Regret [Chapter 5]

regret

Title : Regret | Broken

Author : SehunBee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun [EXO] as Mafia
Khaza Hanna [OC] as Sehun’s Wife
Xi Luhan [EXO] as Detective
Byun Baekhyun [EXO] as Jaksa

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17 or Mature

Lenght : Series/Chapter

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit Poster by @lulubeib

Prev. Chapter

Chapter 1 ¤ Chapter 2 ¤ Chapter 3  ¤ Chapter 4

Summary

Senyumnya. Setidaknya aku bisa kembali melihat senyumnya. Asal ia bahagia akupun akan bahagia. Oleh sebab itu aku tak bisa melihatnya menderita, karena aku pun akan merasakan penderitaannya. Tidak masalah jika cintanya memang sudah hilang, asal bisa melihatnya bahagia itu sudah cukup bagiku.

Note : Biasakan baca author note di bawah ff..!!

¤
¤¤¤
Regret
¤¤¤
¤

 

Baekhyun POV

 

Kau tau? Hidup itu masalah, berani menghadapi masalah itu hidup.

Terdengar keras memang, tapi seperti itulah adanya. Apalagi jika masalah itu datang silih berganti. Maka kau pun akan sulit untuk menikmati apa itu hidup.

Masalahku sendiri ada, dan berawal dari sebuah prasangka yang ternyata nyata. Padahal sejak awal aku tau perasaan-nya itu akan menjadi masalah. Tapi aku membiarkannya berlarut-larut dengan harapan ia bisa melepasnya. Tapi sayangnya itu tidak terjadi. Justru aku yang harus berakhir dengan melepasnya. Bahkan sampai saat ini pun aku masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa kekasihku, Hanna, telah menikah dengan mantan sahabat baiknya, Sehun.

Aku masih tak menyangka kebodohanku itu akan membawaku pada sebuah penyesalan yang tiada akhirnya. Padahal sejak awal aku tau Sehun menyayangi Hanna lebih dari sekedar sahabat. Tapi aku membiarkannya, seolah tak tahu apa-apa. Karena aku tak bisa meminta Hanna atau pun Sehun untuk saling menjauhi satu sama lain, hanya karena status yang kami miliki. Biar bagaimanapun mereka sudah bersahabat sejak lama, meski Sehun memiliki perasaan yang lain.— Sehingga pada akhirnya aku hanya bisa diam, tanpa bisa mengedepankan rasa cemburuku setiap kali melihat mereka bermain bersama. Dengan meyakinkan perasaanku bahwa Hanna hanya mencintaiku.

Dan kini, ketakutan terbesarku terjadi. Bahwa Sehun akan merebut Hanna dariku.—– Membuatku tak mampu lagi berkutik, dan pada akhirnya hanya bisa diam menangisi sebuah undangan. Meskipun aku tau saat itu terjadi perasaan Sehun telah hilang sepenuhnya pada Hanna. Sehun melakukannya hanya karena paksaan kelompoknya atas hukuman yang ia terima. Dan aku tak bisa melakukan apapun untuk menolong Hanna. Aku hanya bisa membiarkan ia berjalan di altar dengan Luhan Hyung sebagai pendampingnya. Aku hanya bisa menyaksikan bagaimana semua itu terjadi di depan mataku. Bahkan aku masih mengingat dengan jelas bagaimana air mata Hanna jatuh saat itu, tatapan mengerikan Sehun juga senyum iblis Jaesuk. Kejam.

Mereka benar-benar mempermainkan Dollfieku. Dan bodohnya aku, karena tak bisa melakukan apa pun selain diam dan menyaksikan semuanya. Seolah semuanya itu terjadi sebagaimana wajarnya.

Dan mulai detik itu. Aku bersumpah akan membuka kembali kasus Jo Aboeji. Demi kebebasanya juga anak-anaknya, yang kini tengah dipermainkan layaknya boneka. Aku akan menyelesaikan semua kasusnya. Karena aku yakin, sepintar apapun Black ID membuat masalah pasti akan terpecahkan juga. Karena pada dasarnya tidak ada masalah yang tak bisa di pecahkan di dunia ini, sesulit apapun itu. Walaupun aku tau nyawaku yang akan menjadi taruhannya.

“Haahh…”

“Kau sudah menghela napas gusar sebanyak 4 kali dalam waktu kurang dari 1 menit.”

Aku terlonjak kaget saat mendapati rekan kerjaku, Himchan. Sudah berdiri tepat di samping meja kerjaku. Aku menatapnya penuh tanya, sedikit bingung akan kehadirannya.

“Ini sudah jam makan siang, Baek. Kau tidak lapar? Dari tadi aku terus memerhatikanmu, dan yang aku lihat kau hanya melamun saja.—- Apa karena kasus yang kau tangani kali ini ringan, makanya kau jadi pemalas?” Ujarnya menyadarkanku. Aku pun melirik arloji yang terpasang di lengan kiriku. Berniat untuk membuktikan kebenarannya. Dan benar saja, ternyata sedari tadi aku terlalu asik dengan duniaku. Sehingga aku tak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 12.

“Kasus yang aku tangani kali ini memang ringan, tapi aku juga masih menyelidiki kasus lamaku.” Jawabku sembari bangkit dari dudukku. “Kajja. Kita akan makan di kantin atau makan di luar lagi?”

“Di luar saja. Aku tidak suka menu makanan disini” Jawabnya. Kim Himchan, dia satu-satunya sahabat yang aku miliki disini. Meskipun aku memiliki banyak teman, tapi hanya dia yang aku percaya. Sehingga hanya kepadanya aku menceritakan semua keluh kesahku. Termasuk masalah terbesarku, yang masih mengharapkan dan mencinta mantan kekasihku.—- Yang kini sudah berstatus sebagai istri dari mantan sahabatnya.

Kami pun berjalan beriringan menuju pintu keluar dari gedung tempat kami bekerja. Kantor Kejaksaan Pusat Distrik Seoul. Ya. Disini aku bekerja. Terdengar keren memang. Karena Kantor Kejaksaan Distrik Seoul sudah sangat terkenal akan kualitas para jaksanya. Bahkan tahun 2006, salah satu dari kami berhasil mendakwa 5 orang mata-mata dari Korea Utara, termasuk Jang Min-ho, yang merupakan dalang dari kasus mata-mata itu. Dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri untuk kami, karena pada dasarnya tidaklah mudah untuk mendakwa seseorang yang pro Korea Utara. Ditambah kasus spionase itu merupakan kasus terbesar yang terjadi, sejak kedua negara melakukan proses rekonsiliasi pada pertemuan puncak penting di tahun 2000 lalu.

Dan kini, aku tanamkan dalam diriku. Bahwa aku pun bisa menorehkan prestasi yang lebih hebat dari itu. Mendakwa para anggota Black ID misalnya. Meskipun itu terdengar mustahil. Tapi aku percaya tidak ada yang mustahil di dunia ini, selagi aku masih mau mencoba dan berusaha. Apalagi profesiku sangat mendukung untuk itu. Karena aku merupakan seorang advokat negara,—- jaksa.

“Selama perjalanan menuju kemari kau terus saja melamun. Sampai tiba di sini pun kau masih melamun. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?” Untuk yang kedua kalinya aku dibuat terkejut olehnya. Dan kini aku baru sadar, ternyata kami sudah tiba di tempat biasa kami makan siang bersama. Aku pun mengedarkan pandanganku kesekeliling. Mencoba untuk kembali ke dunia nyata, agar aku tak kembali larut dalam duniaku sendiri.

“Kursi yang biasa kita tempati masih kosong” Ujarku sembari menghela napasku pelan. Mencoba untuk melepas semua beban yang tengah aku rasakan, juga sedikit melupakan berbagai macam pikiran yang sedari tadi berkecamuk dalam benakku.

“Memikirkannya lagi?” Tebaknya dan tepat adanya. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melangkah terlebih dulu, ke arah kursi yang biasa kami tempati.

“Sadarlah Baek,— cintamu itu hanya akan membawamu berada dalam bahaya. Kau tahu betul orang seperti apa Sehun. Bahkan sejauh ini, ia sudah berhasil menghilangkan beberapa barang bukti dari kasus yang melibatkan ayahnya. Dan hanya tinggal beberapa langkah lagi, Sehun berhasil melenyapkan barang bukti terakhirnya.” Lanjutnya setelah kami mendudukkan tubuh kami di kursi.

Aku masih menundukkan kepalaku. Mataku pun terpejam erat. Sedikit membenarkan ucapannya. Tapi aku tak bisa berhenti sampai disini, karena aku,—– ingin melindungi bukti terakhir itu.

“Dan bukti terakhir itu adalah ayah dari mantan kekasihmu.” Lanjutnya lagi. Dan perlahan aku membuka mataku, mencoba untuk menatap manik matanya.

“Itu sebabnya aku tak bisa berhenti sampai disini. Karena aku ingin melindungi mereka. Aku menyayangi mereka. Tak peduli nyawaku yang akan menjadi taruhannya. Aku akan terus menyelidiki kasus ini sampai akhir,—- sampai takdir sendiri yang menghentikanku dan tak membuatku bernapas lagi.”

“Apa kau yakin Hanna masih mencintaimu? Sehingga kau rela mempertaruhkan nyawamu demi menyelamatkannya juga keluarganya? Apa yang kau dapat jika hatinya sudah tidak lagi untukmu?” Tanyanya sarkatis, sedikit kesal akan jawabanku. Dan lagi-lagi, aku kembali dibuat berpikir oleh pertanyaannya. Bahkan akal sehatku ikut menyalahkan kebodohanku. Bahwasannya tidak akan ada yang aku dapat, jika benar perasaan Hanna telah hilang untukku. Seolah memerintahkanku untuk berhenti menantang bahaya hanya demi perasaan semu. Tapi aku punya alasan,—

“Senyumnya. Setidaknya aku bisa kembali melihat senyumnya. Asal ia bahagia aku pun akan bahagia. Oleh sebab itu aku tak bisa melihatnya menderita, karena aku pun akan merasakan penderitaannya. Tidak masalah jika cintanya memang sudah hilang, asal bisa melihatnya bahagia itu sudah cukup bagiku.” Jawabku dengan memberikannya senyum terbaikku. “Itulah cinta. Cinta tak pernah mengharap balasan yang sama. Cinta juga tak terlihat tapi bisa kau rasakan. Itupun jika kau benar-benar tulus saat merasakan kehadirannya. Maka saat itu juga, cinta akan membuatmu merasakan semua hal yang tak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya.” Lanjutku dan bisa aku lihat wajahnya yang tercengang.

“Dan cinta membuat orang tidak bisa berpikir secara rasional.” Jawabnya kemudian dengan senyum khasnya.

“Kau tahu itu. Kenapa masih bertanya? Dasar bodoh.” Cibirku membuatnya mempoutkan bibir kesal.

“Pastikan kau tetap hidup sampai semua keinginanmu terwujud Baek.—- Berjanjilah padaku.” Ujarnya parau. Aku pun hanya bisa menaikkan sebelah alisku bingung. Karena yang aku tangkap dari nada bicaranya, ia terlihat takut akan kehilanganku.

“Tentu. Kau bisa pegang janjiku.” Jawabku pada akhirnya. Mencoba meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Aku pegang janjimu. Dan aku tak akan mau berkunjung ke makammu jika kau mati sebelum mewujudkan mimpimu. Camkan itu.” Ancamnya membuatku tertawa saat mendengarnya. Sungguh kata-katanya itu terdengar sangat naif.

“Arraseo, arraseo. Kajja kita pesan makanan.” Aku mengangkat tanganku berniat untuk memanggil salah seorang waiter.

 

¤
¤¤¤
Regret
¤¤¤
¤

 

Matahari mulai tenggelam di ufuk Barat. Membuat langit biru perlahan berubah menjadi jingga. Puluhan kawanan burung pun mulai terlihat ramai, meramaikan langit sore itu. Mereka semua terlihat terbang dalam satu arah, meskipun berbeda kelompok juga jenis. Seolah burung-burung itu memiliki tempat tujuan yang sama untuk pulang, meskipun mereka bukan keluarga. Kepakan sayap mereka, membuat pemandangan yang indah kala itu. Tapi sayang, manusia terlalu sibuk untuk sekedar menikmatinya. Termasuk—–

 

Oh Sehun.

 

Sedari tadi ia hanya diam mematung, sembari berdiri kaku di atas atap gedung kantornya. Ia sibuk dengan dunianya sendiri. Terlihat dari bagaimana mata elangnya menerawang kosong ke arah dimana matahari tenggelam. Memikir sesuatu yang entah apa itu. Bahkan ia membiarkan angin memberantakan anak rambutnya yang sebelumnya tertata rapi. Tanpa peduli penampilannya akan terlihat kacau setelah itu.

Pikirnya seolah melayang. Tapi tidak pernah jauh dari dua nama. Membuatnya tak bisa lepas dari perasaan bersalahnya, juga tak bisa menghilangkan perasaan bencinya.—– Sehun pun semakin tak mengerti dibuatnya. Apalagi perasaan bersalah dan rasa benci itu ada karena kebodohannya.

Hatinya pun sakit setiap kali memikirkan itu. Terutama perasaan bencinya, tapi Sehun tak tau dan seolah tak ingin tau mengapa perasaan benci itu tumbuh dalam hatinya. Padahal perasaan itu ada karena kesalahannya sendiri, yang tidak pernah jujur akan perasaannya, juga tak pernah berniat untuk mengungkapkannya sejak awal. Sehingga pada akhirnya ia membiarkan rasa itu terus berlarut-larut, sampai pada akhirnya, perasaan itu berakhir menjadi benci yang teramat. Hanya karena sebuah kesalahan yang tak pernah bisa ia lupakan.

 

‘Krys,.. maafkan aku.’

‘KAU JAHAT SEHUN-AH.’

‘Aku mohon maafkan aku. Aku berjanji akan berubah. Aku berjanji untuk belajar mencintaimu. Kita mulai semuanya dari awal Krys..’

 

Bayang-bayang kejadian yang sudah berlalu hampir dua tahun silam itu pun masih mengusiknya. Semuanya masih berputar jelas bagai roll film dalam benaknya. Bahkan ia tak pernah lupa setiap detail kejadian yang terjadi saat itu.

“Kenapa disaat aku mencintaimu kau justru pergi meninggalkanku, Krys? Dan kenapa disaat perasaanku telah hilang, Hanna justru menjadi milikku?” Gumam Sehun parau. Kesedihan yang begitu mendalam pun terpancar jelas dari wajah tampannya. Ia terlihat begitu tersiksa atas semua permainan takdir-Nya. Tapi tak pernah ada yang tahu, seperti apa perasaannya saat ini. Bahkan ia sendiri pun tak mengerti. Dan bisa dipastikan hanya Tuhan-lah yang tahu.

Karena yang Sehun tau. Ia begitu membenci Hanna, karena Hanna merupakan salah satu penyebab kematian Krystal juga bayi yang dikandungnya. Tapi mengapa juga ia bisa meniduri Hanna, disaat hatinya sendiri dipenuhi akan kebencian terhadapnya. Itu yang membuat Sehun semakin tak mengerti. Ia benar-benar dibuat kacau oleh perasaannya sendiri.

 

“Aku mencarimu di ruanganmu. Tapi ternyata kau berada disini.” Ujar sebuah suara. Menyadarkan Sehun dari lamunan panjangnya.

 

” . . . ” Sehun tak menggubrisnya. Ia hanya membiarkan orang itu datang menghampirinya dan kemudian berdiri tepat di samping tubuhnya. Selanjutnya tak ada lagi percakapan yang terjadi diantara keduanya. Keduanya seolah sibuk dengan dunianya masing-masing. Dan pada akhirnya hanya membiarkan kesunyian serta hawa dingin datang menyelimuti.

Matahari pun kini telah tenggelam sempurna, membuat langit jingga perlahan kehilangan cahayanya. Dan kemudian tergantikan dengan kegelapan malamnya.—- Angin yang berhembus pun terasa semakin kencang juga dingin. Membuat tubuh ikut menggigil dibuatnya. Tapi dua orang pria dewasa itu seolah mati rasa. Terbukti dari keterdiaman mereka yang seolah enggan beranjak dari sana.

 

“Bagaimana kabar adikku?” Setelah sebelumnya terdiam cukup lama dan membiarkan perasaan asing mengganggunya, akhirnya Luhan memutuskan untuk membuka suara terlebih dulu.

 

“Baik.” Jawab Sehun singkat

 

“Aku harap begitu. Karena kau sudah berjanji, tidak akan menyakitinya jika aku mau menuruti semua perintahmu.”

 

Hening..

 

Keheningan kembali terjadi. Karena hanya itu percakapan yang terjadi diantara keduanya. Tidak lebih. Tapi mereka masih betah mempertahankan posisinya saat ini. Seolah tengah berbagi rasa lewat kebisuan itu.

 

“Izinkan aku untuk bertemu dengannya. Aku merindukannya.” Pada akhirnya Luhan mencoba untuk mengungkapkan maksud dan tujuannya datang menemui Sehun.

“Jika kau berhasil menyembunyikan identitas barumu.”

“Kau tau, semenjak kasus yang melibatkan ayahku, aku selalu diawasi oleh agen FBI. Karena mereka masih mencurigaiku, bahwa ada keterlibatanku di dalamnya. Tapi mengapa, kau justru membuat kecurigaan mereka itu benar adanya, dengan merekrutku menjadi bagian dari Black ID.” Luhan menatap Sehun. Tapi Sehun tidak melakukan hal yang sama dengannya. Membuat Luhan dapat melihat dengan jelas betapa sempurnanya lengkung mancung hidung Sehun juga rahang tegas miliknya. Membuatnya tanpa sadar kembali mengagumi ketampanan orang yang pernah ia anggap adik itu.

sehun

“Sebenarnya apa yang kau rencanakan Sehun? Apa kau juga ingin menjebloskanku ke dalam penjara?”

“Tidak. Kau bagian dari kami sekarang. Yang perlu kau lakukan hanyalah menuruti perintahku.”

“Aku sudah menuruti semua perintahmu. Dan sekarang apa lagi?”

“Kau akan tahu nanti.”

“Kalau begitu,— bolehkah aku meminta imbalan yang jauh lebih besar lagi?” Pinta Luhan sedikit ragu.

Sehun pun mengalihkan fokusnya pada Luhan sembari menatapnya penuh tanya.

 

“Bisakah kau dan orang-orangmu berhenti melakukan pencarian terhadap appa?” Lanjut Luhan.

Sehun pun tersenyum kecut mendengarnya. “Itu hukumanku. Itu alasan mengapa aku terikat dengan Hanna. Itu penyebab mengapa aku kehilangan kekasihku. Jadi tidak ada alasanan untukku mengabulkan permohonanmu.” Ujarnya. Dengan manik elangnya yang mengunci tajam manik rusa Luhan.

“Bahkan aku tak bisa memberikanmu dua pilihan, untuk memilih Hanna atau aboeji. Karena aku sudah menentukan pilihan itu untukmu.” Lanjut Sehun membuat amarah Luhan bangkit kembali.

 

“Hanna. Ia akan tetap hidup. Tapi tidak dengan aboeji. Karena pemimpin yang menginginkannya mati. Dan aku hanya menjalankan hukumanku. Dan lagi, bukankah perjanjian awal kita hanya itu?”
Tanya Sehun dengan senyum iblisnya.

 

¤
¤
¤

 

Hanna menatap dingin perempuan yang berada di depannya. Seolah tak peduli akan tatapan sinis yang tengah ditunjukkan oleh wanita itu. Perasaan benci pun tiba-tiba saja menyelimuti hatinya, saat wajah yang menurutnya begitu memuakkan itu kembali dilihatnya. Wajah yang sama, tatapan yang sama, serta senyum remeh yang sama dari wanita yang pernah dibawa dan ditiduri Sehun itu. Benar-benar membuatnya semakin mual saat melihatnya. Tapi ia tak bisa berbalik dan pergi sekarang, setidaknya sampai tujuan awalnya datang ke kantor Sehun terpenuhi.

 

“Apa yang membuat anda datang kemari Nyonya? Bukankah jam kerja sudah berakhir? Mengapa anda repot-repot datang kemari?” Tanyanya bertubi-tubi. Membuat Hanna semakin muak dibuatnya.

“Aku hanya ingin bertemu dengan suamiku. Dan itu bukan urusanmu. Jadi berhentilah menghalangi jalanku.” Titah Hanna tegas. Tapi wanita yang menjadi sekretaris Sehun itu tak peduli. Ia masih betah mempertahankan posisinya, dengan bersandar santai pada daun pintu yang menuju ruang kerja Sehun itu.

“Apa kalian kembali bertengkar?” Tanyanya lagi.

“Sudah ku bilang. Itu bukan urusanmu.”

“Itu menjadi urusanku Nyonya.— Sudah lama sekali Sajangnim tak pernah mengajakku bercinta lagi. Dan aku, begitu merindukkan setiap sentuhannya.”

“Bitch.” Cibir Hanna dengan senyum kecutnya.

“Siapa pun rela menjadi pelacurnya Nyonya. Dan aku yakin anda tidaklah buta untuk melihat dan menyadari betapa mempesonanya Sajangnim. Tapi sayangnya dia hanya mempermainkanmu.” Ujarnya dengan nada santun. Membuat Hanna semakin ingin pergi saat ini juga.

“Menyingkirlah.” Titah Hanna lagi dengan nada dingin yang jauh lebih menusuk.

“Jangan buru-buru Nyonya. Ada baiknya kita berbincang dulu.”

“Aku tidak ada urusan denganmu, sekalipun kau simpanan suamiku.” Jelas Hanna sembari melangkah, mencoba untuk menarik wanita itu menjauh dari daun pintu. Tapi sayangnya, wanita itu justru menahan pergelangan tangannya.

“Nyonya tau? Sajangnim sangat tangguh saat bermain, aku bahkan kewalahan saat melayaninya. Dan sayang sekali jika anda tidak pernah merasakannya Nyonya.”

Wanita itu kembali menggoda Hanna. Entah mengapa. Tapi ia sangat suka melihat wajah Hanna yang memerah menahan amarah. Lucu. Ditambah wajah cantik Hanna terlihat begitu kekanakan dimatanya, sehingga membuat kesan tersendiri untuknya. Ia pun tak mengerti mengapa direkturnya menyia-nyiakan wanita secantik Hanna. Padahal ia sendiri mengakui, Hanna jauh lebih cantik darinya. Tidak hanya cantik tapi juga sexy. Bahkan dari luar pun ia sudah dapat menerawang betapa indahnya tubuh Hanna dibalik helai pakaian yang ia gunakan. Tapi bagaimana bisa direkturnya tak tergoda oleh itu. Yah, setidaknya itu yg ada dalam benaknya. Karena ia tau Sehun selalu bermain-main dengan wanita.

“Lepaskan aku. Biarkan aku masuk.” Pinta Hanna semakin lucu dimatanya.

 

“Hyomin-ssi, lepaskan dia.” Titah sebuah suara. Membuat mereka berdua refleks menolehkan kepala ke arah sumber suara.

 

“Sehun-ah..” Gumam Hanna pelan. Sembari menatap tak percaya seorang pria yang tengah berdiri tidak jauh dari posisinya itu.

“Kau tidak bilang ia berada di luar?” Tanya Hanna sinis pada wanita yang baru ia ketahui bernama Hyomin itu.

“Kau tidak bertanya Nyonya.” Hyomin hanya mengedikkan bahunya acuh sembari melepas cengkraman tangannya pada lengan Hanna.

“Kau keluar tanpa izinku, Hanna.” Ujar Sehun masih dengan nada yang sama.

Hanna tak menggubrisnya. Ia justru berjalan mendekati Sehun. Tapi hal tak terduga ia dapat. Sehun langsung menarik lengannya, saat ia sudah tepat berada di hadapannya.

“Sehun-ah, lepaskan aku.. Aku ingin bicara.”

“Pulang.”

“Tidak. Jika kau tidak ikut pulang.”

“Aku ada urusan.”

“Kau sudah tidak pulang selama 3 hari dan selama itu kau mengurungku.— Sekarang aku ingin bicara denganmu.”

Tak ada jawaban dari Sehun. Ia terus menarik lengan Hanna memasuki lift. Bahkan sampai di dalam lift pun ia masih mencengkram lengan Hanna kuat.

“Sehun.. Sakit… Lepaskan.”

“Diam.” Bentak Sehun dengan nada pelannya membuat Hanna bungkam seketika.

‘Aku hanya ingin bicara denganmu untuk bertemu dengan Luhan oppa…’ Pinta Hanna dalam hati dan sangat tidak mungkin Sehun dapat mendengarnya. Karena memang itu tujuan awalnya. Ia hanya bosan terus dikurung di dalam rumah mewah nan luas milik Sehun, dan hanya ditemani para penjaga yang di tugaskan oleh Sehun untuk mengawasinya saja. Sementara Sehun sendiri jarang pulang ke rumahnya. Terhitung semenjak kunjungan Luhan ke rumah mereka. Membuat Hanna tak bisa lagi mengajukan permohonannya dengan mudah, ketika ia menginginkan sesuatu. Jika Hanna tidak mengancam beberapa orang penjaga yang menjaganya, mungkin sampai saat ini, ia tidak akan bisa keluar dan berada disini bersama Sehun.

“Sehun-ah…” Panggil Hanna pelan.

Sehun masih bungkam. Bahkan sampai mereka berada di luar pun Sehun masih betah akan keterdiamannya. Ia terus menyeret Hanna sampai pada mobil pribadinya yang Hanna gunakan untuk datang kemari. Dibantu oleh salah seorang penjaganya yang beralih profesi menjadi sopir.

“Awasi dia. Dan kau beserta teman-temanmu hanya boleh menuruti perintahku.” Ujar Sehun dingin pada seorang yang tengah menundukkan kepalanya takut.

“Arraseo Tuan.”

Sehun melepaskan cengkramannya dan memberi isyarat agar Hanna segera memasuki mobilnya. Tapi sayangnya Hanna tetap pada pendiriannya.

“Masuk.” Titah Sehun pada akhirnya.

“Tidak. Jika kau tidak ikut masuk.” Tolaknya cepat.

“Kau ingin membantahku?”

“. . .” Tak ada jawaban dari Hanna. Dan entah ada keberanian dari mana ia justru menarik lengan Sehun untuk ikut masuk bersamanya. Tapi tenaga Sehun jauh lebih kuat darinya, sehingga Hanna hanya bisa menggeser tubuh Sehun sedikit saja.

“Kajja kita pulang..”
Pinta Hanna. Masih mencoba untuk menarik tubuh Sehun.

“Jangan kekanakan Hanna. Cepat masuk.” Sehun mendorong tubuh Hanna pelan untuk memasuki mobilnya. Tapi sekali lagi Hanna menolaknya. Aksi saling tarik dan dorong pun terjadi diantara keduanya. Membuat para pegawai yang kebetulan melihatnya pun dibuat bingung oleh keduanya. Pasalnya CEO mereka dan istrinyalah yang tengah beraksi. Meributkan sesuatu yang entah apa. Tapi sayangnya, mereka tak berani untuk mencari tau lebih dekat lagi. Karena mereka tau orang seperti apa Sehun.— Dan akhirnya melihat dari jauh, menjadi pilihan terbaik untuk mereka.

 

“Hanna..” Gumam Luhan pelan saat ia mendapati Hanna dan Sehun tengah bersama di luar. Tatapan bingung pun ia tunjukkan, saat menyadari ternyata mereka tidak sedang baik-baik saja. Tapi seperti halnya yang lainnya, ia pun tak berani mendekati keduanya. Bukan karena ia takut, tapi karena memang belum saatnya. Meskipun ia begitu merindukan adik kecilnya itu. Dan tanpa Luhan sadari, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membuat lengkungan yang terlihat begitu manis juga tulus. Ia hanya merasa seperti tengah melihat Sehun dan Hanna yang dulu. Yang selalu bertengkar. Meributkan sesuatu yang tak penting. Meskipun kini semuanya telah berubah.

Kejadian itu pun menjadi pemandangan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan bagi Luhan.

 

“Sudah ku bilang tidak. Jika kau tidak ikut.”

“Jangan membantahku. Cepat masuk.” Titah Sehun dingin. Tapi kali ini Hanna tak gentar dibuatnya. Ia justru mendorong tubuh Sehun untuk masuk ke dalam mobil itu terlebih dulu. Sebelum akhirnya ia ikut masuk dan menahan pergelangan tangan Sehun, agar ia tak keluar lewat pintu yang berada di sampingnya.

“Apa-apa kau ini. Lepaskan aku.” Kini Sehun yang meronta dibuatnya.

“Aniya… Jalankan mobilnya.”

“Tidak.”

“Jalankan mobilnya.”

“Aku bilang tidak.”

Sehun hendak membuka pintu mobil disampingnya, sebelum akhirnya Hanna kembali menghentikan pergerakannya.

“Jalankan mobilnya.” Pinta Hanna semakin frustasi.

“Tidak. Lepaskan aku.”

Sang sopir pun dibuat bingung oleh keduanya. Ia hanya bisa melirik takut dua orang yang tengah ribut di belakangnya itu. Tanpa berani mengambil tindakan.

“Aku mohon jalankan mobilnya.” Hanna memohon dengan suara yang bergetar seperti menahan tangis. Membuat sang sopir iba dan pada akhirnya memilih untuk menuruti titah Nyonya mudanya. Sehun pun dibuat bingung olehnya. Pasalnya Hanna tak pernah seperti ini sebelumnya, terhitung semenjak mereka terikat dalam sebuah pernikahan. Karena semenjak saat itu, Hanna menjadi sosok yang amat dingin terhadapanya. Pun sebaliknya. Dan baru kali ini mereka kembali meributkan hal-hal kecil semacam ini.

“Ada apa denganmu?” Ketus Sehun akhirnya.

“. . .” Hanna tak menjawabnya. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada tangan kanan Sehun. Karena Hanna sendiri pun tak mengerti mengapa emosinya tiba-tiba saja tak stabil seperti ini. Bahkan ia tak bisa membendung keinginannya sendiri untuk bertemu dengan Sehun juga oppanya. Aneh.

Dan akhirnya, Hanna memilih tetap diam daripada harus menjawab pertanyaan yang tidak ia ketahui jawabannya itu. Sampai pada akhirnya, rasa kantuk datang menyerangnya secara perlahan. Tapi ia tetap mempertahankan posisi tangannya yang memeluk sebelah tangan Sehun erat. Hanna hanya takut, jika tiba-tiba saja Sehun memutuskan untuk melompat dari dalam mobilnya saat ia tertidur. Naif memang. Tapi memang seperti itulah pola berpikir Hanna. Padahal itu sangat tidak mungkin Sehun lakukan.

Sehun pun demikian. Kini ia hanya diam saja. Memutuskan untuk mengalah dari Hanna. Serta membiarkannya melakukan hal yang ia inginkan. Bahkan ia tak lagi mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Hanna. Sampai pada akhirnya bahunya menopang beban berat yang membuatnya refleks menolehkan kepalanya ke samping. Aroma soft fruit pun menyapa indera penciumannya seiring dengan adanya beberapa helai rambut yang menyentuh permukaan wajahnya.

“Tidur?— Kau tidak takut, aku akan lari selama kau tertidur?” Ujar Sehun saat mendapati Hanna yang tengah menyandarkan kepalanya pada bahu lebarnya, dengan kedua mata yang tertutup rapat.

“….” Sehun kembali tak mendapat jawaban. Hanna benar-benar tertidur di pundaknya. Matanya pun belum teralihkan dari wajah cantik itu. Dan bisa Sehun lihat wajah Hanna terlihat begitu letih dan,— sedikit pucat. Tidak seperti biasanya.

“Apa saja yang dilakukan Nyonya muda seharian ini?” Tanya Sehun, tanpa mengalihkan fokusnya dari wajah Hanna.

“Tidak ada Tuan. Seharian ini Nyonya hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Dan ketika keluar, Nyonya hanya memintaku untuk mengantarkannya bertemu dengan Anda. Dan jika saya menolak, Nyonya mengancam akan bunuh diri.” Jelasnya ragu, tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan di depannya.

“Dan kau percaya.” Tanpa sadar Sehun tersenyum kecil saat mendengarnya.

“Maafkan saya Tuan.” Sesalnya dan secara tidak langsung sang sopir pun mengakuinya. Dan kini ia hanya bisa merutuki kebodohannya, karena dengan mudahnya mempercayai ancaman Hanna yang terdengar kekanakan itu.

“Sejak kapan sifat aslimu kembali Hanna?” Gumam Sehun pelan. Jemari panjangnya pun menari lembut di atas permukaan kulit Hanna. Menyingkirkan setiap helai rambut Hanna yang lancang menghalangi pandangannya pada wajah cantiknya itu.

“Tidurlah yang nyenyak. Karena setelah sampai di rumah, aku akan langsung memberikanmu hukuman.—” Sehun menggantungkan kalimatnya. Ibu jarinya pun terus bergerak lembut menyapu permukaan pipi Hanna.

“Hukuman yang menyenangkan.” Lanjutnya disertai dengan seringai khasnya. Sayang sekali Hanna tak dapat mendengarnya. Jika ia mendengarnya, mungkin saat ini juga, ia akan membiarkan Sehun untuk pergi.

 

“Apa dia makan dengan baik?” Tanya Sehun lagi .

“Tidak Tuan. Nyonya sama sekali tidak menyentuh makanannya.”

“Haahh..” Sehun menghela napasnya pelan. ‘Kau benar-benar tawanan yang menyusahkan.’ batinnya sedikit kesal.

“Cari tempat makan terbaik di daerah sini.” Titah Sehun pada akhirnya.

“Baik Tuan.”

Sehun pun mengalihkan fokusnya pada pemandangan yang terlihat di samping tubuhnya. Membuat bayangan wajahnya itu terpantul samar di jendela. Tatapan dingin nan menusuk pun kembali terpancar dari kedua mata elangnya. Membuat siapa saja yang melihatnya membeku, bahkan ikut terkunci dalam sorot tajamnya itu. Pikirannya pun kembali berkecamuk, memikirkan jawaban atas pertanyaannya.—- Mengapa ia selalu menginginkan tubuh Hanna, disaat hatinya sendiri begitu membencinya?!—- Hanya satu pertanyaan itu yang sampai saat ini belum ia temukan jawabannya. Tapi bukankah memang seperti ini, cara yang selalu ia lakukan untuk melampiaskan emosinya, atau hanya untuk sekedar melepas rasa penatnya. Mengapa kini ia harus ambil pusing dengan perasaannya, jika memang itu sudah menjadi kebiasaannya.

 

“Tuan kita sudah sampai.”

 

Sehun tersadar dari lamunan singkatnya. Kemudian ia menolehkan kepalanya pada Hanna sembari menepuk pipinya pelan. Tapi sayangnya Hanna tak kunjung bangun dibuatnya.

“Bangunlah..” Pinta Sehun pada akhirnya, tapi Hanna hanya memperbaiki posisi kepalanya. Mencari posisi yang lebih nyaman lagi di bahu Sehun.

“Hanna… Jangan seperti babi. Cepat bangun.” Pinta Sehun dengan suara yang lebih keras.

“Eungh..” Lengkuh Hanna sembari memindahkan posisi kepalanya pada sandaran kursi. Merasa terganggu dengan apa yang Sehun lakukan. Ia hanya lelah dan masih ingin tidur. Sehingga ia enggan untuk bangun dari tidurnya sekarang. Sehun yang melihatnya pun semakin kesal dibuatnya.

“Baiklah jika ini yang kau inginkan.”

Dengan gerakan tiba-tiba Sehun meraih bibir Hanna. Melumatnya sesaat sebelum akhirnya menggigit bibir bawahnya pelan.

“Akh..” Sukses. Sehun membuat Hanna tebangun karena ulahnya. Terbukti dari rintihan Hanna juga tangannya yang kini tengah bergerak mendorong bahunya pelan. Mencoba untuk menjauhkan Sehun darinya. Tapi sayangnya, Sehun tak lagi peduli pada Hanna yang sudah berhasil dibuatnya bangun.

Ciumannya justru semakin dalam dan menuntut, terlebih saat ia memulainya, ia langsung mendapat akses untuk menelusuri setiap inci rongga mulut Hanna. Tangannya pun bergerak pelan, membawa tubuh Hanna kedalam dekapannya. Membuat ciuman mereka terlihat semakin intens.

“Eumphh..” Protes Hanna tertahan. Membuat Sehun semakin memanas. Tangan Hanna pun tak mampu lagi melawan dan pada akhirnya hanya bisa merelakan Sehun bermain sesukanya. Sampai pada akhirnya persediaan oksigennya terasa semakin menipis. Tapi Sehun tak kunjung melepaskan tautannya. Membuat Hanna kembali berusaha mendorong tubuhnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

“Se..eumphh..” Sehun yang mengerti hanya memberikan Hanna kesempatan sesekali untuk bernapas. Tanpa berniat untuk mengakhiri ciuman panasnya sekarang. Tangannya bahkan sudah menelusup masuk ke dalam sweater rajut yang Hanna kenakan. Memberikannya sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Hanna kehilangan akal sehatnya saat itu juga.

“Aahh..” Desah Hanna pelan seiring dengan Sehun yang mulai melepaskan tautannya. Dengan diakhiri remasan lembut pada bagian atas tubuh Hanna.

“Kita lanjutkan di rumah Hanna. Sekarang aku lapar. Cepat turun.” Titah Sehun sembari melepaskan dekapannya pada tubuh Hanna. Kemudian meninggalkan Hanna yang masih kesulitan untuk mengatur napasnya juga mengumpulkan semua kesadarannya. Rasa kesalpun menyelimuti hatinya, karena ia tak suka dibangunkan dengan cara seperti itu.—–

‘Jika bukan karena Luhan oppa aku tidak akan mau jauh-jauh datang menemuimu.’ Hanna mengumpat kesal dalam hati. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Sehun yang sudah turun terlebih dahulu meninggalkannya. Tapi setelah turun, Hanna hanya diam mematung tanpa berniat menghampiri Sehun yang sudah menunggunya di depan pintu masuk.

Keterdiaman Hanna itupun membuat amarah Sehun kembali terpancing. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali, demi menyeret Hanna masuk ke dalam bersamanya. Tapi sayangnya Hanna tak bergeming. Ia masih betah akan posisinya. Entah mengapa. Tapi ia tidak ingin makan disana. Dan kini, ia tak tahu harus bagaimana mengutarakan keinginannya itu pada Sehun. Karena saat ini, ia menginginkan makan di tempat lain juga memakan-makanan yang lain. Ia tak ingin memakan-makanan mewah yang berada di restauran mewah itu.

 

“Sehun. Aku tidak mau makan disana.” Pinta Hanna pelan.

“Tapi aku ingin makan disini.” Jelas Sehun sembari menarik pergelangan tangan Hanna, agar Hanna mau mengikuti langkah kakinya. Tapi sekali lagi Hanna menolaknya dengan tetap mempertahankan posisinya.

“Sehun aku ingin ramen.” Pinta Hanna pada akhirnya.

“Mwo?” Ketus Sehun.

“Aku ingin makan ramen.” Pintanya lagi.

“Tidak.”

“Aku mohon~”

“Tidak.”

“Sehun-ah.. Kajja kita cari kedai ramen saja.”

“Aku bilang Tidak.” Tegas Sehun.

“Sehun-ah jebal~” Mohon Hanna dengan wajah memelasnya. Kali ini dengan kembali memeluk lengan Sehun dan menarik-nariknya pelan. Agar Sehun mau kembali ke dalam mobilnya.

“Sebenarnya ada apa denganmu?” Sehun tak habis pikir dengan perubahan sikap Hanna hari ini. Padahal ia hanya meninggalkannya selama 3 hari saja, itupun karena pekerjaannya juga urusannya bersama gangsternya. Dan kini Hanna sudah berani membantahnya.

“Aku hanya ingin ramen Sehun. Kajja.” Paksa Hanna dengan nada yang jauh lebih tinggi. Karena Sehun tak kunjung menuruti permintaannya. Emosinya pun tiba-tiba saja memuncak. Bahkan kini, ia terus menyeret paksa tubuh Sehun untuk kembali ke dalam mobilnya. Sehun yang tak ingin mempermalukan dirinya di depan umum pun pada akhirnya kembali mengalah.

Mobil mereka pun kembali melesat membelah jalanan kota. Mencari tempat yang Hanna inginkan. Dan baru berhenti saat mendapati tempat yang Hanna maksud.

 

“Disini Nyonya?”

“Ne..” Hanna terlihat antusias dan segera turun dari dalam mobilnya. Membuat Sehun semakin heran dibuatnya. Apalagi saat mendapati tempat yang dimaksud Hanna merupakan sebuah kedai yang berada di pinggir jalan.

“Yang benar saja.” Sehun menghela napas frustasi. Sebelum akhirnya, ia memutuskan untuk ikut turun menyusul Hanna yang kini sudah duduk manis disalah satu kursi pelanggan.

Mata Hanna berkeliling mencoba untuk kembali mengingat serpihan-serpihan kenang yang pernah terjadi padanya di tempat itu. Kenangan yang sebenarnya menyebalkan baginya, tapi juga menyenangkan. Kenangan yang manis, tapi juga menyakitkan saat diingat. Kenangan indah yang sekarang hanya menjadi masa lalu untuknya. Tapi juga kenangan yang tak akan pernah bisa ia lupakan juga akan terus ia ingat sampai kapan pun. Dimana ia dan Baekhyun, mantan kekasihnya, selalu berlomba menghabiskan semangkuk ramen hanya demi keutuhan uang jajan. Ya. Ditempat inilah mereka biasa makan bersama. Menghabiskan waktu bersama dengan segala kekonyolan yang mereka miliki. Itu sebabnya, Hanna ingin makan ramen di tempat ini, dari banyaknya kedai ramen yang ada di daerah itu.

Sehun sendiri hanya bisa diam. Sembari memerhatikan setiap gerak-gerik Hanna yang tengah duduk di depannya. Mencoba untuk mencari jawaban atas perubahan sikap Hanna padanya hari ini.

“W..wae?” Tanya Hanna gugup saat mendapati Sehun yang tengah menatapnya. Seolah memperhatikannya lewat keterdiamannya.

“….” Tak ada jawaban dari Sehun. Tapi perlahan manik matanya turun memperhatikan setiap lekuk tubuh Hanna, mencoba untuk mencari perubahan yang terjadi padanya. Dan sayangnya nihil. Ia tak menemukan perubahan yang berarti pada tubuh Hanna, selain bagian atas tubuhnya yang bertambah besar. Tapi Sehun menganggap hal itu wajar, karena memang ia sering menyentuhnya. Tak heran jika bentuknya berubah.

Hanna pun mengikuti arah pandang Sehun, dan seketika ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, saat menyadari arah pandang Sehun tertuju kesana. “Lihat apa kau?” Semprot Hanna tidak terima, padahal Sehun pernah melihatnya secara langsung.

“Bodoh” Cibir Sehun sembari mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang ada di sampingnya. Sampai~ pesanan Hanna datang dan kini sudah tersaji sempurna di atas meja mereka. Sehun pun kembali mengalihkan perhatiannya pada semangkuk ramen yang berada di depannya. Kemudian kembali mengarahkan perhatiannya pada Hanna yang kini tengah mengaduk-ngaduk ramennya santai. Hanya mengaduk tapi tak kunjung dimakannya.

 

“Itu yang kau inginkan. Cepat habiskan.”

 

Hanna menatap Sehun ragu. Entah mengapa? Tapi kini~ ia sudah tak ingin memakannya lagi, padahal tadi ia sangat menginginkannya. Bahkan ia sampai berani memaksa Sehun untuk makan disini demi keinginannya yang tiba-tiba itu. Hanna sendiri pun bingung dibuatnya. Bahkan ia tak mengerti, mengapa perubahan moodnya menjadi secepat ini. Dan jika ia mengatakan sudah tidak ingin makan ramen lagi, bisa dipastikan Sehun akan marah besar padanya. Alhasil dengan terpaksa Hanna tetap memakannya meskipun ia tak ingin.

 

Sesumpit

Dua sumpit

Tiga sumpit

 

Hanna tak tahan. Ia tak ingin memakannya lagi. Bukan karena ramennya tak enak, tapi memang karena ia sudah tak menginginkannya lagi. Akhirnya ia hanya diam, memperhatikan semangkuk ramen yang berada di depannya itu. Dan sesekali melirik Sehun yang tengah memakan ramennya. Sampai pada akhirnya, fokusnya itu benar-benar teralihkan pada sosok namja tampan yang berada di depannya itu. Melihat Sehun makan saja sudah membuat Hanna merasa kenyang sekaligus senang. Entah mengapa, tapi Hanna suka melihat cara makan Sehun.

“Habiskan makananmu Hanna.” Titah Sehun sedikit kesal saat mendapati Hanna yang hanya terdiam menatapnya.

“Aku kenyang.” Dustanya, membuat emosi Sehun kembali terpancing.

“Bukankah tadi kau yang menginginkannya.”

 

¤
¤
¤

 

Di Lain tempat. Baekhyun baru saja turun dari subway yang ia tumpangi. Ia baru saja selesai dari jam kerjanya. Dan kini, ia hendak mengisi perutnya yang kosong di tempat favoritenya. Jas kerjanya yang semulanya tersangkut rapi di tubuhnya pun kini sudah terlepas, dan hanya tersangkut lunglai di lengannya. Menampilkan tubuh tegap nan atletisnya yang hanya di balut kemeja putih dengan dasi hitamnya. Terlihat santai tapi cukup bisa membuat wanita yang melihatnya terpana. Ditambah rambut coklat kehitamannya yang semula tertata rapih kini sudah berantakan tak tentu. Membuat kesan ‘dewasa’ tersendiri bagi yang melihatnya.

Baekhyun terus melangkahkan kakinya santai. Menikmati udara sejuk pada malam itu. Juga melepas penat setelah seharian bekerja. Matanya pun berkeliling menikmati indahnya lampu kota juga ramainya pejalan kaki malam itu. Bibir tipisnya yang berwarna pink alami membentuk sebuah senyuman saat tempat yang ia tuju sudah terlihat, dan hanya tinggal beberapa langkah lagi ia sampai. Tapi sayangnya langkah kakinya terhenti, saat pupil matanya tidak sengaja menangkap sebuah figur yang begitu ia kenal juga rindukan.—- Tengah berdiri seorang diri, di luar tempat yang tengah ia tuju.

“Hanna…” Gumamnya pelan. Jantungnya pun kembali bergerilya di dalam sana, saat ia yakin, itu benar Hanna. Fokusnya pun tak lepas dari sosok perempuan yang kini tengah memutar-mutar kakinya itu. Bermain-main dengan sepatu ketsnya dan sesekali mengukir sesuatu menggunakan kakinya. Seperti anak kecil..

Baekhyun kembali melangkahkan kakinya, mencoba untuk menghampiri Hanna yang belum menyadari kehadirannya. Berbagai pertanyaan pun berlalu lalang dalam benaknya. Terutama alasan tentang,– bagaimana Hanna bisa berada disini, sementara ia sendiri yang menghubunginya bahwa Sehun melarangnya untuk keluar?!– Langkah kakinya pun terus bergerak mendekatinya. Mencoba untuk mencari tau jawaban atas pertanyaannya. Tapi sayangnya, belum sempat langkah kakinya itu mendekat. Semua pertanyaannya telah terjawab.—-

Hanna tidak sendirian. Sehun datang menghampirinya dari dalam kedai. Kemudian meraih tangannya dan berjalan bersama dengannya. Dengan tangan yang saling bertautan.

 

“Sehun-ah aku ingin bubble tea.” Hanna menatap Sehun yang berjalan disampingnya.

“Tidak. Kita langsung pulang.”

“Jebal~”

 

Baekhyun mematung di tempatnya berdiri. Kakinya tak mampu lagi bergerak, bahkan hatinya~ telah remuk tak tersisa. Lagi. Lagi~ dan lagi. Ia melihat pemandangan yang meremukkan hatinya. Setelah sebelumnya ia melihat mantan kekasihnya itu berciuman di atas altar bersama Sehun. Kemudian menghadapi kenyataan, bahwa mantan kekasihnya itu, telah berstatus sebagai istri dari sahabat baiknya.—- Disaat hatinya sendiri masih begitu mencintainya juga mengharapkannya.

Dan kini, ia harus rela melihat kedekatan keduanya secara langsung sebagai suami-istri. Belum lagi saat mereka masih berstatus sebagai sahabat.

“Jadi itu alasanmu, mengapa kau tak bisa lagi datang menemuiku?”

Seperti sehabis menelan pil pahit yang mampu melumpuhkan sistem syaraf. Seperti itulah yang dirasakan Baekhyun. Dimana hatinya sudah tak mampu lagi merasakan rasa sakit. Karena memang hatinya sudah hancur tak tersisa. Ini memang salahnya yang masih mencintai juga berharap pada cintanya, yang sudah bukan miliknya lagi. Tapi~ bukankah cinta memang tak pernah memandang status?!

Bahkan saat hatinya tersakiti pun, matanya tak kunjung lepas dari sosoknya. Seolah tak peduli, hatinya itu akan semakin sakit setelahnya.

Bahkan sampai Sehun berbalik setelah membukakan pintu mobil untuk Hanna pun, ia tak kunjung bergeming. Sehun sendiri hendak melangkahkan kakinya ke arah pintu yang berlawanan, sebelum akhirnya, ia menyadari keberadaan Baekhyun. Mata mereka pun bertemu.

 

 

“Jaksa Byun.”

 

 

“Long time no see, Mr. Oh.”

 

 

 

 

~TBC~

Sebelumnya maaf atas keterlambatan postnya, dan maaf atas segala kekurangan lainnya. Akhir-akhir ini aku punya kesibukan yang ga bisa ditingalin. Mohon dimaklum 😀

Di chapter ini, konfliknya ringan aja ga bikin pusing. Aku cuma ngasih kode-kodean doank, yang jeli pasti langsung paham.. 😀

Dan kalau kalian sadar, dari chapter ke chapter itu pasti terfokuskan pada perasaan satu main cast..

Chapter 2 lebih ke perasaan Hanna.
Chapter 3 itu Luhan.
Chapter 4 Sehun, dan terakhir
Chapter 5 itu Baekhyun. Jadi adil kan 😀

Dan ada saran dari beberapa readers yang kurang suka dengan banyaknya flashback. Aku cuma mau bilang ga bisa ngikutin saran kalian, karena memang konsep ff Regret itu kaya gini. Kadang full now, full flashback, atau campuran dari keduanya. Bukankah dari awal juga aku udah bilang, kalau Regret ini punya alur maju-mundur. Tinggal kejelian kaliannya aja untuk memahami ceritanya dan ga terfokus sama ‘itu’nya saja. Sekali lagi maaf ya, mohon pengertiannya, kalau ga suka, aku juga ga maksa buat baca. *bow*

Oh ya kasus Jang Min-ho itu Fakta ya, dia emang mata-mata dari Korea Utara. Aku baca artikelnya dan iseng buat masukin ke dalam cerita, sekedar berbagi. Kalau mau baca kasus lengkapnya klik ini dan ini.

Ini kosakata yang biasa ditemuin di pelajaran kelas 2 SMA terutama PKn dan Sejarah. Kalau kalian udah lewat jenjang itu aku ga masalah, tapi ada beberapa yang masih di bawah itu. Jadi ini buat yang belum tau aja…

 

Spionase : Pengintaian, memata-matai berasal dari Bahasa Prancis Espionnage.

Rekonsiliasi : Perbuatan untuk memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula.

Naif (sering disama artikan munafik -,- tapi arti sebenarnya itu) : Lugu, polos, kekanak-kanakan.

 

Ya syudah, cuma itu aja yang mau diomongin. Makasih buat kalian yang selalu baca+ninggalin comment juga kalian yang selalu baca author note dari aku… Makasih 🙂

 

regards ❤

sehunbee

Advertisements

594 comments

  1. Si baekhyun belum bisa move on
    Kayaknya hanna hamilll deh ,,soalnya kelakuan nya kaya gtu 😀
    Makin seru aja ff nya kak ..makin suka 😀

    Like

  2. jaksa byun pun sakit hati banget banget banget liat mantane/? tp emang dasarnya hunhann romantis banget jadi gimana atuh/? asli gereget bangeeet

    Like

  3. Baekki belum bisa move on.. tp salut sama dia yg bijaksana.. perannya bagus disini. Pria idaman aslinya…meskipun blm bisa move on tp tetep mentingin kebahagiaan hanna.. sabar bang semoga dpt yg lebih dr hanna. Udh hanna biar sama Sehun aja..mungkin suatu saat Sehun tobat dan peduli lg sama hanna..
    Kematian krystal masih misteri nih. Alasan kenapa matinya blm terungkap..penasarann emang apa hubungannya sama hanna sampe Sehun jd benci gitu. Apa krystal bunuh diri?? Entahlah mungkin ke jawab di next chap..
    Horeiiii.. sehun-hanna kaya balik ke masa lalu gitu. Berantem ga jelas, Sehun turutin kemauan hanna ya meskipun pake bentak dulu.. tp seengganya di sini Sehun sedikit lebih lunak. Ini Sehun kayanya ga nyadar masih punya rasa sama hanna. Cuman dia ngeles aja, betah sama kebenciannya..
    Terus apa yg terjadi sama hanna?? apa hanna hamil?? Tingkahnya mencurigakan..
    Alurnya maju mundur alu malah suka. Buat kita para reader jeli, dan fokus cerita ga cuman disitu2 doang.. love love deh..😍
    Oke next chap. Semangat kaa good luck 😀

    Like

  4. Yg dimaksud kode kodean itu.. aku nangkepnya kode tanda2 kehamilan kkkkk bner nggk sih?! sotoy dah! ditambah lg perasaan sehun yg nggk konsisten hah maunya apa sih si cadel? tuhan maha membolak balik kan hati seseorang tp disini tangan ka nurul yg bertindak!! jhahaha tp msh ttp enjoy kok sm alurnya.

    Like

  5. semuanya perasaannya pada tersakiti. hanna tingkahnya mulai berubah agak sedikit manja sama sehun. ceritanya bagus katanya” juga ga bikin rumit terus rapi
    next ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s