Different Love – by babylulu

How-to-get-milky-smooth-skin-like-Sehun

author : babylulu

main cast :

oh sehun

hanna (OC)

genre : romance, frienship

rating: 15

length : ficlet series

summary :

mine is different from another kind of love, but feel the different

until you know what kind of love that I have

and than you will know

how much I love you

HAPPY READING 

 

author POV

“terimakasih sudah berbelanja, silahkan datang kembali”. Hanna membungkukkan tubuhnya lalu tersenyum simpul kepada pelanggan yang baru saja ia layani.

Hari ini begitu melelahkan untuknya, tempat yang cukup strategis membuat mini market tempat ia bekerja ini menjadi ramai. Tak jarang Hanna harus pulang dengan langkah terseok karena terlalu lama berdiri melayani para pelanggan.

TING..!!!

Suara bel pintu terbuka, mengejutkan Hanna yang tengah duduk sambil meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Membuatnya sontak berdiri memberikan salam kepada pelanggan toko itu.

“selamat datang, silahkan ber…..ah kau lagi”. Seketika ekspresi wajah Hanna berubah, menyadari seseorang yang datang ternyata Sehun, kakak kelasnya saat di junior high school dulu.

“hallo everybody, aku kembali”. Sehun melambai-lambaikan tanganya ke arah Hanna dengan senyum mengembang di bibirnya, berbeda dengan Hanna yang lupa caranya tersenyum saat mencium tanda-tanda keberadaan Sehun.

“tak perlu senyum-senyum Hun, aku bahkan sudah bosan melihatnya”. Ujar Hanna begitu saja tanpa memandang Sehun sedikitpun.

Sudah genap 20 hari Hanna bekerja part time sebagai penjaga kasir di mini market dekat sekolahnya ini. Dan sudah genap 20 kali juga ia selalu bertemu mahkluk aneh yang menyebalkan seperti Sehun.

“hey kutu loncat, aku itu pembeli dan pembeli adalah raja. Harusnya kau itu melayaniku seperti seorang raja. Kau mau kulaporkan pada atasanmu eoh?”. Sehun berkacak pinggang didepan Hanna sambil menceramahinya panjang lebar.

Shin ahjumma, yang juga bekerja di mini market itu hanya terkekeh geli, melihat dua anak muda yang tak henti-hentinya saling bertukar ejekan saat mereka bertemu. Ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini beberapa hari terakhir, dan bahkan menganggapnya sebagai hiburan sebelum toko mereka tutup 30 menit lagi.

“baiklah raja hutan tuan muda Oh Sehun yang sangat tampan seperti kacang rebus, kau mau beli apa!”. Tanya Hanna kemudian dengan nada suara dan ekspresi muka yang sama datarnya.

“hari ini, sepertinya aku membutuhkan plaster luka bergambar spiderman”. Ucap Sehun santai sambil melihat-lihat deretan lolipop yang berada didekat meja kasir.

“ini pesanan anda tuan, ditambah dua lolipop semuanya jadi  5.000 won. Silahkan bayar lalu cepatlah pulang, sebentar lagi toko kami tutup”. Hanna berucap tanpa jeda setelah sebelumnya merebut 2 lolipop yang barusaja Sehun ambil. Men-scan barcode pada ketiga barang itu, lalu memberikan struk pembayaran kepada satu-satunya orang yang akan merusak kedamaianya di malam hari.

Bayangkan saja jika setiap hari di jam yang sama, jam 8 malam, Sehun selalu datang ke toko itu untuk  membeli barang-barang yang di anggap Hanna tidak penting sama sekali. Mulai dari minuman kaleng, penjepit kertas, tisyu toilet, cabe bubuk, tusuk gigi hingga sandal jepit pun dia beli. Hey, dia itu orang kaya, tinggal menyuruh salah satu pembantu dirumahnya tidak sulit kan. Kenapa dia harus repot membeli semua itu sendiri.

Satu hal lagi, Sehun tak pernah sekalipun terlihat membawa mobilnya saat berkunjung ke mini market itu. Padahal jarak dari rumahnya sekitar 1 km. Dia justru lebih suka menaiki sepeda kayuhnya yang berwarna putih terang. Terlihat sangat kontras ketika ia mengendarainya di malam hari. Benar-benar kurang kerjaan.

“arraseo, aku akan segera pulang. Ini, ambil saja kembalianya”. Sehun memberikan uangnya pada Hanna lalu berbalik cepat, berjalan menuju pintu keluar.

“kembalian apanya, uangmu saja pas begini”. Hanna bergumam pelan sambil melihat punggung Sehun yang semakin menjauh.

“I’ll be back~”. Sehun bersenandung sambil mengacungkan jempol tanganya keatas (kaya di mv 2PM), sebelum ia benar-benar keluar dari mini market itu.

“dasar namja gila”. Hanna tak henti-hentinya mengumpat, dengan sumpah serapahnya yang ia tujukan untuk Sehun.

Hanna bergerak cepat setelah menyelesaikan pekerjaanya hari ini. Ia tak mau tertinggal bis lagi dan duduk di halte selama 1 jam untuk menunggu bis selanjutnya. Malam terasa semakin dingin, membuatnya semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhnya sendiri. Sialnya lagi ia lupa membawa jaket. Dan ia akui kalau sekarang ia sungguh merasa kedinginan hanya mengenakan kaus lengan pendek serta celana jeans selutut.

Hanna semakin mempercepat langkahnya ketika dirasa halte bis sudah semakin dekat, wajahnya mengulas senyum cantik kala ia sadari masih banyak orang yang berdiri di halte itu. Pertanda bahwa bis kota pasti belum datang.

BRUKKK…!!!

“au….sakit, dasar kucing kurang ajar!”. Hanna terjatuh saat tiba-tiba seekor kucing melintas didepannya begitu saja. Membuat ia harus merelakan lutut kanannya terluka.

“AHJUSSI TUNGGU..!!!”. Teriakanya yang begitu kencang bahkan tak terdengar sama sekali oleh supir bus yang baru saja melintas. Pupus sudah harapanya untuk pulang tepat waktu, dan ini adalah kali kedua ia harus rela menunggu bis selanjutnya di halte bis.

“kucing sialan..!!! awas saja kalau aku bertemu kau lagi, akan kupastikan satu kakimu juga terluka. Argh….eomma sakit”. Hanna memejamkan matanya erat saat merasakan lututnya benar-benar perih karena darah yang mengalir baru saja ia bersihkan. Untungnya ia menemukan pancuran air ditaman belakang halte itu.

“hey kutu loncat, kau sudah gila ya berbicara sendiri”. Hanna menghembuskan nafasnya panjang ketika mendengar ada orang yang mengajaknya bicara. Dengan gaya bicara sekasar itu, Hanna yakin sekali siapa pemilik suara itu, tanpa melihat wajahnya sekalipun.

“itu bukan urusanmu, pergi sana aku muak melihat wajahmu yang menjijikan itu”. Ujar Hanna tak kalah pedas. Ya, namja itu adalah Oh Sehun. Sesuatu yang paling ia benci setelah gelap.

“kau ini, tidak pernah diajari sopan santun ya? Aku ini lebih tua darimu, harusnya kau menghormatiku”. Sehun kembali menyerangnya, memulai pertempuran yang sepertinya akan berlangsung lama, lagi.

“memangnya kau sendiri punya sopan santun eoh? Aku jadi bingung kenapa dulu Minji begitu menyukaimu? namja menyebalkan yang bahkan sama sekali tidak ada baiknya”. Balas hanna dengan tatapan menghinanya. Minji, sepupu Hanna yang merupakan mantan kekasih Sehun saat di junior high school.

“jelas Minji menyukaiku, aku ini tampan, mempesona, berkarisma dan jangan lupakan satu hal, aku ini seorang musisi hebat. Semua yeoja pasti tergila-gila saat melihatku beraksi diatas panggung. Kau saja yang tidak normal, mana ada namja yang menyukai gadis datar sepertimu”. Ucapnya terlampau ketus, dan ucapan Sehun kali ini benar-benar membuat Hanna ingin segera enyah dari tempat ini sekarang juga.

“terserah”. Ucap Hanna begitu dingin, bahkan ia berucap sambil menundukkan kepalanya. Ia kembali fokus pada lukanya yang masih basah terkena air, mengelapnya dengan tisyu, lalu membenahi barang-barangnya yang bercecer di kursi saat mencari tisyu dari dalam tasnya tadi.

Sehun yang melihat luka Hanna langsung turun dari sepedanya. Ia ingat tujuan utama ia menghampiri yeoja itu. Benar, Sehun melihat semua kejadian yang menimpa Hanna. Inilah alasan kenapa Sehun selalu datang 30 menit sebelum toko tutup. Dia akan mengikuti Hanna sampai ke halte bis saat pulang. Mengendap endap seperti seorang stalker tanpa Hanna ketahui. Memastikan bahwa tak ada sesuatu yang buruk menimpa Hanna di perjalananya pulang.

Hanya ini yang bisa Sehun lakukan sekarang, memperhatikanya diam-diam. Menemuinya setiap malam dengan berpura-pura menjadi pelanggan toko, bahkan mengajaknya bicara dengan cara yang benar-benar tidak wajar.

Ia belum siap untuk mendekati Hanna secara pribadi, atau bahkan sekedar bicara dari hati ke hati. Ini memang bukan pertama kalinya Sehun menyukai seorang yeoja. Bahkan ia pernah beberapa kali memiliki yeojachingu, termasuk dengan Minji, sepupu Hanna sendiri. Tapi Hanna berbeda, ia bukan seorang yang mau saja didekati namja, atau terbuai dengan rayuan gombal yang ia berikan pada mantan kekasihnya dulu. Yang  jelas, Sehun tau kalau ada sesuatu yang sangat menarik dari Hanna, yang bahkan membuatnya sedikit gugup saat mendengar nama itu diucap.

“ini”. Sehun mendekati Hanna lalu mengulurkan tangannya, memberikan plester luka yang kebetulan sekali ia beli.

“tidak perlu”. Hanna menepis tangan Sehun lalu berdiri, berniat meninggalkan Sehun yang sudah berbaik hati membantunya. Padahal Hanna sangat tidak tahan dengan rasa perih yang mendera lututnya saat ini. Tapi egonya terlalu tinggi untuk menerima bantuan seorang Sehun.

“dasar keras kepala, luka seperti ini bisa iritasi kalau dibiarkan terbuka. Paling tidak ini akan sedikit membantu, kau ini benar-benar tidak tau apa bodoh?”. Sehun menahan pundak Hanna lalu mendudukannnya paksa, berjongkok di depanya lalu memasangkan plaster itu dengan hati-hati.

Hanna hanya bisa terdiam melihat Sehun, ini adalah kali pertama baginya diperlakukan seperti ini oleh seorang namja. Sungguh, jantungnya begitu sensitif saat ini.

“kau kenapa Hun? Sakit?”. Kata-kata itu keluar dari mulut Hanna begitu saja, ia hanya terlalu canggung dengan perlakuan Sehun.

“ya…!!! seperti itu caramu berterimakasih? Ikut aku!!”. Sehun berdiri lalu menarik tas yang dikenakan Hanna, membuat si empunya ikut tertarik.

“shireo!!!”. Ucap Hanna sambil berusaha menarik tasnya.

“ cepat naik, kuantar pulang”. Sehun menaiki sepedanya, lalu menyuruh Hanna membonceng dibelakangnya. Lebih tepatnya memaksa Hanna untuk membonceng.

“dasar orang aneh, aku bisa pulang sendiri Hun!!”. Hanna terus saja memberontak. Kalau saja Sehun tidak mengayuh sepedanya kencang, pasti saat ini Hanna sudah melompat.

“diam, atau nanti kau kuculik”. Sehun semakin mempercepat laju sepedanya, membuat Hanna hampir terjungkal kalau dia tidak berpegangan pinggang Sehun. Mencipatakan debaran jantung yang sedikit cepat dari biasanya.

“SEHUN..!!!!”. Sehun hanya terkekeh geli mendengar teriakan Hanna yang begitu kencang. Ia justru semakin bersemangat mengayuh pedal sepedanya, menyusuri jalanan malam kota seoul yang begitu ramai dengan kendaraan.

10 menit berlalu tiba-tiba rantai sepeda yang mereka naiki lepas, padahal rumah Hanna masih sekitar 3 blok lagi. Mungkin itu akibat dari ulah Sehun sendiri yang mengayuh sepedanya terlalu cepat.

“sepertinya hari ini aku benar-benar sial setelah bertemu denganmu”. Ucap Hanna sambil duduk memeluk kakinya dipinggir trotoar. Memandangi Sehun yang sedari tadi sibuk mengutak atik sepedanya.

“diamlah sebentar, aku sedang memperbaikinya. Kau kira aku tidak sial memberikanmu tumpangan eoh?”. Sehun terlihat begitu kesal, semua rencananya kacau gara-gara rantai sepeda. Dahinya tak henti-henti meneteskan peluh, menandakan bahwa ia memang berusaha sekuat tenaga membenarkan sepedanya.

“iya iya, aku diam”. Hanna benar-benar menuruti permintaan Sehun untuk diam. Tapi bukan Hanna namanya kalau tidak berisik.

“Hun, aku pulang jalan kaki saja ya, sebentar lagi sampai”. Ujar Hanna beberapa detik kemudian.

“….”. tak ada jawaban apapun dari Sehun, sepertinya ia masih disibukan dengan agenda rantai sepeda yang rusak. Ia yang terlalu bodoh apa memang sepedanya yang benar-benar rusak?.

“ya..!!! jelek, kau ini mendengarku tidak? Kenapa diam saja?”. Hanna menarik jaket Sehun, mebuatnya terjengkang dengan sekali tarikan. Dan sayang sekali, ia harus merasakan beban tubuh Sehun yang menabraknya.

“aaaa…!!! berat, dasar kacang rebus. Kau ini kenapa sih, ditarik seperti itu saja langsung jatuh”. Hanna mendorong tubuh Sehun untuk menjauhkannya.

“kau ini yang kenapa? Tidak lihat aku sedang sibuk? Dan asal kau tahu aku belum makan malam, tenagaku habis mengayuh sepeda tadi”. Ucap Sehun dengan wajah memelasnya, dan kedua tangan yang memegangi perutnya.

Krucuk….krucuk….

Suara khas orang kelaparan terdengar dari perut Hanna, ternyata ia juga kelaparan seperti Sehun.

“hehe…aku juga belum makan, sepertinya nasib kita sama Hun. Sama-sama sial hari ini”. Hanna mempoutkan bibirnya, terlihat tak bersemangat. Sama seperti Sehun yang entah sejak kapan sudah duduk disamping Hanna.

“hhhhhhahhhhh….”. Sehun dan Hanna menghela nafas panjang bersamaan, dan lihatlah wajah mereka yang benar-benar kacau. Dengan kedua tangan yang masih memegangi perut masing-masing. Sungguh malang nasib mereka.

“kajja, kita jalan kaki saja”. Sehun berdiri, melepas jaket yang ia kenakan lalu melemparnya ke arah Hanna. Ia menyerah, sampai kapanpun keahlianya adalah memetik senar gitar, bukan berkutat pada rantai sepeda seperti ini.

“untuk apa? mengelap keringat?”. Tanya Hanna yang kebingungan sambil melihat jaket Sehun di pangkuanya.

“dasar bodoh, tentu saja untuk kau pakai. Kau pikir aku tidak malu berjalan dengan gadis kerempeng sepertimu?”. Ujar Sehun sambil membawa sepedanya.

“kau pulanglah, aku bisa pulang sendiri”. Hanna melempar jaket Sehun sembarang, mood nya benar-benar dalam keadaan buruk.

“hey, tunggu!! Aku sudah berjanji mengantarmu pulang, jadi apapun yang terjadi akan kupastikan kau selamat sampai rumah”. Sehun berusah meraih jaketnya, berjalan secepat mungkin mengimbangi langkah Hanna yang sudah mendahuluinya.

“jangan marah, aku hanya bercanda, cepat pakai”. Ucap Sehun sambil memberikan jaket itu pada Hanna, ia tahu Hanna benar-benar kedinginan.

“terserah kau saja, aku sudah tak punya tenaga lagi untuk berdebat”. Jawab Hanna malas sambil memakai jaket itu asal. Tanpa Sehun ketahui bahwa Hanna sedang tersenyum saat ini.

5 menit berlalu, mereka sudah sampai didepan rumah Hanna. Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk Hanna tempati bersama ibunya. Hanna lebih memilih tinggal bersama ibunya setelah perceraianya dengan ayahnya beberapa tahun silam. Itulah mengapa di usianya yang menginjak 17 tahun Hanna sama sekali tak berniat mencari seorang namjachingu. Ia takut kalau suatu hari akan merasakan sakitnya perpisahan seperti yang dialami ibunya.

“terimaksih untuk tumpanganya Hun, walaupun akhirnya juga harus berjalan kaki”. Hanna langsung berbalik meninggalkan Sehun setelah berterimakasih dan mengembalikan jaket itu pada pemiliknya.

“wah, anak eomma sudah pulang rupanya”. Tiba-tiba saja pintu rumah Hanna terbuka, memperlihatkan sosok wanita cantik yang membawa bungkusan plastik dikedua tangannya.

“eomma mau kemana malam-malam begini?”. Tanya Hanna.

“eomma mau membuang sampah, kenapa temanmu tidak diajak masuk?”. Ibu Hanna tersenyum manis kepada Sehun.

“ya..!!! kenapa kau masih disitu? Cepatlah pulang, ini sudah malam”. Hanna mendengus kesal, mendapati Sehun yang ternyata masih berada di depan rumahnya.

“anneyong haseyo eomeonim”. Ucap Sehun sambil membungkukkan badanya hormat.

“anneyong haseyo Sehun-ah, masuklah jangan dengarkan ucapan Hanna tadi”. Ibu Hanna berucap begitu lembut, berbeda sekali dengan Hanna yang seperti tak tahu tata krama. Ini bukan pertama kalinya Sehun berkunjung ke rumah Hanna. Dulu saat dia masih menjadi kekasih Minji, mereka sering bermain kesini. Dan walaupun itu sudah berlalu hampir 3 tahun, nampaknya ibu Hanna masih dapat mengenali Sehun dengan jelas.

“terimaksih eomeonim”. Sehun tersenyum, lalu berjalan mendahului Hanna yang masih berdiri di depan pintu. Menatapnya penuh dengan rasa tidak percaya, terlebih eommanya yang bahkan tak menggubrisnya sama sekali.

“wah, kursi ini masih nyaman seperti dulu ya”. Sehun duduk bersandar pada sofa diruang tengah rumah Hanna. Layaknya sedang bernostalgia ia mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru ruangan dirumah itu. Tak banyak yang berubah, hanya cat dindingnya saja yang terlihat semakin pudar.

“ini, minumlah lalu pulang, aku ingin istirahat”. Hanna memberikannya secangkir teh hangat sebagai tanda terimakasih karena Sehun sudah mengantarnya pulang.

“arraseo, aku juga ingin segera tidur dikasurku yang empuk itu hmm…”. Sehun berucap sambil merebahkan tubuhnya di sofa, seolah itu adalah tempat tidurnya.

“Sehun-ah, kalau tidak keberatan ikutlah makan malam disini, eomma memasak sup kimchi tadi”. Ajak ibu Hanna yang baru saja kembali dari luar, membuat Hanna membelalakan matanya tak percaya.

“eomma, kenapa mengajaknya makan bersama kita? Dia kan mau pulang”. Protes Hanna yang merasa keberatan sambil menunjuk ke arah Sehun. Sebenarnya bukan keberatan, tapi dia malu kalau Sehun tahu porsi makanya yang cukup fantastis untuk seorang yeoja.

“dengan senang hati eomeonim, kebetulan sekali aku belum makan malam”. Senyum lebar terukir di wajah Sehun, ia tahu betul kalau ibu Hanna pandai memasak.

Acara makan malam kali ini cukup istimewa dengan kehadiran Sehun diantara ibu dan anak ini. Sudah lama sekali tak ada orang asing yang duduk bersama mereka saat makan. Ibu Hanna tak henti-hentinya tersenyum saat melihat putri kesayanganya berebut makanan dengan Sehun.

“makanlah pelan-pelan, nanti kalian berdua bisa tersedak. Eomma masih ada sisa sup di dapur, jadi tak perlu berebut seperti itu”. Ucap ibu Hanna pelan, yang kemudian beranjak pergi menuju dapur untuk mengambil sup.

“gara-gara kau jatah makananku jadi berkurang”. Hanna berujar dengan mulut penuh nasi didalamnya.

“salahkan saja eomeonim yang mengajakku makan disini, dan kau juga perlu tahu aku kehabisan tenaga karena ulahmu juga”. Sehun tak mau kalah, ia mengambil daging yang tersisa dari dalam panci sup yang baru saja ibu Hanna bawa.

“sudah sudah, besok eomma masak lebih banyak lagi supaya kalian mendapat jatah yang sama banyak”. Ujar ibu Hanna.

“uhuk….mwo???”. Hanna tersedak mendengar ucapan ibunya, itu berarti ibunya akan mengajak Sehun untuk makan malam lagi besok.

“jinjja??”. Berbeda dengan Sehun yang justru semakin melebarkan senyumnya.

“andwae…!!!”. teriak Hanna begitu kencang, hingga beberapa butir nasi keluar dari mulutnya.

Sedangkan Sehun hanya bisa menjulurkan lidahnya kearah Hanna, dia lebih tertarik pada semangkuk sup kimchi panas yang terhidang didepan matanya.

Ini bukanlah akhir dari kisah mereka, tapi inilah awal dimana cinta itu tumbuh dan bersemi dengan cara yang berbeda dari dalam hati mereka. Sehun dan Hanna.

 

 

 

 

hallo teman-teman, aku kembali membawa cerita baru.

kali ini aku buat fanfic yang agak beda dari yang pertama,

bisa dibilang funny romance, moga aja kalian dapet feelnya ya.

maaf untuk typo, tata bahasa yg kurang bagus dan alur yang berantakan.

yang jelas aku membuatnya sepenuh hati, ingat itu sepenuh hati seorang emak-emak

silahkan tinggalkan komen ya.

bye….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

84 comments

  1. Kali ini ceritanya lebih ringan…
    Walopun pendek tapi ngena dan mudah dipahami dari segi bahasa dan jalan ceritanya…

    Like

  2. ahaha lucu eonni .. kesannya masih polos banget aku suka ff nya hehe fighting ya eon 🙂
    di tunggu karya selanjutnya (y)

    Like

  3. Wah wah wahhhh bagus kok thor, walau kata thor mah banyak kurangnya.
    walau feel nya kurang dapet kalo buat aku, tapi enak dibaca dan mungkin krna udah biasa baca ff yg bahasa nya ribet jadi baca ff yg bahasanya santai gini jadi agak gimana gitu hehe
    keren kok thor, gomawo udah mau bikin ff terus dan ngepost buat kami bacanpara readers.
    semangat ya thor

    Like

  4. Wkwkwk rada kocak juga bacanya
    Kan biasanya eonni bee genrenya romance sama marriage life
    kalo ini genrenya romance comedy

    jadi gimana gitu bacanya..
    kekeke

    Like

  5. suka ff ini
    kok hanna mirip aku ya /ngarep/
    tpi emg bener….aku nggak suka di gombalin trus nggak pernah pacaran yaa bedanya ortu alhamdulillah maih utuh
    dan ff ini seperti jalan hidup yg aku mau dimana sesuatu yg manis jarang di lakukan dan lebih banyak pertengkaran semacam pertengkaran hanna sama sehun

    Like

  6. kok renyah bgt ya alurnya *korbanIklan, ini sdikit lbh rinagan kali ya eonn dibanding ff sblumnya dgn konflik yg brlapis-lapis *brpLapis RATUSAN !! *ngiklanLg -_-!
    klo dpikir lbh cermat rasanya tu kya ff percobaan yg bru eonni buat, disini konflik, alur, susunan kata dan tata bhs yg digunakan jg blm trlalu berkembang meskipun sudah apik, gak ky ff sblmny yg multichap”, kita bsa bandingkan bhwa ff type ini (funny, romance) bner” ringan, simple dan mudah dicerna, mskipun bgtu aku hrp ini ttp bsa mengajak readers untuk brpikir, nggak kya ff yg bergenre multiple ky romance, sad, hurt, angst dll bhkan action masuk kdlm genre, ff semacam ini bnar” lbh rumit dilihat dr sudut pandang penulisan (akan lbh panjang), penggambaran adegan, penjelasan alur masalah, penyelesain, pemain yg kdng ngga cku se RT buat adegan bunuh”an/tembak”an, pkonya adegan action dan tetek mbngeknya, tp sy tetep suka ff ini, jujur saat sy bca ini feel sy selau naik dan trus meningkat dr awal bca smpe akhir. dan ini bner” bgus (y) 😀

    Like

  7. Byangin mereka duduk di pinggir jalan sambil megangin perut kelaparan kok bikin ngakak ya :v ceritanya seru keren thor… Fighting 😀

    Like

  8. Wahh bagus ko thorr.. feelnya dpet
    Ini beda ya dari fanfic2 sebelumnya.. kalo yg ini kesannya anak muda bgett,, klo fanfic yg sbelumnya kesannya dewasa gituu,, tapi aku juga ttep suka ko.. daebakdeh authorr^_^¦¦¦

    Like

  9. Wahahaha…lucu hanna manggil sehunx koq hun gt..kyak mihun..top laaah..kocak.biar g drama sdih trus.lanjutkan perjuanganmu eon i…!!!

    Like

  10. wah wah wahh berarti sehun udah tertarik ma hanna sejak lama dong?
    lucu sama mereka, berantem mulu tapi akhirnya saling cinta kkkk
    keep writing kak…

    Like

  11. cerita.x sweet bngt, si sehun diem² suka ngikutin hanna smpe ke halte bus cuma buat masti.in hanna baik² aja…
    yaahh meskipun mreka berantem mulu ☺

    Like

  12. lumayan rame kok eonni. Terus ceritanya juga lucu kocak dan aku seneng pas baca sehun suka nungguin hanna pulang awwww

    Like

  13. Udah lama bgt baru buka wp ini lg. Dan ada ff baru. Walopun udah ketinggalan karena udah sampe chapter 3.
    Btw ffnya lucu bgt, sehun sok2 sebel sma hanna gitu padahal dia suka sma hanna Hahaha..
    Pasti bakalan seru deh kisah mereka.

    Like

  14. aiseh bruntungnya jd hanna diam” sehun slalu ada buat jagain dia . Oh so sweetnya, jd pengen jd hanna deh . Iri bgt punya cwok yg perhatian ama kita kyak sehunnie

    Like

  15. Uwahhhh lucuuu lucuuuu bangettttt
    Biasanya aku baca ff yg sehunnya jutek, dingin, cool gtu deh
    Tapi yg ini bener” jauh dri image cool and dingin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s