Regret [Chapter 6]

REGRET 6

Title : Regret | Dissapointed

Author : SehunBee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun as Mafia
Khaza Hanna as Sehun’s Wife
Xi Luhan as Detective
Byun Baekhyun as Jaksa

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17

Lenght : Series/Chapter

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku, jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit Poster by @lulubeib

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4 ¤ Chapter 5 ¤ [TEASER] Chapter 6

Summary

Dari hari ke hari aku selalu berharap kau kembali, meski aku tau itu mustahil… Tapi setidaknya aku tau kau ada untukku… Terima kasih Sehun-ah, atas semua kenangan baik dan buruk yang telah kau berikan…

¤

Bukankah kau sangat mengenalnya? Bagaimana bisa kau berbuat jahat padanya?

¤
¤¤¤
¤Regret¤
¤¤¤
¤


“Osoku natte, sumimasen! (Maaf, aku terlambat!)” Sehun menunduk hormat. Meminta maaf atas kelancangannya. Semua mata yang berada di ruangan itu pun langsung tertuju padanya. Tak terkecuali, seorang pria berdarah Jepang yang kini tengah menatapnya dingin,–tak suka. Ia tau, Sehun tidaklah bodoh untuk memahami budaya Jepang dan negaranya sendiri—yang tak pernah mengenal kata terlambat. Tapi, Sehun justru datang terlambat pada pertemuan penting mereka. Sungguh lancang.

“Dou itashimashite (Tidak apa-apa)” Ujarnya pada akhirnya, setelah sebelumnya menghembuskan napas kasar—menahan amarah. Dagunya bergerak pelan, mengisyaratkan pada Sehun agar segera mengisi satu-satunya kursi yang kosong diantara 20 kursi yang ada di ruangan itu. Semua mata yang merasa dirugikan pun menatap tak percaya ke arah pemimpin mereka–tidak bisanya ia berlaku lunak pada bawahannya. Terlebih pada seseorang yang telah melakukan kesalahan.

“Arigatou gozaimasu, Osamu-sama. (terima kasih banyak, Tuan Osamu.)” Sehun sendiri tak perduli akan hal itu. Ia hanya menurut dan kemudian duduk di kursi yang ditunjuk olehnya. Beberapa tatapan tak suka pun, masih tertuju padanya. Pasalnya, mereka telah dibuat menunggu olehnya. Dan ia bebas dari hukuman begitu saja. Bahkan semua orang tau, Korea dan Jepang adalah negara yang paling menjunjung tinggi nilai kedisiplinan, terutama kedisiplinan terhadap waktu juga aturan yang berlaku.

 

“Kau beruntung!” Ujar seseorang yang duduk di samping Sehun, tanpa mengalihkan perhatiannya pada pria yang diajaknya bicara. Sementara Sehun, hanya meliriknya sekilas tanpa berniat menimpali ucapannya.

“Hajimemashou! (Mari kita mulai!)”

Pertemuan bulanan antara pemimpin Front Organization pun akhirnya dimulai. Setelah sebelumnya tertunda, hanya karena menunggu satu anggota yang belum hadir. Pembahasan tentang pasar global yang mulai berada dalam kendali mereka pun menjadi topik utama. Strategi pasar dalam memonopoli perdagangan pun kembali mereka susun, demi menaklukan otoritas daerah jajahan mereka, Korea Selatan. Seolah ingin mengikuti jejak Yardies yang membuat takluk pemerintah Inggris juga Yakuza yang membuat bungkam pemerintah Jepang.

Para pegawai pemerintah yang ikut ambil bagian dari pekerjaan kotor mereka pun menjadi topik selingan—karena memang orang-orang dari pemerintahan sangatlah berperan penting dalam kelancaran perdagangan ilegal yang tengah mereka lakukan. Mereka yang mengaku bekerja untuk rakyat, tapi masih haus akan harta sangatlah mudah untuk dimanfaatkan oleh organisasi terorganisir semacam Black ID. Bahkan kerjasama seperti itu sudah menjadi hal lazim bagi orang-orang yang mengerti politik. Asal bisa menyembunyikan wajah busuk dibalik kedok, semuanya akan aman terkendali. Itulah yang dilakukan Front Organization sebagai organisasi depan yang menampilkan wajah moderat, demi mengendalikan kepercayaan publik. Berbeda dengan orang dalam yang bertugas menghabisi langsung orang-orang yang berkhianat pada mereka,—tanpa ampun dengan cara yang keji. Seperti kasus yang menimpa Park Jung Soo 4 tahun silam, juga kasus-kasus sebelum itu. Mereka dibunuh karena mereka berkhianat, kata maaf pun tak mereka dengar. Berkhianat maka Mati itulah motto kesetiaan mereka. Semua itu mereka lakukan hanya demi melindungi kekuasaan, harta, dan tahta yang telah mereka raih.—Kejam—.

Tapi semua itu, tak membuat gentar seseorang yang sudah berniat melakukan kudeta sejak lama, ah tidak, bukan kudeta. Ia hanya ingin menjatuhkan kepemimpinannya, tanpa berniat menggantikan posisi kekuasaannya. Ia hanya ingin hidup bebas tanpa aturan yang mengikatnya. Ia hanya merindukan kehidupannya yang dulu, meski semuanya telah berubah.


¤
¤¤¤
¤Regret¤
¤¤¤
¤

 
Hanna terdiam, menatap sebuah figura kecil berbentuk persegi panjang di tangannya. Matanya menatap sayu gambar di dalamnya. Pikirannya menerawang jauh. Rindu akan kenangan masa lalunya.

Sebuah foto keluarga pun tak membantu mengurangi rasa rindunya. Wajah blasteran Korea-Cina milik Eommanya yang tengah tersenyum pun, tak mampu menenangkan hatinya, juga senyum milik Appanya. Semuanya hanya membuat hatinya semakin tercabik rindu. Oppanya yang menjadi satu-satunya tempatnya bergantung pun, kini tak ia ketahui dimana keberadaannya. Semuanya telah berubah. Eommanya telah pulang ke hadapan-Nya, Appanya diambang kematian, dan Oppanya tengah mempertaruhkan hidupnya demi dirinya.

Trak.

Hanna menaruh kasar figura kecil itu. Kemudian berjalan keluar kamarnya dengan wajah yang ditekuk. Belum lama, ia merasakan kesedihan yang begitu menyiksa juga rasa rindu yang begitu mendalam, tapi kini, ia merasakan kekesalan yang begitu luar biasa—entah mengapa. Bahkan, ia sangat ingin memecahkan barang-barang mahal yang berada di rumah Sehun saat ini juga, demi melampiaskan kekesalan di hatinya itu.

 

“Nyonya, Anda mau ke mana?” Seorang penjaga menahan pergerakan Hanna, setelah ia keluar dari dalam kamarnya. Hanna yang tengah berusaha mengendalikan emosinya itu pun, hanya menatapnya tajam,—tak suka.

“Bukan urusanmu!” Ujar Hanna pada akhirnya, masih dengan tatapan sengitnya.

“Tuan melarang Anda untuk keluar rumah, Nyonya!” Pria bertubuh kekar itu mengingatkan. Seolah tak gentar dengan death glare yang tengah Hanna berikan padanya.

“Aku tau! Aku hanya ingin pergi ke taman.”

“Boleh, jika hanya taman di belakang rumah.”

“Aniyo! Aku ingin pergi ke taman yang ada di kawasan komplek perumahan.” Ujar Hanna dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Membuat pria yang berada di hadapannya itu mengerjap pelan.

“Tidak. Tuan melarang Anda untuk keluar rumah.” Ingatnya lagi. Membuat Hanna mendengus kesal.

“Ne Nyonya. Lebih baik Anda duduk manis di depan TV sembari menunggu Tuan pulang nanti sore.” Timpal salah seorang lagi. Membuat Hanna semakin kesal.

“Dan ada baiknya Anda menurut Nyonya. Daripada melakukan hal konyol seperti kemarin.” Hanna mengepalkan tangannya kesal, bahkan kuku-kukunya ikut memutih akibat tekanan yang ia berikan. Matanya pun teralih, menatap sengit satu per satu para pengawal pribadinya itu. Sehun tidak pernah main-main, bahkan ia memerintahkan 10 orang langsung untuk mengawasinya. Dulu, ia hanya diawasi oleh 3 orang saja dan saat itu, Sehun masih memberikannya kebebasan untuk keluar rumah. Tapi kini, Sehun menambah jumlah orang-orangnya tanpa membolehkannya keluar rumah. Menyebalkan.

“Siapa bilang? Sehun mengizinkanku keluar rumah. Asal kalian ikut bersamaku.” Dusta Hanna meyakinkan. Membuat para pengawalnya, menaikkan sebelah alis bingung. Mereka pun saling tatap, seolah mencari kebenaran lewat tatapan itu.

“Baiklah. Aku akan menghubungi Tuan Sehun terlebih dahulu.” Salah seorang dari mereka mengeluarkan ponselnya dan dengan gerakan tiba-tiba Hanna merebutnya.

“Kita langsung pergi.” Tak ingin ketahuan. Hanna langsung berjalan cepat menuju anak tangga. Demi meraih gagang pintu utama dengan segera. Mereka yang menyadari gelagat aneh Hanna pun langsung mengejarnya. Tapi sayangnya mereka kalah cepat. Hanna sudah duduk manis di kursi penumpang mobilnya. Lalu mengisyaratkan agar para pengawalnya menuruti kemauannya lagi. Tanpa sepengetahuan Sehun.

“Aku akan menghubungi Tuan nanti, sekarang turuti saja kemauannya.” Titah salah satu dari mereka. Tak ingin mencari masalah dengan mengundang kemarahan Hanna seperti kemarin.

“Baik..”

 

¤

 

Hanna berjalan pelan diikuti oleh para pengawal pribadinya. Pemandangan alam yang tertata rapi di taman itu pun tak membuat mood-nya kembali. Perasaannya berkecamuk, tak tentu apa yang ia pikirkan. Bahkan Hanna tak meyadari, ia keluar hanya dengan menggunakan hot pants hitam dengan atasan tank top yang dibalut jaket tanpa lengan. Kulit putih susunya pun terekspos begitu saja, membuat beberapa pasang mata tertuju padanya—tergoda akan keindahan tubuhnya. Tapi Hanna terlalu sibuk dengan dunianya, sehingga ia tak menyadari itu. Sampai pada akhirnya, ia mendudukan tubuhnya di atas pagar kayu pembatas. Matanya menerawang jauh, dan tanpa disadari ingatannya tiba-tiba saja membawanya kembali pada kejadian semalam.—-Pertemuan antara Baekhyun dan Sehun.

 

FlashBack On

“Baekhyun-ah…”
Hanna hendak membuka pintu mobilnya, tapi sayangnya pergerakannya ditahan oleh sebuah tangan kekar.

“Lebih baik Anda tetap di dalam Nyonya!” Salah satu pengawal pribadinya yang merangkak menjadi sopir memperingatkan. Tanpa melepas cengkraman lengannya pada pergelangan tangan Hanna.

“Lepaskan aku. Biarkan aku turun!”

“Tidak. Lebih baik Anda duduk manis di sini, Nyonya! Lagi pula mencampuri urusan antar lelaki itu tidak baik.” Pria itu tersenyum miring, menatap kilatan amarah pada mata pure hazel Hanna.

“Itu pun, jika Anda tidak ingin pria mungil itu terluka.” Lanjutnya membuat Hanna lemas seketika. Dan perlahan matanya kembali terfokus pada Baekhyun dan Sehun yang tengah berdiri saling berhadapan,—entah membicarakan apa.

 

“Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, Mr. Oh,” ujar Baekhyun santai, “biasanya kita hanya bertemu di kantor kejaksaan saja.” Lanjutnya dengan senyum miring yang terkesan meremehkan. Tapi Sehun, hanya menatapnya datar.

“Hitori? (Sendirian?)” Tanyanya, seolah tak melihat keberadaan Hanna.

“Ani..”

“Kalau begitu, biarkan aku menyapa istrimu juga..” Baekhyun terkekeh ringan. Merasa seperti orang bodoh, karena membongkar kebohongannya sendiri.

“Zannen desu (Sayang sekali), kami harus segera pulang. Sampai jumpa Jaksa Byun, senang bisa bertemu denganmu!” Sehun kembali melanjutkan langkah kakinya, tapi Baekhyun kembali menghentikan pergerakannya,

“Watashi no Hanna (Hanna milikku)”

 

Deg.

 

Otak Sehun bekerja lamban. Ia baru menyadari, sedari tadi Baekhyun mengajaknya berbicara menggunakan Bahasa Jepang, yang secara tidak langsung—Baekhyun telah memancingnya. Dan itu berarti, Baekhyun sudah mengetahui semuanya.

“Kau~” Sehun tak melanjutkan ucapannya. Ia hanya tersenyum kecil menatap Baekhyun.

“Ne Sehun-ah..” Baekhyun mengiyakan apa yang ada di dalam benak Sehun. Seolah dapat membaca semuanya. “Tak lama lagi, kau akan kembali berurusan dengan hukum.” Lanjutnya. Membuat senyum Sehun semakin lebar.

“Sebaiknya kau berhati-hati, Baek. Bisa saja orang itu menyuruhku untuk membunuhmu.” Sehun tak menyangka, Baekhyun sudah mengetahui siapa pemimpinnya dalam waktu secepat itu.

Tangan kanan Baekhyun bergerak pelan. Kemudian jari telunjuknya ia tempatkan di depan bibir. “Ssshht… Itu sebabnya kau harus tutup mulut Mr. Oh.”

“Ia bahkan bisa mendengar suara semut berjalan. Tanpa aku bersuara pun, pergerakanmu akan terlacak olehnya.”

“Terima kasih atas peringatanmu. Tapi, satu hal yang aku tau,” Baekhyun menggantungkan kalimatnya, membuat Sehun menunggu dengan wajah tenangnya.

“Kau membencinya, karenanya kau memiliki status yang mengerikan, hingga kau tak bisa mengungkapkan perasaanmu pada gadis yang amat kau cintai—karena takut, persahabatan kalian akan hancur setelahnya.” Baekhyun kembali menyinggung masa lalu yang begitu menyakitkan bagi Sehun. “Sampai pada akhirnya, kau melampiaskan semuanya pada gadis yang begitu mencintaimu.”

Sehun masih terdiam. Ia hanya bisa membenarkan ucapannya dalam hati. Karena pria Jepang itu, ayahnya ikut terlibat dan setelahnya, ia pun ikut terlibat. Bahkan ia dilatih untuk menjadi seorang sniper sejak duduk ditingkat akhir sekolah dasar. Sejak saat itulah, ia selalu takut Luhan dan Hanna akan membencinya juga menjauhinya, jika mereka mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Tapi nyatanya, ia sendiri yang membuat ketakutan itu terjadi. Saat ia membiarkan cinta yang memegang kendali, dengan membiarkan sebuah kebohongan menutupinya. Sampai pada akhirnya, benci menguasai dirinya saat kebohongan akan perasaannya sendiri tak kunjung terbalaskan.

“Krystal pergi bukan karena Hanna. Kau dibutakan oleh perasaanmu sendiri Sehun. Dan aku harap, masih ada sisi kemanusiaan dalam dirimu.” Baekhyun melangkah mendekat. “Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Jadi, jaga dia baik-baik!” Tangan kanan Baekhyun menepuk pelan bahu kanan Sehun. Sebelum akhirnya, ia melangkah mendekati jendela kaca penumpang.

 

“Chagi.. Jaga dirimu baik-baik!” Baekhyun tersenyum dengan begitu manisnya pada seseorang yang berada di balik kaca itu. Sementara orang yang berada di baliknya, hanya bisa menatap sayu ke arahnya. Bahkan sampai Baekhyun berbalik dan pergi, tatapan itu masih sama. Tapi perlahan, bibir tipisnya membentuk sebuah senyuman seiring dengan jatuhnya setetes liquid dari mata indahnya. Seolah mengatakan ‘Aku merindukanmu,’

 

“Baekhyun-ah..”

End of FlashBack

 

Hanna menunduk dalam. Ia sangat ingin menangis, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk itu. Ia ingat betul tengah berada dimana dan ia tak bodoh untuk mempermalukan dirinya sendiri dengan menangis di tempat umum.

 

“Tuan, saat ini Nyonya tengah berada di taman yang berada di area komplek rumah Anda. Nyonya mengatakan, Anda mengizinkannya untuk keluar, asal kami ada menemaninya.” Jelas Park Taejun, pada seseorang yang berada di seberang teleponnya. Ia merupakan ketua dari para pengawal yang ditugaskan Sehun untuk mengawasi Hanna.

“Suruh dia pulang!”

“Kami sudah mencobanya, Tuan!”
Bisa Taejun dengar helaan napas kasar Sehun dari seberang sana, yang membuatnya menelan ludah seketika. Sepertinya Hanna sukses memancing amarah Sehun kembali.

 

“Awasi dia!” Sehun menutup sambungan teleponnya. Dan kemudian ia bangkit dari duduknya, lantas melangkahkan kaki panjangnya keluar dari dalam gedung kantornya. Tadi pagi, ia dibuat muak karena harus menghadiri pertemuan para pemimpin Front Organization, menggantikan ayahnya yang berhalangan hadir. Dan kini, ia kembali dibuat muak oleh kelakuan Hanna yang kembali membantahnya.

Kaki panjangnya terus melangkah lebar. Bahkan kedua alis tebalnya saling bertaut menahan amarah. Wajah kesalnya begitu ketara, membuat siapa saja yang berpapasan dengannya—dapat merasakan hawa dingin yang tidak menyenangkan.

sehun

Sehun terus melangkah menuju mobilnya. Dan ketika sampai, ia langsung masuk—lantas mengemudikan Reventon-nya ugal, seperti orang kesetanan. Seolah tak peduli, bahwa ia hanya memiliki satu nyawa yang dapat menghilang kapan saja. Jarak kantor dan tempat Hanna berada pun ia capai dalam waktu singkat, hanya setengah dari waktu tempuh seharusnya.

Bruk.

Sehun menutup kasar pintu mobilnya. Dan kemudian segera melangkah, mencari keberadaan Hanna. Setelah cukup jauh melangkah, akhirnya ia temukan keberadaannya—yang saat ini tengah terduduk santai di atas pagar pembatas.

Hanna yang menyadari kehadiran Sehun pun tersenyum kecil dengan wajah menantangnya.

hanna

“Aku tak akan menang melawan 10 orang pria bertubuh kekar, kau tau itu!” Ujar Hanna tiba-tiba, “Tidak seharusnya kau membuang-buang energimu untuk menyusulku.” Lanjutnya.

“….” Tak ada jawaban dari Sehun. Ia hanya menatap Hanna dari atas ke bawah. Dan berhenti tepat pada paha mulus miliknya. Rasa kesal pun tiba-tiba saja menyelimuti hatinya. Seolah tak suka Hanna berpakaian terbuka di depan umum.

“Sejak kapan kau berani berpakaian seperti itu, Hanna?” Ujarnya dingin sembari melangkah mendekat. Hanna yang mendengar penuturan Sehun pun menundukkan kepalanya ke bawah. Dan seketika ia sadar, bahwa ia hanya mengenakan hot pants. Pabo.

“Pulang!” Sehun menarik tangan Hanna paksa, membuat Hanna tertarik dan turun dari duduknya. Dan tanpa menunggu persetujuan dari Hanna, Sehun langsung menyeretnya untuk pulang. Tapi kali ini, Hanna memberanikan diri untuk melepaskan cengkraman Sehun—dengan menghempaskan tangannya.

“Tidak mau. Aku masih ingin di sini!” Hanna berjalan mendahului Sehun dengan kaki yang dihentakkan. Seolah melampiaskan kekesalannya pada jalan setapak yang dipijaknya. Sehun yang kembali mendapat perlawanan pun semakin kesal dibuatnya. Tapi entah mengapa, ia justru membiarkan Hanna berlalu. Dan hanya mengekornya dari belakang.

“Aku bosan di rumah, masa pergi jalan-jalan saja tidak boleh?” Hanna menggerutu, mengungkapkan segala kekesalannya. Sementara Sehun, hanya bisa mengerutkan alisnya bingung.

‘Kenapa lagi dia?’

“Lihatlah, aku bersama mereka dan sangat tidak mungkin aku lari darimu!” Sesekali Hanna menoleh ke belakang, memastikan bahwa Sehun ada mendengarkan ocehannya.

“Aku tahu diri. Aku ini tawananmu yang selalu kau beri makan enak, jadi tidak mungkin aku melarikan diri lagi seperti dulu!” Sehun kembali memasang poker facenya mendengar penuturan Hanna.

‘Hanya karena itu?’

“Dan~” Hanna berhenti. Berpikir sejenak. Sehun yang berada di belakangnya pun ikut berhenti.

“Sudah itu saja!” Hanna kembali melanjutkan langkah kakinya. Sembari menendang-nendang krikil kecil yang menghalangi jalannya.

“Aku hanya ingin kau memberikanku kebebasan seperti dulu, Sehun-ah!” Hanna kembali berucap, tapi tak kunjung mendapat respon dari lawan bicaranya.

“Bukankah semalam aku sudah berjanji, tidak akan membantahmu lagi.” Hanna kembali menoleh ke belakang sesaat—takut, Sehun sudah pergi dan tak lagi mengikutinya.

‘Tak akan membantah lagi? Lalu kau sebut ini apa?’

“Jadi, berikan aku kebebasan seperti dulu dan berhenti mengurungku di rumah.” Pinta Hanna tanpa menoleh, seolah tak peduli dengan kata hati Sehun.

“Tidak.” Jawab Sehun singkat dan padat. Membuat Hanna mendengus kesal dan tanpa sadar menendang kaleng bekas minuman di dekat kakinya.

“Kenapa tidak boleh?!” Protes Hanna kesal.

Ttak.

“AKH… ASTAGA!—Siapa yang sudah membuang sampah sembarangan?”

“OMO..!!” Hanna membelalakan matanya. Saat menyadari kaleng bekas minuman yang telah ditendangnya mendarat ke tempat yang tidak seharusnya. Kedua tangannya bahkan refleks menutup mulutnya yang menganga. Dan tanpa menunggu aba-aba lagi, ia langsung berbalik dan berlari ke arah Sehun demi mencari perlindungan.

“Sehun~ Lindungi aku..!!” Ujar Hanna panik, seraya berlindung di belakang tubuh Sehun. Sehun yang menyadari kebodohan Hanna pun, hanya bisa memutar bola matanya malas.

“Itu masalahmu. Hadapi saja sendiri..!!!” Ujar Sehun santai.

“Pria itu sangat gemuk Sehun..” Jawab Hanna takut. Sesekali ia berjinjit, mengintip korbannya yang kini tengah berjalan ke arahnya.

“Bukan urusanku. Lagi pula kau selalu membantahku, jadi tidak ada alasan untukku membantumu…”

“Sehun~”

“Jeosong-hamnida, orang di belakang Anda sudah membuang sampah sembarang dan mengenai kepalaku..” Pria bertubuh gempal itu menunjuk-nunjuk sengit kaleng minuman kosong di tangannya, seolah mengadu pada Sehun. Hanna yang mendengarnya pun semakin merungkut,—menyembunyikan tubuhnya. Dan dengan santainya Sehun justru bergeser, memberikan akses pada pria itu untuk menemukan tersangkanya. Tapi Hanna mengikutinya, membuat tubuhnya tetap terhalang oleh tubuh Sehun. Dan saat Sehun hendak melangkah kembali, Hanna justru memeluknya.

“Sehun jebal~!!! Aku akan menuruti apa pun yang kau perintahkan dan aku tidak akan nakal lagi. Dan setelah ini, kajja kita pulang…!!” Hanna memohon penuh harap, kepalanya bahkan sudah tenggelam sempurna di balik punggungnya. Membuat Sehun membeku di tempatnya, seraya menatap tak percaya lingkaran tangan Hanna di perutnya.—–Perasaan aneh itu pun kembali mengusiknya.

‘Sehun-ah… Belikan aku coklat…!!!’

‘Minta saja pada kekasihmu dan jangan memelukku seperti ini..!! Krystal akan cemburu jika melihatnya!’

‘Aniyo.. Aku tidak akan melepasmu, sebelum kau memberikan apa yang aku mau!’

 “Agasshi, berhenti bersembunyi..!! Aku tau kau yang sudah melemparnya.” Pria itu masih tak terima akan kesalahan yang telah Hanna perbuat. Sehun yang sempat larut dalam bayang-bayang masa lalunya itu pun, kembali mengalihkan perhatiannya pada pria itu.

“Maafkan aku.. Aku tidak sengaja Tuan, sungguh…!!” Suara Hanna nyaris tidak terdengar, sedikit ciut saat mendengar suara bass milik pria bertubuh gemuk itu.

“Tidak sengaja? Kau bilang tidak sengaja?—Lihatlah, akibat perbuatanmu kepalaku terluka..!!” Protesnya tak terima.

 

“Kau tidak dengar, Tuan? Istriku sudah meminta maaf..” Ujar Sehun pada akhirnya, dengan nada suara yang amat dingin nan menusuk.

Glup.

Pria itu menelan ludahnya pahit. Saat mendengar suara Sehun yang amat tak bersahabat itu. Dan tiba-tiba ada beberapa orang pria bertubuh kekar datang mengelilinginya, seraya menunjukkan senyum kecil yang terkesan mengancam.

‘Kenapa jadi aku yang berada dalam masalah?’ Pria itu membatin tragis. Saat menyadari kesialannya siang itu.

“Oh ne, gwaenchana.. Lain kali Anda harus berhati-hati Agasshi.. Aku permisi..!!” Dengan berat hati karena niat hati tak tercapai untuk memaki Hanna, pria itu pun lebih memilih mundur teratur daripada pulang dengan wajah memar.

“Bawa dia pulang!” Titah Sehun pada orang-orangnya. Seraya melepaskan pelukan Hanna di perutnya.

“Kau tidak ikut pulang?” Hanna menatap polos wajah Sehun.

“Tidak..”

“Kalau begitu aku tidak mau pulang..” Lain di mulut lain di hati, itulah Hanna, bahkan ia sudah lupa akan janji yang baru saja ia ucapkan.

“Menurut atau aku akan melakukan hal yang lebih kasar dari semalam.” Ujar Sehun mengancam. Membuat Hanna menelan ludahnya pelan, saat ingatannya kembali pada kejadian semalam,—setelah mereka sampai di rumah.

“Ne.. Tapi antarkan aku pulang dulu!” Putus Hanna pada akhirnya, tanpa menunggu persetujuan dari Sehun. Dan langsung melangkah pergi begitu saja menuju parkiran.

“Tuan?” Tanya Taejun, meminta intruksi selanjutnya. Dan Sehun, hanya bisa menghela napasnya pelan. Sebelum akhirnya, menyusul Hanna yang sudah berjalan sangat jauh darinya.

Hanna sampai duluan, lantas ia duduk di atas kap mobil Sehun, seraya menunggu kedatangannya. Sampai Sehun datang mendekat dan kemudian menyalakan alarm mobilnya, barulah Hanna masuk ke dalamnya. Tanpa izin dari sang pemilik.

“Sehun-ah~ di jalan nanti belikan aku odeng dan tteokbokki ne!” Hanna menatap Sehun yang duduk di kursi kemudi, siap menyalakan mobilnya. “Aku lapar, sejak semalam perutku hanya terisi 3 sumpit ramen saja…” Adu Hanna tak peduli dengan Sehun yang tak meresponnya, karena ia tau Sehun tidaklah tuli. Dan yang terpenting hasratnya tersampaikan juga terpenuhi.

Sehun sendiri memang sedang tak ingin berdebat dengan Hanna, sehingga ia hanya diam mendengarkan ocehannya yang meminta ini dan itu, meski ia tau keterdiamannya dianggap persetujuan oleh Hanna.

 

¤

 

“Jika aku melihat sisa dari semua makanan yang kau minta, maka aku tidak akan segan untuk tidak lagi memberikanmu makan.” Ujar Sehun setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya. “Sekarang turun dan masuklah!”

“Ne… Aku akan menghabiskannya…” Jawab Hanna setelah melepas sabuk pengamannya. Kemudian ia turun dan melangkah santai memasuki rumahnya, tanpa mengucapkan apa pun lagi pada Sehun. Sehun sendiri hendak kembali melajukan mobilnya, sebelum akhirnya ia menyadari ada sebuah BMW yang bukan miliknya terparkir tidak jauh dari posisinya.

Hanna mengayunkan kantung plastik di tangannya pelan. Kakinya bahkan berjingkrak riang saat memasuki rumahnya. Senyum kecil bahkan terus bertengger manis pada wajah cantiknya. Ia merasa sangat bahagia, meski tak tau mengapa. Berbeda 180 derajat dari moodnya tadi pagi, tapi Hanna tak perduli itu. Karena memang ia bukanlah tipe gadis yang peka terhadap keadaan sekitar, terlebih pada perasaannya sendiri.

Suara langkah riangnya terdengar semakin menggema, saat tubuhnya semakin dalam masuk ke kediaman mewah itu. Tapi terhenti saat,

 

“Khaza Hanna…” Suara asing menginterupsi langkah kaki Hanna. Dan tanpa pikir panjang, Hanna langsung menoleh mencari dari mana sumber suara itu berasal.

“Bagaimana bisa Sehun memberikan kebebasan pada tawanan kita?!” Lanjut suara yang berbeda. Hanna yang menyadari kehadiran orang asing di rumahnya itu pun, membeku seketika.

“Ah~ Sehun begitu beruntung mendapatkan hukuman menikahi gadis cantik sepertimu, hanya demi perlindungan hukum juga perjanjian dengan Ayahnya…”

 

Brak.

 

Hanna menjatuhkan bungkusan plastik di tangannya, saat suara yang begitu ia kenal menyapa indera pendengarannya.

“Kau mengingatku?” Tanyanya, membuat Hanna mundur teratur. Sampai tubuhnya membentur sesuatu yang berdiri di belakangnya.

“Apa yang kalian lakukan di rumahku?” Hanna mendongak saat punggungnya menubruk dada bidang Sehun. Bisa ia lihat, tatapan tak bersahabat—Sehun tunjukkan pada 3 orang pria yang merupakan tamu tak diundang itu. Dan dengan gerakan tiba-tiba, Sehun menarik Hanna untuk berdiri di sampingnya.

“Tenanglah Ice Prince, kami hanya ingin datang berkunjung…” Ujar salah satu diantara mereka, Myungsoo.

“Sepertinya istrimu masih mengingatku dengan baik, Sehun..” Eiji kembali angkat bicara sembari memperhatikan Hanna dari ujung kaki sampai wajah cantiknya. Satu-satunya pria berdarah Jepang yang berada di sana itu, terlihat puas akan ketakutan yang pernah ia ciptakan untuk gadis itu.

Hanna sendiri terlihat bergetar, bayang-bayang akan kejadian mengerikan yang pernah ia alami kembali berputar-putar dalam ingatannya. Sehun yang menyadari itu pun berusaha bersikap sewajarnya.

 

“Pembunuh..” Ujar Hanna dingin, tatapan tajam—-ia tunjukkan pada Eiji.

“Semua pria yang berada di sini adalah pembunuh, Agasshi..” Timpal Yong Guk. Membuat Hanna kembali terbakar emosi. Tangan Sehun yang sebelumnya bertautan dengan tangannya pun kini terlepas sempurna, setelah ia hentakkan.

“Ne.. Kalian semua pembunuh, dan KAU, KAU YANG SUDAH MEMBUNUH IBUKU…!!!” Hanna berteriak dengan mata yang memanas. Air mata bahkan sudah bertumpuk di pelupuk matanya. Tangannya menunjuk sempurna ke arah Eiji. Rasa takutnya hilang seketika.

“Ne.. Aku senang kau mengingatnya…”

“Brengsek.. Kau tak pantas untuk hidup…” Umpat Hanna kesal. Sebisa mungkin, ia menghilangkan bayang-bayang mengerikan yang kini tengah mencoba menerobos masuk ingatannya. Dengan meluapkan emosinya pada orang yang sudah membunuh Ibunya itu.

“Sayangnya, aku masih hidup…” Eiji merogoh saku jasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam sana, yang membuat Hanna semakin bergetar ketakutan, meski ia mencoba untuk tetap menutupinya.

 

“Dan~ kedatanganku kemari—-untuk mengakhiri, hidup-Mu… Hanna!” Senapan itu telah mengarah sempurna pada Hanna. Membuat Sehun membelalak samar karena tak menduga maksud kedatangan mereka kemari.

“Apa yang kau lakukan, Eiji?” Sehun menatap dingin lawan bicaranya. Bahkan Yong Guk dan Myungsoo ikut terbelalak tak percaya akan tindakan Eiji.

“Benarkah? Kalau begitu lakukan…!!!” Ujar Hanna tiba-tiba—dengan nada yang amat tenang, berbeda dari sebelumnya. Sehun yang mendengarnya pun kembali mengarahkan fokusnya padanya.

“Tentu… Ini perintah langsung dari Ryuu-san. Jadi aku harap kalian tidak keberatan, karena aku yang mendapatkan kehormatan untuk melakukan ini…”

“Ryuu-san?” Myungsoo seolah tak percaya mendengarnya. Karena memang tujuan mereka datang kemari bukan untuk membunuh Hanna.

Sehun sendiri membeku. Mata elangnya menatap Hanna ragu. Ada perasaan aneh yang mengganggunya, tapi jika itu perintah, maka tak ada alasan untuknya membantahnya. Bukankah itu bagus, karena tangan kanan pemimpinnya sendiri yang menginginkan Hanna mati. Dan itu berarti, hukumannya akan berkurang satu.

“Selamat tinggal yeobo…” Ujar Sehun dengan senyum kecilnya. Dan Hanna hanya membalasnya dengan tatapan yang amat sulit untuk diartikan. Sehun-nya benar-benar telah berubah, bahkan semua kenangan manis yang pernah terjadi diantara mereka telah ia lupakan. Semuanya tak berarti apa-apa bagi Sehun, dan Hanna kecewa saat menyadari itu. Padahal Hanna telah mencoba untuk memaafkannya, atas semua kejahatan yang telah ia lakukan selama ini.

“Ada kata-kata terakhir?” Tanya Eiji santai seraya memainkan pistol di tangannya.

“Dari hari ke hari aku selalu berharap kau kembali, meski aku tau itu mustahil… Tapi setidaknya aku tau kau ada untukku… Terima kasih Sehun-ah, atas semua kenangan baik dan buruk yang telah kau berikan…” Hanna balas tersenyum ke arah Sehun.

Deg.

Jantung Sehun kembali berdebar. Matanya tak lepas dari objek yang tengah tersenyum hangat padanya itu. Rasa takut akan kembali kehilangan tiba-tiba saja menyelimuti hatinya, seiring dengan sebuah letupan menyapa indera pendengarannya.

 

SHUT

 

Peluru angin itu melesat tanpa suara. Hanya sebuah letupan kecil yang terdengar. Hanna yang menjadi objek pun jatuh terduduk. Saat pengelihatannya menangkap darah segar keluar dari dada.

 

“Eiji… Namamu berarti keabadian, tapi sayangnya hidupmu tidaklah abadi…” Myungsoo berujar dingin. Senyum miring tercetak jelas pada wajah sempurnanya.

 

“Ka-li–an … Peng–khianat…”

 

Bruk

 

Tubuh Hanna bergetar hebat. Saat lagi dan lagi ia menyaksikan kematian terjadi di depan matanya. Harapannya untuk segera meninggalkan dunia pun pupuslah sudah. Eiji tertembak sebelum jari telunjuknya berhasil menarik pelatuk, membuat Hanna tetap hidup dengan trauma akan kenangan buruknya yang kembali.

Sehun yang melihat keadaan Hanna pun tak kunjung bergerak. Ia hanya diam membatu di tempatnya berdiri. Karena ia tau,

 

kenangan pahit itu kembali,—saling bertubrukan menerobos ingatan Hanna…

 

FlashBack On

“Eomma, aku pulang..!!!” Hanna berjalan ringan memasuki rumahnya. Keadaan gelap gulita pun ia dapat. Tubuhnya mulai sibuk menggapai dinding, mencari letak stop kontak. Tapi ketika ia berhasil menggapainya, lampu tak kunjung menyala meneranginya.

“Aish.. listriknya mati. Eomma, Eomma eodiga? Oppa, Oppa kau sudah pulang…” Hanna mulai cemas mencari keberadaan orang rumah. Tapi seketika ia ingat Oppanya ada tugas penting hari ini, pun dengan Appanya. Sangat tak mungkin untuk mereka pulang sore.

“Eomma, Eomma eodiga? Aku sudah pulang… Kenapa listriknya mati Eomma…” Hanna terus berteriak tapi tak kunjung tersahuti. Dengan susah payah ia menaiki anak tangga. Mencoba untuk menggapai kamar Eommanya. Jika boleh jujur, Hanna sangatlah takut akan kegelapan, tapi rasa cemas akan keadaan Eommanya mengalahkan rasa takutnya.

“EOMMA jawab aku…” Hanna mulai frustasi, saat rasa takut mulai mengambil alih kecemasannya. Batinnya bahkan tak henti-hentinya merutuki film horor yang pernah ia tonton. Wajah hantu-hantu seram dalam film itu silih berganti menghampiri benaknya. Takut, jika tiba-tiba saja ada wanita berambut panjang, berbaju putih lengkap dengan wajah berantakan datang menyambutnya di atas tangga.

“Oh Sehun.. Ini semua karenamu yang selalu mengajakku menonton film seperti itu..” Hanna merutuki Sehun yang tak bersalah atas ketakutan yang tengah ia alami saat ini.

Trek.

“Ah menyala…” Hanna berteriak senang, saat mendapati lampu gantung yang menerangi ruang tamunya menyala. Tapi kesenangannya tak bertahan lama saat ia menoleh dan mendapati,

“AAAA HANTUU…!!!”

 

“Hanna~”

 

“Eo, Eomma.. Kau mengagetkanku..!!” Hanna menghembuskan napas tenang, seraya mengelus dadanya pelan. Saat mendapati Eommanya yang ternyata tengah berdiri di ujung anak tangga, dan bukan hantu seperti yang ia bayangkan.

Sedangkan Eommanya, hanya bisa memasang poker face. Bagaimana bisa anaknya sendiri mengiranya hantu, sementara dirinya tak sedang mengenakan baju putih.—–Sepertinya, Hanna terlalu banyak nonton film.

“Ini sudah malam, An.. Jangan berteriak-teriak seperti itu. Kau tidak inginkan Sehun datang, lantas melemparmu dengan sepatunya.” Omel Nyonya Khaza tiba-tiba.

“Ini masih sore, Eomma…” Hanna memutar bola matanya malas. Mendengar penuturan Eommanya yang terkesan mengada-ngada.

“Sudah jam 9, tapi kau bilang ini masih sore?” Nyonya Khaza berkaca pinggang, menatap anak gadisnya, “Lantas kenapa kau pulang selarut ini? Apa karena kau menganggap ini masih sore juga, makannya kau pulang sesukamu?”

Eomma marah

“A–ani.. Mianhae Eomma, tadi ada tugas tambahan, jadi aku memutuskan untuk mengerjakannya terlebih dahulu bersama teman-temanku di perpustakaan.” Hanna menunduk dalam, menyadari kemarahan Eommanya.

“Kau tau, Eomma sangat khawatir. Handphone-mu bahkan tak bisa di hubungi, pun dengan Sehun dan Baekhyun. Ditambah Appamu dan Oppamu tengah sibuk menjalankan misinya, jadi tidak ada orang yang bisa Eomma pintai pertolongan untuk memastikan keadaanmu.” Nyonya Khaza meluapkan kecemasannya dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Membuat Hanna semakin menunduk takut.

“Mianhae Eomma, ponselku mati…” Ujar Hanna penuh penyesalan. Dan bodohnya ia, karena tak terpikir untuk meminjam ponsel temannya untuk menghubungi Eommanya terlebih dahulu.

“Hahh~” Helaan napas lembut Hanna dengar. Sebelum akhirnya, ia merasakan pergerakan halus tangan tua di rambutnya.

“Jangan ulangi lagi ne?! Eomma sangat menyayangimu An, dan Eomma takut terjadi sesuatu yang buruk padamu… Eomma tidak bermaksud memarahimu. Eomma hanya terlalu khawatir, maafkan Eomma..” Hanna mendongak, memberikan senyum terbaiknya pada Eommanya. Sebelum akhirnya, tubuhnya menubruk sempurna pada tubuh Eommanya. Memeluknya dengan begitu manja.

“Ne Eomma.. Aku berjanji..”

Nyonya Khaza tersenyum mendapat perlakuan manja dari putrinya. “Bagus… Sekarang ayo kita makan, Eomma sudah sangat lapar karena menunggumu…”

Hanna mengangguk kecil. Mereka pun turun, menuruni anak tangga dengan senyum di wajah.

“Eomma, akhir-akhir ini Sehun seperti menjahuiku!” Adu Hanna tiba-tiba, “kami bahkan jarang bertemu, sekalinya bertemu, ia seperti orang yang tidak mengenalku..” Lanjutnya dengan wajah yang terlihat kecewa.

“Mungkin Sehun tengah sibuk, An. Atau mungkin ia tengah berada dalam mood yang tidak baik. Makannya ia butuh menenangkan diri dulu..”

“Tapi kenapa harus dengan menjauhiku?” Tanya Hanna masih dengan raut wajah yang sama, “Ah~ atau mungkin, ia sedang mempersiapkan kejutan untuk hari ulang tahunku besok…?!” Ujarnya tiba-tiba ceria. Sementara Eommanya, hanya bisa mengedikkan bahu pelan.

“Bisa jadi. Sehun sangat menyayangimu, jadi tidak mungkin ia menjauhimu tanpa alasan yang jelas..”

 

“Uugh… Manisnya!” sebuah suara menginterupsi pergerak Hanna dan Eommanya. Mereka pun refleks mencari darimana sumber suara itu berasal.

“Siapa kau?” Hanna refleks bertanya, saat mendapati seorang pria asing bermata sipit—tengah berdiri di dekat sofa ruang tamunya.

“Aku?—-aku rekan Sehun, Eiji… Senang bisa bertemu denganmu, Nona Khaza Hanna.” Jawabnya ramah, dengan logat Jepang yang begitu ketara.

“Re-rekan? Lantas untuk ap—”

“Aku kemari karena perintah! Dan aku mendapat perintah untuk menggantikan tugas Sehun,” Belum sempat Hanna melontarkan pertanyaannya, Eiji sudah mengatakan maksud dan tujuannya.

 

“Membunuhmu, Nona!” Lanjutnya to the poin.

 

“M–mwo? S–siapa kau, siapa kau sebenarnya?” Hanna tergagap, saat menyadari orang itu ternyata bukanlah orang baik-baik.

“Bukankah aku sudah memperkenalkan diriku, Nona? Aku Eiji, rekan Sehun di Black ID.” Terangnya lagi, kali ini dengan senyum iblisnya.

Deg.

“Black ID? A–apa maksudmu? Sehun tidak mungkin mempunyai teman sepertimu dan jangan sangkut pautkan Sehun dengan organisasi keparat itu!” Tegas Hanna.

“Haha… Sepertinya Sehun menyembunyikan identitasnya dengan baik. Kalau begitu, mari ikut bersamaku dan kau akan membuktikannya sendiri nanti. Lagi pula, aku mendapat perintah untuk membunuhmu langsung di depan Ayahmu.” Jelasnya santai dengan senyum manis yang terkesan dibuat-buat.

“Tidak akan ku biarkan kau menyentuh putriku… PERGI DARI RUMAHKU..!!” Usir Nyonya Khaza tiba-tiba, tapi tak lama beberapa orang pria bertubuh kekar datang dari arah pintu yang menuju taman belakang.

“Bagaimana bisa, Sehun tak sanggup membunuh seorang gadis kecil sepertimu? Sementara ia tau, kau-lah yang menjadi kelemahan Jo Khaza..” Ujarnya santai, sembari mengisyaratkan pada bawahannya untuk membawa Hanna.

“JANGAN DEKATI KAMI…” Teriak Nyonya Khaza, sedikit gentar akan jumlah yang tak sebanding dengannya dan Hanna. Terlalu banyak. Tapi tubuhnya tak gentar berdiri di depan Hanna, demi melindunginya.

“Menyingkirlah Nyonya, kami hanya menginginkan putrimu…” Ujar salah satu dari mereka santai. Sementara Hanna dan Eommanya hanya bisa mundur perlahan. Seiring dengan semakin dekatnya mereka, sampai…

 

Bruk..

 

“EOMMA…” Hanna berteriak saat tubuh Eommanya terhempas karena ditarik secara paksa. Tubuhnya pun refleks mendekat, demi meraih tubuh Eommanya yang kini sudah tersungkur di dekat anak tangga. Tapi belum sempat Hanna meraihnya, tubuhnya telah terkunci sempurna dalam kekangan otot salah satu pria di sana.

“LEPASKAN AKU..!!” Hanna meronta, tapi itu tak membuahkan hasil. Eiji yang melihatnya hanya tersenyum miring.

“Jangan sentuh putriku. Menjauh darinya…!!!” Ujar Nyonya Khaza pelan dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Hanna yang melihat luka di pelipis Eommanya itu pun semakin histeris. Ia tak menyangka Eommanya terbentur saat terhempas tadi.

“EOMMA, EOMMA, LEPASKAN AKU, LEPASKAN…!!!” Hanna terus meronta, tapi tangannya yang terkunci di belakang membuatnya kesulitan bergerak. Kakinya terus menendang-nendang asal, mencoba melepaskan diri dengan cara yang ia bisa.

“Kalian tau kasus yang menimpa,—Park Jung Soo?” Eiji kembali membuka suara, membuat Hanna refleks berhenti memberontak demi menatapnya. “Jo Khaza dan team-nya berhasil menemukan siapa pelakunya. Dan kini, mereka tengah bersiap melakukan penyergapan ke markas besar Black ID…” Eiji menatap Hanna dan Eommanya secara bergiliran.

“Bagaimana bisa kau mengetahui semua itu?” Tanya Hanna sengit. Karena sangat tidak mungkin orang luar mengetahui hal semacam itu. Terlebih team yang dipimpin Appanya, merupakan team rahasia yang dibentuk khusus untuk menangani kasus-kasus yang bersangkutan langsung dengan tindak kriminal Black ID.

“Sudah aku katakan,— aku anggota Black ID. Seperti halnya temanmu, Oh Se-Hun..” Eiji menekan setiap suku kata yang ia ucapkan, membuat Hanna kembali membeku sekaligus meradang saat mendengarnya.

“Geotjimal… Neo geotjimaljaengi (kau pembohong)..!! LEPASKAN AKU..!!” Hanna kembali meronta, mencoba melepaskan diri. Tapi pria yang menahannya tak segan-segan mencengkram rahangnya dari belakang.

“Aku tau, kau tak akan mempercayainya… Itu sebabnya kau harus ikut denganku demi membuktikannya. Setelah itu, aku akan mengakhiri riwayatmu, agar kau tidak hidup dalam kekecewaan yang mendalam pada pria yang kau anggap sahabat itu.”

“Omong kosong! Lepas–kan aku..!!” Hanna berusaha bersuara, meski rasa sakit yang teramat ia rasa di rahang mungilnya.

“Akh..” Hanna semakin mendongak saat pria itu mempererat cengkraman di rahangnya.

“Lepaskan putriku…” Nyonya Khaza beringsut-ingsut demi menggapai Hanna. Rasa keterkejutan akan keterlibatan Sehun ia hiraukan. Bahkan rasa sakit yang teramat pada pelipisnya pun ia abaikan, demi keselamatan anak bungsunya.

 

“HENTIKAN..!!” Sebuah suara menginterupsi ketegangan yang terjadi diantara mereka. Semua mata pun lantas tertuju padanya.

 

“OPPA…” Teriak Hanna saat mendapati Oppanya tengah berdiri di ambang pintu, dengan seragam lengkapnya juga napas yang terengah.

“Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan?”

“Oppa mereka penjahat… Tolong Eomma, Oppa..!!” Hanna terus berusaha bersuara sementara cengkraman di rahangnya semakin kuat. Luhan yang melihat keadaan dua orang wanita yang paling ia cintai itu pun semakin kalang kabut. Eommanya tengah tersungkur di lantai dengan napas yang terengah, juga terdapat luka pada pelipisnya. Sementara adiknya tengah meronta dalam cengkraman pria yang tubuhnya dua kali lebih besar darinya. Jika Sehun tak menghubunginya dan menyuruhnya untuk segera pulang, mungkin ia tak akan melihat pemandangan yang mengiris batinnya itu.

“Lepaskan adikku..!!” Titahnya tegas.

“Bagaimana bisa kau berada di sini? Bukankah seharusnya kau bersama teman-temanmu,—menemui ajalmu?” Eiji memiringkan kepalanya. Matanya pun menatap lurus ke arah Luhan.

“Siapa kau?” Desis Luhan dingin, seraya mencoba memahami situasi agar ia bisa menyelamatkan dua orang yang amat berharga bagi hidupnya itu.

“Aku?—Aku salah satu sniper handal yang dimiliki Black ID. Dan aku kemari, karena mendapat tugas untuk membawa adikmu… Juga membunuhnya, tepat di hadapan ayahnya nanti.” Jelasnya lagi pada Luhan.

“Black ID,” gumam Luhan pelan, “Adikku tak bersalah, ia tak tau apa pun. Jangan sangkut pautkan dia!” Seru Luhan lantang.

“Ne, dia memang tak bersalah, tapi Ayah kalian sudah terlalu banyak tau tentang kami. Dan bodohnya ia, karena pergerakannya terlalu mudah untuk dibaca, hingga kami putuskan untuk memberikannya pelajaran dengan sebuah permainan.” Jelasnya dengan senyum enteng. Sebelah tangannya mulai memainkan sebuah benda berwarna metallic.

“Sayang sekali, kau malah kembali dan tak ikut menyaksikan kehancuran ayahmu. Padahal akan sangat menyenangkan, jika aku membunuh dua orang bersaudara sekaligus di depan orang tua mereka. Haha…” Eiji tertawa dengan begitu senangnya, seolah yang hal dikatakannya itu sebuah lelucon.

Rasa khawatir juga takut tiba-tiba saja menyelimuti relung hati Luhan. Ia sadar akan sesuatu. Ayahnya berserta team-nya berada dalam masalah. Mereka dijebak. Dan sekarang Luhan tak tau harus berbuat apa. Posisinya benar-benar sulit. Ia di tempatkan pada 2 pilihan yang sama-sama menyangkut nyawa. Keselamatan Ayahnya atau Eomma dan adiknya.

“Kalian picik..!!!”

“No no no… Kalian saja yang bodoh, karena berteman dengan salah satu dari kami..!!!”

Luhan menatapnya sengit, penuh tanya. Apa yang dimaksud berteman, Luhan tidak mengerti.

“Sehun dan Ayahnya.. Merupakan bagian dari kami, Black ID.”

Deg.

“Tidak mungkin. Berhenti berbicara omong kosong! Asal kau tahu, aku berada di sini karena Sehun yang memintaku untuk pulang.” Sanggah Luhan sengit.

“Lantas, bagaimana bisa kami mengetahui pergerakan unit rahasia yang dipimpin oleh ayahmu, jika bukan dari temanmu?” Tanyanya santai dengan senyum liciknya. Hanna yang mendengarnya pun tanpa sadar meneteskan air mata. Dan Luhan membatu di tempatnya, sementara Nyonya Khaza sudah tak kuasa lagi membendung air matanya.

“Aniyo, Oppa..!! Jangan percaya padanya, tak mungkin Sehun mengkhianatimu dan Appa. Tak mungkin Sehun salah satu dari mereka dan mengkhianati kita, tak mungkin. Jangan percaya Oppa, jangan percaya…!!!” Hanna mengelak, dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Cengkraman kuat pada rahanya bahkan terlepas. Tubuhnya pun kembali meronta,

“AKH..” Pekik Hanna kencang saat tangannya dipelintir kuat di belakang tubuhnya.

“LEPASKAN DIA…” Teriak Luhan semakin geram. Tubuhnya mulai bergerak, tapi kembali terhenti saat Eiji menodongkan pistol ke arahnya.

“Berhentilah mengelak, Nona. Semuanya sudah jelas dan kau akan membuktikannya sendiri nanti. Bawa dia..!!!” Titahnya tanpa melepaskan kontak mata dengan Luhan.

“ANDWAE… JANGAN BAWA PUTRIKU…” Nyonya Khaza berusaha bangkit demi meraih Hanna. Hanna sendiri berusaha menahan rasa sakit di tangannya dengan terus meronta.

“Hanna~ Jangan bawa putriku…” Nyonya Khaza tertatih-tatih demi mendekat ke arah Hanna yang terus ditarik, meski meronta.

“Eomma…” Luhan kembali bergerak demi meraih tubuh Eommanya,

 

SHUT

 

PRANG

 

Sebuah foto keluarga yang menempel di dinding jatuh tertembak. Semua pergerakan di sana refleks terhenti. Perlahan Luhan menolehkan kepalanya ke belakang. Melihat serpihan kaca dengan sedikit bercak darah di atasnya. Foto wajahnya terlihat berlubang, menandakan bahwa peluru itu tepat mengenai wajah di fotonya.

 

Bruk.

Deg..

 

“EOMMAA…” Hanna berteriak histeris saat mendapati tubuh Eommanya limbung. Bisa ia lihat, darah mengucur begitu banyak dari kepalanya. Juga mata sayunya yang menatap lurus ke arahnya. Kesedihan terlihat begitu kentara lewat tatapan teduh itu. Air mata bahkan ikut mengalir, menuruni lekuk hidungnya yang kini tertidur menyamping. Batin Hanna pun semakin tercabik perih melihatnya. Tubuhnya bahkan melemas, saat menyadari——sebuah peluru telah menembus tengkorak Eommanya.

“Eom–ma… EOMMA…” Luhan tergagap, sebelum akhirnya ia ikut berteriak pahit. Tubuhnya refleks mendekat ke arah tubuh lunglai Eommanya. Memangkunya dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Tangannya bahkan sibuk menutupi luka yang menembus kepalanya. Seolah berharap bisa menghentikan pendarahannya dengan segera.

“Eomma.. Hikss.. Eomma…” Hanna tak kuasa menopang berat tubuhnya. Perlahan fokusnya teralih pada sang pelaku. Tatapan membunuh tanpa ada rasa bersalah ia dapat. Senyum bahkan menghiasi wajahnya, seolah apa yang baru saja ia lakukan merupakan sebuah kesenangan. Perasaan takut juga benci Hanna rasa pada pria itu. Sebelum akhirnya, fokusnya kembali ia arahkan pada Eommanya yang sudah menutup mata di pangkuan Oppanya..

“Eom–ma…” Ujarnya pelan seolah tak bertenaga. “EOMMA, BUKA MATAMU, EOMMAA…!!!” Teriak Hanna lagi, frustasi. Tubuhnya kembali meronta, ingin memastikan bahwa Eommanya hanya tertidur, tapi tangis Luhan Oppanya membuat Hanna semakin menggila.

“Oppa selamatkan Eomma… Oppaa…” Pinta Hanna dengan sisa-sisa suaranya.

Luhan menatapnya sedih. Tak mampu berucap apalagi bergerak. Hanna yang mulai dibawa pun ia biarkan. Dengan tangis dan teriakan serak, Hanna terus memanggilnya. Memintanya untuk menyelamatkan Eommanya. Tapi sayangnya, semuanya sudah terlambat. Eommanya telah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan adiknya dibawa dengan tangis yang begitu pilu. Sementara Eiji, hanya berjalan santai. Meninggalkan Luhan bersama tubuh Eommanya.

End Of FlashBack

 

“Aku tidak tau Hanna pernah mengalami Post Traumatic Stress Disorder…” Myungsoo menatap Hanna yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya.

“Jangankan melihat sebuah kematian. Melihat pistol saja ia sudah bergetar ketakutan.” Jawab Sehun setelah merapikan selimut Hanna. Ia sendiri yang membawa Hanna kembali ke kamarnya, setelah sebelumnya Hanna menyadarkannya dari keterbekuan dengan sebuah teriakan histeris, hanya karena melihat sebuah perluru yang menembus dada kiri Eiji. Sebelum akhirnya, jatuh pingsan dengan sisa-sisa air mata di pipinya.

“Tak heran ia mengalami itu, kejadian traumatik yang ia saksikan 2 tahun silam cukup membuat jiwanya terguncang.” Timpal Yong Guk.

“Ne.. Melihat Ibunya sendiri dibunuh dengan cara yang keji, kemudian melihat kematian rekan-rekan ayahnya dan terakhir~ Melihat ayahnya sendiri ditembak oleh sahabat baiknya—tepat, dihari ulang tahunnya..” Myungsoo menatap Sehun yang tengah menatap Hanna. “Itu semua sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang gadis sepertinya mengalami gangguan psikologi seperti ini…” Lanjutnya.

“Jika benar Ryuu-san menginginkan Hanna mati, maka benar Ia menginginkan sebuah kekuasaan..” Timpal lagi Yong Guk.

“Ia ingin menggulingkan kekuasaan Osamu-sama dengan membunuh Hanna. Karena kunci kehancuran Black ID ada di tangan Jo Khaza, dan nyawa Hanna merupakan taruhan untuk membungkam mulut Jo. Dan jika Hanna mati sekarang, maka tidak ada alasan untuk Jo tutup mulut.”

“Dan Black ID akan hancur dalam hitungan detik. Lalu kembali bangkit dengan pemimpin yang baru…” Timpal Myungsoo.

“Dan tugas baru kita adalah memperketat perlindungan terhadap Hanna, sampai Jo Khaza berhasil kita temukan. Itu pun, jika kita tidak ingin dipimpin oleh orang yang jauh lebih keji dari Osamu-sama..” Ujar Yong Guk santai.

“Sesungguhnya, aku sangat ingin mengakhiri status keanggotaanku…” Ujar Sehun tiba-tiba, “Itu sebabnya aku membiarkan Eiji mengarahkan senjatanya pada Hanna..” Lanjutnya pelan, membuat Myungsoo dan Yong Guk membelalak samar.

“Jika Ryuu-san mengambil alih. Jangankan kebebasan, napas pun akan sulit kau rasakan!” Desis Myungsoo tajam. Tak lama tangannya terangkat, menunjuk Hanna yang masih berada di alam bawah sadarnya.

“Bukankah kau sangat mengenalnya? Bagaimana bisa kau berbuat jahat padanya?”

 

 

 

~To Be Continued~

~Glosarium~

1. Yakuza
Yakuza, mereka adalah gangster atau organisasi mafia asal Jepang yang berdiri sejak abad 17. Mereka terkenal karena kode etik mereka yang ketat juga kejahatan terorganisir yang mereka lakukan. Kekejamannya pernah di filmkan dalam film laga Jackie Chan yang berjudul Shinjuku Incident. (Film ini yang buat aku kenal yakuza dan entah kenapa, aku malah suka sama mereka #gubrak) sampai saat ini mereka memiliki 110.000 anggota, dan mereka melakukan tindak kejahatan secara internasional.

2. Yardies
Yardies, ini nama gaulnya/? Nama sebernya dari organisasi ini Jamaican-British Yardies. Mereka sering kali terlibat dalam jual beli senjata api ilegal dan penjualan obat-obatan terlarang. Tindak kejahatan mereka benar-benar terorganisir, mereka bertindak seolah-olah tidak melanggar undang-undang yang berlaku dalam negara jajahan mereka. Sehingga mereka mempunyai kedudukan yang kuat sebagai organisasi mafia. Inggris merupakan salah satu negara yang sudah berada dalam kontrol mereka (untuk jual beli senjata api ilegal). Aku udah pernah bahas gang ini di chapter 2.

3. Front Organization
Ini juga pernah dibahas, tapi aku bahas lagi, biar ga lupa. Awal-awal Regret, aku sebut Front Organization ini sebagai Organisasi bayangan dan organisasi kedok, padahal tugasnya itu-itu juga. Dan untuk Front Organization ini, sudah dibahas secara gamblang di dalam cerita. Semoga paham..hee di semua negara, Front Organization ini pasti ada, tidak hanya untuk organisasi mafia. Partai politik, atau bahkan badan intel pun ada. Silahkan cermati berita di TV dan artikel, jika ingin membuktikannya. Di Indonesia pun demikian, bahkan sangat ketara terutama untuk para pemegang partai Politik.

3. Post Traumatic Stress Disorder
Gangguan psikologi yang dialami seseorang pasca mengalami kejadian traumatik. Bisa sembuh tapi juga bisa kambuh kembali saat melihat benda, tempat, atau apa pun itu yang mengingatkannya pada pengalaman buruk yang pernah ia alami. (semacem stres, ada yang ringan dan ada yang parah, tapi kalau Hanna termasuk ringan)

4. Untuk Odeng dan Tteokbokki, klik aja link ini ya. Kalau masalah jajanan aku males jelasin (takut lapar)

http://explorerguidebook.blogspot.in/2013/11/15-jajanan-pinggir-jalan-khas-korea.html?m=1

sekedar berbagi 🙂

 

 

Author’s Note

Sebelumnya maaf atas keterlambatan postnya, juga kekurangan lainnya. Dan makasih buat kehadirannya….

Saranghae Yeorobun^^

 


 

 

 

Regards ❤ sehunbee

Advertisements

635 comments

  1. hiks sedih banget ceritanya 😢
    ini ff bener” bikin kena banget sampe ke hati.
    kamu terlalu keseringan ya nonton film action jadi tau sampe detail gitu
    menarik kok ceritanya ☺

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s