Regret [Chapter 1]

regret

Title : Regret | Chapter 1

Author : SehunBee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun [EXO]
Khaza Hanna [OC]
Xi Luhan [EXO]
Byun Baekhyun [EXO]

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17 or Mature

Lenght : Series/Chapter

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit Poster by @lulubeib

Summary

Oh Sehun. Dia suamiku, tapi hampir setiap hari– aku melihatnya pulang bersama wanita lain dan kemudian, tidur bersamanya.

Regret

 


Aku masih tak mengerti, mengapa semua hal yang telah terjadi menjadi kesalahanku. Semuanya terjadi begitu saja. Dimana persahabatan berakhir menjadi sebuah pengkhianatan. Hanya karena cintanya yang telah mati. Aku bahkan tak mengerti, mengapa ia menyalahkanku atas kematiannya. Ia bahkan begitu membenciku karena itu. Karena kesalahan yang tidak sepenuhnya kesalahanku. Bukankah aku yang seharusnya marah padanya? Atas segala perlakuan manisnya juga buruknya. Aku bahkan sangat ingin lepas dari bayangnya, namun hati dan pikiranku tak bisa (lagi) diajak kerjasama. Dimana pikirku memberontak, namun batinku menetap. Hingga kini, aku tetap bertahan di sampingnya.

Saat ini, aku baru saja pulang sehabis berbelanja. Membeli kebutuhan pangan di supermarket yang berada tidak jauh dari tempat tinggalku. Dan kini, aku hanya bisa diam mematung di depan pintu masuk rumahku sendiri. Sudah cukup lama aku hanya berdiam diri di sini. Menatap hampa daun pintu berwarna cokelat tua itu.

Haruskah aku masuk sekarang? Apakah Sehun sudah selesai dengan kegiatannya? Hanya dua pertanyaan itu yang terus berlalu lalang di benakku. Karena tadi sore sepulang kerja, Sehun kembali membawa pulang wanita lain ke rumah kami. Membuatku jengah, hingga kuputuskan untuk keluar– membeli persediaan makanan yang sebenarnya masih tersedia banyak di dalam kulkas.

Aku pergi, hanya karena tak ingin mendengar desahan menjijikan dari wanita yang tengah Sehun permainkan. Itu sangat memuakkan.

Dan sesungguhnya, aku sudah tak tahan lagi. Semuanya sudah berjalan terlalu lama. Selama satu setengah tahun pernikahan kami, selama itu pula Sehun mempermainkan perasaanku. Ia sangat membenciku, ia menganggap akulah perusak kebahagiaannya, ia menganggap akulah yang pantas disalahkan atas semua yang sudah terjadi, ia selalu menyalahkanku atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya bisa diam menikmati cacian yang ia berikan.

Ceklek.

Tiba-tiba pintu di depanku terbuka, lantas menampilkan sesosok wanita cantik– yang aku tau adalah sekretaris Sehun di kantornya. Bisa aku lihat, ia tersenyum merendahkanku. Lantas pergi melewatiku begitu saja, tanpa rasa hormat sedikitpun. Meski ia tau, aku adalah istri dari CEO-nya. Dan entah untuk yang keberapa kalinya, aku merasakan ada pisau tajam yang mengiris-iris hatiku. Perih. Sangat Perih. Membuatku hanya bisa diam, termenung.

Aku memejamkan mataku sesaat, seraya menarik napas pelan. Sebelum akhirnya, mulai melangkah–memasuki rumah. Aku terus berjalan, dengan kepala yang menunduk. Meratapi nasibku yang begitu menyedihkan. Sungguh, aku sangat ingin menangis saat ini. Namun, air mataku terasa kering. Mungkin karena sudah terlalu banyak menangisi pria itu.

“Darimana saja kau?”

Deg.

Aku refleks menghentikan langkah kakiku, ketika suara yang begitu menusuk menyapa indera pendengaranku. Nada yang sama setiap kali ia bicara padaku. Membuatku hanya bisa diam tanpa berani menjawab pertanyaannya. Perlahan, aku mengalihkan perhatianku untuk menatap ke arahnya. Bisa kulihat, ia tengah menuruni anak tangga dengan tubuh topless. Ia hanya menggunakan celana Jeans hitam, lantas membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos. Bahkan aku bisa melihat dengan jelas beberapa kiss mark yang tertinggal di tubuh putih susunya itu.

“Supermarket” Jawabku pada akhirnya. Lantas kulanjutkan langkah kakiku menuju dapur. Sebisa mungkin aku menghindari kontak dengannya. Karena semakin lama aku melihatnya, maka akan semakin lama pula rasa sakit yang aku rasakan.

Sesampainya di dapur. Aku langsung meletakan semua barang belanjaanku di atas counter, dekat kulkas. Aku mengeluarkan satu per satu barang belanjaanku dari dalam kantung. Tapi, kegiatanku terhenti ketika aku merasakan langkah kaki seseorang yang terdengar semakin mendekat.

“Aku haus. . . Berikan aku minum,” pintanya santai.

Dan aku, hanya bisa menghela napas pelan. Sebelum akhirnya beranjak menuruti perintahnya. Aku buka kulkas yang berada di sampingku, lantas mengambil sebotol air mineral dari dalamnya. Sebelum akhirnya aku berbalik dan memberikannya pada Sehun.

Selanjutnya, aku kembali melanjutkan kegiatanku. Tanpa memedulikannya (lagi).

Author’s POV

“Orang tuaku ingin bertemu denganmu. Mereka mengajak kita untuk makan malam bersama besok. . .” Ujar Sehun, seraya bangkit dari kursi yang sedari tadi didudukinya. “Aku harap, kemampuan aktingmu tidak berubah Hanna. . . Mainkanlah peranmu dengan baik…” Lanjutnya. Membuat Hanna semakin jengah.

“Ajak saja sekretarismu itu Sehun-ssi. . .” Jawab Hanna muak. Sehun yang mendengarnya pun tersenyum miring.

“Kau cemburu?” Godanya. Membuat Hanna mendengus kesal dibuatnya.

“Tidak. . .” Jawab Hanna acuh.

“Lantas?” Tanya Sehun, sedikit tak puas mendengar jawaban Hanna. Dan perlahan, ia melangkah– mendekati Hanna yang masih pada posisinya.

“Tidakkah kau merasa bosan dengan permainan ini, Sehun-ssi?” Hanna balik bertanya, “Aku sudah muak dengan semua ini. Kita selalu berperan selayaknya suami-istri di depan Ibumu, dengan menutupi semua kebenaran yang ada. . .” lanjut Hanna, ia sudah tak tahan (lagi) akan semua perlakuan Sehun terhadapnya, “Kita akhiri saja Sehun. . . Ceraikan aku,” pinta Hanna sendu. Membuat Sehun membelalakkan matanya samar.

Cukup.

Sudah cukup ia bersabar, Hanna mulai berani padanya. Dengan penuh emosi, Sehun membalikkan tubuh Hanna, lantas mendorongnya cukup keras. Membuat Hanna meringis, saat tubuhnya membentur lemari pendingin yang berada di belakangnya.

“Katakan sekali lagi. . .” Titah Sehun dingin, penuh penekanan. Kedua tangannya menempel sempurna di kedua sisi kepala Hanna– mengunci pergerakannya. Membuat Hanna menciut dibuatnya. Maniknya pun menatap takut wajah penuh emosi di depannya. Jantungnya bahkan sudah bergemuruh di dalam sana.

Kini, Hanna hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri karena sudah memancing amarah Sehun. Sementara ia tau, dari dulu– topik perceraian merupakan topik yang paling sensitif di telinga pria itu. Dan tidak seharusnya ia kembali membahasnya.

Sekarang, Hanna hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Ia tak kuasa menatap kilatan amarah di mata elang Sehun lama-lama.

“Jawab aku. . .” Kali ini Sehun mencengkram rahang Hanna, dengan menggunakan tangan kirinya. Membuat Hanna mau tidak mau harus kembali mendongakkan kepalanya, dan (kembali) menatap manik tajam pria itu.

“Maafkan aku. . .” Cicit Hanna. Tubuhnya begetar, matanya pun mulai berair. Ini adalah alasan, mengapa Hanna tetap bertahan. Hanya membicarakan topik perceraian saja, sudah membuat Sehun semarah ini. Bahkan dulu, ia sempat melarikan diri darinya. Namun, Sehun berhasil menemukannya. Membuatnya harus rela berakhir di tempat tidur dengan amukkan Sehun terhadapnya.

“Karenamu kita terikat. Dan aku tak akan melepasmu, sebelum apa yang aku inginkan tercapai. . . Jadi, jangan pernah berpikir untuk lari dariku sebelum aku sendiri yang melepasmu, ARRASEO..!!!” Bentak Sehun, membuat Hanna refleks menutup matanya rapat.

“Ar–ra. . . arraseo,” Jawab Hanna gemetar. Lututnya terasa lemas, bahkan ia merasa sudah tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya itu.

“Bagus. . . Sekarang layani aku…”

Hanna membelalakkan manik jernihnya, ketika mendengar penuturan pria itu. Tangannya pun refleks mendorong bahu Sehun, ketika pria itu mulai mengikis jarak diantara mereka.

“eumph. . .” Air mata kembali lolos menuruni lekuk pipi Hanna. Saat bibir mungil mereka bertemu. Hanna bahkan merasa tak punya harga diri di hadapan pria yang tengah mencumbunya itu. Karena ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruknya.

Sehun memang pernah menidurinya sekali, dan Hanna tak ingin hal itu terjadi lagi. Meski Sehun berstatus sebagai suaminya.

Ciuman Sehun terasa semakin dalam juga menuntut. Tubuhnya bahkan semakin rapat, menjepit tubuh Hanna. Membuat titik tubuh mereka bertemu, juga membuat kegiatan mereka terlihat semakin intim. Tangan Sehun bahkan mulai bergerak nakal, menggerayangi bagian atas tubuh Hanna.

“Eeukhh. . .” Desah Hanna di sela-sela ciumannya, saat tangan kekar Sehun bermain di salah satu titik sensitifnya. Membuat Sehun semakin panas mendengarnya.

Sebenarnya hal inilah yang paling Sehun hindari selama ini. Ia selalu menahan nalurinya sebagai seorang pria saat bersama dengan Hanna, karena ia tak ingin meniduri wanita yang sudah menghancurkan hidupnya itu. Tapi kali ini, ia kembali lepas kendali. Hasratnya untuk kembali menikmati tubuh Hanna benar-benar menyiksanya, hingga ia tak peduli lagi akan risikonya nanti. Sehun hanya takut Hanna hamil setelahnya. Itu saja.

‘Persetan dengan apapun yang akan terjadi nanti.’ Batinnya penuh hasrat.

“Malam ini aku menginginkanmu, Hanna. Aku merindukan tubuhmu. . .” Ujar Sehun setelah melepaskan pautannya. Smirk tercetak jelas di wajah tampannya. Membuat bulu kuduk Hanna meremang seketika. Ingatannya pun kembali berputar pada saat Sehun menidurinya untuk yang pertama. Dimana ia berlaku kasar terhadapnya. Membuat Hanna takut akan mendapat perlakuan yang sama seperti waktu itu. Air matanya pun semakin lancar mengalir, menuruni lekuk pipinya. Ia sangat ingin melawan, tapi akibatnya akan sangat fatal baginya. Tidak hanya berakibat pada dirinya, tapi juga keluarganya. Membuatnya hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk Sehun terhadapnya.

Sehun kembali meraup bibir Hanna, dengan posisi yang masih sama. Ia terus menekan tubuhnya, membuat tubuh Hanna semakin terjepit dibuatnya. Padahal jarak diantara mereka sudah tak lagi terbatas.

¤
¤¤¤

¤  Regret  ¤

¤¤¤
¤

Seorang pria tampan dengan setelan kemeja hitam dipadukan dengan jas berwarna biru gelap, terlihat baru saja turun dari dalam mobil mewahnya. Ia berjalan dengan angkuhnya, memasuki sebuah toko bunga kecil yang terlihat begitu sederhana. Namun, tertata begitu rapi. Ia masuk ke dalamnya, sementara matanya lincah berkeliling. Mencari seseorang yang menjadi alasan, mengapa ia datang ke tempat seperti itu.

“Kau sibuk?” Tanyanya kepada seseorang. Saat fokusnya menangkap figur yang dicarinya.

Seorang pria pemilik mata rusa itu pun menoleh. Lantas memicingkan matanya tajam, tak suka. “Kau… Ada perlu apa kau datang kemari?” Tanyanya tak bersahabat.

“Seperti itukah caramu– menunjukkan rasa hormatmu pada adik iparmu ini, heum?” Balasnya merendahkan. Membuat pria bermata rusa itu geram.

“Jangan basa-basi… Ada perlu apa kau datang kemari?” Tanyanya (lagi), jengah.

“Tidak bisakah kita bicara sambil meminum teh?” Timpalnya enteng.

Kesabaran pria itu pun habis. Ia begitu muak pada sesosok pria yang berada di hadapannya itu. Bahkan ia langsung meletakkan kasar pot bunga yang berada di tangannya. Lantas, membalikkan tubuhnya seraya melangkah meninggalkan pria itu.

Sementara Sehun, ia hanya mengendikkan bahunya acuh. Sebelum akhirnya, mengekor di belakang Luhan. Mengikuti kemana arah perginya pria itu.

“Kapan kau akan mengakhirinya, huh?” Tanya Luhan geram pada pria yang kini duduk di hadapannya itu.

Saat ini, mereka tengah berada di sebuah taman kecil di belakang toko bunga milik Luhan. Dimana banyak pot bunga yang tertata rapi di setiap sudutnya, juga tanaman kecil yang menghiasi sekelilingnya.

“. . .” Sehun tak langsung menjawabnya. Tangannya meraih santai– secangkir teh yang berada di hadapannya. Kemudian meneguknya perlahan.

“Tentu saja sampai aku berhasil menemukan ayahmu, dan kemudian– membunuhnya.” Jawabnya enteng, setelah selesai menyeruput tehnya. Lantas meletakkan kembali cangkirnya itu di atas meja.

Sementara Luhan, sudah mengepalkan jemarinya kuat. Membuat bunyi gertakan terdengar darinya. Sungguh, demi apa pun yang berada di dunia ini, Luhan sangat ingin membunuh orang yang berstatus sebagai mantan sahabat– sekaligus suami dari adik kesayangannya itu. Ia amat muak terhadapnya, tapi sebisa mungkin, ia menahan emosinya.

“Oh ya, tubuh adikmu sangat nikmat, Hyung… Aku menyukainya…” Lanjutnya dengan seringai kecil di bibir mungilnya. Namun tak lama,

Bugh.

Luhan bangkit dari duduknya, lantas dengan gerakan cepat, ia melayangkan bogem-nya pada pipi mulus pria itu. Membuat Sehun seketika terjatuh dari duduknya, lantas tersungkur di tanah.

Luhan yang melihat hasil perbuatannya pada pria itu pun, terengah. Ia hanya tak kuasa (lagi) menahan emosinya yang sudah memuncak. Terlebih mendengar kalimat ‘mempermainkan’ keluar dari mulut pria itu. Membuatnya semakin memanas, karena tak tahan melihat adiknya yang terus diperalat olehnya. Sudah cukup lama Luhan bersabar. Dan kali ini, kesabarannya itu sudah benar-benar berada di titik batasnya.

“Brengsek.. .” Umpatnya pada akhirnya. Membuat Sehun kembali tersenyum miring dibuatnya.

“Hey, aku suaminya. Aku berhak menidurinya kapan pun aku mau.” Jawabnya kemudian, seraya menghapus setitik darah kecil di sudut bibirnya.

“Aku akan membayar semua hutang-hutang keluargaku. Jadi, jangan kau sentuh lagi Hanna.. Dia terlalu baik untuk seorang pembunuh sepertimu…” Desis Luhan tajam. Ia tak menyangka, kini Sehun-nya benar-benar telah berubah.

“Dengan apa kau membayarnya, heum? Karirmu sudah berakhir, Hyung. Kau bukan lagi seorang detektif handal dengan bayaran yang mahal. Bahkan kau, hanya memiliki sebuah toko bunga kecil untuk menghidupi tubuh ringkihmu itu.” Perlahan Sehun bangkit dari duduknya, lantas membersihkan celananya yang sedikit kotor.

“Dan aku yakin, kau membiayai biaya pengobatan Aboeji dengan uang yang aku berikan pada Hanna.” Tebak Sehun, membuat Luhan tertegun, “Sebenarnya, Aku benar-benar tak habis pikir pada kalian berdua… Kenapa kalian hanya diam, dan enggan mengaku perihal keberadaan Aboeji kepadaku?” Sehun memiringkan kepalanya. Mengamati setiap ekspresi wajah Luhan.

“Padahal, jika kalian memberitahuku dimana aboeji berada, maka penderitaan kalian pun akan berakhir…” Lanjutnya disertai smirk iblisnya.

“Dan membiarkanmu membunuhnya?” Luhan tersenyum kecut. Ia sadar betul akan kondisinya saat ini. Semua yang diucapkan Sehun memang benar adanya. Bahkan, ia tak sanggup untuk membiayai biaya pengobatan rumah sakit Appa-nya, yang kini tengah dirawat karena koma. Luhan, ia sudah tidak punya uang lagi untuk itu. Kehidupannya dan adiknya sudah berubah. Dan sekarang, semua biaya rumah sakit Appa-nya pun secara tidak langsung di tanggung oleh Sehun. Sementara Sehun sendiri menginginkan kematiannya. Bahkan Ayah-nya koma karena Sehun yang mencelakainya.

Sungguh permainan takdir yang luar biasa.

“Ya. Agar ia tak menjebloskanku ke dalam penjara…” Sehun mengendikkan bahunya acuh.

“Kau benar-benar Iblis, Sehun. .” geram Luhan, namun sendu.

“Sudahlah Hyung… aku sedang tak ingin berdebat denganmu. Aku datang kemari hanya untuk menawarkan pekerjaan yang lebih baik untukmu. Tinggalkan saja toko bunga ini dan bekerjalah untukku.” Sehun menatap lawan bicaranya. Mencoba untuk lebih serius. Agar tak banyak waktu yang dibuangnya.

“Menjadi seorang pembunuh sepertimu?” Tebak Luhan. Membuat Sehun kembali tersenyum dibuatnya, “Aku rasa tidak. Kau sudah terlalu baik padaku juga keluargaku, Sehun. Terima kasih atas tawaranmu…” lanjut Luhan, dengan senyum kecut di bibirnya.

“Kau yakin tidak ingin menerima tawaranku? Bahkan jika ini menyangkut keselamatan adikmu?” Seringai kembali terbentuk di bibir mungil Sehun. Luhan yang mendengar kalimat ‘ancaman’ itu pun membelalak tak percaya.

“Jangan bawa-bawa dia, Sehun…” Desisnya penuh penekanan.

“Tidak. Jika kau mau menuruti keinginanku,” Sehun melangkah mendekati Luhan. Tatapan tajam nan menusuk pun didapatnya dari pria itu. Namun, bukan Oh Sehun namanya jika ia takut akan tatapan seperti itu. “Sekarang, buatkan aku rangkaian bunga kesukaan Hanna… Aku ingin memberikannya sedikit kejutan.” Titahnya, sebelum melewati tubuh Luhan.

Sementara Luhan, masih tak bergeming dari tempatnya. Namun, matanya mulai memanas-perih. Sampai, setitik air jatuh dari salah satu sisi matanya.

“Mianhae, Hanna… Maafkan Oppa. . .”

 

¤
¤¤¤

¤  Regret  ¤

¤¤¤
¤

Hanna menyandarkan tubuhnya pada headboard tempat tidur, ia menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Tatapan matanya terlihat kosong. Namun, setitik air seolah tak bosan keluar dari dalamnya. Ia menangis, dalam diam.

Beberapa tanda kemerahan pun terlihat membekas di bagian atas tubuhnya. Bahkan kulit putih susunya, terlihat semakin pucat. Karena terus dibiarkan diterpa dinginnya udara AC yang berada di ruangan itu. Tanpa sehelai pakaian pun.

Hanna, ia sudah berada di titik terendahnya. Ia merasa sudah tak sanggup lagi menerima perlakuan buruk Sehun terhadapnya. Ia sangat ingin mengakhiri semuanya, tapi nyawa appa-nya yang akan menjadi taruhannya.

Ceklek.

Tak lama, suara pintu terbuka menyapa indera pendengarannya. Fokusnya pun lantas tertuju ke arah pintu masuk kamarnya itu.

“Kau sudah bangun?” Seorang pria yang baru saja masuk itu, melangkah menghampiri Hanna. Namun, tatapan dingin nan menusuk di dapatnya dari gadis itu. Tapi tak lama, gadis itu kembali berpaling darinya– seolah begitu muak melihat wajahnya.

Dan kini, bisa Hanna rasakan tempat tidurnya sedikit menurun saat pria itu mendudukkan tubuhnya di hadapannya.

“Lihatlah, aku membawakan bunga kesukaanmu…” Ujarnya dengan senyum kecil di bibirnya. Namun, Hanna masih enggan menatap ke arahnya. Ia sangat membencinya kini. Terlebih dengan apa yang sudah ia lakukan padanya semalam. Dimana ia menidurinya di atas meja makan, sebelum akhirnya ia membawanya dan kembali melanjutkannya di dalam kamar. Jika mengingat hal itu, membuat Hanna benar-benar merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia benci, karena tak bisa melawannya.

“Oppa-mu yang merangkainya.” Lanjutnya. Membuat Hanna bereaksi, dengan melirik sekilas rangkaian bunga yang kini berada di atas pangkuannya itu.

Sehun yang melihatnya pun kembali tersenyum. Perlahan tangannya bergerak–menyentuh lebam di sudut bibir Hanna. Ia mengusapnya lembut, lantas “Apa aku terlalu kasar?” bertanya. Membuat Hanna mendelik tajam ke arahnya. Namun tak lama, kepalanya ikut bergerak. Mengikis jarak diantara mereka. Hanna yang mengerti pun hanya diam, sampai. .

Basah.

Hanna merasakan sesuatu yang basah menyapu sudut bibirnya. Saat lidah pria itu bermain lembut di atas permukaan bibirnya. Namun, tak ada reaksi yang Hanna tunjukkan. Ia hanya diam seperti patung. Menatap tanpa ekspresi- wajah yang tengah menikmati bibirnya itu.

Tak lama, Sehun menangkup kedua sisi wajah Hanna. Ia mulai melumat bibir manis itu dengan tidak sabaran. Tapi Hanna, tetap tak bereaksi dengan apa yang tengah Sehun lakukan terhadapnya itu. Ia hanya sudah terlalu lelah untuk melawan. Tak hanya fisik, tapi juga hatinya. Dan diam adalah pilihan terbaik untuknya. Setidaknya, Sehun tidak akan menggunakan kekerasan lagi, jika ia tak melawan.

Tangan Sehun yang semulai diam pun, kini mulai bergerak turun menelusuri leher, bahu, sampai ke titik sensitifnya. Dan perlahan, Sehun menurunkan selimut yang menutupi bagian atas tubuh Hanna itu.

“Aku sangat menyukai ini, Hanna…” Ucapnya, setelah melepaskan tautan bibirnya. Sebelum akhirnya, kepalanya ikut turun menelusuri ceruk leher Hanna. Sampai terhenti dan berakhir di tempat yang dimaksudnya.

Sementara Hanna menutup matanya rapat, seraya menggigit bibir bawahnya kuat. Saat kembali merasakan betapa hangatnya rongga mulut Sehun ‘di sana’. Sebisa mungkin, ia menahan desahannya. Tangannya bahkan sudah mencengkram bahu Sehun kuat.

“eungh. . .”

Sehun tersenyum iblis di sela-sela kegiatannya. Saat mendengar lenguhan Hanna. Sementara ia tau, gadis itu terus menahan desahannya. Namun tak lama, ia kembali menjauhkan kepalanya. Merasa sudah cukup untuk mempermainkan Hanna. Meski ia menginginkan ‘lebih’.

“Aku tidak suka kau acuhkan. Dan itu hukuman untukmu! Sekarang bergegaslah, persiapkan dirimu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. . .” Ujar Sehun, seraya merapikan surai coklat Hanna.

Hanna sendiri masih terdiam. Ia kesulitan untuk mengatur napasnya yang sedikit terengah. Tangannya pun bergerak, demi meraih selimut– dan kemudian kembali menutupi bagian atas tubuhnya. Ia sama sekali tak berniat untuk menyahuti perintah Sehun.

“Aku tunggu di bawah.” Perlahan Sehun mengangkat tubuhnya. Ia bangkit, lantas melenggang keluar begitu saja dari dalam kamar Hanna.

 

¤¤¤

Sebuah melodi mengalun dengan begitu indah. Membuat suasana tentram juga nyaman tercipta di dalam ruangan mewah bergaya klasik Eropa itu. Berbagai hidangan kelas atas pun telah tersaji dengan begitu apik di atas sebuah meja bulat. Menambah kesan mewah tersendiri bagi mereka yang melihatnya.

Restoran yang berada di sebuah hotel berbintang itu benar-benar memanjakan mata juga perut para pengunjungnya. Membuat siapa saja betah berlama-lama berada di dalamnya. Terkecuali, seorang gadis yang sedari tadi hanya diam mematung di kursinya. Ia justru ingin cepat pergi dari tempat itu, dan mengakhiri semua sandiwara yang tengah ia perankan. Bahkan, ia sama sekali tak tertarik untuk menyentuh makanan yang tersaji di depan matanya. Membuat seseorang yang sedari tadi memperhatikannya, khawatir.

“Apa kau sedang tidak enak badan, An? Sedari tadi kau hanya diam saja. . .” Seorang Ibu nan cantik itu bertanya. Ia merasa amat khawatir melihat sikap yang ditunjukkan menantunya.

Sementara, pertanyaan yang dilontarkannya itu. Membuat seluruh mata tertuju padanya, tak terkecuali Sehun yang duduk di sampingnya.

Hanna yang mendengar itu pun tersenyum. Hanya tersenyum. Ia sama sekali tak berniat untuk membuka suara. Bahkan untuk sekedar menyahuti mertuanya.

Tak lama, boneka hidup itu kembali larut dalam pikirannya. Ia sama sekali tak memedulikan tatapan khawatir dari orang-orang di sekitarnya. Namun perlahan, ia merasakan sesuatu tersangkut di bahunya. Membuat punggungnya yang memang sedikit terbuka tidak lagi merasakan dinginnya udara AC di ruangan itu. Hanna melirik Sehun yang ternyata membuka jasnya untuk ia kenakan. Pria itu tersenyum dengan begitu manis kepadanya dan Hanna, hanya bisa menanggapinya dengan senyum kecut di wajahnya. Selalu seperti ini. Batinnya.

“Kau sakit? Kita pulang duluan saja. Bagaimana?” Raut wajah khawatir terlihat begitu jelas di wajah pria itu. Namun Hanna, hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia hanya malas membalas perlakuan manis pria itu. Dan jika ia mengiyakan, Hanna yakin–pria itu akan sangat marah saat mereka tiba di rumah.

“Kau yakin, An?” Tanya Nyonya Oh semakin khawatir.

“Aku baik-baik saja, Eommonim.” Akhirnya Hanna membuka suaranya. Ia hanya tak kuasa bersikap buruk kepada Eommonim-nya yang sudah begitu baik padanya itu. Senyum tipis juga Hanna tunjukan kepadanya, mencoba untuk meyakinkannya.

“Apa kau sedang hamil?” Tebaknya. Melihat dari gelagat Hanna yang terlihat tak nafsu makan. Dan pertanyaannya itu, membuat Hanna dan Sehun refleks menatap ke arahnya. Dari awal, topik ini adalah topik pembincangan yang paling Hanna dan Sehun hindari. Karena keduanya memang sama sekali tak berniat untuk memiliki keturunan. Kehidupan rumah tangga mereka begitu berantakan, bahkan keduanya tidak saling mencintai. Masing-masing dari mereka sama-sama sudah memiliki orang lain yang sudah mengisi hati masing-masing.

Apa yang telah terjadi di masa lalu –berhasil mengubah semua rasa yang dimiliki Sehun juga Hanna. Kecantikan Hanna yang bak boneka porselen pun tak lagi mampu menjerat seorang Oh Sehun. Begitupun sebaliknya, kesempurnaan garis wajah Sehun juga postur tubuhnya, sama sekali tak membuat Hanna menatap ke arahnya. Terlebih ego telah menguasai keduanya. Selama ini, mereka hanya hidup di bawah atap yang sama, tanpa ada tiang kokoh (Cinta) yang menyangganya. Selama ini pula, keduanya hanya hidup dalam sandiwara dan benci yang mereka ciptakan sendiri, demi kepentingan masing-masing. Hanna demi keluarganya dan Sehun demi harta warisan, dendam, juga kebebasannya. Itu adalah alasan kenapa mereka tetap bersama memainkan peran sebagai suami dan istri, di depan Ibunya juga umum.

“Maaf, Eommonim.” Jawab Hanna pada akhirnya. Nada sendu begitu ketara dari suaranya, seolah menyesal karena belum bisa memberikan apa yang diinginkan Ibu mertuanya itu.

“Bersabarlah Eomma… Salahkan saja Appa yang terlalu membebankan pekerjaannya padaku, hingga aku tak memiliki banyak waktu untuk berdua dengan Hanna. Bahkan aku, tak bisa bercinta dengannya setiap malam karena lelah dengan pekerjaan di kantor…” Jawab Sehun datar. Seolah tak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Hanna yang mendengarnya pun mendelik kesal ke arahnya. Bodoh. Batinnya.

“Anak kurang ajar!” Laki-laki paruh baya yang sedari tadi hanya diam itu pun, angkat bicara. Saat mendengar jawaban dari anaknya yang menurutnya amat-sangat terang-terangan itu. Setelahnya, ia kembali memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.

“Bagaimana? Apa kau berhasil menarik banyak investor setelah kau melakukan kerjasama dengan CJ group?” Tanya Tuan Oh, setelah mengunyah makanannya.

“Tentu saja. Itu bukan hal sulit untukku…” Jawab Sehun, dengan senyum kecilnya. Kini, Ayah dan anak itu larut dalam perbincangan seputar dunia bisnis. Sementara Nyonya Oh, ia masih sibuk memperhatikan gerak-gerik Hanna. Ia menelusuri wajah cantik menantunya itu, dan bisa ia lihat–sedikit lebam yang tak terlihat kontras di sudut bibirnya. Berbagai pertanyaan pun berlalu lalang di benaknya. Dan pikiran buruk pun datang menghampirinya, namun ia tepis itu. Mengingat Sehun yang begitu menyayangi Hanna. Jadi, sangat tidak mungkin-luka itu ada karena Sehun. Terkecuali, jika Sehun memang sangat kasar saat berciuman. Ya, ia rasa jawabannya itu. Kini, ia mengerti mengapa Hanna tak nafsu makan. Pasti bibirnya luka. Batinnya menebak.

“Sayang… Ayo, makan makananmu! Selagi masih panas…” Pinta Nyonya Oh, yang kemudian hanya ditanggapi dengan anggukan kecil serta senyum tipis Hanna. Sehun yang mendengarnya pun menoleh ke arah Hanna.

“Kau harus makan, Hanna…” Titah Sehun lembut. Tangannya mulai bergerak–memotong daging yang berada di hadapan Hanna. Kemudian menusuk potongan kecil daging yang sudah dipotongnya itu, lantas mengarahkannya ke mulut Hanna.

“Aku tidak lapar…” Tolak Hanna lembut. Mencoba untuk kembali memainkan perannya.

“Geurae, jika kau tidak mau…” Sehun memasukkan potongan daging kecil itu ke dalam mulutnya. Dan dengan gerakan tiba-tiba, Sehun meraih kepala Hanna lalu mencium bibirnya. Seraya memindahkan potongan daging kecil itu ke dalam mulut Hanna. Hanna yang terkejut akan perbuatan Sehun pun, hanya bisa membelalakkan matanya. Bahkan ia merasa sedikit mual, saat daging itu telah berpindah ke dalam mulutnya.

“Aku akan melakukannya lagi, jika kau tak kunjung menyentuh makananmu…” Ancam Sehun dengan seringai iblisnya. Sementara kedua orang tua Sehun, hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.

Wajah Hanna kini memerah karena malu. Bagaimana tidak, Sehun menciumnya di depan kedua orang tuanya. Tapi apa yang bisa ia lakukakan sekarang, selain menuruti perintah pria itu.

“Aigo. . . zaman benar-benar sudah berubah ya…” Nyonya Oh terkekeh, mendengar kata-katanya sendiri. Sementara Sehun, hanya tersenyum menanggapinya.

Akhirnya, Hanna mulai menusuk daging yang berada di hadapannya. Ia terlihat malas memasukan potongan daging itu ke dalam mulutnya, selera makannya benar-benar sudah hilang sekarang.

 

¤
¤¤¤

¤  Regret  ¤

¤¤¤
¤

Tiittt Tiittt Tiittt

Monitor EKG itu terus mengeluarkan bunyi bip yang sama. Tapi, seorang namja yang tengah meringkuk di sofa yang berada di sampingnya, sama sekali tak terganggu. Matanya terus menatap lurus–pada tempat tidur pasien yang tengah di tempati oleh seseorang di atasnya itu. Setitik air pun tak henti-hentinya menuruni lekuk pipinya, seiring dengan bayang-bayang masa lalunya yang terus melintas dalam benaknya. Masa lalu yang begitu menyenangkan. Dimana senyum ceria adik kecilnya, tawa menggema Appa-nya juga senyum tulus Eomma-nya, menjadi santapan setiap harinya. Dan kini, hal itu menjadi kerinduan terbesarnya. Ya, ia merindukan semuanya, ia merindukan semua yang telah Tuhan ambil darinya itu.

“Tuhan berikan kesembuhan untuk Appa-ku dan berikanlah ketabahan untuk adikku. Serta berikanlah kekuatan untukku menghadapi semua ini, ah tidak, tapi berikan kami kekuatan untuk menghadapi semua cobaan yang Kau berikan. Dan biarkan keluarga kecil kami kembali bersama, meski Eomma sudah tak lagi bersama kami. Aku mohon, biarkan kami bersatu dan bersama seperti dulu…”

.

.

.

.

~To Be Countinued~

.

.

Ini Fanfic keduaku, setelah My Fate… Aku kembali Mengangkat kisah Marriage Life, yang aku harap bisa beda dari yang lain.

Dan Semoga kalian suka. . .

Oh ya, terima kasih buat kalian yang udah mau baca, comment dan tertarik ama FF ini… Antusias kalian merupakan semangat aku untuk terus menulis…

Saranghae Yeorobun^^

Regards ❤ SehunBee

Advertisements

853 comments

  1. Astga bru chapter awal..udh panas,gmana chapter 2 nya?3?4?tp sblmnya KEREEENNNNNN….author kesayanganku emg hebatt,TETEP SEMANGAT!

    Like

  2. Ini ff kedua yg aku baca setelah ambition
    Keren bangettt ff nyaa ..selalu bikin tertarik walaupun masih dichapter 1
    Penasaran knpa sehun benci banget sama hanna ???
    Authorr memang hebattt !! 🙂

    Like

  3. aku baru baca ni, ijin baca ya….
    cerita awal kok udah sedih banget sih. segitu menderitanya kah kehidupannya hanna. jadi ikut sedih deh. 😞

    Like

  4. Karakter sehun disini kejam bat. Tp cocok sih sm mukanya/?
    Coba baek yg kejam… Duh gadapet .g/?

    Maaf baru bisa komen kaknurul><

    Like

  5. thor aq readers baru nih baru nemu ff ini ijin baca yah..aq suka ff author seting tempatnya beda ama ff yang sering aku baca trus ama karekter sehun di ff ini suka bgt walopun agak kejem-,-
    salam kenal yah thorr..
    semangat buat nulisnya

    Like

  6. Aku baru tau sm tulisan kakak karna ff THE VIOLINIST dn dri sanalah aku mulai mengikuti jejak penulisan kak nurul

    Like

  7. Perkenalkan kakak,saya readers baru di sini.ijin baca tulisan yaa kakk..
    Mumpung lagi free,jadi seharian bisa baca semua tulisan kakak.
    Ff ini bagusss sekali,bikin yang baca mernding disco 😂
    Ijin baca teruss ya kak,dan semangat terus untuk menghasilkan karya2 yang laen…

    Like

  8. Luhan….Masa kamu nggak bisa cari kerja apa….gitu? Masa karena berhenti jadi detektif kamu nggak bisa kerja? Bukannya Detektif itu pintar ya? Buka privat kek. Nih, malah jual bunga. Ck ck ck! Tapi yahhh…..kita semua tahu ada alasan dibalik semua ini. (Sok bijak)

    Like

  9. Sebenernya gimananya msh bingung. Butuh chap.lnjutnya buat memperjelas. Ke nya kelam bener nih cerita.
    Well, Sehun emng jahat gitu ya? Dr awal udh dibikin miris ati liat Hanna dijahatin Sehun. Duh, itu istri sendiri loh.
    Istri mana coba yg ga sakit tau suami bawa cewek laen ke rumah gtu. Mana terang”an lg *duhh
    Pada jago akting nih. Bisa”nya wktu ktemu ortu Sehun ke ga ada apa-apa. Seakan mereka baik” aja. Sedihㅠㅠ

    Like

  10. Aku udah berkli” bca ff ini , tapi gk ada bosennya … abis klo baca ff itu bikin baper bgt :”” sehun nya pervert parah!!

    I love so much regret :* ^^

    Like

  11. Baru chapter 1 aja udah begini… gimana selanjutnyaa.. parahh baru awal cerita aja udah bikin ketagihann! Bikin baperrrr:((((( Sehun hanna nya masuk banget di imajinasi, keren kakk♡♡♡

    Like

  12. Kok bisa sih sehun benci banget sama hanna , apa ada masalah sebelumnya dengan hanna , semoga cerita nya makin menarik yah selanjutnya

    Like

  13. Aku suka ama ceritanya,aku gak sengaja nemui ff author dan aku gak rugi jumpa ama ffnya author keren deh.
    Tapi kesian banget nengok hannanya di gitui ama sehun apalagi sehun berlagak sok romantis di depan orang tuanya,hanna fighting
    Author juga fighting,

    Izin baca next chap ya author ^^

    Like

  14. Author comentku yang pertama kok gak ada ya?Aku harap yang ini ada.

    Walaupun gak sengaja jumpa tapi gak nyesel deh soalnya ceritanya itu beda dari ff lain.

    Sehun disini bad boy banget sebel gue nengoknya.Hanna kasian banget di gituin

    Author iji baca next ya
    Fighting
    And keep writing ^^

    Like

  15. Holaa kaa izin menjelajah.. aku reader dr SKF yg kepincut sama ff ambitionnya..
    Baru nongol pengen liat karya lainnya..
    Huahh di sini sehun nya kejam asli. Apa salahnya hanna sampe dia kaya gitu?? Terus ngapain nikahin hanna kalo cuman buat di siksa aja? Apa dendam masa lalu? tp ga segitunya. Bawa jalang kerumah hanna di depan hanna apa ga punya hati?! Nyesek aslinyaa..hanna bertahan buat ayahnya yg lg koma? Tp kasian hanna kalo kesiksa terus tiap hari.
    Terus luhan, Sehun dulunya sahabat ko bisa jd musuh gitu?? Ahhh penasaran aslinyaa.. oke sekian lanjut ke chapter selanjutnya kaa good luck 😀

    Like

  16. haii q reader bru nih … izin baca ya.. ff km bagus q jd tertarik untuk bacanya. sebenarnya pa yg terjadi dengan masa lalu mereka hingga buat sehun & hanna menikah dengan tanpa cinta?

    Like

  17. HAYYY AKU BALIK LAGI ini kedua kalinya aku baca regret dan aku mau baca dari awal karna suka bangt sma cerita inii izin baca lagiii yaaa thorrrr

    Like

  18. haii chingu,aku riders baru maaf ya baru koment sekarang sebenarnya aku udah sering baca ff kamu tapi ga tau caranya gimana. menurut aku ff kamu ini menarik keren apalagi bergenre action, romance gitu terus lanjutkan karyamu ini chingu sekali lagi maaf baru koment sekarang 😊

    Like

  19. Wahh suka sama ceritanyaaa…walaupun sehun jahat sama hanna tapii tetap apik alur ceritanya…. apalagi waktu sehun nyuruh hanna makan, dan hanna tetap nolak akhirnya terjadilah ciuman di depan umum… omooo so sweet banget sebenarnya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s