Regret [Chapter 9B]

regret

Title : Regret | Mianhae..

Author : Sehun‘Bee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun || Khaza Hanna || Xi Luhan || Byun Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [11900 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Poster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

Kini, aku sadari sepenuhnya. Air mata penyesalan berasal dari sebuah senyuman. Aku bahagia saat bersamamu, namun kini aku menangis karena kehilanganmu. Bahkan saat kita saling menganggukkan kepala–mengucap janji perpisahan. Aku tidak yakin, akan mampu berjalan di jalan masing-masing seperti yang kau katakan.

¤¤¤

Kau boleh menaruh kepercayaan kepada seseorang tapi tidak untuk sepenuhnya. Seperti yang kau tau, seseorang bisa berubah seiring dengan waktu yang terus berjalan. Dan baik – buruknya perubahan itu, tidak akan kau ketahui jika kau tak bisa membaca isi hatinya. Karena pada dasarnya, perbuatan baik ataupun buruk berawal dari niatan dalam hati.

¤¤¤

Benarkah? Cinta dan benci itu beda tipis, kau membencinya hanya karena melihat sesuatu yang tidak ingin kau lihat. Dan kemudian kau menutup matamu dari semua yang kau lihat, termasuk cintamu padanya. Maka dari itu, bukalah matamu dan lihatlah cintamu, jangan menutup matamu dari kebencian yang membutakanmu.

 

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7 ¤ Chapter 7 ¤  Chapter 8 ¤ Chapter 9A

Note : chapter 9 udah aku bagi 2 tapi tetep aja salah satu chapternya kepanjangan, jadi jangan maksain diri untuk baca langsung, takutnya mata kalian sakit. Dan jika sudah selesai membaca jangan lupa tinggalkan comment…>,< Terima kasih

Happy Reading..!!!

regret

Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mengamati setiap orang yang keluar – masuk rumah sakit itu. Sesekali ia mengarahkan fokusnya ke arah sebuah lift yang tertutup. Menunggu seseorang keluar dari dalamnya. Dan tak lama, lift itu kembali terbuka. Memperlihatkan seseorang yang ditunggunya. Ia lantas bangkit dari duduknya, diikuti Myungsoo yang juga ikut bangkit di sampingnya.

Fokus Sehun terus tertuju pada Hanna. Ia mengamati setiap langkah dan gerak-gerik gadis itu. Matanya pun memincing, mendapati wajah muram Hanna yang tengah menunduk. Sementara Suzy yang berdiri di sampingnya–terlihat tersenyum cerah ke arah Myungsoo. Membuat Sehun merasa ada yang tidak beres dengan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.

Tangannya pun ia ulurkan, demi menarik tubuh Hanna ke dalam rengkuhannya. Lalu berpamitan kepada dua sejoli itu.

Dan saat tiba di parkiran, Sehun langsung membukakan pintu mobil untuk Hanna. Kemudian menyusulnya masuk melewati pintu di sebelahnya.

Sehun memasang sabuk pengamannya setelah menyalakan mesin mobilnya. Maniknya pun sempat melirik Hanna sekilas, namun keterdiaman Hanna yang dilihatnya. Dan pada akhirnya, Sehun berinisiatif untuk memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya, seraya mencuri pandang dengan mengamati wajahnya dari dekat. Namun, Hanna justru berpaling darinya.

“Kau menangis?” Sehun meraih wajah Hanna. Saat mendapati mata Hanna yang sedikit membengkak juga rona merah di hidungnya.

“Sejak kapan kau peduli?” Desis Hanna dingin, seraya kembali berpaling dari Sehun. Membuat Sehun terenyah dibuatnya. Dan pada akhirnya, ia kembali menjauhkan tubuhnya dari Hanna.

Hening…

Keheningan terjadi di sepanjang perjalanan pulang mereka. Hanna sendiri tengah sibuk dengan dunianya, dimana hati dan pikirannya tengah berkecamuk kini. Ia sendiri tak mengerti mengapa. Namun, pertemuannya dengan Baekhyun tadi benar-benar menguras emosinya. Ia merasa bersalah pada pria itu karena telah melukai perasaannya. Namun, ia juga tak bisa kembali padanya–karena kini, hatinya telah berpaling. Terlebih, ia tengah mengandung. Dan Hanna bukanlah manusia kejam yang akan memanfaatkan kebaikkan Baekhyun untuknya juga bayinya, ketika ia lepas dari Sehun nanti. Ia hanya ingin Baekhyun bersama wanita yang lebih baik darinya. Karena pria itu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih.

Perasaan kesal juga Hanna rasakan pada pria yang duduk di sampingnya. Jangan tanyakan mengapa(?) karena Hanna sendiri pun tak tau mengapa. Padahal sebelumnya, ia baik-baik saja saat Sehun mengatakan akan membunuh bayinya. Namun, mengapa kini rasa kesal justru menyelimuti hatinya. Bukankankah itu sedikit terlambat jika benar karena itu alasannya?—Tak ingin ambil pusing, Hanna putuskan untuk tak memikirkannya lagi.

Sementara Sehun, terlihat melirik Hanna sesekali. Bisa ia lihat, bibir mungil Hanna yang terkatup rapat, namun sedikit mengerucut. Membuat Sehun dapat menebak dengan mudah, bahwa Hanna sedang kesal.

Ada apa dengannya? Batin Sehun mulai jengah. Ia hanya tak suka melihat Hanna marah seperti itu kepadanya, karena ia lebih suka mendengarkan ocehannya daripada melihat keterdiamannya.

“Hah~” Helaan napas Sehun menginterupsi keheningan yang terjadi diantara keduanya. Namun, Hanna terlihat tak peduli. Ia justru menatap ke arah yang berlawanan, seolah enggan menatap wajah di sampingnya itu.

“Katakan! Apa yang membuatmu menangis?” Titah Sehun, dilanjut dengan pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya. Rasa ingin taunya begitu besar, hingga ia tak memperdulikan lagi ucapan Hanna sebelumnya.

Namun sayangnya, Hanna masih diam–menatap ke arahnya pun tidak. Membuat Sehun semakin jengah dibuatnya. Jika sudah seperti ini, ia harus melakukan cara halus untuk menaklukkannya. Dan Sehun sudah hafal betul watak angin-anginan mantan sahabatnya itu.

Haluan mobilnya pun ia rubah. Menjadi berlawanan arah dengan jalan pulang menuju rumahnya. Hanna yang menyadari itu pun akhirnya menoleh ke arahnya. Namun, rasa kesalnya membuatnya enggan bertanya, bahkan untuk sekedar mencari tau. Dan pada akhirnya, ia hanya diam. Sampai mobil mereka tiba di distrik Apgujeong-dong, tepatnya di depan Store Galleria Departement, yang merupakan salah satu mall termewah di distrik kaya itu. Dimana di dalamnya tersedia berbagai merk (terkenal) barang fashion, juga cafes yang menyediakan makanan-makanan lezat dengan harga yang lumayan (tinggi).

Sehun yang sudah selesai memarkirkan mobilnya pun lantas turun, kemudian kembali membukakan pintu untuk Hanna. Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu, ia sudah menariknya terlebih dahulu. Membawanya masuk ke tempat perbelanjaan mewah itu.

“Kenapa kau membawaku kemari?” Ketus Hanna, mencoba mengesampingkan egonya–demi memenuhi rasa penasarannya.

” . . . ” Namun, tak ada jawaban dari Sehun. Membuat Hanna mendengus kesal dibuatnya. Pria itu balas dendam rupanya, dengan balik mendiamkannya. Itulah yang ada dalam benak Hanna.

“Aku mau pulang!” Hanna menghempaskan tangan Sehun begitu saja. Lalu berbalik dengan segera, membuat Sehun harus rela kembali menghela napasnya dalam–mencoba bersabar.

“Kau tidak ingin makan Croissant?”

Langkah kaki Hanna terhenti mendengar nama makanan kesukaannya. Sehun yang melihatnya pun tersenyum penuh kemenangan. Dan perlahan, Sehun menghampiri Hanna yang masih tetap pada posisinya, lantas membalikkan tubuhnya perlahan.

“Di sini ada cafe yang menjual Croissant dengan rasa terbaik dari tempat mana pun yang pernah kau kunjungi. . .” Sehun menatap manik Hanna lekat. Sementara Hanna, sudah masuk ke dalam jebakan ringannya.

“Benarkah?” See, dunia Hanna bahkan sudah teralihkan. Sehun tau betul, Hanna paling lemah pada segala macam jenis makanan kesukaannya. Dan dengan begitu, ia akan tau alasan mengapa gadis itu menangis sampai mengacuhkannya.

“Kau akan membuktikannya,” ujar Sehun membuat Hanna tersenyum lebar. Dan detik berikutnya, Sehun kembali mengulurkan tangannya yang kemudian langsung disambut dengan penuh antusias oleh Hanna. Mereka masuk ke dalam mall itu dengan tangan yang saling bertaut. Ekspresi wajah Hanna pun sudah berubah sepenuhya, membuat Sehun yang melihatnya tanpa sadar tersenyum dibuatnya.

Dan saat Hanna mendapatkan apa yang ia mau, saat itulah Sehun kembali bertanya. Namun sayangnya, jawaban konyol di dapatnya.

“Tadi aku menangis karena mendengar kisah cinta Bibi Bae, dan aku kesal padamu–karena kau tak kunjung datang menjemputku, dan hanya menungguku di bawah…” Hanna tersenyum seraya memakan Croissant di tangannya. Batinnya tengah tertawa geli saat ini, saat menyadari ‘sejak kapan aku pintar berbohong?’

“Hanya karena itu?”

“Heum…” Hanna mengangguk semangat. Dan Sehun, hanya bisa membatin sendu, ‘Seharusnya aku tidak perlu melakukan ini, jika sudah seperti ini ia pasti akan–‘

“Sehun, aku ingin makan Pizza juga, ne!”

‘meminta hal yang lain lagi…’


♣♣♣

 

Hanna merebahkan tubuhnya di atas kasur–Lelah. Setelah seharian berkeliling tak tentu, mencari makanan yang ia inginkan. Tak hanya itu, ia juga merengek meminta dibelikan baju baru pada Sehun. Beruntung Sehun sedang berbaik hati, hingga ia hanya memasang wajah datarnya seraya mengikuti langkah kaki Hanna yang terus berjalan ke sana – kemari dan menggesekkan kartu kreditnya di setiap toko yang Hanna singgahi.

“Kau baik-baik saja, ‘kan?” Hanna mengelus perutnya pelan, “Maaf, tadi Eomma terlalu bersemangat,” Hanna terkekeh mengingat tingkah lakunya. Namun tak lama, ia terdiam–saat mengingat kembali percakapannya dengan Baekhyun. Perasaan bersalah pun kembali menyelimuti hatinya setiap kali ingat, bahwa ia telah mengkhianati cinta pria itu–juga segala pengorbanannya selama ini. Namun apa daya, ketika cinta sudah memegang kendali hal buruk pun bisa dilakukan. Termasuk menyakiti perasaan orang yang begitu mencintainya.

“Mianhae, Baekhyun-ah… Aku memang bodoh karena terlambat menyadari perasaan ini. Ia selalu ada menemaniku, berdiri di sampingku, menjaga dan melindungiku, juga mencintaiku. Tapi, aku menyakitinya dengan menatap ke arah mu. Dan saat kusadari, semuanya telah berubah untukku. Aku menyadari, aku mencintainya setelah ia mengatakan alasan mengapa ia membenciku. . .” Hanna tersenyum kecut setelahnya. Matanya pun terpejam sempurna. Menyelami perasaan yang tengah ia rasakan. Namun tak berapa lama, Hanna beranjak—menuju kamar mandi. Membersihkan diri seraya menenangkan diri dengan berendam.

Sementara Sehun di dalam kamarnya, baru saja selesai membersihkan dirinya. Terlihat dari tubuhnya yang masih topless, juga rambutnya yang masih ia keringkan karena basah. Bahkan setetes air ikut menetes–menuruni lekuk dada bidangnya yang polos.

Tatapan tajamnya terus tertuju pada ranjang King Size miliknya. Ranjang yang hanya sesekali ia isi berdua bersama Hanna. Karena hanya pada saat ia menginginkannya, ia membawa Hanna tidur bersamanya atau ia sendiri yang datang menghampirinya. Bahkan Sehun bisa menghitung berapa kali ia tidur bersama gadis itu.

‘Belajarlah memaknai kehadiran Hanna sebagai istrimu. Jangan terlalu digenggam erat agar tak berkarat, jangan juga diberi kebebasan agar tak lepas. Cukup dijaga karena ia memang hanya titipan. Dan suatu saat nanti, ia akan pergi, entah itu karena diambil Tuhan atau diambil orang. Karena pada dasarnya, apa yang kita miliki juga apa yang kita sayangi hanyalah sebuah titipan. Semuanya adalah milik-Nya yang paling berkuasa.’

Sehun termenung mengingat perkataan Myungsoo. Handuk kecil di tangannya pun ia lempar asal ke atas sofa yang berada di kamarnya, lantas mengambil sweater abu-abu untuk dipakainya, agar tubuhnya tak menggigil kedinginan karena di luar tengah turun hujan. Tubuhnya pun ia rebahkan, seraya mencari posisi nyaman di atas bantal putihnya. Matanya ia pejamkan, mencoba untuk menenangkan pikirannya. Namun,

‘Penyesalan diakhir Sehun. Berhentilah menyia-nyiakannya meski ia pernah menyakitimu. Karena kau tak tau, apa yang akan terjadi di hari esok saat kau bangun dari tidurmu dirinya sudah tak lagi ada di sampingmu, menemani tidurmu. Kau akan tau bagaimana rasanya, jika kau benar-benar telah kehilangannya. Maka dari itu, belajarlah menghargai apa yang kita miliki, dengan menjaganya.’

Perkataan Myungsoo kembali terngiang di benaknya. Membuat dadanya sesak–teringat akan semua hal yang telah ia lakukan pada gadis itu. Perlahan ia kembali membuka matanya. Mengedarkan pandangannya ke samping tempat tidurnya yang kosong.

sehun

Tatapan Sehun berubah menjadi sayu. Saat perasaan itu kembali mengganggunya. Namun, ia tak bisa mempungkiri–ia ingin Hanna berada di sampingnya kini. Ia ingin memeluk tubuh mungil nan rapuh itu. Meski Sehun tak mengerti mengapa ia menginginkannya.

Duaarr

Sehun refleks menutup matanya. Saat suara petir yang begitu menggelegar menyapa indra pendengarannya. Saat itu juga ia sadar,

di luar–hujan sangat lebat.

Suara petir bahkan mulai terdengar silih berganti, seiring dengan semakin lebatnya air yang tumpah dari langit itu. Rasa khawatir tiba-tiba saja menyelimuti hatinya, saat mengingat,

Hanna takut pada suara petir.

Sehun pun refleks bangkit. Berniat beranjak menghampiri Hanna di dalam kamarnya. Ia bergegas menggapai daun pintu, namun saat ia membukanya,

Bruk.

Tubuhnya ditubruk oleh sesuatu dengan begitu keras.

“Sehun, aku takut…” Hanna memeluknya, seraya menenggelamkan kepalanya diantara ceruk leher pria itu. Dan gerakan refleksnya itu sempat membuat Sehun terkejut. Karena Hanna menubruknya tepat setelah ia membuka pintu. Sehun pun bisa memastikan, gadis itu pasti berlari dari dalam kamarnya.

“Gwaenchana…” Sehun balas memeluk Hanna, setelah sadar. Seraya mengelus pelan punggungnya yang tengah bergetar, “Aku ada di sini,” ujarnya menenangkan. Perlahan Sehun membawa tubuh Hanna, lalu menutup pintunya kembali. Dan kemudian menuntunnya untuk tidur di ranjangnya.

“Aku boleh tidur di sini sampai hujan reda?” Hanna mendongak dalam dekapan Sehun–membuat manik mereka bertemu. Dan saat itu juga, Sehun membeku. Jantungnya kembali memompa cepat di dalam sana, sementara maniknya terkunci dalam sorot teduh yang dipancarkan oleh hazel itu.

Dan tanpa disadarinya, hatinya kembali luruh pada orang yang sama.

Sebelah tangannya pun tanpa sadar terangkat, merapikan surai Hanna yang sedikit berantakan karena dicepol asal. Meski begitu, kecantikkan Hanna tak berkurang di mata Sehun. Terlebih, leher putih jenjangnya tak lagi terhalang karenanya, hanya beberapa helai rambut saja yang jatuh. Hingga kesan seksi ‘lah yang didapat saat melihatnya.

Kedua tangannya kini bergerak, menangkup wajah Hanna. Maniknya semakin menelisik dalam wajah cantik dengan kulit putih-mulus bak porselen itu.

Sementara, kehangatan Hanna rasa di kedua sisi pipinya. Tak hanya di pipi, tapi juga di seluruh tubuhnya–karena jantungnya terus memompa cepat sedari tadi. Hanna bahkan ikut larut dalam sorot tajam yang memberikannya kehangatan itu. Seolah ikut tersedot ke dalamnya–dalam pesonanya.

Bolehkah aku berharap waktu berhenti? Aku ingin menikmatinya lebih lama lagi. Hanna membatin sendu, seolah itu yang terakhir. Namun, Tuhan tak mendengarkannya–terbukti dari wajah Sehun yang semakin mendekat, dan mendekat.

Bahkan kini, Hanna kembali merasakan kehangatan lain yang diberikan oleh pria itu–kali ini, ia merasakan betapa hangatnya sapuan lembut napas Sehun di wajahnya. Aroma mint yang begitu memabukkan pun menyapa indra penciumannya, seiring dengan semakin tak terbatasnya jarak di antara mereka. Dan perlahan, Hanna menutup matanya–saat belahan bibir mereka kembali beradu.

Hangat.

Semakin hangat.

Namun, tak ada gerakan juga tak ada lumatan. Hanya itu yang mereka lakukan–ciuman tanpa ada nafsu di dalamnya. Mereka seolah sibuk menyelami perasaan masing-masing. Dengan mencari tau perasaan terdalam yang sesungguhnya mereka rasakan.

Keheningan pun terasa. Meski di luar tengah turun hujan beserta petirnya yang saling bersahutan. Ketakutan Hanna pun hilang, terganti oleh kenyamanan yang diberikan oleh pria itu.

Sehun sendiri semakin betah mempertahankan posisinya. Namun tak lama, tangannya turun–meraih pinggang ramping Hanna. Dan saat itu juga, ia melepaskan tautannya dengan memberikan sedikit lumatan diakhir ciumannya.

Hanna yang tak lagi merasakan bibir Sehun di permukaan bibirnya pun, perlahan membuka matanya. Namun, ia tak berani mendongak demi menatap manik pria itu. Tatapannya hanya lurus, tertuju pada dada bidang miliknya.

“Naiklah!” Titah Sehun lembut, dengan senyum kecilnya. Mendapati Hanna yang hanya diam membatu di tempatnya.

Hanna yang mendengarnya pun, perlahan mendorong dadanya–demi merenggangkan pelukannya. Ia lantas berbalik, dan kemudian mulai menaikki tempat tidur Sehun demi merebahkan tubuhnya di sana. Dengan posisi yang membelakangi Sehun saat itu.

Sehun sendiri ikut merebahkan tubuhnya, di samping Hanna. Menaikkan selimut hingga menutupi setengah tubuh mereka, lalu menatap punggung Hanna sesaat, sebelum akhirnya membawa gadis itu ke dalam pelukkannya. Hanna yang mendapat gerakkan tiba-tiba seperti itu pun terkejut dibuatnya.

Hembusan napas lembut bahkan sudah ia rasakan di ceruk lehernya. Rambutnya yang dicepol, membuat hidung Sehun dapat menempel dengan sempurna pada leher belakangnya–bulu kuduknya pun meremang seketika. Ia benar-benar tak bisa menolak setiap perlakuan Sehun padanya. Meski Hanna sadari, Sehun benar-benar angin-anginan akhir-akhir ini. Kadang acuh, kadang peduli, kadang kasar, kadang juga lembut. Membuat Hanna semakin heran dibuatnya.

“Sehun~” Hanna sedikit menggigit bibir bawahnya, saat hidung mancung Sehun terus menelusuri lehernya.

“Heum~” Namun, hanya gumaman yang didengarnya. Sehun tengah sibuk menjelajah.

“Hentikan~” Hanna memejamkan matanya erat, saat merasa tangan Sehun sudah berada di dalam piyamanya.

“Kalau begitu, jangan membelakangiku!” Ujar Sehun, dan langsung dituruti oleh Hanna begitu saja. Membuat Sehun tersenyum penuh kemenangan dibuatnya. Dan detik berikutnya, Sehun menenggelamkan wajah Hanna di dada bidangnya. Membuat Hanna kembali mencium betapa manly-nya aroma tubuh Sehun. Tak hanya itu, aromanya benar-benar memabukkan, membuat Hanna candu hingga tak ingin jauh darinya.

Senyum kecil pun terbentuk dari kedua sudut bibir Hanna. Saat merasa tak hanya tangan Sehun yang memberikannya kehangatan dengan mendekapnya erat. Tapi juga bibir mungilnya yang tak henti-hentinya memberikannya kecupan-kecupan lembut di puncak kepalanya. Namun tak berapa lama, senyum itu menghilang saat kembali mengingat,

Tak lama lagi, kita akan berpisah Sehun.

Mata Hanna kembali memanas. Perih yang teramat pun ia rasa. Tak hanya di mata, tapi juga di dalam hatinya. Rasa berat hati yang begitu mendalam pun begitu menyakitkannya. Seolah takut tak bisa merasakan dekapan hangatnya lagi. Dan tanpa ragu, Hanna membalas dekapan itu. Memeluknya erat, seolah takut akan kehilangan.

Terlalu lama bersama, membuat Hanna goyah. Meski usia pernikahan mereka hanya seumur biji jagung. Namun, mereka saling mengenal dan saling menyayangi lebih lama dari itu. Meski kini, semuanya telah berubah. Tapi sungguh, Hanna tak yakin bisa hidup tanpa bayangnya-karena selama ini, pria itu selalu berdiri di sampingnya–menemani harinya.

Dan kini, ia begitu takut kehilangan Sehun. Pikir dan hatinya pun kembali kalut menentukan pilihan. Disatu sisi, ia ingin bertahan dan bersamanya, namun di sisi lain, ia ingin buah cintanya tetap hidup dan terlindung dari ayahnya.

Pelukkannya pun tanpa sadar semakin erat. Hanna dilema.

“Wae?” Sehun merasakan ada yang tidak beres dengan Hanna. Ia mencoba menggapai wajah Hanna yang tengah bersembunyi. Namun, Hanna hanya menggeleng sebagai jawaban.

Sehun yang mendapat gelengan kepala pun mencoba untuk mengerti. Dan perlahan ia menutup matanya, namun tangannya terus bergerak lembut mengelus punggung Hanna–mencoba memberikannya berjuta-juta kenyamanan di setiap sentuhannya itu. Ia mengenal Hanna dengan sangat baik, dan ia tau gadis itu sedang gelisah. Hingga hanya itu yang bisa ia lakukan, karena ia tau Hanna tak akan buka mulut meski ia bertanya.

“Sehun-ah…” Hanna memanggilnya pelan.

“Heum…”

“Gomawo…”

Sehun membuka matanya perlahan, “Untuk?” tanyanya hati-hati.

“Untuk segalanya, terima kasih untuk segalanya… Segala yang telah kau berikan padaku, kasihmu, rasa pedulimu, perlindunganmu, juga cintamu. Meski aku tau, kini kau membenciku.”

Deg.

Gerakkan tangan Sehun terhenti. Tubuhnya mendadak kaku mendengar kalimat yang Hanna lontarkan, ah tidak, tapi kalimat terakhir yang Hanna lontarkan. Jantungnya kembali memompa cepat di dalam sana. Begitu bergemuruh juga berisik, Hanna bahkan bisa merasakannya. Pikirnya sendiri jauh tenggelam–menyelami hatinya yang terdalam. Dan bertanya ‘apa benar benci itu masih ada?’

“Maafkan aku karena sudah menyakitimu. Aku bodoh karena terlambat menyadarinya, bahwa aku… A-aku…” Hanna tak meneruskan ucapannya. Tiba-tiba ia terisak dalam dekapan hangat pria itu. Seolah tak kuasa lagi menahan letupan-letupan kecil yang begitu menyakitkan di dalam hatinya.

‘Mencintaimu dan aku tak bisa hidup tanpamu. Tapi, ada ‘dia’ yang kini hidup di dalam rahimku. Dan aku ingin melindunginya darimu, seperti kau melindungiku. Aku ingin ia tetap hidup bersamaku, meski nanti kita akan berpisah. Aku akan merawatnya dengan baik, dan dia akan menjadi hadiah sekaligus kenangan terindah yang kau berikan untukku. Gomawo Sehun-ah, gomawo… Aku yakin, aku akan sangat merindukanmu, merindukan saat-saat kita bersama, tertawa dan terluka, menangis dan mengerti, menghibur dan mendekap, semua yang selalu kita lakukan bersama selama ini–berbagi meski saling bersembunyi. Setidaknya aku tau, kita pernah saling mencintai–dalam diam, dalam ruang tersembunyi dari lubuk hati yang terdalam.

Aku pernah bertanya padamu, apa kau percaya dengan akhir yang bahagia? Dan kau hanya menjawab, tergantung bagaimana orang itu menyikapinya. Aku tidak mengerti dengan jawaban yang kau berikan, tapi kini, aku paham dengan apa yang kau maksud.

Kisah kita memang tidak akan berakhir bahagia, namun kita akan tetap tersenyum setiap kali mengingat ada cerita bahagia di awal kisah itu.

Ya Sehun, aku bahagia bisa mengenalmu, bersama denganmu, tertawa di sisimu dan menangis dalam dekapanmu. Meski suatu saat nanti, aku akan menangis karena kehilanganmu, jauh darimu dan merindukanmu.

Terima kasih untuk segalanya Sehun.

Aku mencintaimu dan Bayimu…’

Sehun masih terdiam–menuggu untaian kalimat yang akan Hanna lontarkan. Namun, ia hanya terisak pelan di dalam dekapannya. Membuat Sehun ikut merasakan kesedihan yang begitu mendalam dari gadis itu. Entah mengapa, hatinya ikut teriris mendengar isakan itu. Dan pada akhirnya, ia hanya mendekapnya semakin erat. Berharap bisa memberikan sedikit ketenangan untuknya, meski hal berbeda Hanna rasa. Ia justru semakin kalut dibuatnya, ia takut tak bisa melepasnya, ia takut akan kehilangannya, ia takut akan sakit saat merindukannya. Hanna takut, sangat takut, dan semakin takut…

Suara hujan dan petir pada malam itu pun–menjadi saksi bisu–betapa hancurnya perasaan Hanna saat itu.

 

regret

 

Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada headboard tempat tidurnya. Matanya menatap sayu ke arah jendela. Hujan di luar membuat tetesan air mengembun pada jendelanya.

Hatinya hancur. Dan cuaca di luar begitu mendukung suasana hatinya yang tengah kelabu. Namun, udara dingin yang berasal dari luar justru membuat dadanya semakin sesak. Retakan kecil pada jendelanya pun seolah mencerminkan kisah cintanya. Membuat Baekhyun semakin termenung dalam diam juga–tangis.

Cinta tak bisa dipaksakan. Cinta hadir karena terbiasa, meski cinta datang tanpa diminta. Baekhyun mengerti itu. Namun, saat wanitanya yang berada di posisi itu,

Hatinya hancur.

Dari dulu, inilah yang paling ia takutkan. Bahkan dulu, ia tak henti-hentinya meyakinkan dirinya, bahwa Hanna hanya mencintainya bukan Sehun. Ia pun rela melukai sahabatnya, Sehun. Dengan diam membisu, perihal perasaannya pada kekasihnya itu. Ia hanya takut, saat Hanna mengetahuinya, cintanya akan tubuh untuknya. Dan ia, akan kehilangan cintanya.

Namun kini, Baekhyun sepenuhnya sadar. Apa yang dilakukannya dimasa lalu adalah kesalahan besar. Dimana ia tau, Hanna hanya menatap ke arahnya, sementara hatinya telah terikat oleh pria itu. Hanna tak menyadarinya, karena ia terlalu bergantung pada pria itu. Hingga ia tak bisa membedakan mana cinta dan mana sayang. Dan bodohnya ia, karena tak mengatakan pada Hanna, bahwa bukan ia laki-laki yang di cintainya.

“Karena egoku, kau menderita, Hanna…” Baekhyun menundukkan kepalanya. Menangis semakin dalam. Menikmati buah penyesalan yang telah ia tanam.

“Mianhae. . .”

‘Kini, aku sadari sepenuhnya. Air mata penyesalan berasal dari sebuah senyuman. Aku bahagia saat bersamamu, namun kini aku menangis karena kehilanganmu. Bahkan saat kita saling menganggukkan kepala–mengucap janji perpisahan. Aku tidak yakin, akan mampu berjalan di jalan masing-masing seperti yang kau katakan.’

The night is especially longer tonight, this night without you. I’m regretting that I let you go. Countinuously muted and slowly forgotten. That is how you will be one day.

Even though I don’t want to bring up past stories. But I must have really liked you. Countinuously remembered and slowly yearning. As more time elapses.

The night I can’t fall asleep in so sad tonight. This night I can’t spend with you. In the midnight… Midnight… This Midnight I Can’t sleep from my thoughts of you. [BEAST–Midnight]

Baekhyun terbangun dari tidur singkatnya. Rintik hujan kini sudah reda. Namun, hawa dinginnya masih terasa. Ia bangkit perlahan dari tidurnya, dan seketika hantaman yang begitu keras ia rasa pada kepalanya.

“Akh…” Baekhyun meringis, saat merasakan rasa sakit yang teramat di kepalanya itu. Namun, ia tetap beranjak menuju kamar mandi. Kantung hitam dan bengkak di mata pun dilihatnya saat bercemin. Membuat wajah tampannya terlihat mengerikan saat itu. Namun, Baekhyun tak peduli. Ia tengah patah hati, hingga penampilan pun tak lagi dinomor satukannya. Terlebih, ia punya janji dengan seseorang. Janji yang membuatnya rela bolos kerja untuk hari ini.

Kini, Baekhyun kembali termenung, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan setelah jas formal berwarna abu-abu dengan dalaman T-shirt berwarna senada.

Namun, ia masih terlihat kacau dengan wajah muramnya. Pikirnya masih saja berkecamuk. Tak hanya nasib hubungannya dan Hanna yang telah kandas, tapi juga rencana memalsukan kematian Tuan Jo ikut berlalu lalang di benaknya. Ia masih amat ragu karena ia tau, Black ID tidak mudah untuk dikelabui. Dan Hanna, Baekhyun tidak yakin Sehun akan melepaskannya begitu saja, jika tidak melihat mayatnya secara langsung.

“Hah~” Baekhyun menghela napasnya berat. Sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidurnya. Namun sebelum itu, ia mengambil sebuah bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto dirinya dan Hanna saat masih bersama. Kemudian, menarik sebuah laci nakas–berniat memasukkan bingkai itu ke dalamnya. Seolah enggan menikmati rasa sakit dari kenangan di balik foto itu lebih lama lagi. Namun, gerakannya terhenti saat mendapati sebuah ‘digital voice recorder pen’ di dalam lacinya. Mata kecilnya lantas memincing tajam, memperhatikan benda kecil berbentuk seperti pena itu. Benda yang selalu ia gunakan saat menjalankan tugasnya, untuk merekam keterangan dari saksi, korban ataupun tersangka yang sedang ia selidiki.

pen

Baekhyun mengambil benda itu dari tempatnya. Menimang-nimangnya sesaat, sampai sebuah smirk tercetak di wajah tampannya.

 


regret

 

Myungsoo menempelkan dahinya pada stir mobilnya. Ia terlihat begitu frustasi, padahal ia hanya tengah menunggu seseorang. Bibirnya pun terkatup rapat–menahan amarah. Ia hanya benci menunggu, namun ia selalu berakhir dengan menunggu. Hatinya terus menggeram kesal, pikirnya sudah menyusun rentetan kalimat cacian untuk orang yang sudah membuatnya kesal itu.

Sesekali, ia menjeduk-jedukkan kepalanya pada stir mobilnya itu. Helaan napas kasar pun terus terhembus dari kedua lubang hidungnya. Hingga pada akhirnya, ia mengangkat kepalanya hendak beranjak turun dari dalam mobilnya. Namun sebelum ia melakukannya, pintu mobil di sampingnya terbuka. Membuatnya kembali menutup pintu mobilnya yang sempat ia buka itu.

“Ya! Kenapa kau–”

“Maaf membuatmu menunggu…” Sela Baekhyun cepat, dengan wajah khas patah hatinya. Membuat Myungsoo meringis ngeri–melihat wajah menyedihkan itu. Dan pada akhirnya, ia harus rela membuang jauh rentetan kalimat protes yang sudah ia persiapkan untuknya.

“Kau baik-baik saja, ‘kan?” Tanya Myungsoo hati-hati. Ia tau betul, pria itu sedang patah hati.

“Kau bisa melihat jawabannya..” Jawab Baekhyun apa adanya. Myungsoo yang mendengarnya pun, hanya bisa menelan ludah.

“Di mana alamatnya?” Pada akhirnya, Myungsoo putuskan untuk mengalihkan pembicaraan.

“Wooridul Spine Hospital…”

“Mwo?” Myungsoo mengerjap tak percaya. Ia tak menyangka, ternyata buronan yang dicari Black ID selama ini masih berada di Seoul. Selama ini mereka pikir, Jo Khaza dirawat di rumah sakit yang berada di Pohang, Gyeongsang Utara–Korea selatan. Dengan lokasi rumah sakit yang dekat dengan penjara di sana.

“Tuan Jo mengalami pergeseran tulang belakang dan cedera di kepala. Tim medis pun menduga ia jatuh dari ketinggian 9 meter setelah perutnya tertembak. Dan Wooridul Spine Hospital dikenal sebagai rumah sakit pengobatan tulang belakang terkemuka di dunia.” Baekhyun menatap ekspresi Myungsoo, “Pikiran kalian sempit, jika kalian hanya menduga Tuan Jo di rawat di Pohang–hanya karena Pohang memiliki penjara terbaik di Korea Selatan dengan robot sebagai penjaganya…” Baekhyun tersenyum miring setelah mengatakan itu. Seolah dapat membaca apa yang Myungsoo pikirkan.

“Bersembunyi itu tidak harus jauh dan dalam. Dekat asal terlindungi pun tak akan ditemukan dan tak akan menjadi masalah. Seharusnya kalian berkaca diri untuk itu, karena kalian merupakan musuh negara tapi kalian menempel dan berlindung pada negara. Karena kalian tau, tempat persembunyian yang paling aman adalah dengan menempel pada musuhmu…” Baekhyun kembali menatap lurus ke depan. Sementara Myungsoo, tersenyum miris mendengarnya. Teringat akan pekerjaan haramnya di balik pekerjaan mulianya sebagai aparat negara dan seorang pelindung publik. Tak lama, ia putuskan untuk segera melajukan mobilnya. Menuju sebuah rumah sakit yang dikatakan Baekhyun.

 

Hening.

Beberapa saat keheningan terjadi di antara mereka. Sebelum akhirnya,

“Kamar Tuan Jo dijaga ketat oleh 10 orang opsir polisi. Dan di dalam kamarnya dilengkapi oleh 20 kamera CCTV. Dan 11 di antaranya diletakkan secara tersembunyi. Negara tidak sepenuhnya bodoh untuk menyalahkannya, meski bukti-bukti amat sangat memberatkannya. Hingga perlindungan terhadap nyawanya masih diperhitungkan.” Baekhyun kembali membuka pembicaraan di antara keduanya. Myungsoo pun diam mendengarkan tanpa mengurangi fokusnya dari jalanan di depannya. “Sementara Hanna, yang menjadi korban penculikan saat itu tak bisa memberikan kesaksian atas apa yang dilihatnya–karena trauma yang dialaminya. Setiap kali membahas soal itu, ia akan berteriak histeris dan ketakutan. Namun psikiater mengatakan, Hanna bisa sembuh dengan segera dan dengan begitu Hanna bisa menjadi saksi atas apa yang terjadi. Tapi, pemimpin kalian begitu licik. Ia memanfaatkan Sehun yang saat itu di curigai untuk menikahi Hanna, hingga Hanna berada di dalam kendali kalian dan pada akhirnya, ia tak bisa membela Appa-nya sendiri di dalam persidangan.” Lanjut Baekhyun. Myungsoo pun membenarkan. Namun, ia merasa ada maksud tertentu di balik informasi yang Baekhyun berikan.

“Dan. . . Aku sangat ingin tau, apa yang Hanna lihat saat itu darimu, Myungsoo-ssi…”

Myungsoo tersenyum miring mendengarnya. Ia sudah menduga, Baekhyun mengatakan semua itu bukan semata-mata karena ia ingin mengatakannya. Namun, karena ia ingin mendapatkan timbal-balik.

“Kau ingin aku memulainya darimana, heum?”

“Dari awal — sampai akhir… Aku ingin mendengar semuanya secara lengkap…!!!”

Myungsoo mengangguk-ngangguk mengerti–terlihat lucu untuk orang sepertinya. Ingatannya pun memutar kilas balik atas semua kejadian yang terjadi 19 bulan yang lalu itu.

“Geurae, saat pembunuh Park Jung Soo ditemukan. Aku masih menjadi seorang’ opsir biasa’, dan aku terlibat dalam team khusu itu, karena pada saat itu, aku berada dalam kepemimpinan Kolonel Zhang. Namun, pada saat penyergapan terjadi–aku tidak ikut serta di dalamannya, dengan alasan pengalihan tugas. Padahal sebenarnya, aku kembali ke markas saat itu, untuk ikut membantu menghabisi rekan-rekanku sesama anggota kepolisian…”

FlashBack On

Sepandai-pandainya kau menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Itu adalah ungkapan yang tepat untuk mereka (Black ID), dimana seorang buronan yang begitu dicari selama ini kembali melakukan hal yang sama. Kali ini, pada seorang CEO firma jasa perbankan terbesar di Korea Selatan, Shinhan Financial Group. Beliau ditemukan tewas di ruang kerjanya dengan keadaan yang amat-sangat persis dengan kasus yang menimpa Menteri Perdagangan Park Jung Soo. Dan beberapa Minggu sebelum kasus yang menimpanya, otoritas daerah sempat melakukan penyelidikan mengenai suku bunga utama yang diterapkan oleh salah satu dari 4 bank terbesar di Korea Selatan itu. Dan saat di temukan kecurigaan-kecurigaan mengenai keterlibatannya sebagai Front Organization dari sebuah Patron–nyawanya pun menghilang.

Seperti sebelumnya, pembunuhnya sama sekali tidak meninggalkan jejak. Namun kali ini, ia meninggalkan seorang saksi mata. Dimana sekertaris Beliau ada di tempat kejadian saat itu–saat Beliau dibantai tanpa hati. Ia melihat semuanya dari toilet kecil yang berada di ruang kerjanya. Saat melihat itu, ia hanya bisa menangis seraya membungkam mulutnya. Sebelum akhirnya, memilih bersembunyi di belakang pintu–sampai teriak kesakitan CEO-nya tak lagi terdengar.

Kim Rae Ah, sekertaris Shin Jikwan. Memaparkan semua yang dilihatnya termasuk ciri-ciri sang pelaku saat itu—setelah membaik pasca trauma tentunya. Dan saat itulah, polisi bisa menemukan orang yang dimaksud. Lalu membiarkan NIS memata-matainya untuk sesaat. Barulah mereka menyusun rencana untuk melakukan penyergapan pada sebuah tempat yang dicurigai sebagai markas besar Black ID.

Dan saat itu, pasukan di bawah pimpinan Kolonel Zhang Yi Xing dikerahkan, karena Beliau merupakan salah satu anggota team khusus yang dipimpin langsung oleh Direktur NIS, Jo Khaza. Beberapa orang detektif dari NIS dan FBI yang memiliki kemapuan beladiri pun ikut bergabung di dalamnya.

Saat itu, pemerintah sama sekali tidak mengikut sertakan SWAT. Karena mereka menganggap Kepolisian Seoul mampu untuk meringkus para tersangka yang terlibat dalam kasus ini, meski kejahatan Black ID sendiri tergolong kejahatan tingkat Internasional.

pembangunan-gedung

Sebuah gedung tua yang lapuk termakan usia pun dalam pengintaian. Semua anggota siap pada posisinya, menyiapkan telinga serta fokus terhadap aba-aba dari sang pemimpin. Mereka pun yakin, posisi mereka saat ini sudah diketahui oleh orang-orang dalam. Karena biar bagaimanapun, mereka tengah berada di daerah musuh yang paling diperhitungkan di dunia.

15 orang mulai bergerak perlahan, termasuk kolonel dan Direktur NIS. 20 orang sisanya menunggu di luar–menunggu aba-aba selanjutnya. Padahal sebelumnya, Jo Khaza dilarang untuk memasuki gedung itu sebelum semuanya dapat dipastikan dengan aman. Namun, ia bersikeras untuk ikut masuk ke dalamnya. Entah mengapa, ia hanya merasa ada dorangan batin yang memanggilnya untuk ikut masuk dengan segera.

Mereka memasuki gedung itu dengan amat hati-hati dan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Semakin dalam mereka masuk, semakin gelap pula ruangan yang mereka capai. Senjata mereka pun terus terangkat–waspada. Mata jeli mereka memperhatikan setiap sudut gelap tanpa pencahayaan itu. Namun, cukup jelas untuk terlihat karena bangunan itu tak sepenuhnya tertutup. Proses pengerjaan yang terlihat belum sepenuhnya selesai, membuat cahaya bulan dapat menerobos masuk ke dalamnya. Hingga mereka tak perlu menggunakan senter untuk menarik perhatian musuh.

Trak.

Terang. Seluruh opsir mengambil ancang-ancang, saat seluruh lampu di lantai paling bawah itu menyala. Tubuh mereka berlindung di balik tihang, ada juga yang hanya berlindung di balik box kayu. Mereka kembali mengamati setiap sudut ruangan itu dengan waspada. Mencari keberadaan musuh dengan jeli. Namun nihil, tak ada seorang pun di sana, selain mereka tentunya.

Merasa kondisi aman, satu per satu dari mereka kembali bergerak. Mencoba menggapai ruang lain, kali ini, dengan berpencar. Ada yang memasuki lift yang berada di ujung ruangan, ada pula yang turun ke ruang bawah tanah.

“Kau lihat itu siapa?” Seorang pria menunjuk sebuah monitor besar yang menampilkan pergerakan para opsir. Sementara seorang gadis yang duduk terikat di sampingnya, hanya bisa menggelengkan kepala–dengan air mata yang sudah membasahi kain penutup mulutnya.

“Eumph…” Teriak tertahannya terdengar begitu pilu. Saat melihat sang Appa di dalam layar yang ada di hadapannya itu. Ia berusaha membuka suara, namun kain yang menutupi mulutnya membuatnya tak bisa melakukan itu.

“Itu Ayahmu,” ujarnya. Menunjuk seseorang dari lima orang yang berada di dalam sebuah lift. “dan kau, akan melihat bagaimana Ayahmu hancur hari ini…” Lanjutnya. Membuat gadis itu kembali menggeleng kuat.

“Lihatlah…!!” Titahnya, seraya menunjukkan gambaran lain gedung itu. “Teman-temanku sudah berada di posisi…”

Hanna membelalakkan matanya, saat melihat lima orang opsir yang memasuki ruang bawah tanah tengah di awasi oleh seorang sniper dari tempat yang jauh lebih tinggi. Berikutnya, Hanna melihat lima orang opsir lain yang memasuki sebuah lorong, dimana di setiap sisinya terdapat sebuah pintu kayu. Dan di salah satu pintu itu terdapat seorang yang sudah siap membantai mereka dengan sebuah senapan laras panjang. Dan terakhir, ia kembali melihat rombongan ayahnya yang kini sudah berada di sebuah ruang terbuka. Bisa ia lihat, ayahnya mulai berpisah dari rombongannya. Tidak, tidak hanya ayahnya, mereka semua memang berpencar. Memasuki setiap ruangan yang berbeda. Dimana masing-masing dari ruangan itu terdapat sebuah labirin cermin.

“Kau tadi sempat menyangkal bahwa temanmu bukan salah satu dari kami, benar? Kau tidak lupakan?” Pria itu, Eiji. Ia mencengkram rahang Hanna kuat. Membuat manik Hanna bertemu tatap dengannya. Sementara teman-temannya yang lain, hanya tersenyum kecil melihat Hanna tersiksa.

“Sekarang lihat dan kenali baik-baik..!!!” Eiji menuntun rahang Hanna–kembali menghadap monitor di depannya. Dan saat itu juga–matanya kembali membelalak tak percaya. Perih yang teramat pun semakin ia rasa di hati juga bola matanya. Sampai pada akhirnya, liquid itu kembali jatuh menuruni lekuk pipinya–saat mendapati seseorang yang amat dikenalnya, tengah bediri seraya bersandar pada sebuah cermin. Menunggu mangsanya datang.

sehun1

“Sehun. . . Aniya,” Penutup mulut Hanna dibuka. Membuatnya bisa begumam saat mendapati sahabatnya itu. Sungguh, Hanna masih tak percaya sahabatnya itu ternyata benar salah satu diantara mereka. Tangis dan isak tangisnya pun kembali pecah.

“Tidak ada hal yang lebih menyakitkan selain melihat orang yang amat kau percayai mengkhianatimu, benar?” Eiji tertawa setelah menanyakan kalimat itu. Tak hanya ia, namun juga beberapa temannya yang juga berada di sana.

Kejam.

Hanna pun semakin pilu mendengarnya. Tawa yang bagi mereka menyenangkan–terasa begitu menyakitkan di telinga Hanna. Ia tak menyangka, mereka semua menjebak ayahnya beserta team-nya ke tempat ini. Bahkan Sehun sahabatnya, merupakan salah satu dari mereka.

Sementara, ketegangan terjadi di antara para opsir itu. Mereka mulai bergerak perorangan, mencai tau dimana lokasi musuh. Namun sayangnya, mereka (Black ID) mulai melancarkan aksi mereka. Diawali dengan kembali padamnya seluruh lampu di sebuah ruang bawah tanah. Dimana lima orang opsir tengah berada di sana.

“Tetap pada posisi, amati sekeliling dengan seksama. Musuh pasti tengah mengintai…” Titah Letnan Kim Jongin kepada seluruh anak buahnya. Ketegangan pun terjadi di antara mereka. Dan tanpa diduga, juga tanpa dilihatnya. Dua orang anggotanya telah menghilang ditelan kegelapan. Dan saat lampu kembali menyala, barulah ia meyadarinya.

“Dimana Ilhoon dan Jin?” Tanyanya sedikit panik, saat tak mendapati dua orang bawahannya. Opsir Kang Jiwon dan Kim Jongdae yang ditanya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Dan tak lama setelah itu,

Bruk.

“Akh…” Teriak Jiwon saat ada sebuah tali yang mengikat sebelah kakinya, dan kemudian menyeret tubuhnya ke dalam sebuah ruang gelap. Senjatanya pun terus ia arahkan dan tembakkan pada ruang gelap itu.

Dor! Dor! Dor!

“Talinya..” Sementara Letnan Kim berusaha menembak tali yang terus menyeretnya, dan Opsir Jongdae ikut menembak ke arah ruang gelap itu. Namun sayangnya–mereka kalah cepat. Jiwon ikut menghilang ditelan kegelapan.

Opsir Jongdae melangkah mendekat ke arah ruang itu dengan hati-hati. Sementara Letnan Kim, mengamati sekelilingnya dengan waspada. Ruangan yang hanya dipenuhi papan kayu berdebu itu pun terasa semakin mencekam. Dan sayangnya, Jongdae tak menemukan apa pun selain tumpukan kayu dan besi seperti di ruang sebelumnya. Namun, saat ia hendak berbalik–saat itu juga ia jatuh pingsan. Meninggalkan Letnan Kim sendirian.

Tubuhnya pun diseret, senjatanya diambil alih oleh seseorang. Lantas orang itu keluar menampakkan dirinya, membuat Letnan Kim yang melihatnya refleks mengarahkan senjata ke arahnya.

“Siapa kau?” Tanya Letnan Kim berani. Namun, tak ada jawaban darinya. Ia hanya tersenyum miring seraya menatap ke arahnya.

Shut.

“Akh…”

Bruk.

“Jangan hanya mewaspadai apa yang kau lihat, Letnan. Karena kadang yang tak kau lihat itu justru mengintaimu…” ujar seseorang di belakangnya, setelah berhasil menembak bahu kanan serta kaki kirinya. Letnan Kim yang belum kehilangan kesadarannya itu pun, hanya bisa menatap sayu seseorang di belakangnya. Sementara seorang pria yang berada di depannya datang menghampiri–lantas menyeret tubuhnya ke dalam ruangan gelap itu.

Sementara lima orang lainnya yang berada di dalam sebuah lorong, masih setia meningkatkan kewaspadaan mereka. Satu per satu mereka buka pintu yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh mereka. Hanna yang melihat semua gerak-gerik mereka di dalam sebuah monitor pun tak henti-hentinya menggelengkan kepala. Seolah mengisyaratkan untuk tidak melakukan itu. Namun sayangnya, itu tak berarti. Salah satu di antara opsir itu tetap membuka pintu yang terdapat musuh di dalamnya.

Ceklek.

Opsir Jung Won, mengarahkan senjatanya ke dalam setiap sudut ruangan itu. Namun, keadaan yang sama ia jumpai di sana–kosong. Sama seperti pintu-pintu sebelumnya yang ia buka. Tak ada apa pun di sana. Namun, saat ia mundur perlahan–sebuah tali telah menyambut lehernya. Senjatanya jatuh, dan tubuhnya terangkat dari ambang pintu. Teman-temannya yang melihat itu pun refleks mengarahkan senjata ke arah ruangan itu. Dan salah satu di antaranya ikut masuk untuk melihat keadaan di atas. Namun sayangnya nihil, temannya telah menghilang. Dan tanpa ia duga, lantai yang dipijaknya tiba-tiba saja jatuh terhempas ke bawah. Membuatnya ikut jatuh karena kehilangan kewaspadaan. Dua orang lain yang menyaksikan itu pun, refleks mengarahkan senjata ke arah lubang persegi itu. Sementara seorang lagi, berjaga di luar dengan waspada. Namun tanpa ia sadarai, pintu di belakangnya terbuka. Dan saat itu pula mulutnya dibekap, lantas di tarik masuk ke dalamnya. Dua orang temannya yang menyadari itu pun lantas beralih dari lubang, demi mendobrak pintu yang berada di hadapan mereka. Dan hal yang sama mereka dapat.

Temannya kembali menghilang.

Jantung mereka ikut bergerilya di dalam sana. Letnan Kyungsoo yang berada di sana pun terlihat kebingungan. Dan pada akhirnya, hanya bisa mengarahkan seorang bawahannya yang tersisa untuk mengikutinya menjauhi tempat itu.

 

Bruk.

Belum jauh mereka melangkah. Sebuah pintu yang berada di belakang mereka tiba-tiba saja jatuh. Tidak hanya satu, dua, tiga, tapi semua pintu yang berada di sisi kiri dan kanan mereka tiba-tiba saja terjatuh seperti ada yang mendobraknya dari dalam. Namun sayangnya, tak ada satu orang pun di sana selain mereka. Kewaspadaan mereka pun terus terfokus pada pintu-pintu yang dibuka secara paksa itu. Sampai pada akhirnya, mereka lengah dan kehilangan kewaspadaan pada titik buta tubuh mereka.

Dor! Dor! Dor!

Tiga buah tembakan kembali terdengar. Hanna yang menyaksikan itu pun berteriak histeris. Saat melihat dua orang yang tersisa itu kini tak lagi sadarkan diri. Darah bahkan sudah merembes keluar dari tubuh mereka. Selanjutnya, dua tubuh yang tergeletak lemas itu ditarik ke suatu tempat untuk di kumpulkan. Meninggalkan bekas darah di sepajang jalan.

Tubuh Hanna terus menggigil hebat melihatnya. Namun, monitor di depannya kembali menampilkan kelompok lain–kali ini, kelompok dimana ayahnya ikut serta di dalamnya.

“Hentikan, aku mohon hentikan…” Pintanya memohon. Air mata bahkan tak henti-hentinya mengalir dari kedua sudut matanya. Namun, enam orang pria dan satu orang wanita yang melihatnya justru tersenyum senang, tanpa ada rasa iba sedikit pun padanya.

Kolonel Zhang sempat terkejut melihat bayangannya sendiri di dalam sebuah cermin. Dan saat itu juga, ia menyadari ruangan yang didatanginya penuh dengan cermin. Merasa ada yang tak beres–membuatnya ragu untuk masuk lebih dalam lagi. Namun, demi memastikan keadaan ia tetap masuk ke dalamnya. Ia pun sempat bingung hendak memilih jalan yang mana, karena memang semuanya terlihat membingungkan. Jika labirin-nya bukan terbuat dari cermin, mungkin akan lebih memudahkannya untuk lebih jeli mengamati sekitar. Namun sayangnya, musuhnya begitu pintar mengelabui lawan. Hingga setiap kali ia mengarahkan senjatanya, saat itu juga ia mendapati wajahnya. Ini konyol. Batinnya mulai muak.

Namun, ia tetap meneruskan langkahnya. Dengan tidak mengurangi sedikit pun tingkat kewaspadaannya. Dan tanpa di duganya, seseorang telah menantinya di balik sebuah cemin.

“Sehun andwae…” Cegah Hanna, saat mendapati sahabatnya itu tengah berjalan dengan santainya menghampiri Kolonel Zhang. Kolonel Zhang yang menyadari kehadiran seseorang dari arah belakangnya pun lantas berbalik dengan mengarahkan senjatanya waspada. Namun,

Kosong!

Tak ada seorang pun di sana.

Dan tanpa diduganya–musuhnya itu sudah berada tepat di belakangnya. Dan saat ia kembali berbalik, saat itu juga Sehun langsung mengunci pergerakkannya. Membuat pistol di tangannya itu terjatuh begitu saja. Tangannya yang bebas sigap melakukan perlawanan, namun pergerakannya kalah cepat. Sehun memutar tubuh Kolonel Zhang, lantas menekan urat syaraf yang berada di bawah rahangnya–hingga ia tak lagi sadarkan diri. Detik berikutnya, ia menyeret tubuh lunglai pria itu keluar dari dalam labirin.

Hal yang sama terjadi pada tiga orang lainnya yang juga memasuki labirin itu. Hanna yang melihat semua kejadian itu pun semakin histeris dalam ikatannya. Terlebih, saat ia menyadari hanya appa-nya yang tersisa di tempat itu. Rasa takut akan terjadi sesuatu yang buruk pun ia rasa. Tubuhnya gemetar, tangisnya semakin menjadi. Ia mencoba meronta, namun hasilnya nihil. Ikatan itu terlalu kuat di tubuhnya.

“Jangan sakiti Appa-ku, aku mohon… Jangan sakiti Appa,” Mohonnya lagi, namun permohonannya itu hanya mendapat senyum miring dari orang-orang yang melihatnya. Namun tak lama, ikatannya dilepas. Hanna yang menyadari itu pun merasa heran, rasa takutnya semakin menjadi. Pikirnya kalut, mengira-ngira apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

Benar saja. Ikatan Hanna dilepas bukan untuk dibebaskan, namun ia ditarik paksa, hendak dibawa entah ke mana. Membuatnya semakin kalut juga takut.

“Lepaskan aku… Kalian mau membawaku ke mana?” Hanna berontak, namun perlakuan kasar di dapatannya. Ia terus dipaksa mengikuti mereka, cengkraman kuat yang amat menyakitkan pun ia rasa di pergelangan tangannya. Sementara, seorang wanita yang berjalan di belakangnya terus mendorong tubuhnya agar berjalan lebih cepat. Nasib ayahnya pun terus mengganggu pikirnya, ia takut ayahnya akan berakhir sama dengan rekan-rekannya.

Sementara Tuan Jo tengah kebingungan–mencari jalan keluar dari labirin yang ia masuki. Namun tak lama, ia menemukan sebuah pintu kayu yang tak jauh dari posisinya. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu itu lantas masuk ke dalamnya dengan tingkat kewaspadaan yang tak berkurang.

Pintu itu sendiri bukan mengarah pada sebuah ruangan, namun lorong panjang dengan pencahayaan yang minim. Ia mencoba menghubungi anggota yang lain lewat walkie talkie-nya, namun tak ada jawaban dari mereka. Membuatnya mau tidak mau, harus tetap melanjutkan langkah kakinya seorang diri–menelusuri lorong itu.

Perasaan tak nyaman pun terus ia rasakan. Terlebih, nasib para anggotanya yang lain tidak ia ketahui. Ingin rasanya ia berbalik dan pergi, namun sayangnya, dorongan batinnya untuk terus lanjut lebih kuat daripada rasa tak nyamannya itu. Hingga ia terus melangkah–mengikuti ke mana arah lorong itu membawanya.

Sementara, anggota lain yang tengah menunggu di luar ikut terlihat tegang dibuatnya. Sedari tadi mereka kehilangan kontak dan tak dapat menghubungi mereka yang berada di dalam. Beberapa dari mereka siap menyusul, namun Kolonel Lee menahannya. Sebelum keadaan di dalam dapat dipastikan dengan baik, ia hanya tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Dan ia yakinkan, mereka yang berada di dalam pasti baik-baik saja–meski hatinya amat ragu.

Jo tiba di depan sebuah pintu besi yang terlihat begitu kokoh. Pikir dan hatinya semakin berkecamuk. Dimana firasatnya mengatakan bahwa di balik pintu itulah terdapat orang-orang yang mereka cari. Walkie talkie-nya pun kembali digunakannya, mencari keberadaan anggotanya dan mengatakan lokasinya sekarang. Namun sayangnya, ia kembali tak mendapat jawaban. Menghubungi orang-orang yang berada di luar pun tak bisa–aneh. Bahkan ia sempat menimang untuk masuk atau tidak, karena akan sangat berbahaya jika ia hanya seorang diri. Dan kini, Jo terlihat kebingungan. Jantungnya bahkan terus berdetak tak normal.

Krek…

Jo mundur teratur, dengan senapan yang ia arahkan ke arah pintu di depannya–saat pintu itu tiba-tiba saja terbuka. Namun,

Deg.

Tubuhnya tiba-tiba saja menegang. Matanya membelalak tak percaya. Jantungnya pun memopa dua kali lebih cepat dari sebelumnya–saat melihat apa yang ada di balik pintu itu.

“Appa…”

Suara parau memanggilnya, membuat napasnya tecekat dan tubuhnya lemas seketika. Senjatanya pun turun perlahan, saat menyadari ujung senapannya–mengarah tepat ke arah kepala putrinya.

Bagaimana bisa?

“Hanna…” Panggilnya dengan suara yang naik dua oktaf. Ia panik saat mendapati putrinya itu tengah terikat di tepi bangunan tanpa ada pagar pembatas di sisinya. Pertanyaan dalam benaknya pun ia hiraukan, saat melihat keadaan putrinya yang siap jatuh kapan pun. Kakinya bahkan refleks berlari demi menggapainya, namun ia sadari posisinya dan Hanna terpisah jauh. Putrinya itu berada di sebrang, dan mereka terpisah oleh lubang besar dengan kedalaman yang cukup membuat Jo berpikir dua kali. Jo hendak berputar, namun tak ada jalan baginya. Bangunan yang belum sepenuhnya selesai itu membuat beberapa bagian cacat. Dan seharusnya ia bisa memutar menggapai putrinya, karena arsitektur gedung itu memang demikian–seperti sebuah mall. Namun sialnya, jalannya terputus.

“Tuan…”

Panggil suara yang berbeda. Membuat tubuhnya kembali menegang, kepalanya pun refleks mencari darimana sumber suara itu berasal. Dan saat ia mendongakkan kepalanya, saat itu juga ia mendapati 14 orang rekannya tengah tergantung.

Deg.

Bulu romanya meremang. Tubuhnya pun semakin membeku, bahkan ia bisa merasakan betapa dinginnya telapak tangannya kini. Pikirnya pun buntu, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih, melihat keadaan sebagian dari mereka yang penuh dengan bekas darah. Keringat dingin sebesar biji jagung pun turun dari pelipisnya. Fokusnya perlahan kembali ke arah putrinya–yang terlihat amat ketakutan. Lidahnya pun kelu, tak mampu berucap–bahkan untuk sekedar bertanya.

“Pergilah Tuan…” Titah Kolonel Zhang di tengah-tengah kesadarannya.

“Ne, Appa… Pergilah!” Hanna kembali bersuara, dengan suara gemetarnya. Tangisnya bahkan semakin menjadi, membuat batin Jo teriris melihatnya.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya tak sabaran. Ia terlihat seperti orang bodoh karena kesulitan mengendalikan kepanikannya juga memahami situasi.

“Semua yang terjadi seperti halnya yang kau lihat, Jo…” ujar suara yang berbeda (lagi). Membuat Jo kembali mencari darimana asal suara itu, yang ternyata berasal dari arah belakang putrinya.

“Jae…” Panggilnya tak percaya, saat melihat sahabatnya itu.

“Jangan sakiti Appa, Paman…” Mohon Hanna. Meski ia tau, pria itu tak akan mendengarkannya.

“Tidak. Paman tidak akan menyakiti Appa-mu,” Jaesuk mengelus surai Hanna lembut, “jika ia tidak banyak tau tentang kami…” Lanjutnya. Membuat tubuh Hanna menegang.

“Paman…” ujar Hanna parau.

“Apa yang kau lakukan di sana, Jae? Aku sudah memberikanmu kesempatan, mengapa kau melakukan ini?” Jo mencoba untuk menenangkan dirinya. Seraya mempelajari situasinya kini.

“Itu sudah sangat jelas, Jo. Aku tidak suka keberadaanku diketahui…” Seorang yang berbeda kembali muncul dari arah belakang tubuh putrinya.

“Dan kau sudah terlalu banyak tau tentang kami,” lanjutnya. Dengan tubuh yang sudah terlihat sepenuhnya.

“O-Osamu…” Jo bergumam tak percaya menyebut nama itu. Ia tak menyangka, seorang dermawan asal Jepang yang menanamkan sahamnya di berbagai macam perusahaan di Korea Selatan merupakan salah satu dari mereka, ah tidak, tapi ia dalangnya. Dan ia tak menyangka, ternyata kecurigaannya benar adanya.

“Ya Jo, dan Beliau adalah pemimpin kami… Oh ya, terima kasih karena kau sudah bersuka rela melenyapkan barang bukti mengenai keterlibatanku…” Timpal Jaesuk, dengan senyum khasnya.

“Tuan…” Kolonel Zhang bergumam tak percaya, “Anda menyembunyikannya dari kami?” tanyanya kecewa.

” . . . ” Jo pun terdiam. Ia terlalu shock, hingga kehabisan kata-kata.

“Kau terlalu naif, Jo… Kau boleh menaruh kepercayaan kepada seseorang tapi tidak untuk sepenuhnya. Seperti yang kau tau, seseorang bisa berubah seiring dengan waktu yang terus berjalan. Dan baik – buruknya perubahan itu, tidak akan kau ketahui jika kau tak bisa membaca isi hatinya. Karena pada dasarnya, perbuatan baik ataupun buruk berawal dari niatan dalam hati.” Jaesuk berucap tanpa menatap lawan bicaranya. Ia justru menatap Hanna, seraya mengelus surai coklatnya. “Kau dan Ayahmu amat mirip, Hanna… Tidak hanya fisik tapi juga watak.”

“Jangan sakiti putriku…” Teriak Jo, saat melihat tangan Jaesuk yang terus bermain di anak rambut putrinya.

“Aku tidak akan tega menyakitinya, Jo. Jika pun ia harus terluka, bukan aku yang akan melukainya…” Jawabnya enteng.

“Paman…” Hanna kembali menangis. Ia tak menyangka, seseorang yang dulu pernah membuatkannya sebuah ayunan di taman–ternyata begitu jahat dan picik. Hatinya pun sakit menyadari itu. Ucapannya bahkan begitu menohok hatinya, dimana Sehun–sahabatnya pun demikian.

Ia dan Appa-nya benar-benar berada di posisi yang sama.

“Sebenarnya apa yang kalian inginkan, hah?” Emosi Jo mulai terpancing.

“Tentu saja melenyapkan semua barang bukti yang tersisa…”

Jo membelalak. Ia mengerti betul maksud dari ucapan pria berdarah Jepang itu. Dan tak lama, beberapa orang lain kembali muncul dari arah belakang mereka. Dan saat itu juga–tubuh Jo semakin menegang. Dimana pengelihatannya menangkap beberapa orang yang juga tak asing baginya. Beberapa orang yang merupakan pemimpin perusahaan terkenal di negaranya. Dan juga seseorang yang amat dikenal baik olehnya, Lee Sung Bin–sekertarisnya di NIS.

“Sung Bin?” Tanyanya tak percaya.

“Ya Tuan?” Jawabnya–ramah. “Aku senang Anda datang kemari, karena itu berarti–kepemimpinan Anda tidak akan lama lagi. Dan aku, akan segera naik jabatan…” Lanjutnya dengan wajah sumringah.

Jo kembali membatu.

“Kalian semua pengkhianat negara–picik.” Kolonel Zhang memaki. Sementara, beberapa orang bawahannya yang juga dalam kondisi setengah sadar sepertinya–hanya bisa menatap sayu pada kumpulan orang-orang berjas rapi itu. Mereka terlalu lemah untuk sekedar meluapkan emosi, terlebih bagi mereka yang mendapat luka tembak. Letnan Kyungsoo dan satu orang bawahannya bahkan sudah tak sadarkan diri. Tubuhnya hanya tergelantung lemas pada sebuah tali tambang yang mengikatnya.

“Lebih baik kau tutup mulutmu, jika kau tak ingin berakhir dengan meregang nyawa…” Ancam salah satu dari orang-orang berjas hitam itu.

“Aku lebih baik mati daripada menuruti perintahmu, Keparat..” Geram Kolonel Zhang, lantas disambut dengan cengiran khas lawan bicaranya.

“Hey, Kau–” Pria itu menunjuk seseorang yang sedang bersandar pada sebuah tihang pembatas. Pria yang di panggilnya itu pun menoleh. “Kau tidak mendengar dengan apa yang dikatakan kolonel sombong itu? Dia ingin mati…” Tegasnya–memberitahu. Sang sniper pun mengerti, lantas mengarahkan senapan laras panjangnya ke arah Kolonel Zhang.

“Ada kata-kata terakhir?” Tanyanya memberi jeda, sebelum menarik pelatuk senapan-nya.

“Andwae…” Beberapa orang bawahan Kolonel Zhang pun panik melihat arah senapan itu. Tubuh mereka bergoyang, memberi isyarat seraya memohon untuk tidak menembaknya.

“Jangan lakukan itu…!!” Jo ikut berteriak, mencoba mencegah aksi dari pria yang umurnya jauh lebih muda darinya itu. Namun,

“Tuan, saya kecewa pada Anda. Tidak seharusnya Anda menyembunyikan salah satu di antara mereka dari kami. Tidak seharusnya Anda melindungi orang yang salah, hanya karena rasa kasih Anda padanya. Hukum itu tidak pernah pandang bulu, jika bukan manusia itu sendiri yang mempermainkannya. Sudah seharusnya keadilan memihak pada mereka yang jujur dan baik, bukanlah pada mereka yang salah dan ber-uang. Karena pada dasarnya, hukum dan keadilan tidak seharusnya memandang siapa orang itu…” Kolonel Zhang bersuara, seraya menatap nanar pemimpinnya.

“Namun, saya bangga memiliki pemimpin seperti Anda, Tuan…”

Dor!

Sebuah peluru terbang bebas. Memotong salah satu tali dari ke 14 tali yang ada.

Deg.

Bruk.

Selanjutnya, sebuah dentuman keras terdengar. Jo bahkan belum mampu mencerna apa yang sudah terjadi, namun kini, tubuh itu sudah tergeletak di dasar.

“Aniya…” Hanna memejamkan matanya erat. Bagaimana Kolonel Zhang jatuh–begitu terlihat jelas olehnya, karena posisinya yang berada di tepi bangunan. Rasa takutnya bahkan semakin menjadi, memikirkan hal yang sama yang mungkin saja akan terjadi padanya.

“KOLONEL…” Teriakkan penuh harap, khawatir serta takut pun tersirat dari panggilan yang terlontar dari mulut para bawahannya.

Namun, kolonel-nya tak lagi berusik–bahkan untuk sekedar menjawab panggilan mereka.

Jo sendiri sudah kaku di tempatnya. Tubuhnya ikut bergetar hebat, rasa takut bahkan mendominasi hatinya kini. Fokusnya pun terus berpindah lincah, memperhatikan putrinya juga para bawahannya.

“Jangan lakukan lagi, aku mohon…!! Lepaskan mereka, dan bunuh aku seperti yang kalian inginkan…” Pinta Jo, panik. Ia benar-benar kesulitan mengendalikan emosinya. Rasa takut kehilangan putri tercintanya begitu mendominasi. Bayang-bayang menyenangkan yang pernah ia lewati bersama Hanna pun datang silih berganti–bahkan saling bertubrukkan–menerobos alam sadarnya.

Sementara sahabatnya, Jaesuk–tengah tersenyum penuh arti di tempatnya.

“Kau dengar Daehyun? Ia ingin rekannya di lepaskan…” ujar Jaesuk, sembari memberi isyarat pada seorang sniper yang disebutkan namanya itu.

Daehyun yang mengerti pun lantas kembali mengarahkan senapannya ke arah para opsir.

“Berapa orang yang ingin Anda lepaskan, Tuan?” Tanyanya dengan smirk khasnya. Sementara teman-teman sniper-nya yang lain tertawa mendengarnya.

“Apa yang akan kau lakukan? Hentikan, jangan menembak lagi…” Jo yang mengerti pun semakin panik. Lepas yang ia inginkan, ternyata disalah artikan oleh mereka, ah tidak, bukan disalah artikan. Mereka memang sengaja mempermainkannya. Dan ia yakin, arus permainan ini sudah diatur serta dikendalikan oleh mereka.

Para opsir pun sudah kembali menegang dibuatnya. Jantung mereka bahkan sudah memompa cepat sedari tadi–takut menghadapi kematian. Jarak ketinggian mereka dengan dasar pun sudah menjawab apa yang akan terjadi pada tubuh mereka–jika mereka sampai jatuh terhempas ke bawahnya— 20 meter, ya 20 meter perkiraan posisi mereka sampai ke dasar. Bisa dipastikan, jika pun mereka masih hidup setelah jatuh dari ketinggian dengan jarak sejauh itu–tubuh mereka pasti tidak akan lengkap lagi karena patah tulang atau bahkan remuk.

“Seorang pria tidak boleh menarik kata-katanya, Tuan…”

Dor! Dor! Dor!

Tepat setelah mengatakan itu. Tiga buah tali kembali terputus dibuatnya. Membuat tiga buah tubuh yang semulanya tergantung, kini terjatuh karenanya. Hanna yang kembali melihat kejadian itu di depan matanya pun kembali berteriak histeris.

Jo sendiri semakin kalut dibuatnya. Keringat dingin bahkan sudah membanjiri pelipisnya. Kepanikannya semakin menjadi, terlebih melihat raut ketakutan putrinya.

“Sekarang aku mengerti mengapa dulu kau meminta orangku bahkan putramu untuk membunuh putrinya dibanding putranya…” Osamu ikut tersenyum miring melihat kepanikan Jo yang begitu tersirat.

“Ia memang tidak pernah membedakan kasih sayang kepada kedua orang anaknya. Sehun pun mendapat kasih sayang yang sama darinya, dan menganggapnya seperti halnya anak kandungnya. Ia begitu menyayangi mereka bertiga, namun Hanna adalah segalanya baginya. Hanna adalah jantungnya, setiap pulang kerja pun–putrinya ‘lah yang ia tanyakan keberadaannya terlebih dahulu. Karena baginya, anak perempuan adalah anak yang paling rapuh dan harus dijaga melebihi apa pun. Nalurinya sebagai seorang Ayah, membuatnya begitu protective terhadap putrinya. Dan jika ia kehilangan anak perempuannya, bisa dipastikan–ia akan gila karena tak bisa menjaga harta paling berharganya itu. Dan kita, tidak perlu repot mengotori tangan demi menghilangkan nyawanya…” Jelas Jaesuk. Hanna yang mendengarnya pun menggigil ketakutan, tubuhnya bahkan terus bergetar karena tangis.

“Tapi, jika sekarang kita hanya membunuh putrinya dan para bawahannya, bisa dipastikan dendam akan tumbuh di dalam hatinya–Karena ia menyaksikan semua kejadiannya secara langsung. Oleh sebab itu, membunuhnya adalah jalan satu-satunya untuk melenyapkan semua barang bukti.” Lanjut Jaesuk. Osamu pun mengangguk paham, lantas kembali memberikan aba-aba pada sniper-nya.

“Paman kau jahat…” Hanna berucap dengan sedikit tersenggal. “Jangan lakukan ini pada Appa, bukankah kalian berteman baik sejak lama? Bagaimana bisa kau tega melakukan ini pada kami, Paman?”

Sementara di luar, beberapa opsir siap menyusul. Mereka terlihat khawatir karena tak kunjung mendapat kontak dari dalam mengenai situasi yang terjadi. Hingga resiko untuk masuk ke dalam tanpa tau situasi pun mereka ambil. Empat orang detektif yang tergabung dalam team khusus itu (Park Chanyeol, Kris Wu, Henry Lau, Kim Junmyeon) juga terlihat cemas, mereka hanya bisa menunggu tanpa bisa ikut masuk ke dalamnya. Meski mereka memiliki kemampuan menembak, tetap saja–situasi seperti ini bukanlah kuasa mereka. Terlebih, sebelum keberangkatan mereka ke tempat ini–salah satu rekan mereka, Luhan, terlihat begitu panik saat meminta izin pada Ayahnya untuk membatalkan misi. Hanya karena khawatir terhadap kondisi adik perempuannya.

Kini, mereka semua yang berada di luar hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di dalam–dengan jantung yang terus memompa cepat. Hingga ketegangan pun tercipta diantara mereka.

“Kurang dari 3 detik. Habisi mereka semua dalam waktu kurang dari itu,” ujar seorang gadis. Ia tengah berdiri dengan santainya di sisi atap gedung, tanpa takut terjatuh ke bawahnya.

“Ini menarik. Jumlah mereka ada 20 orang dan kita hanya berempat. Itu berarti, masing-masing dari kita harus menghabisi 5 orang dari mereka dalam waktu kurang dari tiga detik…” Timpal rekannya, Bang Yong Guk. Yang juga berada di posisi yang sama dengan gadis itu, Koyuki.

“Kalau begitu, lakukan..!!”

“Kau tidak sabaran sekali, Sehun…” Myungsoo mengarahkan senjatanya. Mengikuti rekan-rekannya yang sudah siap pada posisi.

Angin bertiup begitu kencang, menarikan anak rambut mereka. Hawa dingin pun begitu terasa, namun itu sama sekali tak berpengaruh untuk orang-orang berhati dingin seperti mereka. Tatapan tajam mereka pun terus memincing, memperhatikan sembari mengunci gerak-gerik musuh yang menjadi incaran.

“Tembak tepat di leher…” Sehun kembali berucap, “Pastikan mereka tumbang, sebelum satu sama lain saling menyadari ada yang lumpuh…” lanjutnya, yang kemudian dibalas anggukan kepala dari tiga orang rekannya. Dan detik berikutnya, belasan letupan terdengar.

“Akh…”

Bruk.

“Akh…”

“Akh…”

Bruk

“Akh…”

Suara kesakitan itu datang silih berganti, seiring dengan tumbangnya semua opsir dan detektif yang berada di bawah sana. Karena sebuah peluru yang berhasil menembus leher mereka dan memotong arteri karotis-nya. Bahkan sebelum mereka menyadari ada yang tertembak satu sama lain.

“Kajja, kita kembali ke dalam…” Koyuki melompat dari tepi gedung, ke bagian tengahnya. Diikuti rekannya yang juga melakukan hal yang sama.

“Daehyun menang banyak, ada 14 opsir yang digantung. Dan itu semua bagiannya.”

“Tapi itu sama sekali tidak menantang, Myung…” Koyuki melirik rekannya yang terlihat tak puas itu.

“Kau pikir ini menantang?” Yong Guk tersenyum remeh, dengan Sehun yang berjalan di sampingnya.

“Hehe… Ani,” Koyuki terkekeh. Ya, ini memang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang sudah mereka lakukan selama ini.

“Kau baik-baik saja, Sehun?” Yong Guk melirik rekannya, yang hanya diam saja sedari tadi. Namun, tak ada jawaban darinya. Membuat Yong Guk dapat mengetahui jawabannya dengan pasti, bahwa ia tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya memang terlihat datar juga dingin seperti biasanya, namun ia yakini, hatinya tengah bergejolak kini.

Sementara di dalam, Hanna kembali berteriak histeris saat kembali melihat 5 orang jatuh terhempas di depan matanya. Ayahnya sendiri sudah duduk bersimpuh, dengan tubuh yang bergetar hebat.

“Apa yang kalian inginkan? Jangan lakukan ini, aku mohon. Bunuh aku jika itu memang yang kalian inginkan, tapi jangan bunuh mereka. Aku mohon…” Jo tak bisa melakukan apa pun selain memohon. Terlebih melihat keadaan putrinya yang terlihat sudah sangat ketakutan. Pikirnya pun buntu, senjatanya bahkan tak bisa ia gunakan. Karena putrinya yang berada bersama mereka, dan bisa mereka celakai kapan pun. Hingga pada akhirnya–ia tak bisa berkutik.

“Katakan, apa saja yang kau dan negara ketahui tentang kami?” Osamu menatap lurus lawan bicaranya yang berada jauh di sebrang sana.

Jo terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaannya. Ia terlihat bepikir, mengira-ngira apa yang akan dilakukan pria itu setelahnya. “Tapi berjanjilah untuk tidak membunuh putriku,” mohonnya lagi terdengar putus asa. Hanna yang mendengar itu pun, hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Katakan saja…” Titahnya. “Jika tidak, maka putrimu akan bernasib sama dengan mereka.”

“Jika kau melakukan itu, akan kupastikan–kau, akan mendekam di penjara. Dan jika pun aku mati bersama putriku, kau akan tetap mendekam di penjara…” Jo mengancam. Ia punya kartu AS, mengenai rahasia besar Black ID. Dan jika pun ia mati seperti yang ia katakan, maka kartu AS itu akan tetap berfungsi.

Osamu yang mendengar ancaman darinya itu pun mengerti. Ada yang Jo sembunyikan.

“Akh…”

tiba-tiba tali yang mengikat Hanna ditarik kuat. Membuatnya mundur ke belakang dan berakhir dengan jatuh terduduk di samping kaki panjang pria berkebangsaan Jepang itu.

“Sekarang, katakan apa yang yang seharusnya kau katakan. Karena informasi yang kau miliki setara dengan nyawa putrimu juga para bawahanmu…” ujarnya, seraya mengangkat dagu Hanna yang tengah menunduk.

“Appa, jangan dengarkan Dia… Aku lebih baik mati, daripada melihat Appa mengkhianati negara…”

Jo tersentak mendengar untaian kalimat yang dilontarkan putrinya. Hatinya teriris, tenggerokannya tercekat, dadanya sesak. Ia benar-benar di tempatkan pada posisi yang amat sulit. Dimana rahasia negara dan keselamatan keluarga yang menjadi pilihannya.

“Appa, Eomma sudah tiada. Mereka membunuh Eomma, Appa, hiks..” Hanna kembali berteriak. Dengan air mata kesedihannya. Ia tak kuasa lagi untuk tidak mengatakan perihal itu pada Appa-nya. Meski ia tau, hal itu akan membuat tekanan batin Appa-nya bertambah. “Mereka membunuh Eomma, hiks… Jangan biarkan mereka hidup bebas, balaskan dendam atas kematian Eomma, Appa, hiks… Penjarakan mereka….”

Deg.

Seolah dihantam lalu dihimpit oleh batu besar tepat pada ulu hati. Itulah yang Jo rasakan saat mendengar kabar menyakitkan itu dari putrinya. Hatinya remuk, tubuhnya pun begitu lemas ia rasa. Matanya mulai memanas perih, dan tanpa diduga air mata telah jatuh dengan sendirinya melalui kedua sudut matanya. Ia gagal. Ia benar-benar telah gagal untuk melindungi keduanya. Seorang wanita yang telah lama menemani hidupnya pun kini telah pergi karena kegagalannya dan putrinya–meminta kematiannya sendiri daripada mendengar dan melihatnya berkhianat. Karena memang ia telah gagal.

“Brengsek, kalian semua brengsek…!!!”

Jo menangis dalam kegelisahannya. Tangisan yang bukan berarti ia lemah sebagai seorang pria. Namun, tangis kesedihan karena ditinggal oleh salah seorang penyangga hidupnya. Tangis kepiluan yang membuat dendam serta emosinya memuncak.

“Tuan, putri Anda benar. Lebih baik kita mati daripada harus mengkhianati kepercayaan negara. Simpan rahasia itu baik-baik, dan biarkan waktu sendiri yang menghancurkan mereka. Keadilaan akan memihak mereka yang benar, dan ujian adalah jalan menuju kemenangan itu sendiri. Biarkan kita kalah untuk saat ini, karena memang ini adalah ujian kita untuk menuju kemenangan. Dan istri Anda, saya yakin, Ia pasti sudah berada di tempat terbaik yang telah Tuhan sediakan.” Letnan Kim berucap, di tengah-tengah kesadarannya. Luka di bahu kanan dan kakinya sudah cukup menguras energinya. Hingga mati pun ia sudah rela. Terlebih, hatinya ikut teriris melihat keadaan pemimpinnya yang terlihat begitu hancur, sementara mereka menertawakannya.

Osamu yang mendengar ucapan Letnan Kim pun geram. Lantas kembali memberikan aba-aba untuk kembali menjatuhkan 2 dari 5 orang yang tersisa. Jo yang mengerti itu pun berteriak, memohon.

“Hentikan, jangan lakukan lagi–aku mohon…”

Dor! Dor!

Namun, peluru sudah kembali memotong tali yang menggantung dua tubuh itu.

“Letnan Kim…” Jo kembali menangis. Siapa pun akan menangis jika berada di posisinya. Posisi yang amat sulit, dimana kematian menjadi pilihan terbaik.

“Kalian bukan manusia…” Jo mengumpat. Fokusnya memandang ke bawah, ke arah tubuh rekan-rekannya yang tak lagi berusik.

Sementara Hanna tak lagi melihat bagaimana tubuh itu sampai ke dasar. Namun, ia tetap melihat bagaimana tubuh itu jatuh. Membuatnya semakin menggigil, ketakutan. Dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.

“Katakan Jo, apa saja yang kau ketahui tentang kami? Dan apa yang kau sembunyikan dari kami?” Osamu terlihat begitu geram.

Namun Jo, hanya terdiam membisu. Ia sudah tau akhir dari permainan yang mereka ciptakan. Mereka akan tetap membunuhnya, putrinya juga anggotanya yang tersisa. Dan kini, ia hanya bisa menatap sayu putrinya, yang juga tengah menatapnya dengan tangis. Bisa ia lihat, Hanna yang terus-terusan menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkannya untuk tidak bertindak lebih jauh lagi, dengan mengatakan apa yang ingin mereka ketahui. Keberanian Hanna saat itu pun membuatnya bangga. Ia tak menyangka, anak perempuannya yang dianggapnya begitu rapuh selama ini ternyata begitu kuat, dan jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Bahkan ia tak takut mati, hanya karena tak ingin melihat ayahnya menjadi seorang pengkhianat. Hingga membuatnya yakin untuk mengikuti kehendak putrinya itu, setidaknya mereka akan mati bersama. Dan Luhan–ia yakin, Luhan akan membalaskan dendam atas kematian keluarganya dan rakan-rakannya. Setidaknya, ia masih memiliki harapan akan ada seseorang yang bisa menemukan rahasia yang ia sembunyikan mengenai keberadaan Black ID beserta orang-orangnya,—disuatu tempat yang begitu aman. Meski dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia menginginkan putrinya tetap hidup untuk menemani putranya.

Srek..

Pintu di belakang Jo tiba-tiba saja terbuka. Menampilkan 4 orang sniper yang baru saja selesai menjalankan tugasnya. Jo yang menyadari itu pun mengalihkan fokusnya. Dan detik itu juga, matanya membelalak tak percaya.

“Sehun?”

Deg.

Sehun terpaku di tempatnya, saat melihat seseorang yang sudah memanggilnya. Hatinya bahkan terus berkecamuk di dalam sana.

“Kau– bagian dari mereka?” Tanya Jo tak percaya–melihat senapan yang dipegang Sehun. Napasnya memburu, namun tubuhnya terasa semakin lemas. Sehun yang mendapat pertanyaan seperti itu pun hanya mampu diam membisu.

“Seperti yang kau lihat, Jo. Bukankah dunia ini kejam? Seorang anak yang sudah kau anggap putra sendiri pun mengkhianatimu..” Jaesuk kembali bersuara. Membuat Sehun tanpa sadar mengepalkan jemarinya kuat. Titik fokusnya pun tertuju padanya, namun terhenti saat pengelihatannya menangkap figur seorang gadis yang amat familiar baginya.

“Sehun…”

“Hanna…” Sehun bergumam tak percaya. Ia tak menyangka, Luhan gagal melindungi adiknya. Sekarang, ia ikut berada di posisi yang sulit.

Sementara Hanna, sudah menatap nanar sosoknya. Ia sudah tak mengerti dengan apa yang ia rasa. Semuanya bercampur antara kecewa, marah, sakit dan perasaan lainnya yang menyakitkan. Hingga pada akhirnya, Hanna memilih untuk memalingkan fokusnya, dan berhenti menatapnya.

‘Lagipula aku tidak pernah jauh darimu. Bukankah kau sudah berjanji akan selalu melindungiku?’

‘Jangan pernah kau menaruh kepercayaan berlebih pada orang lain, Hanna.’

‘Wae? Kau bukan orang lain, kau itu sahabatku.’

‘Aku hanya tidak ingin kau terlalu bergantung pada orang lain, Hanna. Karena pada dasarnya, bayanganmu sendiri pun akan meninggalkanmu di dalam kegelapan.’

Ingatan Hanna memutar kembali percakapan yang pernah terjadi di antara dirinya dan Sehun beberapa waktu lalu. Dan kini, Hanna mengerti maksud dari ucapan itu. Dadanya pun terasa semakin sesak, tangisnya bahkan terdengar semakin pilu.

Bukanlah hal yang mudah untuk menerima kenyataan disaat orang yang kau percayai mengkhianati kepercayaanmu.

Jo sendiri, hanya bisa menutup matanya rapat. Mencoba meredam kekecewaan yang begitu hebat dalam hatinya atas pengkhianatan dari dua orang yang begitu ia percayai itu.

Namun tak lama, ia kembali membuka matanya saat kembali mendengar suara tembakkan. Dan saat itu juga, ia tak lagi melihat orang-orang yang di gantung di atas ketinggian 20 meter itu.

“Sekarang aku memudahkanmu untuk memilih, Jo. Jika kau tetap bungkam, maka putrimu akan bernasib sama dengan mereka. Dan–”

“Bunuh aku, jangan bunuh putriku…!!!” Putusnya. Membuat Osamu menyeringai penuh kemenangan.

“APA YANG KAU BICARAKAN, APPA?” Hanna panik, ia berteriak penuh emosi.

“Apa yang aku ketahui hanya sebatas seperti halnya yang kau ketahui,” ujar Jo. Menatap tajam lawan bicaranya. “Kau bisa membunuhku sekarang, tapi biarkan putriku tetap hidup.” Lanjutnya.

“Sehun, kau dengar? Bunuh putrinya, jika ia tak kunjung buka mulut…” Osamu semakin geram. Sehun yang mendapat perintah seperti itu pun membelalakkan matanya.

Tak hanya Sehun, Hanna pun terkejut mendengarnya. Sementara Jo sudah kembali menatap Sehun yang tengah terpaku–penuh harap. Dan perlahan Sehun balas menatapnya, kontak mata serta batin pun terjadi. Tak lama, Sehun membuang senapan laras panjang itu dari tangannya. Membuat Jo bernapas lega–tapi sayangnya, itu tak bertahan lama. Sehun merogoh saku dalam jaketnya, lantas mengeluarkan sebuah pistol berwarna hitam metallic dari dalamnya.

“Sehun…” Jo bergumam tak percaya, saat melihat ujung pistol itu mengarah pada Hanna.

“Kau tidak akan melakukannya, Sehun.” Jo menggeleng–memohon.

“Tak ada alasan untukku, untuk tidak melakukannya, Paman…” Sehun berucap begitu yakin, meski hatinya bergemuruh saat ini. Namun, bayang-bayang saat Hanna bersama Baekhyun kembali berlalu-lalang dalam benaknya.

“Kau menyayanginya, Sehun. Bahkan lebih dari itu, kau tidak akan bisa melakukannya…”

Sehun kembali membelalakkan matanya. Lantas kembali melirik ke arah Jo.

“Aku mengenalmu, dan aku mengertimu lebih dari siapa pun, bahkan ayahmu sendiri… Jangan sakiti orang yang kau cintai Sehun, jika kau tidak ingin menyesal dikemudian hari…” Lanjutnya, membuat Sehun luruh.

“Hanna menyakitiku, Paman. Dan aku membencinya, kau salah jika kau beranggapan bahwa kau mengenalku…” Tampik Sehun, mulai kalut.

“Benarkah? Cinta dan benci itu beda tipis, kau membencinya hanya karena melihat sesuatu yang tidak ingin kau lihat. Dan kemudian kau menutup matamu dari semua yang kau lihat, termasuk cintamu padanya. Maka dari itu, bukalah matamu dan lihatlah cintamu, jangan menutup matamu dari kebencian yang membutakanmu…” Jo Khaza melihat semua yang terjadi malam itu. Melihat kepulangan Hanna bersama Baekhyun, dan kemudian melihat mobil Sehun berhenti di depan gerbang rumahnya. Hingga ia bisa mengerti apa yang membuat Sehun berubah akhir-akhir ini.

“Sehun? Apa yang kau tunggu?” Osamu terlihat tak sabaran.

Sementara Sehun, terlihat begitu kalut di tempatnya. Semua kenangan manis bersama Hanna begitu mendominasi pikirnya. Hingga ia tak bisa mengambil alih kerja tubuhnya.

“Katakan sedikit saja, Paman…” Pinta Sehun ambigu. Rekan sesama sniper-nya pun hanya bisa mengerutkan alis bingung. Namun Jo, dapat mengerti dengan baik.

“Aku tau kau memiliki banyak orang-orang yang berdiri di depanmu sebagai Front Organization. Dan aku tau, siapa saja orang-orang yang bertugas menampilkan wajah moderat itu. Khusus bagi mereka yang memiliki perusahaan besar di Korea Selatan, tapi tidak semua yang dermawan bagian dari kalian. Dan semua dana yang di dapat oleh perusahaan yang terlibat itu berasal dari Hyuga Group. Dan Hyuga Group adalah perusahaan yang kau pimpin. Hanya itu yang kutahu…” Jelas Jo. Namun, tak memberikan kepuasan yang berarti untuk Osamu. Ia yakin masih ada yang disembunyikan oleh pria itu. Dan yang ingin ia ketahui adalah siapa orang yang juga mengetahui rahasia itu. Namun, emosinya benar-benar sudah memuncak kini. Hingga,

“Bunuh Dia,” Perintah untuk membunuhnya ia lontarkan.

Jo yang mendengar itu pun tersenyum, lantas mengangguk kepada Sehun untuk menuruti perintahnya.

“ANIO APPA… ANIO…!!!” Hanna kembali panik mendengar perintah Osamu, “Jangan Sehun, jangan lakukan itu, aku mohon….” Hanna meronta dalam ikatannya.

Sementara Sehun yang mendengarnya, mencoba untuk menghiraukannya. Karena hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Hanna dari tangan kejamnya. Karena sesungguhnya, ia memang tak sanggup jika harus melenyapkan nyawanya.

“Ada kata-kata terakhir, Paman?” Sehun mengarahkan pistolnya, meski hatinya terus memberontak. Namun ia harus tetap melakukannya, karena kini, ia di tempatkan pada dua pilihan yang sulit. Hanna atau Ayahnya.

“Tidak Sehun, jangan sakiti Appa…” Hanna kembali memohon. Membuat Sehun semakin kalut.

Sementara Appa-nya hanya tersenyum melihatnya. Entah mengapa, tapi hatinya yakin putrinya akan selamat jika ia mengorbankan dirinya dengan cara seperti ini. Beberapa saat ia lirik arloji di tangan kirinya, saat itu juga senyum yang menyiratkan rasa sakit terpancar dari wajahnya.

“Hanna, maafkan Appa. Appa bukan Appa yang baik untukmu, dan Appa tak bisa memberikan yang terbaik untukmu. Appa tak bisa bermain bersamamu setiap akhir pekan, Appa tak bisa memberikan apa yang kau inginkan meski itu hanya berupa kehadiran Appa dalam hari-harimu. Appa terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga membiarkanmu merindukan kehadiran seorang Appa. Maafkan Appa, Nak…”

Jo terisak, tubuhnya bergetar hebat.

“Karena Appa, kau kehilangan Eomma-mu, maafkan Appa–maafkan Appa. Tetaplah hidup dengan baik, Appa tak ingin kau pergi menyusul Eomma-mu, biar Appa yang datang menghampiri Eomma-mu dan mengatakan bahwa kau dan Oppa-mu adalah anak Appa yang terkuat. Appa bangga padamu, Nak…”

Tenggorokan Jo tercekat, ia kesulitan melanjutkan ucapannya.

“Tetaplah hidup dengan baik, jangan pernah takut pada apa pun di dunia ini–selagi kau berada di jalan yang benar… Maafkan Appa karena mengambil keputusan ini. Namun, keputusan ini adalah keputusan yang sudah Appa pilih. Maafkan Appa karena Appa tak bisa lagi menuruti permintaanmu, meski hari ini adalah hari ulang tahunmu…”

Deg.

Hanna membatu, tubuhnya semakin kaku. Ia tak tau jam sudah berganti hari, ia bahkan melupakan hari ini adalah hari yang paling ditunggunya. Dimana Appa-nya berjanji akan bolos kerja demi merayakan hari lahirnya itu. Namun nyatanya, semua itu hanya menjadi angan belaka.

“Selamat ulang tahun, sayang. Selamat ulang tahun… Maaf, Appa tak bisa memberikanmu hadiah dihari ulang tahunmu kali ini, Appa juga tak bisa membelikan kue coklat yang kau minta, Appa bahkan tak bisa menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukmu…”

Tubuh Hanna semakin bergetar hebat. “Appa…” panggilnya parau–begitu pilu.

“Tapi seperti yang kau tau, Appa begitu menyangimu, Nak. Do’a Appa akan selalu menyertaimu–kemana pun kau melangkah. Raga Appa mungkin tak akan bisa memelukmu lagi saat kau ketakutan, namun, Appa akan selalu melindungimu–melindungimu dari tempat yang tak bisa kau lihat. Maka dari itu, jangan menangis, jadilah gadis yang kuat seperti yang kau banggakan selama ini pada Appa. Buktikanlah ucapanmu itu disaat Appa tak lagi ada di sisimu. Dan… Ya Tuhan, begitu banyak hal yang ingin Appa sampaikan padamu, –begitu banyak, sangat banyak. Jika Appa bisa memutar waktu, Appa ingin satu hari saja bisa menghabiskan waktu bersamamu, berbincang dan bercanda bersamamu seraya mengatakan semua hal yang ingin Appa katakan padamu, semuanya. Appa juga ingin menebus semua waktu yang Appa sia-siakan selama jauh darimu…”

Jo tersenyum getir, menguatkan hatinya–seraya menatap malaikat kecilnya yang sudah tumbuh dewasa itu.

“Tapi, Appa dan Eomma hanya akan pergi meninggalkan dunia, kami tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian. Kami akan tetap mengawasi kalian–maka dari itu, hiduplah dengan baik dan jagalah kesehatanmu, jangan terlalu manja pada Oppa-mu dan jangan terlalu menyusahkannya.”

Jo kembali tersenyum melihat air mata yang jatuh dari mata indah putrinya. Hatinya pun semakin sakit melihat itu, karena ia tau, ini terakhir kalinya ia menatap wajah malaikat kecilnya. Bayang-bayang betapa manjanya Hanna padanya pun semakin merobek luka hatinya. Membuat rasa sakit itu semakin menjalar–merambat menghancurkan pertahanannya.

Namun perlahan ia berdiri, berjalan perlahan ketepian. Demi melihat wajah putrinya lebih jelas lagi. Seraya memuaskan pengelihatannya pada wajah yang tak akan bisa dilihatnya lagi itu.

“Appa…” Suara Hanna bergetar. Hatinya hancur mendengar penuturan ayahnya. Ingin rasanya ia menghentikan waktu, lantas pergi dari tempat itu bersama pria yang kini terlihat kabut dalam pengelihatannya itu.

“Mianhae, Aboeji…” Sehun menarik pelatuknya. Dan detik itu juga, sebuah peluru keluar dari dalam sarangnya.

Dor!

Deg.

“Hanna, Appa menyayangimu. Neomu saranghae…”

“APPA…”

Hanna kembali berteria histeris. Melihat peluru yang menembus tubuh Appa-nya. Dan perlahan, pemilik tubuh yang begitu disayanginya itu limbung.

Jo mengulurkan tangannya–berharap bisa menggapai dan menyentuh wajah putrinya di sisa waktu terakhirnya itu. Namun, jarak begitu jauh memisahkan mereka–hingga hal itu hanya menjadi angan belaka. Hanna yang melihat itu pun meronta dalam ikatan–ingin sekali ia membalas uluran tangan Appa-nya. Namun, sampai Appa-nya terjatuh, ia tak bisa melakukannya. Membuat jerit kesedihannya terdengar semakin menyakitkan. Dan tak bisa di pungkiri, beberapa orang yang melihat kejadian itu pun merasa iba. Terlebih, bagi mereka yang memiliki seorang anak.

Sementara Sehun, terpaku di tempatnya. Makian pun ia dengar dari mulut mungil Hanna.

“Bunuh aku! Tunggu apa lagi? Bunuh aku?” Pinta Hanna frustasi pada seorang pria berdarah Jepang itu. Sementara Osamu, ikut membeku di tempatnya. Kata-kata Jo begitu dalam dan mengingatkannya pada putrinya. Hingga ia hanya mampu membisu melihat Hanna yang terus menangis bersimpuh.

“Tuan, kita dikepung…” Sebuah suara menyadarkannya. Dan saat itu juga fokusnya kembali.

“Apa maksudmu? Bukankah kalian sudah membereskan orang-orang yang tersisa di luar?”

“Mereka semua sudah mati, tapi kali ini SWAT yang diturunkan. Lebih baik kita cepat pergi…”

Osamu yang mendengar itu pun langsung memberi isyarat pada anggotanya untuk meninggalkan tempat itu dengan segera. Hanna pun dibawanya, karena ia tak bisa membunuh gadis itu demi melenyapkan barang bukti.

End of FlashBack

“Kau tau? Aku mati-matian menahan air mataku saat melihat kejadian itu. Dan setelah itu, aku mati-matian menarik tubuh Sehun yang bagai terpaku di tempatnya. Dan pada akhirnya, aku meninggalkannya karena ia sendiri yang memintanya.”

Baekhyun menolehkan kepalanya ke sisi lain, demi menyembunyikan air matanya. Kini, ia mengerti mengapa Hanna begitu terpukul. Dan ia pun mengakui, Hanna adalah gadis yang kuat.

“Yang jadi pertanyaanku adalah, mengapa Sehun begitu menyesal tidak membunuh ayah Hanna saat itu, sementara ia sendiri terlihat begitu terpukul setelah menembak orang yang sudah dianggapnya ayah itu…” Myungsoo kembali berucap. Membuat Baekhyun ikut bertanya.

“Kematian Krystal. Ya, kematian Krystal yang merubah Sehun sepenuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu? Apa benar ia mati karena bunuh diri, setelah bertemu dengan Hanna? Atau…” Baekhyun menatap Myungsoo.

“Ada orang yang membunuhnya…” Lanjut Baekhyun hati-hati.

“Bunuh diri atau dibunuh. Kita akan cari tau jawabannya…” ujar Myungsoo, penuh penekanan.

.
.
.
.

.

~To Be Countinued~

regret

Author‘s Note

Cuma mau bilang, Terima kasih buat kalian semua yang masih mau baca FF ini, Comment FF ini, dan menanti FF ini…

Dan buat ‘teman-teman baru’ yang baru nongol di chapter kemarin, aku ucapkan selamat datang–dan terima kasih untuk kehadirannya. Terus untuk semua sahabatku juga terima kasih banyak ya, karena kalian selalu setia nemenin aku lewat kehadiran kalian selama ini, terima kasih…/bow/

Dan untuk kakakku tercinta yang lagi hamil ‘babylulu’, terima kasih untuk hadiahnya ya…

Dan juga untuk kedua adikku yang manja, hani dan OSEHN… Terima kasih ya karena kalian selalu ngehibur aku lewat celotehan-celotehan kalian…hihi

sudah aku bilang sebelumnya, aku menganggap readers-ku teman, sahabat, dan keluarga…

Teman : sebagian dari mereka yang belum kukenal (sinders aku)

Sahabat : kalian yang selalu hadir, nemenin aku dan dengerin aku…

Keluarga : mereka yang sering aku bikin susah..haha

Intinya terima kasih buat kalian semua… Jangan malas buat bikin aku senyum ya,,,hihi #ngode

Saranghae Yeorobun ❤

 

Regards,

Sehun‘Bee

Advertisements

609 comments

  1. sumpah ya chapter ini bikin baper. black id itu kayak bunuh kecoa ya, maen dar dor aja, gak punya perasaan. aku masih bertanya2 deh tentang krystal.

    Like

  2. Oya kak aku komennya lanjut lanjut ya soalnya semalam aku udah baca sampe chap 14 dan endingnya diprotect jd aku jga mau menuhin syarat komen biar bisa bca yg chap akhir, smlm kuotaku kebtulan abis jd bbrapa komentar yg aku pengn komen aku ctat dulu di buku diaryku 😶😶😶 dan sekarang baru bsa jaringan jga lg mendukng bgt nih 😁😀

    Like

  3. Chapter ini bikin nyesek banget, kasihan banget si hanna. Krystal mati dibunuh? Sehun harus tau itu biar ngga nyalahin hanna terus

    Like

  4. Akhirnya perasaan masing2 terkuak walaupun baru disadari dan belum terungkap 😁
    Mulai sekarang aku mendeklarasikan diriku sebagai fansmu Author 😭😭 larti ini sungguh sangat hebat

    Like

  5. gilaa thor ni chapter bikin ikutan nyesek feel nya dapet bgt.. kasian hanna gara” kejadian itu sampe trauma. krystal meninggal karna apa? bunuh diri apa dibunuh?? kasian hanna yg jadi korbannya sehun lg

    Like

  6. huh bener itu kata kata terakhir dichapter jujur aja selama aku tadi baca ini bingung Krystal mati kenapa ??? ayo kita cari tahu !! fighting kak

    Like

  7. huaahh bikin tegang aslinya.. udh berasa masuk ke cerita ini penjelasan kronologinya pas ka, ga belibet mudah ngebayanginnya. Dan itu berhasil menguras emosi.. miris bgt. Entah apa yg hrs dilakuin kalo di posisi hanna, ayahnya ataupun sehun..semuanya di posisi sulit tp syukur deh paman jo ga milih berkhianat.. ayah sehun beneran kejam apa dia ga sedikit aja tersentuh sama pesan terakhir paman jo?? osama aja sampe tersentuh gitu ya meskipun akhirnya tetep jahat lg..
    Pantes hanna trauma sama kematian..karna semuanya dia saksiin,,kekejaman black id yg ga ada kata ampun..
    harusnya paman jo ngesampingin rasa kasihan..mau bagaimanapun hukum harus di tegakan.. dan satu lg pelajaran hidup yg bisa diambil jgn percaya sepenuhnya pd org yg bahkan udh lama kita kenal dan kita anggap keluarga karna org bisa berubah kapan aja..
    tp kayanya msh ada yg disembunyiin paman jo deh. Sehun kayanya tau..
    Baek semua percakapannya di rekam ya?? Jaksa byun emang pintar. Tp ga ada maksud khususkan dia rekam itu??
    Terus kematian krystal bener deh bukan murni bunuh diri kayanya ada campur tangan black id supaya sehun benci hanna sepenuhnya,, mungkinkan??
    Okee. lanjut ke next chap.. izin baca kelanjutannya kaa. Good luck 😀

    Like

  8. chap ini bnr2 bikin melow bngt .. trsentuh sm penuturan ayh hanna, osamu tersentuh? apa dia manusia? gk pantes bngt jd manusia dan ternyata…. sehun yg!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s