lalu mengisinya dengan beberapa liter air, dan kemudian membawanya untuk kusiram pada puluhan bunga yang Eomma maksud.

Aku tersenyum saat melihat bunga lili itu bergoyang tersentuh air, seolah begitu menikmati setiap kesejukkan yang diberikan oleh air itu. Awalnya aku tak mengerti, mengapa Eomma begitu menyukai bunga lili. Namun, setelah Eomma menceritakan ada kisah manis dibalik itu–aku pun lantas menyukainya.

“Mendiang Appamu memberikan Eomma setangkai bunga lili saat menyatakan cintanya. Sebagai ganti dari bunga mawarnya yang tertinggal di dalam subway. Jadi, ia memetik setangkai lili di taman sebagai gantinya.” Aku tersenyum setiap kali mengingat kisah konyol yang pernah Eomma ceritakan itu. Appa begitu baik juga penyayang, tak ayal jika Eomma tak bisa lepas darinya.

Selesai. Lamunan panjangku selesai seiring dengan selesainya pekerjaanku. Aku kembali meletakkan gembor itu di tempatnya semula. Kemudian kuputuskan untuk mencari hiburan sejenak dengan berjalan-jalan ringan di sekitar komplek. Kakiku terus berjalan, tak tentu arah. Mataku pun kosong menatap ke depan. Tak ada fokus yang menyenangkan yang bisa aku tangkap. Sampai pada akhirnya–aku sadar, langkah kakiku telah membawaku ke sebuah Taman Kanak-kanak, tempatku bersekolah dulu.

Aku melangkahkan kakiku untuk lebih mendekat, kemudian membuka pagarnya yang tak dikunci. Lantas masuk ke dalamnya, mencari kenangan lain yang bisa aku lihat di sana.

Benar saja. Semua kenangan masa kecilku kembali berputar di sana, bahkan terasa nyata. Dimana aku dapat melihat refleksi kecil diriku, berjalan riang bersama Eomma memasuki kelas pertamaku. Dengan senyum mengembang, aku bercanda bersama Eomma. Tawaku bahkan terdengar begitu menyenangkan, namun tak lama, wajah murung nan sedih terlihat dari wajah kecilku. Saat aku tiba di dalam kelas dan kemudian mengetahui Eomma harus pergi meninggalkanku sendirian, bersama orang-orang yang asing bagiku.

Sesekali aku melihat refleksi kecil diriku melirik keluar jendela, seolah ingin memastikan sesuatu. Dan perlahan, aku mengikuti arah pandangnya. Mencoba mencari tahu, apa yang membuatku tak fokus saat itu.

Dan di sana, di sana aku melihat Eomma yang tengah terduduk di atas kursi taman, bawah pohon maple. Dengan senyum tulusnya ia mengangguk, mengisyaratkanku untuk kembali fokus belajar, juga meyakinkanku, bahwa ia tidak akan pergi meninggalkanku.

Seolah kembali kemasa itu. Aku pun merasa begitu bahagia saat mendapati sosoknya ada, seolah aku kembali merasakan, seperti inilah kebahagiaanku saat mengetahui Eomma tetap menungguku dengan sabarnya. Aku bahkan tak peduli dengan setumpuk pekerjaan rumahnya yang terbengkalai, dengan rasa kantuk yang menderanya, dengan teriknya matahari atau dinginnya angin yang menghujami tubuhnya— yang terpenting aku senang ia tetap menungguku sampai bel berbunyi. Sungguh naif masa kecilku dan sungguh luar biasa Eomma, beserta rasa cintanya untukku. Senyum tipis pun kembali menghiasi wajahku. Sebelum akhirnya, aku kembali pada masaku.

“Hah….” Aku kembali menghela napas pelan. Mencoba untuk menghilangkan sesak di dadaku. Sebelum akhirnya, kuputuskan untuk berbalik, melanjutkan langkah kakiku—entah kemana. Tak tentu arah.

~~~

Aku kembali terbangun dari tidurku, dengan suasana yang sama. Melirik jam di atas nakas, dan kemudian pergi mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.

Satu per satu aku cek perlengkapan sekolahku. Takut, jika ada yang terlupa dan kemudian tertinggal. Saat dirasa sudah lengkap dan tak ada yang kurang, aku pun siap berangkat ke sekolah. Meninggalkan bayang-bayang Eomma di rumah untuk sesaat. Rasa berat hati juga rindu yang begitu mendalam pun menderaku. Dimana hatiku tak kunjung kuasa menerima kenyataan yang ada.

“Sehun-ie, kau mau ke mana?”

Langkah kakiku terhenti, saat aku melewati ruang keluarga. Kepalaku lantas menoleh ke arah sumber suara. Dan kini, bisa aku lihat, Eomma yang tengah menatapku khawatir–membuatku tanpa sadar mengerutkan alis bingung.

“Aku mau main, Eomma!”

Deg.

Kepalaku kembali menoleh–mencari suara yang berbeda. Dan betapa terkejutnya aku, saat mendapati refleksi diriku tengah berjalan santai melewati Eomma begitu saja.

“Ke mana? Ini hari Minggu, Sehun tidak mau menemani Eomma membuat kimchi?” tanyanya dengan wajah sendu.

“Itu pekerjaan wanita, Eomma,” jawabku enteng, seraya memegang gagang pintu. Tanpa melihat ke arah Eomma.

“Tapi adeul, bukankah kita selalu membuatnya bersa—?”

“Eomma. Aku ingin pergi bermain!” Selaku cepat, dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Sebelum akhirnya, aku pergi meninggalkan Eomma sendiri.

“Adeul…” Panggilnya lagi pelan, penuh harap. Wajah sedih juga kecewa terlihat begitu ketara di wajah tuanya. Tatapan sayu dengan lapisan kaca di dalamnya pun terlihat dari mata indahnya. Tubuhku pun kaku, saat melihat kembali kilasan masa lalu itu.

“Eomma, mianhae….” Suaraku bergetar pilu. Aku tak pernah tahu, Eomma begitu sedih saat aku meninggalkannya sendirian. Aku tak pernah tahu, Eomma begitu mengharapkan kehadiranku di sampingnya. Aku tak pernah tahu – aku tak pernah tahu apa yang dirasakan seorang Ibu.

Tubuhku pun mundur perlahan, seiring dengan bayang-bayangnya yang mulai menghilang.

Dari dulu sampai saat ini. Eomma selalu ada untukku, menemaniku, merawatku, memberikanku kasih sayang, berkorban untukku. Mendekapku saat aku menangis, menghapus air mataku, menyemangatiku dengan kata-kata lembutnya, juga mengangkat tubuhku saat aku terjatuh. Namun sayangnya, aku tak pernah menyadarinya. Bahkan setelah aku menginjak remaja, aku semakin tak peduli akan semua itu. Aku terlalu sibuk dengan dunia baruku, bersenang-senang bersama teman, dan melupakan sosoknya di rumah. Meninggalkannya sendirian saat hari libur tiba, membiarkannya merasakan sepi yang begitu mendalam, bahkan kadang bersikap tak acuh padanya yang sedang sakit. Padahal ia tak pernah tidur saat aku sakit, meski itu hanya demam.

Kepalaku pun tertunduk dalam, saat kembali mengingatnya. Namun kembali terangkat saat,

“Sehun, hati-hati di jalan sayang….”

Aku mendengar teriakannya. Teriakan lembutnya, teriakan penuh kekhawatirannya, teriakan kasih sayangnya. Aku lantas berbalik, setelah membuka pintu pagar rumahku, demi memberikannya senyum terbaikku.

“Ne. Eomma, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja,” ujarku lirih, sangat lirih. Hatiku tercabik, tak tentu apa yang aku rasa. Sakit, perih, sesak aku rasakan secara bersamaan. Membuatku tak mampu lagi merasakan hatiku yang telah remuk tak tersisa.

Aku kembali melangkahkan kakiku gontai. Menuju halte bus yang tak jauh dari rumah. Mencoba untuk mengejar cita-cita yang akan membuat Eomma dan Appa bangga. Juga mencoba untuk kembali tersenyum, meskipun itu sulit untukku.

~~~

Aku pulang dengan semangat yang telah terkuras. Mataku kembali berkeliling setelah aku membuka pagar rumah. Kembali mengenang semua cerita yang pernah terjadi di sana, di halaman rumah.

“Ayo, kau pasti bisa!” Suara bass Appa terdengar begitu lembut di telingaku. Dan tanpa pikir panjang, aku langsung mencari darimana suara itu berasal.

Kini, bisa kulihat refleksi kecil diriku, tengah belajar mengayuh sepeda dengan Appa yang terus memberiku semangat. Senyum manis nan ceria pun tergambar jelas pada wajah mungilku. Dimana aku berhasil membawa lebih jauh sepedaku tanpa bantuan Appa yang mendorongku. Namun tak lama, hal tak terduga terjadi–aku kehilangan keseimbanganku, ban depan sepedaku oleng, aku pun terjatuh dengan lutut yang menahan terlebih dahulu.

“Akh….”

Aku meringis saat melihat luka di lututku, terlebih, saat mendapati wajah kesakitanku saat itu. Seolah aku kembali merasakan luka yang pernah aku dapatkan itu.

“EOMMA….” Tangisku pecah, saat perih yang berdenyut terasa begitu menyakitkan pada lututku.

“Astaga Sehun-ie!” Eomma datang entah darimana. Dengan wajah penuh kekhawatirannya, ia memandangku. Mengelus punggungku yang kini sudah berada di dalam gendongan Appa. Lalu mengambil alih tubuh kecilku itu ke dalam dekapannya. Hangat, itulah yang aku rasa. Beribu untaian kata yang menenangkan hatipun ia lontarkan, agar aku berhenti menangis dan melupakan rasa sakit di lututku. Tak lama, aku melihat Appa masuk ke dalam rumah, kemudian kembali dengan sekotak obat di tangannya.

Aku duduk di atas pangkuan Eomma, namun aku masih terisak. Bisa kulihat wajah penuh penyesalan Appa yang tengah berjongkok di depan kami. Membersihkan luka yang teramat perih di lututku, lalu memberikannya cairan yang membuatku semakin meringis, dan kemudian menutupnya dengan sebuah plaster bergambar spiderman.

“Sudah, jangan menangis lagi ne! Sehun-ie jelek kalau menangis, Eomma tidak suka,” ujar Eomma lembut, sangat lembut. Membuat isakanku semakin kecil terdengar.

Kini, tak ada lagi mengangkat tubuhku saat aku terjatuh, tak ada lagi yang mendekap tubuhku saat aku menangis, tak ada lagi yang menghapus air mataku, tak ada lagi yang bisa menghiburku, serta tak ada lagi yang membersihkan lukaku saat aku terluka. Semuanya telah berlalu, bahkan semua kenangan manis itu, menjadi kenangan yang begitu menyakitkan untukku. Perasaan rindu yang teramat pun, hanya membuat luka hati semakin dalam terasa. Aku sadar, semua yang telah berlalu tak akan pernah kembali. Sekalipun aku menangis memohon, Tuhan tak akan mengabulkannya. Hatiku pun perih setiap kali bayang-bayang itu muncul, terasa nyata namun semu.

Aku putuskan untuk kembali melanjutkan langkahku–memasuki rumah dan segera menggapai kamarku. Merebahkan diriku di atas kasur, lantas kembali menangis dengan bantal di dalam pelukanku.

“Eomma – Appa … Aku,” aku terisak tak mampu melanjutkan. Air mataku tumpah seiring dengan hatiku yang terus mengucap rindu. Sungguh, aku masih membutuhkan mereka. Aku masih menginginkan mereka ada untukku. Aku masih mengharapkan kehadiran mereka dalam hidupku. Namun sayangnya, Tuhan lebih menyayangi mereka.

“Bogoshipo.”

Seperti dihantam batu tepat pada ulu hati. Kata rindu yang terucap, membuat hati semakin remuk tak tersisa. Sakit yang teramat pun semakin berdenyut terasa. Saat disadari orang-orang yang aku rindukan tak akan datang lagi memelukku, menenangkanku, menghapus air mataku, dan menemani tidurku. Karena memang mereka sudah tiada. Meninggalkanku dengan segala kenangan manis mereka, –kenangan yang hanya membuat luka hati semakin perih terasa.

~~~

Lagi, lagi dan lagi. Aku terbangun dengan keadaan yang sama serta suasana yang sama. Kegiatan yang sama dan hari-hari yang sama. Namun kali ini, aku tak langsung beranjak ke kamar mandi. Aku putuskan untuk melihat penampilanku terlebih dahulu di depan cermin. Mengamati setiap lekuk tubuhku yang semakin kurus termakan waktu, juga menyadari betapa tirusnya pipiku dengan kantung hitam di bawah mata. Kepalaku pun terasa berdenyut, sakit. Mungkin karena aku terlalu banyak menangis semalam, tidak, tapi setiap malam. Terhitung semenjak kepergian Eomma satu bulan silam. Dan selama itu pula aku hidup dalam bayang-bayangnya. Menikmati setiap kenangan yang pernah terjadi diantara kami, juga menikmati setiap kerinduan yang begitu menyiksaku.

Luka hati setelah kehilangan Appa 4 tahun silam pun belum sembuh terasa, tapi Eomma sudah menambah luka itu. Membuatku harus rela hidup sebatang kara, dengan melepas kepergiannya yang teramat sulit untukku. Padahal semasa hidupnya, aku seringkali mengacuhkannya. Saat ia bercerita pun aku selalu disibukkan dengan gadget-ku. Dan saat ia menasehatiku, aku sibuk menutup telinga, berpura-pura mendengarkan, padahal mencari alasan untuk menghindari kicauan teduhnya.

Kini aku sadari, aku begitu kejam padanya. Tak pernah pedulikannya yang begitu pedulikanku, tak pernah membalas kasihnya yang begitu besar untukku, tak pernah menyadari betapa berartinya ia untukku. Dan saat aku sadari, semuanya sudah terlambat untukku.

“Hah….” Aku kembali menghela napas berat untuk yang kesekian kalinya. Mencoba untuk melepas rasa sesak di hati, meski aku tahu itu mustahil. Dan pada akhirnya, aku putuskan untuk segera bersiap, pergi ke sekolah. Meskipun kondisi tubuhku tak mendukung untuk itu. Berdiam diri di rumah pun percuma, tak ada lagi Eomma yang akan merawat sakitku.

45 menit berlalu. Aku sudah siap dengan segala perlengkapan sekolahku. Aku lantas melangkahkan kakiku keluar dari dalam kamar–menutup pintunya perlahan, dan kemudian membawa tubuhku untuk turun, menuruni setiap anak tangga.

“Sehun…”

Lagi dan lagi, aku mendengar suara Eomma yang datang memanggilku. Aku terlalu bergantung padanya, hingga aku tak bisa lepas dari bayangnya. Eomma yang telah tiada pun tetap aku anggap ada. Gila memang, tapi memang seperti inilah aku. Aku tidaklah mampu melepas bayang-bayangnya dalam hidupku, meskipun aku tahu itu hanya akan menyiksaku. Ilusi pun aku anggap nyata, suaranya yang sebenarnya tak ada pun aku anggap ada. Menyedihkan.

“Sehun? Kenapa kamu tidak menjawab panggilan Eomma, Nak?” Ilusi itu benar-benar seperti nyata. Bahkan kini, aku bisa melihat Eomma yang tengah berkacak pinggang di ujung anak tangga.

“Mianhae, Eomma,” ujarku, dan jika ada orang yang melihatku, mungkin mereka akan langsung menganggapku gila, karena berbicara seorang diri.

“Wajahmu pucat sayang. Apa kamu sakit?” tanyanya khawatir, wajah sedih terlihat jelas pada raut wajahnya. Bahkan kini, semakin jelas saat ia terus melangkah mendekatiku. Dan kemudian menangkup pipiku hangat, lalu menempelkan punggung tangannya di keningku.

“Aigo. Kamu demam, Nak! Jangan pergi ke sekolah! Istirahatlah di rumah!” Ujarnya lagi dengan nada yang jauh lebih khawatir dari sebelumnya. Sedangkan aku, hanya mampu diam membisu. Mataku pun terkunci dalam manik matanya yang teduh. Dan hanya terfokus pada satu titik, seolah takut tak bisa melihatnya lagi. Rasa rindu yang begitu mendalam pun terasa menguar secara perlahan, seiring dengan kembali jatuhnya setetes liquid dari mataku.

“Eom–ma,” ujarku tersenggal. Tangisku pecah, ingin sekali aku memeluk tubuhnya, mendekapnya hangat, lantas mencurahkan semua rasa rinduku. Namun aku sadar, ini hanya ilusi– dan jika aku melakukannya, aku yakin, tubuhnya akan menguar saat itu juga.

“Heum?” jawabnya, disertai dengan senyum manisnya. Membuatku merasa tenang juga nyaman, namun tak lama, aku merasakan jari-jari lembutnya menelusup masuk melalui sela-sela jemariku. Kemudian menuntuntunku untuk mengikutinya–kembali ke dalam kamarku.

Dan aku, hanya bisa menurut–mengikuti setiap langkah pelannya dengan fokus yang tak lepas dari sosoknya. Senyum manis nan lembut pun aku lihat dari wajah cantiknya. Begitu hangat juga menenangkan, membuatku semakin nyaman dibuatnya. Bahkan aku tak sadar, aku sudah kembali ke dalam kamar, hanya karena terlalu asik memandangi wajah yang amat aku rindukan itu.

“Istirahatlah! Eomma akan menemanimu,” ujarnya lembut. Dan lagi, aku hanya bisa menurut—merebahkan tubuhku di atas kasur, lalu kembali menatapnya yang duduk di samping kepalaku dengan punggung yang bersandar pada headboard tempat tidur. Tanpa pikir panjang, aku langsung menidurkan kepalaku di atas pangkuannya, lantas memeluknya erat. Mataku pun terpejam rapat, takut, jika tiba-tiba saja sosoknya menguar dari dalam pelukanku—lantas berganti udara yang kosong.

“Eomma … Eomma tidak akan pergi, ‘kan?” aku kembali terisak di pangkuannya. Wangi khas yang begitu aku rindukan pun menguar begitu saja dari dalam sana.

“Tidak. Eomma tidak akan pergi ke mana pun, Eomma akan menemanimu di sini,” ujarnya menenangkan.

“Benar, ‘kah?”

“Ne, mana bisa Eomma meninggalkan jagoan kecil Eomma yang sedang sakit,” jawabnya disertai tawa yang begitu lembut. Jemarinya pun menari lembut di atas surai coklatku. Membuatku merasa nyaman juga tenang. Pelukanku pun kueratkan padanya.

“Sayang, Eomma sangat menyayangimu, jangan pernah berpikir bahwa Eomma pergi meninggalkanmu,” ujarnya tiba-tiba. Membuat dadaku semakin sesak.

“karena Eomma memang tak pernah pergi, Eomma selalu ada di sisimu, menemanimu, melihatmu, juga memantau segala aktivitasmu. Dari tempat yang tidak pernah kaulihat, di sini, di dalam hatimu,” lanjutnya seraya menunjuk dada kiriku. Membuatku semakin sesak mendengarnya. Mengingat kenyataan yang ada, bahwa ia memang telah tiada.

~~~

Mataku mengerjap pelan. Aku terbangun dari tidurku, dengan seragam sekolah lengkap dan sebuah bantal dalam pelukanku. Mataku pun menatap sayu jejak air mata yang tercetak melingkar pada bantal putihku. Sementara hatiku terasa tercubit, saat menyadari bahwa itu hanya mimpi. —Mimpi yang begitu nyata juga mimpi yang begitu indah.

Kini, kusadari sepenuhnya. Eomma memang tak pernah pergi, ia selalu ada untukku, ia tetap hidup untukku, ia selalu menemaniku, bersamaku, tak pernah jauh dariku. Di sini, di dalam hatiku. Forever and One. Tak akan pernah hilang selamanya, selalu satu dalam diriku, bersemayam dalam hatiku. Karena pada dasarnya, tak akan ada orang tua yang tega meninggalkan buah cintanya. Mereka akan selalu ada untuk anaknya, dalam bentuk apa pun itu. Karena memang kasih Ibu itu tak terhingga, sepanjang masa. Dan sosoknya tak akan pernah tergantikan, selamanya.

“Eomma saranghae….”

.

.

.

.

.

 


~The End~

Tunjukkanlah kasihmu pada Ibu, di setiap harinya, jamnya, menitnya, atau bahkan detiknya… Seperti Ibu merawatmu setiap saatnya, sampai kamu seperti saat ini. Percayalah, rindu pada Ibu itu akan terasa saat dia tak lagi duduk di sampingmu…

Terima kasih udah mau baca, dan terima kasih buat kalian yang udah mau comment…

 

Love you guys ❤

Regards,

Sehun’Bee

PS : Don’t be silent readers and plagiator, Okay^^

Advertisements

74 comments

  1. Unie…bagus bgt..ff ni bnr2 menyentuh hati. Q jd rindu bunda q yg skr jauh dari q. Karena bca ff ni q jd sdar kl slama ni q blm bs ngebahagiain bunda q. Wlpun q g pernah brani menentang printahnya tp q mrasa blm ckup dg itu smua. Jjur ngbaca ff ni bkin q nangis inget bunda. Makasih ya..dah bkin ff ni yg dah bkin q termotivasi tuk lbih menghargai kberadaan seorg bunda..

    Like

  2. ff ini sukses bkin aku nangis.. feel’y dpt bgt eonni, ff “mother” ini bkin aku kgn sama sosok ibu, inget waktu aku kecil, bagaimana cara’y ibu ngasih perhatian n kasih sayang’y ke aku.. ff ini ngasih nasehat yg baik, ada amanat yang tersirat di dlm’y.. sukses ya eonni ff’y…

    Like

  3. Eonnie fanficnya bikin aku nangis seriusan astaga😢
    Feelnya bener bener dapet huhu
    Abis baca fanfic ini aku jadi termenung inget sama bunda astaga,sering nyuekin,bikin kesel,dan disitu aku ngeras bersalah banget😢
    Gomawo eonnie udh bikin fanfic yg udah bikin aku sadar bahwa kehadiran ibu itu bener-bener berarti ^^

    Like

  4. sad banget 😥 apalagi aku gak dekat sama ibu aku. jadi makin nyesek 😥 nyesal sendiri. keren banget, eonni. sukses buat feel nya terasa

    Like

  5. Uhh,,sediihhh,,sehun kehilangan banget mungkin karena dulu dia ga bgt perhatian sama ommanya yaa?
    Ibu memang gak pernah bisa tergantikan oleh apapunn
    Bsgus bnget ini penggambarannyaa

    Like

  6. Awal’a ak sdkit shock.. Nginget klo eomma’a sehun udah gak ada.. Dan itu bru ku inget.. Haduhh..

    Ngefeel.. Nangis aku eon.. Ngrsa kyak aku yg ada dcrita itu.. Bkan sehun.. Mksih eonni.. Air mata udah keluar smua nich..?!?
    Ttp smangat bwat ff laenya..

    Like

  7. aaa~ gak kuat bacanya 😥 terlalu nyesek 😥 huhu, keren eon feelnya dapet. dan sukses udah buat aku nangis, huhu 😥 kasian juga sama Sehun. dia tinggal sendirian, gak ada siapa-siapa lagi. penyesalan seorang anak terhadap ibunya yg udah nyia-nyiain ibu dan ayahnya saat mereka masih ada. memang menyakitkan 😥 bisa ngerasain gimana rasanya merindukan orang tua yg udah tiada. berasa teriris pas baca scene Sehun yg nangis dan manggil Eomma dan Appa nya, dan bilang kangen. aaaa~ sumpah nyesek banget 😥 seolah aku tuh ikut hanyut dalam cerita 😥 nice eon

    Like

  8. mellow bgt….
    aku jadi merasa bersalah ama eomma krn aku selalu menyakiti hatinya….
    n belum bisa membahagiakan nya….
    eomma mianhae….
    n gomawo…..

    keep writing 🙂

    Like

  9. Mama 😢 ya Allah aku benerbener tersentuh 😢 nyesek skali ya Tuhann😢 aku rindu mama 😢

    Eonni semua fanfict yg eonni buat ngena banget feelnya. 100 jempol buat eonni 👍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s