Regret [Chapter 3]

Title : Regret | Chapter 3

Author : SehunBee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun [EXO]
Khaza Hanna [OC]
Xi Luhan [EXO]
Byun Baekhyun [EXO]

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17 or Mature

Lenght : Series/Chapter

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit Poster by @lulubeib

Summary

Semua yang sudah berlalu bukan berarti bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Karena kadang ada beberapa hal yang harus kau selesaikan sebelum semuanya benar-benar berlalu.

¤

Aku hanya tidak ingin kau terlalu bergantung kepada orang lain, Hanna. Karena pada dasarnya bayanganmu sendiri pun akan meninggalkanmu didalam kegelapan.

¤

Bukankah ini sangat menarik, Detektif dan Penjahat. Menurut kalian mana yang lebih sulit, memecahkan masalah yang sulit untuk dipecahkan atau membuat masalah yang tidak bisa di pecahkan?

Regret

Hidup dan Mati. Keduanya saling terikat. Hidup adalah pilihan dan mati itu sudah pasti. Hidup adalah masa dimana seseorang menunggu saat dimana kematian datang menjemput mereka. Dan mati adalah masa dimana semua urusan di dunia sudah berakhir.

Dan yang menjadi masalahnya, apa yang bisa kau lakukan selama menunggu masa kematian itu datang menjemputmu? Banyak hal. Begitu banyak hal yang bisa dilakukan selama itu. Melakukan hal baik atau buruk semuanya tergantung pada manusia itu sendiri. Karena jalannya kehidupan itu ditentukan oleh masing-masing individu.

Selama masa menunggu itu juga, manusia akan melihat begitu banyak kematian, tapi kadang mereka lupa bahwa cepat atau lambat gilirannya akan tiba juga. Dan yang jadi masalahnya, bagaimana jika orang yang kau sayangilah yang pergi mendahuluimu?

Kau akan tahu bagaimana rasanya jika kau pernah mengalaminya. Aku pribadi tidak bisa mendeskripsikan itu. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat dimana orang yang paling aku sayangi pergi untuk selamanya. Aku bahkan masih ingat bagaimana tangis pilu adikku, ia menjerit histeris, dan terus meronta dalam ikatan demi merengkuh tubuh eomma yang sudah bersimbah darah. Bahkan aku sendiri menangis. Aku tidak bisa menahan tangisku, mengendalikan diriku pun aku tidak bisa. Aku merasa hidupku sudah tidak berarti lagi. Saat aku tidak lagi bisa menepati janjiku pada eomma.

‘Luhan itu namja, jadi tidak boleh menangis. Luhan harus kuat demi melindungi Hanna. Luhan mau kan berjanji pada eomma? Jangan pernah menangis lagi ne, yakso..!!’

‘Heum eomma, yakso..!! Luhan akan menjadi namja yang kuat agar bisa melindungi Hanna.’

Aku tersenyum kecut, ketika ingatanku kembali berputar pada saat dimana aku mengucap janjiku pada eomma, beberapa saat setelah aku terjatuh dari sepeda dan menangis karena mendapat luka di lutut. Janji yang kuucap saat aku berusia 7 tahun. Dan sayangnya aku tidak bisa menepati janjiku itu, setelah dengan mata kepalaku sendiri aku melihat tubuh eomma limbung di hadapanku karena sebuah peluru yang bersarang di otaknya. Eomma dibunuh di depan mata kepalaku sendiri menggunakan sebuah pistol. Dan pada saat itulah tangis piluku pecah, tubuhku bergetar dan lemas seketika, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Dan pada saat itu juga, aku kehilangan adik kecilku. Hanna dibawa dan aku hanya bisa membiarkannya pergi begitu saja bersama orang-orang kejam itu. Tubuhku kaku dan aku tidak bisa melakukan apapun selain duduk bersimpuh memeluk tubuh eomma yang sudah lunglai. Aku tidak bisa melindungi adikku demi menepati janjiku pada eomma. Aku melanggar janjiku sendiri disaat yang bersamaan.

Aku benar-benar pengecut. Aku bahkan tidak bisa menepati kedua janjiku itu. Aku melanggar janjiku untuk tidak menangis dan melindungi adikku agar ia tidak terluka.

Menyedihkan. Aku bahkan tidak bisa berbuat banyak saat itu. Semuanya terjadi begitu cepat dan berakhir dengan luka yang tidak akan pernah bisa kering apalagi sembuh.

Sungguh itu semua sangat menyakitkan bagiku, ah tidak tapi bagi kami, aku dan Hanna. Karena kami harus menyaksikan sendiri kematian orang yang paling berharga dalam hidup kami, menghembuskan napas terakhir dengan cara seperti itu.

Bahkan saat ini kami tidak bisa berbuat banyak saat orang yang sudah membunuh eomma, memperalat kami demi kepentingannya. Kami tidak bisa melawan dan hanya bisa diam setidaknya sampai kami bisa membongkar semua kejahatannya.

Itu semua kami lakukan demi melindungi harta kami yang tersisa, appa. Kami rela menjadi boneka asal appa tetap hidup meski kini ia masih dalam keadaan koma karena sebuah peluruh yang sempat bersarang di perutnya. Tapi itu tidaklah masalah, kami akan tetap bertahan menjadi boneka demi kesembuhannya dan demi mengembalikan nama baik keluarga kami.

Oh ya, saat ini, aku tengah berjalan bersama dengan seorang pria di sampingku. Kami mempunyai tujuan yang sama ke tempat dimana manusia pada umumnya akan berakhir. Makam.

“Musim semi.”
Ujarnya tiba-tiba. Dan aku hanya diam menanti untaian kata yang akan ia utarakan.

“Bukankah sangat indah saat melihat makam tidak hanya di tumbuhi rumput-rumput liar, tapi juga bunga-bunga kecil.”
Lanjutnya disertai seulas senyum pada wajah tampannya. Aku pun ikut tersenyum mendengar penuturannya itu.

“Apakah akarnya akan menyentuh tubuh eomma?” Aku melontarkan pertanyaan yang terdengar begitu bodoh. Dan kini bisa aku lihat dari ekor mataku, Baekhyun menolehkan kepalanya ke arahku dan menautkan alisnya bingung.

“Apa yang terjadi di luar apa orang yang sudah mati juga bisa merasakannya?” Jelasku.

“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri hyung. Ini bukan salahmu.”
Sepertinya Baekhyun mengerti dengan baik kemana arah pembicaraanku.

“Tidak Baek. Ini semua memang salahku. Jika eomma melihat anak gadisnya hidup menderita pasti ia tidak akan bisa tenang di singgasana-nya. Dan semua itu karena salahku, karena aku tidak menyadari dari awal ada orang yang berniat jahat pada kami, padahal aku sendiri seorang detektif.”

“Tak ada gunanya mempermasalahkan itu hyung. Sekarang yang harus kita lakukan adalah melindungi aboeji dari Sehun. Karena selama Sehun belum menemukan keberadaan aboeji maka Hanna juga akan aman dan baik-baik saja dalam cengkramannya. Dan yang harus kita lakukan sekarang adalah mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya agar kita bisa membuktikan, bahwa aboeji tidaklah bersalah. Kita harus bisa mengembalikan nama baik aboeji sebelum aboeji sadar. Setelah itu, kita bisa membebaskan Hanna dari cengkraman Sehun.” Ujar Baekhyun mengingatkan.

“Tapi aku takut Baek.” Ujarku lirih.
“Aku takut Sehun menemukan appa dan kemudian ia berhasil membunuhnya, maka saat itu pula ia akan melakukan hal yang sama pada Hanna.” Ujarku. Tubuhku gemetar. Dan aku tak kuasa lagi menahan tangisku.

“Aku takut kehilangan mereka berdua Baek.” Tangisku mulai pilu.
Aku sangat pengecut jika menyangkut keselamatan adikku. Karena aku tidak bisa melakukan apapun untuknya disaat ia tersiksa atas perlakuan Sehun terhadapnya.

“Hyung tenanglah. Aku akan berusaha semampuku untuk membersihkan nama baik aboeji dan membebaskan Hanna dari cengkraman Sehun. Percayalah hyung kita pasti bisa menang dalam persidangan nanti.” Baekhyun berucap yakin sambil meremas kedua bahuku kuat, seolah menyalurkan kekuatan yang ia miliki padaku.

“Kita sudah melakukan banding, kita sudah mengajukan kasasi tapi semuanya gagal. Kita selalu kalah dalam persidangan.” Ujarku saat mengingat kembali semua hal yang sudah aku lakukan demi membebaskan appa dari hukum pidana. “Pergerakan Sehun dan anggotanya begitu cepat Baek. Aku takut mereka menemukan appa sebelum kita berhasil mengumpulkan bukti-bukti yang jauh lebih kuat demi membuktikan bahwa appa tidaklah bersalah.” Lanjutku sedikit ragu.

“Kita masih bisa melakukan upaya hukum dengan mengajukan peninjauan kembali atas kasus pidana yang menjerat aboeji. Aboeji hanya difitnah, dan aku yakin kita bisa membebaskannya jika kita berhasil memenangkan persidangan nanti. Dan lagi sudah satu setengah tahun kita berhasil menyembunyikan keberadaan aboeji dari Black ID dengan dibantu oleh pihak kepolisian. Dan sudah selama itu pula Sehun mencarinya tapi tak kunjung menemukannya. Sedikit lagi hyung, sedikit lagi kita berhasil, percayalah..!!” Ujarnya lagi membuat sedikit keraguan dalam hatiku berubah menjadi keyakinan. Ya aku harus yakin bahwa aku bisa membawa kembali keluarga kecilku kedalam pelukanku.

“Dan lihatlah aku hyung…!! Setelah lulus dari bangku universitas aku langsung menjadi jaksa yang hebat. Dan tidak lama lagi aku akan menjadi jaksa agung yang terhormat. Itu sebabnya kau harus percaya padaku.” Celetuk Baekhyun sambil menepuk-nepuk dadanya bangga. Ia memang sudah lulus kuliah sejak satu tahun yang lalu dan setelah itu ia langsung mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang Jaksa.

Dan kini, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyolnya itu. Setidaknya itu cukup menghibur walau hanya sejenak. Perlahan sebelah tanganku bergerak untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipiku. Aku hanya tidak ingin eomma bersedih saat aku berkunjung padanya dengan berurai air mata.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami yang sempat terhenti. Hanya tinggal sedikit lagi kami sampai ke tempat tujuan.

“Annyeong haseyo eomma?”
Salamku ketika kami tiba pada sebuah makam yang di tumbuhi bunga-bunga kecil di atasnya.

“Eommonim apa kabar? Aku kembali berkunjung bersama anakmu yang cengeng ini.”
Ujar Baekhyun sambil mengambil alih salah satu buket bunga yang berada di tanganku, kemudian meletakkannya di samping nisan eomma.

“Hari ini, Hanna tidak bisa ikut berkunjung bersama kami. Ia bilang Sehun melarangnya untuk pergi keluar rumah, jadi ia tidak bisa ikut mengunjungimu.”
Ujar Baekhyun sambil mempoutkan bibirnya. Ia mencurahkan semua kekesalannya hari ini di depan makam eomma seolah orang yang di ajak bicara itu dapat mendengar semua keluh kesahnya. Dulu saat eomma masih hidup, ia memang sangat akrab dengan Baekhyun. Karena Baekhyun sering berkunjung ke rumah untuk bermain dengan Hanna, sehingga eomma sering berjumpa dengannya dan pada akhirnya akrab dengan sendirinya.

Aku menepuk bahu Baekhyun pelan dan memberikannya isyarat bahwa aku akan pergi ke lain tempat. Dan ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Mendapat persetujuan aku langsung melangkahkan kakiku ke sebuah tempat peristirahatan yang di tinggali oleh seorang gadis cantik yang juga ikut meregang nyawanya. Beberapa hari setelah pernikahan kekasihnya dengan adikku.

 

“Hi Krystal?”
Sapaku ketika tubuhku sudah tepat berdiri di samping makamnya.

“Aku membawakan bunga kesukaanmu, aku sendiri yang merangkainya. Dan aku harap kau menyukainya.” Lanjutku sambil meletakkan sebuket bunga mawar merah di samping nisannya.

“Apa kau kesepian di atas sana? Ah aku rasa tidak. Kau pasti tengah bermain bersama anakmu kini..!!” Aku terkekeh mendengar ucapanku sendiri.

“Tal, aku yakin kau bisa melihat kami dari atas sana. Dan aku yakin, kau sudah mengetahui semua kebenarannya. Ini semua bukan salah Hanna, ia hanya korban Tal.” Aku mulai menatap sendu nisan bertuliskan nama Krystal itu. Sebelum akhirnya aku kembali berucap mengajaknya bicara, seolah ia hidup dan berada di hadapanku.

“Hidup kami benar-benar berubah setelah kejadian itu. Appaku dituduh telah melakukan penggelapan dana dari pemerintah untuk NIS, bahkan ia juga difitnah telah berkomplot dengan mafia hanya karena ia gagal dalam memimpin penyergapan salah satu markas besar Black ID.

Appa dijatuhi hukuman pidana disaat ia sendiri jatuh koma setelah menjalankan misinya. Beruntung appa mendapat perlindungan hukum, sehingga keberadaannya bisa disembunyikan sampai saat ini demi melindungi keselamatan nyawanya sebagai terdakwa.

Tapi ternyata mereka benar-benar licik.” Jedaku geram. Tanganku terkepal sempurna.

“Mereka menjadikan Hanna sebagai jaminan dalam bentuk pertahanan mereka, agar ketika appa sadar dari komanya, appa tetap tutup mulut dan tidak membongkar semua kebusukan mereka dengan menjadikan nyawa Hanna sebagai taruhannya. Karena hanya appa yang mengetahui semua rahasia yang selama ini Black ID sembunyikan, bahkan appa mengetahui siapa dalang dari organisasi keparat itu.” Lanjutku semakin geram.

“Aku sendiri langsung dipecat secara tidak hormat dari keanggotaan NIS karena dianggap ikut ambil bagian dari kegagalan misi yang dipimpin oleh appa itu. Tapi mereka tidak mempunyai bukti yang kuat untuk menjeratku dalam hukum. Sehingga hanya itu yang bisa mereka lakukan.

Dan kini, Sehun sudah kembali memainkan perannya. Ia datang padaku dan memintaku untuk bergabung menjadi bagian dari Black ID dan jika aku menolak…

Ia memastikan Hanna akan meregang nyawanya dalam waktu dekat tak peduli dengan appa yang masih belum ia temukan.” Aku menundukkan kepalaku dalam.

“Andai saja aku mengetahui siapa pemimpin Black ID, mungkin semuanya tidak akan serumit ini. Dan aku tidak akan menjadi seorang pembunuh seperti sekarang.” Aku menundukkan kepalaku semakin dalam. Mengingat dosa besar yang sudah aku lakukan demi adikku itu.

“Aku membunuh orang demi melindungi nyawa adikku, Tal.” Air mata kembali melewati celah-celah mataku yang kini tengah tertutup rapat. Aku pun kembali terisak.

“Aku hafal betul bagaimana watak Sehun. Ia tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Sehingga pada akhirnya aku harus rela menuruti semua perintahnya.” Suaraku bergetar. Aku benar-benar merasa berdosa tapi aku juga tidak punya pilihan lain. Aku hanya ingin adikku tetap hidup.

“Sekarang kau sudah mengetahui semuanya Tal. Karena kau bisa melihat semua kebenarannya sendiri dari atas sana. Bahkan mungkin, kini kau jauh lebih paham atas semua permasalahan yang terjadi. Dan andai saja saat itu kau tidak salah paham. Mungkin Sehun tidak akan seperti sekarang ini.” Ujarku sendu.

“Dan sekarang aku akan tetap melanjutkan apa yang sudah aku mulai. Aku akan menyelesaikan semuanya. Dan aku akan menyerahkan diri saat semuanya sudah kembali seperti semula.

Karena pada dasarnya kita hidup untuk menyelesaikan masalah. Maka selama aku masih hidup, aku akan tetap berusaha untuk menyelesaikan semuanya. Aku tidak akan membiarkan semuanya berlalu begitu saja.”

 

Aku bangkit dari posisiku yang semula berjongkok di samping makam Krystal.

 

“Karena semua yang sudah berlalu bukan berarti bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Karena kadang ada beberapa hal yang harus kau selesaikan sebelum semuanya benar-benar berlalu.” Ungkapku sebelum aku melangkahkan kakiku menjauh dari makam Krystal, untuk kembali ke makam eomma.

Aku bersumpah akan menghancurkan semua orang yang sudah menghancurkan keluargaku. Seperti halnya mereka menghancurkanku. Aku akan memulainya seperti halnya mereka memulainya.

 

 

FlashBack On

Author POV

BRUUUMM

Baekhyun baru saja selesai memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah gadisnya. Kemudian ia membuka seat belt yang sedari tadi menghalangi tubuhnya, sebelum ia turun dari dalam mobilnya.

“Hari ini cukup melelahkan.”
Ujar Baekhyun sembari menutup pintu mobilnya pelan.

“Ne.. Tapi tadi itu sangat menyenangkan.” Jawab Hanna yang ternyata sudah terlebih dahulu turun dari dalam mobil Baekhyun.

Mereka pun berjalan bersama memasuki rumah itu. Dengan Baekhyun yang terus mengekor di belakang tubuh Hanna.

“Kau sudah pulang, An?”
Tanya seseorang dengan suara lembutnya. Dan sukses membuat Hanna mengalihkan perhatiannya pada sumber suara, yang kini tengah berjalan menghampiri mereka.

“Ne eomma.. Eomma kenapa toko bunganya sudah tutup?” Tanya Hanna saat mendapati eommanya sudah ada di rumah, dan tidak sedang menjaga toko.

“Annyeonghaseyo eommonim..” Salam Baekhyun sambil membungkukkan tubuhnya hormat.

“Annyeong Baekie.. Tumben sekali jam segini kalian sudah pulang?” Jawab eomma Hanna tanpa menghiraukan pertanyaan dari putrinya. Ia hanya merasa heran karena tidak biasanya putrinya pulang sore.

“Ne.. Tadi kami hanya melakukan simulasi persidangan saja.” Jawab Baekhyun disertai dengan senyum manisnya. “Oh iya.. Itu kenapa toko bunganya sudah tutup eommonim? Ini bahkan baru jam 4 sore.” Tanya Baekhyun meneruskan pertanyaan Hanna yang belum sempat terjawab.

“Gwaenchana eomma hanya sedikit lelah, jadi eomma tutup saja tokonya.” Jawab Ibu Hanna lembut dengan senyum kecil di bibirnya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan apa yang tengah ia rasakan. Tapi raut wajahnya sama sekali tidak bisa berbohong.

“Eomma gwaenchana?” Tanya Hanna khawatir saat menyadari wajah cantik eommanya kini terlihat sangat pucat. Ia pun melangkahkan kakinya, mendekati eommanya dan menuntunnya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

“Eomma baik-baik saja sayang. Eomma hanya kelelahan dan sedikit merasa pusing, karena tadi begitu banyak pelanggan yang meminta untuk dirangkaikan bunga. Tapi tadi eomma sudah minum obat. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Aku eomma Hanna pada akhirnya, karena ia merasa percuma juga jika tetap berbohong. Ia hanya tidak ingin putrinya merasa semakin cemas.

Sebenarnya ia tidak perlu membuka toko bunga dan berjualan sampai kelelahan seperti sekarang ini. Karena perekonomian keluarganya bahkan sudah lebih dari cukup untuk menghidupinya. Mereka bukanlah keluarga yang serba kekurangan. Appa Hanna sendiri sudah dua kali menjabat sebagai seorang Direktur NIS, gajinya bahkan sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Apalagi kini Luhan juga sudah bekerja mengikuti jejak appannya, menjadi seorang detektif muda. Tapi sayangnya merawat dan merangkai bunga sudah menjadi hal yang paling disukai olehnya. Sehingga pada akhirnya ia meminta suaminya untuk membuatkannya toko bunga, tepat di samping rumah mereka, agar ia bisa menyalurkan hobinya itu.

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Makan malam untuk malam ini biarkan aku yang masak. Eomma istirahat saja.” Ujar Hanna sambil mengelus tangan eommanya lembut.

“Tidak.. Eomma baik-baik saja. Kau baru saja pulang, kau pasti lelah.”
Tolak eomma Hanna lembut. Ia seorang wanita yang sangat pengertian dan penuh kasih sayang. Ia hanya tidak ingin melihat wajah lelah putrinya terlalu lama.

“Gwaenchana eomma. Lagipula ada yang special hari ini. Eomma tau hari ini hari apa?” Tanya Hanna dengan senyum lebarnya.

“Hari Rabu?” Jawab eomma Hanna polos.

“Ne hari ini, hari Rabu. Tapi ada yang special di hari ini eomma.” Ucap Hanna masih dengan senyum merekahnya.

“Apa itu sayang?” Tanya eomma Hanna sambil mengelus sayang surai putrinya. Sedangkan Baekhyun, ia hanya bisa tersenyum lembut melihat Hanna dan eommanya.

“Hari ini, hari jadi kami yang ke-3.” Ujar Hanna sambil tersenyum kearah Baekhyun yang duduk tidak jauh darinya. “Jadi untuk merayakannya aku akan memasak makan malam untuk kita semua.” Lanjut Hanna sambil terkekeh geli.

“Wah benarkah? Tidak terasa ya, kalian sudah tiga tahun bersama. Dihitung sejak kalian berada ditingkat 2 sekolah menengah atas, sampai saat ini kalian sudah kuliah.” Ujar eomma Hanna senang. Ia sangat mendukung hubungan keduanya, karena ia sendiri sangat menyukai Baekhyun yang sangat sopan dan ramah kepada siapa saja. Jadi ia merasa putrinya sudah menemukan namja yang cocok untuknya. “Baiklah kalau begitu eomma akan membiarkanmu berkutat sendirian di dapur. Dan Baekie, kau tunggu saja di kamar Luhan. Ia juga baru saja pulang tadi.” Lanjut eomma Hanna.

“Ne eommonim… Biarkan saja Hanna memasak sendirian di dapur. Dan benar kata Hanna, lebih baik sekarang eommonim istirahat saja. Ayo aku antar ke kamar eommonim..!!!” Ajak Baekhyun sambil bangkit dari duduknya.

“Gwaenchana. Kau duluan saja ke kamar Luhan, eommonim masih ingin disini.” Tolaknya halus dan dibalas dengan anggukan singkat Baekhyun.

“Baiklah.. Kalau begitu aku langsung ke kamar Luhan Hyung saja. Nanti kalau aboeji sudah pulang, beritahu aku ne eommonim.” Lanjut Baekhyun sebelum melangkahkan kakinya.

“Kenapa? Kalian mau bertanding main catur lagi?” Eomma Hanna berucap sebelum Baekhyun benar-benar pergi.

“Ne.. Kemarin aku kalah telak. Dan sekarang aku akan membayar kekalahanku.” Ujar Baekhyun berambisi. Membuat eomma Hanna hanya bisa terkekeh mendengar jawaban Baekhyun.

“Dasar. Mau saja dibodohi appa.” Cibir Hanna.

“Ya sudah, sekarang ganti dulu pakaianmu setelah itu baru memasak.” Titah eomma Hanna lembut dan dibalas dengan kecupan singkat di pipinya oleh Hanna.

“Aku ke atas dulu ne.” Ujar Hanna sebelum pergi meninggalkan eommanya.

 

Ceklek

 

“Haii kakak ipar?”
Celetuk Baekhyun setelah membuka pintu kamar Luhan, dan menemukan sosoknya tengah duduk bersandar pada headboard tempat tidur sembari memainkan laptop di pangkuannya.

“Kau lagi..” Ujar Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari layar laptop miliknya.

“Kenapa? Kau bosan melihatku? Jika aku sudah menikah dengan Hanna, kau akan melihatku setiap hari di rumah ini hyung.” Ujar Baekhyun sambil merebahkan tubuhnya di samping Luhan.

“Belum menikah pun aku selalu melihatmu disini setiap harinya.” Ujar Luhan membuat Baekhyun menguap seketika.

“Ne tapi ‘kan tidak sampai tidur disini juga hyung.” Jawab Baekhyun malas. “Kau sedang apa?” Tanyanya tiba-tiba. Kemudian dengan santainya Baekhyun menyilangkan kedua lengannya pada bagian bawah kepalanya untuk dijadikannya sebagai bantal tambahan. Matanya lincah melirik layar laptop Luhan yang tengah menampilkan data-data yang menurutnya agak memusingkan.

“Ada banyak kasus baru yang harus aku tangani. Padahal pencarian pelaku pembunuhan Park Jung Soo saja belum ditemukan.” Jawab Luhan terdengar sedikit letih dari nada bicaranya.

“Kau bilang pelakunya salah satu anggota Black ID?” Tanya Baekhyun sambil mengingat-ngingat kembali semua hal yang pernah di ceritakan Luhan padanya.

“Ne.. Kami menemukan banyak bukti yang mengarah pada organisasi gila itu. Tapi tetap saja mencari pelakunya tidaklah mudah. Menjerat Black ID ke dalam aturan hukum saja sangat sulit.” Jawab Luhan menjelaskan. Matanya masih setia terfokus pada layar laptop miliknya.

“Ya sudah. Hentikan saja pencariannya. Percuma juga jika tetap dilanjutkan.” Jawab Baekhyun enteng.

“Kau orang yang mengerti hukum Baek. Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu?” Ucap Luhan sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia hanya tidak habis pikir dengan apa yang pikirkan Baekhyun.

“Peluang untuk menemukan tindak kejahatan lain yang dilakukan Black ID di negara kita akan semakin terbuka, jika teamku bisa menemukan siapa pelakunya.” Lanjut Luhan menjelaskan.

“Ne tapi itu tidaklah mudah hyung. Seperti yang kau tau organisasi semacam Black ID pasti mempunyai organisasi bayangan yang bertugas untuk menampilkan wajah dan aktivitas yang moderat, ramah dan patuh terhadap hukum yang berlaku, sehingga mereka tidak akan dicurigai. Seandainya pun ada kecurigaan, otoritas setempat akan sulit untuk melakukan penindakan karena memang tidak ada aturan hukum yang mereka langgar.” Baekhyun berucap tanpa memedulikan ekspresi wajah Luhan yang telah berubah.

“Organisasi bayangan.” Gumam Luhan pelan. Ingatannya kembali berputar pada percakapan yang pernah terjadi diantara dirinya dan appanya beberapa waktu lalu. Saat mereka membicarakan topik yang sama ‘organisasi bayangan’.

 


‘Appa tidak yakin Lu. Tapi entah mengapa, appa mencurigai sahabat baik appa sendiri. Appa mencium gelagat tersembunyi dibalik perusahaan besar yang ia jalankan. Semacam kaki tangan atau yang sering kali disebut organisasi bayangan dari organisasi tertentu.’

‘Maksud appa paman Jae?’

‘Ne. Dan untuk saat ini cukup kita saja yang tau Lu. Appa akan menyelidikinya lebih lanjut. Dan appa harap ia tidak ada sangkut pautnya dengan Black ID.’

 

“Apa benar ayahnya Sehun juga ikut terlibat?” Gumam Luhan lagi dengan suara yang terdengar seperti berdengung. Ia hanya tidak habis pikir, jika benar ayah Sehun ikut terlibat. Karena memang menurutnya ayah Sehun itu seorang yang sangat baik, ramah dan bijak. Bahkan ia menganggap ayah Sehun sudah seperti ayahnya sendiri. Jadi ia rasa tidak mungkin, jika orang baik seperti ayah Sehun hanya berpura-pura baik saja, dan semua kebaikannya selama ini hanya sebagai kedok belaka.

“Hah? Kau bicara apa sih?” Tanya Baekhyun penasaran. Saat ia hanya mendengar samar-samar apa yang Luhan ucapkan.

“Knowing Every Particular Object.” Cibir Luhan sambil terkekeh geli. Sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, mengolah data-data yang ada di laptopnya.

“Kau sangat menyebalkan hyung.”
Ketus Baekhyun.

 

¤

 

“BOO…”

PRANG

“YAAKK OH SEHUN kau mengagetkanku.” Semprot Hanna kesal saat dengan tiba-tiba Sehun datang dari arah belakangnya, dan mengejutkan dirinya yang saat itu tengah membawa piring berisi daging siap makan.

“Lihat apa yang sudah kau lakukan..!! Daging yang sudah aku masak dengan susah payah sekarang hanya menjadi sampah karena ulahmu.” Hanna menunjuk-nunjuk makanan yang sudah berserakan di bawah kakinya dengan penuh emosi. Karena terkejut Hanna menjatuhkan piring yang tengah ia bawa untuk ia tata di atas meja.

“Uuupss.. Mianhae..” Dengan entengnya Sehun meminta maaf sambil menutup mulutnya dengan menggunakan sebelah tangannya.

“Aku akan melaporkanmu pada eomma.” Ujar Hanna kesal kemudian berbalik hendak pergi.

“Andwae.. Aku akan menggantinya.” Ucap Sehun sambil menahan pergelangan tangan Hanna.

“Yakk lepaskan.. Aku akan tetap melaporkanmu pada eomma, agar eomma tidak lagi membuatkan cup cake kesukaanmu.” Protes Hanna sambil meronta, mencoba melepaskan genggaman tangan Sehun pada lengannya.

“Andwae.. Aku akan menggantinya.” Ujar Sehun sambil menarik Hanna ke dalam pelukannya. Ia sudah sangat paham bagaimana cara menenangkan Hanna yang tengah mengamuk.

“Lepaskan aku. Itu tidak bisa diganti begitu saja Sehun. Asal kau tau, aku memasaknya dengan penuh cinta.” Ujar Hanna sambil terus meronta dalam pelukan Sehun.

“Hahaha.. Cinta apanya?” Cibir Sehun sambil meregangkan pelukannya.

“Aku memasak untuk merayakan hari jadiku yang ke-3 bersama Baekhyun. Dan kau menghancurkan semuanya.” Hanna berucap sambil menangkup pipi Sehun dan menggeleng-gelengkan kepalanya gemas.

“Yakk hentikan kau membuat kepalaku pusing.” Protes Sehun. Tangannya kembali beralih untuk menggenggam pergelangan tangan Hanna.

“Ya sudah kita beli lagi saja daging mentahnya. Aku akan membantumu memasaknya lagi.”

“Kau membuatku harus bekerja dua kali Sehun. Kau sangat menyebalkan. Dasar tamu tidak diundang.”

“Enak saja. Luhan hyung yang memintaku datang kemari. Aku hanya iseng saja menjahilimu saat melihatmu berada di dapur.” Jelas Sehun, tidak terima.

“Tanpa diminta pun kau selalu datang kemari.”

“Mau aku ganti tidak?” Tanya Sehun malas. Ia hanya tidak ingin pertengkaran kecil mereka terus berlanjut.

“NE. Aku akan membereskan ini dulu. Kau temui saja dulu Luhan oppa, ia ada di kamarnya bersama Baekhyun.” Hanna melepaskan gengaman tangan Sehun yang mulai melonggar. Kemudian ia menurunkan tubuhnya untuk membereskan kekacauan yang diakibatkan oleh ulah Sehun itu.

Sedangkan Sehun, dengan entengnya ia melangkah pergi meninggalkan Hanna tanpa raut wajah bersalah sedikit pun. Ia melangkahkan kakinya santai menuju kamar Luhan. Dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celanan selutut yang ia kenakan.

“Hyung ada apa?” Tanya Sehun to the poin setelah ia membuka pintu kamar Luhan.

“Syukurlah kau langsung datang. Aku membutuhkan bantuanmu, Sehun.”

“Bantu apa? Tapi nanti dulu hyung. Aku ada urusan sebentar, Baek aku pinjam mobilmu.” Sehun berjalan mendekat, menghampiri dua orang yang tengah bergelut di atas kasur itu.

“Mau kemana? Memangnya kau tidak bawa mobil?” Sehun memutar bola matanya malas, mendengar pertanyaan bodoh Baekhyun.

“Bodoh. Aku kesini jalan kaki. Kau lupa rumahku dari sini hanya terhalang pagar saja.” Ucap Sehun malas.

“Hehee..” Baekhyun terkekeh seperti orang bodoh. “Tapi kau mau kemana? Kenapa tidak pulang saja dulu untuk mengambil mobilmu sendiri.”

“Aku membuat Hanna tidak sengaja memecahkan piring berisi bulgogi yang baru saja ia buat. Jadi aku mau pergi membeli daging yang baru untuk dimasak kembali sebagai gantinya. Dan aku malas jika harus pulang dulu.” Jelas Sehun sambil merogoh kunci mobil dari dalam saku celana Baekhyun tanpa menunggu persetujuan darinya.

“Kalian selalu seperti itu. Aku tidak pernah mendengar kalian tidak bertengkar saat bertemu.” Luhan berucap sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Jangan lama ne. Aku sudah lapar.” Pinta Baekhyun dengan wajah melasnya.

“Ne.. Aku pergi dulu.”

 

¤

 

“Jika aku bisa aku ingin membunuhmu saat ini juga Sehun.” Hanna kembali merasa kesal atas kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu itu. Bahkan sampai saat ini ia terus berkicau mengeluarkan semua kekesalannya pada namja yang tengah mengemudi di sampingnya.

“Sudahlah, kupingku sudah sakit. Lagipula apa tenggorokanmu itu tidak kering? Dari tadi kau terus berkicau memarahiku.” Akhirnya Sehun angkat bicara setelah sekian lama terdiam mendengarkan curahan hati Hanna yang penuh amarah.

“Jika kau tidak mengagetkanku mungkin saat ini aku tidak akan merasa kelaparan karena perutku sudah kenyang terisi makanan. Dan ini semua karena salahmu.” Hanna tak peduli dengan keluh kesah Sehun yang lebih seperti cibiran untuknya itu.

“Aku tau. Kau sudah mengatakannya tadi.” Ujar Sehun malas.

“Benarkah?” Tanya Hanna polos. Membuat Sehun membatin frustasi.

‘Tidak sadarkah ia, dari tadi yang ia ucapkan hanya mengulang kata-kata yang sama?’

“Ne.. Jadi berhentilah memarahiku. Aku mengaku salah dan aku minta maaf. Selesai.” Ucap Sehun enteng tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang ada di depannya.

“Mudah sekali kau bilang maaf.” Cibir Hanna masih dengan sedikit kekesalan di hatinya.

“Kau sudah tidak takut lagi?” Tanya Sehun tiba-tiba. Ia tengah mencoba mengalihkan fokus pembicaraan mereka yang sedari tadi hanya terfokus dan tidak jauh dari kata daging.

“Takut apa?”

“Pada orang-orang yang mengincarmu?”

“Itu sudah satu tahun berlalu. Sejak kejadian itu appa selalu memerintahkan orang-orangnya untuk mengawasi dan melindungiku dari jauh. Jadi aku merasa aman.” Jawab Hanna sambil memainkan jari-jari lentiknya pada kaca mobil yang berada di sampingnya. Sepertinya Sehun berhasil mengalihkan arah pembicaraan mereka.

“Lagipula aku tidak pernah jauh darimu. Bukankah kau sudah berjanji akan melindungiku?” Tanya Hanna tanpa mengalihkan perhatiannya dari tulisan-tulisan samar yang ia buat pada jendela kaca mobil itu.

Sehun melirik Hanna sekilas. Ekspresinya kini telah berubah dan sangat sulit untuk diartikan.

“Jangan pernah kau menaruh kepercayaan berlebih pada orang lain Hanna.” Ucap Sehun dengan senyuman kecutnya.

“Wae? Kau bukan orang lain, kau itu sahabatku.” Hanna menjawab masih tanpa mengalihkan perhatiannya dari kaca mobil di sampingnya.

Kembali. Sehun kembali merasakan perasaan aneh yang menghenyak dadanya saat Hanna mengatakan hal itu. Dan ia sangat benci perasaan itu.

“Aku hanya tidak ingin kau terlalu bergantung kepada orang lain, Hanna. Karena pada dasarnya bayanganmu sendiri pun akan meninggalkanmu didalam kegelapan.” Ujar Sehun dan kali ini sukses membuat perhatian Hanna tertuju padanya.

“Ne?” Tanya Hanna tidak mengerti.

“Kita sudah sampai ayo turun..!!” Ujar Sehun tanpa memedulikan tatapan bertanya yang ditunjukkan Hanna padanya. Dan disaat yang bersamaan Hanna sadar bahwa mereka memang sudah sampai di tempat tujuan mereka, pasar swalayan.

Sehun turun terlebih dahulu dari dalam mobil tanpa memedulikan Hanna yang masih setia dengan rasa keterkejutannya. Setelah sadar, Hanna bergegas ikut turun dan segera mengejar Sehun yang sudah terlebih dahulu turun meninggalkannya.

“Yakk Sehun tunggu aku..!!”
Teriak Hanna sambil menyamai langkah kakinya dengan Sehun.

Mereka terus berjalan beriringan memasuki supermarket itu. Mata Hanna terus berkeliling mencari sesuatu yang menarik untuknya, bahkan kini ia sudah lupa tujuan awal mereka datang kemari. Dan Sehun tidak henti-hentinya memperhatikan gerak-gerik Hanna yang sedikit mencurigakan baginya, saat mereka sudah benar-benar masuk dan berada di dalam supermarket itu.

“Aku hanya akan membelikanmu daging. Jadi jangan minta hal lain padaku.” Ketus Sehun tiba-tiba saat menyadari tatapan berbinar Hanna yang tertuju pada sebuah rak coklat yang tidak jauh dari posisi mereka.

“Satu saja…” Mohon Hanna dengan wajah memelas dan dua tangan yang ditangkupkan.

“Aku tidak membawa uang lebih.” Dusta Sehun. Ia tau betul ada keinginan tersembunyi dari permintaan Hanna itu.

“Tapi kau punya black card.”
elak Hanna masih dengan wajah memohonnya.

“Aku tidak membawanya.”

“Jangan membohongiku. Kau pelit sekali.” Hanna mempoutkan bibirnya kesal.

“Haahh…” Sehun mengehela nafasnya frustasi sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengalah dan menuruti permintaan Hanna. “Satu saja tidak lebih.” syarat Sehun dan langsung mendapat tatapan berbinar dari Hanna.

“Kau terlihat tampan saat sedang berbaik hati, Sehun.” Puji Hanna. Membuat Sehun mendengus sebal.

“Aku selalu membelikan apapun yang kau mau. Kau saja yang tidak pernah sadar.” Cibir Sehun sambil terus memperhatikan Hanna yang kini tengah sibuk memilih-milih coklat yang ia sukai.

“Sehun aku ambil 2 ya? Ah ani, aku ingin 3, boleh ya?” Tawar Hanna, membuat Sehun tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya ke atas. ‘Sudah kuduga. Kau selalu meminta hal yang lebih dariku Hanna, tapi kau tidak pernah bisa memberikan apa yang aku inginkan.’

“Sehun?” Tiba-tiba ada suara lain yang memanggil Sehun. Membuat Sehun yang merasa terpanggil pun refleks mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara. Tak lama senyum lembut tercetak pada wajahnya, saat ia mendapati gadisnyalah yang ternyata telah memanggilnya dan kini tengah berdiri tidak jauh darinya.

“Kau sedang apa?” Tanya Krystal sambil berjalan mendekat ke arahnya. Sangat kebetulan mereka bisa bertemu disini.

“Haii Tal…” Sapa Hanna saat menyadari kehadiran Krystal.

“Heii,.. Kalian sedang apa?” Krystal balas menyapa Hanna saat ia menyadari kehadirannya yang sebelumnya terhalang tubuh Sehun.

“Mengantarnya membeli daging. Kau sendirian?” Tanya Sehun lembut.

“Ne.. Aku hanya membeli lotion, jadi aku sendirian saja. Kalian mau mengadakan pesta ya?” Tanya Krystal saat mendengar kata daging.

“Ne… Aku mau merayakan hari jadiku yang ke-3 bersama Baekhyun. Kau ikut pulang bersamaa kami ya..!! Sehun juga akan ikut, jadi kau harus mau.” Pinta Hanna tanpa menatap lawan bicaranya, karena ia sudah kembali disibukan dengan rak coklat yang berada di hadapannya.

“Ne ikut saja. Kami membawa mobil.” Ujar Sehun dan di balas dengan senyuman manis Krystal.

“Baiklah..”

 

¤

 

Hanna sudah kembali disibukan dengan masakan yang akan ia buat, setelah ia kembali ke rumahnya. Tapi kini ia tidak sendirian karena ada Krystal yang dengan suka rela menawarkan diri untuk ikut membantunya.

“Kalian selalu seperti ini saat merayakan hari jadi kalian?” Tanya Krystal di sela-sela kegiatannya memotong sayur.

“Ani.. Ini untuk yang pertama kalinya. Biasanya kami hanya merayakannya dengan makan berdua di kedai ramen.” Jawab Hanna terus-terang.

“Kedai ramen?” Krystal tersenyum geli, mendengar penuturan Hanna.

“Ne. Dan kau tau? Aku yang selalu berakhir dengan membayar makanan kami.” Hanna berbicara sambil mempoutkan bibirnya.

“Bagaimana bisa? Seharusnya Baekhyun yang mentraktirmu.” Tanya Krystal sambil mentautkan alisnya bingung.

“Ne.. Itu karena saat makan, kami selalu berlomba. Siapa yang menghabiskan ramen terlebih dahulu maka dia yang menang. Dan yang kalah harus membayar semuanya. Dan akulah yang selalu kalah.” Hanna bercerita sambil mengingat kembali kekonyolannya bersama Baekhyun saat merayakan hari jadi mereka.


‘Tidak perlu di rayakan di tempat mewah. Di tempat seperti ini pun akan membuat kesan tersendiri untuk kita.’ Ujar Baekhyun sambil mengacak surai lembut Hanna.

‘Bilang saja kau tidak punya uang. Mobil saja Ferrari tapi kantungmu tipis.’ cibir Hanna sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Baekhyun.

‘Kau tau? Kadang bicaramu itu terlalu terus terang. Bahkan kau tidak sadar kata-katamu itu telah menghantam ulu hatiku.’ Baekhyun sedikit membenarkan apa yang di ucapkan Hanna. Tak lama ia menangkup mukanya dengan menggunakan tangannya dan menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan.

‘Woah lihat itu ramen kita’ Lanjut Baekhyun saat melihat salah satu pelayan kedai ramen datang menghampiri meja mereka dengan membawa ramen yang mereka pesan.

‘Hanna ayo kita berlomba.’ Ujar Baekhyun lagi dengan nada yang terdengar sangat ceria. Dan Hanna hanya bisa menatapnya bingung.

‘Ayo kita berlomba, siapa yang menghabiskan ramen terlebih dahulu dia yang menang dan tidak usah membayar. Dan yang kalah dia yang harus mentraktir. Bagaimana?’ Lanjut Baekhyun sambil mengaduk ramennya dengan menggunakan sumpit.

‘Sebenarnya kau bawa uang apa tidak sih?’ Tanya Hanna sarkatis. Ia mengerti dengan baik tujuan kekasihnya itu.

‘Mau tidak?’ Tanya Baekhyun dengan wajah memelasnya tanpa menghiraukan cibiran Hanna.

‘Terserah kau saja.’ Ujar Hanna. Dan dengan gerakan cepat ia langsung memasukkan sesumpit ramen ke dalam mulutnya. Berniat mengambil start terlebih dahulu. Baekhyun yang menyadari Hanna menyetujui ajakannya pun langsung ikut memakan ramennya tanpa jeda. Seolah tak mau mengalah dari kekasihnya itu.

Mereka berdua makan seperti orang kelaparan, tanpa memedulikan tatapan aneh dari pengunjung lain yang kini tengah tertuju pada mereka. Mereka bahkan tidak lagi memedulikan image mereka sebagai seorang pelajar dari sekolah menengah atas ternama.

“Kau tau setelah itu wajahku memerah sempurna karena makan ramen panas dengan kecepatan ekstra. Bahkan lidahku melepuh dan tidak bisa merasakan enaknya makanan selama 3 hari.” Lanjut Hanna.

“Hahahaa kalian seperti orang bodoh.” Tawa Krystal meledak setelah mendengar kronologi kejadian yang Hanna ceritakan padanya itu.

“Ne. Jika mengingat hal itu aku selalu merasa malu dan tergelitik disaat yang bersamaan.” Hanna membenarkan sambil ikut terkekeh bersama Krystal.

“Lalu bagaimana denganmu dan Sehun?”
Tanya Hanna setelah tawanya mereda.

“Waktu itu Sehun mengajakku pergi ke taman bermain untuk merayakannya. Dan disana kami menghabiskan banyak waktu berdua sepanjang hari. Dan saat jam makan, dia mengajakku makan di cafe bukan di kedai.” Krystal kembali tertawa setelah menceritakan pengalaman indahnya tanpa memedulikan Hanna yang kini tengah menatapnya datar. Hanna hanya merasa hatinya mencelos seketika saat membandingkan pengalamannya dan Krystal yang bagaikan bumi dan langit.

“Kenapa aku bisa jatuh cinta kepada orang sepelit Baekhyun?” Tanya Hanna pada dirinya sendiri.

Sedangkan Baekhyun? Kini ia tengah terkapar di atas tempat tidur milik Luhan. Dengan posisi terlentang dan keadaan yang terlihat mengenaskan. Ia terus memegangi perutnya, bahkan sesekali ia mengelusnya sayang seolah mencoba untuk menenangkan cacing-cacing di perutnya yang saat ini tengah memberontak, melakukan unjuk rasa meminta makan. Bahkan ia tidak memedulikan lagi pembicaraan serius yang terjadi diantara Luhan dan Sehun.

“Hyung aku lapar.” Ujarnya mengenaskan.

“Berisik.” Sehun menjeda dengan wajah yang ditekuk. Membuat Baekhyun kembali terdiam dan lebih memilih meratapi nasibnya sendiri.

Luhan sendiri terlihat tidak peduli dengan kicauan Baekhyun. Ia terlihat begitu serius mendengarkan penjelasan dari Sehun mengenai cara seorang hacker melakukan cyber crime. Karena kasus yang tengah Luhan tangani kali ini memang berkaitan dengan cyber crime. Jadi ia meminta bantuan Sehun untuk menjelaskan bagaimana cara seorang hacker beraksi saat melakukan tindak kejahatannya. Beruntung Sehun mengambil jurusan IT, jadi ia paham betul mengenai kasus yang tengah Luhan selidiki kali ini, sehingga untuk kesekian kalinya Sehun dapat membantu Luhan memecahkan masalahnya dengan mudah. Walaupun sebenarnya ini memang sudah menjadi keahliannya, bahkan jauh sebelum ia menginjakkan kakinya di bangku universitas.

Dan kini, Sehun tengah menunjukkan bagaimana cara menyebarkan virus pada sebuah jaringan, sehingga ia bisa masuk dan membobol password serta data-data penting lainnya yang berada dalam situs itu. Seperti halnya seorang hacker handal, Sehun melakukannya dengan sangat hati-hati dan rapih sehingga identitasnya tidak diketahui. Sebelum akhirnya ia menghapus sendiri virus yang telah ia sebarkan dan mengembalikan semuanya seperti semula. Karena memang Sehun hanya menunjukkan bagaimana cara seorang hacker pada umumnya beraksi, melakukan cyber crime.

“Bagaimana? Kau mengertikan hyung.” Tanya Sehun setelah menyelesaikan tugasnya.

“Ne.. Ternyata ini sangat mudah, jika memang kita mengerti caranya. Pantas belakangan ini pembobolan kartu kredit yang dilakukan oleh seorang hacker sangat marak terjadi.” Ujar Luhan kagum.

“Kau hanya diminta untuk mencari tahu darimana asal uang yang masuk ke dalam rekening klienmu kan? Kenapa bukan orang lain saja yang menanganinya? Jelas-jelas ini bukan keahlianmu hyung. Basicmu kan hanya menangani kasus pembunuhan saja.” Celetuk Baekhyun tiba-tiba.

“Ne… Tapi ini ada hubungannya dengan kematian Park Jung Soo.”
Jelas Luhan sambil kembali berpikir, menerawang pada semua bukti-bukti yang telah ia dapat bersama teamnya.

“Bagaimana bisa?” Tanya Sehun penasaran.

“Sebelum kematiannya ia melakukan kerjasama bisnis dengan beberapa investor untuk membangun sebuah resort di pulau Jeju, tapi karena ada beberapa masalah kerjasama itu akhirnya dibatalkan. Faktor yang terjadi adalah banyaknya investor yang tiba-tiba mundur dan lebih memilih membatalkan kerjasama itu, karena mencuatnya dugaan penggelapan dana dari pemerintah untuk kementerian perdagangan yang dilakukan oleh Park Jung Soo. Itu sebabnya Tuan Kim memintaku untuk menyelidiki darimana asal uang yang tiba-tiba ada dalam rekeningnya itu. Karena ia adalah salah satu investor yang ikut dalam kerjasama itu, tapi ia juga ikut mundur saat Park Jung Soo dalam masalah. Ia hanya takut ikut terlibat dalam kasus penggelapan dana yang dilakukan Park Jung Soo.”

“Bukankah kita bisa mengetahui siapa yang mentransfer uang dengan mudah hyung?” Tanya Baekhyun tidak mengerti. Kenapa masalah seperti ini saja harus seorang detektif yang mengurusnya? Padahal hanya dengan mengeprint buku tabungan, lalu di tunjukkan kepada petugas bank untuk dicek siapa yang sudah mentransfer uang ke rekeningnya saja sudah dapat menyelesaikan masalahnya. Bahkan sekarang ada layanan E-Banking yang bisa di akses via internet. Yah Setidaknya itulah yang dipikirkan Baekhyun.

“Ne. Tapi yang menjadi masalahnya, uang itu ditransfer melalui nomor rekening Park Jung Soo sekitar satu bulan yang lalu. Sedangkan Park Jung Soo sendiri sudah meninggal satu tahun yang lalu, setelah kasus penggelapan dana yang ia lakukan mencuat ke permukaan. Dan setelah kematiannya, semua rekening yang ia miliki langsung disita dan diamankan di kantor kepolisian sebagai barang bukti. Dan yang lebih gilanya lagi tanggal transfer uang itu jauh sebelum kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh Park Jung Soo mencuat. Bahkan Tuan Kim sendiri merasa heran bagaimana bisa ini terjadi, uang itu ada dalam rekeningnya baru sekitar satu bulan yang lalu, tapi mengapa tanggalnya jauh sebelum itu.” Jelas Luhan membuat Baekhyun pusing. Sedangkan Sehun hanya bisa terdiam.

“Lalu bagaimana bisa ini semua berhubungan dengan Black ID?” Tanya Baekhyun lagi, membuat Luhan dan Sehun kompak menghela nafas frustasi.

“Kau bertanya seperti orang bodoh. Bukankah aku sudah menceritakan bahwa kematian Park Jung Soo itu tidaklah wajar.”
Ujar Luhan sambil menggaruk gusar kepalanya yang tidak gatal.

“Hehe.. Aku lupa.” Baekhyun terkekeh sambil memberi alasan.
Luhan dan Sehun pun kembali kompak menggelengkan kepalanya pelan.

Sekarang, mereka semua terdiam, seolah hanyut dalam pikiran masing-masing. Cukup lama mereka mempertahankan kebisuan itu, sebelum akhirnya Baekhyun kembali membuka suara dan kembali menanyakan hal yang diluar dugaan.

“Bukankah ini sangat menarik, Detektif dan Penjahat. Menurut kalian mana yang lebih sulit, memecahkan masalah yang sulit untuk dipecahkan atau membuat masalah yang tidak bisa di pecahkan?” Tanya Baekhyun polos tanpa memedulikan perubahan ekspresi dari kedua orang yang saling bersangkutan itu.

~TBC~

Haii…??? *bow*

Maaf sebelumnya karena chapter ini lama. Itu karena aku sedikit kesulitan di chapter ini. Aku ga nyangka bikin Regret ternyata susah, ga kaya MF. Aku author amatiran jadi bikin ff dengan genre Marriage life+Action, itu cukup buat aku pusing. Tapi kalian ngertikan sama jalan ceritanya meskipun semua masalahnya belum keluar semua?

Di awal aku baru kasih gambaran aja lewat Luhan POV tapi nanti aku bakal ceritain Kronologinya ko, dan next chapter itu masih FLASHBACK ya, jadi nanti kalian jgn bingung klo aku post chapter 4.

 

Dan terimakasih buat kalian yang selalu nemenin aku dari awal, dan kasih aku dukungan…^^ *bow lagi*

bye, sampai jumpa di next chapter…!!!

Saranghae… ❤

Advertisements

635 comments

  1. Ngga nyangka sehun punya niat jahat sama hanna & keluarganya, padahal mereka kan sahabatan dr dulu. Jahat banget si sehun

    Like

  2. Jd bener hanna nikah sama Sehun buat jdin boneka sanderaan aja.. tp ko kaya ada maksud lain sih.. di super market Sehun bilang ‘ingin sesuatu yg ga bisa hanna kasih’ wuahhh jgn2 Sehun hanna..
    Luhan jgn nyalahin diri sendiri gitu deh. Bukan salah km ko. Cuman takdir aja yg lg pengen main2. Percayalah kebaikan bisa mengalahkan kejahatan *bahasanya..
    Krystal beneran udh mati. Terus maksud ‘anakmu’ dan ‘salah paham’ apaan?? Apa Krystal salah paham sama hubungan sehun-hanna?? Terus apa anak Sehun maksudnya??
    Mulai keungkap nih masa lalunya.. asal mula dendam kesumat hahaha..
    yg bunuh ibunya hanna siapa tuh?? Apa ayahnya sehun?? ga mungkin sehun kan??
    Keluarga hanna bener2 hancur.. tinggal kesisa luhan sama ayahnya yg lg koma. Jgn sampe mereka pergi jg.. huhuhu..
    Apa luhan ga sadar sama tingkah Sehun?? Yg selalu nemu solusi kerjaanya,,belum lg ayahnya lg selidikin ‘organisasi bayangan’ apa ga tambah curiga bang??
    Wuahhh baekki pertanyaan polos ga nyadar radar nih.. pertanyaannya tepat sasaran nih buat kedua pria tampan itu.. baekki disini polos2 pengen tabok deh..astaga pelitnya..
    Eh btw Krystal ga cemburu sama kedekatan hanna Sehun??
    Okee sekian jejaknya. Cus next chapter. Semangat kaa good luck 😀

    Like

  3. hah ini sicabe mulutnya yaaa agak bener dikit si !! tapi jujur kecewa sama sehunnya ibaratnya dia itu musuh dalam selimut bagi hanna dan keluarganya. fighting kak

    Like

  4. nah loh susah mana buat masalah ato pecahkan masalah yampunnnn penasaran padahal uda tau endingnya tapiiii tetap aja ini keren aku mau baca lagiiii

    Like

  5. Sedih kalau jadi keluarga Hanna tegar banget mereka bisa nerima kenyataannya, sehun hanna dulu akrab banget 😥
    Ceritanya seru kalau menurut aku yang buatnya luar biasa, bisa bikin cerita kaya gini. Aku ngerti qo buat cerita kaya gini tidak gampang. Aku menghargai cerita kamu thor, semangat terus ya (^^)

    Like

  6. mungkin perubahannya sehun ada kaitannya juga sm krystal yg ujung²nya jd benci bngt sm hanna! atau mngkin sehun salah paham??! atau krystal ada hub annya sm pekerjaannya luhan?!

    Like

  7. Di part yang ini hampir semua flashback. Jadii harus banyak konsentrasi biar bisa nyambung… ceritanya selalu bagus apalagi kalai uda di bidang IT…
    hahahha seru lihat hanna dan baekhyun yang merayakan hari jadinya dengan hal yang sederhana…
    lanjut lagii….

    Like

  8. dari genre cerita, sampe couplenya aku suka.seru banget meskipun bolak balik baca tapi belum sempet coment juga maaf ya ☺
    kebetulan aku juga suka sama genre action seakan ceritanya tu ada tantangan bikin penasaran
    ijin baca kelanjutannya ya makasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s