Regret [Chapter 8]

regret

Title : Regret | Secret

Author : SehunBee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun as Mafia
Khaza Hanna as Sehun’s Wife
Xi Luhan as Detective
Byun Baekhyun as Jaksa

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : [8871 word] Series/Chaptered

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Poster by : popowiii | SHINING VIRUS

Summary

Melindungi orang yang kita sayangi tidak harus dengan menyakiti perasaan orang lain, apalagi sampai melukai orang itu. Karena kebahagiaan didapat dengan cara yang baik juga tulus.

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6 ¤ Chapter 6 ¤ [TEASER] Chapter 7

 

♣  Regret 

Monitor EKG itu masih menampilkan garis zig-zag, dengan bunyi bip yang berirama. Ruangan tertutup dengan warna putih yang mendominasi itu pun, membuat kesan medis semakin ketara di sana. Ditambah dengan sekantung cairan infus yang tergantung di besi penyangga–tak pernah berhenti menetes, menuruni selang sampai masuk pada tubuh seseorang yang terbaring lemah di atas ranjang.

Terhitung, sudah 18 bulan ia tertidur di sana. Dengan kerja tubuh yang seperti mati. Tabung gas oksigen pun tak berarti banyak untuk membantu kesembuhannya—alat bantu itu hanya menunjang kehidupannya. Namun, orang-orang yang mencintainya, masih berharap akan kesembuhannya. Seraya menunggu keajaiban datang dari Tuhan.

 

♣♣♣

 

“Omachidosama…(Maaf, membuatmu menunggu…)”

“Ne?”

Gadis itu terkekeh melihat reaksi Luhan. “Hajimemashite, (Perkenalkan)” lantas menyodorkan sebelah tangannya pada Luhan. “Watashi no namae wa Koyuki desu..(Namaku Koyuki) dan aku yang akan melatihmu Luhan-kun!”

“Mwo?”

“Ayahmu berdarah Jepang, sangat tidak mungkin kau tidak mengerti bahasanya,” ujarnya lagi. Kali ini dengan menggunakan bahasa yang selalu Luhan gunakan.

“Sumimasen! (Maaf!)” Luhan menundukan kepalanya singkat. “Aku hanya terkejut,” ungkapnya kemudian.

“Sepertinya kau baru tahu ada sniper wanita di Black ID,” gadis itu tersenyum kecil. “Ikut aku, tempat latihanmu bukan di sini. Di sini hanya di peruntukkan untuk anak kecil.” Lanjutnya kembali terkekeh.

Sementara Luhan, hanya bisa membenarkan dalam hati. Terlebih, gadis itu memperkenalkan diri sebagai pelatihnya. Membuat Luhan sadar, ia tengah berada di tempat yang mengerikan. Dan dengan santainya, Myungsoo justru pergi begitu saja meninggalkannya–bersama orang-orang yang asing baginya.

Kaki kecil Luhan terus mengikuti langkah kaki ramping di depannya. Sesekali matanya berkeliling—mengamati setiap sudut lorong yang dilewatinya. Lorong dengan dinding yang dilapisi besi itu terlihat kokoh, namun kesan dingin yang didapatnya. Membuat Luhan ingin segera sampai di tempat yang dimaksud gadis itu. Namun tak lama, Koyuki menghentikan langkah kakinya. Di depan sebuah pintu besar, dengan kata sandi untuk membukanya. Luhan yang menyadari itu hanya diam memperhatikan—sampai pintu di depannya terbuka dan menampilkan,

“Lihatlah! Anggota baru kita merupakan salah satu musuh lama kita…”

Deg.

Luhan membatu. Matanya membelalak samar—melihat isi tempat yang dimaksud Koyuki. Tempat dimana para sniper Black ID berkumpul. Itu yang Luhan simpulkan, dari wajah-wajah yang tak asing baginya juga beberapa jenis senapan yang ada di ruangan itu. Tak asing. Ya, tak asing. Mereka semua merupakan orang-orang yang cukup dikenal, karena orang tua mereka merupakan orang-orang dermawan di Korea.

Astaga! Luhan membatin miris sekaligus tak percaya.

“Bukankah kau mantan Detektif, eh?”

Luhan melirik seseorang yang mengajaknya bicara. Dan detik berikutnya, hatinya kembali mencelos. ‘Dia anak pemilik stasiun TV nasional MBC…’ batinnya semakin tak percaya, kini ia tak heran mengapa kebaikkan keluarganya begitu digembor-gemborkan di media.

“Yuki, kau yang akan melatihnya?”

Luhan kembali melirikkan matanya ke arah lain. Dan kini, anak seorang pemilik perusahaan permen yang dilihatnya. Ya Tuhan. Kembali, Luhan kembali membatin miris melihatnya. Andai ia tak pernah bekerja di NIS, mungkin ia tak akan mengenal banyak nama-nama pemilik perusahaan terkenal di negerinya, pun dengan profile keluarga mereka. Hingga ia tak perlu meyaksikan betapa menyedihkan negerinya, karena diisi oleh begitu banyak orang-orang berkedok seperti mereka.

“Ya. Aku yang akan melatihnya, Sehun sendiri yang memintanya..”

“Sehun pintar, dia merekrut orang dari kalangan detektif untuk dijadikan tangan kanannya.”

Luhan mengerutkan alisnya bingung. Tangan kanan?

“Akhir-akhir ini Sehun disibukkan dengan urusan perusahaan keluarganya, hingga seringkali ia tak bisa menghadiri pertemuan anggota. Itu sebabnya ia merekrutmu untuk menggantikannya, jika ia berhalangan hadir. Memangnya kau tidak tahu?” Jelas Koyuki, saat menyadari ketidakpahaman Luhan. Namun Luhan, merasa itu tidak sepenuhnya benar. Ada hal lain yang Sehun rencanakan. Mengingat pertemuan mereka di atap gedung kantor beberapa hari yang lalu.

“Sehun tak mengatakan alasan apa pun saat ia memintaku untuk bergabung.” Luhan mulai mengikuti arus permainan yang Sehun ciptakan. Namun, ia tak berdusta, Sehun memang tak mengatakan apa pun padanya perihal alasan mengapa ia merekrutnya. Tapi, Sehun cukup pintar untuk membuat Luhan mengerti tanpa harus bersusah payah menjelaskannya.

‘Jadi, kau menginginkanku untuk menjadi mata-mata di Black ID, Sehun?!’

Luhan tersenyum kecil pada orang-orang di depannya. Seraya memperkenalkan dirinya sebagai anggota baru.

‘Sekarang aku mengerti, mengapa kau menyuruhku membunuh salah seorang detektif dari NIS,’

Luhan membungkukan tubuhnya sesaat,

‘karena membunuh merupakan modal kepercayaan Black ID untukku.’

“Selamat datang di Black ID, Khaza Lu…”

Luhan kembali menegakkan tubuhnya.

‘Kini, aku resmi menjadi bagian dari Black ID..’ Luhan kembali tersenyum. Senyum yang berbeda. Senyum tanpa ada rasa ketulusan di dalamnya. Senyum yang mengerikan, namun tetap terlihat manis di wajahnya. Karena kini, senyum itu hanya dipenuhi oleh ambisi juga dendam, serta rasa sakit yang begitu mendalam.

¤
¤¤¤
    Regret  
¤¤¤
¤

 Pagi. Segala aktivitas kembali dimulai. Bersiap untuk kembali memulai hari, meski dengan jadwal kegiatan yang sama. Baekhyun seperti biasa, menyiapkan segala keperluan kerjanya. Lantas menunggu bekalnya siap, kemudian pergi ke kantor dengan diantar sang Eomma sampai pintu depan rumah. Dan kali ini, tak ada lagi yang mengikutinya, meski kini, ia berharap orang itu ada. Sampai tiba di kantor pun, semuanya sama. Apa yang ia harapkan pun tak ada.

“Luhan Hyung, kau ke mana?” Gumamnya pelan, setelah berbalik seraya mengelilingkan pandangannya kesekeliling. Sebelum akhirnya, membawa tubuhnya kembali memasuki tempat kerjanya. Saat dirasa, orang yang ia harapkan kehadirannya tak ia temukan tanda-tandanya.

“Hah~” Baekhyun menghela napas pelan setelah memasuki lift. Lantas ia biarkan orang di sebelahnya memencet tombol, karena ia tau mereka bekerja di lantai yang sama. Seharusnya, Baekhyun tidak terlalu berharap–karena ia sendiri pun tau, Luhan tak mungkin datang setiap hari menemuinya. Bodoh.

Tting.

Sampai. Baekhyun keluar dari dalam lift setelah bunyi itu terdengar. Lantas segera melangkahkan kakinya ke tempat biasa ia bekerja—mengerjakan segala tugas-tugasnya. Satu per satu barang bawaanya pun ia keluarkan, termasuk bekal sarapan paginya, lantas menyalakan komputer di depannya seraya membuka jas kerjanya. Membuat tubuh atletisnya, kini hanya terbalut kemeja putihnya saja.

Saat ini jam kerja bahkan belum dimulai, namun Baekhyun sudah memulainya seraya memakan bekalnya. Teman-temannya yang baru saja tiba, lantas menyapanya pun ia hiraukan, karena terlalu fokus pada pekerjaan lamanya itu.

“Ini sudah hari kedua kau membawa bekal, seperti anak TK saja…” Cibir seseorang. Dan sukses membuat fokus Baekhyun teralihkan—hanya teralihkan. Baekhyun hanya meliriknya sekilas, lantas kembali fokus pada komputer di depannya yang tengah menampilkan data-data yang berhubungan dengan orang yang ia curigai.

“Ya.. Byun Baek, kau mengacuhkanku…!!”

“Berisik..!!!” Desis Baekhyun dingin. Membuat teman sejawatnya itu membeku di tempat.

“Jaksa Kim biarkan saja, Baekhyun sedang mengejar bonus bulanan…” Sela seorang gadis, yang juga baru saja tiba di meja kerjanya. Namun, ia hanya meletakkan tasnya saja. Lantas menghampiri Baekhyun di meja kerjanya.

“Lihatlah Koyuki, karena cinta Baekhyun menjadi seorang yang sangat rajin,” Himchan kembali mencibir, membuat gadis yang kini berdiri di sebelahnya terkekeh.

“Seperti anak remaja yang menjalin cinta demi mendapat motivasi belajar, bukankah itu klise?” Ujar Koyuki disertai tawa dari keduanya. Baekhyun yang mulai merasa terganggu pun menutup tampilan komputer di depannya—berganti layar Home.

“Haha… Kau benar Yuki, Baekhyun seperti anak remaja…”

“Kalian tahu?” Tanya Baekhyun tiba-tiba seraya menatap keduanya.

“Ne?”

“Olahraga bibir dipagi hari itu tidak baik,” balas Baekhyun sarkastik dengan senyum penuh kemenangan. Membuat dua insan di depannya refleks memasang poker face.

“Kau menyebalkan, Mr. Byun,” Koyuki mempoutkan bibirnya, membuat Baekhyun kembali tersenyum dibuatnya. “Tapi bukankah itu hebat?” Tanya Koyuki tiba-tiba, membuat perhatian dua pria di sana terfokus padanya.

“Cinta mampu merubah seorang yang pemalas menjadi rajin, seorang penakut menjadi pemberani, seorang yang acuh menjadi peduli, dan seorang yang baik menjadi jahat…” Jelasnya, seraya tersenyum kecut setelah mengatakan kalimat terakhir.

“Dan benci membuat seseorang melakukan sebaliknya,” timpal Baekhyun. Teringat akan wajah seseorang yang pernah menjadi sahabat baiknya—Sehun.

“Baik menjadi jahat?” Himchan tak mengerti, karena hanya kalimat itu yang berakhir negatif.

“Ne, karena kadang ada orang yang berbuat jahat demi melindungi orang-orang yang dicintainya, atau untuk sekedar mendapatkan cintanya,” jelas Koyuki. Air wajahnya sedikit berubah, namun tak ketara. Mungkin hanya ahli psikolog yang mampu melihatnya. Baekhyun sendiri terdiam, menatap sorot mata gadis itu. Ia tidak yakin, namun instingnya mengatakan sorot itu menggambarkan kesedihan.

“Ah ne, setiap orang itu berbeda.” Himchan mengangguk mengerti.

“Ya begitulah. Aku melindungi orang yang aku sayangi dengan caraku dan kau melindungi orang yang kau sayangi dengan caramu,” ujarnya lagi, seraya menatap Baekhyun dengan senyum yang begitu manis. Namun, hatinya teriris saat maniknya bertemu tatap dengan mata hazel pria itu. Perasaan aneh pun kembali mengusiknya, membuatnya tak (lagi) betah berlama-lama menatapnya. Terlebih, jantungnya terus memompa tak tentu di dalam sana.

“A–aku lapar, aku mau mencari sarapan dulu, ne! Bye…” ujar Koyuki terlihat gugup. Ia pun berbalik dengan segera. Membuat Baekhyun dan Himchan menatap bingung punggungnya yang mulai menjauh. Bisa mereka lihat, gadis berambut pendek itu berjalan seraya menundukan kepalanya. Entah mengapa.

“Gadis Jepang memiliki badan yang bagus, ya? Tak hanya langsing, namun juga berisi,” Himchan berucap seraya memperhatikan lekuk tubuh Koyuki yang sudah berjalan sangat jauh darinya, “sekarang aku mengerti, kenapa kau begitu mencintai Hanna…”

Baekhyun yang mendengarnya pun tanpa sadar mendelik tajam ke arahnya. “Dasar mesum!”

¤
¤¤¤
    Regret   
¤¤¤
¤

Hanna mengerjap pelan, saat hangatnya matahari pagi mulai menyengat kulit wajahnya. Seolah enggan untuk beranjak, Hanna justru semakin menaikkan selimutnya seraya berbalik membelakangi jendela. Namun belum sempat Hanna kembali terlelap, ia sadar akan sesuatu.

Kosong!

Tempat tidur di sampingnya sudah kosong. ‘Sehun eodiga?’ batinya. Hanna menatap tempat kosong yang sebelumnya Sehun isi. Namun tak lama, ia putuskan untuk kembali melanjutkan tidurnya. Tak ingin ambil pusing dengan mencari keberadaan Sehun. Terlebih kepalanya terasa sangat berat juga sakit, membuatnya semakin enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya kini. Tapi tak lama,

“Eungh~” Hanna melenguh, merasa semakin tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan. Kepalanya terasa semakin berdenyut nyeri, saliva di dalam mulutnya pun terasa semakin encer juga asin. Membuatnya merasa mual. Ditambah perut semakin tak nyaman, serasa diaduk tak tentu. Dan pada akhirnya, Hanna putuskan untuk segera bangkit—beranjak ke kamar mandi. Dengan langkah sempoyongan Hanna meraih dinding, demi menopang berat tubuhnya. Ia berjalan dengan meraba dinding dan segala macam benda yang dilewatinya. Agar tak terjatuh saat itu juga. Sebelah tangannya pun refleks menutup mulutnya saat mual itu semakin menjadi. Membuat pipi tirusnya mengembung dengan seketika. Dan saat tiba di depan wastafel, Hanna tak kuasa menahannya lagi.

“Hoek~” Ia kembali memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga. Namun kali ini, Hanna sedikit kesulitan untuk mengeluarkan sesuatu yang membuatnya mual itu, karena kini tak ada Sehun yang memijat tengkuknya—seperti sebelumnya. Hingga ia merasa sesuatu itu tertahan di tenggorokkannya.

“Sehun eodi–hoek~” belum sempat Hanna melanjutkan ucapannya. Isi perutnya sudah kembali mendesak keluar. Hanna benar-benar membutuhkan Sehun sekarang atau siapa pun itu yang bisa membantunya sekarang. Matanya bahkan sudah berair, hidungnya pun sudah memerah. Tubuhnya juga terasa semakin lemas, namun Hanna mencoba untuk tetap menopang berat tubuhnya. Agar tak berakhir mengenaskan di dalam kamar mandi.

Saat dirasa lebih baik dan perutnya tak lagi memberontak di dalam sana. Hanna pun mulai mencuci mulutnya dengan berkumur, demi menghilangkan rasa pahit di dalamnya. Berkali-kali ia berkumur, namun tetap saja rasa pahit itu masih ada. Membuat Hanna menyerah dan pada akhirnya hanya bisa menatap lemas penampilan berantakannya di depan cermin.

Matanya mengerjap pelan saat menyadari ternyata tubuhnya dilapisi kemeja putih milik Sehun. Hanna tak ingat kapan memakainya, namun ia tak lupa semalam mereka kembali tidur bersama. Wajahnya pun merona–mengingat perlakuan Sehun padanya semalam. Begitu lembut juga berbeda. Membuatnya merasakan sensasi lain dari sebelumnya, yang terkesan kasar juga menuntut. Dan jika boleh jujur, Hanna ingin merasakannya lagi–Karena ia merasa begitu istimewa saat Sehun memperlakukannya dengan baik.

“Ini masih pagi, apa yang aku pikirkan…” Hanna menggelengkan kepalanya kuat, demi menepis pikiran kotornya. Dan akhirnya, Hanna putuskan untuk segera kembali ke kamar, agar ia bisa segera mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur. Namun baru beberapa langkah Hanna melangkah, ia tiba-tiba saja kembali berbalik. Ia kembali merasa mual dan pada akhirnya, ia kembali menumpahkah isi perutnya yang tersisa.

“Sebenarnya ada apa denganku, hoek~” Hanna merasa sangat lemas sekarang. Berkali-kali ia menumpahkan isi perutnya, namun tak kunjung membaik. Melihat cairan yang ia tumpahkan membuat Hanna ingat, bahwa semalam ia tidak makan. Sementara ia pun tak pernah lupa, ia mempunyai riwayat sakit maag. Namun kali ini, Hanna merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

“Tidak mungkin…” Hanna menggelengkan kepalanya kuat. “Maag-ku kambuh. Ya. Maag-ku kambuh, hanya itu!” Yakinnya, namun ragu.

Hari esok hal yang sama terjadi, terhitung sudah tiga hari ia mengalami hal semacam ini di pagi hari. Dan sialnya, Sehun tak pulang. Hanna tak tahu Sehun ke mana—terakhir kali ia melihatnya, sebelum ia memejamkan mata setelah permainan mereka usai. Kali ini, Hanna semakin ragu bahwa yang ia alami hanya karena penyakit maag-nya yang kambuh. Terlebih kemarin ia makan dengan baik, ditambah Sehun meninggalkan Black Card untuknya, membuatnya bebas memesan makanan apa pun yang ia mau. Tanpa perlu repot membuatnya.

Dan kini, Hanna hanya bisa menatap sendu deretan angka dalam sebuah kalender yang berdiri di atas nakas. Tubuhnya pun terduduk kaku di sisi tempat tidurnya. Matanya mulai memanas, lapisan kaca pun mulai terbentuk, dan perlahan semakin menumpuk dan kemudian menetes menjadi liquid. Hanna menangis—dalam diam. Ia tak tau harus berbahagia atau bersedih. Yang Hanna tau, masalahnya akan bertambah. Isakan kecil pun mulai terdengar, namun sulit untuk diartikan. Entah itu tangis bahagia atau sebaliknya.“Eotteokhae?”
Hanna semakin terisak. Tak tau harus berbuat apa. Perlahan ia meringkukkan tubuhnya seraya menggigit-gigit kecil kuku-kuku jarinya. Takut juga bingung, ia rasa secara bersamaan. Membuatnya semakin panik dalam diam. Ditambah ungkapan perasaan Sehun padanya kemarin malam, membuat Hanna semakin kalut dibuatnya. Karena sangat tidak mungkin ia mengatakannya pada pria itu, bahwa ia,–tidak lagi mengalami menstruasi.

 

“Nyonya? Anda ba— astaga! Nyonya Gwaenchanayo?” Seorang penjaganya tiba-tiba saja masuk, saat merasa ada yang tidak beres dengan Nyonya mudanya itu. Terlebih sebelumnya, Hanna sempat keluar dari dalam kamarnya. Sebelum akhirnya kembali, dengan memegangi perut serta membekap mulutnya sendiri. Karena khawatir Hanna yang tak kunjung kembali keluar, membuatnya berinisiatif untuk sekedar memastikan kondisinya di dalam. Dan benar saja, Nyonya-nya tidak sedang dalam kondisi baik,–ia tengah menangis dalam diam.

“Eotteokhae Taejun-ssi, hiks?”

“Wae Nyonya?”

“Eotteokhae?” Tanya Hanna lagi tak jelas. Dengan air mata yang tak berhenti mengalir.

“Apa yang terjadi, Nyonya?” Taejun mulai panik.

“Eotteokhae…???” Tanya Hanna lagi semakin frustasi.

“Ya. Apanya yang ‘bagaimana’ Nyonya?” Tanya Taejun lagi tak kalah frustasi.

“Aniya… Kau tidak boleh tau!”

Taejun mengepalkan tangannya kuat. Membuat bunyi kertakan jarinya terdengar. Sungguh, ia benar-benar dibuat gemas oleh majikannya. Bagaimana bisa orang memberi solusi, jika yang ditanyakannya hanya ‘bagaimana’ tanpa mau mengatakan apa masalahnya. Sekali lagi sungguh, Taejun tak habis pikir, bagaimana bisa seorang Oh Sehun menikahi seorang gadis yang tingkat kepolosannya sangat tinggi, seperti Hanna. Ah tidak, dia dipaksa, aku lupa. Batinnya kemudian.

“Gwaenchana, katakan saja Nyonya,” Pinta Taejun selembut mungkin. Sebisa mungkin juga ia meredam emosinya yang sempat memuncak.

“Tidak mau, buatkan aku sarapan saja! Aku sedang sakit…” Tolak Hanna disusul dengan permintaan perutnya.

“Hah~ geurae Nyonya! Kau ingin makan apa?” Taejun menyerah. Lebih baik mundur daripada berhadapan dengan majikannya. Itulah motto barunya.

“Nasi goreng kimchi. Ya, nasi goreng kimchi, sepertinya enak jika dimakan dipagi hari…” Timang Hanna seraya bangkit dari tidurnya. See, ia bahkan sudah lupa akan apa yang ditakutkannya barusan. Sisa-sisa jejak air matanya pun ia hiraukan.

“Geurae Nyonya, tunggulah sebentar aku akan mengantarkannya nanti. Nyonya istirahat saja,” Taejun membungkukkan tubuhnya sesaat, sebelum berbalik meninggalkan Hanna di kamarnya.

Hari esoknya lagi, Hanna mengalami hal yang sama. Membuatnya semakin yakin atas apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan Hanna merasa tak perlu lagi menggunakan alat untuk membuktikan kebenarannya. Semuanya sudah terlalu jelas baginya. Ia wanita dan ia sadar akan hal itu—meski sedikit terlambat. Beruntung Sehun belum pulang, hingga ia tak perlu takut Sehun akan mencurigainya. Meski ia tau suatu saat nanti, seiring dengan waktu yang berjalan—Sehun akan mengetahuinya.

Kali ini, Hanna putuskan untuk mencari udara segar di luar rumah. Namun, saat kakinya sampai diujung anak tangga. Keinginannya berubah, ia justru berubah haluan—dan hanya membawa tubuhnya ke dapur. Mencari makanan yang ia inginkan. Namun nihil, tak ada makanan ringan di kulkasnya, yang ada hanya beberapa potong daging di dalam freezer-nya.

“Hah~ membuat bulgogi untuk menu makan siang sepertinya tidak buruk,” gumamnya pelan seraya mengumpulkan bahan-bahan yang ia butuhkan. Namun saat Hanna memegang bawang, saat itu juga ia menjatuhkannya. Tangannya kembali refleks menutup mulutnya. Mual.

“Bau,” Hanna tak menyangka apa yang ia alami membuat indera penciumannya bermasalah juga. Dimana penciumannya menjadi lebih tajam juga sensitif terhadap sesuatu yang sebelumnya tak pernah menjadi masalah untuknya. Dan Hanna benci itu.

Bruk.

Pintu kulkas pun ia tutup secara kasar. Sedikit kesal dengan bau yang menguar dari dalam sana. Membuatnya mau tidak mau harus kembali memesan makanan juga memakan-makanan cepat saji.

Hanna menendang bawang di dekat kakinya, lantas berlalu dengan kaki yang dihentakkan. Para pengawal yang melihatnya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Mereka hanya sudah terbiasa melihat perubahan mood Hanna belakangan ini. Tanpa berniat memberi komentar.

 

“Aku ingin makan di luar,” pinta Hanna tiba-tiba. Membuat semua pengawalnya kembali refleks menggelengkan kepalanya. Hey, kompak sekali mereka. Pikir Hanna kagum.
“Tidak Nyonya, Tuan tidak mengizinkannya. Kami akan memesankan makanan yang Anda inginkan seperti biasanya,” ingat Taejun. Membuat Hanna mendelik kesal ke arahnya.
“Tapi ak–“

 

Ceklek.

 

Terhenti. Ucapan Hanna terhenti seiring dengan pintu utama rumahnya yang terbuka. Ia pun membisu seketika. Tubuhnya membatu. Dan fokusnya terpaku pada seseorang yang baru saja tiba itu. Ah tidak, bukan seorang tapi dua orang. Hanna yang melihatnya pun semakin membatu, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Dan pada akhirnya, ia hanya mampu,

 

“Sehun…” bergumam sendu.

 

“Tuan,” para bawahannya pun refleks menunduk hormat. Saat mendapati Tuannya yang tengah berdiri tidak jauh dari ambang pintu, bersama— seorang wanita.

Sorot mata Hanna pun berubah. Kecewa, marah, sedih seolah bercampur di dalamnya. Membuat siapa saja yang melihatnya, tak akan mampu membacanya.

‘Wanita mana lagi yang kau bawa Sehun?’ Hanna membatin perih, menatap Sehun yang kembali membawa wanita baru ke rumah mereka. ‘Jadi ini alasan, kenapa kau tak pulang? Aku pikir benar karena pekerjaan,’ Hanna tersenyum kecut, seraya menatap wanita yang digandeng suaminya. Cantik, putih, tinggi, dan sexy. Kata sempurna lebih cocok untuk menggambarkan sosoknya. Hanna pun menundukkan kepalanya. Ia merasa bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan wanita itu.

Lagipula, bukankah sudah jelas–perasaan Sehun padanya telah berubah menjadi benci, Sehun sendiri yang memperjelas itu. Namun tak bisa dipungkiri, Hanna berharap perasaan ‘itu’ kembali ada. Bahkan ia berpikir Sehun akan berubah seperti dulu, setelah apa yang terjadi malam itu. Namun justru sebaliknya, kehidupan mereka justru kembali– seperti pada saat-saat awal pernikahan mereka.

Heh, kau benar-benar naif Hanna! Bagaimana bisa kau berharap Sehun akan mengasihimu. Hanna membatin seraya tersenyum getir dibuatnya. Tapi sungguh! Bagi Hanna, lebih baik diperlakukan kasar olehnya daripada melihat wanita lain di sampingnya. Karena Hanna lebih benci itu.

Sehun menatap Hanna dalam diam. Perubahan ekspresi wajah Hanna bahkan terlihat jelas olehnya. Membuat Sehun kembali merasa tak nyaman dibuatnya. Bukankah ia pernah melakukan ini sebelumnya (membawa wanita lain ke dalam rumah mereka), dan tak ada perasaan yang mengganggunya, tapi mengapa kini berbeda. Ia merasa—entahlah, Sehun tak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Dulu, Hanna hanya menatap datar ke arahnya setiap kali ia membawa wanita lain ke rumah, namun kini, tatapan yang sulit untuk diartikan didapatnya. Membuat Sehun semakin kalut dengan apa yang dirasakannya itu.

“Kajja,” Sehun kembali menarik wanita yang tengah bergelayut manja di lengannya. Menuntunnya untuk mengikutinya–menuju kamar pribadinya. Tanpa memperdulikan lagi Hanna yang masih membatu dibuatnya. Seolah tak ingin semakin larut dengan perasaan yang mengganggunya itu.

Para pengawal yang secara langsung menyaksikan konflik rumah tangga majikannya itu pun merasa tak nyaman. Tak hanya itu, mereka pun merasa iba—melihat keterdiaman seorang gadis yang selama ini mereka jaga.

“Nyonya, mari kita makan di luar. Anda ingin makan di mana?” Ajak salah seorang diantara mereka. Saat menyadari—gadis itu terluka. Dan entah insting darimana, tapi ia merasa harus melakukan itu. Terlebih, ia merupakan pengawal lama, yang menjaga Hanna semenjak gadis itu berstatus sebagai istri Tuannya. Ia hanya merasa tak tahan melihat semua hal menyedihkan yang telah dialami oleh gadis itu.

Hanna yang diajak bicara pun masih terdiam. Namun perlahan, tangannya terangkat. Mengusap sesuatu yang masih terbungkus hangat dalam perutnya. Matanya pun semakin perih terasa, dan tanpa bisa ditahan lagi—setetes liquid itu jatuh dengan sendirinya.

 

“Nyonya, gwaenchanayo?”

“N-nan gwaenchana,” Hanna mengakat kepalanya perlahan, seraya memberikan senyum terbaiknya pada orang yang sudah mau berbaik hati padanya itu. Tangannya pun bergerak–menghapus kasar jejak kecil di pipinya, “kajja, kita harus segera kembali sebelum mereka keluar!” Ajak Hanna dengan suara yang sedikit bergetar–mencoba untuk kuat. Meski Hanna tau, kini itu sulit untuknya.

Para pria berotot itu pun hanya menatap sendu Nyonya-nya. Seolah ikut merasakan rasa sakit yang tengah dirasakan olehnya. Terlebih Hanna hanya diam, seolah tak berniat meminta penjelasan dari Sehun yang notabene-nya adalah suaminya.

“Geurae Nyonya, tugas kami adalah menjagamu bukan menghalangi keinginanmu,” putus seseorang yang berbeda. Seraya merutuki Tuannya dalam hati. Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan wanita secantik Hanna dengan membawa wanita jalang ke rumah mereka. Bodoh.

“Melanggar perintah untuk membahagiakan seorang wanita cantik, aku rasa tidak masalah,” setuju Taejun. Membuat Hanna tersenyum sipu dibuatnya. Mereka baik. Hanna tau itu, meski kadang mereka menyebalkan.

Dan perlahan Hanna kembali melangkah, namun langkahnya kembali terhenti saat kembali melihat seseorang di ambang pintu. Seseorang yang tak asing baginya. Langkah kakinya pun kembali mundur teratur, teringat akan wajah menyeramkannya saat menghabisi nyawa rekannya sendiri.

“Annyeong haseyo Hanna-ssi,” namun hal tak terduga Hanna dapat. Pria itu justru menyapanya, lantas berjalan mendekat ke arahnya. Tanpa menunggu jawaban dari Hanna.

“M-mau a-apa kau?” Tuduh Hanna sedikit gemetar.

“Jangan takut! Aku kemari hanya ingin bertemu dengan suamimu, ada hal yang ingin aku bicarakan,” ujarnya seraya tersenyum ramah pada Hanna. Hanna yang sudah bersembunyi di balik tubuh Taejun pun merasa lebih tenang melihatnya. “Aku sudah datang ke kantornya tapi dia tidak ada.” lanjutnya, membuat Hanna mengerti.

“Dia baru saja pulang,” jawab Hanna kemudian, “bersama wanita!” lanjut Hanna, seraya menundukkan kembali wajahnya.

Myungsoo yang melihatnya pun mengerti. Lantas menghembuskan napasnya pelan. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya mendekati Hanna.

“Sepertinya aku datang disaat yang tepat,” ujarnya seraya memberi isyarat pada Taejun untuk menyingkir. Membuat Hanna tak terhalang lagi, dan kini tepat berdiri di depannya. Hanna yang menyadari itu pun mendongakkan kepalanya. Membuat manik mereka bertemu.

 “Mau bermain?” lanjutnya seraya mengulurkan tangannya. Membuat Hanna mengerutkan alis bingung,—tak mengerti. Maniknya pun menatap wajah dan telapak tangan Myungsoo secara bergantian. “Aku tak ingin menunggu di sini sampai Sehun selesai. Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat, sebagai tamu-mu.” lanjutnya, seraya meraih tangan Hanna dan kemudian menariknya tanpa menunggu persetujuan darinya.

Sementara Hanna, hanya bisa terkejut dibuatnya. Otaknya bahkan belum mampu mencerna apa yang Myungsoo katakan. Hingga ia, hanya bisa menurut dan pasrah.

“Nyonya tidak boleh pergi kemana pun tanpa kami,” halang seseorang, seraya memberikan tatapan peringatan pada Myungsoo yang menurutnya lancang itu.

“Aku rekan Sehun, kalian tidak perlu khawatir. Ak–”

“A-aku mau pergi makan siang bersama mereka,” sela Hanna setelah sadar. Sebelah tangannya yang bebas pun bergerak,— mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Myungsoo di pergelangan tangannya. “Lepaskan aku, Tuan!” pinta Hanna pada akhirnya.

“Makan siang? Ini baru jam 9 pagi…” Myungsoo mengangkat tangan kirinya, seraya melihat jam yang terpasang di sana.

“N-ne… Jika Sehun ada, aku tidak boleh pergi kemana pun,” jelas Hanna membuat Myungsoo bingung. Ia pun hanya bisa menatap wajah polos Hanna penuh tanya. “m-maksudku, selagi Sehun berada di kamarnya, aku ingin pergi keluar mencari makan siang bersama mereka.” Jelas Hanna lagi, dengan intonasi yang terdengar sangat halus. Seolah mengerti akan kebingungan Myungsoo. Dan kali ini, Myungsoo pun mengangguk mengerti.

“Sehun tidak akan marah, jika kau keluar bersamaku,” ujar Myungsoo menenangkan, “lagi pula, aku hanya ingin mengajakmu bermain ke suatu tempat… Setelah itu, baru kita makan siang bersama.” Lanjutnya dengan senyum tulus, seraya kembali menyeret tangan Hanna, “Kalian ikutlah, agar ia merasa aman,” titahnya, yang pada akhirnya, hanya dibalas anggukkan ringan dari mereka.

Hanna yang melihatnya pun hanya bisa memasang wajah khawatirnya. Karena ragu, pada orang yang tengah menarik pergelangan tangannya itu. Terlebih, Hanna masih mengingat dengan jelas bagaimana cara ia membunuh orang yang sudah membunuh Ibunya itu. Jujur saja, Hanna takut orang itu melakukan hal yang sama dengannya. Namun bodohnya, ia tak bisa melakukan perlawanan, bahkan sampai pria itu menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya pun—ia hanya menurut.

“Sepertinya kau sangat akrab dengan para pengawalmu,” ujar Myungsoo seraya memasang sabuk pengamannya.

“Terlihat seperti itu?” Hanna menatap lawan bicaranya. Rasa takutnya perlahan menghilang–entah mengapa.

“Majikan dan bawahan makan siang bersama, apalagi kalau bukan karena keakraban kalian?”

“Tapi kami sering bertengkar,” sanggah Hanna, namun hati kecilnya membenarkan. Setelah kepergian Sehun selama tiga hari lamanya, ia selalu makan bersama penjaganya. Dengan dalil, ia tak suka makan sendiri.

“Justru karena itu kalian jadi akrab. Karena kadang, pertengkaran kecil itulah yang membuat seseorang lebih mengenal satu sama lain,” Myungsoo tersenyum kecil seraya balas menatap Hanna yang tengah menatap polos ke arahnya. Sebelum akhirnya menyalakan mesin mobilnya, lantas melajukannya–entah kemana.

Hanna sendiri kini terdiam. Angannya menerawang jauh pada masa dimana ia dan Sehun masih berstatus sebagai sahabat. Mengingat akan hari-hari mereka yang selalu diisi oleh pertengkaran konyol mereka. Hari-hari yang menurut Hanna menyebalkan, namun menyenangkan.

‘kau tau? Memancing amarahmu merupakan cara yang aku lakukan untuk mendapat perhatianmu saat itu.’

Hanna menundukkan kepalanya dalam, saat kata-kata Sehun kembali terngiang di kepalanya.

‘Sekarang kau mengerti, mengapa rasa benci itu begitu mendominasi,’

Hanna menggeleng pelan, saat suara-suara itu terus menerobos alam sadarnya.

‘Dan air matamu, tak akan membawa perasaanku kembali… Karena kehidupan kita–sudah berubah.’

Setetes liquid itu kembali menerobos pertahanan Hanna. Mengingat kehidupan mereka memang telah berubah. Dimana tak ada lagi pertengakaran kecil yang mempererat hubungan mereka. Namun terganti dengan adanya konflik batin yang memperenggang hubungan mereka.

“Are you Okay, Hanna?” suara Myungsoo menginterupsi. Membuat Hanna menolehkan kepalanya ke arah yang berlawanan—demi menyembunyikan air matanya, lantas menghapusnya kasar.

“Nan gwaenchana,” jawabnya pelan, “kau mau membawaku kemana?” lanjutnya, mengalihkan pembicaraan.

“Kau akan tau nanti,” Myungsoo melirik Hanna sesaat. Bibir tipisnya pun terangkat, membentuk senyum simpul yang sarat akan—kesedihan. Menyadari akan sesuatu yang Hanna sembunyikan.

“Ah ne, Kim Myungsoo imnida. Aku mengenalmu tapi kau tidak mengenalku,” lanjutnya seraya terkekeh. Hanna sendiri hanya tersenyum dibuatnya.

“Tapi aku yakin, wajahku tak asing bagimu!”

“Heum…” Hanna hanya bergumam sebagai jawaban, “eumph… Myungsoo-ssi?” panggilnya kemudian.

“Ne?”

“Gamsahamnida,” ujar Hanna dengan senyum di bibirnya.

“Untuk?”

“Kematian orang yang sudah membunuh Ibuku,” Myungsoo tersenyum mendengarnya, “dan melindungiku…” Lanjut Hanna. Menatap sayu Myungsoo.

“Ne.. Dan maafkan aku, karena sudah membuat traumamu kembali,” ujar Myungsoo tulus.

“Bukan masalah, aku akan cepat sembuh jika tidak melihatnya lagi. Dan lihatlah, kini aku baik-baik saja.” Myungsoo kembali tersenyum kecil dibuatnya. Hanna memang terlihat lebih baik. Setidaknya itu yang dilihat Myungsoo.

“Tapi, kenapa kau melindungiku? Sementara saat itu, Sehun sendiri menginginkan aku mati.” ujar Hanna lagi–Sedikit sendu. Wajahnya pun kembali terlihat murung.

“Sedang terjadi konflik internal di Black ID, salah seorang yang paling berpengaruh di Black ID menginginkan kekuasaan yang lebih. Ia menginginkan posisi ketua yang saat ini dipegang oleh Kakaknya. Hingga ia menyuruh orang kepercayaanya untuk menghabisi nyawamu, karena nyawamu merupakan kunci untuk membuat Ayahmu tutup mulut, dan tak membocorkan rahasia yang diketahuinya mengenai pemimpin kami saat ini,” jelas Myungsoo membuat ekspresi Hanna kembali berubah—tak mengerti.

“A–aku tidak mengerti?” ungkap Hanna—jujur.

“Jika kau mati, dan ayahmu sadar, maka tidak akan ada alasan untuk ayahmu tutup mulut mengenai keberadaan pemimpin kami saat ini. Meskipun kami bisa menggunakan Luhan sebagai ganti nyawamu, tetap saja itu tak berguna. Dan jika itu terjadi, pengalihan kekuasaan pun akan terjadi. Itu sebabnya aku membunuhnya sebelum ia membunuhmu.”

“Dan membunuh Ayahku adalah satu-satunya cara untuk melindungi kekuasaan pemimpinmu?” Hanna mengerti dengan arah pembicaraan Myungsoo. Matanya pun mulai berkaca seiring dengan semakin banyaknya cairan yang ia tahan untuk tidak meluap saat itu juga. “Apa sebegitu mudahnya bagi kalian menghilangkan nyawa seseorang? Hanya demi tahta dan harta?” Lanjut Hanna sendu, dengan air mata yang sudah jatuh menuruni lekuk pipinya. “Dimana hati kalian? Tidakkah kalian tau, nyawa seseorang itu begitu berarti bagi mereka yang menyayanginya?”

Myungsoo menepikan mobilnya, lantas menatap Hanna yang tengah menatapnya dengan tangis.

“Ayahku begitu berarti bagiku. Ia satu-satunya orang tua yang aku punya setelah salah satu dari kalian membunuh Ibuku. Dan Oppa-ku, aku telah kehilangannya, semenjak ia bergabung bersama kalian,” Hanna terisak. Myungsoo membatu.

“Bunuh saja aku. Hidup pun percuma, jika aku tak lagi memiliki keluarga! Aku sudah kehilangan semuanya, aku tak ingin lebih menderita lagi dengan kembali menyaksikan akhir hidup Ayahku.” Tubuh Hanna semakin bergetar, Myungsoo yang melihatnya semakin iba dibuatnya.

“Aku sudah cukup menderita selama ini, karena harus melihat bagaimana sahabat baikku mengkhianatiku, melihat Ibuku terbunuh, melihat Ayahku tertembak, dan kini menghadapi kenyataan bahwa Oppa-ku merupakan bagian dari kalian,” lanjut Hanna semakin parau. Kepalanya kini menunduk sempurna, bahunya pun naik-turun seiring dengan isak tangisnya. Dan Myungsoo, hanya bisa menatap nanar ke arahnya.

“Mianhae,”

Deg.

Hanna bungkam. Maaf katanya?

“Aku tahu ini salah… Tapi asal kau tahu, sebagian dari kami membunuh,— semata-mata hanya karena ingin melindungi orang yang kami sayangi,” lanjut Myungsoo. Hanna pun hanya diam menunggu.

“Ini klise tapi ini memang benar adanya, bahwa kami berbuat jahat karena alasan baik,”

Hanna menggertakkan giginya—mendengar penuturan Myungsoo. Tangannya bahkan meremas ujung dress-nya kuat.

“Baik? Kau bilang baik?” Kini, ia menatap tajam ke arah pria itu, “demi melindungi orang yang kau sayangi?” Hanna tersenyum kecut setelahnya, “mereka justru akan menangis jika mengetahui pekerjaan kotormu. Mereka akan memilih mati konyol daripada melihat orang yang disayanginya membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Tidakkah kau memikirkan perasaan mereka juga? Begitupun dengan perasaan keluarga korban yang ditinggalkan?” lanjut Hanna, dengan nada yang tenang. Meski kini, emosinya tengah memuncak.

“Kau tidak mengerti Hanna,”

“Aku mengerti, karena suamiku sama sepertimu!” Tegas Hanna pada akhirnya, membuat Myungsoo membelalak tak percaya.

Hanna menganggap Sehun sebagai suaminya?! Ya, Tuhan. Selama ini ia pikir rasa sakit yang Hanna rasakan, hanya karena pengkhianatan Sehun terhadapnya juga segala perlakuan buruknya. Tapi ternyata, rasa sakit yang Hanna rasakan lebih dari itu. Myungsoo benar-benar tak habis pikir dibuatnya. Hanna gadis yang terlihat rapuh diluar, namun ternyata, gadis itu lebih kuat dari yang ia bayangkan. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku sudah gila, karena harus hidup dengan orang yang sudah menghancurkan keluargaku. Setidaknya itulah yang Myungsoo pikirkan juga kagumi dari sosok gadis yang berada di sampingnya.

“Sehun sudah mengatakan semuanya padaku. Dulu ia tak ingin kehilanganku karena statusnya. Dan hal itu membuatnya menjadi seorang pengecut. Tapi kini, ia bagai malaikat pencabut nyawa bagiku, karena perasaan bodohnya. Dan hal itu membuatku membencinya, ah tidah, tapi perbuatannya. Aku benci perbuatannya!” Ungkap Hanna kesal, “Tidakkah kau mengerti? Apa yang kau lakukan itu hanya akan menyakiti orang-orang yang kau lindungi?”

“Arraseo,..” jawab Myungsoo parau, “tapi bukankah kita sama, Hanna?” tanyanya kemudian, seraya menatap manik mata Hanna lekat, “kita berdua sama, kita sama-sama ingin melindungi orang yang kita sayangi, kita ingin mereka tetap hidup.” Lanjutnya. Seraya mengalihkan fokus dari Hanna ke jalanan di depannya.

“Kau rela menjadi boneka untuk itu, aku pun demikian. Hanya peran kita saja yang berbeda.”

Hanna menatap nanar lawan bicaranya. ‘Percuma.’ Batinnya menyerah. Myungsoo akan tetap melindungi orang yang disayanginya dengan caranya. Namun,

“Kalau begitu, kita buat kesepakatan,” Hanna tak ingin kehilangan kesempatan untuk melindungi Ayahnya. Myungsoo yang mendengarnya pun kembali menatap Hanna, seraya menaikkan sebelah alisnya–penuh tanya.

“Mwo?”

¤
¤¤¤
    Regret   
¤¤¤
¤

 

Sehun terdiam. Matanya menatap lurus ke arah jendela. Pikirannya berkecamuk–tak tentu apa yang dipikirkan. Hatinya pun demikian, bertolak belakang dengan akal sehatnya.

Seorang gadis yang bersamanya pun, hanya bisa menatap punggungnya dengan bibir yang mengerucut. Sebal, karena diacuhkan.

“Oppa~” akhirnya ia putuskan untuk menghampiri Sehun, lantas memeluknya dari belakang. Ia hanya bosan menunggu, Sehun tak kunjung menyentuhnya.

Seakan tuli, Sehun tak kunjung menggubrisnya. Ia benar-benar kalut saat ini. Tak tentu dengan apa yang ia rasa. Hanya karena memikirkan ekspresi wajah Hanna yang belum lama dilihatnya.

“Oppa~” panggilnya lagi–sedikit jengah. Dan kali ini sukses membawa Sehun kembali ke alam sadarnya. Manik Sehun pun turun, melihat tangan yang sudah melingkar sempurna di perutnya. Tak lama, tangannya pun ikut bergerak menyentuh tangan putih gadis itu. “Mianhae, Soyu,” Sehun melepaskan pelukkan gadis yang bernama Soyu itu. Lantas berbalik menatapnya.

Senyum miring pun mulai tercetak di wajah tampannya. Seraya mengamati wajah cantik di depannya. Cantik, ya cantik memang, tapi Sehun yakin, tanpa make up gadis itu tak akan lebih sempurna dari Hanna.

Hanna?

Mata Sehun kembali terpejam. Bayang-bayangmu sangat mengganggu, Hanna. Sehun membatin geram. Ia bahkan tak habis pikir, bagaimana bisa ia membandingkan gadis yang berada di depannya dengan Hanna. Seperti bukan dirinya, meski Sehun akui, Hanna memanglah cantik.

Sehun menggeram tertahan. Dan perlahan Sehun kembali membuka matanya. Persetan dengan segala hal tentang Hanna. Ia hanya butuh kesenangan untuk melupakannya. Tangannya pun bergerak cepat, menarik pinggang gadis di depannya. Membuat tubuh mereka tak lagi berjarak. Dan perlahan, Sehun meraih bibir merah cherry milik Soyu.

Ciuman tergesah yang terkesan menuntut pun Sehun berikan, namun perlakuan kasarnya dibalas tak kalah menuntut oleh gadis itu. Ciuman panas penuh nafsu itu pun terus berlanjut, Sehun bahkan terus mendorong tubuh gadis itu sampai terjatuh di atas ranjang, tanpa melepas pautannya.

 

♣♣♣

 

“Woah…” Hanna tersenyum riang menatap bangunan sederhana di depannya.

“Kajja,” ajak Myungsoo.

“Tapi, apa tidak apa-apa jika kita masuk ke dalamnya?”

“Tidak, tenang saja. Kajja,” Myungsoo menarik pergelangan tangan Hanna agar gadis itu tak lagi bertanya.

“Kau suka anak kecil?” Tanya Myungsoo setelah mereka sudah berada di dalam lorong bangunan itu. Hanna pun mengangguk dan,

“Ne, neomu joha…” menjawab dengan antusias.

“Kalau begitu aku tidak salah mengajakmu kemari. Aku akan mengenalkanmu pada seseorang, juga anak-anaknya..” Myungsoo terkekeh setelah mengatakan itu.

Sementara Hanna, telah larut dalam angannya. Ia tengah membayangkan dirinya—tengah menuntun seorang anak kecil untuk masuk ke dalam kelas pertamanya. Lantas melambaikan tangannya pada anak itu, saat ia hendak meninggalkannya. Senyum manis pun terus terukir di wajah cantiknya. Tangannya bahkan sudah mengelus sayang sesuatu yang masih terbungkus hangat itu. Bahkan Hanna tak sadar, mereka telah tiba di tempat yang Myungsoo maksud. Hanya karena terlalu asik membayangkan–betapa menyenangkannya menjadi seorang Ibu.

“Lihatlah,” Myungsoo mengedikkan dagunya. Memberi isyarat pada Hanna untuk menatap kumpulan anak kecil yang tengah asik belajar sambil bermain di dalam kelas. Hanna yang melihat dari luar jendela pun semakin cerah dibuatnya. Senyumnya bahkan terlihat semakin lebar.

“Kyeopta… Mereka sangat manis,” gemas Hanna.

“Dan di sana,” Myungsoo menunjuk seorang guru pengajar, membuat Hanna mengikuti arah telunjuknya, “Dia wanita yang sangat ingin aku lindungi,” Lanjutnya dengan senyum yang begitu tulus.

“Dia kekasihmu?”

“Heum,”

“Cantik… Siapa namanya?”

“Suzy. Bae Suzy…”

“Nama yang indah…” Hanna tersenyum lembut melihat gadis yang tengah bertepuk tangan riang itu. Suara lembutnya mengalun indah–menyanyikan lagu anak-anak dengan nada yang khas. Semua anak didiknya pun serentak mengikutinya. Membuat suasana semakin riang tercipta.

Myungsoo menatap Hanna lembut. Ia merasa bahagia bisa melihat senyum manis di wajah Hanna. Dan ia bahagia bisa membuat Hanna sedikit melupakan rasa sakitnya, hanya dengan membawanya ke sebuah Taman Kanak-kanak. Kini, Myungsoo sepenuhnya sadar.

Melindungi orang yang kita sayangi tidak harus dengan menyakiti perasaan orang lain, apalagi sampai melukai orang itu. Karena kebahagiaan didapat dengan cara yang baik juga tulus.

Aku menyetujui rencanamu, Hanna. Kita lakukan bersama, meski dengan resiko yang kejam.

“Myungsoo-ssi, aku ingin masuk!” pinta Hanna tiba-tiba.

“Ne?”

“Aku ingin mencubit bocah gendut yang duduk di depan sana…” Lanjut Hanna.

“Mwo?”

♣♣♣

 

“Oppa, kau mau kemana?”

“Tidak akan kemana-mana, hanya ke bawah sebentar,” Sehun menjawab tanpa mengalihkan fokusnya pada Soyu yang tengah memakai kembali pakaiannya.

Satu per satu ia turuni anak tangga, seraya memakai kemeja hitamnya. Rambut basahnya pun ia hiraukan. Membuat tetesan air di ujung rambutnya membasahi kemeja yang baru dipakainya itu. Pandangannya ia edarkan kesekeliling. Mencari keberadaan gadis yang terus mengacaukan fokusnya sedari tadi. Membuatnya tak bisa menikmati apa yang tengah ia lakukan, karena terus teringat akan dirinya. Namun,

Sepi.

Tak ada sosoknya. Sehun terus berkeliling mencarinya. Namun nihil, Hanna tak ada di rumah.

“Kemana kau, Hanna?”

“Tuan?” Panggil seseorang membuat Sehun refleks menoleh ke arahnya.

“Dimana Hanna?”

 

♣♣♣

 

Suzy menatap polos Hanna, begitupun dengan Hanna. Mereka hanya saling menatap tanpa ada niatan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. Terhitung, semenjak mereka saling memperkenalkan diri dan kemudian bermain bersama, bersama anak-anak play group. Dan kini, setelah kelas usai, mereka hanya saling memperhatikan dalam diam.

Suzy sendiri terdiam karena ia begitu mengagumi wanita di depannya. Rambut coklat panjang bergelombangnya, mata pure hazel-nya, hidung mancungnya, bibir mungilnya, rahang V line-nya. Membuat Suzy langsung mengagumi pesona wanita yang belum lama dikenalnya itu. Jangan lupakan kulit putih susu bak porselen-nya yang hanya dilapisi dress berwarna putih yang jatuh di atas lutut. Membuat kesan polos terlihat semakin ketara padanya. Sempurna. Pikirnya kagum.

Sementara Hanna, hanya bisa membatin tak kalah kagum pada gadis di depannya. ‘Myungsoo pintar memilih wanita,’ pikirnya naif.

“Kalian wanita, tidak seharusnya kalian saling mengagumi dengan saling tatap seperti itu,” Myungsoo mulai jengah—terlalu lama diacuhkan.

“Apa kau lapar?” Pertanyaan bodoh tiba-tiba saja Hanna lontarkan. Membuat Suzy mengerjap bingung. Pasalnya, itu bukanlah pertanyaan yang bagus untuk memulai perbincangan.

“N-ne,” jawabnya pada akhirnya—namun sedikit gugup.

“Kau dengar? Kami lapar, kajja kita makan,” pinta Hanna dengan tatapan memohon pada Myungsoo. Myungsoo yang melihatnya pun hanya bisa menggeleng pelan—tak habis pikir. Hanna sangat lugu, dan bagaimana bisa Sehun mampu menyakitinya. Melihat wajahnya saja, membuat siapa saja langsung menyukainya juga mengasihinya. Tapi, mengapa Sehun seolah tanpa hati menghancurkan perasaan gadis itu. Sementara kesalahan yang dibuatnya bukanlah murni dari kesalahannya. Kini, fakta baru Myungsoo dapat untuk mendeskripsikan seorang Oh Sehun—bodoh. Ya, kata itu tepat untuknya.

“Geurae… Kita cari tempat makan terdekat dari sini,” putus Myungsoo, seraya melangkah ke arah parkiran diikuti Hanna dan Suzy yang mengekornya dari belakang.

“Hanna-ssi?” Suzy menatap Hanna dengan senyum yang memperlihatkan gigi kelincinya.

“Heum?”

“Kau cantik,” pujinya membuat Hanna merona.

“Kau juga cantik,” Hanna terkekeh, membuat Suzy ikut terkekeh dibuatnya.

Tak butuh waktu lama untuk seorang wanita beradaptasi dengan teman wanitanya. Hanna dan Suzy bahkan sudah mulai berbincang–membicarakan seputar dunia wanita yang membuat Myungsoo tak henti-hentinya menggelengkan kepala.

Kebahagiaan Hanna pun bertambah dibalik kesedihannya yang telah memakan ruang hatinya. Dulu, ia hanya memiliki Krystal sebagai teman wanitanya. Namun, kesalahpahaman terjadi, hingga membuatnya kehilangan teman wanita satu-satunya itu. Dan kini, Myungsoo hadir dalam hidupnya. Membawa harapan baru untuknya juga keluarganya. Tak hanya itu, ia pun membuatnya mendapat teman baru, setelah sekian lama–ia hanya diam–kesepian.

Mereka pun sampai di tempat makan cepat saji. Hanna yang baru pertama ke sana pun mengelilingkan pandangannya kesekeliling—sebelum memasuki tempat makan itu. Dan saat itu pula ide konyol melintas dalam benaknya.

“Suzy, ambil fotoku…”

“Ne?”

“Aku ingin mengambil foto di sini, tapi aku tidak bawa handphone,” Hanna tersenyum dengan begitu manisnya. Dan secara tidak langsung, ia meminta Suzy untuk memotretnya dengan menggunakan handphone miliknya.

“Oke… Myung kau masuk duluan saja,” titah Suzy tanpa hati, seolah mengusir kekasihnya itu secara tidak langsung.

“Dasar wanita,” gumamnya, seraya melangkah melewati Hanna yang sudah mengambil pose di depan café tersebut–dengan posisi menyamping.

“Hana, dul, set…” Suzy memberi aba-aba, lantas segera melihat hasil jepretannya di ponsel gengam miliknya itu. “Cantik, tapi kau terlihat gemuk Hanna,” Suzy menatap Hanna yang berjalan menghampirinya. Hanna yang mendengar kata ‘gemuk’ keluar dari mulut Suzy pun-tersenyum lebar. Lantas ikut memperhatikan hasil gambarnya.

hanna

Mata Hanna terus tertuju pada bagian perutnya. Memperhatikannya dengan seksama, –dengan senyum manis yang masih menghiasi wajah cantiknya. Detik itu juga ia sadar, tubuhnya memang mulai berubah. Terlihat dari lengannya yang semakin berisi juga pipinya yang semakin chubby. Meski kadar kecantikannya tetap sama—tidak menurun.

“Kau mau berfoto juga?” Tanya Hanna kemudian.

“Ah.. Ani,” tolak Suzy halus.

“Kalau begitu kita berfoto bersama,” Hanna mengambil alih ponsel Suzy, lantas mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua. Suzy yang tak bisa menolaknya (lagi) pun akhirnya menurut, ikut berpose bersama gadis itu.

Beberapa gambar mereka ambil. Hanna meminta Suzy untuk menyimpannya, agar suatu saat nanti ketika mereka kembali bertemu–Hanna bisa memintanya. Dan saat itu Hanna pastikan, ia akan membawa ponselnya. Meski dalam hati ia ragu, Sehun akan mengembalikan ponselnya atau tidak. Karena semenjak Sehun mengurungnya, segala macam bentuk alat komunikasi pun dirampasnya. Agar Hanna tak berbuat macam-macam saat ia tak ada.

Hanna dan Suzy kembali melanjutkan langkah mereka memasuki  café tersebut. Tak ingin membuat Myungsoo menunggu lebih lama lagi. Namun Hanna, masih menyempatkan diri memandang kesekeliling. Mencoba mengingat tempat itu, agar ia bisa mengunjunginya lagi lain kali. Namun, fokusnya tak sengaja menangkap sebuah gedung yang tak asing baginya—saat fokusnya itu hendak kembali tertuju kebagian dalam café.

“Kantor Kejaksaan Pusat Distrik Seoul.” Hanna bergumam, matanya mengerjap tak percaya. Namun tak lama, Suzy menarik tangannya untuk segera mengikutinya masuk ke dalam cafe tersebut.

“Kau ingin makan apa, Hanna?” Tanya Suzy riang, setelah mereka mendudukan tubuh di kursi yang sudah Myungsoo booking untuk mereka.

“. . .” namun tak ada jawaban dari Hanna. Ia bungkam dan terlihat sibuk dengan dunianya. Suzy yang tak mendapat respon pun, hanya bisa menunggu seraya menatap ke arahnya.

Sementara di tempat yang sama, namun di titik yang berbeda. Ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan Hanna, terhitung semenjak kedatangannya memasuki café itu. Ada perasaan rindu yang begitu membuncak ketika melihat sosoknya. Namun, ada perasaan takut juga yang menghalanginya untuk tidak menghambur mendekap gadis itu, saat itu juga.

“Hanna, bogoshipo~” dan pada akhirnya, hanya kata rindu yang terucap.

Hanna sendiri masih terdiam. Sampai Suzy berinisiatif untuk menyentuh bahunya—demi menyadarkannya. Hanna yang sempat larut dalam dunianya itu pun kembali, lantas menatap penuh tanya ke arahnya.

“Kenapa kau melamun?”

“Mianhae,” Hanna menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Kau mau makan apa?” Suzy menyodorkan daftar menu pada Hanna, yang kali ini langsung disambut antusias olehnya. Detik berikutnya, bibir mungil Hanna menyebut rentetan nama makanan yang ingin dimakannya. Membuat Myungsoo menelan ludahnya perlahan, mendengar jumlah porsi yang dipesannya. Ini diluar dugaan, kantungnya bisa tipis setelah ini. Ia pun tak menyangka dengan selera makan Hanna yang menurutnya-eumm-berlebihan.

Setelah membuat dua sejoli itu terheran-heran akan sikapnya. Hanna justru bersikap acuh dengan kembali memperhatikan foto dirinya yang tadi diambil Suzy.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Hanna mengambil pose seperti itu. Meski ia tau tubuhnya akan terlihat berisi jika mengambil posisi seperti itu. Karena ia memang ingin tau, seberapa buncit perutnya jika dilihat dari samping. Awalnya Hanna memang tidak tahu harus bagaimana, ia tidak tahu harus bersedih atau bahagia saat menyadari kehadirannya. Karena ia tau, kehadirannya hanya akan menambah masalahnya. Namun kini, Hanna sepenuhnya sadar.

Aku akan menjadi seorang Ibu.

Sorot mata Hanna mulai sulit untuk diartikan. Terdapat kesedihan, kebahagiaan, kekhawatiraan, juga ketakutan di dalamnya. Membuat siapa saja yang menatapnya, ikut tersedot dalam sorot kelam penuh arti itu.

Kau ada, kau hadir, kau hidup, dan kau akan tumbuh di dalam rahimku.

Hanna tersenyum tipis menyadari itu. Seraya mengelus perutnya lembut.

Maafkan atas keegoisanku yang sempat berpikir mati lebih baik daripada hidup seperti ini. Karena kini kusadari sepenuhnya, ada kau yang harus aku lindungi. Ada kau yang kini hidup di dalam rahimku—Membutuhkanku. Meski aku tahu, ayahmu tak akan mau menerima kehadiranmu. Meski ia tahu, kau adalah darah dagingnya. Tapi aku Ibumu, dan aku akan menjagamu-melindungimu dari tangan kotor ayahmu.

Hanna membatin sendu. Menatap pantulan dirinya dalam foto itu. Ia bahkan tersenyum miris, saat menyadari matanya menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam—dalam foto itu. Membuat Hanna sadar, bahwa ia bukanlah tipe gadis yang mampu menyembunyikan perasaannya. Terlalu naifkah ia? Kali ini Hanna tersenyum kecut dibuatnya. Namun, ada satu hal yang sangat ingin Hanna ketahui,

Berapa usiamu di dalam sana, Baby?

Hanna merutuki kebodohannya, karena ia hanya tau ‘Ia’ ada, tanpa tau berapa usianya kini.

“Hanna, neo gwaenchana?” See, Suzy yang belum lama mengenalnya pun tau. Bahwa ia tidak dalam kondisi baik hari ini.

“Nan gwaenchana,” Hanna tersenyum dengan begitu manisnya. Seolah meyakinkan, ‘aku baik-baik saja’. Namun, Myungsoo bukanlah orang bodoh yang akan mempercayainya begitu saja. Ia bahkan tau apa masalahnya, meski ia tak sepenuhnya tau apa yang dirasakan gadis itu. Sementara Suzy, ia sudah bisa menebak gelagat murung Hanna. Dan Suzy pastikan, setelah ini-ia akan bertanya secara pribadi pada Myungsoo—mencari tau lebih dalam lagi, mengenai gadis yang belum lama dikenalnya itu. Sebelumnya, ia bukanlah tipe gadis yang mau repot mengurusi masalah pribadi orang lain, namun entah mengapa, Hanna sangat menarik perhatiannya. Hingga ia sangat menyukainya, sebagai—teman. Dan ia ingin mengenal Hanna lebih dalam lagi, lebih dari yang Myungsoo ceritakan, bahwa ia hanya istri dari sahabatnya.

Makanan mereka datang–diantar oleh dua orang pelayan di cafe itu. Hanna kembali terlihat antusias, bahkan ia ikut menata makanannya. Makan siang antar teman baru itu pun dimulai, tanpa ada rasa canggung sedikit pun diantara ketiganya.

Seseorang yang sejak tadi memperhatikan Hanna pun kembali tersenyum dibuatnya, saat melihat Hanna yang terlihat bingung memilih makanan mana yang akan dimakannya terlebih dahulu. Setelah sebelumnya, ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan olehnya. Ingin sekali ia segera datang menghampirinya—lantas menanyakan apa yang terjadi. Namun, ia tak sanggup untuk menanggung konsekuensinya. Ia hanya tak ingin Hanna terluka karenanya. Terlebih, kini Hanna tengah bersama dengan salah seorang orang kepercayaan Sehun.

Tak lama, fokusnya teralihkan dari Hanna. Saat menyadari ada pendatang baru di tempatnya berada. Matanya pun menatap ke arah dua orang pria dan satu orang wanita yang baru saja memasuki café tempatnya berada itu. Dan saat itu juga matanya membelalak tak percaya. Melihat postur tubuh juga wajah seorang wanita yang belum lama dikenalnya datang bersama mereka.

“Koyuki~” gumamnya shock akan fakta baru yang baru saja ia ketahui itu.

“Tempat biasa kita makan sudah ada yang menempati, Baek.” Himchan mengerucutkan bibirnya, menatap dua orang yeoja dan seorang namja yang menduduki tempat favorit mereka.

“Kita bisa cari tempat yang kosong,” Koyuki menepuk bahu Himchan, seraya mengedarkan pandangannya kesekeliling. Dan saat itu juga, ia menangkap sosok rekannya tengah bersama dua orang wanita.

Myungsoo.

Matanya memincing. Memperhatikan dua orang wanita yang duduk bersama dengannya secara bergantian.

Hanna.

Batinnya tak percaya. Meski nama terakhir yang disebutkannya bukan rekannya. Tapi Koyuki hafal betul akan sosoknya. Ia istri rekannya dan mantan pacar teman sejawatnya.

Baekhyun yang berada diantara mereka pun sudah menyadarinya, terhitung semenjak ia mengarahkan fokusnya pada tempat favoritnya itu. Sungguh, ia tak menyangka akan bertemu lagi dengannya, ah tidak, tapi melihat lagi sosoknya. Setelah pertemuan sepihak mereka beberapa hari yang lalu. Pertemuan dimana, hanya Baekhyun yang menyadari kehadirannya. Meski Baekhyun yakin, Hanna mengetahuinya disaat ia menyapanya diakhir—lewat kaca gelap mobilnya.

“Kita bisa duduk bersama mereka,” putus Baekhyun. Membuat kedua temannya menatapnya tak percaya. Meski mereka tau, tempat favorit mereka memiliki kursi panjang yang mampu menampung empat orang lagi, tapi bergabung bersama mereka adalah keputusan yang terdengar bodoh. Namun, tanpa menunggu persetujuan keduanya. Baekhyun sudah melangkah menghampiri.

Dadanya pun bergemuruh di dalam sana. Semakin jauh langkahnya, semakin dekat pula sosoknya. Ingin sekali Baekhyun berhambur memeluknya, menumpahkan segala kerinduannya pada gadis yang begitu dicintainya itu. Namun, ia urungkan niatnya saat kembali teringat akan status mereka kini. Fokusnya pun sempat teralih pada seorang pria yang duduk di hadapan Hanna dan saat itu juga Baekhyun tersenyum lebar.

Dewi Fortuna sedang memihaknya.

“Letnan Kim?” Sapa Baekhyun santai. Membuat semua mata yang berada di meja itu tertuju padanya. Tak lama, rekannya Koyuki dan Himchan ikut menyusulnya.

“Hey, Jaksa Byun… Kebetulan sekali…” Myungsoo berdiri, mengulurkan tangannya lantas disambut hangat oleh Baekhyun.

Hanna membatu. Menatap pria mungil berjas biru gelap itu. Otaknya bekerja lamban, hingga ia hanya mampu menatap sosoknya tak percaya. Belum lama ia memikirkannya, karena letak café yang ia kunjungi berhadapan langsung dengan tempat kerjanya. Namun kini, orang yang sempat hinggap di dalam benaknya itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Dan..,

“Annyeong haseyo, Hanna,” menyapanya. Membuat Hanna mengerjap lucu, semakin terkejut.

Baekhyun tersenyum melihat reaksi Hanna. Ribuan kupu-kupu di perutnya bahkan sudah berterbangan sejak tadi–menimbulkan suara bergemuruh yang luar biasa. Hingga menggetarkan hatinya juga memompa jantungnya lebih cepat.

“Kalian saling mengenal?” Myungsoo ambil bagian.

Aktingmu hebat, Myung. Koyuki tersenyum miring menatap rekannya. Jelas-jelas ia tahu, Baekhyun merupakan mantan kekasih Hanna.

“Dia temanku,” jelas Baekhyun seraya menatap Myungsoo, teman barunya. Teman? Ya, teman. Mereka belum lama saling mengenal. Dan Myungsoo adalah seorang polisi berpangkat Letnan Kolonel. Mereka bertemu saat melakukan kerja sama dalam penanganan kasus. Terlebih, Baekhyun merupakan seorang Jaksa yang berkompeten, hingga ia sering kali terlibat dalam kasus-kasus berat yang membuatnya bertemu pandang dengan orang-orang baru, seperti orang-orang dari anggota kepolisian juga NIS. Tak heran mereka bisa saling mengenal setelahnya.

Acara saling mengenalkan diri pun terjadi. Koyuki dan Myungsoo bahkan merasa seperti orang bodoh, karena bersikap seolah tak saling mengenal sebelumnya. Sampai pada akhirnya, Myungsoo mempersilahkan mereka untuk bergabung dengan senyum penuh arti dibaliknya.

Sementara orang yang berada di sudut ruangan itu, hanya bisa berdecak tak percaya. Niat awalnya yang hanya ingin menemui Baekhyun, justru disambut dengan fakta baru yang begitu mencengangkan. Dimana pelatihnya, Koyuki—ternyata seorang Jaksa yang berteman baik dengan Baekhyun. Satu lagi, Myungsoo—ternyata ia seorang Letnan? Astaga. Luhan semakin gila dibuatnya. Namun satu hal yang Luhan sadari, permainan Black ID begitu picik. Beberapa anggotanya disebar, lantas menyamar menjadi aparat negara. Dan satu hal lagi,

Baekhyun dalam masalah.

Pekerjaannya, bahkan hidupnya tak jauh dari mereka (Black ID). Namun, ada satu hal juga yang mengganjal hatinya. Sejak kapan Myungsoo menjadi seorang Letnan Kolonel? Sementara semasa ia bekerja di NIS, ia tak pernah tahu ada seorang Letnan bernama Myungsoo.

Luhan akan mencari tau.

Koyuki duduk di sebelah Hanna. Menatap gadis itu lewat ekor matanya. Sementara Hanna sendiri berusaha bersikap sewajarnya saat kembali berhadapan dengan mantan kekasihnya itu. Meski jantungnya terus bergerilya di dalam sana.

Baekhyun sendiri, sesekali mencuri pandang ke arahnya. Namun hal yang sama ia lihat. Hanna hanya diam, bahkan ia tak menyentuh makanannya lagi–tak seperti Suzy yang bersikap biasa. Tak hanya itu, Hanna pun tak ikut berbincang bersama mereka.

Ia gugup dan Baekhyun tau itu.

Senyum kecil pun terus bertengger manis di wajah Baekhyun. Tidak berubah. Hanna-nya masih sama. Dan ia menyukai itu.

“Hanna, kenapa hanya diam saja?” Baekhyun kembali menyapa, membuat semua fokus kini hanya tertuju pada Hanna. Hanna yang mendengarnya pun perlahan mengangkat wajahnya, demi menatap orang yang sudah mengajaknya bicara itu. Dan saat itu juga, manik mereka kembali bertemu.

Bisa Hanna rasakan, jantungnya terus memompa tak tentu di dalam sana. Namun tak bisa dipungkiri, ia menikmati itu. Bahkan kini, hazelnya tak lepas dari manik coklat Baekhyun. Begitupun dengan Baekhyun, ia begitu menikmati setiap lekuk wajah cantik yang begitu ia rindukan itu, juga menikmati setiap detak jantungnya yang kembali bekerja tak normal.

 Tap Tap Tap

 

Suara langkah kaki kembali menghampiri meja mereka. Luhan yang melihat itu dari kejauhan pun kembali membelalakkan matanya. Lantas ia segera bangkit, beranjak dari tempat itu dengan sesegera mungkin. Seolah tak ingin ketahuan juga tak ingin mencari masalah dengan ‘orang’ yang baru saja datang itu.

Sementara, mereka baru menyadari kehadiran orang itu, saat ia sudah berdiri tepat di samping meja mereka.

Semua mata pun tertuju padanya tak terkecuali Hanna. Wajah datar dengan sorot mata dingin nan menusuk pun terpancar darinya. Membuat siapa saja yang melihatnya seketika membeku di tempat. Hanna sendiri merasa nafasnya tercekat, menatap wajah yang jauh dari kata ramah itu.

“Sehun,” Myungsoo membuka suara dengan senyum kecil di bibirnya. Lantas dibalas dengan senyum tipis Sehun. Hanna yang melihatnya pun tanpa sadar kembali meremas ujung dress-nya kuat. Jantungnya bahkan sudah memompa lebih cepat dari sebelumnya.

Menarik.

Koyuki ikut tersenyum kecil dibuatnya. Seraya memperhatikan ekspresi-ekspresi wajah orang-orang di sekitarnya. Meski tak kentara, tapi Koyuki tidaklah bodoh untuk mengetahui betapa kesalnya Baekhyun dibalik wajah tenangnya, karena moment-nya dan Hanna harus terganggu dengan kedatangan Sehun yang secara tiba-tiba. Juga betapa marahnya Sehun, dibalik wajah datarnya, karena melihat istri dan mantan pacarnya saling tatap dalam diam. Jangan lupakan ekspresi Myungsoo yang begitu menikmati perang dingin antar keduanya. Juga ekspresi tegang wajah Himchan, dan ekspresi tak tahu apa-apa milik Suzy. Namun ekspresi takut dilihatnya dari wajah Hanna. Membuatnya merasa–iba.

“Myungsoo-ssi, terima kasih sudah menjaga, istriku..” Sehun membuka suara, dengan tekanan disetiap suku katanya. Membuat Baekhyun mendengus, menahan amarah.

“Nde, cheonma… Bergabunglah, kita makan siang bersama…” Ajak Myungsoo, senormal mungkin.

Baekhyun melirik Myungsoo. Mereka saling mengenal? Astaga, Baekhyun mengerjap tak percaya, bagaimana bisa orang seperti Sehun terlihat berkawan baik dengan seorang anggota polisi? Bahkan tadi ia bilang, terima kasih sudah menjaga istriku. Oh ayolah, yang benar saja. Ia menyewa seorang polisi untuk menjaga Hanna. Ini gila. Pikir Baekhyun kalut. Tidak taukah Myungsoo, Sehun bukanlah orang baik-baik.

“Mianhae, aku datang kemari hanya untuk menjemputnya.” Jawab Sehun tak kalah ramah. Koyuki bahkan sudah memutar bola matanya malas. Mereka menjijikan. Umpatnya kesal.

“Hanna, kajja kita pulang!” Sehun tersenyum dengan begitu manisnya. Senyum yang penuh akan ambisi juga kepura-puraan. Hanna yang tak ingin mendapat masalah pun lantas beranjak dari duduknya, lalu meraih uluran tangan Sehun tanpa ragu. Meski pikirnya kalut saat ini, menerka-nerka apa yang akan Sehun lakukan padanya setelah sampai di rumah. Dan apakah wanita yang dibawa Sehun masih ada?! Hanna menggertakan giginya pelan saat ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi. Saat Sehun kembali membawa wanita lain pulang ke rumah mereka.

“Kenapa buru-buru?” Baekhyun tersenyum menantang menatap Sehun. Sementara Sehun, hanya menatap datar ke arahnya. Tanpa ekspresi. Tapi tak bisa dipungkiri, ia sangat kesal saat mendapati Hanna bersama Baekhyun. Meski mereka tidak sedang berdua.

“Biarkan saja Hanna di sini, nanti aku sendiri yang akan mengantarnya pulang,” lanjutnya.

Deg.

Baekhyun gila. Himchan menepuk kepalanya frustasi. Koyuki yang mendengarnya pun ikut panas.

Sementara Hanna, hanya bisa menganga tanpa sadar.

“Hanna sedang sakit, jadi aku tak bisa membiarkannya berlama-lama di luar…” Jawab Sehun tenang. Tangannya pun mengelus lembut tangan Hanna yang berada dalam genggamannya. Hanna yang mendengar kata ‘sakit’ keluar dari dalam mulut Sehun pun refleks menatapnya.

Sehun tahu, aku sedang sakit?

Baekhyun sendiri refleks menatap Hanna. Menatap penuh tanya ke arahnya. Jadi Hanna sedang sakit? Rasa khawatir pun tiba-tiba saja memenuhi relung hatinya.

“Hati-hati di jalan kalau begitu…” timbruk Myungsoo melerai perang dingin antar kedua namja itu.

Hanna sendiri membungkuk, memberi salam perpisahan tanpa membuka mulutnya. Hanya gerakan tubuh. Lantas mengikuti Sehun yang mulai menariknya. Dengan gengaman kuat di pergelangan tangannya. Dan Baekhyun, hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan luka baru di hatinya.

“Mianhae~” cicit Hanna takut. Namun Sehun dapat mendengarnya dengan baik. Lantas menatap Hanna yang tengah berjalan menunduk di sampingnya–lewat ekor matanya.

“Gwaenchana… Jangan ulangi lagi,” Tangan Sehun beralih merangkul bahu Hanna. Hanna yang baru saja mendengar nada lembut keluar dari mulut Sehun pun mendongat menatapnya. Lantas menghentikan langkah kakinya–tepat saat mereka sudah berada di luar café tersebut.

Hanna masih menatap Sehun yang juga ikut terhenti karenanya. Manik mereka bertemu, membuat Hanna semakin takut juga gugup dibuatnya. “K–kau ti-dak marah?” tanyanya ragu.

 

Sehun tersenyum mendengarnya. “Ani… Aku cukup terhibur hari ini,” Tanganya meraih pinggang Hanna posesif, lantas kembali menuntun Hanna untuk melanjutkan langkahnya–menuju parkiran. Hanna sendiri terdiam–bingung. Ia tak mengerti dengan maksud terhibur yang Sehun maksud.

 

~To Be Countinued~
♥♥

Selesai juga Chapter 8-nya…

Sebelumnya maaf untuk segala kekurangannya. Dan terima kasih untuk kalian semua yang masih mau baca FF ini, menanti FF ini, juga comment di FF ini. Terima kasih, aku merasa sangat dihargai saat membaca comment-comment’an dari kalian di chapter-chapter sebelumnya. Terima kasih banyak pokoknya. Karena aku ada karena kalian ada^^

semoga jumlah comment di chapter ini sama kaya comment di chapter sebelumnya ya, karena aku jadiin comment di chapter sebelumnya tolak ukur untuk post chapter selanjutnya..hee

sekali lagi terima kasih^^

Happy Maulid Muhammad SAW…/telat/

ini cast kita..

Oh Sehun

sehun2

Khaza Hanna

hanna2

Byun Baekhyun

baekhyun

Xi Luhan/Khaza Lu (nama cast terserah aku ya sebagai authornya)

luhan

Myungsoo

myungsoo

Bae Suzy

suzy

Koyuki

yuki

3 terakhir adalah cast tambahan, yang akan berperan penting nantinya.

Oke, sampai jumpa di next chapter… Bye^^

saranghae yeorobun

Regards ❤

Sehun’Bee

Advertisements

606 comments

  1. Omg!!! Terhibur??? Karna apa? That B*tc*? Atau Jangan2 Dia Udah tau Hanna Hamil??? Omg!!!! Poor Baek,,, why he so desperately inlove with Hanna? He’ll get hurt cz many Black ID member around him >…< be safe Oppa.. NEXT!

    Like

  2. cieEe..thorya shiper muzy couple nih…sama dong#tosdulu
    ..lulu benr kan hanaya haml..
    Gmana reaksìnya sehun y kalau tw kalau hananya hamil..

    Like

  3. Tumben g marah..wae???hanna msh suka ma baekhyun y…blm ada rasa cinta gitu ma sehun..pa blm nyadar..asik hanna punya tmn bru..

    Like

  4. Yey hanna hamil 😀 😀
    Kira” sehun kalau tahu gmna yahh ??seneng apa gmna ??
    Tehiburrrr ?? Apa maksudnya hun ?
    Itu foto baekhyun cool banget 😀
    Ijin baca nyampe akhir yah kak ff nyaa .. taget malam ini langsung selesai….bikin penasaran soalnya
    Ok gx lupa bilang SEMANGAT SELALU KAKAK !!!!! 🙂

    Like

  5. koyuki member black id ya?
    sama baek. hati hati baek;((
    btw baek gatau myungsoo itu anggota black id juga??…..
    luhan sendiri ya di cafe itu. cie jonez

    Like

  6. Myungsoo seorang letnan ? Wow gak nyangka😱wahh ternyata bener hanna hamil, mungkin perasaannya sehun bakal berubah kalau tau hanna hamil, kayak waktu sama krystal dulu. Apa arti “terhibur” bagi sehun ????😰

    Like

  7. “Melindungi orang yang kita sayangi tidak harus dengan menyakiti perasaan orang lain, apalagi sampai melukai orang itu. Karena kebahagiaan didapat dengan cara yang baik juga tulus.” kalimat yg aku suka ^^ oya kayakbya sehun tau deh hanna hamil

    Like

  8. Yaaap akhirnya luhan resmi masuk blackid… hanna sakit hati lagi.. sehun bawa cewe lagi… konflik nya adaaa aja lagii… bener2 gak nyangka bakal se seru inii… tapi cute banget pas bagian hanna minta fotoinn buat ngeliat badannyaa, sama pas sehun gak marahh♡♡♡

    Like

  9. Tuhkan hanna hamil. Sehun kok bw cewek kerumah lagi si kasihan hanna dong. Maksud sehun ngomong “terhibur” apa? atau jangan2 sehun udah tau kl hanna hamil? Uwaa makin penasaran

    Like

  10. hanna beneran hamil. nyesek aslinya,,dan Sehun balik lg menyebalkan.. di kira udh ngakuin semuanya dia lunak dikit aja. Ga kaya dulu jg ga apapa seengganya lebih bersahabat deh. Terima takdir.. eh ini malah bawa jal*ng ke rmh. Untung myungsoo dteng seengganya teralihkan lah..
    Eh di kira yg perhatiin hanna baekki eh taunya baeki muncul belakangan bikin dag dig dug sama tingkah nekatnya asli menegangkan mana Sehun muncul lg. Salut sama sikap beraninya baeki. Emang ngajak berantem..
    Ini Sehun kenapa coba?? Curiga sama sikap manisnya nih.. hukuman apa lg yg hanna terima entar..
    Eh btw baekki ga curiga sama myungsoo bisa bareng hanna + kenal sama Sehun??
    Sekian bacot ga jelasnya kaa. Izin baca next chapnya.. good luck kaa.. 😀

    Like

  11. ckck anda pusing frustasi sama saya juga. tumben itu si sehun nggak marah marah kayak biasanya ?? dia kesambet ya ?? haha fighting kak

    Like

  12. Hanna hamil , apa sehun tau dan bakal nerima janin yg dikandung hanna ya 😢
    Sehun tega bawa wanita lain kerumah , padahal udah ngungkapin perasaan nya sama hanna

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s