Rendezvous [Chapter 3]

Sehun’Bee

 Story Re-make from My Fate

.♥.

Oh Sehun – Khaza Hanna – Byun Nami

Kai – Baekhyun – Hanbin

.♥.

Romance – Drama -Marriage Life – Hurt – Family – Friendship – Adult

PG -17

Multi-Chaptered

Disclaimer: SehunBee©2014

Prev:

Summary – The Plot  [1] Dark Romance [A] Dark Romance [B]

.♣.

Sepi tak bertepi, sekosong kabut yang tak disambut pagi. Lara tak kunjung patah, rasa bersalah itu ada akibat kebodohan cinta.
SehunBee-

.

Broken [NOW]

Hari baru menunjukkan pukul 3 pagi, tak ada yang bisa Sehun ajak bicara selain lampu di ruang makan

Hari baru menunjukkan pukul 3 pagi, tak ada yang bisa Sehun ajak bicara selain lampu di ruang makan. Dia dikelilingi perasaan serupa kehilangan, yang coba dia cari dan temukan. Lalu nasehat tempo dulu mengajaknya bicara; membawa Sehun pada masa sebelum mengenal cinta.

“Setiap orang memiliki waktu yang sama, 24 jam dalam satu hari. Menggunakan waktu dengan bijak menjadi tuntutan setiap orang, tak peduli kalangan. Boleh saja berlaku masa bodoh, tetapi orang-orang sebayamu akan berada jauh di depan karena semangat menghargai waktu mereka.” Begitulah Kakek Sehun memulai percakapan saat Sehun duduk di tingkat akhir bangku SMU.

“Aku adalah kebanggaanmu. Jangan khawatirkan apa pun, Kek.” Sehun masih terlalu polos untuk mengerti bagaimana bumi berputar, menjungkirbalikkan dunia dengan pelantara harta.

“Ada yang perlu kau ingat dari cara seseorang lupa dan melupakan, yaitu kehadiran orang-orang yang akan membuatmu jatuh dan terluka. Lalu kau akan berusaha bangkit dengan keras, padahal sebelumnya kau sempat lupa setiap saat bisa saja jatuh.” Kakek Sehun tersenyum, tak peduli selang di hidung sedang membantunya bernapas. “Kau mengerti apa yang kumaksud, Sehun?”

Tidak. Saat itu Sehun masih belum mengerti apa pun sampai tiba pada saat ayahnya memanggil; mengajaknya untuk segera bergegas pergi menghadiri inaugurasi perusahaan. Dia cuma bisa tersenyum tanggung, sebelum meninggalkan kakeknya di kamar rumah sakit. Langkah kaki itu perlahan membawanya menyaksikan sendiri bagaimana para petinggi perusahaan bermain. Tepat, di sebuah ballroom mewah; berhias lampu terang, yang cahayanya begitu apik menyakiti mata dengan kemilau.

 Tepat, di sebuah ballroom mewah; berhias lampu terang, yang cahayanya begitu apik menyakiti mata dengan kemilau

“Maafkan Appa ….” Sebuah permintaan maaf mengalun pasrah. Sehun menatap ayahnya yang perlahan menunduk dalam duduk; menjadikan gelas wine di meja sebagai teman berkaca. Dia seperti dipenuhi dengan banyak pikiran, yang tidak bisa Sehun baca seperti halaman di buku. Ada yang tidak beres—batinnya curiga. Lalu, pembawa acara mulai naik dan bermonolog.

Sehun tahu perusahaan yang dibangun kakeknya mengadakan Pelantikan Jabatan. Itu alasan mengapa para petinggi berkumpul. Sehun juga tahu keputusan sudah dibuat, di mana nama ayahnya maju sebagai Presiden Direktur—menggantikan kakeknya. Bukannya malah serah terima kepemilikan saham, yang mengatakan bahwa sebagian besar saham mereka kini milik Jo Khaza. Lebih buruk dari itu, Si Pembawa Mikrofon juga mengatakan, Jo Khaza telah menunjuk Byun Hojun sebagai Komisaris Perusahaan yang baru.

“Apa-apaan ini?” Sehun seketika berdiri. Tak peduli, kendati telah mengundang perhatian.

“Tenang, Nak—”

“Apa maksud semua ini, Appa?” sela Sehun, cepat. Tak segan pula menyingkirkan tangan ayahnya di bahu.

“Maaf, tak memberitahumu dari awal—”

“Dengan ini, Tuan Byun Baekhyun sebagai putra tertua Tuan Byun Hojun resmi menjadi ahli waris Komisaris Lotte Group.

Pembawa acara tetap berbicara. Tepuk tangan pun menggema. Ayah Sehun kehilangan kata-kata dan Sehun kehilangan sebagian besar mimpinya. Harga diri mereka jatuh di saat yang sama, tetapi Jo Khaza datang menghampiri. Tersenyum ramah dan merunduk. Itu membuat Sehun merasa seperti kotoran yang Jo Khaza pungut untuk dibuang ke tempat sampah.

“Jadi, ini putramu, Thom?” katanya, menyapa. “Tampan sekali. Sayang, putriku tak ikut serta,” sambung Jo, seperti sebuah hinaan di mata Sehun yang sedang terluka. Pria itu bersikap seolah mengambil alih perusahaan bukan hal besar untuk dipermasalahkan, apalagi dijadikan topik pembicaraan.

Namun sampai tahun-tahun berlalu, cuma hela napas panjang yang bisa mendemonstrasikan perasaan Sehun yang terluka. Ruang makan tempatnya termenung pun tiba-tiba terasa pengap akibat diisi kenangan masa lalu. Cuma ada pemikiran bodoh sesudahnya, tentang Jo Khaza; apa masih akan mengatakan hal yang sama, jika tahu dia baru saja selesai bercinta dengan putrinya? Tangis kecil Hanna bahkan masih terdengar pilu dari sudut kamarnya.

Kamar? Akan menjadi topik sensitif apabila membahas soal kamar, karena boleh dikatakan, Sehun gila oleh sebab tak cepat merasa puas. Sofa di ruang tamu cuma jadi pembuka tangis penuh luka gadis itu, sebelum ranjang di kamarnya ikut menderit prihatin. Mengasihi Hanna dengan suara mendecit yang aneh, di mana Sehun sebagai penggerak tunggal yang tak kenal lelah.

Sekarang saja masih bertelanjang dada dengan bawahan jins hitam—yang diambil asal dari lemari. Dia kemudian bangkit dari duduk, membawa segelas air putih di tangan kanan. Berjalan ringan menuju kamarnya, di mana ada Hanna yang tak berharap dia kembali.

 Berjalan ringan menuju kamarnya, di mana ada Hanna yang tak berharap dia kembali

Khawatir mulai manja dan melekat serupa lumut di kayu basah. Itu karena tak ada kejelasan ke mana Hanna pergi setelah semalaman menunggunya pulang ke kamar. Nami mulai bimbang lantaran harus memilih kelas pagi atau mencarinya yang entah di mana. Bias-bias cahaya yang terpantul di kaca, kemudian, membawa satu garis cerah; Nami ingat Gehna yang bekerja di tempat yang sama dengan Hanna.

Tanpa pikir panjang, jalan tergesa menuju kamar Gehna pun menjadi pilihan alternatif. Sesegera mungkin mengetuk pintu kamarnya kencang ketika sampai, tak peduli napas masih terengah setelah melewati satu lantai anak tangga.

“Iya, ada apa?”

Itu bukan Gehna. Nami sampai kehilangan kata untuk beberapa saat, sebelum bertanya, “Mm, G-Gehnanya ada?”

“Oh, kau mencari Gehna. Sayang sekali, dia belum pulang sejak semalam.” Gadis berambut pirang itu menjawab ringan, lalu menutup pintu. Masih terlalu pagi untuknya bangun, dia ingin kembali melanjutkan tidur.

“Tidak pulang, ya?” Nami bermonolog. Khawatirnya berangsur mereda. Pikiran positif pun menang. Dia bisa pergi ke kelas pagi dan belajar dengan tenang. Hanna tak pulang, temannya juga tak pulang, Nami rasa mereka bersama-sama memutuskan untuk tidak pulang menerjang hujan semalam.

Seharusnya memang seperti itu, maka semua akan baik-baik saja. Namun sayangnya tidak benar-benar baik, sampai Nami berpapasan dengan Gehna di jalan menuju kampusnya. Dia bahkan sontak menyapa—lebih tepatnya, menghentikan Gehna di tengah jalan.

“Hanna di mana?” tanya Nami, tanpa etika basa-basi.

Gehna pun bingung dibuatnya. “Memangnya Hanna ada kelas di fakultas bisnis?”

“B-bukan itu maksudku. Semalam Hanna tidak pulang, bukannya kalian bersama? Kau juga tidak pulang, ‘kan? Teman sekamarmu yang memberitahuku.” jelas Nami, membuat lawan bicaranya mengerutkan alis.

“Bukannya Hanna pulang awal, Nami?” tanya Gehna, membuat Nami ikut tak paham alur pembicaraan mereka.

“Apa maksudmu dengan pulang awal?” Nami meminta penjelasan.

“Kemarin sore istri manager kami mengalami kecelakaan, tetapi manager meninggalkan dompetnya di meja saat pergi ke rumah sakit, jadi Hanna pergi untuk mengantarkannya. Setelah itu, Hanna tidak kembali lagi ke tempat kerja. Jadi kupikir, dia pulang awal karena kehujanan,” jelas Gehna, kemudian.

“Tidak. Hanna sama sekali tidak pulang semalam.” Nami menggeleng.

“B-benarkah?” Gehna pun tergugu. Ada khawatir yang mendadak menyelip. Gadis berambut emas itu sontak menggigit bibir.

“Lalu, bagaimana denganmu? Kau juga tidak pulang, bukan? Kau yakin, Hanna tidak kembali ke tempat kerja?” Nami memastikan sekali lagi, berusaha untuk tidak panik.

“I-iya, aku berangkat kuliah dari tempat ke—”

“Tidak.” Nami tak lagi memiliki kesabaran untuk mendengarkan lebih banyak. “Pasti telah terjadi sesuatu padanya.” Dia melenggang pergi begitu saja. Berlari tanpa arah yang pasti, menuju fakultas tempat Hanna menuntut ilmu. Bertanya cemas kepada siapa saja yang ditemuinya di sana. Siapa tahu Hanna melakukan hal yang sama dengan teman kerjanya itu; langsung berangkat kuliah tanpa pulang terlebih dahulu.

Hanya saja sampai napas Nami terdengar satu-satu, Hanna tak juga ditemukan di penjuru mana pun. Haluan kakinya lantas berbalik menuju halte. Kata hatinya bilang untuk coba mencari ke restoran tempat sahabatnya itu bekerja. Gehna juga rupanya tak tinggal diam. Gadis itu ikut mencari dan pergi ke rumah sakit tempat istri managernya di rawat.

 Gadis itu ikut mencari dan pergi ke rumah sakit tempat istri managernya di rawat

Embun pagi mengelak telah membuat dandelion basah

Embun pagi mengelak telah membuat dandelion basah. Hujan semalam yang membuat bunga kecil itu tak bisa terbang bersama angin. Semalam mereka memang turun dengan deras dan membuat suara gemericik yang bising; seakan sengaja ada untuk menyamarkan teriakan memohon seorang gadis yang malang.

Lain lagi di pengujung pagi ini, di mana ada sunyi yang meraja di penjuru ruang bersama jam yang mendenting lambat di dinding. Jadi sulit untuk membedakan, antara sayup-sayup burung yang menggigil kedinginan dengan gertak gigi yang merana. Tetes bekas air hujan di luar bahkan terdengar lebih berisik dari inti jantung Hanna, karena di dalam sana, jauh lebih hampa dari ruang yang disinggahinya.

Namun seakan terbiasa memandang langit biru dengan keterpurukan, air mata Hanna kering dan membekas. Itu membuat pipinya kaku tanpa mimik, tetapi dia lebih memilih duduk membeku di lantai yang dingin. Tubuhnya dibalut selimut tebal dengan kaki menekuk, dia bersandar pada sisi tempat tidur tanpa berniat kembali duduk di atasnya. Terang saja, itu membuat Hanna merasa hina karena malam yang dilaluinya di atas sana saja sudah cukup buruk.

Tetapi entah mengapa, waktu seakan lugu membiarkan semuanya terjadi dan terulang-ulang dalam ingatan. Jahat sekali, bukan? Rasa sakit dan sesak tak bertuan pun pada akhirnya lahir dan melahirkan kecewa besar tak berujung, lalu air mata kembali menggenang di kelopak mata Hanna yang sayu. Gadis itu jadi serupa manusia lemah yang diolok oleh rasa hina, di mana gertak gigi menjadi satu-satunya bentuk perlawanan yang dia punya.

“Berhenti!” Mulut mungil Hanna meracau, pilu. Ingatan menjijikan tentang utopis cinta Sehun semalam terus berulang dan membuatnya malu. Dia telah kehilangan kehormatan, tetapi mulutnya sempat mendesah pasrah. Kendati hanya tiga kali membuat suara berkhianat, senyum kemenangan Sehun tetap ada dan membuatnya frustasi.

Kemudian, Hanna lebih memilih membisu setelah Sehun pergi pukul 3 pagi tadi; lalu, menepis tangan pria itu ketika kembali. Dia secara tegas menolak niat baiknya yang membawa segelas air untuk tenggorokan yang kering. Lantai pun tak pelak menjadi tumpahan amarah Hanna, tak peduli walaupun gelasnya pecah dan menjadi tajam.

 Lantai pun tak pelak menjadi tumpahan amarah Hanna, tak peduli walaupun gelasnya pecah dan menjadi tajam

Cuma ada tatapan nanar. Hati Hanna pecah dan hancur seperti itu—mungkin lebih parah. Bahkan jika dicoba untuk dipungut dan disusun kembali, tangannya akan kotor dan terluka. Siapa peduli? Peduli selalu ingkar janji. Tubuh Hanna bahkan jauh lebih kotor dari lantai yang diinjak-injak. Itu menyakitkan dan membuat luka menganga yang menjijikan. Diperparah dengan olokan menyedihkan tentang persahabatannya yang belah, di mana satu sisi menyudutkan Hanna sampai sesak.

Mianhae ….” katanya, lara—untuk Nami sebagai satu-satunya wanita yang mencintai Sehun sampai ke ubun-ubun. Bukan salah Hanna—memang, tetapi rasa bersalah itu ada untuk mencekalnya sampai dia merasa jauh lebih hina dari pelacur.

 Bukan salah Hanna—memang, tetapi rasa bersalah itu ada untuk mencekalnya sampai dia merasa jauh lebih hina dari pelacur

Cinta adalah kebohongan yang puitis. Setiap baitnya membuat terlena. Syairnya melahirkan harapan-harapan utopis tentang pertemuan sepasang manusia yang tak pernah segaris. Lalu kesalahan manis pun dibuat ketika garis mulai bersinggungan, sehingga ada enggan untuk mengaku salah apalagi memohon untuk sebuah kata maaf. Itu jelas merusak.

Apa pun alasannya, tak ada pembenaran yang sudi membela. Sehun tahu itu. Lantas selayaknya pecundang yang tak berani bermain kata, bisu pun dipilih alih-alih menenangkan Hanna yang menangis semalaman. Lalu meninggalkan dan membiarkan gadis itu memiliki waktu sendiri, menjadi pilihan lain saat subuh menyapa. Sehun lebih baik keluar tanpa pamit, guna mencari sesuatu yang Hanna butuhkan.

Kemudian banyak angka yang dilewati jarum jam di tangannya, itu berarti banyak pula waktu yang Sehun habiskan di luar. Dia yakin detiknya berjalan lambat, tetapi dua jarum di tangannya sudah membentuk senyum—yang berarti, pukul 10 lebih 10—Sehun harus segera kembali. Tak peduli walaupun hatinya belum dalam keadaan baik.

Sehun cuma butuh sebuah rasa yang disebut tenang sesudah berada di dalam apartemen. Namun yang ada tetap teriring detak, debar yang tak tentu; langkahnya berakhir kaku tanpa senyum yang getir. Gagang pintu kamar kemudian berhasil diraih, jantung pun semakin gila bergemuruh. Semua semakin kacau ketika melihat wanitanya duduk membelakangi pintu dan menghadap jendela. Tak sejengkal pun beranjak dari terakhir kali Sehun meninggalkannya di sana. Rasa sakit pun sontak memburu, menikamnya dengan rasa bersalah.

Lalu langkah masuk diambil, yang pastinya bisa didengar dengan baik oleh Hanna. Bahkan ketika Sehun tiba dan mengambil tempat untuk berlutut di depannya; mata bulat itu sudah berkilat marah dengan sempurna. Namun seperti sebelumnya, kebencian yang Hanna berikan tersebut akan Sehun terima dengan lapang. Baginya tak ada alasan yang pantas untuk menolak, apalagi jika melihat bekas luka lilitan ikat pinggang di tangan Hanna.

Karena di sana, ada luka membiru dan lecet yang parah; menggores panjang dengan sisa darah yang kering. Sehun cuma bisa memejamkan mata sesudah melihatnya, yang kemudian diikuti tarikan napas dalam yang terasa sesak dan sakit. Tangan Sehun lalu terangkat dan bergerak pelan. Dia ingin meraih dan menyentuh jemari Hanna, namun sayangnya segera ditolak tanpa diberi kesempatan. Gadis itu menyimpan kedua tangannya di depan dada; bertindak, seolah Sehun bisa membuat lukanya semakin parah.

“Biar kuobati lukamu,” pinta Sehun, lembut sekali. Tak hanya berarti secara harfiah, tetapi juga bertuju pada luka yang Sehun buat di hati gadis itu. Dengan tidak menyerah, tangan pun coba untuk menjulur lagi; kali ini, meraih pipi Hanna yang memiliki bekas air mata. Namun gadis itu kembali menolak untuk Sehun sentuh lebih jauh, wajah cantik tersebut sontak berpaling tak sudi.

“Keluar!” Dingin terucap, Hanna kemudian mengusir dengan tegas. Sehun mengalah dan menarik tangannya kembali.

Gwaenchana. Kau boleh marah sesukamu. Aku tahu, di mana letak kesalahanku.” Suara husky yang rendah, sepadu padan dengan wajah menawan Sehun yang mengalah dan jatuh menunduk. Hanna yang enggan menatapnya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan seberapa buruk tabiatnya. “Aku mengerti ….”

Ada sakit yang Sehun sembunyikan. Jika bukan karena status keluarga mereka, semua akan mudah. Hanna tak akan terluka dan Sehun tak akan segila ini. Dia bahkan masih berlutut, ketika tangannya urung menyerah dan kembali terulur—mengambil jemari gadis itu untuk digenggam.

“Hanna …,” lalu Sehun memanggilnya dengan suara rendah yang paling Hanna benci. Itu terlalu lembut untuk didengar dan dipahami oleh perasaan seorang wanita yang terluka. Hanna jadi enggan mendengar lebih jauh, pun dengan Sehun yang urung mengatakan cinta. Pria itu menunduk lagi. Aku mencintaimu—ungkapnya dalam batin yang lemah. Sehun tahu Hanna tidak akan mau mendengar.

“Benahi dirimu, pakai bajumu; setelah itu, kita obati lukamu.” Cuma itu yang bisa Sehun katakan sambil menarik goodie bag yang dia bawa dan letakan di lantai. Lalu bangkit, namun berakhir urung untuk segera pergi. Sehun malah merunduk, merendahkan bahu hati-hati; menyentuh Hanna di kening dengan lembut dan lembab bibirnya. Baru setelah itu benar-benar pergi; meninggalkan Hanna yang dibuat kaku oleh sebuah rasa dan pikiran yang kosong.

Saat suara pintu berdentum, soket mata Hanna baru bisa bergulir; menatap apa yang Sehun bawa. Lalu mengumpat pada jantungnya yang masih bereaksi berlebihan pada bekas lembab di kening; Hanna mengingatkan dengan keras pada detaknya agar tak sampai berkhianat pada hati yang terluka.

 Lalu mengumpat pada jantungnya yang masih bereaksi berlebihan pada bekas lembab di kening; Hanna mengingatkan dengan keras pada detaknya agar tak sampai berkhianat pada hati yang terluka

Di jalan 59 John F Kennedy, Cambridge, MA; Nami berdiri

Di jalan 59 John F Kennedy, Cambridge, MA; Nami berdiri. Menatap kosong papan nama tempat Hanna bekerja; lalu menghela napas, membiarkan uapnya hilang bersama harapan terakhirnya. Dia mencari dengan ketidakpastian, mengandalkan insting dan keyakinan. Itu terlalu sembrono. Hanna tidak akan semudah itu untuk ditemukan.

Nami mulai lelah. Berlari ke sana-kemari, bahkan sampai bolos kuliah untuk mencari Hanna; namun sampai saat ini, tak sedikit pun menemukan kabar terakhir keberadaan sahabatnya tersebut. Ponselnya juga mati; lebih buruk dari itu, ponsel Hanna ternyata ada di loker kecil ruang para pekerja. “Bodoh!” Nami lantas mengumpat. “Kenapa kau selalu bodoh, Hanna?” imbuhnya, kesal. Semua dilampiaskan pada ponsel kecil milik Hanna di tangannya.

“Nami …!”

Ada yang memanggil. Terdengar jauh, tapi Nami tidak tuli. Dari arah halte bus berjarak kurang lebih 50 meter; ada Gehna berlari menuju ke arahnya. Dia tampak terengah ketika sampai, kemudian menyeka keringat di kening. “Kau menemukannya?” tanya Gehna.

“Hanna tidak kembali, meskipun untuk mengambil baju gantinya di sini.” Nami menjawab sesudah menggeleng.

“Dia juga tidak ada di rumah sakit.” Gehna membuang napas, lelah. “Manager bilang, Hanna keluar dari rumah sakit pukul 7 lebih 5. Saat itu hujan deras,” sambungnya menjelaskan. “Aku rasa—”

“Di mana rumah sakitnya?” sela Nami, seakan belum puas mendengar hasil pencarian Gehna.

“Aku sudah mencarinya. Hanna tidak ada di sana, Nami!” tegas Gehna.

“Aku akan coba cari di sekitarnya!” Nami tetap keras kepala.

Hah … itu di 1493 Cambridge Street; rumah sakit Cambridge Health Alliance.” Gehna membuang napas dan mengalah.

“Aku tahu rumah sakit itu. Terima kasih.”

“Tunggu, bagaimana dengan apartemen yang selalu Hanna sewa di musim liburan? Itu dekat rumah sa—hei, dengarkan aku dulu!” Gehna sama sekali tak didengar. Nami sudah lari menuju halte bus.

Hasil dari jatuh tanpa cinta adalah luka yang membekas

Hasil dari jatuh tanpa cinta adalah luka yang membekas. Seperti membaca cerita duka, mata Hanna meredup melihat tampilan sendiri dalam balutan gaun merah muda. Kesalahannya adalah menerima perih tanpa air mata, lalu merasa tak memiliki harga diri karena memakai gaun hasil belas kasih Sehun. Namun yang membuatnya jauh lebih terluka adalah tak memiliki pilihan, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya.

Sekeras apa pun dia coba yakinkan, bahkan sampai hati kecilnya berkata, “Tidak apa-apa. Pakaian jauh lebih baik daripada selimut.” Hanna tetap saja tertekan. Itu benar-benar tak mudah, ketika dia harus menerima dan memakai sehelai kain dari seseorang yang sudah mengambil paksa kehormatannya. Takdir memang kadang lupa batasan. Hanna harus tetap menerima walaupun dengan hati bernanah.

Tak ingin berlarut-larut, tak mau ambil peduli juga pada sakit yang perih ketika berjalan; pintu keluar kamar pun dia tuju pelan-pelan. Berhenti sebentar; Hanna meringis dan menyentuh bawah perutnya yang sakit. Jika Sehun tahu, seringai puas akan Hanna lihat karena ketidakmampuannya dalam berjalan dengan benar. Jadi Hanna harus terlihat baik-baik saja saat keluar, namun akan lebih baik jika pria itu tak ada saat dia pergi.

Klek.

Ada peluh yang jatuh saat pintu terbuka. Ruang tamu pun dilihat Hanna tanpa ada Sehun di sana. Embus napas lega sontak terbuang cuma-cuma, yang kemudian diikuti langkah kecilnya. Sebisa mungkin berjalan tanpa menimbulkan suara dan hati-hati. Dengan curiga; mata hitamnya tetap mencari keberadaan Sehun, yang kemudian membuatnya menyesal.

Kenapa dicari? Harusnya langsung lari.

Ingin rasanya menghindar saja, tetapi sudah terlanjur terlihat. Gelagat Hanna jadi aneh. Sehun yang duduk dan tak sengaja melihatnya dari ruang makan, cuma bisa menghela napas. Wanita yang diklaim miliknya itu memalingkan muka dan berjalan cepat menuju pintu keluar apartemen.

“Hanna, tunggu!”

Yang dipanggil tak menoleh. Hanna tampak terburu-buru seperti dikejar anjing kelaparan, namun tak ingin kelihatan takut kendati sadar sedang berada dalam kandang. Dia bahkan sampai rela menahan rasa sakit dan mencoba untuk tak memedulikan apa pun. Namun jantung mungilnya tetap memburu, ketika mendengar derit kursi yang Sehun tinggalkan. Pintu kebebasan pun terasa jauh baginya, di saat, langkah kaki pria itu mulai terdengar menghentak.

Buka. Ayo, buka! Hanna panik. Dia tidak bisa membuka pintu, dia lupa cara membuka pintu. Tinggal selangkah lagi, tetapi Sehun sudah menyusulnya dengan langkah santai.

“Obati dulu lukamu. Setelah itu, baru kuantar kau pulang.”

Tidak. Hanna tidak mau dengar. Dia masih bersikeras membuka pintu.

Klek.

Berhasil. Pintunya terbuka, tetapi bukan tangan bodoh Hanna yang melakukannya. “Akan kubiarkan pintunya terbuka, asal kau bersedia mengobati lukamu.”

Pembohong. Satu gelar yang Hanna berikan pada Sehun secara cuma-cuma. Dia tidak mau berakhir di tempat tidur lagi, jadi pintu pun ditarik lebar. Hanna bergegas pergi sesudahnya tanpa menaruh peduli pada Sehun yang merayu. Namun langkahnya diikuti pria itu dengan sabar, tanpa ada paksaan untuk membawanya kembali masuk ke dalam.

 Namun langkahnya diikuti pria itu dengan sabar, tanpa ada paksaan untuk membawanya kembali masuk ke dalam

Lelaki dewasa yang dilema kadang tidak tahu cara menikmati pagi

Lelaki dewasa yang dilema kadang tidak tahu cara menikmati pagi. Mereka cenderung menjadi bodoh dengan suka rela, apabila sudah berurusan dengan cinta dan rindu. Asap kopi yang meninggi saja dibiarkan hilang bersama udara, tetapi dia tetap mendecak saat embun pagi jatuh mengejeknya yang tak berguna. Katanya, untuk apa membuat kopi, jika aromanya tidak dinikmati? Sama seperti; untuk apa mencintai, jika dibiarkan dingin dan basi?

Agaknya setetes embun pagi, masih jauh lebih berguna daripada cinta seorang pecundang sepertinya.

Bagaimana tidak? Bertahun-tahun mengagumi, tetapi selalu menganggap itu hanya cinta monyet. Tak jarang juga mengabaikan saat dekat, lalu merindukan saat jauh. Terus saja begitu; bertingkah sok keren sampai gadis kecilnya menghilang dan enggan kembali.

“Hime, apa yang sedang kau lakukan?” Dia malah bermonolog seperti orang bodoh. Tersenyum kepada secangkir kopi yang dingin, sesudahnya disesap dan dinikmati. Rasanya pahit, seperti rindu tak berbalas temu.

“Masih pagi dan kau sudah gila ….” Kalimat itu terlalu menampar. Pria dengan cangkir kopi di tangan tak suka mendengarnya, namun ada senyum tipis yang dia berikan untuk membalas. “Kita berada di satu daratan yang sama dengannya, tunggu apa lagi? Temui dia sekarang,” sambung pria berkemeja putih itu—baru datang, tetapi sudah menyalakan kompor. Dia mengisi sofa tunggal yang kosong.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, Luhan Hyung.” Cangkir kopi kembali diletakan di meja—penuh penekanan. “Kapan kau akan menemui adikmu dan memohon untuk sebuah kata maaf kepadanya? Sampai kapan kau akan mengawasinya dalam diam, Mm?” sambungnya, berkalimat sarkasme.

“Hanbin …,” Luhan membuang napas. “—kau menghancurkan suasana hatiku.”

“Kau yang menghancurkan suasana hatiku lebih dulu,” balas Hanbin, tak mau kalah.

“Kita buang topik ini,” putus Luhan. Beralih pada kumpulan berkas yang dia bawa. Niat hati ingin menggoda Hanbin yang kokoh melawan rindu, namun berakhir ditampar oleh kelakuan yang sama. Sampai-sampai butuh waktu lama bagi Luhan untuk menenangkan hatinya yang mendadak tak tentu. Di antara merindu dan malu; sikap pecundang yang benar-benar sama, padahal memiliki kesempatan yang sama.

Berada di New York dengan dalil urusan bisnis, namun tak berani melangkah ke Massachusetts untuk melepas rindu. Sekalinya berani menemui; Luhan tak berani menghampiri. Cuma melihat dari jendela dan membiarkan adiknya dimaki-maki oleh seorang manager restoran. Kurang bodoh apa sikapnya ini? Sampai-sampai lebih memilih menghukum manager kurang ajar tersebut lewat istrinya yang tidak tahu apa-apa.

Luhan jadi merasa begitu pengecut. Payah!

Hanbin pun bosan menunggunya yang terus-terusan berlakon sok serius—mengalihkan gundah dengan membolak-balikan berkas berisi kertas. “Daripada Baekhyun, aku lebih tertarik pada Sehun,” katanya, menarik perhatian Luhan. “Kemampuan Sehun dalam dunia usaha jauh di atas Baekhyun. Dia cocok untuk menjadi CEO di perusahaan baru kita. Aku tak ingin orang tua yang berumur, pemikiran mereka terlalu alot.” Hanbin mengungkapkan pendapat, agar Luhan tak perlu lagi membuka berkas-berkas yang menurutnya tak berguna.

“Se-hun? Oh Sehun?” Sebuah tanya yang ada untuk memastikan. Alis Luhan bertaut, butuh penjelasan lebih.

“Ya. Menarik, bukan?” Hanbin malah menarik satu sudut bibir. “Setelah keluarganya jatuh di tangan ayahmu, posisi yang Sehun dapat hanya sebagai seorang manager pemasaran. Kurasa, itu bentuk penghinaan yang paling kurang ajar baginya.” Hanbin merunduk dalam duduk, kedua tangannya bertaut di atas lutut. Luhan pun diam—lebih memilih mendengarkan dan menganalisis.

“Posisi Komisaris Direktur yang seharusnya menjadi milik Sehun, secara cuma-cuma telah Tuan Jo berikan kepada Ayah Baekhyun,” sambung Hanbin sambil menatap kopinya yang merangkak menjadi cermin—memantulkan bayangan atap dan lampu yang cantik. “Aku memerhatikan Sehun sejak lama. Dia seorang profesional; walaupun jabatannya rendah, tetapi tetap bertanggung jawab pada pekerjaan. Penghasilan yang dia dapat bahkan jauh lebih banyak dari Baekhyun—yang notabenenya adalah seorang CEO di Lotte Group.”

“Tidak.” Luhan tiba-tiba menolak. “Sehun tidak akan bersedia hengkang dari Lotte Group, hanya untuk bergabung bersama bisnis keluarga Khaza.”

“Dia pria jenius, Hyung. Aku tak ingin melewatkan orang seperti itu.” Hanbin menyesap kopinya lagi. Pahit yang menjalar membuatnya mendecak, ada rasa nikmat yang sangat dia suka. “Kita bisa menghancurkannya, jika dia menolak. Bagaimana?”

 Bagaimana?"

929 Mass Apartment

Ini yang terjadi ketika emosi menghalangi akal sehat. Hanna lupa tidak tahu sedang berada di mana. Jalanan sangat gelap semalam, dia jadi buta arah. Kanan atau kiri; Hanna bahkan tidak tahu harus mengambil jalan yang mana.

“Mobilku ada di tempat parkir.” Dari belakang, lewat genggaman di jemari, ada kelembutan yang Sehun tawarkan. Tetapi tepisan dia terima sebagai penolakan, juga langkah menjauh sebagai peringatan. Hanna tak ingin lagi disentuh olehnya. Halte bus yang terlihat pun menjadi tujuan gadis itu.

929 Mass Apartment. Plang bertuliskan nama daerah terbaca oleh Hanna. Matanya lantas jeli membaca rute bus di papan informasi halte. Tujuan Hardvard Square pun dia pilih. Tak ambil peduli pada Sehun yang diam memerhatikan. Ketika bus datang, kaki berhak tinggi itu bergegas masuk.

Lalu, diam.

Hanna berdiri kaku di puncak tangga pintu masuk bus. Dia merasa dungu dalam sekali waktu tatkala ingat tak memiliki uang sepeser pun. Bagaimana ini? Hanna tidak tahu. Jika berbalik, maka harga dirinya akan jatuh menggelinding. Ujung gaun pun diremas lantaran gugup ditatap Pak Sopir. “Miss, are you all right?

No, I’m not alright. I’m skint.

Come here ….” Jemari Hanna hafal bagaimana cara telapak tangan Sehun menggenggam. Pria itu membawanya duduk di kursi paling belakang sesudah membayar. Hanna pasrah dan menurut untuk kali ini; tubuhnya terlanjur lemas karena nyaris membuat malu.

Malangnya, ketika sudah duduk bersebelahan, tetapi tetap tidak dihiraukan; jantung Sehun tetap saja menggila tidak tahu malu. Duduk di dalam bus kota, menatap Hanna dari dekat memang tidak termasuk dalam skenario mengantar gadis itu pulang. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada mengemudi dan terus menerus menatap jalan. Wajah Hanna dengan bibir terkatup rapat, beserta mata bulat yang sembab; sudah cukup untuk membuat atensi Sehun enggan berpaling.

Yang disayangkan, Hanna menarik tangannya dari genggaman tanpa permisi. Namun Sehun tak marah, senyum yang malah ada. Tangan pria itu justru merangsek naik, menyentuh rahang Hanna dengan cara terbaik. “Jangan marah dengan cara seperti ini …,” Ada jeda yang Sehun ambil. “—kau tidak boleh berpikir untuk lari dariku, Hanna,” katanya, mengingatkan.

Tangan lentik Hanna kembali diambil dan digenggam. Kedua tangan Sehun berkuasa di sana, menghangatkan jemari wanitanya yang lembut dan dingin. Tatapan tak suka pun sontak Sehun dapat sebagai balasan, tetapi dia malah sengaja jatuh ke dalam bola mata Hanna yang gelap. “Marahlah sesukamu, asal itu tak berarti lari. Ingat? Ada aku dalam tubuhmu.”

Sebaik apa pun intonasi yang Sehun mainkan, Hanna tetap benci untuk mendengar. Ingin rasanya meludah, jika saja tata krama tak pernah mencuci otaknya. Membuang wajah dari Sehun adalah pilihan paling sopan untuk saat ini. Hanna bahkan tak ingin lagi menatap wajahnya. Tanpa tahu Sehun sedang menggila melihat kemarahannya yang cantik. Hanna yang cerdas cuma tahu, jika suatu saat terjadi sesuatu, maka pertanggungjawaban Sehun yang akan dia minta. Pria itu sudah mengingatkan.

Pepohonan seperti berjalan mundur ketika duduk di dalam bus

Pepohonan seperti berjalan mundur ketika duduk di dalam bus. Seorang gadis yang termenung di dekat jendela malah tak ambil peduli pada daun-daunnya yang melambai. Dia hampir menangis setelah tak menemukan sahabatnya di mana pun—termasuk rumah sakit, tetapi Gehna menenangkan dan mengajak untuk kembali mencari di lain tempat. Namun mata cokelat itu sudah berkaca; ketakutan jelas ada di sana. Rasa sayang pada Hanna membuatnya berpikir yang macam-macam.

“Nami, sudah. Berdoa saja semoga Hanna ada di apartemennya.” Gehna membelai lembut surai karamel Nami yang kusut. Namun yang diajak bicara masih menatap ke luar jendela, menggigit bibir diam-diam agar tak terisak.

Apalagi yang bisa Gehna katakan sekarang, selain menyimpan cemburu pada persahabatan mereka yang lekat. Bahkan Hanna pernah tak fokus bekerja lantaran memikirkan Nami, sampai-sampai membuat tangannya terluka oleh pecahan gelas di lantai. Sekarang, Gehna sedang melihat Nami yang menangis dalam diam; mengkhawatirkan sahabatnya yang tak memberi kabar sejak semalam. Mereka sungguh manis. Gehna ingin memiliki satu teman seperti itu.

“Kita turun di mana? Aku tidak pernah berkunjung ke apartemen kecil Hanna.” Suara Nami sengau saat bertanya. Itu untuk pertama kalinya dia menatap Gehna selama di bus.

“Halte depan. Apartemenku dan Hanna berdekatan; kami selalu menyewanya di musim liburan.”

“Bagaimana jika—”

“Sst … Hanna pasti ada di sana ….”

Air mata Nami jatuh lagi.

Air mata Nami jatuh lagi

Bus yang ditumpangi tiba di 356 Hardvard Street

Bus yang ditumpangi tiba di 356 Hardvard Street. Hanna bergegas turun. Sehun tak banyak tanya ataupun kembali mulai bermonolog. Dia tahu tentang apartemen kecil yang sering gadis itu sewa di musim liburan—karena kawasan ini adalah tempatnya. Jadi tak perlu bagi Sehun untuk kembali berbasa-basi, apalagi tahu semua akan dibalas sunyi.

Dalam perjalanan di tengah sepi tersebut; sebuah bangunan kecil menjadi tujuan Hanna. Berharap, ada kunci cadangan yang bisa membawanya masuk. Bagian pengelola adalah harapan terakhirnya, karena tak mungkin bagi Hanna untuk pulang ke asrama sekarang. Perasaan Nami adalah berlian yang selalu ingin dia jaga, jadi menghindar untuk sementara menjadi pilihan terbaik.

“Kau yakin tidak ingin langsung pulang ke asrama?” Sehun menahan lengan Hanna di ujung anak tangga. Namun seperti sebelumnya, gadis itu hanya diam tak menjawab. Oh, sungguh. Itu cara marah yang cantik sekaligus menyiksa bagi Sehun. Hanna benar-benar hebat dalam hal memermainkan kesabaran lelaki. “Hanna ….” Sehun memanggil, sesudahnya menghirup tamak udara kosong—berlaku, seolah napasnya habis seusai merayu satu nama.

“Baiklah, aku akan menunggu ….” Ada bahasa tubuh yang Hanna baca lewat redup mata Sehun. Itu sebuah luka yang membuat Hanna diam ketika pinggangnya ditarik. Begitu pula saat aroma tubuh Sehun menggelitik hidung dan membawa kenyamanan; cuma menutup kelopak mata yang bisa Hanna lakukan. “—aku akan menunggu sampai kau reda. Hanna, kemarahanmu bukan sesuatu yang ingin kukalahkan.”

Posesif. Sehun mengeratkan pelukan. Tubuh Hanna memiliki wangi serupa aroma terapi yang membuatnya candu. “Aku pasti sudah gila. Maaf, aku hanya ingin menguasai inti jantungmu.” Netra mata Hanna terbuka sayu mendengar Sehun yang begitu egois dengan ungkapannya.

Namun bukannya meledak bersama emosi, Hanna cuma mendorong Sehun untuk menjauh. Dalam kecewa yang tidak Hanna mengerti mengapa ada, mata bulatnya itu mendadak perih dan berselaput bening. Tangannya bergetar ketika terus menatap Sehun yang tak kunjung gentar. Sama sekali tak ada rasa bersalah yang pria itu coba tunjukan, selain keegoisan yang terlihat sombong di mata Hanna. Rasa sakit dari hati yang patah pun mendera; menyiksa tubuhnya yang sudah lemah, lalu …

Plak!

“Aku membencimu.” Air mata Hanna jatuh. Dia berlakon layaknya wanita kuat, namun tamparan yang Sehun terima bahkan tak berarti apa-apa. Hanna berakhir mundur, tetapi tangan Sehun mencegah. Berontak pun percuma ketika pria itu kembali memeluknya. Tangis dan pukulan kecil Hanna bahkan dinikmati dengan baik olehnya—yang defensif dan seakan tak malu kendati telah ditolak mentah-mentah.

 

To Be Continued

°
°
°
.♡.

Terima kasih udah baca ^,^

Jangan lupa comment. Biar aku semangat buat lanjut loh … hehe

Regards,

Sehun’Bee

Advertisements

694 comments

  1. yah masalah muncul deh…sehun sih pake acara gituin hana…jadinya ribet kan. tuh sehun bakal nikah nih sama nami? trus hana & bayi sehun gmn? next

    Liked by 1 person

  2. Hah…. Ya tmbah ribet ni… Bagaimna klau nami tahu… Dy pasti sngt bnci hanna atau justru bnci sehun..
    Wah chpter 3 aja udah gini bngt konfliknya.. Lanjutt… Eheheh

    Liked by 1 person

  3. Hanna pasti sakit hati banget sama aehun .. Ya ampun klu hanna tau sehun dan nami menikah paati galau 😦
    Sehun sdh menilak pernikahan tapi bagaimana lagi klu udah di jodohin 😦 hiks hiks
    Hanna sabar aja yah ..
    Semoga aja sehun ketemu duluan sama hana ^^

    Liked by 1 person

  4. Sedih liat hanna kaya gitu,hamil karna sehun dan harus merelakan cita citanya 😦 dan lg sehunnya ga Gentle :3 Dan pantesan aja si Hanna jadi rebutan para pria wong cantiknya ga tau aku hrus bilang apa -,- yg jelas ff nya keren kak 😀

    Liked by 1 person

  5. huhh emang bener koq hanna pergi karna hamil anak sehun .. aduh gimana yah klo nami ampe tau kelakuan sehun yg bejat itu.. moga aja hanna sama nami gak musuhan.. salahin aja noh si sehun yg mesum itu..

    Liked by 1 person

  6. Makin tegang . . .
    Bakalan gimana nasib hanna kalau iya jadi sehun sama nami . kasihan banget hanna 😂😰. . .
    Kenapa gak sehun coba melawan untuk menetang perjodohan dan bilang dia lagi orang yang dicintai nyah . . .
    Adeuh kok jadi aku yang sewot . .
    Pokok keren deh authornim semangat terus . .

    Liked by 1 person

  7. aduhh,,gak tau mau comment gimana,,ff kak bee selalu bikin aku nangis dikamar sendirian,,,nge feek banget,,bagus juga,,,jalan cerita nya juga baguss…pkok nya the best lahh….dtunggu next chapternya…sukses terus buat ff ya kak… 🙂 🙂

    Liked by 1 person

  8. Keselll sihhh liat sehunnnnn . Duhhhh dark bnget romance nyaaa.
    Padahal awalnys baca pas sehun malu2 gtu lucu bngettttt. Semoga kedepannyaaa masalahnya ga makin riwetttt

    Liked by 1 person

  9. Yeeeaay, Hanbinnya udah muncul…. Kok kesannya jadi misterius gimana gitu, hihi. Apa ntar Hanbin bakal jadi saingannya Sehun buat dapetin Hanna ya? Waw….patut ditunggu nie kelanjutannya!

    Tp Luhan kok jahat nyelakain orang gk bersalah. Bang Lulu jangan gitu dong!?

    Like

  10. Yeeeaay, Hanbinnya udah muncul…. Kok kesannya jadi misterius gimana gitu, hihi. Apa ntar Hanbin bakal jadi saingannya Sehun buat dapetin Hanna ya? Waw….patut ditunggu nie kelanjutannya!

    Tp Luhan kok jahat nyelakain orang gk bersalah. Bang Lulu jangan gitu dong!?

    Like

  11. Ohh jd yg wkt itu luhan yah yg liatin hanna…ehhh ko mw jahatin sehun klo g mw krj ma mereka…hmmm palagi klo tw hanna d sakitin yahh…
    Jd kaya y hanna nnt suka yah ma sehun..trz nami gmn??klo tw yg sbnr y..

    Liked by 1 person

  12. persahabatan manis mrk akan rusak krn kelakuan sehun. klo keluarga hanna tau akan tamat sehun. apa sih yg ga bsa dilakuin org berduit. cuma ya kasian si hannanya

    Liked by 1 person

  13. Bee apa kabar ^^ i miss you so much , aku mampir setelah menghilang 1 tahun , bee aku liat kamu makin bersemangat , aku seneng kamu udh mulai nulis lagi , bee aku bakalan temin kamu lagi ^^

    Like

  14. Kalo sehun sma nami gimna? Trus gimna nasib hanna,pasti hanna bkal susah nantinya karna perbuatan sehun,apalgi klo hanna sampe ……. ahhh gila bikin hati baver bgt ini mah

    Like

  15. Jujur walaupun blum tahu password dan blum baca part dark romance tapi waktu baca ini perasaan aku tenggelam , wah thor hebat kamu ! bener dah rasanya aku kayag jadi si hyojin yang jadi korban pesona nya thehun -_- . tapi keren bener tiap kalimat kamu author , bisa faham semua ini aku hehe , yakin dah hanna gak bakal bisa benci sehun , perlahan perasaan cinta mengalahkan kebencian dan kebencian akan sirna , yakin dah , smangat thor nulisnya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s