Regret [Chapter 2]

regret

Title : Regret | Chapter 2

Author : SehunBee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun [EXO]
Khaza Hanna [OC]
Xi Luhan [EXO]
Byun Baekhyun [EXO]

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17 or Mature

Lenght : Series/Chapter

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit Poster by @lulubeib

Note : Perhatikan ratingnya…!!!

Regret

Summary

Dulu, kau adalah orang yang selalu melindungiku karena tak ingin melihatku terluka, tapi kini, kau adalah orang yang paling banyak memberikanku luka...

Regret

 

Kini, aku hanya bisa menatap sendu pada seseorang yang tengah berdiri di hadapanku. Bagaimana bisa ia melakukan hal ini, hanya karena ancaman bodoh darinya? Itulah yang ada di dalam benakku saat melihat keadaannya. Dan Ya Tuhan, kepada siapa lagi aku harus berlindung selain kepada-Mu? Lihatlah, bahkan seseorang yang selalu kujadikkan tempat untukku mengadu, kini telah menjadi seorang pembunuh.

“Oppa? Jawab aku… Ada apa dengan bajumu?! Apa yang sudah Sehun lakukan padamu? Kenapa kau menjadi seorang pembunuh sepertinya?” Tuduhku mulai frustasi.

” . . . ” Namun, masih tak ada jawaban darinya. Ia lebih memilih diam-menatapku. Seolah enggan menjawab semua pertanyaanku.

Ini memang masih terlalu pagi, bahkan matahari belum menampakkan sinarnya. Namun, Luhan Oppa sudah datang berkunjung ke rumah, dengan menggunakan baju yang sudah dipenuhi bercak darah, yang aku tahu pasti bercak darah itu ada karena ulahnya.

“Jangan salah paham Hanna! Oppa akan menjelaskan semuanya padamu, tapi tidak sekarang. Sekarang biarkan Oppa lewat dan menemui Sehun terlebih dahulu…” Akhirnya Luhan Oppa membuka suara, seolah dapat membaca apa yang aku pikirkan.

“Andwae..!!” Namun, aku kembali menolaknya seraya merentangkan kedua tanganku. Menghalangi jalannya.

“Apa yang kau lakukan, Hanna?”

Tubuhku menegang seketika. Mendengar suara dingin nan menusuk dari arah belakang tubuhku. Perlahan, aku menurunkan kedua tanganku. Lalu berbalik, menghadapnya.

“Apa yang kau inginkan dari Oppa-ku?” Tatapan tajam juga benci aku tunjuan padanya. Dan tatapan yang sama pun aku dapat darinya.

“Kembali ke kamarmu!” Titahnya dingin, penuh penekanan. Membuat nyaliku sedikit menciut.

“Shireo… Aku tidak masalah jika kau hanya menyakitiku, Sehun. Tapi tidak untuk Oppa-ku. Jangan sakiti dia…!!!” Tolakku.

Bisa aku lihat, Sehun menghela nafasnya pelan. “Aku tidak akan menyakiti Oppa-mu. Sekarang kembalilah ke kamarmu…” Titahnya lagi, dengan nada yang masih sama.

“Ani…” Tolakku, keras kepala.

“Baiklah terserah kau saja. Hyung ikut aku!” Ujarnya. Membuatku refleks membalikkan tubuhku (kembali) menghadap Luhan Oppa.

“Jangan Oppa…” Pintaku, seraya menahan kedua bahunya. Bisa kulihat, Luhan Oppa tersenyum lembut ke arahku, seolah mengatakan ‘Gwaenchana, semuanya akan baik-baik saja.’

Perlahan, ia menurunkan kedua lenganku. Dan tak lama, aku merasakan bibirnya menempel lembut pada dahiku. Tangannya menangkup hangat kedua pipiku. Dan aku, hanya bisa terdiam–membatu. Perlahan, setitik air kembali sukses menuruni lekuk pipiku. Saat kecupan hangat itu terlepas, dan tubuhku tak mampu lagi bergerak. Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa membiarkan Luhan Oppa pergi melewatiku.

Aku menangis dalam diam. Bahkan aku tak tau, kesalahan apa yang sudah kami perbuat di masa lalu, hingga takdir begitu kejam mempermainkan kami? Dan bagaimana bisa persahabatan yang telah terjalin sekian lama, kini harus berakhir dengan sebuah pengkhianatan? Ya Tuhan, aku masih tak mengerti akan jalan takdir yang telah Kau tuliskan pada keluargaku. Jika semuanya harus berakhir dengan benci, kenapa Kau membiarkan kami mengenal kasih sayang diawal?

Tiba-tiba ingatanku kembali berputar pada kejadian beberapa tahun silam, saat aku dan Sehun masih duduk di tingkat akhir sekolah menengah atas. Saat dimana dan yang aku tahu, sebuah permainan takdir untuk kami baru saja dimulai.

FlashBack On

“Oppa bilang team basketmu akan bertanding Minggu depan?” Tanyaku pada seorang namja yang tengah berjalan di sampingku. Saat ini, kami dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dan seperti biasa, sepanjang perjalanan kami selalu isi dengan obrolan-obrolan kecil yang kadang-kadang berakhir dengan keributan besar diantara kami.

“Ne… Dan kau harus datang untuk menonton pertandinganku, Hanna. Pastikan teriakanmu sampai ke telingaku saat pertandingan dimulai nanti…” Jawabnya seraya menarik beberapa helai rambutku.

“Akh… Sakit bodoh!” Umpatku kesal. Saat dengan sengaja, ia menjambak rambutku dengan lebih kencang. “Aku hanya akan datang, dan jangan harap aku mau berteriak-teriak tidak jelas karenamu. Aku tidak mau kehilangan suara indahku, hanya karena meneriaki namamu Oh-Se-hun…” Lanjutku, seraya merapikan kembali rambutku yang sedikit berantakan.

“Jangan beralasan. Baekhyun tidak akan marah padamu, hanya karena kau menyemangatiku saat bertanding…” Timpalnya, dengan seringai menyebalkan di bibirnya.

“Ne, Baekhyun memang tidak akan marah, tapi bagaimana dengan Krystal, kekasihmu…” Godaku tak mau kalah.

“Haha… Tenang saja, dari awal ia sudah tau–kita berteman baik sejak lama…” Sergah Sehun.

“Tapi Krystal selalu cemburu padaku, Sehun. Kau saja yang tidak peka…” Ujarku, seraya memutar bola mataku malas.

“Benarkah? Tapi sayangnya, aku tak bisa menjauhimu hanya karena rasa cemburunya.” Jawabnya enteng.

“Ya.. Bagaimana bisa kau jauh dariku, sementara rumah kita saja bersebelahan, dan bahkan hampir setiap hari kau datang ke rumahku untuk bermain dengan Luhan oppa.”

“Iya itu alasannya. Bagaimana dengan Baekhyun apa dia seperti itu?”

“Tidak. Baekhyun tidak seperti itu. Lagi pula ia lebih tampan darimu, dan sangat tidak mungkin-ia cemburu pada namja jelek sepertimu…” Jawabku mengejek. Dan tak lama, aku langsung berlari meninggalkannya. Sebelum ia sadar, lantas menghadiahiku sebuah pukulan.

“Yak! Berani sekali kau..!!!”
Protes Sehun tak terima. Saat ia sadar, aku telah mengatainya jelek.

“Sadarlah dan terima saja Sehun… Kau itu memang jelek,” ejekku lagi. Entah mengapa, Sehun paling tak terima jika dikatai jelek daripada kata buruk lainnya yang sering aku lontarkan padanya. Tapi, hal itu justru membuatku semakin bersemangat untuk menggodanya.

“Berhenti kau iblis kecil..!!!” Titahnya mulai kesal. Seraya mengejarku, yang sudah sangat jauh darinya.

“SHIREO…!!!” Godaku lagi.

“Aku bilang berhenti sekarang juga…!!!” Titahnya (lagi). Namun, aku justru menambah kecepatan lariku.

“SHIREO…!!! Ayo cepat, Luhan Oppa sudah menunggu di rumah. Dan yang terakhir sampai, harus mentraktir Bubble Tea besok- sepulang sekolah…” Tantangku.

“Kakiku jauh lebih panjang darimu Hanna. Dan akan aku pastikan, kaulah yang akan berakhir dengan kehilangan semua uang jajanmu besok…”

“Berhentilah bergurau, Oh Sehun..” ledekku semakin menjadi.

Author’s POV

Mereka terus saja berdebat selama sisa perjalanan pulang mereka. Namun, hal itu memang sudah menjadi kebiasaan buruk dari keduanya. Bahkan Ahjumma pemilik toko yang berada di samping jalan pun, sudah tak heran lagi. Setiap kali melihat keduanya bertengkar sepanjang jalan. Meributkan hal konyol yang sebenarnya tidak penting untuk diributkan.

“Eommonim, kami pulang…” Ujar Sehun ceria, kepada seorang wanita yang tengah menata pot bunga yang berada di depan tokonya.

“Sehun, dimana Hanna? Kalian tidak pulang bersama?” Tanya Eomma Hanna, saat tak menemukan keberadaan putrinya di samping Sehun.

“Di sana!” Sehun menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah Hanna. Yang saat ini tengah terengah, seraya menunduk–memegangi kedua lututnya. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya. Lantas berjalan sempoyongan mendekati Sehun dan eomma-nya.

“Eomma aku pulang…” Ujarnya masih dengan napas yang terengah. Dan dengan gerakan tak terduga, Hanna tiba-tiba saja menempelkan dahinya pada bahu lebar milik Sehun. Ia mengelapkan keringatnya pada blazer yang dikenakan oleh pria itu. Membuat blazer-nya basah akibat ulahnya.

“Yak! Apa yang kau lakukan?” Protes Sehun.

“Itu ucapan selamat dariku Sehun.” Jawabnya enteng. Sebelum akhirnya, kembali berlari ke arah sebuah rumah di samping toko itu. Rumah yang tak terlalu besar, namun terlihat nyaman. Memiliki dua lantai, namun terlihat sederhana.

“Berhenti berlari atau akan kubuat kamarmu berantakan…” Ancam Sehun, seraya ikut berlari-menyusul Hanna ke dalam rumahnya. Sementara Eomma Hanna, hanya bisa tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya pelan, ‘Kalian bukan anak-anak lagi, tapi masih saja kebiasaan buruk itu kalian bawa.’ batinnya, saat melihat Hanna dan Sehun yang tengah bermain kejar-kejaran.

“Oppa? Oppa? Apa kau sudah pulang? Oppa dimana kau?” Teriak Hanna sambil terus berlari menaiki anak tangga. Namun tiba-tiba, ia terjengkang ke belakang. Saat Sehun berhasil menangkapnya, dan kemudian menarik tasnya. Membuat tubuhnya oleng, karena kehilangan keseimbangan.

“Aaa~” Hanna kembali berteriak. Ia terkejut juga takut akan terjatuh. Matanya pun terpejam rapat. Namun,

Bruk.

Sesuatu menahan tubuhnya. Hanna yang menyadari dirinya tak jadi berguling-guling di tangga pun, membuka matanya perlahan. Ia mengerjap pelan, lantas mendongak. Detik berikutnya, ia menghela napas pelan. Setelah mendapati wajah Sehun, dan menyadari dada bidangnya tengah menahan punggungnya. Pria itu bahkan memeluknya dengan begitu posesif. Membuat Hanna tenang dalam dekapannya, namun tak lama. . .

“Haha… Kena kau….!!!” Hanna sadar mereka tengah bermain kejar-kejaran.

“YAK OPPA, tolong aku…!!!” Hanna kembali berteriak. Membuat Sehun tersenyum jail dibuatnya.

“Yak Sehun hentikan, geli, ahaha.. Aku mohon hentikan…!!!” Mohon Hanna, seraya memberontak. Mencoba melepaskan diri dari gelitikan maut Sehun. Sementara Sehun, terlihat tak peduli. Ia terus saja menggelitik perut dan leher Hanna secara bergantian, dengan mengunakan tangan jailnya.

“YAK… Kalian berdua! Jangan bercanda di atas tangga, jika kalian terjatuh bagaimana?” Teriak Luhan terkejut. Saat melihat Sehun dan Hanna.

“Kami tidak sedang bercanda Oppa. Kami sedang bertengkar, ahaha.. Sehun aku bilang hentikan…!!!” Jawab Hanna memberitahu. Sedangkan Luhan, hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

 

¤¤¤

 

 

“Memangnya sesulit apa kasus kali ini? Sampai-sampai kau kesulitan untuk memecahkan kasusnya. Seperti bukan dirimu saja…” Cibir Hanna, seraya memainkan sebuah game di laptop Oppa-nya. Dengan punggung yang menyandar sempurna pada headboard tempat tidur.

“Kali ini kasusnya berbeda, An. Bahkan Kepala Polisi Lee sendiri yang menunjuk Oppa untuk menangani kasus ini.” Jawab Luhan. Saat ini, ia tengah duduk di balik meja kerjanya seraya memperhatikan satu per satu barang bukti berupa foto korban–saat di temukan tewas di dalam ruang kerjanya. Sebisa mungkin ia mencari kejanggalan juga petunjuk dari foto-foto itu, agar ia bisa memecahkan kasusnya dengan segera. Namun sayangnya, kali ini Luhan sedikit kesulitan untuk memecahkan kasusnya. Luhan sama sekali tidak menemukan siapa pelakunya dari beberapa orang yang dianggapnya sebagai tersangka. Terlebih masing-masih dari mereka tidak mempunyai alibi yang kuat untuk membunuh korban. Padahal, ia adalah detektif yang ditunjuk dan dimintai pertolongan langsung oleh pihak kepolisian, karena dianggap mampu untuk menyelesaikannya dengan mudah,–seperti biasanya.

“Kau bilang, Menteri Perdagangan Park Jung Soo di temukan tewas dengan beberapa luka tusukan pada dadanya hingga ke perut, dengan tusukan-tusukan yang membentuk sebuah pola segitiga. Dan saat di temukan ia sudah kehilangan kedua bola matanya juga lidahnya.” Ujar Sehun santai, seraya menggigit coklat di tangannya. Saat ini, ia tengah berbaring di atas tempat tidur Luhan dengan Hanna yang duduk di sampingnya.

“Ne. Dan pembunuhnya sama sekali tidak meninggalkan jejak. Sepertinya, ia seorang yang amat-sangat ahli dalam bidangnya. Aku juga pernah menangani kasus serupa, dimana pelakunya sama sekali tidak meninggalkan jejak. Dan aku bisa menanganinya dengan baik, tapi kali ini benar-benar berbeda, Sehun…”

“Maksud Oppa, ia di bunuh oleh seorang pembunuh bayaran?” Tanya Hanna (kembali) ambil suara, dengan tidak menghilangkan fokusnya pada game yang tengah ia mainkan.

“Kalau begitu, kau harus menyelesaikan kasusnya dengan menggunakan cara berpikir seorang psyco.” Ujar Sehun (lagi), dengan seringai tipis di bibirnya. Tak lama, ia bangkit dari tidurnya, demi menatap lawan bicaranya.

Luhan pun melakukan hal yang sama. Ia berbalik dengan memutar kursi kerjanya, lantas menatap Sehun.

“Tapi, pola segitiga itu mengingatkanku pada kematian Alex Weiber, seorang Menteri Perhubungan dari Jerman. Bedanya, pola segitiga itu dibuat pada punggungnya, bola mata dan lidahnya juga hilang. Kasus yang sama juga di temukan di Rusia, San Francisco, Jepang, New York, Kanada, dan Hongkong. Dan aku rasa, pelakunya orang yang sama, ah tidak, tapi pelakunya berada di organisasi yang sama. Bahkan sampai saat ini, negara-negara yang aku sebutkan tadi belum mampu menemukan siapa pelakunya. Mereka hanya menemukan petunjuk-petunjuk yang mengarah pada sebuah organisasi kejahatan terorganisir. Sebuah organisasi mafia internasional yang namanya sudah tidak asing lagi didengar.” Ujar Luhan menjelaskan. Matanya menatap lurus manik Sehun.

“Black ID. Aku yakin salah satu dari mereka adalah pelakunya. Tapi sayangnya, kejahatan mereka begitu terorganisir. Akan sangat sulit bagiku untuk memecahkan kasusnya, jika benar salah satu dari mereka adalah pelakunya.” Lanjut Luhan yakin.

“Mereka organisasi mafia kelas internasional, tak heran jika salah satu dari mereka adalah pelakunya. Karena hanya mereka satu-satunya organisasi mafia yang berani bermain-main dengan pemerintahan.” Timpal Sehun, seraya memainkan batang coklat di tangannya.

“Dan kemungkinan besar, menteri Park Jung Soo pernah menjalin kerjasama dengan Black ID. Dan entah kesalahan apa yang telah ia perbuat, hingga ia harus berakhir dengan menemui ajalnya.” Luhan mendongakkan kepalanya, seraya memejamkan matanya sesaat.

“Dia adalah menteri perdagangan, dan Black ID merupakan salah satu organisasi mafia terbesar di dunia. Mereka sering kali terlibat dalam hal penyelundupan obat-obatan terlarang, jual-beli senjata api ilegal, dan juga perjudian kelas atas. Belum lagi, kasus-kasus pembunuhan yang menimpa orang-orang penting-yang juga diduga dilakukan oleh mereka. Dan juga perdagangan manusia sampai penjualan organ-organ dalamnya. Jadi, aku tak heran jika organisasi seperti itu menjalin kerjasama dengan seorang menteri perdagangan. Karena dengan adanya kerjasama itu bisa mempermudah peroses dan akses mereka untuk melakukan perdagangan dan penyelundupan barang-barang ilegal ke Negara kita.” Ujar Sehun lagi. “Yang jadi masalahnya, mereka memiliki lebih dari 200.000 anggota yang tersebar di beberapa negara, jadi akan sangat sulit untuk menemukan siapa pelakunya diantara orang sebanyak itu. Lagipula permainan mereka sangat apik, meskipun mereka sering kali terlibat dalam tindak kriminal, tapi tetap saja hukum tidak mampu menjeratnya karena mereka sangat pintar memainkan peran dan menghilangkan barang bukti dengan mudah. Bahkan sebelum kejahatan mereka mulai tercium. Dan lagi, mereka mempunyai kode etik tersendiri untuk semua anggotanya, sehingga membuat mereka secara tidak langsung terlindung dari hukum…” Papar Sehun. Luhan pun membenarkan.

Inilah yang membuat Luhan begitu menyukai Sehun. Pria itu selalu tau banyak mengenai organisasi-organisasi mafia yang sering kali terlibat dalam kasus yang ia selidiki. Membuatnya merasa menemukan seorang yang cocok untuk diajak berbagi mengenai kasus-kasus yang tengah ia tangani itu.

“Oppa? Apakah aku bisa masuk dan berkerja di NIS sepertimu dan Appa? Aku ingin menjadi seorang detektif sepertimu atau menjadi seorang Direktur NIS seperti Appa.” Tanya Hanna tiba-tiba, sambil berangan. Kali ini, ia tak lagi bermain game.

“Jangan harap kau bisa masuk badan Intelijen Negara sementara main game pun kau selalu kalah.” Jawab Sehun sarkastik.

Bugh.

Hanna yang mendengar jawaban Sehun pun tanpa hati memukulnya, dengan menggunakan bantal yang berada di samping tubuhnya. “Aku tidak bertanya padamu Sehun.” Ujarnya kesal.

“Aku berkata yang sejujurnya Hanna. National Intelligence Service adalah lembaga Intelijen Negara yang bertugas menjaga keamanan nasional juga mengenalkan kepentingan nasional. Mereka bertugas untuk menyediakan laporan intelijen tentang keamanan dan investigasi kejahatan, bahkan mereka mengembangkan prosedur dan mekanisme untuk menggagalkan kejahatan internasional juga terorisme. NIS adalah lembaga yang dihuni oleh orang-orang pintar juga cerdas, gadis bodoh sepertimu mana mungkin bisa masuk dan bergabung di dalamnya.” Jelas Sehun mengingatkan. Membuat Hanna mendengus kesal dibuatnya. Terlebih, melihat senyum mengejek dari wajah tampannya.

“Oppa dia mengataiku ‘bodoh’.” Adu Hanna seraya menempelkan jari telunjuknya pada dahi Sehun.

“Sudah jangan bertengkar. Kau pasti bisa masuk dan bergabung dengan Oppa, asal kau lebih giat lagi dalam belajar…” Luhan menengahi. Agar tak terjadi keribut besar lagi diantara keduanya.

“Ayolah Hyung, jangan memberikannya harapan palsu…” Goda Sehun lagi.

“Sahabat macam apa kau? Bukannya mendukungku, kau malah menjatuhkanku.” Hanna mempoutkan bibirnya.

“Dengan kemampuanmu yang sekarang saat melakukan observasi dan menganalisis masalah untuk menjadi seorang detektif-itu masih sangat jauh dari kata sempurna Hanna. Aku hanya mengingatkanmu, dan aku takut kau salah menuduh orang nantinya…” Ujar Sehun lagi, disertai dengan tawa ringannya.

“Kau menyebalkan. Sejak kapan kau jadi seorang yang banyak bicara seperti itu, Sehun!” Ujar Hanna kesal, dengan kembali memukul Sehun brutal–menggunakan bantalnya.

“Hey sakit… Hentikan!” Mohon Sehun, seraya melindungi kepalanya dari amukan Hanna.

“Aku sangat ingin membunuhmu saat ini juga, Sehun.” Seolah tak peduli, Hanna tetap melancarkan aksinya memukul pria itu.

“Ya Tuhan… Aku heran, bagaimana bisa Baekhyun jatuh hati pada seorang gadis beringas sepertimu…” Cibir Sehun.

“Dan aku jauh lebih heran, bagaimana bisa Krystal si gadis anggun itu jatuh hati pada seorang pria menyebalkan sepertimu…”

Mereka kembali bertengkar dan kembali memperdebatkan hal yang sebenarnya jauh dari kata penting. Sedangkan Luhan? Ia sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya, karena baginya, pertengkaran Sehun dan Hanna sudah seperti cemilan sehari-hari untuknya, hingga ia sudah amat-sangat terbiasa dengan suara bising dari keduanya.

 

¤
¤¤¤

¤  Regret  ¤

¤¤¤
¤

 

 

“NIS bekerja sama denan FBI untuk memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi pada Park Jung Soo. Mereka membentuk unit gabungan dan membentuk sebuah kelompok dengan detektif-detektif handal di dalamnya. Beberapa detektif sudah terbiasa memburu buronan tingkat S, ini data-data mereka.” Lapor seorang gadis cantik pada seorang pria yang tengah terduduk di balik meja kerjanya.

“Pergerakan mereka dipimpin langsung oleh Direktur NIS, Jo Khaza, dan putranya Khaza Lu juga ikut bergabung dalam unit khusus itu. Xi Luhan adalah nama China-nya, ia seorang detektif yang belakangan ini baru diketahui identitas aslinya-yang ternyata merupakan putra pertama dari Jo Khaza. Dan..”

“Aku tau…” Sela orang itu cepat. “Mereka adalah tetanggaku. Aku sudah mengirim orang untuk mengawasi pergerakan mereka. Dan untuk saat ini, unit khusus itu bukanlah ancaman besar bagi kita…” Lanjutnya.

Sementara gadis itu hanya bisa diam mendengarkan.

“Tugasmu sudah selesai, kau boleh pergi sekarang…” Titahnya kemudian.

“Baik Tuan…” Jawabnya patuh. Namun, saat tubuhnya hendak berbalik. Atasannya itu kembali membuka suara. Membuatnya refleks menghentikan langkah kakinya.

“Tunggu dulu..!! Perintahkan orang-orangmu untuk mengawasi detektif yang lainnya, pemimpin dan anaknya biar anakku yang urus…” Titahnya lagi.

“Baik Tuan..!!” Gadis itu mengangguk mengerti. Sebelum akhirnya, kembali membungkukkan tubuhnya hormat. Sebelum melenggang keluar.

“Maafkan aku Jo, persahabatan kita akan berakhir sampai disini..”

 

¤
¤¤¤

¤  Regret  ¤

¤¤¤
¤

Riuh pikuk suara para murid kini terdengar saling bersahutan. Memenuhi sebuah aula besar sekolah menengah atas, Hanyoung High School. Dimana kini, tengah berlangsung sebuah acara pelepasan kelas 3 di dalamnya. Raut wajah gembira para murid yang lulus tahun ini pun begitu menggambarkan suasana hati mereka. Terlebih, Hanyoung High School merupakan sekolah dengan reputasi terbaik di Seoul, sehingga hampir semua alumninya diterima di universitas negeri, baik itu yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Seperti halnya lulusan tahun ini, semuanya lulus dengan nilai terbaik dan sudah pasti lolos seleksi masuk perguruan tinggi–di universitas terkenal yang mereka inginkan.

Raut wajah bahagia serta tawa ceria itu pun hampir terlihat pada seluruh wajah yang berada di ruangan itu. Tak terkecuali, dua orang makhluk yang kini tengah memperdebatkan sesuatu.

Memperdebatkan, siapa guru yang tampil paling beda hari ini.

“Sudah kubilang, Choi Seonsaengnim yang tampil paling beda hari ini. Lihatlah, bahkan kali ini-ia menggunakan gel rambut, kumisnya juga terlihat mengkilap…” Ujar seorang gadis, tetap pada pendiriannya.

“Tidak. Dia memang selalu menggunakan gel rambut. Dan kumis itu hanya efek cahaya lampu. Menurutku, Im Seonsaengnim yang tampil paling beda. Lihatlah, bahkan ia menggunakan lipstick berwarna merah darah…” Timpal seorang pria yang duduk di sampingnya.

“Kau keras kepala sekali, Sehun. Buka matamu lebar-lebar, lihatlah kenyataan yang ada…” Batu mengatai batu, itulah Hanna.

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Hanna. Apa kau tidak mandi tadi pagi, huh? Lihat matamu dipenuhi kotoran.” Ejek pria itu tak mau kalah, dengan senyuman khasnya.

“Yak, enak saja..!!” Protes Hanna tak terima. Tangannya refleks berayun ke arah pria yang berada di sampingnya itu-siap memukulnya. Tapi sayangnya, gerakannya itu terhenti. Saat ada tangan kekar yang menghalanginya. Bahkan sebelum pukulan mautnya itu berhenti di tubuh Sehun.

“Jangan bertengkar, ini hari kelulusan kita. Sangat konyol, jika kalian masih meributkan hal yang tidak penting dihari bersejarah kita.” Ujar seorang pria, menengahi pertengkaran yang terjadi diantara kedua orang yang berstatus sebagai sahabat itu.

“Lepaskan aku Baek, biarkan aku menghajarnya.” Berontak Hanna. Namun, tenaga pria itu jauh lebih kuat darinya.

“Tidak. Lihatlah, kekasihnya terus memperhatikanmu. Bahkan ia sudah siap menerkammu kapan saja…” Cegah pria bernama Baekhyun itu, seraya merangkul pundak Hanna posesif. Agar gadis itu sedikit menjauh dari Sehun, dan mendekat ke arahnya.

“Heh… Aku tidak seperti itu…”
Protes seorang gadis yang duduk di samping Sehun.

Tak lama, perdebatan diantara Hanna dan Sehun tergantikan oleh adu mulut diantara Baekhyun dan Krystal. Sehun bahkan sedikit kewalahan, saat menghalangi tangan Krystal yang sangat ingin menjambak rambut Baekhyun. Sementara Hanna, hanya bisa menatap polos ke arah Baekhyun, Sehun dan Krystal secara bergantian.

“Kenapa jadi kalian yang bertengkar?”

 


¤¤¤

.

.

“Kenapa kau mengajakku kemari, Sehun?”

“Memangnya Baekhyun tidak bilang padamu?”

“Bilang apa? Dia tidak mengatakan apapun…”

“Double date.” Jawab Sehun singkat.

“Woah… Aku tidak tau! Siapa yang sudah merencanakan ini? Apa kau? Tsk.. aku tak menyangka, orang sepertimu bisa romantis juga…” Cibir Hanna. Membuat Sehun mendelik tajam ke arahnya. Namun, pria itu hanya diam. Seolah malas meladeni sahabat kecilnya itu. Hanna sendiri sudah larut dalam pikirnya. Hingga keheningan terjadi di antara mereka.

Saat ini, mereka tengah berjalan di daerah pertokoan Dongdaemun. Menuju sebuah cafe yang biasa mereka kunjungi. Namun tiba-tiba, keheningan yang sempat terjadi diantara mereka terisi oleh suara bising dari arah jalanan. Membuat keduanya refleks mengalihkan fokus ke jalan raya, demi mencari tau asal suara itu.

Kini, bisa Hanna lihat–beberapa motor besar membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Sehun yang juga melihat itu pun memicingkan matanya tajam.

“Apa mereka sedang balapan?” Tanya Hanna, seraya menghentikan langkah kakinya.

” . . . ” Namun, tak ada jawaban dari Sehun. Pria itu terus terfokus pada orang-orang yang tengah mengendarai motor besar itu. Tak lama, Sehun membelalakkan matanya samar–saat orang-orang itu membalikan motor mereka berlawanan arah. Dan dengan seketika mengacaukan arus lalu lintas di sana. Sehun yang menyadari ada yang tidak beres pun–langsung membawa Hanna ke dalam dekapannya. Terlebih, saat mata jelinya menangkap pergerakan aneh dari salah seorang pengendara motor itu.

 

Hanna membelalakkan matanya atas apa yang Sehun lakukan. Tak lama, ia mengerjapkan matanya pelan, lantas mendongakkan kepalanya–menatap Sehun penuh tanya. Sehun yang mengerti arti dari tatapan itu pun, langsung menengokkan kepalanya ke samping–ke arah sebuah pohon besar yang berada di samping mereka. Seolah memberi isyarat pada Hanna, agar mengikuti arah pandangnya itu.

Hanna (kembali) membelalakkan matanya, setelah mengikuti arah pandang Sehun. Ia kembali terkejut, saat mendapati sebuah pohon yang berada di sampingnya berlubang. Bahkan sedikit mengeluarkan kepulan asap.

“Mereka mengincarmu, Hanna.” Ujar Sehun, membuat tubuh Hanna menegang seketika. Tatapan yang amat-sulit untuk diartikan pun Sehun dapat. Membuatnya semakin mempererat pelukkannya pada gadis itu. Dan kini, bisa ia rasakan, tubuh Hanna bergetar. Gadis itu ketakutan. Meski kini, orang-orang dengan motor besarnya tak lagi ada.

“Jangan takut, aku akan selalu melindungimu…” Sehun tau betul siapa pelakunya. Terlebih dari jenis senapan yang mereka gunakan. Senapan angin dengan suara letupan yang amat halus. Hingga tak menimbulkan kecurigaan bagi mereka yang melihatnya. Terlebih, gerakan mereka begitu cepat juga terorganisir. Membuat mereka dapat melarikan diri tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

“Sehun..” Panggil Hanna lirih dengan suara yang bergetar. Wajahnya pun kembali mendongak. Membuat Sehun bisa melihat wajah ketakutannya itu.

Semua orang yang tengah berjalan di area itu pun sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Pergerakan orang-orang berpakaian serba hitam itu begitu cepat, terlebih pistol canggih yang mereka gunakan. Sehingga semua orang yang berada di sana, hanya bisa menatap bingung pada orang-orang yang tiba-tiba saja melanggar arus lalu lintas itu.

“Jangan khawatir… Aku akan melindungimu…” Ujar Sehun lagi tulus. Seraya membawa tubuh Hanna kembali ke dalam dekapannya. Ia tak kuasa melihat pancaran ketakutan wajah Hanna lama-lama.

“Kenapa mereka ingin membunuhku? Aku takut…” Tanya Hanna, kali ini disertai tangisnya. Tubuhnya semakin bergetar, ia amat-takut kejadian yang sama akan kembali terulang. Disaat tak ada orang lain yang akan memberikannya perlindungan. Tangannya pun balas mendekap tubuh Sehun erat.

“Aku tidak tahu. Tapi aku akan segera tahu…” Jawab Sehun marah.

 

¤
¤¤¤

¤  Regret  ¤

¤¤¤
¤

 


BRUK.

Suara dentuman pintu yang dibuka paksa–terdengar begitu memekakan telinga. Membuat seseorang yang berada di balik meja kerjanya refleks mengalihkan perhatiannya ke arah pintu. Demi menatap pria yang sudah lancang itu.

“Sudah kubilang, Hanna dan Luhan itu bagianku. Kenapa kau menyuruh orang-orangmu untuk menghabisi mereka?” Tanya pria itu–geram.

“Aku hanya mempermudah pekerjaanmu, Sehun.” Jawabnya enteng, “Lagipula, aku yakin kau tak akan bisa membunuh teman bermainmu itu. Dari kecil kau selalu bersama dengannya, dan akan sangat sulit untukmu menghabisinya…” Lanjutnya. Sebelum akhirnya, kembali membaca berkas-berkas yang harus ia tanda tangani.

“Sudah kubilang–aku akan menghabisi keluarganya, jika memang keberadaan kita sudah diketahui…”

“Kematian Hanna akan aku jadikan sebagai ancaman dan langkah awal untuk menghentikan pergerakan unit khusus itu. Jika Hanna mati yang tersisa hanya Luhan dan aku yakin Jo akan menghentikan investigasi kelompoknya, demi melindungi anaknya yang tersisa. Tapi kau malah menggagalkan rencanaku…” Pria itu ikut geram.

“Paman Jo akan tetap melakukan investigasi dan menemukanmu sebagai dalang dari kematian putrinya…” Ingat Sehun semakin geram.

“Jo adalah sahabatku dan aku jauh lebih mengenalnya dari pada kau, Sehun…”

“Aku tidak peduli. Yang pasti Hanna dan Luhan itu bagianku, aku sendiri yang akan menghabisi mereka jika Appa-nya berhasil menemukanmu dan organisasi kita. Jangan sentuh mereka sedikit pun tanpa persetujuan dariku…” Ancam Sehun. Sebelum akhirnya, berbalik–lantas melenggang pergi begitu saja.

“Jika kau bisa menghabisinya, kau tidak akan melindunginya.”

End of Flashback

Hanna’s POV

Secara tidak langsung, kau sudah membuka identitas aslimu padaku Sehun. Tapi bodohnya aku, karena tak pernah menyadari siapa dirimu. Saat itu, waktu terus berjalan, tapi pelaku pembunuhan Menteri Perdagangan Park Jung Soo belum juga terungkap. Dan Luhan Oppa bersama team-nya masih setia menyelidiki kasus itu. Saat itu juga, aku dan Sehun masih sering bermain bersama. Meski kami sudah duduk di bangku Universitas dan mengambil jurusan yang berbeda. Aku dan Baekhyun mengambil jurusan hukum, sedangkan Sehun mengambil IT. Saat itu, aku tak mengerti mengapa ia mengambil jurusan itu. Padahal yang aku tau, ia akan mewarisi semua bisnis ayahnya. Sedangkan mendiang Krystal, ia mengambil Pendidikan Dokter sebagai jurusan yang dipilihnya.

Mengenang masa laluku–membuatku sesak. Jika boleh jujur, sesungguhnya aku sangat merindukan Sehun-ku yang dulu. Namun disisi lain, aku sangat membenci Sehun yang sekarang.

“Hah~” Aku menghela napasku kasar. Kemudian melangkahkan kakiku pelan–ke arah sofa yang ada di ruangan ini. Aku mendudukkan tubuhku perlahan, sesekali aku menatap ke arah tangga yang berada di hadapanku. Aku sangat khawatir juga takut, Sehun akan meminta Luhan Oppa untuk melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Dan kini, sudah dua jam berlalu tapi mereka belum juga turun. Sebenarnya apa yang tengah mereka bicarakan?

Aku menundukkan kepalaku perlahan–berharap saat aku mengangkatnya, Luhan Oppa sudah turun dan berada di hadapanku. Perasaanku pun benar-benar kacau saat ini. Aku bahkan tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku kini. Namun tak lama, lamunanku buyar saat pendengaranku menangkap derap langkah kaki seseorang. Dan saat itu juga, aku refleks mendongakkan kepalaku, demi mencari tahu siapa itu.

Namun, aku mendesah kecewa saat yang aku dapati adalah Sehun dan bukan Luhan Oppa.

“Dimana Luhan Oppa?” Tanyaku, seraya bangkit dari dudukku.

“. . .” Namun, tak ada jawaban darinya. Ia justru terlihat sibuk memperbaiki penampilannya. Membuatku refleks menatap jam dinding, “Jam 7.16,” gumamku pelan, pantas Sehun sudah rapi. Tapi, di mana Luhan Oppa?

Akhirnya, aku putuskan untuk naik ke atas. Mencari tahu sendiri, karena aku tahu, menunggu jawaban Sehun sama halnya menunggu cucian kering. Atau bahkan, ia tak akan pernah menjawabnya. Namun, saat tubuhku berpapasan dengannya. Tangan kekarnya tiba-tiba saja menghentikan pergerakanku. Membuatku mendelik tajam ke arahnya.

“Mwo?” Desisku dingin. Namun tak lama, aku kembali mendengar derap langkah kaki seseorang. Membuatku kembali refleks menatap ke atas–ujung anak tangga. “Oppa. . .” Gumamku senang. Aku mencoba melepaskan gengaman Sehun. Namun, cengkramannya justru terasa semakin erat. “Akh… Sehun, sakit, lepaskan..!!” Aku meringis seraya memohon.

“Sehun lepaskan dia…” Pinta Luhan Oppa, saat melihat apa yang dilakukan Sehun kepadaku. Ia langsung mempercepat langkah kakinya untuk memisahkan kami.

“Dia istriku. Kau tunggu aku di luar, Hyung!” Titah Sehun dingin. Membuat Luhan Oppa refleks menghentikan langkah kakinya. Namun tak lama, ia kembali melangkah pelan–melewatiku.

“Oppa..” Panggilku lirih, saat melihatnya melewati tubuhku begitu saja–tanpa melakukan apa pun. Aku menatap tak percaya ke arahnya. Bagaimana bisa Luhan Oppa menuruti perintah Sehun begitu saja, bahkan tanpa membantahnya sedikit pun?

Namun, bisa kulihat tatapan sendu darinya, seolah mengatakan ‘maaf’ padaku. Membuat hatiku mencelos seketika.

“Sehun lepaskan aku! Biarkan aku bicara dengan Luhan Oppa…” Pintaku memohon. Fokusku terus tertuju pada punggung Luhan Oppa yang kini telah menghilang di balik pintu. Aku kembali mendesah kecewa, saat tubuhnya tak lagi terlihat.

“Sehun, ada apa de-eumph…” Aku membelalakkan mataku saat Sehun membungkam mulutku. Ia menarik pinggangku, membuat jarak tak lagi tersisa di antara kami.

Kini, aku hanya bisa diam dalam dekapannya. Dan membiarkannya melakukan apa yang ia mau. Melawan pun percuma, Sehun akan tetap pada egonya. Namun, lumatannya terasa semakin dalam. Membuatku ikut hanyut, dan pada akhirnya-aku ikut memejamkan mataku. Menikmati setiap pergerakannya.

Decakan pun mulai terdengar, bahkan napasnya terasa semakin memburu. Membuatku sadar, dan pada akhirnya mencoba untuk melepaskan tautan kami. Aku hanya tak ingin semakin hanyut, dan kembali berakhir di tempat tidur seperti semalam. Namun, Sehun menahan tengkukku. Membuatku tak bisa lepas darinya.

Semenjak kejadian malam ‘itu’, ia tak pernah membawa pulang wanita lain lagi ke dalam rumah kami. Tapi kini, ia lebih sering memintaku untuk melayaninya sebagai suami. Meski terasa aneh, karena kami melakukannya disaat benci menguasai–dan bukan atas dasar cinta.

Perlahan, bisa aku rasakan Sehun mulai melepaskan pautannya. Kedua tangannya kini berada di pinggangku. Memelukku dengan begitu erat.

“Mulai sekarang, kau tidak mendapat izin keluar rumah dariku, Hanna. Dan jangan temui Baekhyun lagi, tanpa sepengetahuanku.” Ujarnya penuh penekanan. Dan sukses membuatku membelalak samar.

‘Jadi Sehun tau…’ Aku sangat terkejut mendengarnya. Namun, belum sempat aku mengendalikan keterkejutanku. Ia sudah membuatku kembali terkejut. Aku menundukkan kepalaku, saat aku merasakan tangan jahilnya membuka satu-per satu kancing piyamaku.

“Sehun, kau harus pergi ke kantor.” Ujarku panik. Bagaimana tidak? Ini masih terlalu pagi, bahkan terlalu cepat untuk melanjutkan apa yang sudah kami lakukan semalam. Namun, Sehun seolah tuli. Ia justru menurunkan piyamaku, membuat sebelah bahuku terekspos.

Sehun menenggelamkan kepalanya di sana. Kecupan-kecupan ringan pun aku rasa. Bahkan aku bisa merasakan Sehun yang mulai membuka mulutnya. Menyesap kulitku perlahan, dan membuat jejak baru di sana. Sebelum akhirnya, menjauh–lantas menatapku.

Aku pun balas menatapnya. Seraya mencari Sehun yang dulu, lewat sorot kelam yang tengah ia tunjukkan itu. “Aku sangat membenci dirimu yang sekarang. Tapi, aku sangat menyayangi dirimu yang dulu.” Ujarku sendu. Sorot matanya pun berubah. Dan kali ini, Sehun menatapku dengan tatapan yang amat sulit untuk diartikan.

“Dari dulu sampai sekarang, aku tidak pernah berubah, Hanna.” Ujarnya. Membuatku sesak.

“Ya kau benar, aku saja yang terlalu bodoh karena tidak pernah mengenalmu…” Timpalku kemudian. Tanganku beregrak–merapikan kerah serta dasi yang dikenakannya.

“Pergilah, jangan membuat Oppa-ku menunggu lama…” Ujarku lagi, menyadari keterdiamannya. Dan perlahan, aku melepaskan pelukannya di pinggangku.

Sehun memundurkan tubuhnya perlahan. Lantas melangkah, menjauhiku. Dan aku, hanya bisa menatap sendu punggungnya yang semakin menjauh. Sebelum akhirnya, ia menghilang di balik pintu.

Dulu, kau adalah orang yang selalu melindungiku karena tak ingin melihatku terluka, tapi kini, kau adalah orang yang paling banyak memberikanku luka...”

.

.

.

.

.

~To Be Countinued~

.

.

.

Facts from The Story

National Intelligence Service (NIS) merupakan lembaga Intelijen yang berada di Korea Selatan. Apa yang Sehun jelaskan tentang NIS di atas itu fakta.

Hanyoung High School, meruakan SHS dengan reputasi terbaik di Seoul. Ini juga Fakta.

Black ID (ini namanya ngarang) tapi tindak kejahatannya diambil berdasarkan fakta, dari 4 organisasi paling berbahaya di dunia. Yardies (Inggris), Yakuza (Jepang), Russian Mafia, Triad (Asia: China-Malaysia-Singapura-Hong Kong-Taiwan). Tindak kejahatan mereka begitu terorganisir. Hingga hukum tidak mampu menjerat kejahatan mereka, dan beberapa anggotanya merupakan buronan tingkat S (buronan kelas kakap)

 

Author’s Note

 

Oke…kayanya aku kebanyakan nonton film action, hingga bikin FF cem gini…hee

dan terima kasih buat kalian yang udah mau baca FF ini, terutama buat kalian yang udah bersedia ninggalin comment buat aku… Terima kasih ^^

PS: Mohon hargai aku sebagai authornya dengan meninggalkan jejak berupa comment setelah baca…^^

saranghae yeorobun

 


Regards,

Sehun’bee ❤

Advertisements

626 comments

  1. Jadi sehun sama hanna sahabatan dari dulu… tapi sehun kok berybah gitu??? Padahal dia kan janji bakal melindungi hanna tapi kok malah di yang akan membunuh hanna dan luhan… Jahat baget si sehun inii….
    Duh makin penasaran sama kelanjutannya.. izin baca lanjut yaaa—-

    Like

  2. Boleh tanya ngak kak, inspirasi nya dapet drimana ? kok bisa ceritanya semenarik ini? apa kaka memang kuliah jurusan penulis ? 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s