Rendezvous [Chapter 4]

Sehun’Bee

 Story Re-make from My Fate

.♥.

Oh Sehun – Khaza Hanna – Byun Nami

Kai – Baekhyun – Hanbin

.♥.

Romance – Drama -Marriage Life – Hurt – Family – Friendship – Adult

PG -17

Multi-Chaptered

Disclaimer: SehunBee©2014

Prev:

Summary – The Plot  [1] Dark Romance [A] Dark Romance [B] Broken [3]

.♣.

Berpaling, berpura buta. Diam memendam kecewa. Asa ingin dimengerti, tetapi mulut tetap bungkam. Begitulah hidup, selalu konyol setiap kali menyangkut perasaan dan gengsi wanita.
SehunBee-

.

Silence [NOW]

Prasangka buruk tak pernah menghiraukan fakta yang relevan

Prasangka buruk tak pernah menghiraukan fakta yang relevan. Sejajar dengan sikap tak masuk akal, tak peduli dengan alasan yang lebih rasional. Selalu berpegangan kepada kemungkinan terburuk dari rasa penasaran, yang berbuah pertanyaan-pertanyaan. Tak ada kejernihan, prasangka buruk kadang juga serupa keruh dalam genangan air. Itu jadi bagian dari emosi manusia, yang tak baik jika dibiarkan.

Kendati demikian, sisi egois selalu menganggap diri paling benar sehingga emosi semakin bangga dan terus meninggi. Lalu, enggan bertanya menjadi masalah utama dalam hal kesalahpahaman. Perasaan pun jadi semakin terluka oleh prasangka buruk dan air mata cuma bisa jatuh lemah. Nami jadi seumpama bocah ingusan yang hanya tahu cara bermain dengan becek, begitu naif. Dia terlalu lugu dan sekarang terluka.

Isakan pedih karena hati yang terkhianati, tak bosan beriring dengan napas yang semakin menyesak. Wajah Nami kemudian jatuh di atas kedua tangan yang terlipat di atas meja, bahunya ikut naik-turun menyedihkan. Dia menangis seperti anak sekolah dasar kehilangan pensil warna—dua warna sekaligus, warna yang paling dia suka. Satu warna yang merupakan sosok Hanna sebagai sahabat, dengan warna lain sebagai Sehun—lelaki yang paling dia cinta. Hatinya pun patah oleh sebab kehilangan yang besar.

Menyedihkan. Nami cuma bisa menikmati luka, untuk semakin terluka. Benar-benar akhir yang keterlaluan untuk balasan cintanya yang luar biasa. Apalagi jika kilas balik berputar, mengajak Nami untuk mengingat kembali bagaimana cara Sehun memeluk Hanna dengan manis. Kemudian berpasrah ketika Hanna marah dan menamparnya, lalu memeluk gadis itu lagi dengan sabar dan menenangkan. Itu jadi pemandangan yang menyakitkan untuk dilihat—untuk Nami yang telah lama memendam cinta.

Cinta yang murni, pengkhianatan yang apik. Hati kecilnya kemudian berkata, Mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar, Nami. Manis, bukan?

“Tidak. Hanna tidak mungkin mengkhianatiku ….” Nami mengoceh parau, terisak pula dengan pilunya. Tetapi suara dalam Sehun mendengung kembali, meruntuhkan kepercayaannya dalam sekali waktu. “Aku memang egois. Terlalu mencintaimu adalah kesalahan terbesarku yang kuanggap benar.”

“Sejak kapan Hanna menjalin hubungan dengan mantan asisten dosenmu, Nami?” Pertanyaan Gehna di waktu yang sama juga Nami pertanyakan. Lantaran tergugu, Gadis Byun itu cuma bisa berbalik dan pergi. Berlari kencang, membuat Gehna mengejarnya khawatir. Lalu berakhir mengunci diri di kamar asrama, tak peduli Gehna mencemaskannya dari luar. Sampai saat ini-menjelang petang, Nami tak juga beranjak dari meja belajarnya. Dia masih setia menangisi ingatan tadi siang; bergelung dengan berbagai macam prasangka.

 Dia masih setia menangisi ingatan tadi siang; bergelung dengan berbagai macam prasangka

Senyum menjungkit satu sudut; tampak tipis tapi menawan

Senyum menjungkit satu sudut; tampak tipis tapi menawan. Setelannya rapi tak ada kusut, rambutnya yang malah ditata berantakan. Pembawaannya tenang, seakan menunjukkan ada strata sosial yang pantas disegani dari orang itu. Belum lagi wajah tampannya yang rupawan; pewaris gen unggul khas bangsawan. Ada satu kata untuk penggambaran yang lebih singkat, pria itu sempurna. Sehun benar-benar memerhatikannya dengan baik.

Cuma, ada resah diterpa gelisah yang terus mengganggu ketenangan Sehun. Duduk diam saja pun malah digulung rindu yang bergumul. Padahal tak sedetik pun Sehun alpa memikirkan Hanna, tetapi jiwanya tetap menuntut ingin kembali bertemu dengan segera. Yang disayangkan, ada undangan makan malam yang memaksanya menjauh barang sejenak. Hanna yang mengunci diri di dalam apartemen pun harus Sehun tinggalkan dengan tidak rela.

Karena pria di hadapannya cukup berbahaya, menolak ajakan makan darinya jadi tak terpikir oleh Sehun. Bisnisnya akan bermasalah jika berani macam-macam, sementara ada target untuk menikahi Hanna tahun ini juga. Namun khawatir yang ada, lama-lama malah membuatnya takut. Itu karena Hanna sendirian dalam keadaan tidak baik, tetapi tak ada yang bisa Sehun prediksi tentang apa saja yang akan gadis itu lakukan untuk menenangkan diri. Cara berpikir Hanna kadang terlalu rumit untuk dia pahami dengan mudah, Sehun jadi tidak bisa berpikir jernih; cemasnya yang malah semakin berlebihan.

“Apa yang sedang Anda pikirkan, Mr. Oh?”

Kai Kim ada di samping Sehun. Dia tak keberatan untuk menendang mata kaki sahabatnya itu agar berhenti memikirkan wanita. Jengkel? Sudah jelas. Ada alasan yang menurut pria bermarga Kim itu ganjil, sehingga makan malam berbasis bisnis tersebut ikut menyeret namanya. Yang sungguh sial, tak bisa dia tolak. Sehun yang menjadi korban senasibnya, justeru tak bisa banyak membantu. Kai jadi kesal.

“Itu tidak penting,” jawaban Sehun semakin membuat Kai gemas. Dia pikir, Sehun lupa bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang Pangeran Muda. Seseorang yang memimpin sebuah kerajaan bisnis dengan 70 merek barang fashion terpopuler; termasuk di antaranya Dom Perignon, Bulgari, Louis Vuitton, Sephora dan Tag Heuer, serta hampir 3.900 toko ritel yang tersebar di seluruh dunia.

Belum cukup, semua aset itu cuma berada di bawah payung kerajaan mewah LVMH—salah satu aset kecil yang dimiliki Khaza Group. Kai tidak bisa membayangkan ketika mendengarnya saja sudah membuat berpikir, itu terlalu menakutkan untuk dibilang kecil. Kekayaan Khaza Group ternyata memang jauh lebih banyak dari itu, terlalu menyeramkan untuk diajak bersaing. Maka wajar, apabila Sehun ataupun Kai malas berurusan dengan pria yang satu ini.

Karena dia, terlalu berbahaya untuk ditentang. Dia, adalah Khaza Lu. Orang yang Kai dan Sehun kenal diam-diam sebagai kakak biologis seorang Khaza Hanna. Luhan nama panggilannya. LVMH adalah perusahaan, di mana Luhan telah menjadi Komisaris sejak tahun 2011 lalu. Dia juga mencatat penjualan hampir $ 40 miliar pada tahun fiskal 2016. Sebagian besar kekayaannya diikat di saham Christian Dior, di mana Luhan memegang kepentingan mengendalikan LVMH secara penuh. Luhan juga memiliki miliaran dolar saham di LVMH secara langsung di jaringan supermarket Carrefour dan Hermès.

Bisa dibayangkan; Sehun akan mati dengan cara paling hina, jika Luhan sampai tahu apa yang terjadi pada adiknya kemarin malam. Seharusnya Sehun tidak segegabah itu. Tak pantas untuknya menyesal sekarang karena setiap waktunya dengan Hanna, telah dia nikmati dengan baik. Cuma ada gerakan memijat pelipis dari Sehun sesudahnya, yang kemudian membuat Luhan mengangkat satu alis.

“Anda terlihat tidak sehat, Mr. Oh. Apa Anda yakin, Anda baik-baik saja?”

Tidak. Batin Sehun yang menjawab, sementara anggukan ringkas yang Luhan lihat sebagai jawaban. “Katakan saja, apa yang Anda inginkan, Tuan?” Sehun ingin mengakhiri ketidaknyamanannya cepat-cepat. Tak butuh basa-basi, manakala tahu orang seperti apa Luhan ini.

“Pelan-pelan saja, Tuan. Anda tidak sedang berada dalam fokus yang baik.” Bukan Luhan yang bicara, pria di sampingnya yang mengambil alih atensi Sehun—rival diam-diamnya dalam permainan investasi, yang Sehun anggap paling menyusahkan dan menyebalkan. Hanbin Kim, namanya. Seorang investor, pengusaha, dan filantropis asal Korea Selatan yang paling diperhitungkan. Kepiawaiannya dalam bisnis investasi menjadikan dirinya sebagai salah satu investor tersukses di dunia. Sehun pernah satu kali kalah telak olehnya ketika bermain saham di pasar yang sama.

“Bukan masalah besar,” kata Sehun. Dia pria jenius yang memiliki tingkat konsentrasi tinggi, walaupun Hanna sedang bermain-main di otaknya. Hanbin saja yang terlalu pintar membaca situasi, menggunakan topik sensitif untuk menyinggung integritas Sehun.

Maka tak heran, jika sekarang Kai menahan senyum diam-diam untuk itu. Namun tak lama ketika Hanbin mulai menatapnya dan berkata, “Bagaimana perkembangan Legendary?”

Itu topik yang membuat Kai sedikit sensitif, karena Hanbin yang memiliki Softbank. Perusahaan yang bergerak dalam bidang internet dan telekomunikasi, juga mempunyai 32 persen saham di perusahaan e-commerce asal Tiongkok, Alibaba. Dan baru-baru ini, Softbank juga menginvestasikan dana sebesar USD 250 juta di perusahaan entertainment, Legendary, yang memproduksi Godzilla dan Interstellar-milik keluarga Kai.

“Berjalan seperti apa yang Anda inginkan,” jawab Kai singkat. Mengundang lirikan Sehun yang tahu betul, perusahaan milik keluarga Kim tersebut hampir bangkrut apabila Hanbin tak berinvestasi. Hah, orang-orang bergaris keturunan Khaza memang selalu merepotkan. Sehun turut berduka untuk itu, karena nasibnya sebagai pewaris Lotte Group juga kandas di tangan Jo Khaza.

“Saya senang mendengarnya.” Hanbin berapresiasi dengan cara paling datar, kendati ada senyum kecil di sudut bibirnya. “Apa Anda tertarik, Tuan Oh?” Alihnya kemudian pada Sehun yang memiliki wajah tak kalah datar.

“Bergabunglah bersama kami,” Luhan yang kemudian meminta. “Anda bisa meninggalkan Lotte Group sebagai langkah awal. Sedikit berkorban untuk hasil yang jauh lebih besar; seorang investor menyukai hal seperti itu, bukan?” Ada sindiran halus yang Sehun tangkap soal pekerjaan sampingannya sebagai seorang pemain saham—di balik pekerjaan tetapnya sebagai manager pemasaran di Lotte Group tentunya. Yang menyebalkan di sini, Luhan sepertinya banyak tahu tentang Sehun. “Saya memilih Anda karena integritas dan profesionalitas yang Anda miliki. Kursi CEO yang akan Anda dapat, jika Anda bersedia. Bagaimana?”

 Bagaimana?"

Kai’s Apartment

Sehun memiliki sisi dewasa yang mengagumkan dalam hal pengendalian diri. Berulang dia menghirup udara yang berbaur dengan debu, kendati ketenangan terus menolaknya secara cuma-cuma. Dia membuang napas pun dengan cara baik-baik, tetapi amarah yang menyesakkan dada terus berontak, ingin bebas. Sehun benar-benar butuh pelampiasan, tetapi memejamkan mata dia pilih agar tak kalah telak oleh emosi yang membara.

“Mereka gila!” Kai yang justeru mengumpat. Botol Tequila pecah setelah menghantam dinding—emosinya sedang tersulut, terbakar di mana-mana. Tak menyangka kehadirannya cuma dijadikan bahan pancingan untuk menekan Sehun. Dengan bertanya perihal perkembangan perusahaan Kai sebagai mula-mula, Hanbin menegaskan; kekuasaanya bisa menghancurkan dan membangkitkan sebuah perusahaan dalam sekali waktu, jika Sehun berani menolak permintaan Luhan.

“Berapa? Berapa banyak perusahaan di luar sana yang beruntung mendapat uang investasi darimu?” Kai bertanya. Sehun hanya menatapnya, sebelum menyibak rambut ke belakang. Gerakan yang terbaca itu berarti banyak di mata Kai. “Kau tamat, Oh Sehun! Kau tamat. Semua uangmu akan hilang apabila menolak. Jabatan rendahmu juga akan dipertaruhkan.”

“Aku tahu,” jawab Sehun, pasrah. Lebih ke malas untuk membahas.

“Hanya itu? Hanya itu jawabanmu?”

“Aku bisa apa? Kau tahu, aku tidak mungkin meninggalkan perusahaan yang sudah susah payah kakekku bangun, Kai.” Sehun bertanya tenang, diikuti pernyataan yang berisi pengertian. “Aku bermain saham semata untuk mendapatkan penghasilan lebih. Aku membutuhkan banyak uang untuk merebut kembali harta keluargaku, tetapi …,” Ada embus napas berat dari pria bermarga Oh tersebut. “—sudahlah, akan kupikirkan lagi nanti.”

Amarah Kai pelan-pelan meredup, tak sanggup lagi menuntut. Sudah begitu banyak beban yang Kai tahu sedang Sehun pikul dan sembunyikan baik-baik, memberikannya lebih banyak tekanan tak akan membantu.

Sehun sudah rusak, jadi Kai tak perlu merusaknya lebih banyak. Pria santun yang cerdas, gambaran Si Pria Oh semasa SMU bahkan kini sudah hilang dimakan keserakahan. Orang-orang Khaza yang telah mengubah karakter Sehun menjadi liar, penuh tipu muslihat. Awalnya Sehun bahkan tak pernah tertarik berkencan, apalagi memermainkan wanita; namun tidak setelah keluarganya hancur. Sehun menggunakan pesonanya untuk menaklukan lawan main, lalu membuangnya setelah mendapat keuntungan.

Melihat Sehun yang sekarang, membuat Kai sakit dengan alasan yang sulit untuk dimengerti. Dia tidak rela jika keserakahan orang-orang kelas atas membuat sahabatnya semakin hancur. “Jangan sentuh Hanna, Hun. Jangan menggunakannya untuk bermain. Ini bukan lagi permainan investasi seperti apa yang biasa kau lakukan,” ujar Kai, berjaga-jaga.

Tidak. Tak pernah sekalipun Sehun berniat menjadikan Hanna salah satu mainannya. “Aku bahkan sudah jatuh cinta padanya, sebelum aku tahu; Hanna, seorang putri Jo Khaza. Kau tak perlu khawatir. Tak ada dendam yang akan melibatkan Hanna di sini. Aku mencintainya,” terang Sehun, teramat jujur.

Pria Malang—batin Kai mengasihi. “Kau mengorbankan cintamu untuk seorang gadis yang secara bisnis telah terikat.” Dia mengambil tempat di sofa tunggal, menatap Sehun lebih serius. “Baru-baru ini aku tahu, Hanbin dan Hanna …,” Kai menarik napas tamak, bingung harus menjelaskan dari mana. “Ibu Hanbin merupakan sepupu Jo Khaza, keluarga mereka begitu dekat. Adat istiadat bangsawan begitu melekat pada mereka; selebihnya, kau bisa menyimpulkan sendiri,” katanya, enggan menjelaskan secara gamblang.

Untuk urusan menggali informasi, Kai memang ahlinya. Tak ada yang perlu diragukan dari kemampuan pewaris perusahaan, yang bergerak di bidang entertainment tersebut. Maka ketika pria itu memulai sebuah gosip, tak ada keraguan yang pantas untuk menentangnya. Itu kebenaran. Sehun malah sudah tergugu, tubuhnya ikut kaku. Hidupnya jadi semakin rumit, sampai-sampai untuk bernapas saja rasanya sulit, sesak luar biasa yang justeru ada di dada. Ini gila—batin Sehun lalu mengumpat.

“Hanna dan Hanbin sudah dijodohkan sejak kecil? Begitu maksudmu?”

"Hanna dan Hanbin sudah dijodohkan sejak kecil? Begitu maksudmu?"

Dua hari bukan waktu yang cukup untuk melenyapkan trauma. Langkah Hanna tertatih di bawah terik, diseret keharusan yang melarangnya untuk terus lari. Karena rasa bersalah tidak akan lenyap dengan berdiam diri ataupun lari menghindar; masalah harus dihadapi dengan benar—begitu logikanya memberi komando. Ada tindakan yang harus diambil untuk memulai dan menyelesaikan, sekalipun tak akan membuat Hanna mati dalam keadaan tenang seperti yang diharapkan. Karena tindakannya malah jadi tak benar, apabila tega membiarkan Nami terus menerus cemas.

Cuma ada keraguan yang membuatnya gamang, lalu melemas di tempat. Pohon besar di depan asrama pun menjadi tempat untuk tangannya bertopang.

“Hanna?”

Hanna yang merasa terpanggil mengangkat wajah perlahan. Namun berujung kaku, mendapati seseorang yang menjadi objek kegelisahannya telah berdiri di jajaran anak tangga. Keduanya kemudian diam dalam waktu lama, menikmati berbagai macam perasaan yang kacau tak karuan. “Ke mana saja kau?” Gadis itu berujar dingin sambil menilik penampilan Hanna yang berantakan.

“N-nami—”

“Jawab pertanyaanku!” Nami membentak. Itu cukup untuk membuat Hanna menutup mata rapat. Tetapi Nami yang merasa belum cukup kemudian melangkah mendekat, kedua bahu Hanna lantas diremas sebagai tuntutan.

“Di mana otakmu? Kau ini bodoh atau apa? Menghilang begitu saja tanpa kabar.” Tubuh Hanna diguncang sekali, tetapi air mata Nami yang jatuh. Ada haru yang dirasa ketika mendapati sahabatnya kembali. “Apa tidak terpikir oleh otak pintarmu bagaimana khawatirnya aku?” katanya, terisak. Hanna lalu dipeluk erat. “Kau ke mana saja? Dasar Bodoh,” isaknya lagi. “Hanna bodoh.”

“N-nami ….” Hanna terluka; kembali teringat malam yang dilaluinya bersama Sehun. Bentuk pengkhianatan yang besar, pembalasan yang tak selaras dengan kasih sayang Nami kepadanya. Hanna semakin tertekan, rasa bersalah terus menamparnya secara berulang. Menghardiknya pula dengan tangisan Nami yang tenggelam di bahu, lalu memukul hatinya telak sampai membiru lewat erat pelukan itu. “Maafkan aku …,” Air mata Hanna jatuh diam-diam, suaranya tercekat di tenggorokan.

“Aku membencimu. Aku ingin membencimu saja,” racau Nami, pilu. Rasa sakit yang ada setiap kali teringat bagaimana cara Sehun memeluk Hanna, membuat Nami benar-benar tak berdaya. Dia di tempatkan pada posisi yang sulit, sehingga ada sisi egois yang membuatnya berontak. Jadi biarkan untuk sekali ini saja, Nami membenci Hanna sebagai sahabat yang telah berkhianat. Biarkan pula untuk sekali ini saja, Nami tetap menyayangi Hanna dengan tulus sebagai sahabatnya. Karena setiap waktu yang telah mereka lalui bersama, terlalu berharga untuk disebut sebuah kemunafikan.

“Aku memang salah, aku menyayangimu, Nami. Maafkan aku,” suara Hanna sengau, bicaranya pasrah, walaupun sesudahnya menangis perih. Tak bisa membayangkan, jika sisa hidupnya harus berakhir dengan kebencian Nami. Hanna tidak mau dan tak akan pernah bisa. “Maafkan aku ….”

“Aku tidak menerima permintaan maafmu,” tolak Nami, tetapi pelukannya semakin erat—menyiksa Hanna dengan cara paling halus.

"Aku tidak menerima permintaan maafmu," tolak Nami, tetapi pelukannya semakin erat—menyiksa Hanna dengan cara paling halus

Berulang kali Nami tekankan bahwa Hanna, hanya seorang gadis lugu yang enggan mengenal cinta. Namun cinta terdalamnya kepada Sehun, selalu saja memenangkan sisi egoisnya yang terluka. Fakta selalu mengatakan bahwa Hanna tak sebaik itu, lugu hanya topeng. Nami akan mengingatnya dengan baik, tak boleh ada lupa apalagi lengah.

Sekalipun hati kecilnya meronta setelah beberapa hari dilalui sesudah Hanna kembali; sikap Nami tetap saja tak bisa kembali semanis dulu, logikanya menolak keras. Malah acap kali ada batasan yang dia buat, membuat komunikasi pun jarang dan hanya seperlunya. Kendati berulang Nami menangkap tatapan kosong Hanna, namun tetap ada enggan yang membuatnya menaruh perhatian lebih. Cuma kadang dia memaksa Hanna untuk makan, manakala gadis itu malas mengisi perut.

Baru-baru ini Nami tahu, Hanna seringkali bolos di beberapa jam mata kuliah. Dia juga berhenti bekerja, tanpa mengatakan alasan apa pun kepadanya. Hanna juga lebih sering di kamar daripada membaca buku di tempat favoritnya, Widener Library. Gadis itu berubah jadi jauh lebih pendiam dari sebelumnya. Namun sekali lagi, Nami enggan untuk peduli.

Seperti saat ini, ketika Baekhyun datang mengajak mereka makan siang bersama; Hanna hanya diam mengikuti arus. Dia jadi serupa sampah yang pasrah diajak bermuara di sungai-tak memiliki kehidupan apalagi tujuan hidup. Nami pikir itu akibat pertengkaran dengan Sehun tempo hari, makanya dia tak mau peduli. Lagi pula, mereka menjalin hubungan diam-diam di belakangnya—jadi itu bukan urusan Nami. Dia sudah cukup sakit hati sejauh ini, terlebih harus berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan Hanna.

“Kau baik-baik saja, Hanna? Kalian seperti sedang berada dalam masalah.” Baekhyun sampai bertanya, curiga. Kediaman Hanna dan Nami membuatnya tahu ada yang tidak beres, sesuatu telah terjadi dengan tidak wajar—begitu pikirnya.

“Hanna sibuk memikirkan dirinya sendiri akhir-akhir ini,” jawab Nami, sedikit menyinggung. Hanna cuma bisa mengangkat wajah dan menatapnya sendu. Baekhyun pun tak buta untuk melihat, bibirnya kemudian menjungkit membentuk senyum.

“Kalian berdua membuatku mengingat masa-masa SMU,” kata Baekhyun. Anggapnya, cuma ada pertengkaran kecil di antara mereka berdua. “Aku dulu berteman baik dengan Sehun. Saking baiknya, tak ada hari tanpa pertengkaran kecil di antara kami.” Secangkir latte diaduk dengan lambat, tatapan Baekhyun lantas jatuh pada airnya yang berputar. “Itu karena Sehun merupakan orang yang kadang terlalu serius, berbanding terbalik dengan tabiatku. Dia selalu mengeluh, jika aku mulai mengganggunya. Kendati demikian, tak pernah sekalipun Sehun berniat pergi menghindariku.”

Baekhyun berhenti mengaduk sementara latte-nya tetap berputar menghipnotis, membuatnya tak sadar telah larut mengenang masa lalu. Matanya lantas sendu, berlapis ungkapan kehilangan. “Tetapi tidak lagi, setelah kami dipaksa untuk naik dan berdiri di atas panggung kehidupan. Puncaknya terjadi …,” Baekhyun menjilat bibir, mengingat dengan baik bagaimana luka mengajarkan Sehun untuk dewasa. “—puncaknya terjadi ketika Khaza Group memonopoli keuangan Lotte, perusahaan yang Kakek Sehun bangun dengan susah payah. Lalu …,” Baekhyun menghela napas berat.

“Lalu mereka menyerahkan kekuasaan dan tanggung jawab kepada keluarga Byun. Tak lama setelah itu; terhitung dua hari setelahnya, Kakek Sehun mengembuskan napas terakhir. Sejak saat itu, Sehun mulai belajar membenciku. Tak ada pertengkaran hangat lagi di antara kami. Sehun menjadi kaku dan dingin, sekalipun aku berusaha hangat untuk menyentuhnya. Itu sangat menyakitkan, percayalah. Jadi apa pun masalah kalian, tolong, coba selesaikan dengan baik.”

O-oppa ….” Nami kehilangan kata-kata. Itu cerita lama yang baru didengarnya. Fakta bahwa Sehun membenci keluarga Byun, membuatnya menolak dengan keras untuk percaya. Namun Nami tetap berakhir kecewa pada ketulusannya yang berbalas benci, manalagi ditambah ada hati yang patah dan bernanah. Dadanya pun sesak dalam seketika.

Jahat.

“A-apa Presiden Direktur Khaza Group langsung yang melakukannya? Yang mengambil alih perusahaan milik keluarga Sehun?” Hanna bertanya memastikan. Tangannya bergetar hebat di bawah meja. Dia takut sekali untuk mendengar, apabila benar ayahnya yang terlibat.

“Hm, Jo Khaza yang turun tangan langsung ketika itu.”

Hanna, luruh.

Mega merona jingga

Mega merona jingga. Burung-burung pulang menepi. Angin mulai bertiup sejuk, bersemilir lembut menyentuh kulit. Sore tiba tepat waktu, tetapi Hanna telat menyadari. Dia tidak tahu bagaimana cara menikmati suasana petang yang puitis. Hanna cuma tahu, masa depannya yang telah direnggut paksa adalah buah dari kebengisan Jo Khaza, ayahnya sendiri. Dia jadi merasa serupa bayaran atas masa depan Sehun yang hancur di tangan keluarganya. Benar-benar harga sepadan yang menyepakati bentuk keadilan. Tak ada lagi hak untuk Hanna marah, Sehun telah lebih dulu terluka.

Air mata bahkan sudah enggan menjadi ungkapan kepedihannya. Hanna sudah terlalu hancur untuk merasakan bagaimana sakitnya menangis. Cara hidup yang baik pun Hanna lupa. Rambutnya yang hitam cuma dicepol asal. Helainya jatuh berantakan pun Hanna tak peduli. Dia duduk termenung di sudut perpustakaan, tetapi ketertarikannya pada buku sudah hilang; minat membacanya sudah pergi. Dia cuma duduk, lalu pergi ketika mulai bosan.

Seperti sekarang ini, Hanna sudah berdiri, beranjak menuju rak. Menenteng buku yang sempat diambilnya asal ketika menuju kemari. Kepalanya sudah pusing, tak sanggup lagi untuk lebih banyak melamun. Tetapi …

“Belum lama ini, salah satu petinggi Khaza juga meminta Sehun untuk hengkang dari Lotte Group. Itu membuat kami terancam kehilangan seseorang yang memiliki pengaruh cukup besar di perusahaan.”

—Hanna terdiam, menghadap rak. Teringat kembali perbincangan dengan Baekhyun tempo hari membuatnya tanpa sadar meremas buku, marah.

“Mereka sama sekali tidak memikirkan latar belakang Sehun yang merupakan cucu pendiri Lotte Group. Tekanan mental yang luar biasa juga sengaja dibentuk untuk menghancurkan dan membuat Sehun bertekuk lutut. Dalam hal ini, Khaza Lu yang turun tangan.”

Mata Hanna lantas redup. Buku di tangan jatuh lemah, tubuhnya nyaris berakhir sama jika saja tak segera membanting sebelah bahu ke rak. Bibir mungilnya lantas bergetar, “Luhan …,” memanggil satu nama. Ayah mengajarkanmu cara menghancurkan seseorang dengan sangat baik-batinnya pilu.

Sehun.

Dia korban paling menyedihkan dalam kisah ini, sementara Hanna hanya kotor dan hina. Hanna bahkan tidak tahu bagaimana harus mengambil sikap yang adil untuk hatinya, sesudah tahu, keluarganya telah banyak mengambil kebahagiaan orang lain. Berdiri dengan baik pun rasanya Hanna tak mampu lagi, apalagi bahunya cukup sakit setelah menghantam rak buku. Dia cuma bisa berbalik dengan tertatih sambil memegang bahu kiri.

Niatnya langsung berjalan, tetapi berakhir luruh perlahan. Hanna tak sanggup lagi. Orbs madunya berselimut kabut ketika tak sengaja menangkap bayang-bayang pria di samping rak kaca. Hanna cuma terpaku, berdiri kaku di tempat; seolah dengan diam akan membuatnya dihampiri dan dimengerti.

Pasrah yang ada. Hanna sudah terlanjur putus asa dengan hidup dan mimpi-mimpinya; tetapi pria itu benar-benar datang dan membuat jantungnya kembali berdetak dengan begitu hidup. Maka untuk pertama kalinya, Hanna menyukai cara jantungnya berdebar. Dia tak bisa lagi berdusta untuk itu, apalagi mengelak lebih banyak.

Sehun.

Ingin sekali Hanna memanggilnya, tetapi itu tak perlu ketika Sehun berhenti tepat di depan mata. Raga yang merindu pun berharap sebuah peluk, namun yang ada wajah Hanna cuma ditatap dalam waktu lama dan seksama.

“Lama tak bertemu,” kata Sehun, menyapa dengan canggung. Namun berakhir manis, ketika sore di perpustakaan yang menjadi latar. Hanna jadi lupa bagaimana cara membenci pria ini. Yang ada malah selaput bening menumpuk di mata, seolah mengadu dalam diam kepada pria itu—tentang rasa bersalah dan rindu yang tak berbalas temu selama satu bulan terakhir.

Namun rahangnya kemudian diraih seakan dimengerti; Sehun menatap matanya lebih dalam, seolah mengusir luka yang ada di sana. Sebelum bertanya, “Apa kabar, Mm?” Suaranya lembut sekali, air mata Hanna sampai jatuh. Sehun lantas tersenyum, lega. Dia tahu bagaimana cara menghapus air mata di pipi seorang wanita dengan baik. Tubuh Hanna kemudian dipeluk, rindunya terlalu parah untuk terus ditahan tanpa melakukan apa pun.

Kau ke mana saja? Batin Hanna mencecar.

“Aku tidak lari. Aku hanya sedikit sibuk akhir-akhir ini.” Sehun menjawab seakan mendengar dan mengerti. Karena selama tak bertemu, bukan berarti pula ia tak mengawasi. Sehun tahu, Hanna sudah tahu semuanya; tentang perlakuan Jo Khaza dan Luhan kepada keluarga besar Oh—mengenai hal itu, orang-orang bayaran Sehun sendiri yang memberitahu. Sehun juga tahu, Hanna tidak baik-baik saja setelahnya. Dia sudah memerhatikan gadis itu sejak tadi siang, cuma, tak kunjung menemukan waktu yang tepat untuk menghampiri.

“Kau sudah tahu siapa aku?” Hanna bertanya, suaranya sengau. Sehun cuma diam, mengelus punggungnya pelan. “Itu alasanmu mendekatiku?”

“Bukan.” Kali ini, Sehun menjawab.

“Kalau begitu, pergi …,” Hanna menarik napas tamak. “Pergi saja! Pergi yang jauh. Jangan kembali,” racaunya, mengusir. Pelukan yang semakin erat adalah balasan, tetapi Hanna menolak dan mendorong. Dagunya terangkat ketika jarak ada; wajah Sehun kemudian ditatap dengan sayu.

“Lindungi dirimu, Oh Sehun. Keturunan Khaza hanya akan menghancurkanmu lebih banyak.” Hanna mengingatkan, seakan tak sanggup untuk lebih banyak menanggung balasan dan rasa bersalah akibat dosa-dosa yang dibuat keluarganya.

Yang disayangkan, Sehun tak mau mengerti. “Selagi itu tak berarti membunuhku, maka meninggalkanmu bukan tindakan yang akan aku ambil.”

Tidak. Hanna menggeleng. Dia tidak suka mendengar jawaban Sehun apa pun alasannya. Jika Luhan sampai tahu, Sehun akan tetap dipaksa pergi meninggalkannya. Cara Luhan meminta juga akan berbeda dengan caranya meminta, seharusnya Sehun paham, Hanna tidak ingin itu terjadi. Perasaannya juga akan semakin dalam apabila tak segera diakhiri, lalu rasa sakit akan membunuhnya suatu saat nanti.

“Aku hanya tidak ingin melihatmu lagi. Apa sulit untukmu mengerti?” Mata Hanna terlalu sendu saat bicara. Hati kecilnya diam, menyembunyikan rasa. Sehun tak bodoh untuk tahu bagaimana rumitnya perasaan wanita. Ada kala sedikit kalimat yang mereka ucapkan, berarti banyak dan ingin dipahami. “Urus saja hidupmu. Menjauh dariku. Aku tidak membutuhkan apa pun darimu.”

Kata-kata itu terlalu kasar, tetapi Sehun tetap defensif. Dia tak bereaksi seperti tak memiliki harga diri. Hanna yang melangkah mundur pun dibiarkan, seakan hatinya baik-baik saja melihat gadis itu kacau.

“Maaf, aku tidak bisa,” ujar Sehun kemudian.

Kalau begitu, Hanna yang akan menjauh dan pergi. “Aku tidak peduli, aku tetap tidak ingin melihatmu. Jangan temui aku lagi!”

.
.
.

To be Continued

.
.
.

Comment sangat diharapkan. Aku ngerasa idup kalau ngeliat kalian ada *gaboong
Terima kasih udah baca dan hadir^^

Omong-omong chapter 5 udah di up di wattpad SehunBee  ya

 Aku ngerasa idup kalau ngeliat kalian ada *gaboongTerima kasih udah baca dan hadir^^

Widener Library

Widener Library

Regards,

SehunBee

Advertisements

545 comments

  1. oh god hanna orkay .-. knapa pula sehun nikah sama nami?? knapa juga sehun tega banget kek gitu??! ahelaah kesian amat hanna T_T gregetan gue suwer author nya duuuh gue harus bilang apa klo udah greget ampe ubun2 gini T_T

    Like

  2. sumpah…. ya greget sehun nikah sama nami… buka hanna… aku pikir kalau pun sehun cinta sama hanna harusnya dia ada pengorbanan buat hanna… buat bisa bersatu sama hanna… ihh greger banget aahhh

    Liked by 1 person

  3. disatu sisi sebenernya ada rasa iba lihat si nami.tapi kalo inget kata2 baek jadi agak sebel juga wkwk yehettt si mas seno udah nemuin hanna hoho, apa kabar mas kalo tau hanna hamil huh??? berjuang sendirian tanpa suamiii. dasar kamvrettttttt,, tapi sumpah eon, gregetan sama si hanna. dia terlalu mikirin orang lain -_- astagaaa

    Like

  4. Temukan Hanna…..!!!
    Minta maaf sonoh sambil sujud di kaki Hanna!!
    Nami kasian ya, dia nggak tau kalo yang bikin Hanna ngilang ya suami kebanggaannya itu. Sabar’-‘ Eh disini ceritanya Baekhyun & Luhan masih ngarepin Hanna ya kak? Ah liat aja nanti 😀

    Keep writing ^^

    Like

  5. what??sehun jadi nikahnya ama nami.nggak ada drama2 pembatalan pernikahan karena apa gitu? entah kenapa jadi nggak excited lagi ama nami. wah ddaebak.alur ceritanya nggak bisa ditebak.kereeennnn

    Like

  6. Ga tau perasaan nami kalau ntar dia tau kelakuan sehun -_-
    .
    .
    Kak!!! Maaf banget, aku ga tau komentar chap 2 sama 3 ke post engga.
    Soalnya setiap mau komentar operanya error
    Ini aja ga tau bakalan ke post engga -_-
    Nih hape nyebelin banget kak

    Like

  7. Kyaaaaaa ya ampun kasian bgt si hana. Q kira hana dtg. Eh brarti hana udh melahirkan. Bnr gk? Soalnya kpn itu ada 8 bln kan? Ah dwaseo. Yg kasian ada 2 cwek2 jga. Kan kasian jd liatnya. Cwoknya mrasa gk berslh bgt deh

    Like

  8. Baek ama Nami udah tau siapa Hanna sebenarnya.Khaza Hanna..
    Sehun terlalu egois karena tetap menikah sama Nami meski hatinya tetap untuk Hanna. Kan kasihan Nami.Pengorbanan Hanna sia2 kalau begitu.

    Kai,belum pernah tau merasakan amarah orang yang lagi depresi apa??hehehe
    Hanna kenapa tidak ngasih tau Yura kalau Sehun bapaknya si dedek bayi??

    Hun,sonoh cepet samperin Hanna.

    Like

  9. Sehun menikah dengan Nami ???
    nggak tega banget liat keadaan Hanna yang sedang hamil dan harus menerima kenyataan pahit seperti ituu
    kenapa tiba2 aku jadi kesel yaa ke Nami ><

    Like

  10. Sehun dan hanna ketemu ?? Yes yuhuuuu …

    Bgmna nanti klu nami tau yah hanna lagi hamil ?? Yah walaupun aku udah tau bgmna, hanya saja pasti kaget nami .. Tapi nami aku harap kau mengerti alasan hanna lakuin itu .. Bukan hanna jahat 😦

    Cemangat saeng ^^

    Like

  11. Hai kak 🙂
    Aku nunggu ambition sm teh violinist lama bgtttt jd drpd bete aku lanjut baca ini hihi
    Dulu aku baca ff ini klo gak salah baru smpe chapter 3, wktu itu aku lgsg baca regret hehe
    Dan ini apa? Trnyata konflik nya udh mulai keliatan. Kynya aku telat deh baca ini udh dr kapan 😀 tapi gppa yaa aku ijin baca next nya^^
    Fighting kak bee :*

    Like

  12. Vlis!Kok sehun sama nami nikah !?T^T trus,hanna gimana!!Huwwaaaaa,,,Bimbang!!
    Hanna sini aku peluk!!yg tabah ya hanna~

    Like

  13. ya ampun rasanya kok rumita banget ya hubungan mereka,,,aku kok jadi merasa sehun juga kasihan, gara” keluarga hanna,,sehun jadi seperti itu…
    tp kok chap 5 di publish di wattpad,,,aky jadi gak bisa baca dehh, wattpad ku masih gak bisa di buka … tp aku nunggu kak bee up di sini aja, gak papa kok..

    Liked by 1 person

    1. Maksudnya di wattpad aku udah up sampe chapter 5, kalau di sini lama gapapa ya… soalnya kalau di wordpress ga bisa update pake andro, harus via komputer 😊

      Makasih loh buat kesetiaannya^^

      Regards,

      SehunBee

      Like

  14. Ya ampun thor aku ska bgt sama ff kamu yg stu ini. Krna aku jga prnah nglamin yg kya gni. Dmna shbat aku ngekhianatin aku thor. Tpi anehnya aku dsni g trlalu suka sma Nami gtau knapa ya. Dia kyak yg egois2 gmana gitu thor. Tpi gapapa lahya namanya juga ff. Fiksi kan yaa. Smngat trus thorrr😍😍😍neverending love buat author yg udh bkin ff inii

    Liked by 1 person

  15. Nyesek…. Sehun kuat banget ngadepinnya. Kekuatan cinta ya, Bang? Aku suka sifat pantang menyerahmu bang Hun. Walau banyak rintangan yang harus dihadapi tp kau tak menyerah. Tetap teguh dengan pendirianmu yg tak tergoyahkan oleh apapun. Terus bakar api semangatmu tuk gapai keinginan dan meraih puncak tertinggi (kok kayak orang pidato ya??) hehehe #Lol

    Liked by 1 person

  16. kasian nami. dia pst ngerasa ‘kehilangan’ sahabat sekaligus org yg dia cintai. tpi itu kykny dia ga tau deh kalo hanna itu keturunan khaza. dan hanna dia jd ga marah lg ke sehun krn tau gmn perlakuan keluarganya ke sehun.

    Liked by 1 person

  17. Sumpah baver bgt,ketika sehun hanna ketemu lagi ,hanna tau klo sehun kya gini karna keluarga nya,sumpah thor bver bgt pas bagian ini,lagi2 permainan takdir

    Like

  18. Eh yaampun kak, sumpah ini seneng banget rendezvous update. Ini dari jaman kapan tau aku nunggu di up, akhirnya di up juga hahahahaha.
    DAN AKU SEMAKIN SUKA SAMA FF INI😭

    Like

  19. Konflik mulai terlihat kyaaa! beneran dah aku suka banget sama sikp yang diambil hana buat nge hadapin semua itu , walaupun lari dari kenyataan sehun, dia berusaha mempertahankan harga dirinya dan jadi cewek kuat yang berhasil nyembunyiin perasaan walaupun itu sakit ! keren thor semangat ! makasih ngebolehin aku baca walaupun ini postingan bulan lalu , maklumin yah , aku newbie dari dunia blog dan aku udh lama gk baca fanfict , udah hiatus 3 tahunan *ehhkokcurhat -_- maaf thor , smangat ya nulisnya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s